Sunday, 6 December 2015
Ikutilah Pada Siapa Yang Lebih Tahu
Agar hidup kita lancar serta terhindar dari kegagalan dan kekecewaan yang mungkin terus berulang maka ikutilah pada siapa yang lebih tahu.
Sesungguhnya seorang dokter spesialis bidang penyakit tertentu yang sudah teruji lebih tahu dari dokter umum atau orang awam lainnya, maka utamakanlah untuk mengikuti nasihatnya. Sedangkan pendapat dari yang lain cukuplah sebagai masukan untuk meningkatkan kesembuhan kita.
Sesungguhnya kita lebih tahu terhadap apa yang kita rasakan dan apa tujuan hidup kita daripada orang lain yang belum tentu bisa merasakan apa yang kita alami, maka utamakanlah apa yang menjadi dorongan hati kita. Sedangkan pandangan orang lain, jadikanlah hanya sebagai masukan semata bukan penentu hidup kita.
Sesungguhnya Allah dan Rasul-Nya jauh lebih tahu tentang kemaslahatan manusia di dunia dan akhirat, maka utamakanlah al-qur'an dan hadist sebagai pedoman hidup untuk kita ikuti, sedangkan bisikan hati dan pendapat seluruh manusia hanya sebagai masukan saja untuk membuat kita semakin memahami apa yang terkandung dalam kedua sumber utama pedoman hidup ini.
Sungguh beruntung orang yang tahu, menyadari serta mengikuti pada siapa yang lebih tahu untuk setiap perkara yang dihadapinya.
(Gantira, 6 Desember 2015, Bogor)
"Sami’na Wa Atho’na"
Sikap terbaik seorang mukmin terhadap ajaran-Nya adalah
"sami’na wa atho’na" (Kami dengar dan kami patuh). Sebagaimana yang diabadikan dalam surat an-Nuur: 51: “Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. “KAMI MENDENGAR, DAN KAMI PATUH.” Dan mereka itulah orang-orang yang BERUNTUNG.”
Orang mukmin akan menerima semua ajaran-Nya, baik dengan sukarela maupun dengan terpaksa; Baik itu membuat hatinya senang ataupun membuat hatinya gundah gulana; Baik itu menguntungkan ataupun nampak merugikan; Baik itu membuat jiwa dan raganya bahagia ataupun membuatnya sengsara.
Sikap "sami’na wa atho’na" ini dilakukan karena semata2 yakin bahwa Dia Mahasempurna; Dimana semua ajaran-Nya pasti untuk kemaslahatan manusia; Namun seringkali banyak manusia belum memahaminya; Sehingga sikap terbaik seorang mukmin terhadap semua ajaran-Nya adalah
"sami’na wa atho’na".
Kurang sempurna bila sikap seorang muslim hanya mau menjalankan apa yang membuatnya senang, nyaman, membahagiakan dan menguntungkan pribadinya. Namun meninggalkan apa yang nampak membuatnya sedih, resah, sengsara, dan merugikan dirinya. Karena sikap seperti ini hanya akan membuatnya plin plan dan ragu dalam menjalankan ajaran-Nya secara kaffah.
Sikap menerima sebagian dan menolak yang lainnya adalah sikap yang tercela sebagaimana yang dinyatakan dalam QS Al-Baqarah 85:
"Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian dari padamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.”
Sikap seorang mukmin berusaha berbeda jauh dengan sikap seorang yahudi dengan ungkapannya "sami’na wa ashoina (Kami mendengar tapi kami tidak mentaati)"; atau berusaha menghindari sikap seorang munafik dengan ungkapannya "sami’na wa hum laa yasma’uun ( 'kami mendengar', padahal mereka tidak mendengarkan)".
Sikap seorang Yahudi dan seorang munafik sangat dikecam oleh-Nya sebagaimana termuat dalam firman-Nya dalam Qs. Al-Baqarah ayat 93:
“…Peganglah teguh-teguh apa yang Kami berikan kepadamu dan dengarkanlah!” Mereka menjawab: “KAMI MENDENGAR TETAPI TETAPI TIDAK MENTAATI”.
dan juga dalam Qs. al-Anfal 20-21:
“Hai org2 beriman, taatlah kpd Allah & RasulNya dan janganlah kamu berpaling dari-Nya, sedang kamu mendengar. Dan janganlah kamu seperti orang-orang MUNAFIQ yg berkata: “KAMI MENDENGARKAN”, PADAHAL MEREKA TIDAK MENDENGARKAN.”
Semoga hati kita diberikan keteguhan dan keistiqomahan hingga bisa bersikap "Sami’na Wa Atho’na" terhadap ajaran-Nya sampai akhir napas kita, aamiin...3x.
(Gantira, 7 Desember 2015, Bogor)
Saturday, 5 December 2015
Segelintir Orang
Di dunia ini, hanya ada segelintir orang saja yang memiliki visi dan misi hidup yang jelas dan tegas. Sedangkan sebagian besar lainnya hanyalah sebagai follower atau pengikut pada segelintir orang ini.
Segelintir orang ini, ada yang membawa pada kemakmuran untuk dirinya dan dunia sekitarnya; namun ada juga yang membawa pada kehancuran dirinya dan dunia sekitarnya.
Kalau kita mampu, sanggup dan yakin akan tujuan hidup kita maka jangan takut untuk menjadi segelintir orang itu. Karena pada akhirnya akan ada juga para follower yang akan mengikuti kita.
Namun kalau kita tidak mampu, sanggup, atau yakin dengan tujuan hidup kita. Maka yakinkanlah diri kita bahwa kita sedang menjadi salah seorang follower segelintir orang yang memiliki tujuan hidup yang benar yang akan membawanya pada kemakmuran dirinya dan dunia sekitarnya.
Jangan sampai kita menjadi segelintir orang yang membawa pada kehancuran diri kita dan dunia sekitarnya atau menjadi follower segelintir orang tersebut.
(Gantira, 6 Desember 2015, Bogor)
Friday, 4 December 2015
4. As-Salaam
A. Pendahuluan
As-Salaam artinya Mahaselamat (Mahasejahtera)
Nama tersebut disebutkan di dalam Al-qur'an, yaitu pada firman Allah Ta'ala,
هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ ۚسُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ
"Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala keagungan, Maha Suci, Allah dari apa yang mereka persekutukan." (Surat Al-Hasyr:23)
Makna dari nama mulia ini ialah Yang Mahaselamat dari semua aib dan kekurangan, karena kesempurnaan yang ada pada Dzat-Nya, sifat2 dan perbuatan2-Nya. Allah Ta'ala adalah Mahaselamat lagi Maha hak dari segala tinjauan. Allah Ta'ala Mahaselamat dari istri dan anak; Mahaselamat dari saingan dan tandingan, dari kesamaan dan keserupaan; Mahaselamat dari sekutu dan serikat.
Jika kita melihat satu2 dari sifat2 kesempurnaan-Nya, maka kita akan mendapati setiap sifat tersebut selamat dari segala hal yang berlawanan dengan kesempurnaannya. Kehidupan-Nya selamat dari kematian, rasa kantuk, dan tidur. Demikian pula dalam mengurus makhluk-Nya secara terus menerus dan kekuasaan-Nya selamat dari rasa lelah dan letih. Ilmu-Nya selamat dari tersembunyinya sesuatu dari-Nya atau munculnya kelalaian. Keinginan-Nya selamat dan tidak keluar dari jalur hikmah dan mashlahat. Firman-Nya selamat dari dusta dan aniaya. Kekayaan-Nya selamat dari segala kebutuhan kepada selain-Nya dari segala segi; Justru selain-Nya yang butuh kepada Dia; Dia Mahakaya dari siapa saja selain-Nya. Kerajaan-Nya selamat dari pihak lain yang memusuhi, berserikat atau menolong dan membantu, atau memberi syafa'at di sisi-Nya dengan tanpa izin dari-Nya.
Ampunan-Nya selamat dari kehinaan atau main2 sebagaimana halnya pada selain-Nya. Bahkan semua itu adalah murni kedermawanan-Nya, kebaikan, dan kemuliaan-Nya. Demikian pula siksa-Nya, kerasnya azab-Nya dan cepatnya hukuman-Nya selamat dari kezhaliman atau balas dendam atau kasar dan keras. Bahkan semua itu murni hikmah-Nya, keadilan-Nya dan penempatan-Nya segala sesuatu sesuai dengan tempatnya masing2. Dengan semua itu. Allah Ta'ala berhak mendapatkan pujian dan sanjungan sebagaimana Dia berhak mendapatkan semua itu lantaran kebaikan, pahala, dan segala kenikmatan-Nya.
Qadha dan takdir-Nya selamat dari kesia-sian, kezhaliman, aniaya, dan anggapan bahwa Dia dapat terjatuh kepada hal yang bertentangan dengan hikmah agung-Nya. Syariat dan agama-Nya selamat dari kontradiksi, perselisihan, keguncangan, atau menyelisihi maslahat hamba2, rahmat-Nya, perbuatan baik-Nya kepada mereka atau menyelisihi hikmah-Nya. Bahkan syariat-Nya seluruhnya penuh dengan hikmah, rahmat, maslahat, dan keadilan.
Pemberian-Nya selamat dari keadaannya sebagai ganti atau karena keperluan untuk diberikan. Mencegahnya Dia (tidak memberi) selamat dari kikir dan takut fakir. Bahkan pemberian-Nya adalah murni perbuatan baik, bukannya sebagai ganti atau keperluan. Mencegahnya Dia juga murni keadilan dan hikmah yang tidak terkontaminasi dengan sifat kikir dan kelemahan.
Bersemayamnya Allah dan ketinggian-Nya di atas Arsy-Nya selamat dari keadaan-Nya yang membutuhkan sesuatu untuk memikul-Nya atau untuk Bersemayamnya Dia. Bahkan Arsy yang membutuhkan-Nya dan para pemikul Arsy juga butuh kepada-Nya. Karena Dia tidak membutuhkan Arsy dan para pemikulnya dan dari segala sesuatu selain keduanya. Itu adalah bersemayam dan ketinggian yang tidak dapat dibatasi dan tidak membutuhkan Arsy atau yang lainnya, dan tidak pula meliputi-Nya Subhanahu wa Ta'ala, bahkan Allah telah ada tanpa ada Arsy dan Dia tidak membutuhkannya, Dia Mahakaya lagi Maha Terpuji. Bahkan Bersemayamnya Dia di atas Arsy-Nya dan berkuasanya Dia atas seluruh makhluk merupakan konsekuensi dari kekuasaan dan keperkasaan-Nya, tanpa butuh kepada Arsy atau makhluk lain sama sekali.
Pertolongan-Nya kepada para wali-Nya selamat dari membutuhkan (makhluk), sebagaimana makhluk yang
satu membutuhkan yang lain. Allah tidak menafikan bahwa Dia memiliki wali secara mutlak. Namun, yang Allah nafikan dari-Nya adalah adanya wali lantaran Dia membutuhkannya.
Demikian pula kecintaan Allah bagi orang2 yang mencintai-Nya dan para wali-Nya selamat dari faktor2 cintanya makhluk kepada makhluk yang lain, karena mereka membutuhkan cinta itu, membutuhkan kelembutan atau mengambil manfaat karena kedekatan tersebut, dan selamat dari apa yang diucapkan tanpa dalil.
B. Ucapan Salam
Diantara kandungan maknanya adalah bahwasanya Allah Tabaraka wa Ta'ala Pemilik ucapan salam, yakni Yang mengucapkan salam kepada para hamba-Nya, Dia juga mengucapkan salam kepada para rasul dan nabi-Nya lantaran keimanan mereka, kesempurnaan penghambaan mereka dan mereka menyampaikan risalah yang terang. Allah Ta'ala berfirman,
قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَسَلامٌ عَلَى عِبَادِهِ الَّذِينَ اصْطَفَى آللَّهُ خَيْرٌ أَمْ مَا يُشْرِكُونَ (59)
Katakanlah, "Segala puji bagi Allah dan kesejahteraan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya. Apakah Allah yang lebih baik, ataukah apa yang mereka persekutukan dengan Dia ?” (Qs. An-Naml ayat 59)
Allah mengucapkan salam kepada hamba2 dan para wali-Nya di surga tempat segala kenikmatan. Allah Ta'ala berfirman,
سَلَامٌ قَوْلًا مِن رَّبٍّ رَّحِيمٍ
"(Kepada mereka dikatakan): 'Salam', sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang." (QS. Yasin: 58)
Allah Tabaraka wa Ta'ala menjadikan surga-Nya sebagai negeri keselamatan bagi para hamba-Nya dari kematian, rasa sakit, kesedihan, penyakit, gundah gulana, dan lain sebagainya. Allah Ta'ala berfirman
لَهُمْ دَارُ السَّلَامِ عِنْدَ رَبِّهِمْ ۖ وَهُوَ وَلِيُّهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
"Bagi mereka (disediakan) darussalam (surga) pada sisi Tuhannya dan Dialah Pelindung mereka disebabkan amal-amal saleh yang selalu mereka kerjakan." (Qs. Al-An'am:127)
Allah Tabaraka wa Ta'ala menjadikan tersebarnya nama ini di dunia sebagai sebab masuk surga di akhirat. Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ
"Kalian tak akan masuk surga hingga kalian beriman, & tidaklah kalian beriman hingga kalian saling menyayangi. Maukan kalian aku tunjukkan atas sesuatu yg mana apabila kalian mengerjakannya niscaya kalian akan saling menyayangi? Sebarkanlah salam di antara kalian." (Hr. Muslim nomor 54)
C. Ucapan Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh artinya "semoga keselamatan, keberkahan, dan kasih sayang (rahmat) dari Allah SWT menyertai Anda/kalian".
Ucapan seorang Muslim yang berbunyi "Assalamu'alaikum" adalah sebuah pemberitahuan bagi orang yang disalami bahwa dia aman dari tipuan, kecurangan dan tindakan yang tidak baik dari orang yang mengucapkannya. Dan orang yang yang mendapat salam menjawab dengan ucapan serupa, yang berarti semoga Allah memberikan hal yang sama pula atasmu.
Ucapan Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, mengandung hikmah bahwa rahmat dan barakah lebih sempurna daripada sekedar salamah yang disebutkan secara menyendiri. Sebab salamah itu adalah menghindarkan dari segala keburukan. Sedangkan rahmah dan barakah adalah memperoleh kebaikan yang terus menerus, kokoh dan terus bertambah. Dan ini lebih sempurna, sebab inilah yang diinginkan.
Rasulullah melarang para sahabatnya untuk menyampaikan salam kepada Allah, sebab salam kepada orang yang disalami adalah sebagai doa kepadanya agar ia selamat. Sedangkan Allah adalah Dzat yang dari-Nya diminta permohonan, dan bukan yang didoakan. Maka, mustahil untuk mendoakan salam untuk-Nya. Karena Allah-lah yang mengucapkan salam dan kesejahteraan atas hamba-Nya. Sebagaimana yang Dia mengucapkan salam itu dalam kitab-Nya,
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ (180) وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ (181)
"Mahasuci Tuhanmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul." (Qs. Ash-Shaffaat:180-181)
Juga Rasulullah bersabda,
لاَ تَقُوْلُوا: السَّلاَمُ عَلَى اللهِ، فَإِنَّ اللهَ هُوَ السَّلاَمُ
"Janganlah kalian mengatakan, 'Keselamatan atas Allah; karena Allah adalah as-Salam.”' (HR. al-Bukhari no. 831)
D. Penutup
Dengan mengimani nama Allah as-Salam, kita mengetahui kebesaran Allah dan Dia Mahaselamat dari semua aib dan kekurangan, karena kesempurnaan yang ada pada Dzat-Nya, sifat2 dan perbuatan2-Nya. Keyakinan ini membuat kita semakin mantap dalam beribadah kepada-Nya karena Rabb yang kita ibadahi adalah Rabb Yang Mahasempurna, tiada kekurangannya sedikit pun. Dengan demikian, segala pinta dan harapan kita dalam tawakal dan doa tidak akan sia-sia. Dia pasti memenuhi janji-Nya dan Mahakuasa untuk memenuhinya karena Dia Mahakaya dan Mahamampu. Maka dari itu, ibadahilah Dia satu-satu-Nya, tentu ibadah kita takkan sia-sia. Tinggalkan semua sesembahan selain-Nya, karena selain-Nya tidak ada yang memiliki kesempurnaan seperti yang dimiliki-Nya, yang ada justru berbagai kekurangan.
Sumber:
1. Asma-ul Husna, hasil buah karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah
2. Fikih Asma-ul Husna, yang ditulis oleh Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Abbad Al-Badr
3. Berbagai sumber dari internet
(Gantira, 4 Desember 2015, Bogor)
As-Salaam artinya Mahaselamat (Mahasejahtera)
Nama tersebut disebutkan di dalam Al-qur'an, yaitu pada firman Allah Ta'ala,
هُوَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْمَلِكُ الْقُدُّوسُ السَّلَامُ الْمُؤْمِنُ الْمُهَيْمِنُ الْعَزِيزُ الْجَبَّارُ الْمُتَكَبِّرُ ۚسُبْحَانَ اللَّهِ عَمَّا يُشْرِكُونَ
"Dia-lah Allah Yang tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia, Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera, Yang Mengaruniakan keamanan, Yang Maha Memelihara, Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuasa, Yang Memiliki segala keagungan, Maha Suci, Allah dari apa yang mereka persekutukan." (Surat Al-Hasyr:23)
Makna dari nama mulia ini ialah Yang Mahaselamat dari semua aib dan kekurangan, karena kesempurnaan yang ada pada Dzat-Nya, sifat2 dan perbuatan2-Nya. Allah Ta'ala adalah Mahaselamat lagi Maha hak dari segala tinjauan. Allah Ta'ala Mahaselamat dari istri dan anak; Mahaselamat dari saingan dan tandingan, dari kesamaan dan keserupaan; Mahaselamat dari sekutu dan serikat.
Jika kita melihat satu2 dari sifat2 kesempurnaan-Nya, maka kita akan mendapati setiap sifat tersebut selamat dari segala hal yang berlawanan dengan kesempurnaannya. Kehidupan-Nya selamat dari kematian, rasa kantuk, dan tidur. Demikian pula dalam mengurus makhluk-Nya secara terus menerus dan kekuasaan-Nya selamat dari rasa lelah dan letih. Ilmu-Nya selamat dari tersembunyinya sesuatu dari-Nya atau munculnya kelalaian. Keinginan-Nya selamat dan tidak keluar dari jalur hikmah dan mashlahat. Firman-Nya selamat dari dusta dan aniaya. Kekayaan-Nya selamat dari segala kebutuhan kepada selain-Nya dari segala segi; Justru selain-Nya yang butuh kepada Dia; Dia Mahakaya dari siapa saja selain-Nya. Kerajaan-Nya selamat dari pihak lain yang memusuhi, berserikat atau menolong dan membantu, atau memberi syafa'at di sisi-Nya dengan tanpa izin dari-Nya.
Ampunan-Nya selamat dari kehinaan atau main2 sebagaimana halnya pada selain-Nya. Bahkan semua itu adalah murni kedermawanan-Nya, kebaikan, dan kemuliaan-Nya. Demikian pula siksa-Nya, kerasnya azab-Nya dan cepatnya hukuman-Nya selamat dari kezhaliman atau balas dendam atau kasar dan keras. Bahkan semua itu murni hikmah-Nya, keadilan-Nya dan penempatan-Nya segala sesuatu sesuai dengan tempatnya masing2. Dengan semua itu. Allah Ta'ala berhak mendapatkan pujian dan sanjungan sebagaimana Dia berhak mendapatkan semua itu lantaran kebaikan, pahala, dan segala kenikmatan-Nya.
Qadha dan takdir-Nya selamat dari kesia-sian, kezhaliman, aniaya, dan anggapan bahwa Dia dapat terjatuh kepada hal yang bertentangan dengan hikmah agung-Nya. Syariat dan agama-Nya selamat dari kontradiksi, perselisihan, keguncangan, atau menyelisihi maslahat hamba2, rahmat-Nya, perbuatan baik-Nya kepada mereka atau menyelisihi hikmah-Nya. Bahkan syariat-Nya seluruhnya penuh dengan hikmah, rahmat, maslahat, dan keadilan.
Pemberian-Nya selamat dari keadaannya sebagai ganti atau karena keperluan untuk diberikan. Mencegahnya Dia (tidak memberi) selamat dari kikir dan takut fakir. Bahkan pemberian-Nya adalah murni perbuatan baik, bukannya sebagai ganti atau keperluan. Mencegahnya Dia juga murni keadilan dan hikmah yang tidak terkontaminasi dengan sifat kikir dan kelemahan.
Bersemayamnya Allah dan ketinggian-Nya di atas Arsy-Nya selamat dari keadaan-Nya yang membutuhkan sesuatu untuk memikul-Nya atau untuk Bersemayamnya Dia. Bahkan Arsy yang membutuhkan-Nya dan para pemikul Arsy juga butuh kepada-Nya. Karena Dia tidak membutuhkan Arsy dan para pemikulnya dan dari segala sesuatu selain keduanya. Itu adalah bersemayam dan ketinggian yang tidak dapat dibatasi dan tidak membutuhkan Arsy atau yang lainnya, dan tidak pula meliputi-Nya Subhanahu wa Ta'ala, bahkan Allah telah ada tanpa ada Arsy dan Dia tidak membutuhkannya, Dia Mahakaya lagi Maha Terpuji. Bahkan Bersemayamnya Dia di atas Arsy-Nya dan berkuasanya Dia atas seluruh makhluk merupakan konsekuensi dari kekuasaan dan keperkasaan-Nya, tanpa butuh kepada Arsy atau makhluk lain sama sekali.
Pertolongan-Nya kepada para wali-Nya selamat dari membutuhkan (makhluk), sebagaimana makhluk yang
satu membutuhkan yang lain. Allah tidak menafikan bahwa Dia memiliki wali secara mutlak. Namun, yang Allah nafikan dari-Nya adalah adanya wali lantaran Dia membutuhkannya.
Demikian pula kecintaan Allah bagi orang2 yang mencintai-Nya dan para wali-Nya selamat dari faktor2 cintanya makhluk kepada makhluk yang lain, karena mereka membutuhkan cinta itu, membutuhkan kelembutan atau mengambil manfaat karena kedekatan tersebut, dan selamat dari apa yang diucapkan tanpa dalil.
B. Ucapan Salam
Diantara kandungan maknanya adalah bahwasanya Allah Tabaraka wa Ta'ala Pemilik ucapan salam, yakni Yang mengucapkan salam kepada para hamba-Nya, Dia juga mengucapkan salam kepada para rasul dan nabi-Nya lantaran keimanan mereka, kesempurnaan penghambaan mereka dan mereka menyampaikan risalah yang terang. Allah Ta'ala berfirman,
قُلِ الْحَمْدُ لِلَّهِ وَسَلامٌ عَلَى عِبَادِهِ الَّذِينَ اصْطَفَى آللَّهُ خَيْرٌ أَمْ مَا يُشْرِكُونَ (59)
Katakanlah, "Segala puji bagi Allah dan kesejahteraan atas hamba-hamba-Nya yang dipilih-Nya. Apakah Allah yang lebih baik, ataukah apa yang mereka persekutukan dengan Dia ?” (Qs. An-Naml ayat 59)
Allah mengucapkan salam kepada hamba2 dan para wali-Nya di surga tempat segala kenikmatan. Allah Ta'ala berfirman,
سَلَامٌ قَوْلًا مِن رَّبٍّ رَّحِيمٍ
"(Kepada mereka dikatakan): 'Salam', sebagai ucapan selamat dari Tuhan Yang Maha Penyayang." (QS. Yasin: 58)
Allah Tabaraka wa Ta'ala menjadikan surga-Nya sebagai negeri keselamatan bagi para hamba-Nya dari kematian, rasa sakit, kesedihan, penyakit, gundah gulana, dan lain sebagainya. Allah Ta'ala berfirman
لَهُمْ دَارُ السَّلَامِ عِنْدَ رَبِّهِمْ ۖ وَهُوَ وَلِيُّهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
"Bagi mereka (disediakan) darussalam (surga) pada sisi Tuhannya dan Dialah Pelindung mereka disebabkan amal-amal saleh yang selalu mereka kerjakan." (Qs. Al-An'am:127)
Allah Tabaraka wa Ta'ala menjadikan tersebarnya nama ini di dunia sebagai sebab masuk surga di akhirat. Nabi Shalallahu Alaihi wa Sallam bersabda,
لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ
"Kalian tak akan masuk surga hingga kalian beriman, & tidaklah kalian beriman hingga kalian saling menyayangi. Maukan kalian aku tunjukkan atas sesuatu yg mana apabila kalian mengerjakannya niscaya kalian akan saling menyayangi? Sebarkanlah salam di antara kalian." (Hr. Muslim nomor 54)
C. Ucapan Assalamu'alaikum warahmatullah wabarakatuh
Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh artinya "semoga keselamatan, keberkahan, dan kasih sayang (rahmat) dari Allah SWT menyertai Anda/kalian".
Ucapan seorang Muslim yang berbunyi "Assalamu'alaikum" adalah sebuah pemberitahuan bagi orang yang disalami bahwa dia aman dari tipuan, kecurangan dan tindakan yang tidak baik dari orang yang mengucapkannya. Dan orang yang yang mendapat salam menjawab dengan ucapan serupa, yang berarti semoga Allah memberikan hal yang sama pula atasmu.
Ucapan Assalamu'alaikum warahmatullahi wabarakatuh, mengandung hikmah bahwa rahmat dan barakah lebih sempurna daripada sekedar salamah yang disebutkan secara menyendiri. Sebab salamah itu adalah menghindarkan dari segala keburukan. Sedangkan rahmah dan barakah adalah memperoleh kebaikan yang terus menerus, kokoh dan terus bertambah. Dan ini lebih sempurna, sebab inilah yang diinginkan.
Rasulullah melarang para sahabatnya untuk menyampaikan salam kepada Allah, sebab salam kepada orang yang disalami adalah sebagai doa kepadanya agar ia selamat. Sedangkan Allah adalah Dzat yang dari-Nya diminta permohonan, dan bukan yang didoakan. Maka, mustahil untuk mendoakan salam untuk-Nya. Karena Allah-lah yang mengucapkan salam dan kesejahteraan atas hamba-Nya. Sebagaimana yang Dia mengucapkan salam itu dalam kitab-Nya,
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ (180) وَسَلامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ (181)
"Mahasuci Tuhanmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul." (Qs. Ash-Shaffaat:180-181)
Juga Rasulullah bersabda,
لاَ تَقُوْلُوا: السَّلاَمُ عَلَى اللهِ، فَإِنَّ اللهَ هُوَ السَّلاَمُ
"Janganlah kalian mengatakan, 'Keselamatan atas Allah; karena Allah adalah as-Salam.”' (HR. al-Bukhari no. 831)
D. Penutup
Dengan mengimani nama Allah as-Salam, kita mengetahui kebesaran Allah dan Dia Mahaselamat dari semua aib dan kekurangan, karena kesempurnaan yang ada pada Dzat-Nya, sifat2 dan perbuatan2-Nya. Keyakinan ini membuat kita semakin mantap dalam beribadah kepada-Nya karena Rabb yang kita ibadahi adalah Rabb Yang Mahasempurna, tiada kekurangannya sedikit pun. Dengan demikian, segala pinta dan harapan kita dalam tawakal dan doa tidak akan sia-sia. Dia pasti memenuhi janji-Nya dan Mahakuasa untuk memenuhinya karena Dia Mahakaya dan Mahamampu. Maka dari itu, ibadahilah Dia satu-satu-Nya, tentu ibadah kita takkan sia-sia. Tinggalkan semua sesembahan selain-Nya, karena selain-Nya tidak ada yang memiliki kesempurnaan seperti yang dimiliki-Nya, yang ada justru berbagai kekurangan.
Sumber:
1. Asma-ul Husna, hasil buah karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah
2. Fikih Asma-ul Husna, yang ditulis oleh Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Abbad Al-Badr
3. Berbagai sumber dari internet
(Gantira, 4 Desember 2015, Bogor)
Monday, 30 November 2015
"Seorang Pemimpin"
Salah satu faktor kesuksesan dalam memimpin adalah melayani, membimbing dan siap berkorban untuk memenuhi kebutuhan orang2 yang dipimpinnya dalam mencapai tujuan bersama.
Jika seseorang enggan melayani atau berkorban bagi orang lain, maka jangan mimpi ingin jadi pemimpin atau diakui sebagai pemimpin mereka.
Seorang ayah adalah pemimpin bagi istri dan putra-putrinya. Sehingga seorang ayah harus siap berkorban dalam mendidik, menafkahi, melindungi dan memberikan contoh akhlak yang baik buat mereka. Jika seorang ayah enggan berkorban, maka jangan tersinggung jika istri dan putra-putrinya enggan mengakui dia sebagai pemimpin mereka.
Seorang ibu adalah pemimpin bagi putra putrinya. Sehingga seorang ibu harus siap berkorban dalam meluangkan waktunya untuk membesarkan dan mendidik putra- putrinya dengan akhlak terbaik untuk pembentukan karakter mereka. Jika seorang ibu enggan mengorbankan waktunya untuk mereka, maka jangan heran jika anak-anaknya nanti tidak mengakui kepemimpinannya.
Seorang bupati, gubernur bahkan presiden adalah pemimpin bagi rakyat di daerahnya. Sehingga dia mesti mau berkorban untuk ikut menyelesaikan permasalahan yang timbul pada rakyatnya. Jika dia tidak mau berkorban, bahkan malah menimbulkan permasalahan baru maka jangan marah jika rakyatnya enggan mengakui kepemimpinannya.
Ingatlah Rasulullah, beliau adalah pemimpin umat Islam umat islam di dunia dan di akhirat kelak. Karena beliau mau berkorban untuk umatnya dalam mensejahterakan dunia dan akhirat mereka. Bahkan saat menjelang wafatnya kata-kata terakhir beliau adalah 'umati, umati, umati...'
Ingat pula Khalifah Abu Bakar, Umar bin Khatab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib, mereka adalah para pemimpin umat Islam saat itu. Mereka diakui kepemimpinannya karena mereka mau mengorbankan hidupnya untuk kesejahteraan dan kemakmuran umat islam saat itu.
Jadi sebelum kita ingin jadi dan diakui sebagai seorang pemimpin di suatu komunitas tertentu, maka tanyalah dulu diri kita apakah kita siap melayani dan berkorban untuk kepentingan dan kemaslahatan komunitas tersebut. Jika enggan melakukannya, maka jangan bermimpi jadi pemimpin di wilayah itu.
(Gantira, 1 Desember 2015, Bogor)
Jika seseorang enggan melayani atau berkorban bagi orang lain, maka jangan mimpi ingin jadi pemimpin atau diakui sebagai pemimpin mereka.
Seorang ayah adalah pemimpin bagi istri dan putra-putrinya. Sehingga seorang ayah harus siap berkorban dalam mendidik, menafkahi, melindungi dan memberikan contoh akhlak yang baik buat mereka. Jika seorang ayah enggan berkorban, maka jangan tersinggung jika istri dan putra-putrinya enggan mengakui dia sebagai pemimpin mereka.
Seorang ibu adalah pemimpin bagi putra putrinya. Sehingga seorang ibu harus siap berkorban dalam meluangkan waktunya untuk membesarkan dan mendidik putra- putrinya dengan akhlak terbaik untuk pembentukan karakter mereka. Jika seorang ibu enggan mengorbankan waktunya untuk mereka, maka jangan heran jika anak-anaknya nanti tidak mengakui kepemimpinannya.
Seorang bupati, gubernur bahkan presiden adalah pemimpin bagi rakyat di daerahnya. Sehingga dia mesti mau berkorban untuk ikut menyelesaikan permasalahan yang timbul pada rakyatnya. Jika dia tidak mau berkorban, bahkan malah menimbulkan permasalahan baru maka jangan marah jika rakyatnya enggan mengakui kepemimpinannya.
Ingatlah Rasulullah, beliau adalah pemimpin umat Islam umat islam di dunia dan di akhirat kelak. Karena beliau mau berkorban untuk umatnya dalam mensejahterakan dunia dan akhirat mereka. Bahkan saat menjelang wafatnya kata-kata terakhir beliau adalah 'umati, umati, umati...'
Ingat pula Khalifah Abu Bakar, Umar bin Khatab, Usman bin Affan dan Ali bin Abi Thalib, mereka adalah para pemimpin umat Islam saat itu. Mereka diakui kepemimpinannya karena mereka mau mengorbankan hidupnya untuk kesejahteraan dan kemakmuran umat islam saat itu.
Jadi sebelum kita ingin jadi dan diakui sebagai seorang pemimpin di suatu komunitas tertentu, maka tanyalah dulu diri kita apakah kita siap melayani dan berkorban untuk kepentingan dan kemaslahatan komunitas tersebut. Jika enggan melakukannya, maka jangan bermimpi jadi pemimpin di wilayah itu.
(Gantira, 1 Desember 2015, Bogor)
Sunday, 29 November 2015
3. Al - Quddus
A. Pendahuluan
Al-Quddus artinya Yang Maha Suci, yaitu Yang Suci atau terpelihara dari segala aib, keburukan, kekurangan dan dari semua yang tidak layak.
Allah adalah Dzat Yang Maha Suci. Ini dapatlah dipahami bahwa Dia memiliki Kesucian yang mutlak. Suci karuniaNya. Suci pemeliharaanNya. Suci keagunganNya, suci keputusanNya, suci takdirNya, suci segala yang menjadi sifatNya. KesucianNya tidak dinodai oleh apa pun. Oleh karena itu, sebagai hambaNya yang beriman, kita hendaknya bertasbih kepadaNya.
Sebagaimana salah satu ucapan para Malaikat yang ada dalam Qs. Al-Baqarah ayat 30:
وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَك
َ "... padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau.."
Pendapat jumhur ulama tafsir menjelaskan para malaikat berkata bahwa mereka senantiasa mensucikan-Nya dan mengkuduskan-Nya dari semua sifat yang tidak sesuai dengan-Nya.
Sesungguhnya tasbih kepada Allah, menyucikan, dan mengagungkan-Nya wajib dilakukan sesuai dengan dalil2 dari Al-qur'an dan As-sunnah serta sesuai dengan pemahaman kaum salaf umat ini. Sama sekali tidak boleh dibangun di atas dasar hawa nafsu semata, praduga2 rusak atau analogi2 akal yang dangkal.
Barangsiapa yang di dalam bertasbih dan menyucikan Allah bersandar dengan hawa nafsu tanpa petunjuk dari Allah maka sesungguhnya dia telah tergelincir dan terjerumus ke dalam aneka ragam kebatilan dan macam2 kesesatan. Barangsiapa yang Allah selamatkan dirinya dari jalan tersebut dalam bertasbih kepada-Nya, maka sungguh dia telah mendapat petunjuk kepada jalan yang lurus.
Sebagaimana firman-Nya dalam surat Ash-Shaffat ayat 180-182:
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ (180) وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ (181) وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (182)
"Maha Suci Rabbmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam."
B. Hal yang Disucikan dari Allah
Segala hal yang disucikan dari Allah Tabaraka wa Ta'ala ada dua, yaitu:
1) Allah Mahasuci dari segala hal yang dapat mengurangi sifat2 kesempurnaan-Nya
Sebagaimana disebutkan dalam ayat kursi:
اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
“Allah, tidak ada Rabb (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Al Baqarah: 255).
Karena milik-Nya semata puncak dari segala kesempurnaan. Allah bersifat dengan kesempurnaan ilmu dan kekuasaan, Mahasuci dari segala yang dapat mengurangi kesempurnaan-Nya seperti lupa dan lalai, dan tidak ada yang tersembunyi daripada-Nya sebesar dzarrah pun yang ada di langit dan yang ada di bumi, baik yang lebih kecil dari itu ataupun yang lebih besar, Suci dari kelemahan, lelah, letih dan capek.
Dia bersifat dengan kesempurnaan hidup dan terus menerus mengurus makhluk-Nya, Suci dari lawannya yang berupa kematian, kantuk dan tidur.
Dia tersifati dengan keadilan dan kekayaan sempurna, Suci dari kezhaliman atau butuh kepada makhluk-Nya dari berbagai sisi. Dia tersifati dengan kesempurnaan hikmah dan rahmat, Suci dari kebalikannya yang berupa bermain-main dan bodoh, atau Dia berbuat ataupun mensyariatkan apa yang dapat mengurangi hikmah dan rahmat.
Demikian seterusnya seluruh sifat2-Nya suci dari segala hal yang dapat menafikannya atau berlawanan dengannya.
2) Allah Mahasuci dari diserupai oleh salah satu makhluk-Nya atau memiliki tandingan dari salah satu sisi
Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)
“Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Rabb yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia” (QS. Al Ikhlas: 1-4).
Seluruh makhluk itu sesempurna dan semulia apa pun ia, atau mencapai puncak dari keagungan dan kesempurnaan yang sesuai dengannya, maka sedikit pun ia tidak mendekati, menyerupai atau setara Allah Maha Pencipta.
Bahkan seluruh sifat2 makhluk itu begitu kecil apabila dibandingkan dengan sifat2 Penciptanya.
Bahkan semua apa yang ada di dalamnya yang berupa makna2, sifat2 dan kesempurnaan, yang memberikan semua itu kepadanya adalah Allah.
Dia-lah yang telah memberikan pengajaran dan ilham kepadanya. Dia pula yang telah memberikan pengajaran dan ilham kepadanya. Dia pula yang telah membuatnya berkembang secara lahir dan batin, dan menyempurnakannya.
Allah Mahasuci dari segala hal yang dapat menafikan sifat2 kemuliaan, keagungan, dan kesempurnaan. Dia Mahasuci dari lawan, tandingan, sekutu, dan segala permisalan.
Sepatutnya dijelaskan bahwa mensucikan Allah hanya dapat diperoleh dengan melepas dan menyucikan Allah dari segala keburukan dan aib, bersamaan dengan itu ditetapkan sifat2 terpuji dan sifat2 kesempurnaan Allah Ta'ala sesuai dengan apa yang layak bagi-Nya.
C. Beberapa Keutamaan Bertasbih (Mensucikan Allah)
Beberapa keutamaan dalam bertasbih, diantaranya:
1) Tasbih adalah ketaatan yang agung dan ibadah yang mulia
Sebagaimana dalam salah satu hadist:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada dua buah kalimat yang ringan di lisan namun berat di dalam timbangan, dan keduanya dicintai oleh ar-Rahman, yaitu ‘Subhanallahi wabihamdihi, subhanallahil ‘azhim’ (Mahasuci Allah dengan segala pujian kepada-Nya, Mahasuci Allah yang Mahaagung).” (HR. Bukhari [7573] dan Muslim [2694])
2) Seluruh makhluk bertasbih kepada-Nya
Sebagaimana firman Allah Ta'ala dalam Surat Al-Isra' ayat 44:
تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ ۚوَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَٰكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ ۗإِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا
"Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun."
3) Bertasbih merupakan shalatnya seluruh makhluk dan dengannya seluruh makhluk diberi rezeki
Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya Nuh as. ketika menjelang wafatnya, ia memanggil kedua anaknya dan berkata, “Sesungguhnya akan kuwasiatkan kepada kalian, Kuperintahkan kalian dua perintah dan aku melarang kalian dari dua larangan. Kularang kalian dari syirik dan takabur. dan kuperintahkan kalian dengan Laa ilaaha illallah. Sesungguhnya jika langit dan bumi diletakkan dalam satu daun timbangan dan daun timbangan yang lainnya diletakkan kalimat Laa ilaha illallah, maka kalimat Laa ilaaha illallah tersebut akan lebih berat. Seandainya segala isi bumi dan langit ini dijadikan satu lingkaran lalu diletakkan Laa ilaaha illallah di atasnya, niscaya akan hancurlah segalanya.” Dan kuperintahkan kepadamu dengan Subhanallahi wa bihamdihi. Sesungguhnya keduanya adalah shalat seluruh makhluk hidup, dan dengan keduanya pulalah segalanya diberi rezeki.” (HR. Hakim).
D. Penutup
Semoga Allah menjadikan kita ke dalam golongan orang2 yang bertasbih dengan memuji-Nya, yang beriman kepada nama2 dan sifat2-Nya, dan yang mewujudkan tauhid-Nya serta mengagungkan-Nya, karena sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan permohonan..Aamiin..3x
Sumber:
1. Asma-ul Husna, hasil buah karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah
2. Fikih Asma-ul Husna, yang ditulis oleh Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Abbad Al-Badr
3. Berbagai sumber dari internet
(Gantira, 30 November 2015)
Al-Quddus artinya Yang Maha Suci, yaitu Yang Suci atau terpelihara dari segala aib, keburukan, kekurangan dan dari semua yang tidak layak.
Allah adalah Dzat Yang Maha Suci. Ini dapatlah dipahami bahwa Dia memiliki Kesucian yang mutlak. Suci karuniaNya. Suci pemeliharaanNya. Suci keagunganNya, suci keputusanNya, suci takdirNya, suci segala yang menjadi sifatNya. KesucianNya tidak dinodai oleh apa pun. Oleh karena itu, sebagai hambaNya yang beriman, kita hendaknya bertasbih kepadaNya.
Sebagaimana salah satu ucapan para Malaikat yang ada dalam Qs. Al-Baqarah ayat 30:
وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَك
َ "... padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau.."
Pendapat jumhur ulama tafsir menjelaskan para malaikat berkata bahwa mereka senantiasa mensucikan-Nya dan mengkuduskan-Nya dari semua sifat yang tidak sesuai dengan-Nya.
Sesungguhnya tasbih kepada Allah, menyucikan, dan mengagungkan-Nya wajib dilakukan sesuai dengan dalil2 dari Al-qur'an dan As-sunnah serta sesuai dengan pemahaman kaum salaf umat ini. Sama sekali tidak boleh dibangun di atas dasar hawa nafsu semata, praduga2 rusak atau analogi2 akal yang dangkal.
Barangsiapa yang di dalam bertasbih dan menyucikan Allah bersandar dengan hawa nafsu tanpa petunjuk dari Allah maka sesungguhnya dia telah tergelincir dan terjerumus ke dalam aneka ragam kebatilan dan macam2 kesesatan. Barangsiapa yang Allah selamatkan dirinya dari jalan tersebut dalam bertasbih kepada-Nya, maka sungguh dia telah mendapat petunjuk kepada jalan yang lurus.
Sebagaimana firman-Nya dalam surat Ash-Shaffat ayat 180-182:
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ (180) وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ (181) وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ (182)
"Maha Suci Rabbmu Yang mempunyai keperkasaan dari apa yang mereka katakan. Dan kesejahteraan dilimpahkan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah Rabb seru sekalian alam."
B. Hal yang Disucikan dari Allah
Segala hal yang disucikan dari Allah Tabaraka wa Ta'ala ada dua, yaitu:
1) Allah Mahasuci dari segala hal yang dapat mengurangi sifat2 kesempurnaan-Nya
Sebagaimana disebutkan dalam ayat kursi:
اللَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ
“Allah, tidak ada Rabb (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhluk-Nya); tidak mengantuk dan tidak tidur. Kepunyaan-Nya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi syafa’at di sisi Allah tanpa izin-Nya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendaki-Nya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar.” (QS. Al Baqarah: 255).
Karena milik-Nya semata puncak dari segala kesempurnaan. Allah bersifat dengan kesempurnaan ilmu dan kekuasaan, Mahasuci dari segala yang dapat mengurangi kesempurnaan-Nya seperti lupa dan lalai, dan tidak ada yang tersembunyi daripada-Nya sebesar dzarrah pun yang ada di langit dan yang ada di bumi, baik yang lebih kecil dari itu ataupun yang lebih besar, Suci dari kelemahan, lelah, letih dan capek.
Dia bersifat dengan kesempurnaan hidup dan terus menerus mengurus makhluk-Nya, Suci dari lawannya yang berupa kematian, kantuk dan tidur.
Dia tersifati dengan keadilan dan kekayaan sempurna, Suci dari kezhaliman atau butuh kepada makhluk-Nya dari berbagai sisi. Dia tersifati dengan kesempurnaan hikmah dan rahmat, Suci dari kebalikannya yang berupa bermain-main dan bodoh, atau Dia berbuat ataupun mensyariatkan apa yang dapat mengurangi hikmah dan rahmat.
Demikian seterusnya seluruh sifat2-Nya suci dari segala hal yang dapat menafikannya atau berlawanan dengannya.
2) Allah Mahasuci dari diserupai oleh salah satu makhluk-Nya atau memiliki tandingan dari salah satu sisi
Sebagaimana Allah Ta’ala berfirman:
قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (1) اللَّهُ الصَّمَدُ (2) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (3) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ (4)
“Katakanlah: “Dia-lah Allah, Yang Maha Esa. Allah adalah Rabb yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tiada beranak dan tidak pula diperanakkan, dan tidak ada seorangpun yang setara dengan Dia” (QS. Al Ikhlas: 1-4).
Seluruh makhluk itu sesempurna dan semulia apa pun ia, atau mencapai puncak dari keagungan dan kesempurnaan yang sesuai dengannya, maka sedikit pun ia tidak mendekati, menyerupai atau setara Allah Maha Pencipta.
Bahkan seluruh sifat2 makhluk itu begitu kecil apabila dibandingkan dengan sifat2 Penciptanya.
Bahkan semua apa yang ada di dalamnya yang berupa makna2, sifat2 dan kesempurnaan, yang memberikan semua itu kepadanya adalah Allah.
Dia-lah yang telah memberikan pengajaran dan ilham kepadanya. Dia pula yang telah memberikan pengajaran dan ilham kepadanya. Dia pula yang telah membuatnya berkembang secara lahir dan batin, dan menyempurnakannya.
Allah Mahasuci dari segala hal yang dapat menafikan sifat2 kemuliaan, keagungan, dan kesempurnaan. Dia Mahasuci dari lawan, tandingan, sekutu, dan segala permisalan.
Sepatutnya dijelaskan bahwa mensucikan Allah hanya dapat diperoleh dengan melepas dan menyucikan Allah dari segala keburukan dan aib, bersamaan dengan itu ditetapkan sifat2 terpuji dan sifat2 kesempurnaan Allah Ta'ala sesuai dengan apa yang layak bagi-Nya.
C. Beberapa Keutamaan Bertasbih (Mensucikan Allah)
Beberapa keutamaan dalam bertasbih, diantaranya:
1) Tasbih adalah ketaatan yang agung dan ibadah yang mulia
Sebagaimana dalam salah satu hadist:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ’anhu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Ada dua buah kalimat yang ringan di lisan namun berat di dalam timbangan, dan keduanya dicintai oleh ar-Rahman, yaitu ‘Subhanallahi wabihamdihi, subhanallahil ‘azhim’ (Mahasuci Allah dengan segala pujian kepada-Nya, Mahasuci Allah yang Mahaagung).” (HR. Bukhari [7573] dan Muslim [2694])
2) Seluruh makhluk bertasbih kepada-Nya
Sebagaimana firman Allah Ta'ala dalam Surat Al-Isra' ayat 44:
تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَنْ فِيهِنَّ ۚوَإِنْ مِنْ شَيْءٍ إِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهِ وَلَٰكِنْ لَا تَفْقَهُونَ تَسْبِيحَهُمْ ۗإِنَّهُ كَانَ حَلِيمًا غَفُورًا
"Langit yang tujuh, bumi dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tak ada suatupun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. Sesungguhnya Dia adalah Maha Penyantun lagi Maha Pengampun."
3) Bertasbih merupakan shalatnya seluruh makhluk dan dengannya seluruh makhluk diberi rezeki
Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya Nuh as. ketika menjelang wafatnya, ia memanggil kedua anaknya dan berkata, “Sesungguhnya akan kuwasiatkan kepada kalian, Kuperintahkan kalian dua perintah dan aku melarang kalian dari dua larangan. Kularang kalian dari syirik dan takabur. dan kuperintahkan kalian dengan Laa ilaaha illallah. Sesungguhnya jika langit dan bumi diletakkan dalam satu daun timbangan dan daun timbangan yang lainnya diletakkan kalimat Laa ilaha illallah, maka kalimat Laa ilaaha illallah tersebut akan lebih berat. Seandainya segala isi bumi dan langit ini dijadikan satu lingkaran lalu diletakkan Laa ilaaha illallah di atasnya, niscaya akan hancurlah segalanya.” Dan kuperintahkan kepadamu dengan Subhanallahi wa bihamdihi. Sesungguhnya keduanya adalah shalat seluruh makhluk hidup, dan dengan keduanya pulalah segalanya diberi rezeki.” (HR. Hakim).
D. Penutup
Semoga Allah menjadikan kita ke dalam golongan orang2 yang bertasbih dengan memuji-Nya, yang beriman kepada nama2 dan sifat2-Nya, dan yang mewujudkan tauhid-Nya serta mengagungkan-Nya, karena sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengabulkan permohonan..Aamiin..3x
Sumber:
1. Asma-ul Husna, hasil buah karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah
2. Fikih Asma-ul Husna, yang ditulis oleh Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Abbad Al-Badr
3. Berbagai sumber dari internet
Tuesday, 24 November 2015
Menggapai Anugrah Rahmat dari sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim
Ar-Rahman artinya Yang Maha Pengasih, yaitu Allah memberikan rahmat (kasih sayang) secara umum kepada seluruh makhluk-Nya selama di dunia; baik itu binatang laut, darat maupun udara; baik itu manusia mukmin mapun kafir; baik itu manusia yang berakhlak mulia maupun jahat. Semua yang ada akan mendapatkan sifat Rahman-Nya secara adil dan merata selama masih di dunia.
Kasih sayang Allah yang diberikan pada semua makhluk-Nya, dapat berupa:
Pemandangan alam, seperti pegunungan yang indah, hutan yang lebat, sungai yang mengalir dengan jernih, lautan yang luas, binatang dan tumbuhan yang nikmat dipandang mata, udara yang segar, cahaya matahari yang menghangatkan serta berbagai keindahan alam lainnya;
Makanan dan minuman yang menyehatkan seperti berbagai sayuran dan buah2an yang mengandung vitamin, berbagai ikan dan daging yang mengandung protein, serta berbagai macam aneka makanan dan minuman lain yang enak dan menggugah selera makan;
Kesehatan tubuh, seperti kemampuan mata yang bisa melihat dengan jelas, telinga untuk mendengar, tangan dan kaki untuk melakukan berbagai aktifitas serta kesehatan tubuh lainnya hingga kita bisa menikmati apa yang ada hingga bisa tidur dengan nyenyaknya.
Kecerdasan otak, seperti kemampuan berfikir dengan benar, dapat menghasilkan berbagai ide berlian, mudah dalam menghapalkan setiap perkara yang penting untuk diingat, serta berbagai kreatifitas lain yang bermanfaat buat hidupnya.
Harta benda, seperti tempat tinggal yang nyaman, kendaraan yang bisa dikendarai, uang yang bisa digunakan untuk membeli berbagai macam kebutuhan, serta berbagai harta benda lainnya yang dapat memudahkan dan sebagai perhiasan kehidupan.
Kebahagiaan jiwa, seperti bisa berkumpul dan bercanda dengan orang2 yang dicintai, memiliki pasangan hidup yang cantik/cakep; memiliki anak2 yang lucu, sehat dan cerdas; terbebas dari hutang dan tekanan orang lain; serta banyak lagi suasana yang membuat jiwa tenang.
Ar-Rahim artinya adalah Yang Maha Penyayang, yaitu Allah memberikan rahmat (kasih sayang) khusus terhadap kaum mukminin, makhluk yang dimuliakan-Nya.
Saat di dunia ini, Kasih sayang Allah yang diberikan pada kaum mukminin dapat berupa:
Rasa manisnya dalam bermunajah kepada-Nya, seperti merasakan nikmatnya dalam berpuasa karena-Nya; indahnya membagi harta pada orang yang membutuhkannya; damainya berzikir menyebut nama-Nya; khusunya saat bersujud kepada-Nya dan semangatnya dalam memperjuangkan agama-Nya.
Banyaknya taufik yang datang kepadanya, seperti banyaknya kesempatan untuk membaca al-qur'an; memiliki kemampuan untuk melakukan shadaqah, puasa, haji, dan berjihad di jalan-Nya; serta senantiasa rindu dalam melakukan berbagai ketaatan kepada-Nya.
Diberikan keteguhan dalam iman, seperti terhindar dari perbuatan ghibah, namimah (adu domba), dusta dan perbuatan lainnya yang tidak bermanfaat baginya.
Diberikan petunjuk jalan yang lurus, seperti memahami agama sehingga dapat beribadah dengan baik dan benar; dihindarkannya dia dari cinta berlebihan kepada materi, harta, kedudukan, kecantikan, anak, kesehatan serta keindahan dunia lainnya yang menyebabkan dia lupa pada kehidupan akhirat.
Serta banyak lagi bentuk kasih sayang-Nya yang diberikan kepada kaum mukmin selama mereka di dunia hingga mereka terhindar dari azab kubur.
Sedangkan saat di akhirat nanti, Kasih sayang Allah yang diberikan pada makhluk yang dimuliakan-Nya dapat berupa:
Diberi naungan-Nya di padang masyar nanti hingga terhindar dari panasnya situasi saat itu.
Diberikan ampunan dan penghapusan dosa oleh-Nya hingga timbangan kebaikannya lebih berat daripada timbangan keburukannya.
Dimudahkan untuk melewati shirath (jembatan yang terbentang di atas neraka jahanam) hingga terbebas dari ancaman panasnya api neraka.
Dimasukkan dalam surga-Nya hingga dapat merasakan berbagai kenikmatan di dalamnya bahkan diberi tambahan kenikmatan tertinggi dengan diizinkan untuk melihat wajah-Nya.
Sungguh beruntung orang yang tidak hanya mendapatkan anugrah rahmat dari sifat Ar-Rahman-Nya tapi juga berusaha mendapatkan anugrah rahmat dari Ar-rahim-Nya.
Semoga kita termasuk golongan orang yang mendapatkan anugrah keduanya, aamiin..3x
(Gantira, 24 November 2014, Bogor)
Subscribe to:
Posts (Atom)
