Fenomena banyaknya orang2 munafik, tidak saja terjadi pada masa kini, tapi pada masa Rasulullah pun, kaum munafik ini sudah ada. Salah satu tokoh munafik yang paling terkenal adalah Abdullah bin Ubai. Namun, walaupun demikian Rasulullah tidak menghukum Abdullah bin Ubai, padahal orang ini sudah sangat jelas dikenal kemunafikannya oleh masyarakat muslim.
*
Ternyata banyak juga hikmah yang terjadi, dimana dengan sendirinya masyarakat muslim saat itu menjauhi Abdullah bin Ubai ini. Yang bersahabat dengan dia hanyalah orang2 yang memang segolongan dengannya. Bila Rasulullah menghukum Abdullah bin Ubai tanpa bukti (karena Abdullah bin Ubai ini seorang pendusta, licik serta lihai dalam menyembunyikan keburukannya) kemungkinan akan terjadi timbul banyak penentang yang memang tidak paham tapi mudah ikut terhasut oleh orang2 munafik.
*
Inilah salah satu hikmah kita dianjurkan untuk menghindari perdebatan, walaupun kita benar. Karena bisa jadi orang yang tidak ikut berdebat tapi mengetahui perdebatan yang terjadi akan salah melangkah dikarenakan kurang paham dan kurang berilmu.
*
Pada era informasi yang serba bebas saat ini, orang2 munafik semakin mudah menyebarkan pemikiran sesatnya. Namun orang yang memiliki ilmu dan paham akan situasi yang terjadi, pada dasarnya bisa mengetahui bagaimana pola pikir orang lain. Kalau soal argumen, setiap orang bisa mencari dari berbagai sumber yang sesuai dengan kecenderungan pola pikirnya.
*
Jadi yang perlu kita lakukan dalam menghadapi seseorang yang suka memberikan statement yang kontradiksi, adalah dengan tidak perlu berinteraksi dengannya.
*
Apalagi di era informasi bebas saat ini. Bila kita comment atau like pada status seseorang yang pemikirannya ngawur di media sosial seperti facebook, khawatir kita termasuk katagori ikut menyebarkan fitnah yang ada. Karena saat kita comment atau like, secara otomatis aktifitas kita terbaca oleh anggota fb kita dan mereka yang tidak tahu akan menjadi penasaran ingin mengetahuinya.
*
Yang perlu kita lakukan dalam menghadapi orang2 yang suka buat pernyataan meresahkan atau orang2 munafik adalah mengclearkan permasalahan yang ada jika isu itu menimpa kita. Sehingga yang terjadi permasalahan menjadi jelas dan diketahui siapa sebenarnya pendusta. Artinya kita jangan ikut2an menyebarkan kedustaan yang ditimbulkan oleh orang2 munafik, tapi sebaiknya kita berusaha untuk mengclearkannya.
*
Jadi langkah yang paling baik dalam menggunakan media sosial seperti fb atau wa atau media sosial apapun itu, adalah dengan tidak memberikan dukungan berupa 'like' atau 'comment' atau menshare terhadap status2 yang pemikirannya kontradiksi. Atau kita buat status baru di media sosial kita tentang ketidaksetujuan pemikiran orang2 yang isi media sosialnya ngawur tanpa berinteraksi dengan mereka.
*
Status atau berita yang kita 'like', comment atau yang di share hanyalah tulisan2 yang bermanfaat dan diyakini kebenarannya.
*
Ingatlah firman-Nya:
“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan & hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al Isra’: 36)
"Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al Qur’an bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan (oleh orang-orang kafir), maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain. Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam jahannam." [An Nisa’:140].
"Dan apabila mereka mendengar perkataan yang buruk, mereka berpaling darinya dan berkata, "Bagi kami amal2 kami dan bagimu amal2 kamu, semoga selamatlah kamu, kami tidak ingin (bergaul) dengan orang2 bodoh" (Qs. Al-Qasas:55)
(Gantira, 18 Oktober 2016, Bogor)
Tuesday, 18 October 2016
Sunday, 16 October 2016
"Pengertian Efektif dan Efisien bagi Seorang Muslim"
Efektif dan efisien adalah dua kata yang seringkali digunakan dalam ilmu ekonomi. Kedua kata ini walaupun terlihat hampir sama dan berhubungan, namun sejatinya mempunyai makna yang berbeda.
Secara sederhana, salah satu pengertian dari efektif adalah melakukan sesuatu yang dapat mencapai semaksimal mungkin hasil akhir yang diinginkan. Sedangkan pengertian sederhana dari efisien adalah penggunaan sumber daya yang hemat biaya, tenaga dan waktu guna pencapaian hasil yang optimum.
Setiap proses yang efektif belum tentu efisien, sebaliknya suatu proses yang dikatakan efisien belum tentu efektif. Untuk itu penting untuk menyelaraskan antara efektif dengan efisien agar setiap tujuan dapat tercapai dengan baik.
Bagaimanakah pengertian efektif dan efisien dalam Islam?
Pengertian efektif dalam Islam itu lebih condong pada manfaatnya, yaitu sesuatu yang bernilai di sisi Allah dan dilakukan dengan ikhlas serta tidak menyalahi aturan Allah dan rasul-Nya.
Dalam islam yang diutamakan adalah efektif atau ada manfaatnya. Sebagaimana yang dijelaskan dalam salah satu hadist:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Di antara tanda kebaikan keIslaman seseorang: jika dia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” (Hadits hasan, diriwayatkan oleh at-Tirmidzi no. 2318)
Jadi salah satu tanda baiknya islam seseorang adalah selalu berperilaku efektif dalam menjalani aktifitas hidupnya serta meninggalkan segala sesuatu yang tidak efektif atau tidak ada manfaatnya. Jadi efektif ini merupakan skala prioritas utama.
Sebagai contoh, kita sebagai seorang muslim dianjurkan untuk meninggalkan perdebatan yang tidak ada ujungnya, karena perdebatan ini tidak menghasilkan apa2 atau tidak ada manfaatnya serta hanya membuang waktu dan energi kita saja.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
"Sesungguhnya orang yang paling dimurkai oleh Allah adalah orang yang selalu mendebat. [HR. Bukhâri, no. 2457; Muslim, no. 2668; dll]
Dalam hadist lain, Rasulullah saw bersabda, "Saya menjamin rumah di surga bawah, bagi orang yang meninggalkan perdebatan sekalipun ia benar; dan rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan berdusta, sekalipun untuk bercanda; serta rumah di surga atas bagi orang yang bagus akhlaknya". (HR. Abu Dawud, dihasankan oleh Imam Al Albani).
Sedangkan pengertian efisien dalam Islam lebih mendekati pada amalan2 apa saja yang lebih utama, lebih diprioritaskan, yang memiliki keunggulan serta mendapatkan balasan pahala yang sangat besar disisi-Nya walaupum waktu dan energi dibutuhkan tidak terlalu jauh.
Sebagai contoh shalat berjamaah dan tepat waktu lebih utama daripada shalat sendirian dan menunda2. Amal ibadah sunat yang dilakukan secara sembunyi2 lebih utama daripada yang terang2an. Memberikan contoh kebaikan akan mendapatkan pahala yang berlipat2 sesuai dengan banyaknya orang yang mengikutinya, serta banyak lagi amalan2 yang efisien yang bisa kita lakukan.
Beberapa hadist yang berkaitan dengan amalan yang efisien ini diantaranya adalah:
Rasulullah saw bersabda, “Shalat seseorang dengan berjama’ah lebih banyak pahalanya daripada shalat sendirian di pasar atau di rumahnya, yaitu selisih 20 sekian derajat. Sebab, seseorang yang telah menyempurnakan wudhunya kemudian pergi ke masjid dengan tujuan untuk shalat, tiap ia melangkah satu langkah maka diangkatkan baginya satu derajat dan dihapuskan satu dosanya, sampai ia masuk masjid. Apabila ia berada dalam masjid, ia dianggap mengerjakan shalat selama ia menunggu hingga shalat dilaksanakan. Para malaikat lalu mendo’akan orang yang senantiasa di tempat ia shalat, “ Ya Allah, kasihanilah dia, ampunilah dosa-dosanya, terimalah taubatnya .” Hal itu selama ia tidak berbuat kejelekan dan tidak berhadats.” (HR. Bukhari no. 477 dan Muslim no. 649).
Abdullah Ibnu Mas’ud RA berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, amal perbuatan apa yang paling afdhal?” Beliau menjawab, “Shalat tepat pada waktunya.” Aku bertanya lagi, “Lalu apa lagi?” Beliau menjawab, “Berbakti kepada kedua orang tua.” Aku bertanya lagi, “Kemudian apa lagi, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Berjihad di jalan Allah.”(HR. Bukhari)
Allah Ta’ala berfirman,
“ Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. ” (QS. Al Baqarah: 271)
Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa yang menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka dia memperoleh pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya'."
(Shahih Muslim Kitab al-Imarah, Bab Fadhlu Ianah al-Ghazi, 3/1506, no. 1893)
Serta banyak lagi dalil2 lainnya terkait pentingnya kita melakukan segala sesuatu dengan efisien.
Jadi dalam Islam yang paling utama adalah efektif atau bermanfaat. Setelah efektif baru efisien, dimana semakin meningkat ilmu seorang muslim maka hidupnya selain efektif juga akan semakin efisien.
Semoga kita senantiasa diberikan petunjuk oleh-Nya dalam menjalani roda kehidupan di dunia yang fana ini, sehingga hidup yang kita jalani senantiasa efektif dan efisien, Aamiin..aamiin..aamiin yra..
(Gantira, 17 Oktober 2016, Bogor)
Secara sederhana, salah satu pengertian dari efektif adalah melakukan sesuatu yang dapat mencapai semaksimal mungkin hasil akhir yang diinginkan. Sedangkan pengertian sederhana dari efisien adalah penggunaan sumber daya yang hemat biaya, tenaga dan waktu guna pencapaian hasil yang optimum.
Setiap proses yang efektif belum tentu efisien, sebaliknya suatu proses yang dikatakan efisien belum tentu efektif. Untuk itu penting untuk menyelaraskan antara efektif dengan efisien agar setiap tujuan dapat tercapai dengan baik.
Bagaimanakah pengertian efektif dan efisien dalam Islam?
Pengertian efektif dalam Islam itu lebih condong pada manfaatnya, yaitu sesuatu yang bernilai di sisi Allah dan dilakukan dengan ikhlas serta tidak menyalahi aturan Allah dan rasul-Nya.
Dalam islam yang diutamakan adalah efektif atau ada manfaatnya. Sebagaimana yang dijelaskan dalam salah satu hadist:
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Di antara tanda kebaikan keIslaman seseorang: jika dia meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” (Hadits hasan, diriwayatkan oleh at-Tirmidzi no. 2318)
Jadi salah satu tanda baiknya islam seseorang adalah selalu berperilaku efektif dalam menjalani aktifitas hidupnya serta meninggalkan segala sesuatu yang tidak efektif atau tidak ada manfaatnya. Jadi efektif ini merupakan skala prioritas utama.
Sebagai contoh, kita sebagai seorang muslim dianjurkan untuk meninggalkan perdebatan yang tidak ada ujungnya, karena perdebatan ini tidak menghasilkan apa2 atau tidak ada manfaatnya serta hanya membuang waktu dan energi kita saja.
Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.
"Sesungguhnya orang yang paling dimurkai oleh Allah adalah orang yang selalu mendebat. [HR. Bukhâri, no. 2457; Muslim, no. 2668; dll]
Dalam hadist lain, Rasulullah saw bersabda, "Saya menjamin rumah di surga bawah, bagi orang yang meninggalkan perdebatan sekalipun ia benar; dan rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan berdusta, sekalipun untuk bercanda; serta rumah di surga atas bagi orang yang bagus akhlaknya". (HR. Abu Dawud, dihasankan oleh Imam Al Albani).
Sedangkan pengertian efisien dalam Islam lebih mendekati pada amalan2 apa saja yang lebih utama, lebih diprioritaskan, yang memiliki keunggulan serta mendapatkan balasan pahala yang sangat besar disisi-Nya walaupum waktu dan energi dibutuhkan tidak terlalu jauh.
Sebagai contoh shalat berjamaah dan tepat waktu lebih utama daripada shalat sendirian dan menunda2. Amal ibadah sunat yang dilakukan secara sembunyi2 lebih utama daripada yang terang2an. Memberikan contoh kebaikan akan mendapatkan pahala yang berlipat2 sesuai dengan banyaknya orang yang mengikutinya, serta banyak lagi amalan2 yang efisien yang bisa kita lakukan.
Beberapa hadist yang berkaitan dengan amalan yang efisien ini diantaranya adalah:
Rasulullah saw bersabda, “Shalat seseorang dengan berjama’ah lebih banyak pahalanya daripada shalat sendirian di pasar atau di rumahnya, yaitu selisih 20 sekian derajat. Sebab, seseorang yang telah menyempurnakan wudhunya kemudian pergi ke masjid dengan tujuan untuk shalat, tiap ia melangkah satu langkah maka diangkatkan baginya satu derajat dan dihapuskan satu dosanya, sampai ia masuk masjid. Apabila ia berada dalam masjid, ia dianggap mengerjakan shalat selama ia menunggu hingga shalat dilaksanakan. Para malaikat lalu mendo’akan orang yang senantiasa di tempat ia shalat, “ Ya Allah, kasihanilah dia, ampunilah dosa-dosanya, terimalah taubatnya .” Hal itu selama ia tidak berbuat kejelekan dan tidak berhadats.” (HR. Bukhari no. 477 dan Muslim no. 649).
Abdullah Ibnu Mas’ud RA berkata, “Aku bertanya kepada Rasulullah, “Ya Rasulullah, amal perbuatan apa yang paling afdhal?” Beliau menjawab, “Shalat tepat pada waktunya.” Aku bertanya lagi, “Lalu apa lagi?” Beliau menjawab, “Berbakti kepada kedua orang tua.” Aku bertanya lagi, “Kemudian apa lagi, ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “Berjihad di jalan Allah.”(HR. Bukhari)
Allah Ta’ala berfirman,
“ Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. ” (QS. Al Baqarah: 271)
Rasulullah saw bersabda, "Barangsiapa yang menunjukkan kepada suatu kebaikan, maka dia memperoleh pahala seperti pahala orang yang mengerjakannya'."
(Shahih Muslim Kitab al-Imarah, Bab Fadhlu Ianah al-Ghazi, 3/1506, no. 1893)
Serta banyak lagi dalil2 lainnya terkait pentingnya kita melakukan segala sesuatu dengan efisien.
Jadi dalam Islam yang paling utama adalah efektif atau bermanfaat. Setelah efektif baru efisien, dimana semakin meningkat ilmu seorang muslim maka hidupnya selain efektif juga akan semakin efisien.
Semoga kita senantiasa diberikan petunjuk oleh-Nya dalam menjalani roda kehidupan di dunia yang fana ini, sehingga hidup yang kita jalani senantiasa efektif dan efisien, Aamiin..aamiin..aamiin yra..
(Gantira, 17 Oktober 2016, Bogor)
"Makna Bilangan Biner Dalam Kehidupan "
Sistem bilangan biner atau sistem bilangan basis dua adalah sebuah sistem penulisan angka dengan menggunakan dua simbol yaitu 0 dan 1.
Sebuah nilai 0 tidak akan mengandung nilai jika letaknya berada disebelah kiri angka 1, walaupun jumlahnya sangat banyak bahkan bila tidak memiliki angka 1 maka nilainya tetap 0. Namun bilangan nol sangat berarti bila letaknya disebelah kanan angka 1, dan akan semakin besar nilainya jika angka nol itu semakin banyak.
Contoh:
a. Angka biner 0000 0000 mengandung nilai desimal 0
b. Angka biner 0000 0001 mengandung nilai desimal 1
c. Angka biner 0000 0010 mengandung nilai desimal 2
d. Angka biner 0000 0100 mengandung nilai desimal 4
.
.
q. Angka biner 0001 000 mengandung nilai desimal 16
Dan seterusnya, semakin banyak angka nol yang letaknya di kanan angka 1 maka nilai desimalnya semakin besar.
Dalam kehidupan kita pun bisa diumpamakan dengan perhitungan bilangan biner ini. Bila kita beriman kepada Allah maka kita telah memiliki nilai angka 1. Bila kita sering bershadaqah maka shadaqah ini dinilai nol. Jika shadaqah kita karena Allah maka nilai nol ini diletakkan disebelah kanan angka 1 sehingga shadaqah kita bernilai, namun jika shadaqah kita hanya ingin mendapatkan pujian manusia maka nilai nol ini diletakkan disebelah kiri angka 1 sehingga tidak ada nilainya. Begitu juga perbuatan2 baik lainnya.
Hal yang sama juga bisa di dinilai dengan bilangan biner dalam kehidupan anak2 kita. Jika anak kita adalah anak yang shaleh maka dia bernilai angka 1. Bila kemampuannya meningkat dengan memiliki kepintaran maka dia memiliki angka nol yang akan berarti bila nol ini diletakkan di kanan angka 1 atau didasari dengan keshalihannya. Bila bertambah lagi dengan anugrah lainnya, seperti tampan, lincah, sehat, trampil, ceria maka nilai nolnya semakin banyak.
Dari perumpamaan2 di atas, maka dalam kehidupan ini yang pertama kali harus diperjuangkan adalah memiliki angka 1. Dimana dalam kehidupan kita yang harus diutamakan adalah memiliki keimanan yang benar, baru kemudian kekayaan yang digunakan untuk memperbanyak shadaqah, kesehatan yang banyak menolong orang lain, kekuasaan untuk menegakkan keadilan, kepintaran untuk memajukan agama Allah serta melakukan banyak kebaikan lainnya dengan ikhlas karena Allah.
Apalah manfaatnya banyak harta, sehat badan, memiliki kekuasaan serta keunggulan lainnya jika tidak beriman kepada Allah atau tidak digunakan dijalan-Nya maka semuanya menjadi tidak bernilai disisi-Nya.
Begitu juga dalam memiliki seorang anak, berusahalah yang pertama kali kita doa dan upayakan adalah menjadi anak yang shaleh, baru kemudian berusaha dan berdoa agar menjadi anak yang cerdas, terampil, sehat, ceria serta berbagai kelebihan lainnya.
Apalah artinya memiliki anak yang sehat, cerdas, kaya, ceria, terampil dan hal baik lainnya jika dia tidak shaleh. Karena bila seorang anak tidak shaleh maka semua nilai positif lainnya menjadi tidak bermanfaat buat kita di dunia maupun di akhirat kelak.
Ingatlah hadist berikut ini:
Rasulullah saw bersabda: “Sebaik-baik harta adalah harta yang dimiliki oleh hamba yang Shalih .” (HR. Ahmad 4/197)
Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi Muhammad s.a.w bersabda: "Apabila seorang anak Adam mati putuslah amalnya kecuali tiga perkara : sedekah jariah,atau ilmu yang memberi manfaat kepada orang lain atau anak yang soleh yang berdoa untuknya."
(Hadith Sahih - Riwayat Muslim)
Semoga kita semua memiliki keimanan yang benar dan dianugrahi anak2 yang shaleh.
ﺭَﺏِّ ﺍﺟْﻌَﻠْﻨِﻲ ﻣُﻘِﻴﻢَ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓِ ﻭَﻣِﻦْ
ﺫُﺭِّﻳَّﺘِﻲ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻭَﺗَﻘَﺒَّﻞْ ﺩُﻋَﺎﺀِ ( 40
"Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah do'aku." (Qs. Ibrahim ayat 40)
(Gantira, 16 Oktober 2016, Bogor)
Sebuah nilai 0 tidak akan mengandung nilai jika letaknya berada disebelah kiri angka 1, walaupun jumlahnya sangat banyak bahkan bila tidak memiliki angka 1 maka nilainya tetap 0. Namun bilangan nol sangat berarti bila letaknya disebelah kanan angka 1, dan akan semakin besar nilainya jika angka nol itu semakin banyak.
Contoh:
a. Angka biner 0000 0000 mengandung nilai desimal 0
b. Angka biner 0000 0001 mengandung nilai desimal 1
c. Angka biner 0000 0010 mengandung nilai desimal 2
d. Angka biner 0000 0100 mengandung nilai desimal 4
.
.
q. Angka biner 0001 000 mengandung nilai desimal 16
Dan seterusnya, semakin banyak angka nol yang letaknya di kanan angka 1 maka nilai desimalnya semakin besar.
Dalam kehidupan kita pun bisa diumpamakan dengan perhitungan bilangan biner ini. Bila kita beriman kepada Allah maka kita telah memiliki nilai angka 1. Bila kita sering bershadaqah maka shadaqah ini dinilai nol. Jika shadaqah kita karena Allah maka nilai nol ini diletakkan disebelah kanan angka 1 sehingga shadaqah kita bernilai, namun jika shadaqah kita hanya ingin mendapatkan pujian manusia maka nilai nol ini diletakkan disebelah kiri angka 1 sehingga tidak ada nilainya. Begitu juga perbuatan2 baik lainnya.
Hal yang sama juga bisa di dinilai dengan bilangan biner dalam kehidupan anak2 kita. Jika anak kita adalah anak yang shaleh maka dia bernilai angka 1. Bila kemampuannya meningkat dengan memiliki kepintaran maka dia memiliki angka nol yang akan berarti bila nol ini diletakkan di kanan angka 1 atau didasari dengan keshalihannya. Bila bertambah lagi dengan anugrah lainnya, seperti tampan, lincah, sehat, trampil, ceria maka nilai nolnya semakin banyak.
Dari perumpamaan2 di atas, maka dalam kehidupan ini yang pertama kali harus diperjuangkan adalah memiliki angka 1. Dimana dalam kehidupan kita yang harus diutamakan adalah memiliki keimanan yang benar, baru kemudian kekayaan yang digunakan untuk memperbanyak shadaqah, kesehatan yang banyak menolong orang lain, kekuasaan untuk menegakkan keadilan, kepintaran untuk memajukan agama Allah serta melakukan banyak kebaikan lainnya dengan ikhlas karena Allah.
Apalah manfaatnya banyak harta, sehat badan, memiliki kekuasaan serta keunggulan lainnya jika tidak beriman kepada Allah atau tidak digunakan dijalan-Nya maka semuanya menjadi tidak bernilai disisi-Nya.
Begitu juga dalam memiliki seorang anak, berusahalah yang pertama kali kita doa dan upayakan adalah menjadi anak yang shaleh, baru kemudian berusaha dan berdoa agar menjadi anak yang cerdas, terampil, sehat, ceria serta berbagai kelebihan lainnya.
Apalah artinya memiliki anak yang sehat, cerdas, kaya, ceria, terampil dan hal baik lainnya jika dia tidak shaleh. Karena bila seorang anak tidak shaleh maka semua nilai positif lainnya menjadi tidak bermanfaat buat kita di dunia maupun di akhirat kelak.
Ingatlah hadist berikut ini:
Rasulullah saw bersabda: “Sebaik-baik harta adalah harta yang dimiliki oleh hamba yang Shalih .” (HR. Ahmad 4/197)
Dari Abu Hurairah r.a. bahwa Nabi Muhammad s.a.w bersabda: "Apabila seorang anak Adam mati putuslah amalnya kecuali tiga perkara : sedekah jariah,atau ilmu yang memberi manfaat kepada orang lain atau anak yang soleh yang berdoa untuknya."
(Hadith Sahih - Riwayat Muslim)
Semoga kita semua memiliki keimanan yang benar dan dianugrahi anak2 yang shaleh.
ﺭَﺏِّ ﺍﺟْﻌَﻠْﻨِﻲ ﻣُﻘِﻴﻢَ ﺍﻟﺼَّﻠَﺎﺓِ ﻭَﻣِﻦْ
ﺫُﺭِّﻳَّﺘِﻲ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻭَﺗَﻘَﺒَّﻞْ ﺩُﻋَﺎﺀِ ( 40
"Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, ya Tuhan kami, perkenankanlah do'aku." (Qs. Ibrahim ayat 40)
(Gantira, 16 Oktober 2016, Bogor)
Wednesday, 12 October 2016
"Seperti Apakah Orang Bodoh Itu ?"
Setiap orang mendefinisikan kata 'bodoh' dengan definisi yang berbeda2. Ada yang mengatakan bahwa bodoh adalah orang yang tidak mengerti apa yang kita sampaikan, orang yang tidak bisa membaca, orang yang tidak bisa menghitung, bahkan ada juga orang yang mengatakan bahwa orang bodoh adalah orang yang polos dan jujur sehingga tidak bisa berkelit dalam menutupi kesalahannya. Dan banyak lagi definisi lainnya tergantung dari sudut pandang yang berbeda2.
Sebagai sebuah contoh yang sederhana, misalkan ada empat orang yang sedang berkumpul yang terdiri dari:
1. Orang pertama adalah seorang guru besar ahli tumbuh2an, dia mengetahui dengan jelas berbagai jenis tumbuhan yang beracun dan penangkalnya.
2. Orang kedua adalah seorang murid yang memiliki otak yang sangat cerdas, dia bisa memahami setiap detail apa yang diterangkan gurunya.
3. Orang ketiga adalah seorang murid yang sangat kritis, dia selalu mendebat apapun yang dikatakan gurunya berdasarkan penalaran dia.
4. Orang keempat adalah seorang murid yang sulit memahami ilmu secara detail dari yang disampaikan gurunya. Tapi dia selalu berusaha melakukan apa yang bisa dia tangkap.
Suatu hari secara tidak sengaja karena tidak bisa menahan rasa lapar mereka memakan sebuah tumbuhan yang beracun. Melihat hal itu, lalu orang pertama menjelaskan kepada murid2nya jenis tumbuhan yang mereka makan secara detail, dari segi jenisnya, zat2 yang dikandungnya serta penangkalnya.
Murid pertama terus mendengarkan dengan seksama dan tahu dengan percis setiap kata yang disampaikan oleh gurunya.
Murid kedua selalu membantah dan mengkritisi setiap kata yang disampaikan gurumya.
Sedangkan murid ke tiga hanya mencoba memahami apa yang bisa dipahaminya lalu berusaha untuk segera mengamalkannya.
Beberapa waktu kemudian, ketiga orang itu mati kecuali orang yang ke empat karena orang yang ke empat hanya memahami bahwa penangkal buah racun itu ada di sekitar itu dan dia langsung memakannya tanpa terlalu memusingkan setiap detail zat yang tak dipahaminya.
Siapakah diantara mereka yang termasuk orang bodoh?
Pada saat sebelum kejadian itu, mungkin sebagian besar orang menganggap bahwa yang paling bodoh adalah orang ke empat. Tapi setelah kejadian itu, semua orang kemungkinan akan sepakat bahwa semua orang dari keempat itu bodoh kecuali orang ke empat. Karena hanya dia yang selamat.
Jadi apa sebenarnya definisi bodoh itu?
Untuk lebih jelasnya pengertian bodoh ini, mari kita pahami apa yang disampaikan oleh Al-quran, Rasulullah, sahabat dan ulama terkait pengertian bodoh ini.
Salah satu ayat yang menyebutkan kata bodoh terdapat dalam salah satu firman-Nya:
"Kalau sekiranya kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka (menjadi saksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah), niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui (bodoh). [Al-An'aam:111]
Di dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Orang yg pintar ialah siapa saja yg menundukkan jiwanya (utk melakukan ketaatan kpd Allah, dan ia selalu beramal (sebagai bekal) untuk kehidupan setelah kematian. Sedangkan orang yg bodoh (lemah) itu ialah siapa saja yg selalu mengikuti bisikan (buruk) jiwanya, dan ia berangan-angan tinggi kepada Allah (namun tanpa disertai iman dan amal).”
Seorang sahabat, Abu Darda’ radhiyallahu anhu berkata: “Tanda orang bodoh itu ada 3 (tiga), yaitu:
1. Bangga diri.
2. Banyak bicara dalam hal yg tidak bermanfaat.
3. Melarang orang lain dari suatu perbuatan, namun ia sendiri melakukannya.” (Lihat ‘Uyuunu Al-Akhbaar, karya Ibnu Qutaibah II/39).
Sedangkan seorang ulama, Ibn Jamz berkata: "Ciri-ciri orang bodoh : diam dari apa yang bermanfaat untuk dirinya, dan bicara akan hal-hal yang justru akan memberinya madharat [Ibnu Hazm]"
Dari uraian definisi bodoh berdasarkan al-qur'an, hadist, sahabat dan ulama, secara sederhananya dapat kita katakan bahwa yang dimaksud dengan bodoh adalah orang yang mengetahui kebenaran tapi dia tidak mengikutinya atau tidak mengamalkannya dan orang yang mengetahui kesalahan tapi dia tetap melakukannya. Hal itu dilakukan bisa disebabkan karena kelalaiannya, kemalasannya, kekikirannya, kesombongannya ataupun karena keras kepala.
Sebagian besar dari kita tahu bahwa shalat tepat waktu itu sangat bagus, namun banyak dari kita yang enggan melakukannya.
Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda : “…Seandainya orang-orang mengetahui pahala Azan dan barisan (shaf) pertama, lalu mereka tidak akan memperolehnya kecuali dengan ikut undian, niscaya mereka akan berundi. Dan seandainya mereka mengetahui pahala menyegerakan shalat pada awal waktu, niscaya mereka akan berlomba-lomba melaksanakannya. Dan seandainya mereka mengetahui pahala shalat Isya dan Subuh, niscaya mereka akan mendatanginya meskipun dengan jalan merangkak.” (HR. Bukhari).
Banyak diantara kita pun yang tahu bahwa shalat tahajud itu sangat bermanfaat, tapi banyak juga diantara kita yang malas melakukannya.
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Nabi SAW bersabda: " Allah turun ke langit dunia setiap malam pada 1/3 malam terakhir. Allah lalu berfirman, Siapa yang berdoa kepada-Ku niscaya Aku kabulkan! Siapa yang meminta kepada-Ku niscaya Aku beri! Siapa yang meminta ampun kepada- Ku tentu Aku ampuni. Demikianlah keadaannya hingga terbit fajar" ( HR. Bukhari no. 145 dan Muslim no.758 )
Banyak diantara kita yang tahu bahwa shadaqah akan membuat harta bertambah, namun banyak diantara kita berat melakukannya.
"Tidak akan pernah berkurang harta yang disedekahkan kecuali ia bertambah...bertambah...bertambah...” (HR. Al Tirmidzi)
Rasulullah SAW bersabda: “Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR. Tirmidzi, di shahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi, 614)
Banyak diantara kita yang tahu bahwa membicarakan kejelekan orang lain adalah sebuah perkara yang dibenci Allah, tapi banyak diantara kita yang tetap melakukannya.
“Dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (Q. S. Al-Hujurat : 12).
Banyak diantara kita yang tahu, bahwa daging yang tumbuh dari uang haram itu akan membawa kita menerapkan, tapi diantara kita banyak malah yang mengejarnya.
Nabi berkata:
Tiap tubuh yang tumbuh dari (makanan) yang haram maka api neraka lebih utama membakarnya. (HR. Ath-Thabrani)
Banyak diantara kita yang tahu bahwa menjaga pandangan itu adalah perbuatan mulia, tapi banyak diantara kita malah mengumbar pandangan kita untuk melihat auratf orang lain.
“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman , “Hendaklah mereka menundukkan pandanganya, dan menjaga kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. (QS : An Nuur [24] : 30).
Dan banyak lagi yang kita tahu dan yakini apa2 yang bagus untuk dilakukan tapi kita malah tidak mengerjakannya dan banyak juga hal2 yang seharusnya kita hindari justru kita terjerumus melakukannya.
Kalau lihat dari definisi tentang bodoh di atas, apakah kita juga termasuk salah satu orang bodoh?
“Ya Allah ya Tuhan kami, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu daripada keluh kesah dan dukacita, aku berlindung kepada-Mu dari lemah kemauan dan malas, aku berlindung kepada-Mu daripada sifat pengecut dan kikir, aku berlindung kepada-Mu daripada tekanan hutang dan kezaliman manusia.” (HR Abu Dawud 4/353)
..aamiin..aamiin yra..
(Gantira, 13 Oktober 2016, Bogor)
Sebagai sebuah contoh yang sederhana, misalkan ada empat orang yang sedang berkumpul yang terdiri dari:
1. Orang pertama adalah seorang guru besar ahli tumbuh2an, dia mengetahui dengan jelas berbagai jenis tumbuhan yang beracun dan penangkalnya.
2. Orang kedua adalah seorang murid yang memiliki otak yang sangat cerdas, dia bisa memahami setiap detail apa yang diterangkan gurunya.
3. Orang ketiga adalah seorang murid yang sangat kritis, dia selalu mendebat apapun yang dikatakan gurunya berdasarkan penalaran dia.
4. Orang keempat adalah seorang murid yang sulit memahami ilmu secara detail dari yang disampaikan gurunya. Tapi dia selalu berusaha melakukan apa yang bisa dia tangkap.
Suatu hari secara tidak sengaja karena tidak bisa menahan rasa lapar mereka memakan sebuah tumbuhan yang beracun. Melihat hal itu, lalu orang pertama menjelaskan kepada murid2nya jenis tumbuhan yang mereka makan secara detail, dari segi jenisnya, zat2 yang dikandungnya serta penangkalnya.
Murid pertama terus mendengarkan dengan seksama dan tahu dengan percis setiap kata yang disampaikan oleh gurunya.
Murid kedua selalu membantah dan mengkritisi setiap kata yang disampaikan gurumya.
Sedangkan murid ke tiga hanya mencoba memahami apa yang bisa dipahaminya lalu berusaha untuk segera mengamalkannya.
Beberapa waktu kemudian, ketiga orang itu mati kecuali orang yang ke empat karena orang yang ke empat hanya memahami bahwa penangkal buah racun itu ada di sekitar itu dan dia langsung memakannya tanpa terlalu memusingkan setiap detail zat yang tak dipahaminya.
Siapakah diantara mereka yang termasuk orang bodoh?
Pada saat sebelum kejadian itu, mungkin sebagian besar orang menganggap bahwa yang paling bodoh adalah orang ke empat. Tapi setelah kejadian itu, semua orang kemungkinan akan sepakat bahwa semua orang dari keempat itu bodoh kecuali orang ke empat. Karena hanya dia yang selamat.
Jadi apa sebenarnya definisi bodoh itu?
Untuk lebih jelasnya pengertian bodoh ini, mari kita pahami apa yang disampaikan oleh Al-quran, Rasulullah, sahabat dan ulama terkait pengertian bodoh ini.
Salah satu ayat yang menyebutkan kata bodoh terdapat dalam salah satu firman-Nya:
"Kalau sekiranya kami turunkan malaikat kepada mereka, dan orang-orang yang telah mati berbicara dengan mereka dan kami kumpulkan (pula) segala sesuatu ke hadapan mereka (menjadi saksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah), niscaya mereka tidak (juga) akan beriman, kecuali jika Allah menghendaki, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui (bodoh). [Al-An'aam:111]
Di dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Orang yg pintar ialah siapa saja yg menundukkan jiwanya (utk melakukan ketaatan kpd Allah, dan ia selalu beramal (sebagai bekal) untuk kehidupan setelah kematian. Sedangkan orang yg bodoh (lemah) itu ialah siapa saja yg selalu mengikuti bisikan (buruk) jiwanya, dan ia berangan-angan tinggi kepada Allah (namun tanpa disertai iman dan amal).”
Seorang sahabat, Abu Darda’ radhiyallahu anhu berkata: “Tanda orang bodoh itu ada 3 (tiga), yaitu:
1. Bangga diri.
2. Banyak bicara dalam hal yg tidak bermanfaat.
3. Melarang orang lain dari suatu perbuatan, namun ia sendiri melakukannya.” (Lihat ‘Uyuunu Al-Akhbaar, karya Ibnu Qutaibah II/39).
Sedangkan seorang ulama, Ibn Jamz berkata: "Ciri-ciri orang bodoh : diam dari apa yang bermanfaat untuk dirinya, dan bicara akan hal-hal yang justru akan memberinya madharat [Ibnu Hazm]"
Dari uraian definisi bodoh berdasarkan al-qur'an, hadist, sahabat dan ulama, secara sederhananya dapat kita katakan bahwa yang dimaksud dengan bodoh adalah orang yang mengetahui kebenaran tapi dia tidak mengikutinya atau tidak mengamalkannya dan orang yang mengetahui kesalahan tapi dia tetap melakukannya. Hal itu dilakukan bisa disebabkan karena kelalaiannya, kemalasannya, kekikirannya, kesombongannya ataupun karena keras kepala.
Sebagian besar dari kita tahu bahwa shalat tepat waktu itu sangat bagus, namun banyak dari kita yang enggan melakukannya.
Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda : “…Seandainya orang-orang mengetahui pahala Azan dan barisan (shaf) pertama, lalu mereka tidak akan memperolehnya kecuali dengan ikut undian, niscaya mereka akan berundi. Dan seandainya mereka mengetahui pahala menyegerakan shalat pada awal waktu, niscaya mereka akan berlomba-lomba melaksanakannya. Dan seandainya mereka mengetahui pahala shalat Isya dan Subuh, niscaya mereka akan mendatanginya meskipun dengan jalan merangkak.” (HR. Bukhari).
Banyak diantara kita pun yang tahu bahwa shalat tahajud itu sangat bermanfaat, tapi banyak juga diantara kita yang malas melakukannya.
Diriwayatkan oleh Abu Hurairah bahwa Nabi SAW bersabda: " Allah turun ke langit dunia setiap malam pada 1/3 malam terakhir. Allah lalu berfirman, Siapa yang berdoa kepada-Ku niscaya Aku kabulkan! Siapa yang meminta kepada-Ku niscaya Aku beri! Siapa yang meminta ampun kepada- Ku tentu Aku ampuni. Demikianlah keadaannya hingga terbit fajar" ( HR. Bukhari no. 145 dan Muslim no.758 )
Banyak diantara kita yang tahu bahwa shadaqah akan membuat harta bertambah, namun banyak diantara kita berat melakukannya.
"Tidak akan pernah berkurang harta yang disedekahkan kecuali ia bertambah...bertambah...bertambah...” (HR. Al Tirmidzi)
Rasulullah SAW bersabda: “Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api.” (HR. Tirmidzi, di shahihkan Al Albani dalam Shahih At Tirmidzi, 614)
Banyak diantara kita yang tahu bahwa membicarakan kejelekan orang lain adalah sebuah perkara yang dibenci Allah, tapi banyak diantara kita yang tetap melakukannya.
“Dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (Q. S. Al-Hujurat : 12).
Banyak diantara kita yang tahu, bahwa daging yang tumbuh dari uang haram itu akan membawa kita menerapkan, tapi diantara kita banyak malah yang mengejarnya.
Nabi berkata:
Tiap tubuh yang tumbuh dari (makanan) yang haram maka api neraka lebih utama membakarnya. (HR. Ath-Thabrani)
Banyak diantara kita yang tahu bahwa menjaga pandangan itu adalah perbuatan mulia, tapi banyak diantara kita malah mengumbar pandangan kita untuk melihat auratf orang lain.
“Katakanlah kepada laki-laki yang beriman , “Hendaklah mereka menundukkan pandanganya, dan menjaga kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”. (QS : An Nuur [24] : 30).
Dan banyak lagi yang kita tahu dan yakini apa2 yang bagus untuk dilakukan tapi kita malah tidak mengerjakannya dan banyak juga hal2 yang seharusnya kita hindari justru kita terjerumus melakukannya.
Kalau lihat dari definisi tentang bodoh di atas, apakah kita juga termasuk salah satu orang bodoh?
“Ya Allah ya Tuhan kami, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu daripada keluh kesah dan dukacita, aku berlindung kepada-Mu dari lemah kemauan dan malas, aku berlindung kepada-Mu daripada sifat pengecut dan kikir, aku berlindung kepada-Mu daripada tekanan hutang dan kezaliman manusia.” (HR Abu Dawud 4/353)
..aamiin..aamiin yra..
(Gantira, 13 Oktober 2016, Bogor)
Saturday, 8 October 2016
"Hukum Aksi dan Reaksi Dalam Islam"
Hukum aksi dan reaksi dikenal juga sebagai hukum Newton 3, dimana uraian lengkap dari hukum ini adalah “Jika benda pertama mengerjakan gaya terhadap benda kedua, maka benda kedua akan mengerjakan gaya terhadap benda pertama yang besarnya sama, tetapi arahnya berlawanan”.
Kalau kita amati dengan seksama, ternyata Hukum Newton 3 ini hanya berlaku pada benda mati, dan tidak berlaku pada benda hidup.
Sebagai contoh tidak selamanya bila kita berbuat baik pada seseorang, maka orang itu pasti berbuat baik pada kita. Karena ternyata setiap orang memiliki karakter dan akhlak yang berbeda2. Sehingga wajar saja ada pribahasa yang menyebutkan bahwa "air susu dibalas dengan air tuba", yaitu suatu tindakan kebaikan dibalas dengan tindakan kejahatan.
Fenomena di atas berlawanan dengan hukum Newton tiga dimana bila kita berbuat baik pada orang lain mestinya orang tersebut berbuat baik pula pada kita.
Namun berbeda dengan hukum aksi dan reaksi dalam Islam, pasti hukum ini berlaku pada semua makhluk hidup yang ada di dunia ini, baik aksi dan reaksi yang positip maupun aksi dan reaksi yang negatif.
Beberapa contoh untuk hukum aksi reaksi positif yang berlaku dalam Islam, diantaranya adalah
1. Barangsiapa yang mencintai penduduk bumi maka penduduk langit akan mencintainya
Rasulullah bersabda: “Orang-orang penyayang, pasti disayangi Allah. Maka sayangilah setiap penduduk bumi, niscaya engkau akan di sayangi oleh penghuni langit -yakni para malaikat-. (HR Abu Daud, Lihat Shahihul jami’ 3522).
Dari hadist di atas dinyatakan dengan jelas akan hukum aksi dan reaksi ini, yaitu jika seseorang menyayangi penduduk bumi semata2 karena Allah maka penduduk langit akan menyayanginya. Sehingga wajar saja hidupnya penuh berkah, dimana saat dia menolong seseorang, dia tidak mengharapkan balasan dari orang yang ditolong karena keyakinannya menyatakan bahwa Allah Maha Melihat dan pasti akan dibalas-Nya melalui jalur mana saja sesuai dengan kehendak-Nya.
2. Bertobat dan istigfar akan mendatangkan rizqi serta memberikan jalan keluar dari permasalahan yang ada
Rasulullah bersabda,”Barangsiapa yang senantiasa beristighfar, maka Allah akan memberikan kegembiraan dari setiap kesedihannya, dan kelapangan bagi setiap kesempitannya dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangka,”(HR.Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad).
Dalam hadist ini dijelaskan bahwa hukum reaksi dari aksi memperbanyak istighfar adalah dapat membuat hati kita lapang karena setiap ada kesulitan diberikan pula jalan keluarnya serta reaksi lainnya adalah akan mendapatkan rizqi dari tempat yang tak disangka2. Serta banyak lagi dalil dalil lainnya yang menerangkan tentang reaksi yang akan ditimbulkan akibat aksi memperbanyak istighfar ini.
3. Bershadaqah akan menambah harta yang ada
"Tidak akan pernah berkurang harta yang disedekahkan kecuali ia bertambah...bertambah...bertambah...” (HR. Al Tirmidzi)
Dari hadist ini dijelaskan bahwa reaksi dari aksi memperbanyak shadaqah bukanlah semakin mengurangi harta, tapi malah akan menambah harta yang ada. Jadi kunci utama agar harta terus bertambah itu bukan dengan cara aksi mencuri, atau mengambil hak orang lain, tapi justru dengan aksi memberikan hak kita pada orang lain. Inilah hukum aksi reaksi yang berlaku dalam shadaqah.
Dan banyak lagi hukum aksi reaksi yang bernilai positif.
Sedangkan beberapa contoh aksi dan reaksi yang bersifat negatif, kita bisa mengutif dari salah satu hadist berikut ini:
Dari Abdullah bin Umar dia berkata, "Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menghadapkan wajah ke kami dan bersabda: "Wahai golongan Muhajirin, lima perkara apabila kalian mendapat cobaan dengannya, dan aku berlindung kepada Allah semoga kalian tidak mengalaminya; (1) Tidaklah kekejian menyebar di suatu kaum, kemudian mereka melakukannya dengan terang-terangan kecuali akan tersebar di tengah mereka penyakit Tha’un dan kelaparan yang belum pernah terjadi terhadap para pendahulu mereka. (2) Tidaklah mereka mengurangi timbangan dan takaran kecuali mereka akan disiksa dengan kemarau berkepanjangan dan penguasa yang zhalim. (3) Tidaklah mereka enggan membayar zakat harta-harta mereka kecuali langit akan berhenti meneteskan air untuk mereka, kalau bukan karena hewan-hewan ternak niscaya mereka tidak akan beri hujan. (4) Tidaklah mereka melanggar janji Allah dan Rasul-Nya kecuali Allah akan kuasakan atas mereka musuh dari luar mereka dan menguasainya. Dan (5) tidaklah pemimpin-pemimpin mereka enggan menjalankan hukum-hukum Allah dan tidak menganggap lebih baik apa yang diturunkan Allah, kecuali Allah akan menjadikan rasa takut di antara mereka." (HR Ibnu Majah 4009)
Dari hadist di atas menjelaskan bahwa akan ada reaksi dari aksi negatif yang dilakukannya, beberapa diantaranya adalah:
1. Bila ada aksi berupa kekejian yang menyebar di suatu kaum, kemudian mereka melakukannya dengan terang-terangan, maka akan ada reaksi dengan tersebar di tengah mereka penyakit Tha’un dan kelaparan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
2. Bila ada aksi perbuatan para pedagang yang mengurangi timbangan dan takaran maka akan ada reaksi datangnya kemarau berkepanjangan dan penguasa yang zhalim.
3. Bila ada aksi masyarakat yang enggan membayar zakat harta-harta mereka maka akan ada reaksi langit akan berhenti meneteskan air hujan, kalau bukan karena hewan-hewan ternak niscaya hujan akan berhenti sama sekali.
4. Bila ada aksi masyarakat yang melanggar perintah Allah dan Rasul-Nya maka akan ada reaksi Allah akan menguasakan atas mereka musuh dari luar mereka dan menguasainya.
5. Bila ada aksi pemimpin-pemimpin mereka enggan menjalankan hukum-hukum Allah dan tidak menganggap lebih baik apa yang diturunkan Allah, maka akan ada reaksi bahwa Allah akan menjadikan rasa takut di antara mereka."
Dan banyak lagi dalil2 lainnya yang menerangkan tentang aksi dan reaksi negatif yang berlaku dalam kehidupan ini.
Jadi hukum aksi dan reaksi dalam islam berbeda dengan hukum aksi dan reaksi yang diungkapkan oleh Newton. Karena hukum Newton reaksinya hanya datang pada objek yang diperlakukan. Sedangkan dalam hukum aturan Islam reaksinya bisa datang dari mana saja, tidak mesti dari objek yang kita perlakukan.
Semoga kita senantiasa melakukan aksi yang positif agar kita senantiasa mendapatkan reaksi yang positif juga, aamiin..3x yra.
(Gantira, 9 Oktober 2016, Bogor)
Kalau kita amati dengan seksama, ternyata Hukum Newton 3 ini hanya berlaku pada benda mati, dan tidak berlaku pada benda hidup.
Sebagai contoh tidak selamanya bila kita berbuat baik pada seseorang, maka orang itu pasti berbuat baik pada kita. Karena ternyata setiap orang memiliki karakter dan akhlak yang berbeda2. Sehingga wajar saja ada pribahasa yang menyebutkan bahwa "air susu dibalas dengan air tuba", yaitu suatu tindakan kebaikan dibalas dengan tindakan kejahatan.
Fenomena di atas berlawanan dengan hukum Newton tiga dimana bila kita berbuat baik pada orang lain mestinya orang tersebut berbuat baik pula pada kita.
Namun berbeda dengan hukum aksi dan reaksi dalam Islam, pasti hukum ini berlaku pada semua makhluk hidup yang ada di dunia ini, baik aksi dan reaksi yang positip maupun aksi dan reaksi yang negatif.
Beberapa contoh untuk hukum aksi reaksi positif yang berlaku dalam Islam, diantaranya adalah
1. Barangsiapa yang mencintai penduduk bumi maka penduduk langit akan mencintainya
Rasulullah bersabda: “Orang-orang penyayang, pasti disayangi Allah. Maka sayangilah setiap penduduk bumi, niscaya engkau akan di sayangi oleh penghuni langit -yakni para malaikat-. (HR Abu Daud, Lihat Shahihul jami’ 3522).
Dari hadist di atas dinyatakan dengan jelas akan hukum aksi dan reaksi ini, yaitu jika seseorang menyayangi penduduk bumi semata2 karena Allah maka penduduk langit akan menyayanginya. Sehingga wajar saja hidupnya penuh berkah, dimana saat dia menolong seseorang, dia tidak mengharapkan balasan dari orang yang ditolong karena keyakinannya menyatakan bahwa Allah Maha Melihat dan pasti akan dibalas-Nya melalui jalur mana saja sesuai dengan kehendak-Nya.
2. Bertobat dan istigfar akan mendatangkan rizqi serta memberikan jalan keluar dari permasalahan yang ada
Rasulullah bersabda,”Barangsiapa yang senantiasa beristighfar, maka Allah akan memberikan kegembiraan dari setiap kesedihannya, dan kelapangan bagi setiap kesempitannya dan memberinya rizki dari arah yang tiada disangka-sangka,”(HR.Abu Daud, Ibnu Majah dan Ahmad).
Dalam hadist ini dijelaskan bahwa hukum reaksi dari aksi memperbanyak istighfar adalah dapat membuat hati kita lapang karena setiap ada kesulitan diberikan pula jalan keluarnya serta reaksi lainnya adalah akan mendapatkan rizqi dari tempat yang tak disangka2. Serta banyak lagi dalil dalil lainnya yang menerangkan tentang reaksi yang akan ditimbulkan akibat aksi memperbanyak istighfar ini.
3. Bershadaqah akan menambah harta yang ada
"Tidak akan pernah berkurang harta yang disedekahkan kecuali ia bertambah...bertambah...bertambah...” (HR. Al Tirmidzi)
Dari hadist ini dijelaskan bahwa reaksi dari aksi memperbanyak shadaqah bukanlah semakin mengurangi harta, tapi malah akan menambah harta yang ada. Jadi kunci utama agar harta terus bertambah itu bukan dengan cara aksi mencuri, atau mengambil hak orang lain, tapi justru dengan aksi memberikan hak kita pada orang lain. Inilah hukum aksi reaksi yang berlaku dalam shadaqah.
Dan banyak lagi hukum aksi reaksi yang bernilai positif.
Sedangkan beberapa contoh aksi dan reaksi yang bersifat negatif, kita bisa mengutif dari salah satu hadist berikut ini:
Dari Abdullah bin Umar dia berkata, "Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menghadapkan wajah ke kami dan bersabda: "Wahai golongan Muhajirin, lima perkara apabila kalian mendapat cobaan dengannya, dan aku berlindung kepada Allah semoga kalian tidak mengalaminya; (1) Tidaklah kekejian menyebar di suatu kaum, kemudian mereka melakukannya dengan terang-terangan kecuali akan tersebar di tengah mereka penyakit Tha’un dan kelaparan yang belum pernah terjadi terhadap para pendahulu mereka. (2) Tidaklah mereka mengurangi timbangan dan takaran kecuali mereka akan disiksa dengan kemarau berkepanjangan dan penguasa yang zhalim. (3) Tidaklah mereka enggan membayar zakat harta-harta mereka kecuali langit akan berhenti meneteskan air untuk mereka, kalau bukan karena hewan-hewan ternak niscaya mereka tidak akan beri hujan. (4) Tidaklah mereka melanggar janji Allah dan Rasul-Nya kecuali Allah akan kuasakan atas mereka musuh dari luar mereka dan menguasainya. Dan (5) tidaklah pemimpin-pemimpin mereka enggan menjalankan hukum-hukum Allah dan tidak menganggap lebih baik apa yang diturunkan Allah, kecuali Allah akan menjadikan rasa takut di antara mereka." (HR Ibnu Majah 4009)
Dari hadist di atas menjelaskan bahwa akan ada reaksi dari aksi negatif yang dilakukannya, beberapa diantaranya adalah:
1. Bila ada aksi berupa kekejian yang menyebar di suatu kaum, kemudian mereka melakukannya dengan terang-terangan, maka akan ada reaksi dengan tersebar di tengah mereka penyakit Tha’un dan kelaparan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
2. Bila ada aksi perbuatan para pedagang yang mengurangi timbangan dan takaran maka akan ada reaksi datangnya kemarau berkepanjangan dan penguasa yang zhalim.
3. Bila ada aksi masyarakat yang enggan membayar zakat harta-harta mereka maka akan ada reaksi langit akan berhenti meneteskan air hujan, kalau bukan karena hewan-hewan ternak niscaya hujan akan berhenti sama sekali.
4. Bila ada aksi masyarakat yang melanggar perintah Allah dan Rasul-Nya maka akan ada reaksi Allah akan menguasakan atas mereka musuh dari luar mereka dan menguasainya.
5. Bila ada aksi pemimpin-pemimpin mereka enggan menjalankan hukum-hukum Allah dan tidak menganggap lebih baik apa yang diturunkan Allah, maka akan ada reaksi bahwa Allah akan menjadikan rasa takut di antara mereka."
Dan banyak lagi dalil2 lainnya yang menerangkan tentang aksi dan reaksi negatif yang berlaku dalam kehidupan ini.
Jadi hukum aksi dan reaksi dalam islam berbeda dengan hukum aksi dan reaksi yang diungkapkan oleh Newton. Karena hukum Newton reaksinya hanya datang pada objek yang diperlakukan. Sedangkan dalam hukum aturan Islam reaksinya bisa datang dari mana saja, tidak mesti dari objek yang kita perlakukan.
Semoga kita senantiasa melakukan aksi yang positif agar kita senantiasa mendapatkan reaksi yang positif juga, aamiin..3x yra.
(Gantira, 9 Oktober 2016, Bogor)
Thursday, 29 September 2016
"Mau Pilih yang Mana?"
Coba, kalau ada dua pilihan, kita ingin memilih mana?
1. Seorang yang jenius
Dia terus menemukan teknologi baru, lalu barangnya itu laku keras. Dari hasil penjualannya dia bisa membeli berbagai makanan dan kemewahan lainnya. Namun syaratnya dia harus terus berinovasi, karena kalau tidak berinovasi perusahaannya akan hancur dan dikalahkan oleh perusahaan lain yang zaman ini tidak pernah berhenti dalam berinovasi sebagaimana hancurnya Nokia dan BB yang pernah jadi penguasa Hp no 1 di dunia ini.
Sehingga seluruh waktu hidupnya hanya dihabiskan dengan kerja keras dan terus berinovasi, tidak memiliki sedikit pun waktu untuk ibadah. Karena baginya waktu sangat berharga dalam menemukan teknologi baru.
Selain itu, tidak setiap orang dilahirkan memiliki otak jenius. Sehingga bagi orang yang memiliki IQ biasa2 saja, hanya gigit jari dan mimpi belaka jika mengharapkan menjadi orang yang sangat jenius ini.
2.Seorang yang sangat bertaqwa kepada Allah
Allah limpahkan kebahagiaan hidup baginya, semua keinginannya di dunia ini terpenuhi dari tempat yang tak di sangka2.
Rizkinya turun dari langit dan bumi, dimana bisa saja saat dia bertanam hasil pertaniannya berlimpah ruah, saat beternak hasilnya sangat memuaskan, saat berdagang keuntungannya terus bertambah, saat sebagai seorang peneliti idenya terus berdatangan, hujan terus menyirami perkebunannya, para langganan terus berdatangan, para karyawannya jujur, anak2nya taat, mitra bisnis nya segan menipunya.
Semakin banyak teman2nya yang sama2 bertakwa kehidupannya semakin berlimpah keberkahan. Dan syaratnya agar situasi ini tetap ada padanya adalah dia harus terus bertaqwa, jangan pernah berani meninggalkan perintah-Nya dan melanggar larangan-Nya. Kalau hal ini terjadi maka keistimewaannya akan terhenti dan tidak ada lagi jaminan hidupnya akan berkah lagi.
Sehingga untuk mempertahankan kenikmatan hidup yang dialaminya saat itu, maka dia harus terus bekerja keras meningkatkan ketakwaannya.
Disamping itu, pada dasarnya setiap orang bisa menggapai ketakwaan ini. Hal ini tergantung dari keikhlasan hatinya untuk tidak sombong dalam mengakui kekuasaan-Nya serta taat secara totalitas pada semua aturan-Nya.
Ingatlah beberapa hadist dan ayat berikut ini:
Rasulullahsaw pernah bersabda,
“Barangsiapa yang kehidupan akhirat menjadi tujuan utamanya, niscaya Allah akan meletakkan rasa cukup di dalam hatinya dan menghimpun semua urusan untuknya serta datanglah dunia kepadanya dengan hina. Tapi barangsiapa yang kehidupan dunia menjadi tujuan utamanya, niscaya Allah meletakkan kefakiran di hadapan kedua matanya dan mencerai-beraikan urusannya dan dunia tidak bakal datang kepadanya, kecuali sekedar yang telah ditetapkan untuknya.” (HR. Tirmidzi)
Allah SWT berfirman: “ Barang siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia ini tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan ” (QS. Hud[11]: 15-16).
“Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya.” (QS. Ath-Thalaq [65]:2-3)
Dia juga berfirman, “Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. Ath-Thalaq [65]:4)
Ayo mau pilih yang mana?
(Gantira, 30 September 2016, Bogor)
1. Seorang yang jenius
Dia terus menemukan teknologi baru, lalu barangnya itu laku keras. Dari hasil penjualannya dia bisa membeli berbagai makanan dan kemewahan lainnya. Namun syaratnya dia harus terus berinovasi, karena kalau tidak berinovasi perusahaannya akan hancur dan dikalahkan oleh perusahaan lain yang zaman ini tidak pernah berhenti dalam berinovasi sebagaimana hancurnya Nokia dan BB yang pernah jadi penguasa Hp no 1 di dunia ini.
Sehingga seluruh waktu hidupnya hanya dihabiskan dengan kerja keras dan terus berinovasi, tidak memiliki sedikit pun waktu untuk ibadah. Karena baginya waktu sangat berharga dalam menemukan teknologi baru.
Selain itu, tidak setiap orang dilahirkan memiliki otak jenius. Sehingga bagi orang yang memiliki IQ biasa2 saja, hanya gigit jari dan mimpi belaka jika mengharapkan menjadi orang yang sangat jenius ini.
2.Seorang yang sangat bertaqwa kepada Allah
Allah limpahkan kebahagiaan hidup baginya, semua keinginannya di dunia ini terpenuhi dari tempat yang tak di sangka2.
Rizkinya turun dari langit dan bumi, dimana bisa saja saat dia bertanam hasil pertaniannya berlimpah ruah, saat beternak hasilnya sangat memuaskan, saat berdagang keuntungannya terus bertambah, saat sebagai seorang peneliti idenya terus berdatangan, hujan terus menyirami perkebunannya, para langganan terus berdatangan, para karyawannya jujur, anak2nya taat, mitra bisnis nya segan menipunya.
Semakin banyak teman2nya yang sama2 bertakwa kehidupannya semakin berlimpah keberkahan. Dan syaratnya agar situasi ini tetap ada padanya adalah dia harus terus bertaqwa, jangan pernah berani meninggalkan perintah-Nya dan melanggar larangan-Nya. Kalau hal ini terjadi maka keistimewaannya akan terhenti dan tidak ada lagi jaminan hidupnya akan berkah lagi.
Sehingga untuk mempertahankan kenikmatan hidup yang dialaminya saat itu, maka dia harus terus bekerja keras meningkatkan ketakwaannya.
Disamping itu, pada dasarnya setiap orang bisa menggapai ketakwaan ini. Hal ini tergantung dari keikhlasan hatinya untuk tidak sombong dalam mengakui kekuasaan-Nya serta taat secara totalitas pada semua aturan-Nya.
Ingatlah beberapa hadist dan ayat berikut ini:
Rasulullahsaw pernah bersabda,
“Barangsiapa yang kehidupan akhirat menjadi tujuan utamanya, niscaya Allah akan meletakkan rasa cukup di dalam hatinya dan menghimpun semua urusan untuknya serta datanglah dunia kepadanya dengan hina. Tapi barangsiapa yang kehidupan dunia menjadi tujuan utamanya, niscaya Allah meletakkan kefakiran di hadapan kedua matanya dan mencerai-beraikan urusannya dan dunia tidak bakal datang kepadanya, kecuali sekedar yang telah ditetapkan untuknya.” (HR. Tirmidzi)
Allah SWT berfirman: “ Barang siapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia ini tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan ” (QS. Hud[11]: 15-16).
“Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan ke luar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)-nya.” (QS. Ath-Thalaq [65]:2-3)
Dia juga berfirman, “Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.” (QS. Ath-Thalaq [65]:4)
Ayo mau pilih yang mana?
(Gantira, 30 September 2016, Bogor)
Saturday, 17 September 2016
"Arah Perbandingan"
Kadangkala, ada satu saat tertentu kita ingin membandingkan diri kita dengan teman kita, atau orang2 yang kita kenal.
Cobalah rasakan perbedaannya:
a. Saat kita membandingkan diri kita dengan orang lain yang wajahnya lebih tampan, hartanya lebih berlimpah, pasangannya lebih menarik, jabatannya lebih tinggi, aktifitas perjalanannya/wisata ke berbagai tempat/negara yang lebih banyak atau perbandingan dunia lainnya maka ---> hasilnya hati kita menjadi malu, tapi malu yang membuat hati makin gelisah dan tidak nyaman serta tidak terlalu menyukai orang yang kita bandingkan karena pada dasarnya kita tidak bisa menggapainya walaupun sudah bekerja keras lebih darinya. Jadi situasi dan suasana hati kita bukan makin baik.
b. Coba sekarang bandingkan diri kita dengan orang lain yang shalatnya lebih baik, puasa sunatnya lebih istiqomah, kesabarannya lebih besar, shadaqahnya lebih ikhlas, semangat menuntut ilmu agamanya lebih gigih, akhlaknya lebih baik atau perbandingan amal ibadah lainnya, maka --> hasilnya hati kita pun sama2 menjadi malu, tapi malu yang membuat hati tenang serta menyukai orang yang kita bandingkan tersebut karena pada dasarnya kita pun bisa melakukannya, namun usaha dan tekad kita belum sungguh2 untuk menggapainya.
Jadi, bila tiba2 muncul dorongan hati untuk membandingkan diri kita dengan orang lain, maka arahkanlah diri kita untuk membandingkan diri dengan orang lain yang amal akhiratnya lebih baik dari kita bukan dengan orang lain yang dunianya lebih berlimpah, niscaya suasananya hati kita akan lebih baik dan kebahagiaan hati kita akan semakin meningkat jika kita berusaha keras mengejarnya.
(Gantira, 18 September 2016, Bogor)
Cobalah rasakan perbedaannya:
a. Saat kita membandingkan diri kita dengan orang lain yang wajahnya lebih tampan, hartanya lebih berlimpah, pasangannya lebih menarik, jabatannya lebih tinggi, aktifitas perjalanannya/wisata ke berbagai tempat/negara yang lebih banyak atau perbandingan dunia lainnya maka ---> hasilnya hati kita menjadi malu, tapi malu yang membuat hati makin gelisah dan tidak nyaman serta tidak terlalu menyukai orang yang kita bandingkan karena pada dasarnya kita tidak bisa menggapainya walaupun sudah bekerja keras lebih darinya. Jadi situasi dan suasana hati kita bukan makin baik.
b. Coba sekarang bandingkan diri kita dengan orang lain yang shalatnya lebih baik, puasa sunatnya lebih istiqomah, kesabarannya lebih besar, shadaqahnya lebih ikhlas, semangat menuntut ilmu agamanya lebih gigih, akhlaknya lebih baik atau perbandingan amal ibadah lainnya, maka --> hasilnya hati kita pun sama2 menjadi malu, tapi malu yang membuat hati tenang serta menyukai orang yang kita bandingkan tersebut karena pada dasarnya kita pun bisa melakukannya, namun usaha dan tekad kita belum sungguh2 untuk menggapainya.
Jadi, bila tiba2 muncul dorongan hati untuk membandingkan diri kita dengan orang lain, maka arahkanlah diri kita untuk membandingkan diri dengan orang lain yang amal akhiratnya lebih baik dari kita bukan dengan orang lain yang dunianya lebih berlimpah, niscaya suasananya hati kita akan lebih baik dan kebahagiaan hati kita akan semakin meningkat jika kita berusaha keras mengejarnya.
(Gantira, 18 September 2016, Bogor)
Subscribe to:
Posts (Atom)
