KONDISI SAAT INI MERUPAKAN UJIAN BAGI SEMUA LINI KEHIDUPAN:
Bagi yang berkecukupan diuji apakah dia peduli pada sekelilingnya...
Bagi yang kekurangan diuji apakah dia bisa bersabar menghadapi situasi yang serba menyulitkan ini....
Bagi yang memiliki kekuasaan diuji apakah dia amanah dalam menjalankan jabatannya...
Bagi yang dipimpin diuji apakah dia taat pada peraturan yang sudah ditetapkan...
PADA AKHIRNYA AKAN TERSELEKSI:
Antara orang kaya yang bersyukur dan kufur...
Antara orang miskin yang sabar dan putus asa...
Antara penguasa yang amanah dan khianat...
Antara masyarakat yang taat dan ingkar...
PADA SAAT MASA YANG SULIT INI TELAH BERAKHIR, MAKA TAK ADA GUNANYA LAGI:
Orang kaya kufur yang baru mau berbagi karena orang yang butuh sudah tidak membutuhkan lagi.
Orang miskin berputus asa yang mau bersabar karena semua kesulitan sudah hilang.
Penguasa yang khianat yang mau amanah karena sudah tidak adalagi kekuasaan yang bisa dijalankan.
Masyarakat yang ingkar yang mau taat karena semua peraturan sudah dicabut.
PADA AKHIRNYA SEMUA AKAN TERPISAHKAN ANTARA INTAN YANG BERHARGA DENGAN AMPAS LUMPUR YANG HANYA JADI LIMBAH
(Gantira, 15 Mei 2020, Bogor)
Thursday, 14 May 2020
Monday, 13 April 2020
Menuju "Lele Bumbu Bu Mayang"
Salah satu cita2 saya yaitu ingin jadi ibu rumah tangga saja. Ini terbersit saat saya sma. Soalnya saya lihat para ibu2 rumah tangga kayaknya enak sekali. Diam di rumah, main sama anak2, nyambut suami pulang kerja dan dapat uang deh... 😅😅😅
Setelah lulus S1, saya langsung menikah dengan seorang laki2 yang dikenalkan oleh ibu saya. Satu bulan kemudian saya diboyong suami yang dapat tugas belajar S2 di Australia. Sesuai harapan saya, saya hanya ingin jadi ibu rumah tangga alias pingin ikut saja sama suami kemanapun dia pergi.. 🤭🤭🤭
Saat suami studi di sana, suami iseng2 cerita bahwa dia ingin keluar dari kerjaan. Saya nganggap omongannya hanya bercanda saja jadi saya hiraukan. Saya gak ambil pusing dengan candaannya itu.
Setelah pulang ke Indonesia, suami kembali lagi ke kantornya yang saat itu kerja di Kementrian Kelautan dan Perikanan yang kantornya di Jakarta.
Setahun kemudian, saya pulang jogja untuk nengok orang tua. Orang tua saat itu kangen sekali sama cucu2nya, saat saya mau balik jakarta ditahannya dan diminta untuk nerusin kuliah. Akhirnya dengan ijin suami saya lanjutin kuliah di UGM walaupun salah satu opsi cita2 saya hanya ingin jadi ibu rumah tangga. Jadi kesimpulannya saya dan suami berpisah tempat tinggal.
Selama perpisahan itu, untuk menghilangkan kesendirian, suami sibuk baca2 hadist, tafsir al quran dan buku2 ulama salaf. Nah suatu hari, suami cerita lagi bahwa dia ingin keluar dari pekerjaannya karena ingin mengaplikasikan apa yang ia pahami. Mendengar hal itu, saya langsung kaget dan langsung saya tolak karena kalau keluar kerja bagaimana nanti mencukupi kebutuhan sehari2, wong salah satu opsi cita2 saya hanya ingin jadi ibu rumah tangga bukan berkarir.. 😥😥😥
Suami tetap sabar dan mengurungkan niatnya untuk keluar. Setelah saya selesai kuliah dan balik Jakarta serta mulai hidup serumah dengan suami. Suami saya sedikit demi sedikit memberikan pemahaman bahwa rizqi itu yang menjamin adalah Allah, kita hanya ikhtiar saja sesuai kemampuan kita yang Allah ridhoi. Tapi saat itu saya tetap nolak dan gak setuju akan ide2nya itu.
Suatu hari, suami saya dinas luar. Saya mau mengecek air (kebetulan saat itu kami punya sedikit tanah di seberang sungai yang sumber airnya jernih), saat saya nyebrang sungai, saya terpeleset jatuh.
Dengan diseret air yang sangat deras, saat itu tidak adalagi harapan selamat. Yang teringat saat itu hanyalah pertolongan Allah. Lalu saya memohon kepada-Nya, kemudian ada tetangga yg kebetulan baru pulang dari kantor dan mendengar suara anak2 saya teriak minta tolong...
Alhamdulillah saya bisa selamat, saya ditolong oleh-Nya melalui perantara tetangga yang baru pulang tersebut.
Sejak saat itu, saya mulai tersadar bahwa yang dicari didunia ini hanyalah keberkahan. Sedangkan rizqi sudah Allah atur. Dan sejak kejadian itu akhirnya saya menyetujui suami untuk keluar dari pekerjaannya.
Suami saya punya prinsip bahwa dalam memutuskan hal yang sangat besar itu harus disetujui bersama2. Suami saya memiliki pemahaman kalau saya tidak setuju, suami merasa berjalan dengan kaki sebelah jadi akan susah berjalan cepat. Makanya suami saya bisa bersabar selama 6 tahun lebih untuk meyakinkan saya.
Nah setelah saya setuju, suami bikin surat pengunduran ke sesdit. Dan fotocopiannya, suami minta saya untuk ikut menandatangani agar gak ada lagi pertengkaran ke depannya karena semua itu diputuskan secara bersama2 bukan sebelah pihak.
Akhirnya suami resign dari PNS pada akhir Oktober tahun 2014. Setelah suami keluar, suami saya tenang saja menghadapi tantangan dari keluarga besar suami dan keluarga besar saya karena yang suruh jawab adalah saya.. 😭😭😭
Akhirnya saya sibuk menjelaskan ke kedua belah pihak, suami bisa tidur nyenyak dan fokus pada impiannya.. 😅😅😅
Sejak suami keluar, lalu suami mulai mengolah tanah yang kami punyai luasnya sekitar 230 m2. Tanahnya curam tak karuan. Tapi karena suami punya sebuah impian, akhirnya tanahnya diolah oleh suami sendiri. Suami saya setiap hari nyangkul tanah, ngaduk semen, nembok dan buat kolam.
Saya saat itu gak ngerti apa yang dilakukan oleh suami, sampai2 para tetangga keheranan tentang kegiatan suami yang tiap hari ke kebun. Suami mengolah tanah tersebut lamanya sekitar 3 tahun lebih, maklum semuanya dilakukan oleh suami sendirian. Karena yang punya pemikiran mau diapakan kebun itu adalah suami, yaaa sambil berhemat soalnya sudah gak ada lagi gaji bulanan.
Setelah 3 tahun lewat, alhamdulillah akhirnya wujud yang suami idam2kan itu terealisasi. Yaitu membuat kolam untuk gurame dan ikan lele di atas tanah yang sebelumnya bertebing tak karuan.
Atas usulan suami, agar memiliki nilai tambah hasil produknya di olah menjadi bumbu dengan nama "Lele Bumbu Bu Mayang".
Yang dijadikan target pasar oleh suami saya adalah
1. Orang2 yang sudah mengenal karakter suami saya yang otomatis teman2nya
2. Orang2 yang mengenal tentang kualitas ikan sesuai dengan tempat kerja suami dulu
3. Orang2 yang sebelumnya tidak suka lele.
Alhamdulillah, karena rizqi dari Allah kemudian kesabaran dan keuletan suami. Sedikit demi sedikit langganan yang menyukai Lele Bumbu ini semakin bertambah. Orang yang sebelumnya gak suka ikan lele, saat mencoba lele Bumbu Bu Mayang, mereka akhirnya jadi langganan.
Konsep yang ingin dibawa oleh suami adalah konsep integrated farming.
Kalau integrated farming yang banyak saat ini adalah beternak kambing/sapi dan rerumputan. Namun karena lahan yang dipunyai tidak luas dan bukan bidang suami saya, maka suami mencoba menerapkannya pada perikanan.
Sama2 metode integrated tapi beda objek. Yang satu objeknya rumput, sapi, kambing & restoran. Sedangkan di My Minifarm tanaman air lemna, kunyit, lele , "Lele Bumbu Bu Mayang" dan sayuran lainnya 😊😊😊
Awal2 saya sering down...tapi saya sering ingat Mbo yang suka bantu ibu yg ga biasanya sholat di mesjid ( ketika itu saya belum tau kalau perempuan lebih utama di rumah) saya tanya: wah tumben sholat ning mesjid? Jawabnya: yo iyo mba...ning dunyo wis rekoso, ojo nganti neng akhirat yo rekoso katanya sambil..😁😁😁😁
Setelah suami saya keluar justru keajaiban2x yang terjadi yg tidak pernah kami bayangkan sebelumnya. Saya bisa lunasin rumah, umroh, dan perbaiki rumah sekaligus buat ruang pengolahan.
Tapi intinya yang sekarang saya pahami bahwa rizqi itu datangnya dari Allah, kita hanya berihtiar sesuai dengan yang mampu dilakukan dan yang Allah ridhoi. Ikhtiar tetap, tapi jangan sampai ikhtiar itu lah yang membuat kita pusing.
Ikhtiar sebagai sarana. Tapi yakin itu bukan jalan satu2nya untuk mendapat rezeki Allah. Terus berdo'a atas ikhtiar yg kita lakukan. Tapi siap ridho dengan kemungkinan terburuk. Yakin sesungguhnya Allah maha mengetahui jalan yang terbaik buat kita...
Gitu aja ya..
===
Cerita Mayang, 11 April 2020, Ditulis untuj mengiai pada Sesi Diskusi di Grup Wa Islamic Multitasking Mom
Setelah lulus S1, saya langsung menikah dengan seorang laki2 yang dikenalkan oleh ibu saya. Satu bulan kemudian saya diboyong suami yang dapat tugas belajar S2 di Australia. Sesuai harapan saya, saya hanya ingin jadi ibu rumah tangga alias pingin ikut saja sama suami kemanapun dia pergi.. 🤭🤭🤭
Saat suami studi di sana, suami iseng2 cerita bahwa dia ingin keluar dari kerjaan. Saya nganggap omongannya hanya bercanda saja jadi saya hiraukan. Saya gak ambil pusing dengan candaannya itu.
Setelah pulang ke Indonesia, suami kembali lagi ke kantornya yang saat itu kerja di Kementrian Kelautan dan Perikanan yang kantornya di Jakarta.
Setahun kemudian, saya pulang jogja untuk nengok orang tua. Orang tua saat itu kangen sekali sama cucu2nya, saat saya mau balik jakarta ditahannya dan diminta untuk nerusin kuliah. Akhirnya dengan ijin suami saya lanjutin kuliah di UGM walaupun salah satu opsi cita2 saya hanya ingin jadi ibu rumah tangga. Jadi kesimpulannya saya dan suami berpisah tempat tinggal.
Selama perpisahan itu, untuk menghilangkan kesendirian, suami sibuk baca2 hadist, tafsir al quran dan buku2 ulama salaf. Nah suatu hari, suami cerita lagi bahwa dia ingin keluar dari pekerjaannya karena ingin mengaplikasikan apa yang ia pahami. Mendengar hal itu, saya langsung kaget dan langsung saya tolak karena kalau keluar kerja bagaimana nanti mencukupi kebutuhan sehari2, wong salah satu opsi cita2 saya hanya ingin jadi ibu rumah tangga bukan berkarir.. 😥😥😥
Suami tetap sabar dan mengurungkan niatnya untuk keluar. Setelah saya selesai kuliah dan balik Jakarta serta mulai hidup serumah dengan suami. Suami saya sedikit demi sedikit memberikan pemahaman bahwa rizqi itu yang menjamin adalah Allah, kita hanya ikhtiar saja sesuai kemampuan kita yang Allah ridhoi. Tapi saat itu saya tetap nolak dan gak setuju akan ide2nya itu.
Suatu hari, suami saya dinas luar. Saya mau mengecek air (kebetulan saat itu kami punya sedikit tanah di seberang sungai yang sumber airnya jernih), saat saya nyebrang sungai, saya terpeleset jatuh.
Dengan diseret air yang sangat deras, saat itu tidak adalagi harapan selamat. Yang teringat saat itu hanyalah pertolongan Allah. Lalu saya memohon kepada-Nya, kemudian ada tetangga yg kebetulan baru pulang dari kantor dan mendengar suara anak2 saya teriak minta tolong...
Alhamdulillah saya bisa selamat, saya ditolong oleh-Nya melalui perantara tetangga yang baru pulang tersebut.
Sejak saat itu, saya mulai tersadar bahwa yang dicari didunia ini hanyalah keberkahan. Sedangkan rizqi sudah Allah atur. Dan sejak kejadian itu akhirnya saya menyetujui suami untuk keluar dari pekerjaannya.
Suami saya punya prinsip bahwa dalam memutuskan hal yang sangat besar itu harus disetujui bersama2. Suami saya memiliki pemahaman kalau saya tidak setuju, suami merasa berjalan dengan kaki sebelah jadi akan susah berjalan cepat. Makanya suami saya bisa bersabar selama 6 tahun lebih untuk meyakinkan saya.
Nah setelah saya setuju, suami bikin surat pengunduran ke sesdit. Dan fotocopiannya, suami minta saya untuk ikut menandatangani agar gak ada lagi pertengkaran ke depannya karena semua itu diputuskan secara bersama2 bukan sebelah pihak.
Akhirnya suami resign dari PNS pada akhir Oktober tahun 2014. Setelah suami keluar, suami saya tenang saja menghadapi tantangan dari keluarga besar suami dan keluarga besar saya karena yang suruh jawab adalah saya.. 😭😭😭
Akhirnya saya sibuk menjelaskan ke kedua belah pihak, suami bisa tidur nyenyak dan fokus pada impiannya.. 😅😅😅
Sejak suami keluar, lalu suami mulai mengolah tanah yang kami punyai luasnya sekitar 230 m2. Tanahnya curam tak karuan. Tapi karena suami punya sebuah impian, akhirnya tanahnya diolah oleh suami sendiri. Suami saya setiap hari nyangkul tanah, ngaduk semen, nembok dan buat kolam.
Saya saat itu gak ngerti apa yang dilakukan oleh suami, sampai2 para tetangga keheranan tentang kegiatan suami yang tiap hari ke kebun. Suami mengolah tanah tersebut lamanya sekitar 3 tahun lebih, maklum semuanya dilakukan oleh suami sendirian. Karena yang punya pemikiran mau diapakan kebun itu adalah suami, yaaa sambil berhemat soalnya sudah gak ada lagi gaji bulanan.
Setelah 3 tahun lewat, alhamdulillah akhirnya wujud yang suami idam2kan itu terealisasi. Yaitu membuat kolam untuk gurame dan ikan lele di atas tanah yang sebelumnya bertebing tak karuan.
Atas usulan suami, agar memiliki nilai tambah hasil produknya di olah menjadi bumbu dengan nama "Lele Bumbu Bu Mayang".
Yang dijadikan target pasar oleh suami saya adalah
1. Orang2 yang sudah mengenal karakter suami saya yang otomatis teman2nya
2. Orang2 yang mengenal tentang kualitas ikan sesuai dengan tempat kerja suami dulu
3. Orang2 yang sebelumnya tidak suka lele.
Alhamdulillah, karena rizqi dari Allah kemudian kesabaran dan keuletan suami. Sedikit demi sedikit langganan yang menyukai Lele Bumbu ini semakin bertambah. Orang yang sebelumnya gak suka ikan lele, saat mencoba lele Bumbu Bu Mayang, mereka akhirnya jadi langganan.
Konsep yang ingin dibawa oleh suami adalah konsep integrated farming.
Kalau integrated farming yang banyak saat ini adalah beternak kambing/sapi dan rerumputan. Namun karena lahan yang dipunyai tidak luas dan bukan bidang suami saya, maka suami mencoba menerapkannya pada perikanan.
Sama2 metode integrated tapi beda objek. Yang satu objeknya rumput, sapi, kambing & restoran. Sedangkan di My Minifarm tanaman air lemna, kunyit, lele , "Lele Bumbu Bu Mayang" dan sayuran lainnya 😊😊😊
Awal2 saya sering down...tapi saya sering ingat Mbo yang suka bantu ibu yg ga biasanya sholat di mesjid ( ketika itu saya belum tau kalau perempuan lebih utama di rumah) saya tanya: wah tumben sholat ning mesjid? Jawabnya: yo iyo mba...ning dunyo wis rekoso, ojo nganti neng akhirat yo rekoso katanya sambil..😁😁😁😁
Setelah suami saya keluar justru keajaiban2x yang terjadi yg tidak pernah kami bayangkan sebelumnya. Saya bisa lunasin rumah, umroh, dan perbaiki rumah sekaligus buat ruang pengolahan.
Tapi intinya yang sekarang saya pahami bahwa rizqi itu datangnya dari Allah, kita hanya berihtiar sesuai dengan yang mampu dilakukan dan yang Allah ridhoi. Ikhtiar tetap, tapi jangan sampai ikhtiar itu lah yang membuat kita pusing.
Ikhtiar sebagai sarana. Tapi yakin itu bukan jalan satu2nya untuk mendapat rezeki Allah. Terus berdo'a atas ikhtiar yg kita lakukan. Tapi siap ridho dengan kemungkinan terburuk. Yakin sesungguhnya Allah maha mengetahui jalan yang terbaik buat kita...
Gitu aja ya..
===
Cerita Mayang, 11 April 2020, Ditulis untuj mengiai pada Sesi Diskusi di Grup Wa Islamic Multitasking Mom
Friday, 20 March 2020
"Perlunya Perubahan Kebijakan dalam Rumah Tangga"
Melihat fenomena saat ini:
- Pasien yang terkena corona terus meningkat, berdasarkan data resmi dari https://linktr.ee/covid19check tanggal 21 Maret 2020 pukul 3.17 dimana jumlah pasen corona dalam perawata 320 orang, sembuh 17 orang, meninggal 32 orang
- Masih banyak masyarakat yang meremehkan wabah ini, sebagai contoh orang dalam pemantauan (ODP) corona di solo yang ternyata status akhirnya berubah menjadi suspek Corona, sebelumnya masih menganggap bahwa dirinya sehat2 saja sehingga ikut membantu persiapan pernikahan tetangganya dan terus bersosialisasi ke pasar2.
- Saat shalat berjamaah di mesjid rumah sekitar pun, masih ada jamaah yang mengajak bersalaman, tanpa khawatir dengan wabah yang sedang terjadi.
- Banyaknya postingan dari tenaga medis yang menuliskan poster
" I Stay at Work for You
You Stay at Home for Us"
Saya berfikir bahwa sudah saatnya ada perubahan kebijakan dalam rumah tangga ini, sehingga saya sebagai pemimpin didalamnya perlu mengintruksikan pada seluruh anggota keluarga untuk mengikuti fatwa dari MUI 14/20 pada point 3a:
".....ia boleh meninggalkan salat Jumat dan menggantikannya dengan shalat zuhur di tempat kediaman, serta meninggalkan jamaah shalat lima waktu/rawatib, Tarawih, dan Ied di masjid atau tempat umum lainnya.."
Semoga perubahan kebijakan ini bisa dipatuhi dan dipahami oleh anggota keluarga yang masih anak2 yang mungkin akan terus bertanya2.
Dan semoga wabah ini pun cepat berlalu dari negeri ini, sehingga mereka bisa kembali menikmati aktifitas shalat berjamaah di mesjid yang sudah membuat nyaman hati mereka.. Aamiin..aamiin aamiin ya robbal alamiin..
(Citayam-Bogor, Gantira, 21 Maret 2020)
Thursday, 19 March 2020
"Akhir Sebuah Dilema"
Semalam, saya beri intruksi pada anak2 bahwa mulai sekarang untuk sementara shalat fardhu di rumah saja mengikuti anjuran dari Fatwa MUI 14/20.
Putriku yang paling kecil, yang masih status paud, langsung angkat bicara, "Tapi pah, cowokkan shalatnya harus di mesjid, gak boleh di rumah?"
Putraku yang nomber dua, yang statusnya kelas 6 SD, langsung protes, "Yaaaa, nanti aku dapatnya cuma 1 pahala donk. Gak dapat 36 kali lipat?"
Putriku yang nomber satu, yang baru kelas 1 smp, langsung memberi nasehat, "Pah, takut itu hanya kepada Allah bukan pada Corona?"
Ibunya mereka pun langsung merespon kegalauan mereka, "Bahwa selain ibadah, kita harus taat ulama dan ulil amri kita. Allah akan tetap membalas kita untuk taat pada yang Allah perintahkan, salah satunya taat pada mereka. Pada jaman Rasulullah pun, pada kondisi hujan lebat kita diijinkan shalat di rumah apalagi kalau wabah penyakit menyerang suatu daerah."
Mendengar jawaban dari belahan jiwaku, putra putriku manut tapi tetap nampak kurang puas atas keputusanku itu.
Semalaman, saya terus gelisah dalam kedilemaan kuputusan tersebut. Lalu coba kuingat2 lagi isi fatwa MUI 14/20. Saya baru ingat ternyata ada satu pernyataan pada point 3b, yang berisi:
"Dalam hal ia berada di suatu kawasan yang potensi penularannya rendah berdasarkan ketetapan pihak yang berwenang, maka ia tetap wajib menjalankan kewajiban ibadah sebagaimana biasa dan wajib menjaga diri agar tidak terpapar virus corona, seperti tidak kontak fisik langsung (bersalaman, berpelukan, cium tangan), membawa sajadah sendiri, dan sering membasuh tangan dengan sabun."
Setelah ingat itu, akhirnya saya bisa tenang. Ketika mereka bangun, lalu saya bilang sama putraku bahwa keputusan papa berubah. Boleh shalat fardhu di mesjid, dengan syarat bawa sajadah sendiri, setelah shalat langsung pulang, untuk sementara jangan salam2an dulu. Sebelum masuk rumah, cuci tangan dulu pakai sabun.
Mendengar perubahan keputusanku, putraku langsung senang, lalu mengambil sajadah dan berjalan cepat menuju mesjid. Dalam perjalanan, saya panggil dia. Dan kukatakan bahwa saat keluar rumah baca dulu doa "'Bismillahi tawakkaltu 'alallah, laa hawla wa laa quwwata illa billah'..
Alhamdulillah, akhirnya kedilemaankupun telah terurai.
(Citayam-Bogor, Gantira, 19 Maret 2020)
Putriku yang paling kecil, yang masih status paud, langsung angkat bicara, "Tapi pah, cowokkan shalatnya harus di mesjid, gak boleh di rumah?"
Putraku yang nomber dua, yang statusnya kelas 6 SD, langsung protes, "Yaaaa, nanti aku dapatnya cuma 1 pahala donk. Gak dapat 36 kali lipat?"
Putriku yang nomber satu, yang baru kelas 1 smp, langsung memberi nasehat, "Pah, takut itu hanya kepada Allah bukan pada Corona?"
Ibunya mereka pun langsung merespon kegalauan mereka, "Bahwa selain ibadah, kita harus taat ulama dan ulil amri kita. Allah akan tetap membalas kita untuk taat pada yang Allah perintahkan, salah satunya taat pada mereka. Pada jaman Rasulullah pun, pada kondisi hujan lebat kita diijinkan shalat di rumah apalagi kalau wabah penyakit menyerang suatu daerah."
Mendengar jawaban dari belahan jiwaku, putra putriku manut tapi tetap nampak kurang puas atas keputusanku itu.
Semalaman, saya terus gelisah dalam kedilemaan kuputusan tersebut. Lalu coba kuingat2 lagi isi fatwa MUI 14/20. Saya baru ingat ternyata ada satu pernyataan pada point 3b, yang berisi:
"Dalam hal ia berada di suatu kawasan yang potensi penularannya rendah berdasarkan ketetapan pihak yang berwenang, maka ia tetap wajib menjalankan kewajiban ibadah sebagaimana biasa dan wajib menjaga diri agar tidak terpapar virus corona, seperti tidak kontak fisik langsung (bersalaman, berpelukan, cium tangan), membawa sajadah sendiri, dan sering membasuh tangan dengan sabun."
Setelah ingat itu, akhirnya saya bisa tenang. Ketika mereka bangun, lalu saya bilang sama putraku bahwa keputusan papa berubah. Boleh shalat fardhu di mesjid, dengan syarat bawa sajadah sendiri, setelah shalat langsung pulang, untuk sementara jangan salam2an dulu. Sebelum masuk rumah, cuci tangan dulu pakai sabun.
Mendengar perubahan keputusanku, putraku langsung senang, lalu mengambil sajadah dan berjalan cepat menuju mesjid. Dalam perjalanan, saya panggil dia. Dan kukatakan bahwa saat keluar rumah baca dulu doa "'Bismillahi tawakkaltu 'alallah, laa hawla wa laa quwwata illa billah'..
Alhamdulillah, akhirnya kedilemaankupun telah terurai.
(Citayam-Bogor, Gantira, 19 Maret 2020)
Tuesday, 11 February 2020
Anugrah yang Berbeda-Beda
Kalau kita amati dengan seksama. Ternyata orang yang lebih kaya, pintar, cakep, sholeh dan hal2 lainnya yang positif daripada kita sangat banyak.
Begitu pula sebaliknya kalau kita perhatikan dengan seksama ternyata orang yang lebih miskin, bodoh, kurang cakep, kurang sholeh dan hal2 lainnya yang negatif ternyata banyak juga tidak kalah banyaknya dari point di atas.
Hikmahnya dari pengamatan itu adalah bahwa di satu sisi kita jangan sombong karena orang yang diberi anugrah lebih dari kita itu banyak dan di satu sisi lagi kita harus bersyukur karena kita pun diberi anugrah yang banyak yang melebihi orang lain.
Dan untungnya, islam sangat adil, yaitu kita akan diberi balasan sesuai dengan yang telah dianugrahkan pada kita bukan pada orang lain.
Saya jadi ingat akan sebuah kisah dari seorang ulama yang menceritakan tentang dirinya yang pernah bermimpi bertemu dengan orang2 yang sudah meninggal di suatu pemakaman. Ternyata orang paling mulia dari orang2 yang sudah meninggal itu bukan seorang ulama yang banyak menyebarkan agama tapi ternyata seorang yang mendapatkan cobaan hidup yang berat baik dari segi penyakit maupun kemiskinannya, tapi dia oleh Allah diberi anugrah kesabaran yang luar biasa sehingga derajatnya bisa menyaingi seorang ulama di perkuburan itu yang sangat dikenal luas akan perjuangannya.
Oleh karena itu, janganlah pernah iri/dengki pada anugrah yang Allah berikan pada orang lain karena kita tidak akan diminta pertanggungjawaban terhadap apa yang mereka terima.
Yang bisa kita lakukan adalah berusahalah melakukan yang terbaik dari anugrah yang telah diberikan pada kita karena kita akan diminta pertanggungjawaban terhadap anugrah itu.
Sesungguhnya yang membedakan antara satu dengan yang lain hanyalah ketakwaannya, bukan anugrah fisik.
Bila kita diuji menjadi orang kaya maka jadilah orang kaya yang bertakwa. Bila kehidupan kita dicoba dengan kemiskinan maka jadilah orang miskin yang bertakwa.
Bila kita ditakdirkan jadi orang yang sehat dan kuat jadilah orang sehat san kuat yang bertakwa. Begitu juga jika kita ditentukan menjadi orang yang sering sakit dan lemah maka jadilah orang sakit dan lemah yang bertakwa.
Sesungguhnya siapapun orangnya serta dalam kondisi apapun, maka pada dasarnya dia bisa menjadi orang yang bertaqwa sesuai kondisinya. Dan sesungguhnya orang yang paling mulia diantara manusia adalah orang2 yang paling bertakwa, dalam kondisi apapun itu.
"Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat: 13)
(Gantira, 11 Februari 2020, Bekasi)
Begitu pula sebaliknya kalau kita perhatikan dengan seksama ternyata orang yang lebih miskin, bodoh, kurang cakep, kurang sholeh dan hal2 lainnya yang negatif ternyata banyak juga tidak kalah banyaknya dari point di atas.
Hikmahnya dari pengamatan itu adalah bahwa di satu sisi kita jangan sombong karena orang yang diberi anugrah lebih dari kita itu banyak dan di satu sisi lagi kita harus bersyukur karena kita pun diberi anugrah yang banyak yang melebihi orang lain.
Dan untungnya, islam sangat adil, yaitu kita akan diberi balasan sesuai dengan yang telah dianugrahkan pada kita bukan pada orang lain.
Saya jadi ingat akan sebuah kisah dari seorang ulama yang menceritakan tentang dirinya yang pernah bermimpi bertemu dengan orang2 yang sudah meninggal di suatu pemakaman. Ternyata orang paling mulia dari orang2 yang sudah meninggal itu bukan seorang ulama yang banyak menyebarkan agama tapi ternyata seorang yang mendapatkan cobaan hidup yang berat baik dari segi penyakit maupun kemiskinannya, tapi dia oleh Allah diberi anugrah kesabaran yang luar biasa sehingga derajatnya bisa menyaingi seorang ulama di perkuburan itu yang sangat dikenal luas akan perjuangannya.
Oleh karena itu, janganlah pernah iri/dengki pada anugrah yang Allah berikan pada orang lain karena kita tidak akan diminta pertanggungjawaban terhadap apa yang mereka terima.
Yang bisa kita lakukan adalah berusahalah melakukan yang terbaik dari anugrah yang telah diberikan pada kita karena kita akan diminta pertanggungjawaban terhadap anugrah itu.
Sesungguhnya yang membedakan antara satu dengan yang lain hanyalah ketakwaannya, bukan anugrah fisik.
Bila kita diuji menjadi orang kaya maka jadilah orang kaya yang bertakwa. Bila kehidupan kita dicoba dengan kemiskinan maka jadilah orang miskin yang bertakwa.
Bila kita ditakdirkan jadi orang yang sehat dan kuat jadilah orang sehat san kuat yang bertakwa. Begitu juga jika kita ditentukan menjadi orang yang sering sakit dan lemah maka jadilah orang sakit dan lemah yang bertakwa.
Sesungguhnya siapapun orangnya serta dalam kondisi apapun, maka pada dasarnya dia bisa menjadi orang yang bertaqwa sesuai kondisinya. Dan sesungguhnya orang yang paling mulia diantara manusia adalah orang2 yang paling bertakwa, dalam kondisi apapun itu.
"Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat: 13)
(Gantira, 11 Februari 2020, Bekasi)
Saturday, 30 November 2019
"Persiapan Terbaik dalam Menghadapi Perkembangan Teknologi pada Abad Generasi Milenial"
Pada abad generasi milenial ini ada dua bidang teknologi utama yang dikembangkan, yaitu pengembangan big data dan Artificial Intelligence (kecerdasan buatan).
Pengembangan big data adalah pengumpulan data sebanyak2nya terkait data setiap orang, baik mengenai kesukaannya, tempat tinggal, cita2, aktifitas dan banyak hal terkait dirinya. Sedangkan artificial intelegence atau biasa disingkat dengan AI adalah kecerdasan buatan yang bisa diprogram oleh komputer dalam menganalisa setiap kemungkinan2 yang akan terjadi dalam memudahkan kehidupan penggunanya.
Pengumpulan big data ini dilakukan oleh banyak media sosial saat ini, seperti fb, IG, twitter, serta media2 sosial lainnya. Walaupun semua anggota gratis dalam memanfaatkan media tersebut namun tanpa sadar sebenarnya para owner media sosial ini sedang melakukan pengumpulan big data sebanyak2nya pada semua orang yang bergabung di media sosial mereka.
Dengan adanya big data terkait para anggotanya, para owner media sosial dapat mengelompokkan setiap anggota berdasarkan tempat tinggal, aktifitas, kesukaan, pendidikan, bahkan terkait karakter mereka.
Dengan terkumpulnya big data tersebut, maka para owner media sosial bisa memperkirakan dan membuat produk apa yang cocok dan sesuai untuk di tawarkan pada para anggotanya atau bisa juga para owner ini mempromosikan pada para produsen (tentu tidak gratis) untuk memasarkan produk mereka pada calon konsumen yang tepat, efektif dan efisien.
Sedangkan Sistem artificial intelegence (AI) saat ini banyak digunakan dalam berbagai bidang aktifitas kehidupan, baik itu bidang sains, ekonomi, teknik, administrasi pemerintahan, militer, video game dan aktifitas lainnya yang memudahkan para penggunanya.
Beberapa sistem AI ini banyak digunakan oleh google serta para startup saat ini, seperti Aplikasi Uber, Grab, Gojek, serta startup lainnya. Bahkam sistem AI ini digunakan juga oleh beberapa media sosial, seperti program yang pernah viral dan banyak diminati oleh para anggota fb, yaitu tentang analisa perkiraan wajah masa depan. Dimana sempat muncul foto orang2 saat ini dan perkiraan wajah masa depan.
Untuk ke depannya, pemanfaatan AI ini adalah dalam pembuatan robot yang kemampuannya bisa seperti manusia, yaitu dapat berfikir, dapat menjawab, serta dapat melakukan berbagai aktifitas seperti aktifitas yang selalu dilakukan manusia baik aktifitas rumah tangga, pekerjaan bahkan dalam bidang seni. Sehingga banyak orang yang khawatir akan masa depan, sebagaimana dalam film2 fiksi saat ini dimana suatu saat robot dapat menguasai manusia. Semua pekerjaan manusia akan diambil alih oleh robot.
Saat ini pun pemerintahan mulai melemparkan wacana untuk menghilangkan jabatan Eselon IV dan III yang tugas kesehariannya akan digantikan dengan robot yang menggunakan Sistem AI.
Untuk inisiator akan dimulai dari Bapenas.
Dengan semakin terkumpulnya big data setiap orang dan juga semakin berkembangnya teknologi AI, maka ada beberapa hal positif dan negatif yang mungkin terjadi.
Bebeberapa nilai positifnya, adalah:
1. Memudahkan bagi para konsumen untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, karena data mereka sudah terkumpul dengan sendirinya tanpa perlu ada wawancara tersendiri
2. Memudahkan untuk para produsen dalam memasarkan produknya, sehingga mereka bisa memasarkan tepat pada sasaran karena semua data calon konsumen sudah terkolektif tanpa perlu melakukan riset ulang yang membutuhkan banyak biaya.
3. Dengan semakin berkembangnya AI, maka lambat laun kita tidak lagi disibukkan pekerjaan yang berbahaya/beresiko dan pekerjaan yang membutuhkan proses pemikiran yang berulang2. Karena aktifitas itu sudah diambil alih oleh robot yang sudah menyerupai kemampuan manusia, bahkan bisa bekerja tanpa lelah serta tidak ada bantahan. Sebagai gantinya, maka kita bisa memanfaatkan waktu luang untuk memperbanyak ibadah atau mengembangkan penelitian selanjutnya untuk peningkatan kualitas AI.
4. Segala sesuatu akan lebih mudah, cepat dan tepat. Sehingga mengurangi try and error yang membutuhkan biaya yang sangat tinggi.
Selain nilai2 positif di atas, ada juga negatif yang mungkin bisa terjadi, yaitu:
1. Memudahkan orang untuk menjadi konsumtif, karena penawaran barang yang mereka harapkan akan berdatangan tanpa diundang. Sehingga bagi orang yang tidak bisa menahan diri akan membeli apa saja yang mereka impikan, yang akhirnya bisa menyebabkan besar pasak daripada tiang, yaitu dia akan membeli apa yang tidak urgen walaupun dana yang ada terbatas. Yang ujung2nya akan memanfaatkan utang pada lembaga2 yang ikut menawarkan juga. Dan bisa berefek dalam kondisi hidup gelisah dikarenakan penagiahn yang terus menerus dari lembaga yang memberi utang.
2. Akan mudahnya terjadi penipuan yang sulit diprediksi, karena para penipu memiliki data yang lengkap tehadap target yang akan ditipu. Sehingga para korban sulit nembedakan mana yang jujur dan mana yang penipu.
3. Walaupun adanya big data ini memudahkan bagi para produsen, namun di sisi lain aktifitas para produsen pun akan terekam sehingga akan memudahkan bermunculannya para pesaing baru yang mungkin bisa lebih canggih dan murah dengan menargetkan calon konsumen yang sama.
4. Dengan semakin berkembangnya AI terutama dalam bidang robot yang menyerupai manusia, maka efek sampingnya adalah akan banyak pekerjaan yang sebelumnya hanya bisa dilakukan oleh manusia diambil alih oleh robot, seperti seniman, dokter, engineer, guru, bank, kepolisian, pertanian dan banyak lagi bidang2 lainnya yang mungkin hasilnya lebih akurat. Hal ini bisa menyebabkan meningkatnya pengangguran.
5. Bila terjadi kejahatan yang diakibatkan oleh robot2 yang memiliki kemampuan manusia, maka akan sulit menentukan pidananya, bila pembuat robotnya sudah meninggal. Akhirnya yang akan terjadi mungkin peperangan antara robot yang bekerja di kepolisian dan robot yang bekerja dalam bidang kejahatan. Sedangkan kalau terjadi kekacauan dan kerusakan material yang dirugikan adalah manusia.
6. Akan semakin meningkat ketakutan dan kekhawatiran di masyarakat karena mereka sulit mencari pekerjaan untuk nafkah hidup mereka karena sudah banyak bidang pekerjaan yang sudah diambil alih robot.
Dalam mengantisipasi ketakutan dan kekhawatiran dari efek negatif semakin berkembangnya big data dan AI, maka solusi terbaik bagi orang yang mengalaminya, yaitu meningkatkan, memahami dan mengamalkan ilmu agama.
Dalam islam diajarkan bahwa kita wajib beribadah dan berikhtiar dalam mencari rizki, namun harus memiliki keyakinan bahwa rizki itu datangnya dari Allah lewat mana saja yang Dia kehendaki. Dengan meyakini keyakinan seperti ini, maka tidak ada lagi rasa khawatir terhadap rizki. Pekerjaan boleh ditukar, usaha boleh ditiru, mata pencaharian boleh direbut, tapi yang namanya rizki tidak akan tertukar, tidak bisa ditiru dan tidak bisa direbut.
(Gantira, 25 November 2019, Bogor)
Pengembangan big data adalah pengumpulan data sebanyak2nya terkait data setiap orang, baik mengenai kesukaannya, tempat tinggal, cita2, aktifitas dan banyak hal terkait dirinya. Sedangkan artificial intelegence atau biasa disingkat dengan AI adalah kecerdasan buatan yang bisa diprogram oleh komputer dalam menganalisa setiap kemungkinan2 yang akan terjadi dalam memudahkan kehidupan penggunanya.
Pengumpulan big data ini dilakukan oleh banyak media sosial saat ini, seperti fb, IG, twitter, serta media2 sosial lainnya. Walaupun semua anggota gratis dalam memanfaatkan media tersebut namun tanpa sadar sebenarnya para owner media sosial ini sedang melakukan pengumpulan big data sebanyak2nya pada semua orang yang bergabung di media sosial mereka.
Dengan adanya big data terkait para anggotanya, para owner media sosial dapat mengelompokkan setiap anggota berdasarkan tempat tinggal, aktifitas, kesukaan, pendidikan, bahkan terkait karakter mereka.
Dengan terkumpulnya big data tersebut, maka para owner media sosial bisa memperkirakan dan membuat produk apa yang cocok dan sesuai untuk di tawarkan pada para anggotanya atau bisa juga para owner ini mempromosikan pada para produsen (tentu tidak gratis) untuk memasarkan produk mereka pada calon konsumen yang tepat, efektif dan efisien.
Sedangkan Sistem artificial intelegence (AI) saat ini banyak digunakan dalam berbagai bidang aktifitas kehidupan, baik itu bidang sains, ekonomi, teknik, administrasi pemerintahan, militer, video game dan aktifitas lainnya yang memudahkan para penggunanya.
Beberapa sistem AI ini banyak digunakan oleh google serta para startup saat ini, seperti Aplikasi Uber, Grab, Gojek, serta startup lainnya. Bahkam sistem AI ini digunakan juga oleh beberapa media sosial, seperti program yang pernah viral dan banyak diminati oleh para anggota fb, yaitu tentang analisa perkiraan wajah masa depan. Dimana sempat muncul foto orang2 saat ini dan perkiraan wajah masa depan.
Untuk ke depannya, pemanfaatan AI ini adalah dalam pembuatan robot yang kemampuannya bisa seperti manusia, yaitu dapat berfikir, dapat menjawab, serta dapat melakukan berbagai aktifitas seperti aktifitas yang selalu dilakukan manusia baik aktifitas rumah tangga, pekerjaan bahkan dalam bidang seni. Sehingga banyak orang yang khawatir akan masa depan, sebagaimana dalam film2 fiksi saat ini dimana suatu saat robot dapat menguasai manusia. Semua pekerjaan manusia akan diambil alih oleh robot.
Saat ini pun pemerintahan mulai melemparkan wacana untuk menghilangkan jabatan Eselon IV dan III yang tugas kesehariannya akan digantikan dengan robot yang menggunakan Sistem AI.
Untuk inisiator akan dimulai dari Bapenas.
Dengan semakin terkumpulnya big data setiap orang dan juga semakin berkembangnya teknologi AI, maka ada beberapa hal positif dan negatif yang mungkin terjadi.
Bebeberapa nilai positifnya, adalah:
1. Memudahkan bagi para konsumen untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, karena data mereka sudah terkumpul dengan sendirinya tanpa perlu ada wawancara tersendiri
2. Memudahkan untuk para produsen dalam memasarkan produknya, sehingga mereka bisa memasarkan tepat pada sasaran karena semua data calon konsumen sudah terkolektif tanpa perlu melakukan riset ulang yang membutuhkan banyak biaya.
3. Dengan semakin berkembangnya AI, maka lambat laun kita tidak lagi disibukkan pekerjaan yang berbahaya/beresiko dan pekerjaan yang membutuhkan proses pemikiran yang berulang2. Karena aktifitas itu sudah diambil alih oleh robot yang sudah menyerupai kemampuan manusia, bahkan bisa bekerja tanpa lelah serta tidak ada bantahan. Sebagai gantinya, maka kita bisa memanfaatkan waktu luang untuk memperbanyak ibadah atau mengembangkan penelitian selanjutnya untuk peningkatan kualitas AI.
4. Segala sesuatu akan lebih mudah, cepat dan tepat. Sehingga mengurangi try and error yang membutuhkan biaya yang sangat tinggi.
Selain nilai2 positif di atas, ada juga negatif yang mungkin bisa terjadi, yaitu:
1. Memudahkan orang untuk menjadi konsumtif, karena penawaran barang yang mereka harapkan akan berdatangan tanpa diundang. Sehingga bagi orang yang tidak bisa menahan diri akan membeli apa saja yang mereka impikan, yang akhirnya bisa menyebabkan besar pasak daripada tiang, yaitu dia akan membeli apa yang tidak urgen walaupun dana yang ada terbatas. Yang ujung2nya akan memanfaatkan utang pada lembaga2 yang ikut menawarkan juga. Dan bisa berefek dalam kondisi hidup gelisah dikarenakan penagiahn yang terus menerus dari lembaga yang memberi utang.
2. Akan mudahnya terjadi penipuan yang sulit diprediksi, karena para penipu memiliki data yang lengkap tehadap target yang akan ditipu. Sehingga para korban sulit nembedakan mana yang jujur dan mana yang penipu.
3. Walaupun adanya big data ini memudahkan bagi para produsen, namun di sisi lain aktifitas para produsen pun akan terekam sehingga akan memudahkan bermunculannya para pesaing baru yang mungkin bisa lebih canggih dan murah dengan menargetkan calon konsumen yang sama.
4. Dengan semakin berkembangnya AI terutama dalam bidang robot yang menyerupai manusia, maka efek sampingnya adalah akan banyak pekerjaan yang sebelumnya hanya bisa dilakukan oleh manusia diambil alih oleh robot, seperti seniman, dokter, engineer, guru, bank, kepolisian, pertanian dan banyak lagi bidang2 lainnya yang mungkin hasilnya lebih akurat. Hal ini bisa menyebabkan meningkatnya pengangguran.
5. Bila terjadi kejahatan yang diakibatkan oleh robot2 yang memiliki kemampuan manusia, maka akan sulit menentukan pidananya, bila pembuat robotnya sudah meninggal. Akhirnya yang akan terjadi mungkin peperangan antara robot yang bekerja di kepolisian dan robot yang bekerja dalam bidang kejahatan. Sedangkan kalau terjadi kekacauan dan kerusakan material yang dirugikan adalah manusia.
6. Akan semakin meningkat ketakutan dan kekhawatiran di masyarakat karena mereka sulit mencari pekerjaan untuk nafkah hidup mereka karena sudah banyak bidang pekerjaan yang sudah diambil alih robot.
Dalam mengantisipasi ketakutan dan kekhawatiran dari efek negatif semakin berkembangnya big data dan AI, maka solusi terbaik bagi orang yang mengalaminya, yaitu meningkatkan, memahami dan mengamalkan ilmu agama.
Dalam islam diajarkan bahwa kita wajib beribadah dan berikhtiar dalam mencari rizki, namun harus memiliki keyakinan bahwa rizki itu datangnya dari Allah lewat mana saja yang Dia kehendaki. Dengan meyakini keyakinan seperti ini, maka tidak ada lagi rasa khawatir terhadap rizki. Pekerjaan boleh ditukar, usaha boleh ditiru, mata pencaharian boleh direbut, tapi yang namanya rizki tidak akan tertukar, tidak bisa ditiru dan tidak bisa direbut.
(Gantira, 25 November 2019, Bogor)
"Tiga Faktor Utama Dalam Pembentukan Karakter Manusia"
Ada banyak variabel yang mempengaruhi terbentuknya karakter manusia. Namun dari sekian banyaknya variabel tersebut, ada 3 faktor utama yang mempengaruhinya, yaitu:
1. Lingkungan
Tiap lingkungan ikut mempengaruhi karakter seseorang.
Bila kita kerja di salah satu kementrian, yang pegawainya berasal dari berbagai universitas. Sedikit banyak kita bisa membedakan mana lulusan ipb, AUP, its, ugm, itb, unpad dan perguruan tinggi lainnya. Karena setiap lulusan dari perguruan tinggi tertentu ikut mempengaruhi karakter mereka.
Saat kita ikut rapat di salah satu kementrian yang berbeda, kita pun bisa membedakan mana orang yang dari kementrian A, B, C dan D. Karena ternyata setiap kementrian ikut mempengaruhi karakter pegawainya.
Bila kita berada di luar pemerintahan, kita bisa membedakan mana yang ASN, pegawai swasta, pegawai BUMN atau pengusaha karena sedikit banyak lingkungan tempat dia mencari nafkah ikut serta dalam mempengaruhi salah satu karakternya.
Begitu juga saat kita berada di tempat yang berbeda, kita bisa membedakan mana orang sunda, padang, jawa dan lainnya dengan melihat sikap dan karakter mereka. Bahkan untuk daerah yang lebih kecil, kita bisa membedakan antara karakter kecamatan A, B, dan C yang sama2 satu wilayah kabupaten. Hal ini karena tiap lingkungan pada daerah terkecil ikut memengaruhi karakter seseorang.
2. Generasi kelahiran
Generasi kelahiran sedikit banyak ikut mempengaruhi karakter seseorang.
Bila kita melihat grup2 yang terbentuk di fb, kita akan melihat ada grup yang mengkhususkan diri pada grup angkatan tanpa membedakan asal sekolah. Padahal setiap lingkungan sekolahan memiliki karakter yang berbeda2 dalam mempengaruhi murid2nya.
Terbentuknya grup fb angkatan/satu generasi yang sama terjadi karena pada generasi itu ada suatu musim yang sama, baik itu musim lagu, film, permainan atau telnologi yang sama2 disukai pada jamannya.
Sehingga pada sesuatu yang sama itulah mereka bisa berkomunikasi dan sedikit banyak ikut mempengaruhi karakter pada generasinya.
3. Keturunan
Ternyata keturunan pun ikut mempengaruhi karakter seseorang walaupun mereka terlahir di generasi yang berbeda dan hidup pada lingkungan yang berbeda.
Makanya, jangan heran kalau muncul kisah2 yang menceritakan anak raja yang terbuang yang dibesarkan oleh rakyat biasa namun pada ujungnya dia mempunyai karakter seorang pemimpin dan pada ending kisahnya dia pun akhirnya jadi seorang pemimpin.
Jadi kesimpulannya adalah karakter seseorang itu sangat kompleks, karena banyak sekali faktor yang mempengaruhinya. Kita hanya bisa menjadi diri kita sesuai yang telah ditakdirkan untuk kita, maka optimalkan apa yang baik dan nrimo dengan apa yang kurang. Kita tidak bisa memaksakan diri untuk menjadi orang lain atau memaksa orang lain untuk menjadi kita karena setiap orang memiliki banyak faktor yang berbeda2 dalam mempengaruhi karakternya masing2.
(Gantira, 24 November 2019, Bogor)
1. Lingkungan
Tiap lingkungan ikut mempengaruhi karakter seseorang.
Bila kita kerja di salah satu kementrian, yang pegawainya berasal dari berbagai universitas. Sedikit banyak kita bisa membedakan mana lulusan ipb, AUP, its, ugm, itb, unpad dan perguruan tinggi lainnya. Karena setiap lulusan dari perguruan tinggi tertentu ikut mempengaruhi karakter mereka.
Saat kita ikut rapat di salah satu kementrian yang berbeda, kita pun bisa membedakan mana orang yang dari kementrian A, B, C dan D. Karena ternyata setiap kementrian ikut mempengaruhi karakter pegawainya.
Bila kita berada di luar pemerintahan, kita bisa membedakan mana yang ASN, pegawai swasta, pegawai BUMN atau pengusaha karena sedikit banyak lingkungan tempat dia mencari nafkah ikut serta dalam mempengaruhi salah satu karakternya.
Begitu juga saat kita berada di tempat yang berbeda, kita bisa membedakan mana orang sunda, padang, jawa dan lainnya dengan melihat sikap dan karakter mereka. Bahkan untuk daerah yang lebih kecil, kita bisa membedakan antara karakter kecamatan A, B, dan C yang sama2 satu wilayah kabupaten. Hal ini karena tiap lingkungan pada daerah terkecil ikut memengaruhi karakter seseorang.
2. Generasi kelahiran
Generasi kelahiran sedikit banyak ikut mempengaruhi karakter seseorang.
Bila kita melihat grup2 yang terbentuk di fb, kita akan melihat ada grup yang mengkhususkan diri pada grup angkatan tanpa membedakan asal sekolah. Padahal setiap lingkungan sekolahan memiliki karakter yang berbeda2 dalam mempengaruhi murid2nya.
Terbentuknya grup fb angkatan/satu generasi yang sama terjadi karena pada generasi itu ada suatu musim yang sama, baik itu musim lagu, film, permainan atau telnologi yang sama2 disukai pada jamannya.
Sehingga pada sesuatu yang sama itulah mereka bisa berkomunikasi dan sedikit banyak ikut mempengaruhi karakter pada generasinya.
3. Keturunan
Ternyata keturunan pun ikut mempengaruhi karakter seseorang walaupun mereka terlahir di generasi yang berbeda dan hidup pada lingkungan yang berbeda.
Makanya, jangan heran kalau muncul kisah2 yang menceritakan anak raja yang terbuang yang dibesarkan oleh rakyat biasa namun pada ujungnya dia mempunyai karakter seorang pemimpin dan pada ending kisahnya dia pun akhirnya jadi seorang pemimpin.
Jadi kesimpulannya adalah karakter seseorang itu sangat kompleks, karena banyak sekali faktor yang mempengaruhinya. Kita hanya bisa menjadi diri kita sesuai yang telah ditakdirkan untuk kita, maka optimalkan apa yang baik dan nrimo dengan apa yang kurang. Kita tidak bisa memaksakan diri untuk menjadi orang lain atau memaksa orang lain untuk menjadi kita karena setiap orang memiliki banyak faktor yang berbeda2 dalam mempengaruhi karakternya masing2.
(Gantira, 24 November 2019, Bogor)
Subscribe to:
Posts (Atom)
