Pada abad generasi milenial ini ada dua bidang teknologi utama yang dikembangkan, yaitu pengembangan big data dan Artificial Intelligence (kecerdasan buatan).
Pengembangan big data adalah pengumpulan data sebanyak2nya terkait data setiap orang, baik mengenai kesukaannya, tempat tinggal, cita2, aktifitas dan banyak hal terkait dirinya. Sedangkan artificial intelegence atau biasa disingkat dengan AI adalah kecerdasan buatan yang bisa diprogram oleh komputer dalam menganalisa setiap kemungkinan2 yang akan terjadi dalam memudahkan kehidupan penggunanya.
Pengumpulan big data ini dilakukan oleh banyak media sosial saat ini, seperti fb, IG, twitter, serta media2 sosial lainnya. Walaupun semua anggota gratis dalam memanfaatkan media tersebut namun tanpa sadar sebenarnya para owner media sosial ini sedang melakukan pengumpulan big data sebanyak2nya pada semua orang yang bergabung di media sosial mereka.
Dengan adanya big data terkait para anggotanya, para owner media sosial dapat mengelompokkan setiap anggota berdasarkan tempat tinggal, aktifitas, kesukaan, pendidikan, bahkan terkait karakter mereka.
Dengan terkumpulnya big data tersebut, maka para owner media sosial bisa memperkirakan dan membuat produk apa yang cocok dan sesuai untuk di tawarkan pada para anggotanya atau bisa juga para owner ini mempromosikan pada para produsen (tentu tidak gratis) untuk memasarkan produk mereka pada calon konsumen yang tepat, efektif dan efisien.
Sedangkan Sistem artificial intelegence (AI) saat ini banyak digunakan dalam berbagai bidang aktifitas kehidupan, baik itu bidang sains, ekonomi, teknik, administrasi pemerintahan, militer, video game dan aktifitas lainnya yang memudahkan para penggunanya.
Beberapa sistem AI ini banyak digunakan oleh google serta para startup saat ini, seperti Aplikasi Uber, Grab, Gojek, serta startup lainnya. Bahkam sistem AI ini digunakan juga oleh beberapa media sosial, seperti program yang pernah viral dan banyak diminati oleh para anggota fb, yaitu tentang analisa perkiraan wajah masa depan. Dimana sempat muncul foto orang2 saat ini dan perkiraan wajah masa depan.
Untuk ke depannya, pemanfaatan AI ini adalah dalam pembuatan robot yang kemampuannya bisa seperti manusia, yaitu dapat berfikir, dapat menjawab, serta dapat melakukan berbagai aktifitas seperti aktifitas yang selalu dilakukan manusia baik aktifitas rumah tangga, pekerjaan bahkan dalam bidang seni. Sehingga banyak orang yang khawatir akan masa depan, sebagaimana dalam film2 fiksi saat ini dimana suatu saat robot dapat menguasai manusia. Semua pekerjaan manusia akan diambil alih oleh robot.
Saat ini pun pemerintahan mulai melemparkan wacana untuk menghilangkan jabatan Eselon IV dan III yang tugas kesehariannya akan digantikan dengan robot yang menggunakan Sistem AI.
Untuk inisiator akan dimulai dari Bapenas.
Dengan semakin terkumpulnya big data setiap orang dan juga semakin berkembangnya teknologi AI, maka ada beberapa hal positif dan negatif yang mungkin terjadi.
Bebeberapa nilai positifnya, adalah:
1. Memudahkan bagi para konsumen untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan, karena data mereka sudah terkumpul dengan sendirinya tanpa perlu ada wawancara tersendiri
2. Memudahkan untuk para produsen dalam memasarkan produknya, sehingga mereka bisa memasarkan tepat pada sasaran karena semua data calon konsumen sudah terkolektif tanpa perlu melakukan riset ulang yang membutuhkan banyak biaya.
3. Dengan semakin berkembangnya AI, maka lambat laun kita tidak lagi disibukkan pekerjaan yang berbahaya/beresiko dan pekerjaan yang membutuhkan proses pemikiran yang berulang2. Karena aktifitas itu sudah diambil alih oleh robot yang sudah menyerupai kemampuan manusia, bahkan bisa bekerja tanpa lelah serta tidak ada bantahan. Sebagai gantinya, maka kita bisa memanfaatkan waktu luang untuk memperbanyak ibadah atau mengembangkan penelitian selanjutnya untuk peningkatan kualitas AI.
4. Segala sesuatu akan lebih mudah, cepat dan tepat. Sehingga mengurangi try and error yang membutuhkan biaya yang sangat tinggi.
Selain nilai2 positif di atas, ada juga negatif yang mungkin bisa terjadi, yaitu:
1. Memudahkan orang untuk menjadi konsumtif, karena penawaran barang yang mereka harapkan akan berdatangan tanpa diundang. Sehingga bagi orang yang tidak bisa menahan diri akan membeli apa saja yang mereka impikan, yang akhirnya bisa menyebabkan besar pasak daripada tiang, yaitu dia akan membeli apa yang tidak urgen walaupun dana yang ada terbatas. Yang ujung2nya akan memanfaatkan utang pada lembaga2 yang ikut menawarkan juga. Dan bisa berefek dalam kondisi hidup gelisah dikarenakan penagiahn yang terus menerus dari lembaga yang memberi utang.
2. Akan mudahnya terjadi penipuan yang sulit diprediksi, karena para penipu memiliki data yang lengkap tehadap target yang akan ditipu. Sehingga para korban sulit nembedakan mana yang jujur dan mana yang penipu.
3. Walaupun adanya big data ini memudahkan bagi para produsen, namun di sisi lain aktifitas para produsen pun akan terekam sehingga akan memudahkan bermunculannya para pesaing baru yang mungkin bisa lebih canggih dan murah dengan menargetkan calon konsumen yang sama.
4. Dengan semakin berkembangnya AI terutama dalam bidang robot yang menyerupai manusia, maka efek sampingnya adalah akan banyak pekerjaan yang sebelumnya hanya bisa dilakukan oleh manusia diambil alih oleh robot, seperti seniman, dokter, engineer, guru, bank, kepolisian, pertanian dan banyak lagi bidang2 lainnya yang mungkin hasilnya lebih akurat. Hal ini bisa menyebabkan meningkatnya pengangguran.
5. Bila terjadi kejahatan yang diakibatkan oleh robot2 yang memiliki kemampuan manusia, maka akan sulit menentukan pidananya, bila pembuat robotnya sudah meninggal. Akhirnya yang akan terjadi mungkin peperangan antara robot yang bekerja di kepolisian dan robot yang bekerja dalam bidang kejahatan. Sedangkan kalau terjadi kekacauan dan kerusakan material yang dirugikan adalah manusia.
6. Akan semakin meningkat ketakutan dan kekhawatiran di masyarakat karena mereka sulit mencari pekerjaan untuk nafkah hidup mereka karena sudah banyak bidang pekerjaan yang sudah diambil alih robot.
Dalam mengantisipasi ketakutan dan kekhawatiran dari efek negatif semakin berkembangnya big data dan AI, maka solusi terbaik bagi orang yang mengalaminya, yaitu meningkatkan, memahami dan mengamalkan ilmu agama.
Dalam islam diajarkan bahwa kita wajib beribadah dan berikhtiar dalam mencari rizki, namun harus memiliki keyakinan bahwa rizki itu datangnya dari Allah lewat mana saja yang Dia kehendaki. Dengan meyakini keyakinan seperti ini, maka tidak ada lagi rasa khawatir terhadap rizki. Pekerjaan boleh ditukar, usaha boleh ditiru, mata pencaharian boleh direbut, tapi yang namanya rizki tidak akan tertukar, tidak bisa ditiru dan tidak bisa direbut.
(Gantira, 25 November 2019, Bogor)
Saturday, 30 November 2019
"Tiga Faktor Utama Dalam Pembentukan Karakter Manusia"
Ada banyak variabel yang mempengaruhi terbentuknya karakter manusia. Namun dari sekian banyaknya variabel tersebut, ada 3 faktor utama yang mempengaruhinya, yaitu:
1. Lingkungan
Tiap lingkungan ikut mempengaruhi karakter seseorang.
Bila kita kerja di salah satu kementrian, yang pegawainya berasal dari berbagai universitas. Sedikit banyak kita bisa membedakan mana lulusan ipb, AUP, its, ugm, itb, unpad dan perguruan tinggi lainnya. Karena setiap lulusan dari perguruan tinggi tertentu ikut mempengaruhi karakter mereka.
Saat kita ikut rapat di salah satu kementrian yang berbeda, kita pun bisa membedakan mana orang yang dari kementrian A, B, C dan D. Karena ternyata setiap kementrian ikut mempengaruhi karakter pegawainya.
Bila kita berada di luar pemerintahan, kita bisa membedakan mana yang ASN, pegawai swasta, pegawai BUMN atau pengusaha karena sedikit banyak lingkungan tempat dia mencari nafkah ikut serta dalam mempengaruhi salah satu karakternya.
Begitu juga saat kita berada di tempat yang berbeda, kita bisa membedakan mana orang sunda, padang, jawa dan lainnya dengan melihat sikap dan karakter mereka. Bahkan untuk daerah yang lebih kecil, kita bisa membedakan antara karakter kecamatan A, B, dan C yang sama2 satu wilayah kabupaten. Hal ini karena tiap lingkungan pada daerah terkecil ikut memengaruhi karakter seseorang.
2. Generasi kelahiran
Generasi kelahiran sedikit banyak ikut mempengaruhi karakter seseorang.
Bila kita melihat grup2 yang terbentuk di fb, kita akan melihat ada grup yang mengkhususkan diri pada grup angkatan tanpa membedakan asal sekolah. Padahal setiap lingkungan sekolahan memiliki karakter yang berbeda2 dalam mempengaruhi murid2nya.
Terbentuknya grup fb angkatan/satu generasi yang sama terjadi karena pada generasi itu ada suatu musim yang sama, baik itu musim lagu, film, permainan atau telnologi yang sama2 disukai pada jamannya.
Sehingga pada sesuatu yang sama itulah mereka bisa berkomunikasi dan sedikit banyak ikut mempengaruhi karakter pada generasinya.
3. Keturunan
Ternyata keturunan pun ikut mempengaruhi karakter seseorang walaupun mereka terlahir di generasi yang berbeda dan hidup pada lingkungan yang berbeda.
Makanya, jangan heran kalau muncul kisah2 yang menceritakan anak raja yang terbuang yang dibesarkan oleh rakyat biasa namun pada ujungnya dia mempunyai karakter seorang pemimpin dan pada ending kisahnya dia pun akhirnya jadi seorang pemimpin.
Jadi kesimpulannya adalah karakter seseorang itu sangat kompleks, karena banyak sekali faktor yang mempengaruhinya. Kita hanya bisa menjadi diri kita sesuai yang telah ditakdirkan untuk kita, maka optimalkan apa yang baik dan nrimo dengan apa yang kurang. Kita tidak bisa memaksakan diri untuk menjadi orang lain atau memaksa orang lain untuk menjadi kita karena setiap orang memiliki banyak faktor yang berbeda2 dalam mempengaruhi karakternya masing2.
(Gantira, 24 November 2019, Bogor)
1. Lingkungan
Tiap lingkungan ikut mempengaruhi karakter seseorang.
Bila kita kerja di salah satu kementrian, yang pegawainya berasal dari berbagai universitas. Sedikit banyak kita bisa membedakan mana lulusan ipb, AUP, its, ugm, itb, unpad dan perguruan tinggi lainnya. Karena setiap lulusan dari perguruan tinggi tertentu ikut mempengaruhi karakter mereka.
Saat kita ikut rapat di salah satu kementrian yang berbeda, kita pun bisa membedakan mana orang yang dari kementrian A, B, C dan D. Karena ternyata setiap kementrian ikut mempengaruhi karakter pegawainya.
Bila kita berada di luar pemerintahan, kita bisa membedakan mana yang ASN, pegawai swasta, pegawai BUMN atau pengusaha karena sedikit banyak lingkungan tempat dia mencari nafkah ikut serta dalam mempengaruhi salah satu karakternya.
Begitu juga saat kita berada di tempat yang berbeda, kita bisa membedakan mana orang sunda, padang, jawa dan lainnya dengan melihat sikap dan karakter mereka. Bahkan untuk daerah yang lebih kecil, kita bisa membedakan antara karakter kecamatan A, B, dan C yang sama2 satu wilayah kabupaten. Hal ini karena tiap lingkungan pada daerah terkecil ikut memengaruhi karakter seseorang.
2. Generasi kelahiran
Generasi kelahiran sedikit banyak ikut mempengaruhi karakter seseorang.
Bila kita melihat grup2 yang terbentuk di fb, kita akan melihat ada grup yang mengkhususkan diri pada grup angkatan tanpa membedakan asal sekolah. Padahal setiap lingkungan sekolahan memiliki karakter yang berbeda2 dalam mempengaruhi murid2nya.
Terbentuknya grup fb angkatan/satu generasi yang sama terjadi karena pada generasi itu ada suatu musim yang sama, baik itu musim lagu, film, permainan atau telnologi yang sama2 disukai pada jamannya.
Sehingga pada sesuatu yang sama itulah mereka bisa berkomunikasi dan sedikit banyak ikut mempengaruhi karakter pada generasinya.
3. Keturunan
Ternyata keturunan pun ikut mempengaruhi karakter seseorang walaupun mereka terlahir di generasi yang berbeda dan hidup pada lingkungan yang berbeda.
Makanya, jangan heran kalau muncul kisah2 yang menceritakan anak raja yang terbuang yang dibesarkan oleh rakyat biasa namun pada ujungnya dia mempunyai karakter seorang pemimpin dan pada ending kisahnya dia pun akhirnya jadi seorang pemimpin.
Jadi kesimpulannya adalah karakter seseorang itu sangat kompleks, karena banyak sekali faktor yang mempengaruhinya. Kita hanya bisa menjadi diri kita sesuai yang telah ditakdirkan untuk kita, maka optimalkan apa yang baik dan nrimo dengan apa yang kurang. Kita tidak bisa memaksakan diri untuk menjadi orang lain atau memaksa orang lain untuk menjadi kita karena setiap orang memiliki banyak faktor yang berbeda2 dalam mempengaruhi karakternya masing2.
(Gantira, 24 November 2019, Bogor)
Saturday, 27 July 2019
"Mencintaimu"
.
Makin lama aku makin mencintaimu
.
Semakin kupandang wajahmu semakin dalam cintaku padamu
.
Saat dirimu pergi untuk menengok ibumu
.
Satu hari bagaikan satu tahun bagiku
.
Setiap malam aku selalu bermimpi bertemu denganmu
.
Saat kupeluk dirimu terasa ada yang kurang, ternyata itu hanya mimpi hingga membuatku semakin rindu padamu
.
Aku termenung dan aku semakin heran kenapa makin hari berlalu dirimu semakin cantik di mataku
.
Padahal usia kita makin hari makin bertambah tua
.
Padahal anak-anak kita makin hari makin bertambah dewasa
.
Aku bertanya pada diriku
.
Apakah kecantikanmu karena dirimu memang semakin cantik
.
Ataukah karena aku berusaha tidak melihat wanita lain yang agamaku melarang untuk melihatnya
.
Sebagaimana sabda Nabiku:
”Memandang wanita adalah panah beracun dari berbagai macam panah iblis. Barangsiapa yang meninggalkannya karena takut kepada Allah, maka Allah akan memberi balasan iman kepadanya yang terasa manis baginya” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak no. 7875).
.
Ataukah karena sebab kedua-duanya
.
Namun apapun sebabnya, yang jelas aku sangat rindu padamu dan semakin dalam cintaku padamu.
.
Semoga cintaku padamu tetap terjaga sampai di kehidupan abadi nanti, Aamiin..aamiin..aamiin ya rabbal alamiiin
.
(Gantira, 28 Juli 2019, Bogor)
.
Makin lama aku makin mencintaimu
.
Semakin kupandang wajahmu semakin dalam cintaku padamu
.
Saat dirimu pergi untuk menengok ibumu
.
Satu hari bagaikan satu tahun bagiku
.
Setiap malam aku selalu bermimpi bertemu denganmu
.
Saat kupeluk dirimu terasa ada yang kurang, ternyata itu hanya mimpi hingga membuatku semakin rindu padamu
.
Aku termenung dan aku semakin heran kenapa makin hari berlalu dirimu semakin cantik di mataku
.
Padahal usia kita makin hari makin bertambah tua
.
Padahal anak-anak kita makin hari makin bertambah dewasa
.
Aku bertanya pada diriku
.
Apakah kecantikanmu karena dirimu memang semakin cantik
.
Ataukah karena aku berusaha tidak melihat wanita lain yang agamaku melarang untuk melihatnya
.
Sebagaimana sabda Nabiku:
”Memandang wanita adalah panah beracun dari berbagai macam panah iblis. Barangsiapa yang meninggalkannya karena takut kepada Allah, maka Allah akan memberi balasan iman kepadanya yang terasa manis baginya” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak no. 7875).
.
Ataukah karena sebab kedua-duanya
.
Namun apapun sebabnya, yang jelas aku sangat rindu padamu dan semakin dalam cintaku padamu.
.
Semoga cintaku padamu tetap terjaga sampai di kehidupan abadi nanti, Aamiin..aamiin..aamiin ya rabbal alamiiin
.
(Gantira, 28 Juli 2019, Bogor)
Wednesday, 30 August 2017
"Mendidik Anak dengan Ilmu bukan dengan Hawa Nafsu"
Anak adalah salah satu anugerah sekaligus ujian bagi orang tuanya.
Karena posisi anak ini berada pada dua sisi yang berbeda, dimana dia bisa membuat kita dalam situasi tertekan (ujian) dan di sisi lain bisa juga membuat kita dalam situasi bahagia (anugrah), untuk itu sering timbul pertanyaan dari para orang tua, "Bagaimana cara mendidik anak?"
Ada istilah umum yang diketahui dan dipercayai sebagai sistem pendidikan yang menurut kebanyakan dinilai bagus, yaitu "Didiklah anak-anak dengan cinta, bukan dengan Hawa nafsu".
Padahal kata cinta ini pun mengandung makna ganda tergantung dari sumber dan sudut pandang yang diambil.
Bisa jadi membiarkan atau melarang anak melakukan sesuatu yang menurut kita sebagai cinta, namun kalau diamati dari segi ilmu sebenarnya termasuk hawa nafsu yang artinya tidak mendidik. Atau sebaliknya bisa jadi tindakan di atas dianggap sebagai pelampiasan hawa nafsu, padahal kalau berdasarkan ilmu, hal itu termasuk tindakan yang benar.
Jadi istilah yang lebih tepat adalah "Didiklah anak-anak dengan ilmu, bukan dengan hawa nafsu".
Pertanyaan selanjutnya, ilmu apakah yang benar? Maka jawabannya adalah ilmu yang referensinya dengan mencontoh manusia terbaik dimuka bumi ini, yaitu Rasulullah yang tidak lepas dari firman-Nya; selanjutnya adalah mencontoh umat terbaik, yaitu generasi para sahabat, generasi Tabiin serta generasi Tabiit tabiin.
Beberapa pondasi ilmu yang terkait dengan pendidikan anak ini beberapa diantaranya:
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia.” (Qs. Al-Kahfi: 46)
Dalil di atas menyebutkan bahwa posisi anak itu bagaikan harta, yaitu sebagai perhiasan dunia.
Apa yang akan kita lakukan pada harta kita yang sangat berharga? Maka begitu juga yang harus kita lakukan pada anak-anak kita.
Kita akan berusaha menjaga harta berharga yang kita miliki agar jangan sampai dicuri atau dirusak orang lain; begitu juga dengan anak kita, kita mesti menjaganya jangan sampai salah pergaulan sehingga merusak akhlak mereka.
Kita akan menshadaqahkan harta kita agar mendapat tabungan di akhirat kelak; begitu juga dengan anak-anak kita, seharusnya kita mengarahkan mereka agar mereka bisa menjadi ladang amal kita di akhirat kelak.
Rasulullah saw bersabda,“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian bertanggung jawab atas orang yang dipimpinnya. Seorang ‘Amir (penguasa) adalah pemimpin, seorang suami pun pemimpin atas keluarganya, dan istri juga pemimpin bagi rumah suaminya dan anak-anaknya. Setiap kalian adalah pemimpin dan kamu sekalian akan diminta pertanggung jawaban atas apa yang dipimpinnya.”
(Hr. Muslim)
Dari hadist di atas dijelaskan bahwa orang tua adalah pemimpin bagi anak2nya.
Banyak sekali tindakan yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin terhadap anggotanya agar kelompoknya selamat dan sejahtera, maka begitu juga yang harus dilakukan orang tua pada anak-anaknya agar terbentuk keluarga yang bahagia sesuai aturan yang telah ditetapkan-Nya.
Jadi sudah tidak pada tempatnya jika seorang anak mengatur orang tua, karena hal ini bagaikan anggota yang mengatur pemimpinnya. Bila hal ini yang terjadi maka kelompok yang ada akan menjadi kacau dan tidak beraturan. Yang masih diperkenankan itu adalah seorang anggota memberikan masukan pada pemimpinnya, namun keputusan akhir tetap berada di tangan seorang pemimpin.
Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya sebaik-baik yang dimakan oleh seseorang adalah makanan yang dihasilkan dari usahanya sendiri. Dan sesungguhnya anak itu termasuk dari usahanya.”
(Hadits shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud & An-Nasa’i)
Dari hadist di atas dijelaskan bahwa anak adalah salah satu hasil usaha orang tuanya, sehinga orang tua harus mendidik anak dengan sebaik-baiknya sehingga hasilnya dapat kita petik buat bekal di akhirat kelak.
Pertanyaan selanjutnya adalah "Bagaimana cara mendidik Rasulullah, para sahabat, para Tabiin serta para Tabiit Tabiin terhadap anak?"
Ada dua point utama yang dilakukan oleh mereka dalam mendidik anak, yaitu:
1. Memberikan pondasi aqidah yang kuat
Satu hal yang pertama kali dilakukan oleh mereka terhadap anak adalah memberikan pondasi yang kuat, yaitu berupa kekuatan aqidah yang kokoh.
Sebagaimana nasihat Rasulullah saw kepada ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu’anh.
Rasulullah saw bersabda,
"Wahai anakku, sesungguhnya aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat. Jagalah (hak-hak) Allah, niscaya Allah akan menjagamu, jagalah (hak-hak) Allah, niscaya engkau mendapati-Nya di hadapanmu. Apabila engkau meminta, maka mintalah kepada Allah, dan apabila engkau memohon pertolongan maka mohonlah kepada Allah. Dan ketahuilah, sekiranya ummat ini bersatu untuk memberimu manfaat maka manfaat tersebut tidak akan sampai kepadamu kecuali apa yang telah ditetapkan Allah atasmu. Dan apabila ummat ini bersatu untuk mencelakakanmu maka sedikit pun mereka tidak akan mampu melakukannya kecuali apa yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena (takdir) telah terangkat dan lembaran (takdir) telah mengering.
Dan ketahuilah, sesungguhnya bersabar atas apa-apa yang tidak engkau sukai itu memiliki kebaikan yang amat banyak. Dan sesungguhnya pertolongan itu (ada) bersama kesabaran. Dan sesungguhnya kelapangan itu (datang) bersama kesulitan, dan sesungguhnya kesulitan itu bersama kemudahan.”
Begitulah salah satu didikan Rasulullah dalam menanamkan aqidah yang kokoh kepada Abdullah bin Abbas, yang saat itu masih kecil.
Penanaman aqidah sangat penting diberikan pada anak2, karena dengan modal aqidah yang kokoh dan benar, maka akan membuat hidup seseorang bahagia dunia dan akhirat.
Dengan pendidikan Rasulullah kepada Abdullah bin Abbas ini, akhirnya sejarah mencatat Abdullah bin Abbas sebagai salah seorang sahabat yang dikenal akan ketakwaan dan keilmuannya sehingga beliau dijadikan salah satu sumber rujukan utama dalam menimba ilmu oleh generasi setelahnya.
2. Mendidik mereka agar memiliki akhlak yang mulia
Rasulullah saw bersabda, “Tidak ada sesuatupun yang paling berat dalam timbangan seorang Mukmin pada hari Kiamat nanti daripada akhlak mulia.” (Hr. Tirmidzi)
Jadi tugas utama orang tua dalam mendidik anak-anaknya selain menamakan kekuatan aqidah, juga membentuk mereka agar memiliki akhlak yang mulia.
Akhlak yang mulia ini dapat dibagi dalam beberapa hal, yaitu akhlak kepada Allah, ahlak kepada Rasulullah, akhlak kepada diri sendiri dan orang lain serta akhlak kepada makhluk hidup lainnya.
Mengajarkan pada anak bagaimana akhlak kepada Allah itu adalah berupa ibadah atau penghambaan kepada-Nya tanpa disertai perbuatan syirik, mentaati semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya, serta ridha terhadap takdir-Nya yang telah ditetapkan terhadap mereka.
Akhlak yang baik kepada Rasulullah itu adalah berupa meyakini bahwa Rasulullah merupakan Nabi dan Rasul terakhir bagi seluruh manusia, mencintai beliau serta mentaati apa yang beliau perintahkan dengan mengikuti sunnahnya dan menjauhi apa yang dilarangnya.
Akhlak terhadap diri sendiri dan sesama manusia, adalah seperti bagaimana adab makan dan minum, adab berpakaian, adab bepergian, adab menerima tamu, ada bergaul dengan masyarakat serta adab-adab lainnya yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya.
Akhlak terhadap makhluk lainnya adalah memperlakukan mereka sesuai dengan syari'at yang telah dicontohkan oleh Rasulullah, para sahabat serta generasi terbaik selanjutnya. Contohnya adalah tidak menyakiti dan menyiksa hewan, memperlakukan tumbuhan sesuai dengan kebutuhan kita agar terjadi keberlanjutan untuk kesejahteraan makhluk hidup serta tidak ikut campur atau bergaul dengan kehidupan dunia jin yang memang berbeda alam dengan kita.
Jadi cara mendidik anak yang baik itu adalah mendidik anak dengan ilmu yang pedomannya berdasarkan apa yang dicontohkan Rasulullah serta orang2 bertakwa yang mengikuti beliau, bukan berdasarkan hawa nafsu atau keinginan kita belaka tanpa dasar ilmu.
Semoga kita dianugrahi anak-anak yang bertakwa yang memiliki aqidah yang kuat serta akhlak yang mulia, aamiin..aamiin..aamiin ya robbal alamin..
(Gantira, 31 Agustus 2017, Bogor)
Karena posisi anak ini berada pada dua sisi yang berbeda, dimana dia bisa membuat kita dalam situasi tertekan (ujian) dan di sisi lain bisa juga membuat kita dalam situasi bahagia (anugrah), untuk itu sering timbul pertanyaan dari para orang tua, "Bagaimana cara mendidik anak?"
Ada istilah umum yang diketahui dan dipercayai sebagai sistem pendidikan yang menurut kebanyakan dinilai bagus, yaitu "Didiklah anak-anak dengan cinta, bukan dengan Hawa nafsu".
Padahal kata cinta ini pun mengandung makna ganda tergantung dari sumber dan sudut pandang yang diambil.
Bisa jadi membiarkan atau melarang anak melakukan sesuatu yang menurut kita sebagai cinta, namun kalau diamati dari segi ilmu sebenarnya termasuk hawa nafsu yang artinya tidak mendidik. Atau sebaliknya bisa jadi tindakan di atas dianggap sebagai pelampiasan hawa nafsu, padahal kalau berdasarkan ilmu, hal itu termasuk tindakan yang benar.
Jadi istilah yang lebih tepat adalah "Didiklah anak-anak dengan ilmu, bukan dengan hawa nafsu".
Pertanyaan selanjutnya, ilmu apakah yang benar? Maka jawabannya adalah ilmu yang referensinya dengan mencontoh manusia terbaik dimuka bumi ini, yaitu Rasulullah yang tidak lepas dari firman-Nya; selanjutnya adalah mencontoh umat terbaik, yaitu generasi para sahabat, generasi Tabiin serta generasi Tabiit tabiin.
Beberapa pondasi ilmu yang terkait dengan pendidikan anak ini beberapa diantaranya:
“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia.” (Qs. Al-Kahfi: 46)
Dalil di atas menyebutkan bahwa posisi anak itu bagaikan harta, yaitu sebagai perhiasan dunia.
Apa yang akan kita lakukan pada harta kita yang sangat berharga? Maka begitu juga yang harus kita lakukan pada anak-anak kita.
Kita akan berusaha menjaga harta berharga yang kita miliki agar jangan sampai dicuri atau dirusak orang lain; begitu juga dengan anak kita, kita mesti menjaganya jangan sampai salah pergaulan sehingga merusak akhlak mereka.
Kita akan menshadaqahkan harta kita agar mendapat tabungan di akhirat kelak; begitu juga dengan anak-anak kita, seharusnya kita mengarahkan mereka agar mereka bisa menjadi ladang amal kita di akhirat kelak.
Rasulullah saw bersabda,“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian bertanggung jawab atas orang yang dipimpinnya. Seorang ‘Amir (penguasa) adalah pemimpin, seorang suami pun pemimpin atas keluarganya, dan istri juga pemimpin bagi rumah suaminya dan anak-anaknya. Setiap kalian adalah pemimpin dan kamu sekalian akan diminta pertanggung jawaban atas apa yang dipimpinnya.”
(Hr. Muslim)
Dari hadist di atas dijelaskan bahwa orang tua adalah pemimpin bagi anak2nya.
Banyak sekali tindakan yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin terhadap anggotanya agar kelompoknya selamat dan sejahtera, maka begitu juga yang harus dilakukan orang tua pada anak-anaknya agar terbentuk keluarga yang bahagia sesuai aturan yang telah ditetapkan-Nya.
Jadi sudah tidak pada tempatnya jika seorang anak mengatur orang tua, karena hal ini bagaikan anggota yang mengatur pemimpinnya. Bila hal ini yang terjadi maka kelompok yang ada akan menjadi kacau dan tidak beraturan. Yang masih diperkenankan itu adalah seorang anggota memberikan masukan pada pemimpinnya, namun keputusan akhir tetap berada di tangan seorang pemimpin.
Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya sebaik-baik yang dimakan oleh seseorang adalah makanan yang dihasilkan dari usahanya sendiri. Dan sesungguhnya anak itu termasuk dari usahanya.”
(Hadits shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud & An-Nasa’i)
Dari hadist di atas dijelaskan bahwa anak adalah salah satu hasil usaha orang tuanya, sehinga orang tua harus mendidik anak dengan sebaik-baiknya sehingga hasilnya dapat kita petik buat bekal di akhirat kelak.
Pertanyaan selanjutnya adalah "Bagaimana cara mendidik Rasulullah, para sahabat, para Tabiin serta para Tabiit Tabiin terhadap anak?"
Ada dua point utama yang dilakukan oleh mereka dalam mendidik anak, yaitu:
1. Memberikan pondasi aqidah yang kuat
Satu hal yang pertama kali dilakukan oleh mereka terhadap anak adalah memberikan pondasi yang kuat, yaitu berupa kekuatan aqidah yang kokoh.
Sebagaimana nasihat Rasulullah saw kepada ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu’anh.
Rasulullah saw bersabda,
"Wahai anakku, sesungguhnya aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat. Jagalah (hak-hak) Allah, niscaya Allah akan menjagamu, jagalah (hak-hak) Allah, niscaya engkau mendapati-Nya di hadapanmu. Apabila engkau meminta, maka mintalah kepada Allah, dan apabila engkau memohon pertolongan maka mohonlah kepada Allah. Dan ketahuilah, sekiranya ummat ini bersatu untuk memberimu manfaat maka manfaat tersebut tidak akan sampai kepadamu kecuali apa yang telah ditetapkan Allah atasmu. Dan apabila ummat ini bersatu untuk mencelakakanmu maka sedikit pun mereka tidak akan mampu melakukannya kecuali apa yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena (takdir) telah terangkat dan lembaran (takdir) telah mengering.
Dan ketahuilah, sesungguhnya bersabar atas apa-apa yang tidak engkau sukai itu memiliki kebaikan yang amat banyak. Dan sesungguhnya pertolongan itu (ada) bersama kesabaran. Dan sesungguhnya kelapangan itu (datang) bersama kesulitan, dan sesungguhnya kesulitan itu bersama kemudahan.”
Begitulah salah satu didikan Rasulullah dalam menanamkan aqidah yang kokoh kepada Abdullah bin Abbas, yang saat itu masih kecil.
Penanaman aqidah sangat penting diberikan pada anak2, karena dengan modal aqidah yang kokoh dan benar, maka akan membuat hidup seseorang bahagia dunia dan akhirat.
Dengan pendidikan Rasulullah kepada Abdullah bin Abbas ini, akhirnya sejarah mencatat Abdullah bin Abbas sebagai salah seorang sahabat yang dikenal akan ketakwaan dan keilmuannya sehingga beliau dijadikan salah satu sumber rujukan utama dalam menimba ilmu oleh generasi setelahnya.
2. Mendidik mereka agar memiliki akhlak yang mulia
Rasulullah saw bersabda, “Tidak ada sesuatupun yang paling berat dalam timbangan seorang Mukmin pada hari Kiamat nanti daripada akhlak mulia.” (Hr. Tirmidzi)
Jadi tugas utama orang tua dalam mendidik anak-anaknya selain menamakan kekuatan aqidah, juga membentuk mereka agar memiliki akhlak yang mulia.
Akhlak yang mulia ini dapat dibagi dalam beberapa hal, yaitu akhlak kepada Allah, ahlak kepada Rasulullah, akhlak kepada diri sendiri dan orang lain serta akhlak kepada makhluk hidup lainnya.
Mengajarkan pada anak bagaimana akhlak kepada Allah itu adalah berupa ibadah atau penghambaan kepada-Nya tanpa disertai perbuatan syirik, mentaati semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya, serta ridha terhadap takdir-Nya yang telah ditetapkan terhadap mereka.
Akhlak yang baik kepada Rasulullah itu adalah berupa meyakini bahwa Rasulullah merupakan Nabi dan Rasul terakhir bagi seluruh manusia, mencintai beliau serta mentaati apa yang beliau perintahkan dengan mengikuti sunnahnya dan menjauhi apa yang dilarangnya.
Akhlak terhadap diri sendiri dan sesama manusia, adalah seperti bagaimana adab makan dan minum, adab berpakaian, adab bepergian, adab menerima tamu, ada bergaul dengan masyarakat serta adab-adab lainnya yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya.
Akhlak terhadap makhluk lainnya adalah memperlakukan mereka sesuai dengan syari'at yang telah dicontohkan oleh Rasulullah, para sahabat serta generasi terbaik selanjutnya. Contohnya adalah tidak menyakiti dan menyiksa hewan, memperlakukan tumbuhan sesuai dengan kebutuhan kita agar terjadi keberlanjutan untuk kesejahteraan makhluk hidup serta tidak ikut campur atau bergaul dengan kehidupan dunia jin yang memang berbeda alam dengan kita.
Jadi cara mendidik anak yang baik itu adalah mendidik anak dengan ilmu yang pedomannya berdasarkan apa yang dicontohkan Rasulullah serta orang2 bertakwa yang mengikuti beliau, bukan berdasarkan hawa nafsu atau keinginan kita belaka tanpa dasar ilmu.
Semoga kita dianugrahi anak-anak yang bertakwa yang memiliki aqidah yang kuat serta akhlak yang mulia, aamiin..aamiin..aamiin ya robbal alamin..
(Gantira, 31 Agustus 2017, Bogor)
Saturday, 19 August 2017
"Apakah Makna Kemerdekaan dalam Kehidupan Kita?"
Secara umum arti merdeka adalah bebas, yaitu bebas dari ketakutan, bebas dari tekanan, bebas dari kekhawatiran, bebas dari masalah, bebas dari kekurangan, bebas dari hutang, bebas dari kegelisahan akan masa depan yang tidak jelas, bebas dari penindasan, bebas dari kehinaan, bebas dari kebingungan serta bebas2 lainnya yang bisa membuat hati kita sesak baik dari segi ekonomi, kesehatan, maupun hal lainnya.
Oleh karena itu, para pejuang kemerdekaan negeri kita memiliki salah satu semboyan "merdeka atau mati?" Karena pada dasarnya sangat menderita dan menyesakkan dada jika kita belum merdeka.
Orang yang tidak beriman atau orang yang berputus asa dari rahmat Allah lebih memilih bunuh diri untuk membebaskan diri dari penderitaan, penindasan, kegelisahan dan ketakutan yang dialaminya hanya untuk memperoleh impian kemerdekaan jiwanya. Akan tetapi, dia akan benar2 terkejut jika setelah mati ternyata penderitaan yang dihadapinya jauh lebih hebat daripada yang dialami saat di dunia dan hilanglah harapan kemerdekaan yang diidam2kannya itu.
Jadi bagaimana cara agar kita bisa memperoleh kemerdekaan yang hakiki ini?
Satu2nya cara untuk mendapatkan kemerdekaan adalah dengan cara berusaha untuk mendapatkan predikat taqwa.
Karena dengan taqwa kita akan bebas dari ketakutan yang disebabkan oleh makhluk, kita akan bebas dari rasa kegelisahan masa yang akan datang, kita akan mendapatkan rizki yang tak terduga2, kita bisa mendapatkan jalan keluar dari setiap kesulitan yang ada, kita akan merasa tercukupi atas setiap kebutuhan kita, serta yang paling penting dengan takwa setelah meninggalkan dunia ini kita bisa memperoleh kebahagiaan yang abadi.
Beberapa dalil terkait cara memperoleh kemerdekaan dengan takwa ini adalah
1. Surat At-Taubah [9] ayat 4
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaqwa”
Dengan bertaqwa kita akan memperoleh cinta-Nya. Barangsiapa yang memperoleh cinta-Nya maka setiap kebutuhannya akan dipenuhi, bahkan Allah akan memberikan segala apapun yang bermanfaat di dunia ini dan di akhirat kelak buat hamba yang dicintai-Nya, tanpa terbayangkan sebelumnya oleh hamba tersebut. Sehingga orang bertakwa akan merdeka dari segala kebutuhan hidupnya.
2. Surat An-Nahl [16]: ayat 128
"Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa dan berbuat kebaikan”
Dengan bertakwa kita akan selalu bersama-Nya, sehingga tidak ada lagi rasa takut dari semua makhluk2-Nya. Karena pada dasarnya, semua makhluk-Nya adalah lemah bila tanpa ada izin dari-Nya. Sehingga wajar saja orang yang bertakwa akan mendapatkan kemerdekaan dari rasa takut.
3. Surat Al-Baqarah [2]: ayat 2
“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa”
Orang bertaqwa akan memperoleh petunjuk dari Al-quran yang dibacanya. Dia akan memahami dan merasakan manfaat yang besar dari semua firman-Nya. Sehingga Al-quran dijadikannya sebagai salah satu obat mujarab untuk mengatasi dan mencari jalan keluar dari setiap permasalahan hidupnya.
4. Surat Al-A’raf [7] ayat 201
“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya”
Orang bertakwa akan memperoleh kemerdekaan dari rasa was-was, karena dia memiliki solusinya yaitu mengingat Allah.
5. Surat Al-A’raf [7] ayat 35
“Barangsiapa yang bertaqwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”
Orang yang bertakwa akan merdeka dari kekhawatiran dan kesedihan.
6. Surat Al-Maidah [5] ayat 27
“Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertaqwa”
Setiap amal perbuatan orang yang bertaqwa tidak akan sia2, karena semuanya akan diterima oleh-Nya dan akan mendapatkan hasilnya di dunia dan akhirat kelak.
7. Surat Ath-Thalaq [65]: ayat 2 dan Surat Ath-Thalaq [65]: ayat 4
“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar” .
“Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya”
Orang yang bertakwa akan memperoleh kemudahan setelah kesulitan, kelapangan setelah kesempitan
8. Surat Al-Anfal [8] ayat 29
“Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahan dan mengampuni (dosa-dosa)mu”
Orang bertaqwa akan merdeka dari kebingungan, karena dia memiliki firasat, hikmah dan cahaya hati.
9. Surat Ali Imran [3] ayat 133 dan Surat Maryam [19] ayat 72
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertqwa”
“Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertqwa dan membiarkan orang-orang yan zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut”
Orang yang bertakwa akan merdeka dari siksaan api neraka, karena dia dijamin akan masuk surga Allah.
10. Surat Al-Baqarah [2] ayat 212
. “Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertaqwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat”.
Orang bertakwa akan merdeka dari kehinaan, karena kedudukannya tinggi di sisi Allah Ta’ala di dunia dan di hari kiamat nanti.
Semoga kita semua dapat memperoleh predikat taqwa sehingga kita bisa mendapatkan kemerdekaan yang hakiki.. aamiin..aamiin..aamiin ya robbal alamiiin..
(Gantira, 19 Agustus 2017, Bogor)
Oleh karena itu, para pejuang kemerdekaan negeri kita memiliki salah satu semboyan "merdeka atau mati?" Karena pada dasarnya sangat menderita dan menyesakkan dada jika kita belum merdeka.
Orang yang tidak beriman atau orang yang berputus asa dari rahmat Allah lebih memilih bunuh diri untuk membebaskan diri dari penderitaan, penindasan, kegelisahan dan ketakutan yang dialaminya hanya untuk memperoleh impian kemerdekaan jiwanya. Akan tetapi, dia akan benar2 terkejut jika setelah mati ternyata penderitaan yang dihadapinya jauh lebih hebat daripada yang dialami saat di dunia dan hilanglah harapan kemerdekaan yang diidam2kannya itu.
Jadi bagaimana cara agar kita bisa memperoleh kemerdekaan yang hakiki ini?
Satu2nya cara untuk mendapatkan kemerdekaan adalah dengan cara berusaha untuk mendapatkan predikat taqwa.
Karena dengan taqwa kita akan bebas dari ketakutan yang disebabkan oleh makhluk, kita akan bebas dari rasa kegelisahan masa yang akan datang, kita akan mendapatkan rizki yang tak terduga2, kita bisa mendapatkan jalan keluar dari setiap kesulitan yang ada, kita akan merasa tercukupi atas setiap kebutuhan kita, serta yang paling penting dengan takwa setelah meninggalkan dunia ini kita bisa memperoleh kebahagiaan yang abadi.
Beberapa dalil terkait cara memperoleh kemerdekaan dengan takwa ini adalah
1. Surat At-Taubah [9] ayat 4
“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaqwa”
Dengan bertaqwa kita akan memperoleh cinta-Nya. Barangsiapa yang memperoleh cinta-Nya maka setiap kebutuhannya akan dipenuhi, bahkan Allah akan memberikan segala apapun yang bermanfaat di dunia ini dan di akhirat kelak buat hamba yang dicintai-Nya, tanpa terbayangkan sebelumnya oleh hamba tersebut. Sehingga orang bertakwa akan merdeka dari segala kebutuhan hidupnya.
2. Surat An-Nahl [16]: ayat 128
"Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa dan berbuat kebaikan”
Dengan bertakwa kita akan selalu bersama-Nya, sehingga tidak ada lagi rasa takut dari semua makhluk2-Nya. Karena pada dasarnya, semua makhluk-Nya adalah lemah bila tanpa ada izin dari-Nya. Sehingga wajar saja orang yang bertakwa akan mendapatkan kemerdekaan dari rasa takut.
3. Surat Al-Baqarah [2]: ayat 2
“Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa”
Orang bertaqwa akan memperoleh petunjuk dari Al-quran yang dibacanya. Dia akan memahami dan merasakan manfaat yang besar dari semua firman-Nya. Sehingga Al-quran dijadikannya sebagai salah satu obat mujarab untuk mengatasi dan mencari jalan keluar dari setiap permasalahan hidupnya.
4. Surat Al-A’raf [7] ayat 201
“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya”
Orang bertakwa akan memperoleh kemerdekaan dari rasa was-was, karena dia memiliki solusinya yaitu mengingat Allah.
5. Surat Al-A’raf [7] ayat 35
“Barangsiapa yang bertaqwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”
Orang yang bertakwa akan merdeka dari kekhawatiran dan kesedihan.
6. Surat Al-Maidah [5] ayat 27
“Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertaqwa”
Setiap amal perbuatan orang yang bertaqwa tidak akan sia2, karena semuanya akan diterima oleh-Nya dan akan mendapatkan hasilnya di dunia dan akhirat kelak.
7. Surat Ath-Thalaq [65]: ayat 2 dan Surat Ath-Thalaq [65]: ayat 4
“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar” .
“Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya”
Orang yang bertakwa akan memperoleh kemudahan setelah kesulitan, kelapangan setelah kesempitan
8. Surat Al-Anfal [8] ayat 29
“Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahan dan mengampuni (dosa-dosa)mu”
Orang bertaqwa akan merdeka dari kebingungan, karena dia memiliki firasat, hikmah dan cahaya hati.
9. Surat Ali Imran [3] ayat 133 dan Surat Maryam [19] ayat 72
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertqwa”
“Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertqwa dan membiarkan orang-orang yan zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut”
Orang yang bertakwa akan merdeka dari siksaan api neraka, karena dia dijamin akan masuk surga Allah.
10. Surat Al-Baqarah [2] ayat 212
. “Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertaqwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat”.
Orang bertakwa akan merdeka dari kehinaan, karena kedudukannya tinggi di sisi Allah Ta’ala di dunia dan di hari kiamat nanti.
Semoga kita semua dapat memperoleh predikat taqwa sehingga kita bisa mendapatkan kemerdekaan yang hakiki.. aamiin..aamiin..aamiin ya robbal alamiiin..
(Gantira, 19 Agustus 2017, Bogor)
Wednesday, 2 August 2017
"Menjadi Keluarga Muslim yang Kaffah"
Pada tulisan sebelumnya, saya sudah menjelaskan bahwa sebagai apapun diri kita, pada dasarnya kita bisa menjadi seorang muslim yang Kaffah.
Untuk tulisan saat ini, saya akan lebih menyoroti bagaimana membentuk keluarga muslim yang Kaffah?
Umumnya di dalam keluarga, terdiri dari seorang ayah, ibu dan anak2. Dan dalam keluarga seperti ini kita harus berusaha membentuk keluarga muslim yang kaffah.
Bagaimana seorang suami atau seorang ayah menjadi seorang muslim yang kaffah?
Maka jawabannya adalah dengan mencontoh kehidupan Rasulullah, mengikuti nasihat rasulullah kepada para sahabatnya dalam memperlakukan istri dan anak2 mereka, serta mencontoh kehidupan para sahabat dan para ulama terdahulu dalam membina keluarga.
Sebagai seorang suami atau seorang ayah, untuk menjadi seorang muslim yang kaffah dengan cara memperlakukan istri dan anak-anaknya dengan kasih sayang, sabar dan menjauhkan diri dari sikap kasar serta menjaga mereka dari ancaman api neraka.
Sebagaimana yang terdapat dalam beberapa firman-Nya:
“Dan bergaullah dengan mereka (para istri) secara patut, kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak." (Qs. An-Nisa' ayat 19)
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa ang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (QS. At Tahrim 66:6)
Dalam salah satu hadist disebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda,
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik perlakuannya kepada keluargaku.” (Hr. Ibnu Majah).
Sebagai suami dalam mencapai muslim yang kaffah pun bisa mencontoh apa yang telah dilakukan oleh Umar bin Khatab, dimana beliau pernah didatangi oleh orang Badui yang akan mengadukan sikap cerewet istrinya. Di saat bersamaan, Umar pun baru saja mendapat omelan dari istri dengan suara yang cukup keras.
Umar memberi nasihat kepada si Badui, “ Wahai saudaraku semuslim, aku berusaha menahan diri dari sikap (istriku) itu, karena dia memiliki hak-hak atas istriku. Aku berusaha untuk menahan diri meski sebenarnya aku bisa saja menyakitinya (bersikap keras) dan memarahinya.
Akan tetapi, aku sadar bahwa tidak ada orang yang memuliakan mereka (kaum wanita), selain orang yang mulia dan tidak ada yang merendahkan mereka selain orang yang suka menyakiti. Aku sangat ingin menjadi orang yang mulia meski aku kalah (dari istriku), dan aku tidak ingin menjadi orang yang suka menyakiti meski aku termasuk orang yang menang.”
Umar meneruskan nasihatnya, “ Wahai Saudaraku orang Arab, aku berusaha menahan diri, karena dia (istriku) memiliki hak-hak atas diriku. Dialah yang memasak makanan untukku, membuatkan roti untukku, membuatkan roti untukku, menyusui anak-anakku, dan mencucui baju-bajuku. Sebesar apapun kesabaranku terhadap sikapnya, maka sebanyak itulah pahala yang aku terima.”
Itulah salah satu sikap seorang suami atau ayah yang ingin menjadi musim yang kaffah, bahkan banyak lagi kisah2 lainnya yang dapat diambil dari kehidupan para tabiin serta para ulama shaleh lainnya.
Pada sisi lain, bagaimana seorang istri atau seorang ibu bisa menjadi seorang muslim yang kaffah?
Jawabannya adalah ikutilah nasihat Rasulullah kepada para wanita yang sudah bersuami, serta ikutilah akhlak para istri Rasulullah, istri para sahabat, serta istri orang2 shaleh sebelumnya dalam memperlakukan suami dan anak2 mereka.
Beberapa akhlak seorang istri atau seorang ibu agar bisa menjadi seorang muslim yang kaffah adalah dengan berbakti pada suaminya, mendorong dan mendukung suaminya dalam taat kepada Allah serta berusaha membentuk anak2 yang shaleh.
Jadilah seorang istri yang bisa menjadi perhiasan yang paling berharga di dunia ini bagi suaminya. Sebagaimana sabda Rasulullah,
"Harta yang paling berharga di dunia adalah wanita yang solehah." (HRMuslim)
Dahulu kala, para wanita kaum salaf memberi wejangan kepada suaminya, “Berhatilah-hatilah engkau dari memperoleh harta yang tidak halal. Kami akan sanggup menahan rasa lapar namun kami tak akan pernah sanggup merasakan siksa api neraka.”
Mereka para wanita sholehah yang ingin menjadi muslim yang kaffah berusaha untuk qanaah atau merasa cukup dengan apa yang mereka terima dan tidak memberatkan apa yang tak sanggup dilakukan oleh suaminya.
Sekarang bagaimana cara seorang anak bisa mencapai seorang muslim yang kaffah?
Jawabannya adalah dengan berbakti kepada orang tua, memperlakukan mereka dengan penuh hormat, sopan santun, penuh sayang, serta berusaha agar orang tua ridha padanya.
Hal ini sebagaimana diabadikan dalam beberapa firman-Nya.
“Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.’” [Qs. Al-Israa’ : 23-24]
“Dan Kami wajibkan kepada manusia agar (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tuanya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau patuhi keduanya. Hanya kepada-Ku tempat kembalimu, dan akan Aku beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” [Qs. Al-‘Ankabuut (29): 8]
Selain firman-Nya, sebagai seorang anak untuk menjadi seorang muslim yang kaffah dapat juga memperhatikan beberapa sabda Rasulullah:
‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu berkata.
“Aku bertanya kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ‘Amal apakah yang paling utama?’ Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Shalat pada waktunya (dalam riwayat lain disebutkan shalat di awal waktunya).’ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?’ Nabi menjawab: ‘Berbakti kepada kedua orang tua.’ Aku bertanya lagi: ‘Kemudian apa?’ Nabi menjawab, ‘Jihad di jalan Allah’ (Hr. Bukhari)
“Darii ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiyallaahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ridha Allah bergantung kepada keridhaan orang tua dan murka Allah bergantung kepada kemurkaan orang tua” (Hr. Bukhari)
Disamping itu, sebagai seorang anak dalam mencapai muslim yang kaffah, kita juga bisa mencontoh para ulama shaleh terdahulu dalam memperlakukan orang tua mereka masing2.
Jadi kita dalam keluarga pun bisa menjadi seorang muslim yang kaffah sesuai peran kita masing2, baik kita sebagai seorang suami, ayah, istri, ibu atau anak2.
Semoga kita semua dianugerahi oleh-Nya akhlak yang mulia dan memiliki keluarga muslim yang Kaffah sehingga dalam rumah kita terbentuk "Baiti Jannati, rumahku adalah surgaku". .aamiin..aamiin..aamiin..yra..
(Gantira, 2 Agustus 2017, Bogor)
Untuk tulisan saat ini, saya akan lebih menyoroti bagaimana membentuk keluarga muslim yang Kaffah?
Umumnya di dalam keluarga, terdiri dari seorang ayah, ibu dan anak2. Dan dalam keluarga seperti ini kita harus berusaha membentuk keluarga muslim yang kaffah.
Bagaimana seorang suami atau seorang ayah menjadi seorang muslim yang kaffah?
Maka jawabannya adalah dengan mencontoh kehidupan Rasulullah, mengikuti nasihat rasulullah kepada para sahabatnya dalam memperlakukan istri dan anak2 mereka, serta mencontoh kehidupan para sahabat dan para ulama terdahulu dalam membina keluarga.
Sebagai seorang suami atau seorang ayah, untuk menjadi seorang muslim yang kaffah dengan cara memperlakukan istri dan anak-anaknya dengan kasih sayang, sabar dan menjauhkan diri dari sikap kasar serta menjaga mereka dari ancaman api neraka.
Sebagaimana yang terdapat dalam beberapa firman-Nya:
“Dan bergaullah dengan mereka (para istri) secara patut, kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak." (Qs. An-Nisa' ayat 19)
"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa ang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (QS. At Tahrim 66:6)
Dalam salah satu hadist disebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda,
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik perlakuannya kepada keluargaku.” (Hr. Ibnu Majah).
Sebagai suami dalam mencapai muslim yang kaffah pun bisa mencontoh apa yang telah dilakukan oleh Umar bin Khatab, dimana beliau pernah didatangi oleh orang Badui yang akan mengadukan sikap cerewet istrinya. Di saat bersamaan, Umar pun baru saja mendapat omelan dari istri dengan suara yang cukup keras.
Umar memberi nasihat kepada si Badui, “ Wahai saudaraku semuslim, aku berusaha menahan diri dari sikap (istriku) itu, karena dia memiliki hak-hak atas istriku. Aku berusaha untuk menahan diri meski sebenarnya aku bisa saja menyakitinya (bersikap keras) dan memarahinya.
Akan tetapi, aku sadar bahwa tidak ada orang yang memuliakan mereka (kaum wanita), selain orang yang mulia dan tidak ada yang merendahkan mereka selain orang yang suka menyakiti. Aku sangat ingin menjadi orang yang mulia meski aku kalah (dari istriku), dan aku tidak ingin menjadi orang yang suka menyakiti meski aku termasuk orang yang menang.”
Umar meneruskan nasihatnya, “ Wahai Saudaraku orang Arab, aku berusaha menahan diri, karena dia (istriku) memiliki hak-hak atas diriku. Dialah yang memasak makanan untukku, membuatkan roti untukku, membuatkan roti untukku, menyusui anak-anakku, dan mencucui baju-bajuku. Sebesar apapun kesabaranku terhadap sikapnya, maka sebanyak itulah pahala yang aku terima.”
Itulah salah satu sikap seorang suami atau ayah yang ingin menjadi musim yang kaffah, bahkan banyak lagi kisah2 lainnya yang dapat diambil dari kehidupan para tabiin serta para ulama shaleh lainnya.
Pada sisi lain, bagaimana seorang istri atau seorang ibu bisa menjadi seorang muslim yang kaffah?
Jawabannya adalah ikutilah nasihat Rasulullah kepada para wanita yang sudah bersuami, serta ikutilah akhlak para istri Rasulullah, istri para sahabat, serta istri orang2 shaleh sebelumnya dalam memperlakukan suami dan anak2 mereka.
Beberapa akhlak seorang istri atau seorang ibu agar bisa menjadi seorang muslim yang kaffah adalah dengan berbakti pada suaminya, mendorong dan mendukung suaminya dalam taat kepada Allah serta berusaha membentuk anak2 yang shaleh.
Jadilah seorang istri yang bisa menjadi perhiasan yang paling berharga di dunia ini bagi suaminya. Sebagaimana sabda Rasulullah,
"Harta yang paling berharga di dunia adalah wanita yang solehah." (HRMuslim)
Dahulu kala, para wanita kaum salaf memberi wejangan kepada suaminya, “Berhatilah-hatilah engkau dari memperoleh harta yang tidak halal. Kami akan sanggup menahan rasa lapar namun kami tak akan pernah sanggup merasakan siksa api neraka.”
Mereka para wanita sholehah yang ingin menjadi muslim yang kaffah berusaha untuk qanaah atau merasa cukup dengan apa yang mereka terima dan tidak memberatkan apa yang tak sanggup dilakukan oleh suaminya.
Sekarang bagaimana cara seorang anak bisa mencapai seorang muslim yang kaffah?
Jawabannya adalah dengan berbakti kepada orang tua, memperlakukan mereka dengan penuh hormat, sopan santun, penuh sayang, serta berusaha agar orang tua ridha padanya.
Hal ini sebagaimana diabadikan dalam beberapa firman-Nya.
“Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.’” [Qs. Al-Israa’ : 23-24]
“Dan Kami wajibkan kepada manusia agar (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tuanya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau patuhi keduanya. Hanya kepada-Ku tempat kembalimu, dan akan Aku beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” [Qs. Al-‘Ankabuut (29): 8]
Selain firman-Nya, sebagai seorang anak untuk menjadi seorang muslim yang kaffah dapat juga memperhatikan beberapa sabda Rasulullah:
‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu berkata.
“Aku bertanya kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ‘Amal apakah yang paling utama?’ Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Shalat pada waktunya (dalam riwayat lain disebutkan shalat di awal waktunya).’ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?’ Nabi menjawab: ‘Berbakti kepada kedua orang tua.’ Aku bertanya lagi: ‘Kemudian apa?’ Nabi menjawab, ‘Jihad di jalan Allah’ (Hr. Bukhari)
“Darii ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiyallaahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ridha Allah bergantung kepada keridhaan orang tua dan murka Allah bergantung kepada kemurkaan orang tua” (Hr. Bukhari)
Disamping itu, sebagai seorang anak dalam mencapai muslim yang kaffah, kita juga bisa mencontoh para ulama shaleh terdahulu dalam memperlakukan orang tua mereka masing2.
Jadi kita dalam keluarga pun bisa menjadi seorang muslim yang kaffah sesuai peran kita masing2, baik kita sebagai seorang suami, ayah, istri, ibu atau anak2.
Semoga kita semua dianugerahi oleh-Nya akhlak yang mulia dan memiliki keluarga muslim yang Kaffah sehingga dalam rumah kita terbentuk "Baiti Jannati, rumahku adalah surgaku". .aamiin..aamiin..aamiin..yra..
(Gantira, 2 Agustus 2017, Bogor)
Wednesday, 19 July 2017
"Membentuk Kepribadian Muslim yang Kaffah"
Seperti apakah muslim yang kaffah itu?
Mungkin banyak orang yang menganggap bahwa arti kaffah itu sempurna, sebagaimana kehidupan Rasulullah. Baik dari segi shalatnya, puasanya, shadaqahnya, murah hatinya, perjuangannya, dakwahnya, memimpinnya, serta berbagai kehidupan lainnya.
Dengan anggapan dasar seperti itu, maka banyak orang yang sudah putus asa duluan sebelum memulai. Dan akhirnya tidak mau memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik lagi.
Padahal arti kaffah itu sendiri adalah menjalankan islam secara sempurna sesuai keadaan diri kita.
Dan dalam kehidupan Rasulullah, beliau pernah mengalami berbagai kehidupan macam kehidupan yang dialami oleh setiap manusia. Sehingga kita bisa mencontoh Rasulullah sesuai kehidupan yang sedang kita alami.
Bila saat ini kita sedang kaya maka Rasulullah pun pernah kaya contohlah bagaimana perilaku beliau saat kaya, begitu juga saat kita sedang miskin maka Rasulullah pun pernah miskin dan kita pun dapat mencontoh beliau bagaimana mensikapi kemiskinan yang dialaminya.
Begitu juga pada kondisi lainnya, di saat kita pernah sakit, sehat, menjadi pemimpin, memiliki anak, memiliki cucu, memiliki istri, bertetangga, jadi pedagang, jadi penggembala dan menjadi apapun itu maka Rasulullah pernah mengalami itu semua.
Kalau pun Rasulullah belum mengalami apa yang sedang kita alami, maka banyak contoh dari kehidupan para sahabat, para tabi'in serta para Tabi'it Tabi'in yang mana Rasulullah menyatakan bahwa mereka adalah umat terbaik pertama, umat terbaik kedua dan umat terbaik ketiga yang dapat dijadikan contoh bagi umat muslim setelahnya.
Berbagai dalil terkait hal ini, diantaranya adalah
“Sesungguhnya pada diri Rasulullah ada teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak berdzikir kepada Allah.” (Al-Ahzab: 21)
Rasul telah beriman kepada al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya, demikian pula orang-orang yang beriman.” [Al-Baqarah : 285]
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha terhadap mereka dan mereka ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka Surga-Surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemeangan yang besar.” [At-Taubah: 100]
“Sebaik-baik manusia adalah pada masaku ini (yaitu masa para Shahabat), kemudian yang sesudahnya, kemudian yang sesudahnya. Setelah itu akan datang suatu kaum yang persaksian salah seorang dari mereka men-dahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya.” ( Syarhus Sunnah, oleh Imam al-Baghawy, tahqiq: Syu’aib al-Arnauth dan Muhammad Zuhair asy-Syawaisy, cet. Al-Maktab al-Islamy, th. 1403 H).
Kata Shahabat Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu:
إِنَّ اللهَ نَظَرَ إلَى قُلُوْبِ الْعِبَادِ، فَوَجَدَ قَلْبَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرَ قُلُوْبِ الْعِبَادِ فَاصْطَفَاهُ لِنَفْسِهِ، فاَبْتَعَثَهُ بِرِسَالَتِهِ، ثُمَّ نَظَرَ فِي قُلُوْبِ الْعِبَادِ، بَعْدَ قَلْبِ مُحَمَّدٍ، فَوَجَدَ قُلُوْبَ أَصْحَابِهِ خَيْرَ قُلُوْبِ الْعِبَادِ فَجَعَلَهُمْ وُزَرَاءَ نَبِيِّهِ، يُقَاتِلُوْنَ عَلَى دِيْنِهِ، فَمَا رَأَى الْمُسْلِمُوْنَ حَسَناً فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ، وَمَا رَأَوْا سَيِّئاً فَهُوَ عِنْدَ اللهِ سَيِّئٌ.
“Sesungguhnya Allah melihat hati hamba-hamba-Nya dan Allah mendapati hati Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebaik-baik hati manusia, maka Allah pilih Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai utusan-Nya. Allah memberikan risalah kepada-nya, kemudian Allah melihat dari seluruh hati hambah-hamba-Nya setelah Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka didapati bahwa hati para Shahabat merupakan hati yang paling baik sesudahnya, maka Allah jadikan mereka sebagai pendamping Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mereka berperang atas agama-Nya. Apa yang dipandang kaum Muslimin (para Shahabat Rasul) itu baik, maka itu baik pula di sisi Allah dan apa yang mereka (para Shahabat Rasul) pandang jelek, maka di sisi Allah itu jelek.” (Hr.an-Nasaa-i)
“Berkata al-‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu: ‘Suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat bersama kami, kemudian beliau menghadap kepada kami dan memberikan nasehat kepada kami dengan nasehat yang menjadikan air mata berlinang dan membuat hati bergetar, maka seseorang berkata: ‘Wahai Rasulullah, nasehat ini seakan-akan nasehat dari orang yang akan berpisah, maka berikanlah kami wasiat.’ Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku wasiatkan kepada kalian supaya tetap bertaqwa kepada Allah, tetaplah mendengar dan taat, walaupun yang memerintah kamu adalah seorang budak Habasiyyah. Sungguh, orang yang masih hidup di antara kalian setelahku maka ia akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah dia dengan gigi gerahammu. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru, karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu adalah bid’ah. Dan setiap bid’ah adalah sesat.’ ( Shahih Muslim.)
“Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan batas kemampuannya. Baginya ganjaran untuk apa yang diusahakannya, dan ia akan mendapat siksaan untuk apa yang diusahakannya. Dan mereka berkata, Ya Tuhan kami, janganlah Engkau menghukum kami jika kami lupa atau kami berbuat salah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau membebani kami tanggung jawab seperti Engkau telah bebankan atas orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami janganlah Engkau membebani kami apa yang kami tidak kuat menanggungnya; dan ma’afkanlah kami dan ampunilah kami serta kasihanilah kami kerana Engkaulah Pelindung kami, maka tolonglah kami terhadap kaum kafir.” (Al Baqarah : 287)
Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Apa yang aku larang hendaklah kalian menjauhinya, dan apa yang aku perintahkan maka lakukanlah semampu kalian. Sesungguhnya binasanya orang-orang sebelum kalian adalah karena mereka banyak bertanya dan karena penentangan mereka terhadap para nabi mereka” (HR. Bukhari dan Muslim)
Jadi dalam keadaan apapun kita saat ini, baik kita laki-laki atau perempuan, orang yang baru baligh ataupun sudah berumur, sebagai seorang anak atau orang tua, sebagai pemimpin ataupun rakyat biasa, sebagai suami ataupun istri, sebagai orang kaya atau miskin, sebagai orang yang sehat ataupun sakit, sebagai orang yang cerdas ataupun biasa2, serta sebagai apapun diri kita saat ini, pada dasarnya kita bisa meraih menjadi seorang muslim yang kaffah sesuai kondisi kita saat ini.
Untuk mencapai islam yang kaffah sesuai yang kita mampu dan kondisi kita maka kita harus berusaha mempelajari, dan memahami al-quran, hadist, sejarah hidup Rasulullah, sejarah hidup para sahabat serta sejarah hidup para tabi'in serta para tabi'i tabi'in. Lalu contohlah kehidupan mereka yang sesuai dengan kondisi kita saat ini.
Semoga Allah memberikan petunjuk pada kita semua sehingga kita bisa menjadi seorang muslim yang kaffah sesuai kondisi yang kita alami dan semoga kita dianugerahi oleh-Nya sebagai salah seorang ahli surga yang bisa berkumpul bersama Rasulullah, para sahabat dan orang2 shaleh sebelum kita yang telah meninggalkan dunia ini dengan husnul khatimah, Aamiin..aamiin..aamiin..yra
(Gantira, 19 Juli 2017, Bogor)
Mungkin banyak orang yang menganggap bahwa arti kaffah itu sempurna, sebagaimana kehidupan Rasulullah. Baik dari segi shalatnya, puasanya, shadaqahnya, murah hatinya, perjuangannya, dakwahnya, memimpinnya, serta berbagai kehidupan lainnya.
Dengan anggapan dasar seperti itu, maka banyak orang yang sudah putus asa duluan sebelum memulai. Dan akhirnya tidak mau memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik lagi.
Padahal arti kaffah itu sendiri adalah menjalankan islam secara sempurna sesuai keadaan diri kita.
Dan dalam kehidupan Rasulullah, beliau pernah mengalami berbagai kehidupan macam kehidupan yang dialami oleh setiap manusia. Sehingga kita bisa mencontoh Rasulullah sesuai kehidupan yang sedang kita alami.
Bila saat ini kita sedang kaya maka Rasulullah pun pernah kaya contohlah bagaimana perilaku beliau saat kaya, begitu juga saat kita sedang miskin maka Rasulullah pun pernah miskin dan kita pun dapat mencontoh beliau bagaimana mensikapi kemiskinan yang dialaminya.
Begitu juga pada kondisi lainnya, di saat kita pernah sakit, sehat, menjadi pemimpin, memiliki anak, memiliki cucu, memiliki istri, bertetangga, jadi pedagang, jadi penggembala dan menjadi apapun itu maka Rasulullah pernah mengalami itu semua.
Kalau pun Rasulullah belum mengalami apa yang sedang kita alami, maka banyak contoh dari kehidupan para sahabat, para tabi'in serta para Tabi'it Tabi'in yang mana Rasulullah menyatakan bahwa mereka adalah umat terbaik pertama, umat terbaik kedua dan umat terbaik ketiga yang dapat dijadikan contoh bagi umat muslim setelahnya.
Berbagai dalil terkait hal ini, diantaranya adalah
“Sesungguhnya pada diri Rasulullah ada teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak berdzikir kepada Allah.” (Al-Ahzab: 21)
Rasul telah beriman kepada al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya, demikian pula orang-orang yang beriman.” [Al-Baqarah : 285]
Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha terhadap mereka dan mereka ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka Surga-Surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemeangan yang besar.” [At-Taubah: 100]
“Sebaik-baik manusia adalah pada masaku ini (yaitu masa para Shahabat), kemudian yang sesudahnya, kemudian yang sesudahnya. Setelah itu akan datang suatu kaum yang persaksian salah seorang dari mereka men-dahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya.” ( Syarhus Sunnah, oleh Imam al-Baghawy, tahqiq: Syu’aib al-Arnauth dan Muhammad Zuhair asy-Syawaisy, cet. Al-Maktab al-Islamy, th. 1403 H).
Kata Shahabat Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu:
إِنَّ اللهَ نَظَرَ إلَى قُلُوْبِ الْعِبَادِ، فَوَجَدَ قَلْبَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرَ قُلُوْبِ الْعِبَادِ فَاصْطَفَاهُ لِنَفْسِهِ، فاَبْتَعَثَهُ بِرِسَالَتِهِ، ثُمَّ نَظَرَ فِي قُلُوْبِ الْعِبَادِ، بَعْدَ قَلْبِ مُحَمَّدٍ، فَوَجَدَ قُلُوْبَ أَصْحَابِهِ خَيْرَ قُلُوْبِ الْعِبَادِ فَجَعَلَهُمْ وُزَرَاءَ نَبِيِّهِ، يُقَاتِلُوْنَ عَلَى دِيْنِهِ، فَمَا رَأَى الْمُسْلِمُوْنَ حَسَناً فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ، وَمَا رَأَوْا سَيِّئاً فَهُوَ عِنْدَ اللهِ سَيِّئٌ.
“Sesungguhnya Allah melihat hati hamba-hamba-Nya dan Allah mendapati hati Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebaik-baik hati manusia, maka Allah pilih Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai utusan-Nya. Allah memberikan risalah kepada-nya, kemudian Allah melihat dari seluruh hati hambah-hamba-Nya setelah Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka didapati bahwa hati para Shahabat merupakan hati yang paling baik sesudahnya, maka Allah jadikan mereka sebagai pendamping Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mereka berperang atas agama-Nya. Apa yang dipandang kaum Muslimin (para Shahabat Rasul) itu baik, maka itu baik pula di sisi Allah dan apa yang mereka (para Shahabat Rasul) pandang jelek, maka di sisi Allah itu jelek.” (Hr.an-Nasaa-i)
“Berkata al-‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu: ‘Suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat bersama kami, kemudian beliau menghadap kepada kami dan memberikan nasehat kepada kami dengan nasehat yang menjadikan air mata berlinang dan membuat hati bergetar, maka seseorang berkata: ‘Wahai Rasulullah, nasehat ini seakan-akan nasehat dari orang yang akan berpisah, maka berikanlah kami wasiat.’ Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku wasiatkan kepada kalian supaya tetap bertaqwa kepada Allah, tetaplah mendengar dan taat, walaupun yang memerintah kamu adalah seorang budak Habasiyyah. Sungguh, orang yang masih hidup di antara kalian setelahku maka ia akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah dia dengan gigi gerahammu. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru, karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu adalah bid’ah. Dan setiap bid’ah adalah sesat.’ ( Shahih Muslim.)
“Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan batas kemampuannya. Baginya ganjaran untuk apa yang diusahakannya, dan ia akan mendapat siksaan untuk apa yang diusahakannya. Dan mereka berkata, Ya Tuhan kami, janganlah Engkau menghukum kami jika kami lupa atau kami berbuat salah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau membebani kami tanggung jawab seperti Engkau telah bebankan atas orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami janganlah Engkau membebani kami apa yang kami tidak kuat menanggungnya; dan ma’afkanlah kami dan ampunilah kami serta kasihanilah kami kerana Engkaulah Pelindung kami, maka tolonglah kami terhadap kaum kafir.” (Al Baqarah : 287)
Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Apa yang aku larang hendaklah kalian menjauhinya, dan apa yang aku perintahkan maka lakukanlah semampu kalian. Sesungguhnya binasanya orang-orang sebelum kalian adalah karena mereka banyak bertanya dan karena penentangan mereka terhadap para nabi mereka” (HR. Bukhari dan Muslim)
Jadi dalam keadaan apapun kita saat ini, baik kita laki-laki atau perempuan, orang yang baru baligh ataupun sudah berumur, sebagai seorang anak atau orang tua, sebagai pemimpin ataupun rakyat biasa, sebagai suami ataupun istri, sebagai orang kaya atau miskin, sebagai orang yang sehat ataupun sakit, sebagai orang yang cerdas ataupun biasa2, serta sebagai apapun diri kita saat ini, pada dasarnya kita bisa meraih menjadi seorang muslim yang kaffah sesuai kondisi kita saat ini.
Untuk mencapai islam yang kaffah sesuai yang kita mampu dan kondisi kita maka kita harus berusaha mempelajari, dan memahami al-quran, hadist, sejarah hidup Rasulullah, sejarah hidup para sahabat serta sejarah hidup para tabi'in serta para tabi'i tabi'in. Lalu contohlah kehidupan mereka yang sesuai dengan kondisi kita saat ini.
Semoga Allah memberikan petunjuk pada kita semua sehingga kita bisa menjadi seorang muslim yang kaffah sesuai kondisi yang kita alami dan semoga kita dianugerahi oleh-Nya sebagai salah seorang ahli surga yang bisa berkumpul bersama Rasulullah, para sahabat dan orang2 shaleh sebelum kita yang telah meninggalkan dunia ini dengan husnul khatimah, Aamiin..aamiin..aamiin..yra
(Gantira, 19 Juli 2017, Bogor)
Subscribe to:
Posts (Atom)
