Monday, 28 December 2015

"Pembahasan Asmaul Husna"

Sesungguhnya pengetahuan tentang Allah serta nama2 dan sifat-2-Nya adalah semulia2nya ilmu.

Dimana Ilmu tentang Allah adalah asal segala ilmu. Maka barangsiapa yang mengetahui Allah, dia akan mengetahui yang selain Allah. Dan barangsiapa yang tidak mengetahui Tuhannya, maka dia akan lebih tidak mengetahui yang lain-Nya. Allah berfirman:

 وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

" Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik".
(Qs. Al-Hasr:19)

Jumlah Asmaul Husna adalah  99 nama, pada jum'at sebelumnya telah dibahas tentang "Ar-Rahman, Ar-Rahim, Al-Malik, Al-Quddus, As-Salaam, Al-Mu'min, Al-Muhaimin,  Al-Aziiz dan Al Jabbar yang intinya adalah

1. Ar-Rahman

Yang artinya adalah Yang Maha Pengasih

Dialah yang mengasihi dan merahmati  semua makhluk ciptaan-Nya tanpa kecuali (semua makhluk melata di darat, laut dan udara serta semua manusia baik yang beriman maupun tidak) secara adil dan merata selama di dunia.

2. Ar-Rahim

Artinya Yang Maha Penyayang

Dialah yang mengasihi, merahmati, menyayangi dan mencintai khusus umat dan kaum yang mulia, manusia-manusia muslim yang beriman di dunia dan di akhirat. Dilimpahkan begitu banyak kemuliaan bagi mereka yang bertakwa kepada-Nya.

3. Al-Malik

Artinya Yang Maha Merajai/Memerintah

Al-Malik adalah yang mampu memerintah dan melarang, memuliakan dan menghinakan, memberi rizqi dan menahannya, mengangkat dan merendahkan.

Apa yang diperintahkan-Nya akan membawa kepada kecintaan-Nya dan apa yang dilarang-Nya akan menyeret kepada kemurkaan-Nya.

4. Al-Quddus

artinya Yang Maha Suci

Allah adalah Dzat Yang Maha Suci. Ini dapatlah dipahami bahwa Dia memiliki Kesucian yang mutlak. Suci karuniaNya. Suci pemeliharaanNya. Suci keagunganNya, suci keputusanNya, suci takdirNya, suci segala yang menjadi sifatNya. KesucianNya tidak dinodai oleh apa pun. Oleh karena itu, sebagai hambaNya yang beriman, kita hendaknya bertasbih kepadaNya.

5. As-Salaam

Artinya Mahaselamat (Sejahtera)

Makna dari nama mulia ini ialah Yang Mahaselamat dari semua aib dan kekurangan, karena kesempurnaan yang ada pada Dzat-Nya, sifat2 dan perbuatan2-Nya.

Jika kita melihat satu2 dari sifat2 kesempurnaan-Nya, maka kita akan mendapati setiap sifat tersebut selamat dari segala hal yang berlawanan dengan kesempurnaannya.

6. Al Mu'min

Artinya Yang Maha Memberi Keamanan

Dia Maha Pemberi rasa aman kepada semua makhluk-Nya, terutama kepada manusia. Jika bukan karena Allah swt yang memberikan rasa aman dalam hati, niscaya kita akan senantiasa gelisah, takut, dan cemas.

Setiap orang takut yang berlindung kepada Allah dengan tulus, niscaya ia akan mendapati Allah Ta'ala dengan tulus, niscaya ia akan mendapati Allah Ta'ala memberikan keamanan kepadanya dari rasa takut itu.

7. Al Muhaimin

Artinya Yang Maha Pemelihara

Hak Allah SWT bahwa dia mengurus keperluan makhluk-Nya, berupa pekerjaan mereka, rizqi mereka, dan ajal mereka, yaitu dengan memperhatikan, menguasai dan memeliharanya.

Allah Maha Menyaksikan. Tidak ada perbuatan baik yang tidak disaksikan oleh Allah, tidak ada perbuatan buruk yang lepas dari pengawasan Allah. Perbuatan baik dan benar akan dijamin mendapat balasan yang setimpal, bahkan sangat mungkin dilipatgandakan.

8. Al-Aziiz

Artinya Yang Maha Perkasa/Yang Maha Mulia

Al-Aziiz adalah yang memiliki kekuatan ('izzah) yang sempurna. Dan salah satu tanda kesempurnaan kekuasaan-Nya adalah selamatnya Dia dari semua keburukan, kekurangan dan aib. Sebab semua hal itu akan menafikan kekuasaan-Nya yang sempurna.

Al-’Aziz artinya yang memiliki segala macam kemuliaan: kemuliaan kekuatan, kemuliaan kemenangan, dan kemuliaan pertahanan. Sehingga tidak seorangpun dari makhluk dapat mencelakai-Nya. Dan Ia mengalahkan dan menundukkan seluruh yang ada, sehingga tunduklah kepada-Nya seluruh makhluk karena kebesaran-Nya.”

9. Al Jabbar

Al Jabbar artinya Yang Mahakuasa

Allah Mahakuasa memperbaiki keadaan hamba dengan melepaskannya dari kesulitan, serta menghilangkan darinya kesusahan.

Semua makhluk patuh dalam gerakan dan diamnya, apa yang mereka bawa dan tinggalkan adalah milik Raja dan Pengatur mereka. Mereka tidak memiliki sedikit pun dari urusan tersebut, tidak pula dalam hal hukum, tetapi semua urusan hanya milik Allah.

Dia yang Maha Tinggi dengan Dzat-Nya di atas seluruh makhluk-Nya, yaitu ketinggian Dzat, kedudukan, dan kekuasaan.

Sumber utama untuk tema ini diambil dari:
1. Asma-ul Husna, hasil buah karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah
2. Fikih Asma-ul Husna, yang ditulis oleh Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Abbad Al-Badr
3. Berbagai sumber dari internet

'Pembahasan Asmaul Husna'


Sesungguhnya pengetahuan tentang Allah serta nama2 dan sifat-2-Nya adalah semulia2nya ilmu.

Dimana Ilmu tentang Allah adalah asal segala ilmu. Maka barangsiapa yang mengetahui Allah, dia akan mengetahui yang selain Allah. Dan barangsiapa yang tidak mengetahui Tuhannya, maka dia akan lebih tidak mengetahui yang lain-Nya. Allah berfirman:


 وَلا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

" Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, sehingga Allah menjadikan mereka lupa akan diri sendiri. Mereka itulah orang-orang yang fasik".
(Qs. Al-Hasr:19)

Jumlah Asmaul Husna adalah  99 nama, pada jum'at sebelumnya telah dibahas tentang "Ar-Rahman, Ar-Rahim, Al-Malik, Al-Quddus, As-Salaam, Al-Mu'min, Al-Muhaimin dan Al-Aziiz yang intinya adalah

1. Ar-Rahman

Yang artinya adalah Yang Maha Pengasih

Dialah yang mengasihi dan merahmati  semua makhluk ciptaan-Nya (semua makhluk melata di darat, laut dan udara serta semua manusia baik yang beriman maupun tidak) tanpa kecuali secara adil dan merata selama di dunia.

2. Ar-Rahim

Artinya Yang Maha Penyayang

Dialah yang mengasihi, merahmati, menyayangi dan mencintai khusus umat dan kaum yang mulia, manusia-manusia muslim yang beriman di dunia dan di akhirat. Dilimpahkan begitu banyak kemuliaan bagi mereka yang bertakwa kepada-Nya.

3. Al-Malik

Artinya Yang Maha Merajai/Memerintah

Al-Malik adalah yang mampu memerintah dan melarang, memuliakan dan menghinakan, memberi rizqi dan menahannya, mengangkat dan merendahkan.

Apa yang diperintahkan-Nya akan membawa kepada kecintaan-Nya dan apa yang dilarang-Nya akan menyeret kepada kemurkaan-Nya.

4. Al-Quddus

artinya Yang Maha Suci

Allah adalah Dzat Yang Maha Suci. Ini dapatlah dipahami bahwa Dia memiliki Kesucian yang mutlak. Suci karuniaNya. Suci pemeliharaanNya. Suci keagunganNya, suci keputusanNya, suci takdirNya, suci segala yang menjadi sifatNya. KesucianNya tidak dinodai oleh apa pun. Oleh karena itu, sebagai hambaNya yang beriman, kita hendaknya bertasbih kepadaNya.

5. As-Salaam

Artinya Mahaselamat (Sejahtera)

Makna dari nama mulia ini ialah Yang Mahaselamat dari semua aib dan kekurangan, karena kesempurnaan yang ada pada Dzat-Nya, sifat2 dan perbuatan2-Nya.

Jika kita melihat satu2 dari sifat2 kesempurnaan-Nya, maka kita akan mendapati setiap sifat tersebut selamat dari segala hal yang berlawanan dengan kesempurnaannya.

6. Al Mu'min

Artinya Yang Maha Memberi Keamanan

Dia Maha Pemberi rasa aman kepada semua makhluk-Nya, terutama kepada manusia. Jika bukan karena Allah swt yang memberikan rasa aman dalam hati, niscaya kita akan senantiasa gelisah, takut, dan cemas.

Setiap orang takut yang berlindung kepada Allah dengan tulus, niscaya ia akan mendapati Allah Ta'ala dengan tulus, niscaya ia akan mendapati Allah Ta'ala memberikan keamanan kepadanya dari rasa takut itu.

7. Al Muhaimin

Artinya Yang Maha Pemelihara

Hak Allah SWT bahwa dia mengurus keperluan makhluk-Nya, berupa pekerjaan mereka, rizqi mereka, dan ajal mereka, yaitu dengan memperhatikan, menguasai dan memeliharanya.

Allah Maha Menyaksikan. Tidak ada perbuatan baik yang tidak disaksikan oleh Allah, tidak ada perbuatan buruk yang lepas dari pengawasan Allah. Perbuatan baik dan benar akan dijamin mendapat balasan yang setimpal, bahkan sangat mungkin dilipatgandakan.


8. Al-Aziiz

Artinya Yang Maha Perkasa/Yang Maha Mulia

Al-Aziiz adalah yang memiliki kekuatan ('izzah) yang sempurna. Dan salah satu tanda kesempurnaan kekuasaan-Nya adalah selamatnya Dia dari semua keburukan, kekurangan dan aib. Sebab semua hal itu akan menafikan kekuasaan-Nya yang sempurna.

Al-’Aziz artinya yang memiliki segala macam kemuliaan: kemuliaan kekuatan, kemuliaan kemenangan, dan kemuliaan pertahanan. Sehingga tidak seorangpun dari makhluk dapat mencelakai-Nya. Dan Ia mengalahkan dan menundukkan seluruh yang ada, sehingga tunduklah kepada-Nya seluruh makhluk karena kebesaran-Nya.”



9. Al Jabbar

Al Jabbar artinya Yang Mahakuasa

Allah Mahakuasa memperbaiki keadaan hamba dengan melepaskannya dari kesulitan, serta menghilangkan darinya kesusahan.

Semua makhluk patuh dalam gerakan dan diamnya, apa yang mereka bawa dan tinggalkan adalah milik Raja dan Pengatur mereka. Mereka tidak memiliki sedikit pun dari urusan tersebut, tidak pula dalam hal hukum, tetapi semua urusan hanya milik Allah.

Dia yang Maha Tinggi dengan Dzat-Nya di atas seluruh makhluk-Nya, yaitu ketinggian Dzat, kedudukan, dan kekuasaan.

Sunday, 27 December 2015

"Tingkatan Kedudukan Manusia"



Ada 4 tingkatan kedudukan manusia yang bisa terjadi di dunia ini, yaitu:

Tingkatan Pertama, yaitu orang yang taat pada semua perintah-Nya. Dia berusaha mempelajari dan memahami semua firman-Nya beserta hadist Rasul-Nya lalu berusaha mengamalkannya semata2 untuk mencari ridho-Nya. Inilah tingkatan tertinggi yang akan memperoleh kemuliaan dunia dan akhirat.

Tingkatan Kedua, yaitu orang yang memberdayakan akal dan hati nuraninya secara maksimal. Dia berusaha bebas dan tidak mau dipengaruhi oleh agama ataupun pendapat banyak orang. Dia berusaha merealisasikan apa yang diyakini oleh akal dan hati nuraninya. Tingkatan orang seperti ini biasanya mendapatkan keunggulan di dunia tapi tidak di akhirat.

Tingkatan Ketiga, yaitu orang yang mengikuti apa pendapat umum yang berlaku pada saat itu. Jika mayoritas berpendapat A maka dia ikut pendapat A, namun bila mayoritas berpindah ke pendapat B maka dia pun ikut berpindah ke pendapat B. Dia tidak memiliki pendirian. Orang seperti ini berada pada posisi rata2, dia aman di dunia namun tidak bisa menjadi yang terbaik. Sedangkan untuk kehidupan akhirat tergantung dari pendapat umum yang berlaku saat itu. Jika mayoritas beriman, maka dia akan beruntung mendapatkan kebaikan di akhirat. Namun jika mayoritas selalu berbuat dholim, maka akhiratnya  akan merugi karena dia telah salah langkah mengikuti mayoritas yang dholim.

Tingkatan Keempat, yaitu orang yang lebih mengutamakan hawa nafsunya. Dia tidak peduli terhadap orang lain yang menasehatinya. Dia berani melawan arus masyarakat bila hal itu tidak sesuai dengan hawa nafsunya. Kedudukan nya lebih rendah dari kedudukan binatang. Untuk kedudukan orang seperti ini maka dia akan memperoleh kehinaan di dunia sekaligus di akhirat.

Jadi jika kita ingin menjadi manusia terunggul, maka yang terbaik adalah mengikuti dan mengamalkan semua firman-Nya dan sabda Nabi-Nya. Insya Allah kita akan memperoleh kebahagian dunia dan akhirat. Semoga kita termasuk salah satu di dalamnya.

(Gantira, 27 Desember 2015, Bogor)

Friday, 25 December 2015

"Menanti Waktu yang Tepat untuk Sebuah Kebahagiaan"

Suatu yang menyenangkan itu tidak akan berakhir indah jika tidak pada waktunya.

Bercumbu dan bergandengan tangan erat dengan lawan jenis yang kita sukai tidaklah berujung  indah bila ikatan resmi belum disahkan. Karena yang terjadi adalah sebaliknya, yaitu selain berdosa juga akan terjadi saling mendholimi di antara mereka.

Memegang jabatan tinggi tidaklah seindah yang dibayangkan jika kita belum siap dan belum waktunya menjabat. Karena yang terjadi adalah masalah semakin kacau dan kita memperoleh celaan dari banyak orang.

Memiliki rumah dan kendaraan yang bagus serta mahal tidaklah seindah yang dibayangkan jika kita belum siap memilikinya. Karena yang terjadi bisa saja membuat kita semakin stess dikarenakan biaya pemeliharaan dan pajak yang tak sanggup kita bayar. Sehingga yang terjadi adalah hutang kita semakin menumpuk dan keresahan semakin meningkat karena takut mengundang para perampok.

Serta banyak lagi hal lainnya yang nampak menyenangkan, namun bila datang belum pada waktunya maka yang didapat adalah tidaklah seindah yang kita bayangkan.

Jadi, teruslah berdoa dan berusaha untuk menggapai apa2 yang kita inginkan. Lalu bersabarlah menunggu semuanya datang pada waktunya sehingga yang akan terjadi adalah lebih indah dari yang kita bayangkan.

( Gantira, 26 Desember 2015, Bogor)

6. Al - Aziiz

A. Pendahuluan

Al-Aziiz adalah yang memiliki kekuatan ('izzah) yang sempurna. Dan salah satu tanda kesempurnaan kekuasaan-Nya adalah selamatnya Dia dari semua keburukan, kekurangan dan aib. Sebab semua hal itu akan menafikan kekuasaan-Nya yang sempurna.

Nama Al-Asma`ul Husna, Al-Aziiz disebutkan di dalam Al-qur'an hampir mencapai 100 kali, salah satu diantaranya sebagaimana yang  terdapat dalam Surat Al-Baqarah ayat 129:

إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

“Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”

Sedangkan di dalam hadits di antaranya diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

يُحْشَرُ النَّاسُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حَفَاةً عُرَاةً غُرْلاً كَمَا خُلِقُوا…. فَأَقُوْلُ كَمَا قَالَ الْعَبْدُ الصَّالِحُ: إِنْ تُعَذِّبْهُمْ فَإِنَّهُمْ عِبَادُكَ وَإِنْ تَغْفِرْ لَهُمْ فَإِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ

“Manusia dikumpulkan di Hari Kiamat dalam keadaan tidak beralas kaki, telanjang dan tidak dikhitan sebagaimana dahulu mereka diciptakan.Maka aku mengatakan seperti yang dikatakan seorang hamba yang shalih: Jika engkau siksa mereka, maka sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu dan jika Engkau ampuni mereka, sesungguhnya Engkau adalah Al-Aziz (Maha Perkasa) dan Maha Bijaksana. (Shahih, HR. At-Tirmidzi dalam Kitab Shifatul Qiyamah Bab Ma Ja`a fi Sya`nil Hasyr no. 2423. Asy-Syaikh Nashiruddin Al-Albani mengatakan: Shahi

B.Arti dan Makna Al-Aziiz

Al-Aziiz artinya Maha Perkasa atau Maha Mulia

Adapun makna nama Allah Al-Aziz adalah yang memiliki sifat ‘izzah.Al-‘Izzah menurut para ulama memiliki tiga makna:

1. Al-’Izzah ( yang berasal dari kata عَزَّ-يَعِزًُّ artinya pertahanan diri dari musuh yang hendak menyakiti-Nya sehingga tidak mungkin tipu dayanya akan sampai kepada-Nya.

Sebagaimana dalam hadits qudsi Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

يَا عِبَادِي إِنَّكُمْ لَنْ تَبْلُغُوا ضُرِّي فَتَضُرُّوْنِي …

“Wahai hamba-hamba-Ku sesungguhnya kalian tak akan dapat mencelakai Aku, sehingga membuat Aku celaka…”

2. Al-’Izzah yang berasal dari kata( عَزَّ-يَعُزُّ artinya mengalahkan dan memaksa.

Contoh penggunaan kata itu dengan makna tersebut:

إِنَّ هذَا أَخِي لَهُ تِسْعٌ وَتِسْعُوْنَ نَعْجَةً وَلِيَ نَعْجَةٌ وَاحِدَةٌ فَقَالَ أَكْفِلْنِيْهَا وَعَزَّنِي فِي الْخِطَابِ

“Sesungguhnya saudaraku ini mempunyai sembilan puluh sembilan ekor kambing betina dan aku mempunyai seekor saja. Dia berkata: Serahkanlah kambingmu itu kepadaku, dan dia mengalahkan aku dalam perdebatan. (Shad: 23)

Sehingga maknanya adalah Allah Subhanahu wa Ta’ala Maha Perkasa, memaksa dan mengalahkan musuh-musuh-Nya, sedang musuh-Nya tidak mampu mengalahkan dan memaksa-Nya. Makna inilah yang paling banyak penggunaannya.

3. Dari kata عَزَّ-يَعَزُّ artinya kuat/Mulia.

(Asy-Syaikh Muhammad bin Shalih Al-’Utsaimin mengatakan:

“Sifat ‘izzah menunjukkan kesempurnaan sifat-sifat Allah Subhanahu wa Ta’ala dan bahwa tiada yang menyerupainya dalam hal kuat/mulia kedudukan-Nya.”

Asy-Syaikh Abdurrahman As-Sa’di mengatakan:

“Al-’Aziz artinya yang memiliki segala macam kemuliaan: kemuliaan kekuatan, kemuliaan kemenangan, dan kemuliaan pertahanan. Sehingga tidak seorangpun dari makhluk dapat mencelakai-Nya. Dan Ia mengalahkan dan menundukkan seluruh yang ada, sehingga tunduklah kepada-Nya seluruh makhluk karena kebesaran-Nya.”



مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْعِزَّةَ فَلِلَّهِ الْعِزَّةُ جَمِيعًا

Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka bagi Allah-lah kemuliaan itu semuanya. (QS Fathir 35: 10)

Allah yang Maha Mulia, kesempurnaan sifat-Nya yang Maha Mulia ini sangat sulit atau tidak mungkin diraih oleh makhluknya sama sekali. Bahkan untuk membayangkan seberapa besar kemuliaan Allah tidak ada manusia yang mampu.

Laisa kamitslihi syaiun (Tidak ada yang serupa dengan-Nya). Puncak kemuliaan yang tidak pernah tersentuh oleh kehinaan sama sekali, tanpa cacat dan tanpa cela. Bahkan sebenarnya, bahwa tidak ada satu makhluk yang mampu mengenal Allah dalam arti yang sebenarnya. Hanya Allah sendiri yang mengenal siapa sebenarnya Allah yang Maha Mulia itu.

Sedangkan Allah dengan segala kekayaan yang dimilikinya sangat dibutuhkan oleh semua makhluk yang hidup di semesta alam ini.

Allahushshamad, Allah tempat bergantung segala sesuatu. Semua makhluk yang hidup maupun yang tidak hidup keberadaannya di dunia ini tergantung kepada Allah. Lengkaplah sudah sifat keperkasaan atau kemuliaan Allah.

C. Pengaruh Nama Al-’Aziz pada Hamba

Pengaruhnya pada diri seorang hamba, diantaranya adalah:

1. Nama tersebut membuahkan sikap tunduk kepada-Nya

Dan tidak mungkin bagi makhluk untuk melakukan sesuatu untuk memerangi Allah Subhanahu wa Ta’ala seperti melakukan riba atau merampok. Karena keduanya merupakan salah satu bentuk memerangi Allah Subhanahu wa Ta’ala, sebagaimana dalam surat Al-Baqarah ayat 279 dan Al-Ma‘idah ayat 33.

2. Nama ini membuahkan sifat mulia dalam diri seorang mukmin dalam berpegang dengan agamanya, sehingga ia mulia di hadapan orang kafir, merendah di hadapan mukminin.

Karena keperkasaan atau kemuliaan itu milik Allah semuanya maka bagi siapa saja yang menghendaki keperkasaan atau kemuliaan tidak ada jalan lain kecuali memohonnya kepada Allah.

Dia harus meyandarkan segala upaya untuk mencapai keperkasaan atau kemuliaan tersebut kepada Allah. Menempuh jalan dan memenuhi syarat-syarat yang telah ditetapkan Allah untuk memperoleh kemuliaan tersebut.

Dalam surat Al father 35: 10 Allah berfirman: “Barangsiapa yang menghendaki kemuliaan, maka kemuliaan itu seluruhnya hanya milik Allah. ”

Maka hanya dengan berbuat taat kepada Allah kita bisa mendapatkan kemuliaan tersebut. Dan memang demikian, bahwa dihadapan Allah orang yang paling taat dalam arti paling taqwa akan menjadi orang yang paling mulia.

Dalam surat Al Hujurat Allah berfirman: Inna akramakum ‘indallahi atqaakum (Sesungguhnya orang yang paling mulia di antaramu adalah orang yang paling bertakwa).

Disamping itu dengan nada menghibur Allah memberitakan kepada orang-orang beriman bahwa mereka itu memiliki derajat yang sangat tinggi kalau mereka termasuk ke dalam kelompok orang yang beriman. Janganlah kalian bersedih dan jangan khawatir sedang kalian lebih tinggi derajatnya jika kamu termasuk orang-orang beriman (Q.S. Ali Imran 3: 139).


3.  Nama ini membuahkan sikap selalu memohon pertolongan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala dari kejahatan musuh karena Dia-lah yang Maha Kuat lagi Perkasa.

D. Penutup

Orang yang faham akan makna al-Aziiz akan senantiasa menjaga diri dari perbuatan yang menurunkan derajat akhlaknya. Dia akan berusaha mengambil amalan yang meninggikan derajatnya dan menghindari amalan yang merendahkan dirinya sendiri.

Bahkan terhadap amal-amal yang meskipun menurut syareat halal, akan tetapi kalau amal itu menurunkan kemuliannya akan dia hindari.

Mari kita berusaha semaksimal mungkin untuk meraih kemulian itu dengan berbuat taat kepada Allah dan Rasul-Nya

Sumber:
1. Asma-ul Husna, hasil buah karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah
2. Fikih Asma-ul Husna, yang ditulis oleh Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Abbad Al-Badr
3. Berbagai sumber dari internet


(Gantira, Bogor 26 Desember 2015)

Sunday, 20 December 2015

Suasana Syukur dan Sabar


Mungkin kita pernah melihat sebuah gambar karikatur tetang seorang yang pejalan kaki melihat dan membayangkan nikmatnya seorang yang sedang naik sepeda; seorang yang sedang naik sepeda melihat dan membayangkan nikmatnya naik motor; seorang yang sedang naik motor melihat dan membayangkan nikmatnya naik mobil.

Namun pada situasi lain, dimana jalanan sedang macet total. Maka situasi gambar itu bisa menjadi terbalik, dimana seorang yang naik mobil melihat dan membayangkan nikmatnya naik motor yang bisa selap selip melewati dirinya walaupun pelan; orang yang sedang naik motor pun sama membayangkan nikmatnya orang yang sedang naik sepeda yang bisa mengangkat kendaraannya melewati dirinya, dan orang yang sedang naik sepeda pun membayangkan nikmatnya  pejalan kaki yang bisa terus berjalan melewati dirinya tanpa membawa beban yang berat.

Itulah berbagai situasi yang mungkin terjadi pada hidup kita. Sehingga dengan pengalaman yang berbeda2 itu akan menyadarkan kita bahwa pada dasarnya setiap orang itu akan mengalami kebahagiaan dan kesengsaraan tersendiri dalam tiap waktu yang berbeda2.

Sehingga dua modal utama yang harus dimiliki dalam mengarungi kehidupan ini adalah bersabar dan bersyukur. Saat susah maka pergunakanlah modal bersabar, sebaliknya saat memperoleh kenikmatan maka gunakanlah modal bersyukur.

(Bandung, 20 Desember 2015)

Thursday, 17 December 2015

6. Al-Muhaimin

A. Pendahuluan

Al-Muhaimin artinya Yang Maha Pemelihara.

Di dalam Al-Qur’an hanya ada satu ayat yang menunjukkan Al-Muhaimin sebagai nama Allah SWT. Yakni dalam firman-Nya:

هُوَ اللَّـهُ الَّذِي لَا إِلَـٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ‌ الْمُتَكَبِّرُ‌ ۚ سُبْحَانَ اللَّـهِ عَمَّا يُشْرِ‌كُونَ
Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan Keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala Keagungan, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan. (QS. al-Hasyr [59]: 23).


B. Makna Al-Muhaimin

Kata Al-Muhaimin
berasal dari kata kerja ‘haimana, yuhaiminu' yang secara behasa mencakup beberapa makna:
1. Menguasai dan mengurusi segala sesuatu
2. Mengawasi dan menyaksikan segala sesuatu
3. Menjaga dan memelihara segala sesuatu

Hak Allah SWT bahwa dia mengurus keperluan makhluk-Nya, berupa pekerjaan mereka, rizqi mereka, dan ajal mereka, yaitu dengan memperhatikan, menguasai dan memeliharanya. Jadi yang menghimpunkan ketiga makna itulah Al-Muhaimin.

Al biqo’iy dalam tafsirnya menjelaskan tentang makna kata al Muhaimin serta penempatannya sebagai al asma’ul husna yang terletak sesudah assalaam dan al mu’min.

Ulas beliau, bahwa untuk terpenuhinya rasa damai dan aman yang dikandung oleh kata assalaam dan al mu’min tentu diperlukan pengetahuan yang sangat dalam menyangkut hal-hal yang bersifat tersembunyi, karena itu kedua kata ini disusul dengan sifat-Nya al Muhaimin. Karena sifat ini bermakna kesaksian yang dilandasi oleh pengetahuan menyeluruh tentang detail,serta pandangan yang mencakup keseluruhan yang lahir maupun yang bathin, maka tidak satu yang tersembunyipun yang tersembunyi bagi-Nya apalagi yang lahir dalam kenyataan.

Allah Maha Menyaksikan. Tidak ada perbuatan baik yang tidak disaksikan oleh Allah, tidak ada perbuatan buruk yang lepas dari pengawasan Allah. Perbuatan baik dan benar akan dijamin mendapat balasan yang setimpal, bahkan sangat mungkin dilipatgandakan.

Ibnu Katsir dalam tafsirnya menjelaskan bahwa al-Muhaimin berarti yang menyaksikan amalan makhluk-Nya, dalam artian mengawasi mereka.

Dan dalam tafsirnya al-Wasiith, Syaikh al-Thanthawi menjelaskan bahwa al-Muhaimin berarti yang mengawasi para hamba-Nya, mengetahui perkataan, perbuatan dan segala kondisi hamba-Nya

Jadi secara ringkasnya makna "Al-Muhaimin" adalah yang mengetahui rahasia2 segala perkara dan yang disembunyikan oleh dada2, yang ilmu-Nya meliputi segala sesuatu, yang menyaksikan amal perbuatan  makhluk, mengawasi mereka dalam berbicara dan berbuat. Tidak ada yang tersembunyi sedikit pun dari perbuatan mereka meskipun sebiji sawi di atas bumi atau di atas langit.


C. Konsekwensi dari nama al-Muhaimin

Konsekwensi dari nama Al-Muhaimin yang mencakup semua makna di atas, menuntut adanya:

1. Sifat ilmu yang tidak ada batasnya dan kekuasaan yang sempurna yang meliputi segala sesuatu.

Sehingga jika kita mengatakan bahwa Allah SWT. sebagai al-Muhaimin, maka itu berarti Allah SWT. memiliki ilmu sempurna yang tidak ada batasnya.

Tidak ada sesuatu apapun yang tersembunyi bagi-Nya di langit dan bumi. Dia maha mengetahui apa yang sudah terjadi, yang sedang terjadi dan yang akan terjadi.

Allah SWT. berfirman:

وَعِندَهُ مَفَاتِحُ الْغَيْبِ لَا يَعْلَمُهَا إِلَّا هُوَ ۚ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْبَرِّ‌ وَالْبَحْرِ‌ ۚ وَمَا تَسْقُطُ مِن وَرَ‌قَةٍ إِلَّا يَعْلَمُهَا وَلَا حَبَّةٍ فِي ظُلُمَاتِ الْأَرْ‌ضِ وَلَا رَ‌طْبٍ وَلَا يَابِسٍ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)”. (QS. al-An’am [6]: 59).

هُوَ الَّذِي خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْ‌ضَ فِي سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ اسْتَوَىٰ عَلَى الْعَرْ‌شِ ۚ يَعْلَمُ مَا يَلِجُ فِي الْأَرْ‌ضِ وَمَا يَخْرُ‌جُ مِنْهَا وَمَا يَنزِلُ مِنَ السَّمَاءِ وَمَا يَعْرُ‌جُ فِيهَا ۖ وَهُوَ مَعَكُمْ أَيْنَ مَا كُنتُمْ ۚ وَاللَّـهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ‌

Dialah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa: Kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy. Dia mengetahui apa yang masuk ke dalam bumi dan apa yang keluar daripadanya dan apa yang turun dari langit dan apa yang naik kepada-Nya. Dan Dia bersama kamu di mana saja kamu berada. Dan Allah Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. (QS. al-Hadiid [57]: 4).

يَعْلَمُ خَائِنَةَ الْأَعْيُنِ وَمَا تُخْفِي الصُّدُورُ‌

Dia mengetahui (pandangan) mata yang khianat dan apa yang disembunyikan oleh hati. (QS. Ghafir [40]: 19).

اللَّـهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الْأَرْ‌ضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الْأَمْرُ‌ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّـهَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ‌ وَأَنَّ اللَّـهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Allah ilmu-Nya benar-benar meliputi segala sesuatu. (QS. al-Thalaq [65]: 12).


2. Allah SWT. Maha kuasa atas segala sesuatu.

Tidak ada yang tidak mampu dilakukan Allah SWT. dan tidak ada batas bagi kekuasaan-Nya.

Allah SWT. berfirman:

قُلِ اللَّـهُمَّ مَالِكَ الْمُلْكِ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَن تَشَاءُ وَتَنزِعُ الْمُلْكَ مِمَّن تَشَاءُ وَتُعِزُّ مَن تَشَاءُ وَتُذِلُّ مَن تَشَاءُ ۖ بِيَدِكَ الْخَيْرُ‌ ۖ إِنَّكَ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ‌

Katakanlah: “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu. (QS. Ali ‘Imran [3]: 26).

وَلِلَّـهِ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْ‌ضِ ۗ وَاللَّـهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ‌

kepunyaan Allah-lah kerajaan langit dan bumi, dan Allah Maha Perkasa atas segala sesuatu. (QS. Ali ‘Imran [3]: 189).

إِنَّمَا أَمْرُ‌هُ إِذَا أَرَ‌ادَ شَيْئًا أَن يَقُولَ لَهُ كُن فَيَكُونُ ﴿٨٢﴾ فَسُبْحَانَ الَّذِي بِيَدِهِ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَإِلَيْهِ تُرْ‌جَعُونَ ﴿٨٣﴾

Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia. Maka Maha Suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaaan atas segala sesuatu dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan. (QS. Yaasin [36]: 82-83).


D. Makna berdoa dengan nama Al-Muhaimin

Ketika kita berdoa kepada Allah dengan nama Al-Muhaimin, berarti kita:

1. Mohon supaya Allah menyaksikan amal baik kita, menjamin hidup kita, menjamin masa depan kita, menjamin keselamatan kita di dunia dan akhirat.

2. Memohon diawasi tindak-tanduk kita agar tidak melenceng dan terjerumus ke dalam jurang kesengsaraan dan kehancuran.

3.  Memohon dipelihara dari fitnah dan bencana, kita mohon Allah memberikan keputusan yang terbaik kepada kita.


E. Buah keimanan kepada nama Allah ‘al-Muhaimin’

Keimanan kepada nama Allah, Al-Muhaimin akan menghasilkan beberapa hal dalam diri kita, yaitu:

1. Merasakan keagungan Allah SWT. dalam penguasaan, pengawasan, penjagaan dan pemeliharaan-Nya terhadap segala sesuatu dengan ilmu dan kekuasaan-Nya yang sempurna.

Allah SWT. berfirman:

وَمَا يَعْزُبُ عَن رَّ‌بِّكَ مِن مِّثْقَالِ ذَرَّ‌ةٍ فِي الْأَرْ‌ضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ وَلَا أَصْغَرَ‌ مِن ذَٰلِكَ وَلَا أَكْبَرَ‌ إِلَّا فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ

Tidak luput dari pengetahuan Tuhanmu biarpun sebesar zarrah (atom) di bumi ataupun di langit. Tidak ada yang lebih kecil dan tidak (pula) yang lebih besar dari itu, melainkan (semua tercatat) dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh). (QS. Yunus [10]: 61).

2. Tsiqah (percaya) kepada Allah SWT. dan menyerahkan segala urusan kepada-Nya sehingga tidak ada perasaan takut kepada apapun dan siapapun kecuali kepada-Nya.

Karena Dia lah yang Maha mengawasi, menguasai, mengatur, menjaga dan memelihara segala sesuatu.

3. Memberikan kekuatan kepada jiwa seorang mukmin untuk dapat menghadapi segala cobaan dan tantangan hidup

Karena dia mengetahui bahwa Allah SWT. Maha mengetahui segala sesuatu dan ia meyakini bahwa Allah SWT. tidak akan memilihkan untuk para hamba-Nya kecuali yang terbaik dan paling bermanfaat untuk kehidupannya, terutama untuk kehidupan akhiratnya.

Sehingga bagaimanapun cobaan dan musibah yang menimpanya ia meyakini bahwa pasti itulah yang terbaik baginya. Allah SWT. berfirman:

فَعَسَىٰ أَن تَكْرَ‌هُوا شَيْئًا وَيَجْعَلَ اللَّـهُ فِيهِ خَيْرً‌ا كَثِيرً‌ا

(maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak. (QS. al-Nisa` [4]: 19).

كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْ‌هٌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تَكْرَ‌هُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ‌ لَّكُمْ ۖ وَعَسَىٰ أَن تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ‌ لَّكُمْ ۗ وَاللَّـهُ يَعْلَمُ وَأَنتُمْ لَا تَعْلَمُونَ

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS. al-Baqarah [2]: 216).

4.  Meningkatkan muraqabatullah dan rasa malu terhadap Allah SWT. dalam diri seorang mukmin karena mengetahui bahwa Allah SWT. Maha mengetahui dan mengawasi semua yang dilakukannya.

Allah SWT. berfirman:

إِنَّ اللَّـهَ لَا يَخْفَىٰ عَلَيْهِ شَيْءٌ فِي الْأَرْ‌ضِ وَلَا فِي السَّمَاءِ

Sesungguhnya bagi Allah tidak ada satupun yang tersembunyi di bumi dan tidak (pula) di langit. (QS. Ali ‘Imran [3]: 5).

F. Penutup

Manusia cenderung berkeluh kesah, karena ketidakadilan, kezaliman orang lain. Bukan karena Allah SWT lalai, akan tetapi hal tersebut merupakan ujian bagi umat-Nya di dunia, untuk mencapai kemenangan hakiki, yang nantinya akan dilihat di akhirat.

Orang beriman pasti dimenangkan oleh Allah SWT., meskipun terlihat “kalah” di dunia. Karena sesungguhnya Allah Maha Memelihara orang2 yang beriman.

Semoga kita semua termasuk salah seorang hamba yang merasa selalu di awasi-Nya sehingga kita terhindar dari perbuatan mendholimi diri sendiri dan orang lain serta semoga kita juga termasuk salah seorang hamba yang senantiasa dijaga-Nya..aamiin..3x

Sumber:
1. Asma-ul Husna, hasil buah karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah
2. Fikih Asma-ul Husna, yang ditulis oleh Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Abbad Al-Badr
3. Berbagai sumber dari internet

(Gantira, 18 Desember 2015, Bogor)