Apa itu bahagia?
Secara umum definisi bahagia adalah segala sesuatu yang akan membuat hati kita senang dan tenang.
Dalam memperoleh kebahagiaan ini, ada beberapa orang yang menganggap kebahagiaan bisa diperoleh dengan:
1. Harta dan anak
Orang yang memahami bahwa kebahagiaan bisa didapat dengan harta dan anak, maka mereka akan berusaha keras mengejar dan mendapatkannya dengan segala cara. Sehingga setiap pertemuan, yang ditanyakan kepada orang lain adalah punya kendaraan apa, berapa banyak rumah dan luasnya serta berapa anak yang sudah mereka punyai. Padahal apalah manfaat banyaknya harta jika sebagian besar hartanya tidak dia manfaatkan dan tidak ditunaikan zakat hartanya, serta apalah artinya banyak anak jika mereka bukan anak2 yang shaleh.
Namun mereka yang menganggap bahwa kebahagiaan itu hanya bisa didapat dengan harta, mereka akan mendapatkan atau mempertahankan suami/istri yang menghasilkan harta yang banyak walaupun dirinya menderita disiksa oleh pasangannya itu. Atau mereka akan berusaha menipu banyak orang walaupun dirinya diliputi ketakutan dikejar oleh orang2 yang telah ditipunya.
Padahal dalam Surah At-Takasur ayat 1-3 disebutkan:
"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.
Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu)".
Pada surat yang sama dan ayat ke 6 disebutkan:
"niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahanam,"
dan ayat 8: "kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu, tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)."
2. Jabatan
Ada juga orang yang menganggap bahwa kebahagiaan itu didapat dengan jabatan. Sehingga banyak orang yang menghabiskan hartanya sampai ratusan juta bahkan milyaran untuk mendapatkan sebuah jabatan. Bahkan ada juga yang mengorbankan keluarga, sahabat dan teman2nya hanya untuk menggapai tujuannya tersebut dengan harapan banyak orang yang menyanjung dan memujinya, padahal pujian itu hanyalah berada di ujung lidah saja.
Disamping itu, yang namanya jabatan tetap ada konsekuensinya, yaitu dengan seabreg tugas dan tanggung jawab yang harus dilakukannya. Bahkan di akhirat kelak, seorang yang menjabat akan diminta pertanggung jawabannya.
Rasulullah saw bersabda, "
“Wahai Abu Dzar, engkau seorang yang lemah sementara kepemimpinan itu adalah amanat. Dan nanti pada hari kiamat, ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan kecuali orang yang mengambil dengan haknya dan menunaikan apa yang seharusnya ia tunaikan dalam kepemimpinan tersebut.” (Sahih, HR. Muslim no. 1825
3. Kemaksiatan
Ada orang yang sengaja berbuat maksiat semata2 karena ingin bahagia. Sehingga ada orang yang pergi ke diskotek, berjinah, mencuri, mabuk2an dengan harapan memperoleh kebahagiaan.
Memang harus diakui ada sebuah kenikmatan dalam melakukan sebuah kemaksiatan, sebagaimana ada kenikmatan juga dalam melakukan amal shaleh.
Namun kenikmatan yang diperoleh dalam bermaksiat tidak akan bertemu dengan kenikmatan dalam beramal shaleh. Dimana bagi orang yang senantiasa beramal shaleh itu merasa bahwa melakukan kemaksiatan itu hanyalah sebuah penderitaan belaka sebagaimana yang dirasakan oleh orang yang senantiasa bermaksiat merasa berat dalam berbuat amal shaleh.
Disamping itu kenikmatan dalam beramal shaleh berbeda dengan kenikmatan dalam bermaksiat. Dimana orang yang sudah bermaksiat, umumnya merasakan penyesalan di hatinya, bahkan orang2 kafir pun ada rasa penyesalan di hatinya setelah mereka selesai berzina. Tapi mereka tidak tahu jalan keluar untuk menghilangkan sesuatu yang mengganggu hatinya itu.
Dalam sebuah hadis disebutkan, “ Jika seorang hamba melakukan satu dosa, niscaya akan ditorehkan di hatinya satu noda hitam. Seandainya dia meninggalkan dosa itu, beristighfar dan bertaubat; niscaya noda itu akan dihapus. Tapi jika dia kembali berbuat dosa; niscaya noda-noda itu akan semakin bertambah hingga menghitamkan semua hatinya. Itulah penutup yang difirmankan Allah, “Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka lakukan itu telah menutup hati mereka” (QS. Al-Muthaffifin: 4). (HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu . Hadits ini dinilai hasan sahih oleh Tirmidzi).
4. Tidak ada
Namun bagi seseorang yang sudah menggapai semua hal yang dianggap bisa membuat mereka bahagia itu didapat, banyak diantara mereka yang akhirnya berkesimpulan bahwa tidak ada kebahagiaan di dunia ini. Mereka akhirnya putus asa, dan seberapa diantaranya memilih jalan untuk bunuh diri.
Pertanyaannya adalah Apakah ada yang namanya kebahagiaan di dunia ini?
Ada, sebagaimana perkataan para ulama terdahulu.
Imam Ibnul Qoyyim bercerita bahwa, “Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: ‘Sesungguhnya dalam dunia ini ada surga. Barang siapa belum pernah memasukinya maka dia tidak akan memasuki surga diakhirat kelak.’”
Ibrahim bin Adham mengatakan, “Seandainya para raja dan para pangeran mengetahui bagaimana kebahagiaan dan kenikmatan tentu mereka akan berusaha merebutnya dari kami dengan memukuli kami dengan pedang.” Ada ulama salaf yang lain mengatakan, “Pada suatu waktu pernah terlintas dalam hatiku, sesungguhnya jika penghuni surga semisal yang kurasakan saat ini tentu mereka dalam kehidupan yang menyenangkan.”
Jadi apa saja kunci2 yang harus dimiliki sehingga dapat memperoleh kebahagian sebagaimana yang dirasakan oleh para ulama tersebut?
Beberapa kunci agar memperoleh kebahagiaan di dunia ini, diantaranya adalah:
1. Meyakini adanya Allah swt dan mentauhidkannya.
Orang yang yakin akan adanya Allah serta tidak menyukutukan-Nya, maka hidupnya akan tenang. Dia yakin bahwa Allah Maha Melihat pada semua yang dilakukan makhluk2-Nya. Dia akan membalas semua perbuatan manusia, baik itu perbuatan zhalim maupun perbuatan amal shaleh.
Dia tidak akan berani melakukan zhalim pada orang lain, karena yakin Allah melihatnya. Dan dia pun tidak akan sedih yang berlarut2 bila didholimi oleh orang yang jauh lebih kuat darinya, karena yakin Allah akan membalasnya.
Hatinya akan tenang saat mengingat Allah, sebagaimana yang dinyatakan dalam firman-Nya:
"Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram ” (Qs. ar-Ra’du: 28)
2. Menjiplak dan mengikuti Rasulullah.
Umat saat ini benar2 dimanjakan oleh Allah, dimana kita telah diberi model kehidupan yang sempurna, yaitu dengan diutusnya Rasulullah. Kita tinggal menjiplak dan mengikuti apa yang dilakukan Rasulullah dalam menghadapi segala kehidupan di dunia ini.
Kehidupan yang dijalani Rasulullah sangat lengkap. Dia adalah seorang rasul yang pernah kaya dan juga pernah miskin, beliau pernah menjalani sebagai seorang pedagang, penggembala, pemimpin perang dan kepala pemerintahan. Rasulullah juga seorang suami yang memiliki istri, memiliki anak dan juga memiliki cucu. Kita bisa mengikuti bagaimana solusi yang dilakukan Rasulullah dalam menghadapi segala permasalahan hidup di dunia ini.
Orang yang mengikuti Rasulullah pasti akan mendapatkan solusi dari permasalahan kehidupan di dunia ini dan memperoleh kebahagiaan di akhirat.
Sebagaimana yang diabadikan dalam surat Al-Ahzab ayat 21:
“ Sesungguhnya pada diri Rasulullah ada teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak berdzikir kepada Allah .” (Al-Ahzab: 21)
Oleh karena itu kenalilah Rasulullah dengan mempelajari sirah nabi atau kehidupan Rasulullah. Lalu realisasikan dalam kehidupan kita sesuai dengan yang sedang kita alami.
3. Selalu menggantungkan hati kita pada akhirat
Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
"Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka Allâh akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, Allâh akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina. ” ( Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya (V/ 183); Ibnu Mâjah (no. 4105); Imam Ibnu Hibbân (no. 72–Mawâriduzh Zham’ân); al-Baihaqi (VII/288) dari Sahabat Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhu.)
Apabila seorang hamba menjadikan dunia sebagai tujuan hidupnya dan mengesampingkan urusan akhiratnya, maka Allâh Azza wa Jalla akan menjadikan urusan dunianya tercerai-berai, berantakan, serba sulit, serta menjadikan hidupnya selalu diliputi kegelisahan. Allâh Azza wa Jalla juga menjadikan kefakiran di depan matanya, selalu takut miskin, atau hatinya selalu tidak merasa cukup dengan rizki yang Allâh Azza wa Jalla karuniakan kepadanya. Dunia yang didapat hanya seukuran ketentuan yang telah ditetapkan baginya, tidak lebih, meskipun ia bekerja keras dari pagi hingga malam, bahkan hingga pagi lagi dengan mengorbankan kewajibannya beribadah kepada Allâh, mengorbankan hak-hak isteri, anak-anak, keluarga, orang tua, dan lainnya.
Orang yang hatinya sehat, dia akan lebih mengutamakan akhirat daripada kehidupan dunia yang fana, tujuan hidupnya adalah akhirat. Dia menjadikan dunia ini sebagai tempat berlalu dan mencari bekal untuk akhirat yang kekal. Orang yang hatinya sehat akan selalu mempersiapkan diri dengan melakukan ketaatan dan mengerjakan amal-amal shalih dengan ikhlas karena Allâh Azza wa Jalla dan menjauhkan larangan-larangan-Nya, karena dia yakin pasti mati dan pasti menjadi penghuni kubur dan pasti kembali ke akhirat. Karena itu, dia selalu berusaha untuk menjadi penghuni surga dengan berbekal iman, takwa, dan amal-amal yang shalih.
Bagi orang yang tujuannya adalah akhirat, maka akan menganggap segala sesuatu yang ada di dunia ini tampak kecil jika dibandingkan dengan akhirat. Bagaimana bisa kehidupan keindahan dunia dibandingkan dengan keindahan surga, dimana salah satu luas tanah istana yang dimiliki penduduk surga baru bisa terlewati selama 40 tahun perjalanan, batu batanya dari emas serta kekayaan paling rendah penduduk surga itu sama dengan 10 kali lipat orang yang paling kaya dan berkuasa yang pernah hidup di dunia ini.
4. Menyibukkan diri dengan amal shaleh
Dalam salah satu ayat disebutkan “Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)
Ayat diatas menyebutkan bahwa orang yang senantiasa beramal shaleh akan mendapatkan kehidupan yang baik. Oleh karena itu, kita sebagai seorang hamba yang ingin mendapatkan kebahagian, awalnya harus memaksakan diri dan memprogramkan untuk senantiasa berbuat amal shaleh. Bila kita sudah terbiasa melakukannya, maka pada akhirnya kita akan merasakan kenikmatan sebagai buah dari amal shaleh kita.
5. Lingkungan yang baik
Sesungguhnya lingkungan sangat berperan besar dalam mempengaruhi kehidupan kita, oleh karena itu berusahalah untuk mencari pasangan yang shaleh serta mendidik anak2 agar menjadi orang2 yang shaleh dan selalu menggalakkan amar ma'ruf nahi munkar bagi lingkungan kita sehingga terbentuk lingkungan yang shaleh.
Sebagaimana salah satu kisah orang yang ingin bertobat dari perbuatannya yang telah membunuh 100 orang. Tobatnya baru diterima pada saat dia berhijrah dari lingkungannya yang buruk menuju lingkungan yang baik yang ditempati oleh orang2 shaleh. Walaupun dirinya tidak sempat sampai tujuan tapi niat dan tindakannya dalam berhijrah tersebut sudah mencukupi untuk memasukkannya ke dalam surga.
----------
Disarikan dari Ceramah Dr Khalid Baslamah (https://youtu.be/M7OBdaLpWmc) serta sumber lainnya.
(Gantira, 9 Juli 2016, Bogor)
Saturday, 9 July 2016
Sunday, 3 July 2016
"Berbagai Macam Jenis Dunia yang Ada Saat Ini"
Pada saat ini, kehidupan dunia yang bisa dimasuki oleh manusia terbagi menjadi 5 macam, yaitu dunia nyata, dunia mimpi, dunia jin, dunia khayal dan dunia maya.
1. Dunia Nyata
Dunia Nyata adalah dunia yang aktifitasnya menggunakan jasmani dan rohani untuk memenuhi kepentingan dan kebutuhan kita sebagai manusia sebagaimana yang umumnya dilakukan oleh sebagian besar manusia sejak jaman nabi Adam sampai saat ini. Dalam dunia nyata ini, ada berbagai aktifitas yang bisa dilakukan, yaitu shalat, zakat, puasa, haji, menuntut ilmu, bertani, berdagang, bekerja dalam memenuhi tugas dari instansi tempatnya bekerja serta berbagai macam aktifitas lainnya yang dilakukan oleh jasmani kita.
Dalam dunia nyata ini akan berlaku hukum berupa balasan pahala, dosa, atau perbuatan yang sia sia yang tidak ada nilainya sama sekali.
Orang berakal umumnya akan memanfaatkan dunia nyata ini untuk beramal sebanyak2nya buat memenuhi kebutuhan dunianya dan buat bekal di akhirat kelak.
2. Dunia mimpi
Dunia mimpi terjadi pada saat kita tidur. Dalam dunia mimpi ada yang menyenangkan dan ada juga yang tidak menyenangkan, tergantung dari jenis mimpi yang terjadi dalam tidurnya.
Dalam dunia mimpi tidak berlaku hukum pahala dan dosa, sehingga waktu yang kita sisihkan dalam dunia mimpi ini hanya secukupnya saja. Dunia mimpi atau waktu untuk tidur diperlukan semata2 untuk mengistirahatkan tubuh kita yang telah megalami kelelahan melakukan berbagai aktifitas pada dunia nyata. Sehingga diharapkan bila telah bangun dari dunia mimpi, maka tubuh kita segar kembali sehingga kita bisa melakukan aktifitas yang lebih banyak lagi dengan kekuatan yang telah prima.
Orang yang menghabiskan waktunya untuk tidur secara berlebihan, maka waktu yang ada akan terbuang percuma. Sehingga jatah waktu yang diberikan pada kita akan tersita habis pada dunia mimpi ini.
3. Dunia Jin
Di alam ini, selain ada dunia nyata ada juga dunia jin atau dunia ghaib. Kita sebagai seorang mukmin dilarang untuk ikut campur atau ikut2an dalam dunia jin ini. Yang kita lakukan cukup mengimaninya saja, tidak lebih dari itu.
Namun sayangnya masih ada sebagian orang yang menghabiskan sebagian waktunya untuk memasuki dunia jin. Sehingga kalau dari segi fisiknya dia nampak diam, padahal jiwanya mengembara ke dalam dunia jin. Dia merasa sibuk dan melakukan berbagai macam aktifitas dalam dunia jin ini. Sehingga ada sebagian orang yang merasa jadi pahlawan dalam dunia jin itu atau bisa juga melakukan banyak ibadah dengan berhaji berkali2 dengan sekejab dari tempat diamnya menuju mekah. Padahal kalau secara fisik dia hanya terdiam atau nampak tidur saja.
Orang mencoba melakukan berbagai aktifitas dalam dunia jin, tidaklah bernilai ibadah sama sekali, walaupun dia merasa diri telah melakukan banyak shalat dan haji. Karena yang namanya ibadah itu harus sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah yaitu perpaduan antara aktifitas jiwa dan aktifitas jasmani. Bahkan bisa jadi berdosa karena dia berusaha memasuki dunia jin yang dilarang Allah untuk melakukannya.
Kalau dalam film yang ada saat ini, contoh orang yang memasuki dunia jin ini bagai kehidupan yang ada pada film Hary Potter atau film Narnia. Dimana mereka nampak bagai seorang pahlawan yang membela kebenaran, padahal dalam dunia nyata mereka tidak melakukan aktifitas apapun.
4. Dunia Khayal
Dunia khayal ini terjadi dalam dunia nyata, namun sayang walaupun jasmani dan rohaninya berada dalam dunia nyata tapi pikirannya mengembara ke mana2. Sehingga jasmaninya hanya diam tanpa melakukan banyak aktifitas yang bermanfaat, sedangkan pikirannya sibuk dalam berbagai macam aktifitas. Kegiatan yang bisa dimasukan dalam dunia khayal ini, diantaranya adalah melamun atau menonton siaran tc atau film2 yang berisi cerita khayalan belaka.
Dunia khayal ini tidak berdosa jika yang dikhayalkan tidak mengandung dosa. Namun jika berlebihan menggunakan waktu untuk menghayal maka waktu yang ada akan terbuang sia2. Sehingga, langkah yang lebih baik adalah mengurangi atau membatasinya memasuki dunia khayal ini.
5. Dunia Maya
Pada zaman modern saat ini, ternyata sudah ada tambahan dunia lain selain ke empat dunia di atas, yaitu dunia maya.
Pada awalnya dunia maya ini banyak manfaatnya, dimana kita bisa menggunakan jaringan internet untuk mendapatkan berbagai ilmu dengan cepat dan murah serta kita juga bisa berkomunikasi dengan semua orang dari berbagai pelosok di dunia ini, apalagi dengan adanya fasilitas WA, facebook, integram, bbm serta fasilitas jaringan sosial lainnya.
Namun sayangnya, makin lama orang makin kecanduan sehingga waktu yang digunakan untuk menjelajahi dunia maya ini lebih banyak dari waktu yang digunakan dalam dunia nyata. Sehingga dirinya merasa nampak hebat bisa berkelana ke berbagai dunia, bisa berkomunikasi dengan banyak macam orang serta kita merasa menjadi diri orang lain yang nampak hebat dari apa2 yang telah kita baca. Namun sayangnya pada saat dia kembali dalam dunia nyata, dia bukanlah siapa2 karena sangat sedikit aktifitas yang dilakukannya untuk dunia nyatanya.
Jadi dalam mensikapi dunia maya ini, cukuplah dilakukan seperlunya yang bisa berefek pada perubahan dunia nyata kita dan orang lain. Sedang kurangi bahkan batasi menjelajahi dunia maya ini bila tidak berefek sama sekali dalam dunia nyata kita walaupun dunia itu nampak hebat dan mengagumkan. Karena bagaimana pun juga yang akan dinilai oleh-Nya pada kita adalah apa refleksi dunia nyata kita.
Kesimpulan dari uraian ke 5 macam dunia di atas adalah gunakanlah sebagian besar waktu hidup yang kita miliki untuk melakukan aktifitas di dunia nyata, sedangkan dunia lainnya baru bisa dilakukan jika ada manfaatnya untuk dunia nyata kita serta tidak melanggar aturan-Nya.
(Gantira, 3 Juli 2016, Bogor)
1. Dunia Nyata
Dunia Nyata adalah dunia yang aktifitasnya menggunakan jasmani dan rohani untuk memenuhi kepentingan dan kebutuhan kita sebagai manusia sebagaimana yang umumnya dilakukan oleh sebagian besar manusia sejak jaman nabi Adam sampai saat ini. Dalam dunia nyata ini, ada berbagai aktifitas yang bisa dilakukan, yaitu shalat, zakat, puasa, haji, menuntut ilmu, bertani, berdagang, bekerja dalam memenuhi tugas dari instansi tempatnya bekerja serta berbagai macam aktifitas lainnya yang dilakukan oleh jasmani kita.
Dalam dunia nyata ini akan berlaku hukum berupa balasan pahala, dosa, atau perbuatan yang sia sia yang tidak ada nilainya sama sekali.
Orang berakal umumnya akan memanfaatkan dunia nyata ini untuk beramal sebanyak2nya buat memenuhi kebutuhan dunianya dan buat bekal di akhirat kelak.
2. Dunia mimpi
Dunia mimpi terjadi pada saat kita tidur. Dalam dunia mimpi ada yang menyenangkan dan ada juga yang tidak menyenangkan, tergantung dari jenis mimpi yang terjadi dalam tidurnya.
Dalam dunia mimpi tidak berlaku hukum pahala dan dosa, sehingga waktu yang kita sisihkan dalam dunia mimpi ini hanya secukupnya saja. Dunia mimpi atau waktu untuk tidur diperlukan semata2 untuk mengistirahatkan tubuh kita yang telah megalami kelelahan melakukan berbagai aktifitas pada dunia nyata. Sehingga diharapkan bila telah bangun dari dunia mimpi, maka tubuh kita segar kembali sehingga kita bisa melakukan aktifitas yang lebih banyak lagi dengan kekuatan yang telah prima.
Orang yang menghabiskan waktunya untuk tidur secara berlebihan, maka waktu yang ada akan terbuang percuma. Sehingga jatah waktu yang diberikan pada kita akan tersita habis pada dunia mimpi ini.
3. Dunia Jin
Di alam ini, selain ada dunia nyata ada juga dunia jin atau dunia ghaib. Kita sebagai seorang mukmin dilarang untuk ikut campur atau ikut2an dalam dunia jin ini. Yang kita lakukan cukup mengimaninya saja, tidak lebih dari itu.
Namun sayangnya masih ada sebagian orang yang menghabiskan sebagian waktunya untuk memasuki dunia jin. Sehingga kalau dari segi fisiknya dia nampak diam, padahal jiwanya mengembara ke dalam dunia jin. Dia merasa sibuk dan melakukan berbagai macam aktifitas dalam dunia jin ini. Sehingga ada sebagian orang yang merasa jadi pahlawan dalam dunia jin itu atau bisa juga melakukan banyak ibadah dengan berhaji berkali2 dengan sekejab dari tempat diamnya menuju mekah. Padahal kalau secara fisik dia hanya terdiam atau nampak tidur saja.
Orang mencoba melakukan berbagai aktifitas dalam dunia jin, tidaklah bernilai ibadah sama sekali, walaupun dia merasa diri telah melakukan banyak shalat dan haji. Karena yang namanya ibadah itu harus sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah yaitu perpaduan antara aktifitas jiwa dan aktifitas jasmani. Bahkan bisa jadi berdosa karena dia berusaha memasuki dunia jin yang dilarang Allah untuk melakukannya.
Kalau dalam film yang ada saat ini, contoh orang yang memasuki dunia jin ini bagai kehidupan yang ada pada film Hary Potter atau film Narnia. Dimana mereka nampak bagai seorang pahlawan yang membela kebenaran, padahal dalam dunia nyata mereka tidak melakukan aktifitas apapun.
4. Dunia Khayal
Dunia khayal ini terjadi dalam dunia nyata, namun sayang walaupun jasmani dan rohaninya berada dalam dunia nyata tapi pikirannya mengembara ke mana2. Sehingga jasmaninya hanya diam tanpa melakukan banyak aktifitas yang bermanfaat, sedangkan pikirannya sibuk dalam berbagai macam aktifitas. Kegiatan yang bisa dimasukan dalam dunia khayal ini, diantaranya adalah melamun atau menonton siaran tc atau film2 yang berisi cerita khayalan belaka.
Dunia khayal ini tidak berdosa jika yang dikhayalkan tidak mengandung dosa. Namun jika berlebihan menggunakan waktu untuk menghayal maka waktu yang ada akan terbuang sia2. Sehingga, langkah yang lebih baik adalah mengurangi atau membatasinya memasuki dunia khayal ini.
5. Dunia Maya
Pada zaman modern saat ini, ternyata sudah ada tambahan dunia lain selain ke empat dunia di atas, yaitu dunia maya.
Pada awalnya dunia maya ini banyak manfaatnya, dimana kita bisa menggunakan jaringan internet untuk mendapatkan berbagai ilmu dengan cepat dan murah serta kita juga bisa berkomunikasi dengan semua orang dari berbagai pelosok di dunia ini, apalagi dengan adanya fasilitas WA, facebook, integram, bbm serta fasilitas jaringan sosial lainnya.
Namun sayangnya, makin lama orang makin kecanduan sehingga waktu yang digunakan untuk menjelajahi dunia maya ini lebih banyak dari waktu yang digunakan dalam dunia nyata. Sehingga dirinya merasa nampak hebat bisa berkelana ke berbagai dunia, bisa berkomunikasi dengan banyak macam orang serta kita merasa menjadi diri orang lain yang nampak hebat dari apa2 yang telah kita baca. Namun sayangnya pada saat dia kembali dalam dunia nyata, dia bukanlah siapa2 karena sangat sedikit aktifitas yang dilakukannya untuk dunia nyatanya.
Jadi dalam mensikapi dunia maya ini, cukuplah dilakukan seperlunya yang bisa berefek pada perubahan dunia nyata kita dan orang lain. Sedang kurangi bahkan batasi menjelajahi dunia maya ini bila tidak berefek sama sekali dalam dunia nyata kita walaupun dunia itu nampak hebat dan mengagumkan. Karena bagaimana pun juga yang akan dinilai oleh-Nya pada kita adalah apa refleksi dunia nyata kita.
Kesimpulan dari uraian ke 5 macam dunia di atas adalah gunakanlah sebagian besar waktu hidup yang kita miliki untuk melakukan aktifitas di dunia nyata, sedangkan dunia lainnya baru bisa dilakukan jika ada manfaatnya untuk dunia nyata kita serta tidak melanggar aturan-Nya.
(Gantira, 3 Juli 2016, Bogor)
Sunday, 29 May 2016
"Tanggung Jawab Kita"
Selama kita masih bernapas, maka tanggung jawab tetap ada di pundak kita. Baik itu tanggung jawab orang tua terhadap anak atau sebaliknya, pemimpin terhadap anak buahnya atau sebaliknya, suami terhadap istri atau sebaliknya, saudara terhadap saudara kandungnya, rumah tangga terhadap tetangganya, dan banyak lagi tanggung jawab2 lainnya terutama tanggung jawab kita sebagai seorang hamba untuk beribadah kepada-Nya. Yang jelas kita sebagai manusia tidak bisa berperilaku dengan sebebas2nya.
Kita boleh melakukan kesenangan apapun dengan sebebas2nya selama hal itu tidak melanggar tiga patokan utama, yaitu:
1) Tidak melanggar syariat-Nya
2) Tidak mengganggu orang lain
3) Tidak merugikan diri kita sendiri.
Jadi selama tiga patokan di atas tidak dilanggar, kita boleh melakukannya dan jangan hiraukan celaan orang lain yang suka mencela.
Namun tidak bisa kita melakukan apa saja sekehendak kita hanya karena alasan kebebasan. Karena bagaimana pun juga setiap apapun perbuatan kita akan berefek pada orang lain. Bahkan bila kita sendiri sakit akibat ulah diri kita sendiri maka hal ini bisa membuat repot keluarga kita. Dimana mau tidak mau mereka akan merasa khawatir dan kehidupannya menjadi terganggu akibat ulah kita yang ingin bebas tanpa batas.
Jadi ingatlah akan tanggung jawab kita sebagai pribadi, keluarga, masyarakat dan juga tanggung jawab kita sebagai seorang hamba. Dan selalulah ingat akan 3 patokan dasar dalam bertindak, yaitu tidak melanggar aturan-Nya, tidak merugikan orang lain dan diri sendiri.
(Gantira, 29 Mei 2016, Bogor)
Kita boleh melakukan kesenangan apapun dengan sebebas2nya selama hal itu tidak melanggar tiga patokan utama, yaitu:
1) Tidak melanggar syariat-Nya
2) Tidak mengganggu orang lain
3) Tidak merugikan diri kita sendiri.
Jadi selama tiga patokan di atas tidak dilanggar, kita boleh melakukannya dan jangan hiraukan celaan orang lain yang suka mencela.
Namun tidak bisa kita melakukan apa saja sekehendak kita hanya karena alasan kebebasan. Karena bagaimana pun juga setiap apapun perbuatan kita akan berefek pada orang lain. Bahkan bila kita sendiri sakit akibat ulah diri kita sendiri maka hal ini bisa membuat repot keluarga kita. Dimana mau tidak mau mereka akan merasa khawatir dan kehidupannya menjadi terganggu akibat ulah kita yang ingin bebas tanpa batas.
Jadi ingatlah akan tanggung jawab kita sebagai pribadi, keluarga, masyarakat dan juga tanggung jawab kita sebagai seorang hamba. Dan selalulah ingat akan 3 patokan dasar dalam bertindak, yaitu tidak melanggar aturan-Nya, tidak merugikan orang lain dan diri sendiri.
(Gantira, 29 Mei 2016, Bogor)
Saturday, 28 May 2016
"Sistem Lebih Penting daripada Keunggulan Individual"
"Sistem Lebih Penting daripada Keunggulan Individual"
Sebuah organisasi atau negara yang sistem nya sudah baik, maka siapapun yang memimpin organisasi atau negara itu, baik memiliki kemampuan jenius ataupun biasa saja, selama dia berpegang teguh pada sistem tersebut maka organisasi atau negara itu tetap akan berjalan. Apalagi bila pemimpinnya jenius maka organisasi atau negara akan maju lebih cepat lagi.
Namun sebaliknya bila sebuah sistem berantakan, maka siapa pun yang memimpin nya organisasi akan mengalami kekacauan. Kalaupun mendapat seorang pemimpin yang brilian maka ada dua kemungkinan yang terjadi, yaitu kepemimpinannya akan dihancurkan oleh sistem atau organisasi itu akan sukses sesuai dengan kebrilianan pemimpinnya, namun sayang hal itu hanya akan berjalan selama dia ada. Apabila dia telah tiada maka organisasi atau negara itu akan hancur kembali.
Jadi agar kita memperoleh kesuksesan yang gemilang maka solusinya hanya tiga, yaitu kita memiliki kejeniusan yang luar biasa lalu berpegang pada anugrah ini, atau kita mengikuti orang yang terbukti memiliki kejeniusan tindakan sehingga setiap langkahnya berhasil atau kita mengikuti sebuah sistem yang dijamin kesuksesannya, dimana siapa pun pemimpinnya selama dia taat pada sistem yang ada maka organisasi itu akan sukses.
Sesungguhnya manusia telah diberikan anugrah sebuah sistem yang sempurna yang langsung diturunkan oleh-Nya. Sistem ini tidak hanya akan mendatangkan kesuksesan dunia, tapi juga akhirat.
Sistem yang sempurna tersebut adalah al-quran dan hadist. Siapapun orangnya, baik dia jenius ataupun tidak, baik dia kuat ataupun lemah, baik dia kaya ataupun miskin, baik dia pejabat ataupun rakyat biasa. Jika dia mengikuti sistem ini secara kaffah pasti dia akan sukses, baik sukses dunia maupun akhirat.
(Gantira, 28 Mei 2016, Bogor)
Friday, 27 May 2016
"Penyesalan dari Sebuah Titik Balik Kehidupan"
"Penyesalan dari Sebuah Titik Balik Kehidupan"
Bagaimana rasanya bila ada seseorang yang sejak muda dia bekerja keras dengan keyakinan yang penuh bahwa pada akhir perjalanannya dia akan mencapai kesuksesan.
Namun ternyata di ujung usia tuanya, dia tidak memperoleh apa2. Anak yang diharapkannya malah membuat dia menderita, dimana semua harta yang diusahakannya direbut dengan paksa sehingga dirinya tidak memiliki apa2 lagi.
Pada saat mau memulai kembali, tenaganya sudah tidak sekuat dulu dan hartanya sudah habis direbut anaknya. Impiannya tinggal sebuah impian belaka, sehingga di dalam dirinya hanyalah sebuah pertanyaan besar, di titik mana kesalahan itu terjadi hingga mimpinya hancur berantakan.
Itulah kehidupan yang ada di dunia, bila kita memiliki keyakinan dan cara yang tidak tepat, maka hasilnya pun akan jauh dari bayangan kita. Apalagi kehidupan setelah mati nanti, orang2 yang salah melangkah baru tersadar bahwa semua hasil kerja kerasnya ketika di dunia sia2 belaka, yang ada adalah penyesalan yang tidak ada manfaatnya lagi.
Oleh karena itu, maka langkah yang paling baik agar kita selamat dari penyesalan di ujung kehidupan kita adalah dengan mencari keyakinan dan cara yang benar. Sehingga semua langkah yang kita lewati tidak diikuti dengan ujung penyesalan yang tak ada manfaatnya lagi.
Ketahuilah bahwa Sang Pencipta Alam semesta ini telah memberikan nikmat yang paling besar, yaitu nikmat petunjuk yang sempurna yang bisa diikuti oleh semua orang yang dengan ikhlas mengikutinya. Nikmat tersebut adalah nikmat Islam, yang semua ajarannya ada dalam al-quran dan hadist.
Maka pegang teguhlah dua pedoman hidup ini. Walaupun semua orang menyimpang darinya, maka jangan pernah kita bergeser dari dua petunjuk kehidupan utama ini. Karena bila kita menyangsikannya, apalagi melanggarnya maka siap2lah di ujung kehidupan kita akan diliputi penyesalan.
Allah Azza wa Jalla berfirman:
ﺍﻟْﻴَﻮْﻡَ ﺃَﻛْﻤَﻠْﺖُ ﻟَﻜُﻢْ ﺩِﻳﻨَﻜُﻢْ ﻭَﺃَﺗْﻤَﻤْﺖُ ﻋَﻠَﻴْﻜُﻢْ ﻧِﻌْﻤَﺘِﻲ ﻭَﺭَﺿِﻴﺖُ ﻟَﻜُﻢُ ﺍﻟْﺈِﺳْﻠَﺎﻡَ ﺩِﻳﻨًﺎ
“… Pada hari ini telah Aku sempurnakan untukmu agamamu, dan telah Aku cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagimu …” [Al-Maa-idah: 3]
ﺍَﻥَّ ﺭَﺳُﻮْﻝَ ﺍﻟﻠﻪِ ﺹ ﻗَﺎﻝَ : ﺗَﺮَﻛْﺖُ ﻓِﻴْﻜُﻢْ ﺍَﻣْﺮَﻳْﻦِ ﻟَﻦْ ﺗَﻀِﻠُّﻮْﺍ ﻣَﺎ ﻣَﺴَﻜْﺘُﻢْ ﺑِﻬِﻤَﺎ : ﻛِﺘَﺎﺏَ ﺍﻟﻠﻪِ ﻭَ ﺳُﻨَّﺔَ ﻧَﺒِﻴّﻪِ
Sesungguhnya Rasulullah SAW pernah bersabda, “Aku telah meninggalkan pada kamu sekalian dua perkara yang kamu tidak akan sesat selama kamu berpegang teguh kepada keduaya, yaitu : Kitab Allah dan sunnah Nabi-Nya “. [HR. Malik]
(Gantira, 28 Mei 2016, Bogor)
Saturday, 21 May 2016
"Makna Ikhlas yang Benar"
Makna Ikhlas bukanlah sekedar berbuat tanpa tujuan, karena orang yang sedang tidur pun bisa melakukan ini tanpa dia sadari.
Makna Ikhlas bukan seperti buang air besar lalu melupakan apa yang dibuangnya, karena binatang pun bisa melakukan semua ini.
Makna Ikhlas bukan seperti akar yang gigih menembus padas keras mencari air tanpa pamrih demi pohon bisa hidup dan tumbuh, berdaun rindang, berbunga indah, berbuah lebat, dan menampakkan pesonanya ,mendapat pujian pula. Tapi akar tetap sembunyi di dalam tanah tidak ikut ikutan menampakkan diri. Karena seluruh sel dan jaringan tubuh pada semua makhluk hidup pun melakukan hal yang sama, namun mereka juga sama tidak mengharapkan pujian.
Kalau makna ikhlas di definisikan seperti makna2 di atas, maka makna itu terlalu sederhana sehingga tidak ada bedanya manusia dengan makhluk lainnya.
Makna yang benar dari ikhlas adalah sebagaimana yang dikatakan oleh seorang ulama
Abul Qosim Al Qusyairi, “Ikhlas adalah menjadikan niat hanya untuk Allah dalam melakukan amalan ketaatan. Jadi, amalan ketaatan tersebut dilakukan dalam rangka mendekatkan diri pada Allah. Sehingga yang dilakukan bukanlah ingin mendapatkan perlakuan baik dan pujian dari makhluk."
Makna yang benar dari ikhlas adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Sahl bin Abdullah at-Tasturi rahimahullah, “Orang-orang yang cerdas memandang tentang hakikat ikhlas ternyata mereka tidak menemukan kesimpulan kecuali hendaklah gerakan dan diam yang dilakukan, yang tersembunyi maupun yang tampak, semuanya dipersembahkan untuk Allah ta’ala semata. Tidak dicampuri apa pun; apakah itu kepentingan pribadi, hawa nafsu, maupun perkara dunia.” (lihat Adab al-’Alim wa al-Muta’allim, hal. 7-8)
Makna yang benar dari ikhlas adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Abu ‘Utsman rahimahullah, “Ikhlas adalah melupakan pandangan orang dengan senantiasa memperhatikan bagaimana pandangan (penilaian) al-Khaliq.” (lihat Adab al-’Alim wa al-Muta’allim, hal. 8)
Makna yang benar dari ikhlas adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah, “ Bahwa seorang hamba akan senantiasa berada dalam kebaikan, selama jika dia berkata maka dia berkata karena Allah, dan apabila dia beramal maka dia pun beramal karena Allah.” (lihat Ta’thir al-Anfas min Hadits al-Ikhlas, hal. 592)
Makna yang benar dari Ikhlas adalah sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah, "Barangsiapa mempelajari suatu ilmu yang seharusnya karena Allah Azza Wa Jalla, namun ia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan sebagian dari dunia, maka ia tidak akan mendapatkan baunya Surga pada Hari Kiamat." (Sunan Abu Daud 3179)
Makna yang benar dari ikhlas adalah sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala,
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al Bayyinah: 5)
"Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi." (QS.Az-Zumar : 65 )
Jadi makna ikhlas hanyalah dapat diraih oleh orang yang mengenal-Nya serta tidak menyekutukan-Nya. Oleh karena itu agar keikhlasan kita semakin baik maka kenalilah Dia, Apa saja yang disukai dan diperintahkan-Nya, Apa saja yang dibenci dan dilarang-Nya, lalu murnikan semua itu dilakukan semata2 untuk menggapai ridho-Nya.
(Gantira, 21 Mei 2016, Yogyakarta)
Makna Ikhlas bukan seperti buang air besar lalu melupakan apa yang dibuangnya, karena binatang pun bisa melakukan semua ini.
Makna Ikhlas bukan seperti akar yang gigih menembus padas keras mencari air tanpa pamrih demi pohon bisa hidup dan tumbuh, berdaun rindang, berbunga indah, berbuah lebat, dan menampakkan pesonanya ,mendapat pujian pula. Tapi akar tetap sembunyi di dalam tanah tidak ikut ikutan menampakkan diri. Karena seluruh sel dan jaringan tubuh pada semua makhluk hidup pun melakukan hal yang sama, namun mereka juga sama tidak mengharapkan pujian.
Kalau makna ikhlas di definisikan seperti makna2 di atas, maka makna itu terlalu sederhana sehingga tidak ada bedanya manusia dengan makhluk lainnya.
Makna yang benar dari ikhlas adalah sebagaimana yang dikatakan oleh seorang ulama
Abul Qosim Al Qusyairi, “Ikhlas adalah menjadikan niat hanya untuk Allah dalam melakukan amalan ketaatan. Jadi, amalan ketaatan tersebut dilakukan dalam rangka mendekatkan diri pada Allah. Sehingga yang dilakukan bukanlah ingin mendapatkan perlakuan baik dan pujian dari makhluk."
Makna yang benar dari ikhlas adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Sahl bin Abdullah at-Tasturi rahimahullah, “Orang-orang yang cerdas memandang tentang hakikat ikhlas ternyata mereka tidak menemukan kesimpulan kecuali hendaklah gerakan dan diam yang dilakukan, yang tersembunyi maupun yang tampak, semuanya dipersembahkan untuk Allah ta’ala semata. Tidak dicampuri apa pun; apakah itu kepentingan pribadi, hawa nafsu, maupun perkara dunia.” (lihat Adab al-’Alim wa al-Muta’allim, hal. 7-8)
Makna yang benar dari ikhlas adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Abu ‘Utsman rahimahullah, “Ikhlas adalah melupakan pandangan orang dengan senantiasa memperhatikan bagaimana pandangan (penilaian) al-Khaliq.” (lihat Adab al-’Alim wa al-Muta’allim, hal. 8)
Makna yang benar dari ikhlas adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah, “ Bahwa seorang hamba akan senantiasa berada dalam kebaikan, selama jika dia berkata maka dia berkata karena Allah, dan apabila dia beramal maka dia pun beramal karena Allah.” (lihat Ta’thir al-Anfas min Hadits al-Ikhlas, hal. 592)
Makna yang benar dari Ikhlas adalah sebagaimana yang disampaikan oleh Rasulullah, "Barangsiapa mempelajari suatu ilmu yang seharusnya karena Allah Azza Wa Jalla, namun ia tidak mempelajarinya kecuali untuk mendapatkan sebagian dari dunia, maka ia tidak akan mendapatkan baunya Surga pada Hari Kiamat." (Sunan Abu Daud 3179)
Makna yang benar dari ikhlas adalah sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala,
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus, dan supaya mereka mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al Bayyinah: 5)
"Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. "Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi." (QS.Az-Zumar : 65 )
Jadi makna ikhlas hanyalah dapat diraih oleh orang yang mengenal-Nya serta tidak menyekutukan-Nya. Oleh karena itu agar keikhlasan kita semakin baik maka kenalilah Dia, Apa saja yang disukai dan diperintahkan-Nya, Apa saja yang dibenci dan dilarang-Nya, lalu murnikan semua itu dilakukan semata2 untuk menggapai ridho-Nya.
(Gantira, 21 Mei 2016, Yogyakarta)
'Sesuatu yang Patut Kita Yakini dan Percayai"
Segala sesuatu yang sudah disebutkan dalam Al-qur'an dan Hadist shahih itu patut kita yakini kebenarannya, sedangkan ungkapan atau ide manusia itu belum tentu kebenarannya berlaku bagi semua orang walaupun kata2 nya sangat memukau.
Al-quran dan hadist adalah sebuah ketetapan langsung yang sumber utamanya dari yang menciptakan alam semesta ini dan dari utusan-Nya sehingga berlaku bagi semua manusia.
Sedangkan perkataan seseorang sumbernya hanyalah ide pribadinya yang bisa saja hanya sebuah khayalan biasa atau hasil perenungan yang mungkin berlaku hanya bagi dirinya atau beberapa orang saja.
Yang bisa dijadikan patokan untuk lebih di percayai dan diyakini itu adalah sebuah analisa dari hasil pengalaman hidup yang sudah kita lewati. Sedangkan analisa dari hasil pengalaman hidup orang lain itu hanyalah sebagai masukan saja bukan sebagai patokan utama.
Kita harus lebih percaya pada pengalaman hidup kita daripada pengalaman hidup orang lain, karena takdir setiap orang itu berbeda2. Bila orang lain mengerjakan salah satu kegiatan atau usaha bisa mendapatkan kesuksesan besar, sedangkan kita belum tentu akan memperoleh kesuksesan yang sama walaupun apa yang kita lakukan sama persis seperti yang orang lain lakukan.
Adalah suatu perbuatan bodoh bila kita melakukan suatu kegiatan atau usaha ternyata mengalami kegagalan yang berulang2, tapi kita tetap yakin bahwa usaha itu pada akhirnya akan meraih keberhasilan hanya karena melihat orang lain mendapat keberhasilan yang sama pada bidang itu. Sadarilah bahwa bisa jadi takdir kita dengan dia itu berbeda, bisa jadi kita berhasil pada bidang yang lain bukan pada bidang itu.
Umar bin Khatab pernah berkata bahwa jika kita melakukan suatu usaha yang sama secara berulang2 namun selalu gagal, maka cobalah pindah pada bidang yang lain karena bisa jadi bidang itu bukan takdir hidup kita. Seorang yang berakal itu tidak mungkin jatuh berulang2 pada lubang yang sama.
Jadi kesimpulannya adalah bila kita ingin menggapai masa depan yang lebih baik maka jadikanlah Al-qur'an dan hadist sebagai pedoman hidup kita, serta jadikan pengalaman hidup kita sebagai pelajaran untuk kita ambil hikmahnya dalam memperbaiki apa yang telah terjadi.
Sedangkan perkataan dan pengalaman hidup orang lain, jadikanlah hanya sebagai masukan belaka. Dimana bila hal itu cocok dengan hidup kita maka dapat kita pakai, namun bila tidak sesuai dengan hidup kita maka dapat kita abaikan.
(Gantira, 21 Mei 2016, Yogyakarta)
Al-quran dan hadist adalah sebuah ketetapan langsung yang sumber utamanya dari yang menciptakan alam semesta ini dan dari utusan-Nya sehingga berlaku bagi semua manusia.
Sedangkan perkataan seseorang sumbernya hanyalah ide pribadinya yang bisa saja hanya sebuah khayalan biasa atau hasil perenungan yang mungkin berlaku hanya bagi dirinya atau beberapa orang saja.
Yang bisa dijadikan patokan untuk lebih di percayai dan diyakini itu adalah sebuah analisa dari hasil pengalaman hidup yang sudah kita lewati. Sedangkan analisa dari hasil pengalaman hidup orang lain itu hanyalah sebagai masukan saja bukan sebagai patokan utama.
Kita harus lebih percaya pada pengalaman hidup kita daripada pengalaman hidup orang lain, karena takdir setiap orang itu berbeda2. Bila orang lain mengerjakan salah satu kegiatan atau usaha bisa mendapatkan kesuksesan besar, sedangkan kita belum tentu akan memperoleh kesuksesan yang sama walaupun apa yang kita lakukan sama persis seperti yang orang lain lakukan.
Adalah suatu perbuatan bodoh bila kita melakukan suatu kegiatan atau usaha ternyata mengalami kegagalan yang berulang2, tapi kita tetap yakin bahwa usaha itu pada akhirnya akan meraih keberhasilan hanya karena melihat orang lain mendapat keberhasilan yang sama pada bidang itu. Sadarilah bahwa bisa jadi takdir kita dengan dia itu berbeda, bisa jadi kita berhasil pada bidang yang lain bukan pada bidang itu.
Umar bin Khatab pernah berkata bahwa jika kita melakukan suatu usaha yang sama secara berulang2 namun selalu gagal, maka cobalah pindah pada bidang yang lain karena bisa jadi bidang itu bukan takdir hidup kita. Seorang yang berakal itu tidak mungkin jatuh berulang2 pada lubang yang sama.
Jadi kesimpulannya adalah bila kita ingin menggapai masa depan yang lebih baik maka jadikanlah Al-qur'an dan hadist sebagai pedoman hidup kita, serta jadikan pengalaman hidup kita sebagai pelajaran untuk kita ambil hikmahnya dalam memperbaiki apa yang telah terjadi.
Sedangkan perkataan dan pengalaman hidup orang lain, jadikanlah hanya sebagai masukan belaka. Dimana bila hal itu cocok dengan hidup kita maka dapat kita pakai, namun bila tidak sesuai dengan hidup kita maka dapat kita abaikan.
(Gantira, 21 Mei 2016, Yogyakarta)
Subscribe to:
Posts (Atom)
