Friday, 20 March 2020

"Perlunya Perubahan Kebijakan dalam Rumah Tangga"


Melihat fenomena saat ini:

- Pasien yang terkena corona terus meningkat, berdasarkan data resmi dari https://linktr.ee/covid19check tanggal 21 Maret 2020 pukul 3.17 dimana jumlah  pasen corona dalam perawata  320 orang, sembuh 17 orang, meninggal 32 orang

- Masih banyak masyarakat yang meremehkan wabah ini, sebagai contoh orang dalam pemantauan (ODP) corona di solo yang ternyata status akhirnya berubah menjadi suspek Corona, sebelumnya masih menganggap bahwa dirinya sehat2 saja sehingga  ikut membantu persiapan pernikahan tetangganya dan terus bersosialisasi ke pasar2.

- Saat shalat berjamaah di mesjid rumah sekitar pun, masih ada jamaah yang mengajak bersalaman, tanpa khawatir  dengan wabah yang sedang terjadi.

- Banyaknya postingan dari tenaga medis yang menuliskan poster

" I Stay at Work for You

You Stay at Home for Us"

Saya berfikir bahwa sudah saatnya ada perubahan kebijakan dalam rumah tangga ini, sehingga saya sebagai pemimpin didalamnya perlu mengintruksikan pada seluruh anggota keluarga untuk mengikuti fatwa dari MUI 14/20 pada point  3a:

".....ia boleh meninggalkan salat Jumat dan menggantikannya dengan shalat zuhur di tempat kediaman, serta meninggalkan jamaah shalat lima waktu/rawatib, Tarawih, dan Ied di masjid atau tempat umum lainnya.."

Semoga perubahan kebijakan ini bisa dipatuhi dan dipahami oleh anggota keluarga yang masih  anak2 yang mungkin akan terus bertanya2.

Dan semoga wabah ini pun cepat berlalu dari negeri ini, sehingga mereka bisa kembali menikmati aktifitas shalat berjamaah di mesjid yang sudah membuat nyaman hati mereka.. Aamiin..aamiin  aamiin ya robbal alamiin..

(Citayam-Bogor, Gantira,  21 Maret 2020)

Thursday, 19 March 2020

"Akhir Sebuah Dilema"

Semalam, saya beri intruksi pada anak2 bahwa mulai sekarang  untuk sementara shalat fardhu di rumah saja mengikuti anjuran dari Fatwa MUI  14/20.

Putriku yang paling kecil, yang masih status paud, langsung angkat bicara, "Tapi pah, cowokkan shalatnya harus di mesjid, gak boleh di rumah?"

Putraku yang nomber dua, yang statusnya kelas 6 SD, langsung protes, "Yaaaa, nanti aku dapatnya cuma 1 pahala donk. Gak dapat 36 kali lipat?"

Putriku yang nomber satu, yang baru kelas 1 smp, langsung memberi nasehat, "Pah, takut itu hanya kepada Allah bukan pada Corona?"

Ibunya mereka pun langsung merespon kegalauan mereka, "Bahwa selain ibadah, kita harus taat ulama dan ulil amri kita. Allah akan tetap membalas  kita untuk taat pada yang Allah perintahkan, salah satunya taat pada mereka. Pada jaman Rasulullah pun, pada kondisi hujan lebat kita diijinkan shalat di rumah apalagi kalau wabah penyakit menyerang suatu daerah."

Mendengar jawaban dari belahan jiwaku, putra putriku manut tapi tetap nampak kurang puas atas keputusanku itu.

Semalaman, saya terus gelisah dalam kedilemaan kuputusan tersebut. Lalu coba kuingat2 lagi isi fatwa MUI 14/20. Saya baru ingat ternyata ada satu pernyataan pada point 3b, yang berisi:

"Dalam hal ia berada di suatu kawasan yang potensi penularannya rendah berdasarkan ketetapan pihak yang berwenang, maka ia tetap wajib menjalankan kewajiban ibadah sebagaimana biasa dan wajib menjaga diri agar tidak terpapar virus corona, seperti tidak kontak fisik langsung (bersalaman, berpelukan, cium tangan), membawa sajadah sendiri, dan sering membasuh tangan dengan sabun."

Setelah ingat itu, akhirnya saya bisa tenang. Ketika mereka bangun, lalu saya bilang sama putraku bahwa keputusan papa berubah. Boleh shalat fardhu di mesjid, dengan syarat bawa sajadah sendiri, setelah shalat langsung pulang, untuk sementara jangan salam2an dulu. Sebelum masuk rumah, cuci tangan dulu pakai sabun.

Mendengar perubahan keputusanku, putraku langsung senang, lalu mengambil sajadah dan berjalan cepat menuju mesjid. Dalam perjalanan, saya panggil dia. Dan kukatakan bahwa saat keluar rumah baca dulu doa "'Bismillahi tawakkaltu 'alallah, laa hawla wa laa quwwata illa billah'..

Alhamdulillah, akhirnya kedilemaankupun telah terurai.

(Citayam-Bogor, Gantira,  19 Maret 2020)

Tuesday, 11 February 2020

Anugrah yang Berbeda-Beda

Kalau kita amati dengan seksama. Ternyata orang yang lebih kaya, pintar, cakep, sholeh dan hal2 lainnya yang positif daripada kita sangat banyak.

Begitu pula sebaliknya  kalau kita perhatikan dengan seksama ternyata orang yang lebih miskin, bodoh, kurang cakep, kurang sholeh dan hal2 lainnya yang negatif ternyata banyak juga tidak kalah banyaknya dari point di atas.

Hikmahnya dari pengamatan itu adalah bahwa di satu sisi kita jangan sombong karena orang yang diberi anugrah lebih dari kita itu banyak dan di satu sisi lagi kita harus bersyukur karena  kita pun diberi anugrah yang banyak yang melebihi orang lain.

Dan untungnya, islam sangat adil, yaitu kita akan diberi balasan sesuai dengan yang telah dianugrahkan pada kita bukan pada orang lain.

Saya jadi ingat akan sebuah kisah dari seorang ulama yang menceritakan tentang dirinya yang pernah bermimpi bertemu dengan orang2 yang sudah meninggal di suatu pemakaman. Ternyata orang paling mulia dari orang2 yang sudah meninggal itu bukan seorang ulama yang banyak menyebarkan agama tapi ternyata seorang yang mendapatkan cobaan hidup yang berat baik dari segi penyakit maupun kemiskinannya, tapi dia oleh Allah diberi anugrah kesabaran yang luar biasa sehingga derajatnya bisa menyaingi seorang ulama di perkuburan itu yang sangat dikenal luas akan perjuangannya.

Oleh karena itu, janganlah pernah iri/dengki pada anugrah yang Allah berikan pada orang lain karena kita tidak akan diminta pertanggungjawaban terhadap apa yang mereka terima.

Yang bisa kita lakukan adalah berusahalah melakukan yang terbaik dari anugrah yang telah diberikan pada kita karena kita akan diminta pertanggungjawaban terhadap anugrah itu.

Sesungguhnya yang membedakan antara satu dengan yang lain hanyalah ketakwaannya, bukan anugrah fisik.

Bila kita diuji menjadi orang kaya maka jadilah orang kaya yang bertakwa. Bila kehidupan kita dicoba dengan  kemiskinan maka jadilah orang miskin yang bertakwa.

Bila kita ditakdirkan jadi orang yang sehat dan kuat jadilah orang sehat san kuat yang bertakwa. Begitu juga jika kita ditentukan menjadi orang yang sering sakit dan lemah maka jadilah orang sakit dan lemah yang bertakwa.

Sesungguhnya siapapun orangnya serta dalam kondisi apapun, maka pada dasarnya dia bisa menjadi orang yang bertaqwa sesuai kondisinya. Dan sesungguhnya orang yang paling mulia diantara manusia adalah orang2 yang paling bertakwa,  dalam kondisi apapun itu.

"Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat: 13)

(Gantira, 11 Februari 2020, Bekasi)

Saturday, 30 November 2019

"Persiapan Terbaik dalam Menghadapi Perkembangan Teknologi pada Abad Generasi Milenial"

Pada abad generasi milenial ini ada dua bidang teknologi utama yang dikembangkan, yaitu pengembangan big data dan Artificial Intelligence (kecerdasan buatan).

Pengembangan big data adalah pengumpulan data sebanyak2nya terkait data setiap orang, baik mengenai kesukaannya, tempat tinggal, cita2, aktifitas dan banyak hal terkait dirinya. Sedangkan artificial intelegence atau biasa disingkat dengan AI adalah kecerdasan buatan yang bisa diprogram oleh komputer dalam menganalisa setiap kemungkinan2 yang akan terjadi dalam memudahkan kehidupan penggunanya.

Pengumpulan big data ini dilakukan oleh banyak media sosial saat ini, seperti fb, IG, twitter, serta media2 sosial lainnya. Walaupun semua anggota gratis dalam memanfaatkan media tersebut namun tanpa sadar sebenarnya para owner media sosial ini sedang melakukan pengumpulan big data sebanyak2nya pada semua orang yang bergabung di media sosial mereka.

Dengan adanya big data terkait para anggotanya,  para owner media sosial dapat mengelompokkan setiap anggota berdasarkan tempat tinggal, aktifitas, kesukaan, pendidikan, bahkan terkait karakter mereka.

Dengan terkumpulnya big data tersebut, maka para owner media sosial bisa memperkirakan dan membuat produk apa yang cocok dan sesuai untuk di tawarkan pada para anggotanya atau bisa juga para owner ini mempromosikan pada para produsen (tentu tidak gratis) untuk memasarkan produk mereka pada calon konsumen yang tepat, efektif dan efisien.

Sedangkan Sistem artificial intelegence (AI) saat ini banyak digunakan dalam berbagai bidang aktifitas kehidupan, baik itu bidang sains, ekonomi, teknik, administrasi pemerintahan, militer,  video game dan aktifitas lainnya yang memudahkan para penggunanya.

Beberapa sistem AI ini  banyak digunakan oleh google serta para startup saat ini, seperti Aplikasi Uber, Grab, Gojek, serta startup lainnya.  Bahkam sistem AI ini digunakan juga oleh beberapa media sosial, seperti program  yang pernah viral dan banyak diminati oleh para anggota fb, yaitu tentang analisa perkiraan wajah masa depan. Dimana sempat muncul foto orang2 saat ini dan perkiraan wajah masa depan.

Untuk ke depannya, pemanfaatan AI ini adalah dalam pembuatan robot yang kemampuannya bisa seperti manusia, yaitu dapat berfikir, dapat menjawab, serta dapat melakukan berbagai aktifitas seperti aktifitas yang selalu dilakukan manusia baik aktifitas rumah tangga, pekerjaan bahkan dalam bidang seni. Sehingga banyak orang yang khawatir akan masa depan, sebagaimana dalam film2 fiksi saat ini dimana suatu saat robot dapat menguasai manusia. Semua pekerjaan manusia akan diambil alih oleh robot.

Saat ini pun pemerintahan mulai melemparkan wacana untuk menghilangkan jabatan Eselon IV dan III yang tugas kesehariannya akan digantikan dengan robot yang menggunakan Sistem AI.
Untuk inisiator akan dimulai dari Bapenas.

Dengan semakin terkumpulnya big data setiap orang dan juga semakin berkembangnya teknologi AI, maka ada beberapa hal positif dan negatif yang mungkin terjadi.

Bebeberapa nilai positifnya, adalah:

1.  Memudahkan bagi para konsumen untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, karena data mereka sudah terkumpul dengan sendirinya tanpa perlu ada wawancara tersendiri

2. Memudahkan untuk para produsen dalam memasarkan produknya, sehingga mereka bisa memasarkan tepat pada sasaran karena semua data calon konsumen sudah terkolektif tanpa perlu melakukan riset ulang yang membutuhkan banyak biaya.

3. Dengan semakin berkembangnya AI, maka lambat laun kita tidak lagi disibukkan pekerjaan yang berbahaya/beresiko dan pekerjaan yang  membutuhkan proses pemikiran yang berulang2. Karena aktifitas itu sudah diambil alih oleh robot yang sudah menyerupai kemampuan manusia, bahkan bisa bekerja tanpa lelah serta tidak ada bantahan. Sebagai gantinya, maka kita bisa memanfaatkan waktu luang untuk memperbanyak ibadah atau mengembangkan penelitian selanjutnya untuk peningkatan kualitas AI.

4. Segala sesuatu akan lebih mudah, cepat dan tepat. Sehingga mengurangi try and error yang membutuhkan biaya yang sangat tinggi.

Selain nilai2 positif di atas, ada juga negatif yang mungkin bisa terjadi, yaitu:

1. Memudahkan orang untuk menjadi konsumtif, karena penawaran barang  yang mereka harapkan akan berdatangan tanpa diundang. Sehingga bagi orang yang tidak bisa menahan diri akan membeli apa saja yang mereka impikan, yang akhirnya bisa menyebabkan besar pasak daripada tiang, yaitu  dia akan membeli apa yang tidak urgen walaupun dana yang ada terbatas. Yang ujung2nya akan memanfaatkan utang pada lembaga2 yang ikut menawarkan juga.  Dan bisa berefek dalam kondisi hidup gelisah dikarenakan penagiahn yang terus menerus dari  lembaga yang memberi utang.

2. Akan mudahnya terjadi penipuan yang sulit diprediksi, karena para penipu memiliki data yang lengkap tehadap target yang akan ditipu. Sehingga para korban sulit nembedakan mana yang jujur dan mana yang penipu.

3. Walaupun adanya big data ini memudahkan bagi para produsen, namun di sisi lain aktifitas para produsen pun akan terekam sehingga akan memudahkan bermunculannya para pesaing baru yang mungkin bisa lebih canggih dan murah dengan menargetkan calon konsumen yang sama.

4. Dengan semakin berkembangnya AI terutama dalam bidang robot yang menyerupai manusia, maka efek sampingnya adalah akan banyak pekerjaan yang sebelumnya hanya bisa dilakukan oleh manusia diambil alih oleh robot, seperti seniman, dokter, engineer, guru, bank, kepolisian, pertanian dan banyak lagi bidang2 lainnya yang mungkin hasilnya lebih akurat. Hal ini bisa menyebabkan meningkatnya pengangguran.

5. Bila terjadi kejahatan yang diakibatkan oleh robot2 yang memiliki kemampuan manusia, maka akan sulit menentukan pidananya, bila pembuat robotnya sudah meninggal. Akhirnya yang akan terjadi mungkin peperangan antara robot yang bekerja di kepolisian dan robot yang bekerja dalam  bidang kejahatan. Sedangkan kalau terjadi kekacauan dan kerusakan material yang dirugikan adalah manusia.

6. Akan semakin meningkat ketakutan dan kekhawatiran di masyarakat karena mereka sulit mencari pekerjaan untuk nafkah hidup mereka karena sudah banyak bidang pekerjaan yang sudah diambil alih robot.

Dalam mengantisipasi ketakutan dan kekhawatiran dari efek negatif semakin berkembangnya big data dan AI, maka solusi terbaik bagi orang yang mengalaminya, yaitu  meningkatkan, memahami dan mengamalkan ilmu agama.

Dalam islam diajarkan bahwa kita wajib beribadah dan berikhtiar dalam mencari rizki, namun harus memiliki keyakinan bahwa rizki itu datangnya dari Allah lewat mana saja yang Dia kehendaki. Dengan meyakini keyakinan seperti ini, maka tidak ada lagi rasa khawatir terhadap rizki. Pekerjaan boleh ditukar, usaha boleh ditiru, mata pencaharian boleh direbut, tapi yang namanya rizki tidak akan tertukar, tidak bisa ditiru dan tidak bisa direbut.

(Gantira, 25 November 2019, Bogor)

"Tiga Faktor Utama Dalam Pembentukan Karakter Manusia"

Ada banyak variabel yang mempengaruhi terbentuknya karakter manusia. Namun dari sekian banyaknya variabel tersebut, ada 3 faktor utama yang mempengaruhinya, yaitu:

1. Lingkungan

Tiap lingkungan ikut mempengaruhi karakter seseorang.

Bila kita kerja di salah satu kementrian, yang pegawainya berasal dari berbagai universitas. Sedikit banyak kita bisa membedakan mana lulusan ipb, AUP, its, ugm, itb, unpad dan perguruan tinggi lainnya. Karena setiap lulusan dari perguruan tinggi tertentu ikut mempengaruhi karakter mereka.

Saat kita ikut rapat di salah satu kementrian yang berbeda, kita pun bisa membedakan mana orang yang dari kementrian A, B, C dan D. Karena ternyata setiap kementrian ikut mempengaruhi karakter pegawainya.

Bila kita berada di luar pemerintahan, kita bisa membedakan mana yang ASN, pegawai swasta, pegawai BUMN atau pengusaha karena sedikit banyak lingkungan tempat dia mencari nafkah ikut serta dalam mempengaruhi salah satu karakternya.

Begitu juga saat kita berada di tempat yang berbeda, kita bisa membedakan mana orang sunda, padang, jawa dan lainnya dengan  melihat sikap dan karakter mereka. Bahkan untuk daerah yang lebih kecil, kita bisa membedakan antara karakter kecamatan A, B, dan C yang sama2 satu wilayah kabupaten. Hal ini karena tiap lingkungan pada  daerah terkecil ikut memengaruhi karakter seseorang.

2.  Generasi kelahiran

Generasi kelahiran sedikit banyak ikut  mempengaruhi karakter seseorang.

Bila kita melihat grup2 yang terbentuk di fb, kita akan melihat ada grup yang mengkhususkan diri pada grup angkatan tanpa membedakan asal sekolah.  Padahal setiap lingkungan sekolahan memiliki karakter yang berbeda2 dalam mempengaruhi murid2nya.

Terbentuknya grup fb angkatan/satu generasi yang sama terjadi karena pada generasi itu ada suatu musim yang sama, baik itu musim lagu, film, permainan atau telnologi yang sama2 disukai pada jamannya.

Sehingga pada sesuatu yang sama itulah mereka bisa berkomunikasi dan sedikit banyak ikut mempengaruhi karakter pada generasinya.

3. Keturunan

Ternyata keturunan pun ikut mempengaruhi karakter seseorang walaupun mereka terlahir di generasi yang berbeda dan hidup pada lingkungan yang berbeda.

Makanya, jangan heran kalau muncul kisah2 yang menceritakan anak raja yang terbuang yang dibesarkan oleh rakyat biasa namun pada ujungnya dia mempunyai karakter seorang pemimpin dan pada ending kisahnya dia pun akhirnya jadi seorang pemimpin.

Jadi kesimpulannya adalah karakter seseorang itu sangat kompleks, karena banyak sekali faktor yang mempengaruhinya. Kita hanya bisa menjadi diri kita sesuai yang telah ditakdirkan untuk kita, maka optimalkan apa yang baik dan nrimo dengan apa yang kurang. Kita tidak bisa memaksakan diri untuk menjadi orang lain atau memaksa orang lain untuk menjadi kita karena setiap orang memiliki banyak faktor yang berbeda2 dalam  mempengaruhi karakternya masing2.

(Gantira,  24 November 2019, Bogor)

Saturday, 27 July 2019

"Mencintaimu"
.
Makin lama aku makin mencintaimu
.
Semakin kupandang wajahmu semakin dalam cintaku padamu
.
Saat dirimu pergi untuk menengok ibumu
.
Satu hari bagaikan satu tahun bagiku
.
Setiap malam aku selalu bermimpi bertemu denganmu
.
Saat kupeluk dirimu terasa ada yang kurang, ternyata itu hanya mimpi hingga membuatku semakin rindu padamu
.
Aku termenung dan aku semakin heran kenapa makin hari berlalu dirimu semakin cantik di mataku
.
Padahal usia kita makin hari makin bertambah tua
.
Padahal anak-anak kita makin hari makin bertambah dewasa
.
Aku bertanya pada diriku
.
Apakah kecantikanmu karena dirimu memang semakin cantik
.
Ataukah karena aku berusaha tidak melihat wanita lain yang agamaku melarang untuk melihatnya
.
Sebagaimana sabda Nabiku:
”Memandang wanita adalah panah beracun dari berbagai macam panah iblis. Barangsiapa yang meninggalkannya karena takut kepada Allah, maka Allah akan memberi balasan iman kepadanya yang terasa manis baginya” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak no. 7875).
.
Ataukah karena sebab kedua-duanya
.
Namun apapun sebabnya, yang jelas aku sangat rindu padamu dan semakin dalam cintaku padamu.
.
Semoga cintaku padamu tetap terjaga sampai di kehidupan abadi nanti, Aamiin..aamiin..aamiin ya rabbal alamiiin
.
(Gantira, 28 Juli 2019, Bogor)

Wednesday, 30 August 2017

"Mendidik Anak dengan Ilmu bukan dengan Hawa Nafsu"

Anak adalah salah satu anugerah sekaligus ujian bagi orang tuanya.

Karena posisi anak ini  berada pada dua sisi yang berbeda, dimana dia bisa membuat kita dalam situasi  tertekan (ujian) dan di sisi lain bisa juga membuat kita dalam situasi bahagia (anugrah), untuk itu sering timbul pertanyaan dari para orang tua, "Bagaimana cara mendidik anak?"

Ada istilah umum yang diketahui dan dipercayai sebagai sistem pendidikan yang menurut  kebanyakan dinilai bagus, yaitu "Didiklah anak-anak dengan cinta, bukan dengan Hawa nafsu".

Padahal kata cinta ini pun mengandung makna ganda tergantung dari sumber dan sudut pandang yang diambil.

Bisa jadi membiarkan atau melarang anak melakukan sesuatu yang menurut kita sebagai cinta, namun kalau diamati dari segi ilmu sebenarnya termasuk hawa nafsu yang artinya tidak mendidik. Atau sebaliknya bisa jadi tindakan di atas dianggap sebagai pelampiasan hawa nafsu, padahal kalau berdasarkan ilmu, hal itu termasuk tindakan yang benar.

Jadi istilah yang lebih tepat adalah "Didiklah anak-anak dengan ilmu, bukan dengan hawa nafsu".

Pertanyaan selanjutnya, ilmu apakah yang benar? Maka jawabannya adalah ilmu yang referensinya dengan mencontoh manusia terbaik dimuka bumi ini, yaitu Rasulullah yang tidak lepas dari firman-Nya; selanjutnya adalah mencontoh umat terbaik, yaitu generasi para sahabat,  generasi Tabiin serta generasi Tabiit tabiin.

Beberapa pondasi ilmu yang terkait dengan pendidikan anak ini beberapa diantaranya:

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia.” (Qs. Al-Kahfi: 46)

Dalil di atas menyebutkan bahwa posisi anak itu bagaikan harta, yaitu sebagai perhiasan dunia.

Apa yang akan kita lakukan pada harta kita yang sangat berharga? Maka begitu juga yang harus kita lakukan pada anak-anak kita.

Kita akan berusaha menjaga harta berharga yang kita miliki agar jangan sampai dicuri  atau dirusak orang lain; begitu juga dengan anak kita, kita mesti menjaganya jangan sampai salah pergaulan sehingga merusak akhlak mereka.

Kita akan menshadaqahkan harta kita agar mendapat tabungan di akhirat kelak; begitu juga dengan anak-anak kita, seharusnya kita mengarahkan mereka agar mereka bisa menjadi ladang amal kita di akhirat kelak.


Rasulullah saw bersabda,“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian bertanggung jawab atas orang yang dipimpinnya. Seorang ‘Amir (penguasa) adalah pemimpin, seorang suami pun pemimpin atas keluarganya, dan istri juga pemimpin bagi rumah suaminya dan anak-anaknya. Setiap kalian adalah pemimpin dan kamu sekalian akan diminta pertanggung jawaban atas apa yang dipimpinnya.”
(Hr. Muslim)

Dari hadist di atas dijelaskan bahwa orang tua adalah pemimpin bagi anak2nya.

Banyak sekali tindakan yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin terhadap anggotanya agar kelompoknya selamat dan sejahtera, maka begitu juga yang harus dilakukan orang tua pada anak-anaknya agar terbentuk keluarga yang bahagia sesuai aturan yang telah ditetapkan-Nya.

Jadi sudah tidak pada tempatnya jika seorang anak mengatur orang tua, karena hal ini bagaikan anggota yang mengatur pemimpinnya. Bila hal ini yang terjadi maka kelompok yang ada akan menjadi kacau dan tidak beraturan. Yang masih diperkenankan itu adalah seorang anggota memberikan masukan pada pemimpinnya, namun keputusan akhir tetap berada di tangan seorang pemimpin.

Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya sebaik-baik yang dimakan oleh seseorang adalah makanan yang dihasilkan dari usahanya sendiri. Dan sesungguhnya anak itu termasuk dari usahanya.”
(Hadits shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud & An-Nasa’i)

Dari hadist di atas dijelaskan bahwa anak adalah salah satu hasil usaha orang tuanya, sehinga orang tua harus mendidik anak dengan sebaik-baiknya sehingga hasilnya dapat kita petik buat bekal di akhirat kelak.

Pertanyaan selanjutnya adalah "Bagaimana cara mendidik Rasulullah, para sahabat, para Tabiin serta para Tabiit Tabiin terhadap anak?"

Ada dua point utama yang dilakukan oleh mereka dalam mendidik anak, yaitu:

1. Memberikan pondasi aqidah yang kuat

Satu hal yang pertama kali dilakukan oleh mereka terhadap anak adalah memberikan pondasi yang kuat, yaitu berupa kekuatan aqidah yang kokoh.


Sebagaimana nasihat Rasulullah saw   kepada  ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu’anh.

Rasulullah saw bersabda,
"Wahai anakku, sesungguhnya aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat. Jagalah (hak-hak) Allah, niscaya Allah akan menjagamu, jagalah (hak-hak) Allah, niscaya engkau mendapati-Nya di hadapanmu. Apabila engkau meminta, maka mintalah kepada Allah, dan apabila engkau memohon pertolongan maka mohonlah kepada Allah. Dan ketahuilah, sekiranya ummat ini bersatu untuk memberimu manfaat maka manfaat tersebut tidak akan sampai kepadamu kecuali apa yang telah ditetapkan Allah atasmu. Dan apabila ummat ini bersatu untuk mencelakakanmu maka sedikit pun mereka tidak akan mampu melakukannya kecuali apa yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena (takdir) telah terangkat dan lembaran (takdir) telah mengering.

Dan ketahuilah, sesungguhnya bersabar atas apa-apa yang tidak engkau sukai itu memiliki kebaikan yang amat banyak. Dan sesungguhnya pertolongan itu (ada) bersama kesabaran. Dan sesungguhnya kelapangan itu (datang) bersama kesulitan, dan sesungguhnya kesulitan itu bersama kemudahan.”

Begitulah salah satu didikan Rasulullah dalam menanamkan aqidah yang kokoh kepada Abdullah bin Abbas, yang saat itu masih kecil.

Penanaman aqidah sangat penting diberikan  pada anak2, karena dengan modal aqidah yang kokoh dan benar, maka akan membuat hidup seseorang bahagia dunia dan akhirat.

Dengan pendidikan Rasulullah kepada Abdullah bin Abbas ini, akhirnya sejarah mencatat Abdullah bin Abbas sebagai salah seorang sahabat yang dikenal akan ketakwaan dan keilmuannya sehingga beliau  dijadikan salah satu sumber  rujukan utama dalam menimba ilmu oleh generasi setelahnya.

2. Mendidik mereka agar memiliki akhlak yang mulia

Rasulullah saw bersabda, “Tidak ada sesuatupun yang paling berat dalam timbangan seorang Mukmin pada hari Kiamat nanti daripada akhlak mulia.” (Hr. Tirmidzi)

Jadi tugas utama orang tua dalam mendidik anak-anaknya selain menamakan kekuatan aqidah, juga membentuk mereka agar memiliki akhlak yang mulia.

Akhlak yang mulia ini dapat dibagi dalam beberapa hal, yaitu akhlak kepada Allah, ahlak kepada Rasulullah, akhlak kepada diri sendiri dan orang lain serta akhlak kepada makhluk  hidup lainnya.

Mengajarkan pada anak bagaimana akhlak kepada Allah itu adalah berupa ibadah atau penghambaan  kepada-Nya tanpa disertai perbuatan syirik, mentaati semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya, serta ridha terhadap takdir-Nya yang telah ditetapkan terhadap mereka.

Akhlak yang baik kepada Rasulullah itu adalah berupa meyakini bahwa Rasulullah merupakan Nabi dan Rasul terakhir bagi seluruh manusia, mencintai beliau serta  mentaati apa yang beliau perintahkan dengan mengikuti sunnahnya dan menjauhi apa yang dilarangnya.

Akhlak terhadap diri sendiri dan sesama manusia, adalah seperti bagaimana adab makan dan minum, adab berpakaian, adab bepergian, adab menerima tamu, ada bergaul dengan masyarakat serta adab-adab lainnya yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya.

Akhlak terhadap makhluk lainnya adalah memperlakukan mereka sesuai dengan syari'at yang telah dicontohkan oleh Rasulullah, para sahabat serta generasi terbaik selanjutnya. Contohnya adalah tidak menyakiti dan menyiksa hewan, memperlakukan tumbuhan sesuai dengan kebutuhan kita agar terjadi keberlanjutan untuk kesejahteraan makhluk hidup serta tidak ikut campur atau bergaul dengan kehidupan dunia jin yang memang berbeda alam dengan kita.

Jadi cara mendidik anak yang baik itu adalah mendidik anak dengan ilmu yang pedomannya berdasarkan apa yang dicontohkan Rasulullah serta orang2 bertakwa yang mengikuti beliau, bukan berdasarkan hawa nafsu atau keinginan kita belaka tanpa dasar ilmu.

Semoga kita dianugrahi anak-anak yang bertakwa yang memiliki aqidah yang kuat serta akhlak yang mulia, aamiin..aamiin..aamiin ya robbal alamin..

(Gantira, 31 Agustus 2017, Bogor)