Tuesday, 24 November 2015

Menggapai Anugrah Rahmat dari sifat Ar-Rahman dan Ar-Rahim



Ar-Rahman artinya Yang Maha Pengasih, yaitu  Allah memberikan rahmat (kasih sayang) secara umum kepada seluruh makhluk-Nya selama di dunia; baik itu binatang laut, darat maupun udara; baik itu manusia mukmin mapun kafir; baik itu manusia yang berakhlak mulia maupun jahat. Semua yang ada akan mendapatkan sifat Rahman-Nya secara adil dan merata selama masih di dunia.


Kasih sayang Allah yang diberikan pada semua makhluk-Nya,  dapat berupa:

Pemandangan alam, seperti pegunungan yang indah, hutan yang lebat, sungai yang mengalir dengan jernih, lautan yang luas,  binatang dan tumbuhan yang nikmat dipandang mata, udara yang segar, cahaya matahari yang menghangatkan serta berbagai keindahan alam lainnya;

Makanan dan minuman yang menyehatkan seperti berbagai sayuran dan buah2an yang mengandung vitamin,  berbagai ikan dan daging yang mengandung protein, serta berbagai macam aneka makanan dan minuman lain yang enak dan menggugah selera makan;

Kesehatan tubuh, seperti kemampuan mata yang bisa melihat dengan jelas, telinga  untuk mendengar, tangan dan kaki untuk melakukan berbagai aktifitas serta kesehatan tubuh lainnya hingga kita bisa menikmati apa yang ada hingga bisa tidur dengan nyenyaknya.

Kecerdasan otak, seperti kemampuan berfikir dengan benar, dapat menghasilkan berbagai ide berlian, mudah dalam menghapalkan setiap perkara yang penting untuk diingat, serta berbagai kreatifitas lain yang bermanfaat buat hidupnya.

Harta benda, seperti tempat tinggal yang nyaman, kendaraan yang bisa dikendarai, uang yang bisa  digunakan untuk membeli berbagai macam kebutuhan, serta berbagai harta benda lainnya yang dapat memudahkan dan sebagai perhiasan kehidupan.

Kebahagiaan jiwa, seperti  bisa berkumpul dan bercanda  dengan orang2 yang dicintai, memiliki pasangan hidup yang cantik/cakep; memiliki anak2 yang lucu, sehat dan cerdas; terbebas dari hutang dan tekanan orang lain; serta banyak lagi suasana yang membuat jiwa tenang.

Ar-Rahim artinya adalah Yang Maha Penyayang, yaitu Allah memberikan rahmat (kasih sayang) khusus terhadap kaum mukminin, makhluk yang dimuliakan-Nya.

Saat di dunia ini, Kasih sayang Allah yang diberikan pada kaum mukminin dapat berupa:

Rasa manisnya dalam bermunajah kepada-Nya, seperti merasakan nikmatnya dalam berpuasa karena-Nya; indahnya membagi harta pada orang yang membutuhkannya; damainya berzikir menyebut nama-Nya; khusunya saat bersujud kepada-Nya dan semangatnya dalam memperjuangkan agama-Nya.

Banyaknya taufik yang datang kepadanya, seperti banyaknya kesempatan untuk membaca al-qur'an; memiliki kemampuan untuk melakukan shadaqah, puasa, haji, dan berjihad di jalan-Nya;  serta senantiasa rindu dalam melakukan berbagai ketaatan kepada-Nya.

Diberikan keteguhan dalam iman, seperti terhindar dari perbuatan ghibah, namimah (adu domba), dusta dan perbuatan lainnya yang tidak bermanfaat baginya.

Diberikan petunjuk jalan yang lurus, seperti memahami agama sehingga dapat beribadah dengan baik dan benar; dihindarkannya dia dari cinta berlebihan kepada materi, harta, kedudukan, kecantikan, anak, kesehatan serta keindahan dunia lainnya yang menyebabkan dia lupa pada kehidupan akhirat.

Serta banyak lagi bentuk kasih sayang-Nya yang diberikan kepada kaum mukmin selama mereka di dunia hingga mereka terhindar dari azab kubur.

Sedangkan saat di akhirat nanti, Kasih sayang Allah yang diberikan pada makhluk yang dimuliakan-Nya dapat berupa:

Diberi naungan-Nya di padang masyar nanti hingga terhindar dari panasnya situasi saat itu.

Diberikan ampunan dan penghapusan dosa oleh-Nya hingga timbangan kebaikannya lebih berat daripada timbangan keburukannya.

Dimudahkan untuk melewati shirath (jembatan yang terbentang di atas neraka jahanam) hingga terbebas dari ancaman panasnya api neraka.

Dimasukkan dalam surga-Nya hingga dapat merasakan berbagai kenikmatan di dalamnya bahkan diberi tambahan kenikmatan tertinggi dengan diizinkan untuk melihat wajah-Nya.

Sungguh beruntung orang yang tidak hanya mendapatkan anugrah rahmat dari sifat Ar-Rahman-Nya tapi juga berusaha mendapatkan anugrah rahmat dari Ar-rahim-Nya.

Semoga kita termasuk golongan orang yang mendapatkan anugrah keduanya, aamiin..3x

(Gantira, 24 November 2014, Bogor)

Menggapai Ketenangan dengan Takut dan Cinta kepada-Nya


Ketika rasa takut dan cinta kepada-Nya meresap dalam dada kita, di saat yang bersamaan akan muncul ketenangan dalam jiwa kita.

Ketenangan itu muncul karena tidak ada lagi yang perlu ditakuti selain-Nya.

Kita tidak takut kepada selain-Nya, karena kita yakin bahwa setiap detik dan langkah kita serta semua makhluk-Nya berada dalam pengawasan-Nya.

Dia memegang setiap ubun-ubun makhluk-Nya  sehingga tak ada satu tindakan pun dapat dilakukan setiap makhluk tanpa izin dari-Nya.

Dia akan melindungi setiap hamba-Nya yang bertakwa, bahkan syetan pun takut kepada Umar bin Khatab karena ketakwaanya yang luar biasa.

Ketenangan itu muncul karena kecintaan kita kepada-Nya akan menimbulkan rasa saling cinta sesama makhluk yang cinta kepada-Nya.

Orang2 beriman, para malaikat bahkan ikan ikan di lautan akan selalu mendoakan orang2 yang bertakwa kepada-Nya.

Sungguh beruntung orang2 yang berusaha keras untuk takut dan cinta kepada-Nya karena hal itu akan menimbulkan cinta-Nya kepada orang tersebut.

Rasa takut dan cinta kita kepada Allah direalisasikan dengan taat pada semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya yang dilakukan semata2 karena-Nya.

Abu Hurairah r.a meriwayatkan dari Rasulullah saw yang bersabda, “Jika Allah mencintai seorang hamba, Dia memanggil Jibril (lalu dikatakan kepadanya), ’Sesungguhnya, Allah mencintai si fulan, maka cintailah dia.’ Maka Jibril pun mencintainya. Lalu Jibril memanggil penduduk langit (lalu berkata), “Sesungguhnya, Allah mencintai si fulan maka cintailah dia.” Maka penduduk langit pun mencintainya. Setelah itu, dia dicintai di bumi.” (Mutafaqun ‘alaih).

Dalam Hadist Qudsi, Allah berfirman :
" Hamba-KU tidak akan mampu mendekatkan diri kepada-KU dengan sesuatu yg lebih Aku sukai dari saat ia melaksanakan kewajiban yang Aku perintahkan kepadanya, lalu si hamba akan senantiasa mendekatkan diri kepada-KU melalui amal amal sunnah hingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan menjadi "telinga"nya saat ia mendengar, menjadi "mata"nya saat ia melihat, menjadi "tangan"nya saat ia memukul dan menjadi kakinya saat ia berjalan. Jika ia memohon kepada-KU, pasti Aku kabulkan, dan jika ia memohon perlindungan-KU pasti kuberikan perlindungan. " (Hr  Bukhari no. 6502)

(Gantira, 24 November 2015, Bogor)

Friday, 20 November 2015

2. Al - Malik

Salah satu nama Allah adalah Al-Malik, yang artinya Yang Maha Merajai/Memerintah.

Dilihat dari segi manapun makna "kerajaan" sangatlah sesuai dengan sifat Allah. Dan sifat ini mengharuskan adanya sifat yang sempurna pada diri yang disifatinya.

Dia sebagai raja yang hakiki pasti memiliki kehidupan, kekuasaan dan kemauan. Dia juga memiliki pendengaran dan penglihatan, kemampuan berbicara dan kemampuan untuk berbuat sesuai kehendak-Nya sendiri.

Dia mampu memerintah dan melarang, mampu menyuruh, memberi pahala dan memberi hukuman, mampu memberi sesuatu dan menahannya, mampu merendahkan dan meninggikan, mampu memuliakan dan menghinakan, mampu memberi nikmat dan membalas.

Dia mampu mengutus para utusan dan pesuruh-Nya ke berbagai negeri, mampu mengutarakan perintah dan larangan kepada para hamba2-Nya. Semua perkara berasal dari Allah, dan kesempurnaan kerajaan-Nya sama sekali tidak tergantung kepada yang lain. Sebab yang lain seluruhnya bersandar kepada Allah. Wujud mereka tergantung pada kehendak dan penciptaan-Nya. Sehingga jelas bahwa kesempurnaan kerajaan-Nya adalah sesuatu yang sangat terpuji. Karena memang kerajaan dan pujian hanyalah milik-Nya.

Apa yang diperintahkan-Nya akan membawa kepada kecintaan-Nya dan apa yang dilarang-Nya akan menyeret kepada kemurkaan-Nya.

Raja yang sebenarnya adalah raja yang mampu memerintah dan mampu melarang, sehingga Dia bisa leluasa bertindak kepada makhluk-Nya sesuai dengan apa yang Dia perintahkan dan apa yang Dia larang.

Maka barangsiapa yang menyangka bahwa Allah menciptakan makhluk-Nya dengan sia-sia dengan tidak menyuruh dan melarang mereka, maka berarti ia telah melecehkan kerajaan-Nya, dan tidak mengagungkan-Nya dengan pengagungan yang semestinya.

Sebagaimana Allah berfirman,

وَمَا قَدَرُوا اللَّهَ حَقَّ قَدْرِهِ إِذْ قَالُوا مَا أَنْزَلَ اللَّهُ عَلَى بَشَرٍ مِنْ شَيْءٍ

Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya di kala mereka berkata, "Allah tidak menurunkan sesuatu pun kepada manusia.” ...(qs. Al an'aam:91)

Maka barangsiapa yang mengingkari syariat, perintah dan larangan Allah serta memposisikan manusia pada posisi binatang, yaitu tidak diperintah dan dilarang, maka berarti ia telah melecehkan kerajaan Allah dan tidak mengagungkan-Nya dengan pengagungan yang semestinya. Dan dia pun telah mengingkari wujud Allah sebagai Tuhan yang mengatur semua makhluk yang memiliki kesempurnaan Dzat, sifat dan nama2-Nya.

Dalam ayat lain difirmankan:

أَيَحْسَبُ الْإِنْسَانُ أَنْ يُتْرَكَ سُدًى
 أَلَمْ يَكُ نُطْفَةً مِنْ مَنِيٍّ يُمْنَىٰ
 ثُمَّ كَانَ عَلَقَةً فَخَلَقَ فَسَوَّىٰ

"Apakah manusia mengira, bahwa ia akan dibiarkan begitu saja (tanpa pertanggung jawaban)?
Bukankah dia dahulu setetes mani yang ditumpahkan (ke dalam rahim), kemudian mani itu menjadi segumpal darah, lalu Allah menciptakannya, dan menyempurnakannya," (qs. Al-qashash:36-38)

Allah tidak membiarkan nuftah begitu saja, tetapi nuftah itu diubahnya dan dibentuk hingga menjadi lebih baik dari sebelumnya, yakni menjadi 'alaqah (gumpalan darah), kemudian membentuknya hingga menjadi makhluk yang lebih sempurna dari itu. Demikianlah Allah memproses penciptaan dengan penuh hikmah hingga akhirnya terciptalah manusia yang sempurna. Lalu bagaimana mungkin, Ia akan membiarkannya begitu saja setelah menjadi manusia yang sempurna.

Allah telah membantah keras dan mengingkari mereka yang beranggapan bahwa Allah menciptakan makhluk tanpa tujuan dan tanpa hikmah tertentu. Sebagaimana firman Allah,


أَفَحَسِبْتُمْ أَنَّما خَلَقْناكُمْ عَبَثاً وَ أَنَّكُمْ إِلَيْنا لا تُرْجَعُونَ
"Apakah kamu menyangka bahwa itu semua Kami jadikan dengan sia-sia, dan bahwa kamu tidak akan dikembalikan kepada Kami ?" (Qs. Al-Mukminun: 115)


Manusia dalam menyikapi sifat Allah, Al-Malik, ini terbagi pada tiga golongan, yaitu:

1. Pertama
Sikap para Rasul dan pengikutnya, menyatakan secara serentak bahwa kerajaan dan pujian adalah milik Allah semata. Dan inilah mazhab orang2 yang meyakini qadar dan hikmah serta hakikat nama2 dan sifat Allah. Mereka memaknai sifat Al-Malik sebagaimana mestinya.

2. Pendapat kedua
Orang2 yang mengakui kerajaan Allah. Namun mereka menafikan hakikat kemuliaan-Nya/ kemahaterpujian-Nya, mereka adalah kaum Jabariyyah, mazhab yang mengatakan bahwa seluruh pekerjaan manusia adalah dari Allah dan manusia hanyalah sebagai wayang yang tidak memiliki kekuatan sedikit pun, yang menafikan segala macam kebijaksanaan dan segala macam ikhtiar. Mereka menyatakan bahwa boleh bagi Allah untuk melakukan segala yang mungkin, dan mereka  tidak menyucikan Allah dari keburukan. Bahkan semua yang mungkin itu tidak membuat diri-Nya buruk.

Menurut pandangan mereka, boleh saja Allah menyiksa para malaikat-Nya, para Rasul-Nya dan orang2 yang taat. Allah juga boleh memuliakan Iblis dan tentara2nya serta menempatkan mereka pada posisi di atas wali-Nya di dalam surga nanti. Itulah pandangan para kaum Jabariyyah yang sesat.

3. Golongan ketiga
Mereka menetapkan sebagian pujian pada Allah, tetapi menafikan kesempurnaan kekuasaan-Nya. Mereka adalah kelompok Qodariyyah. Mereka menetapkan adanya hikmah pada Allah, tapi dengan alasan hikmah tersebut, mereka menafikan kesempurnaan kekuasaan-Nya.  Pandangan mereka, Allah tidak memiliki sifat ibadah, kalam, sama, bashar. Allah juga, di mata mereka, tidak memiliki rasa cinta dan benci. Allah telah mereka tempatkan sebagai Dzat yang tidak memiliki hakikat kekuasaan dan hakikat pujian.

Mereka memandang bahwa semua hikmah itu terletak pada makhluk bukan pada Allah. Pandangan dari golongan ketiga ini juga termasuk golongan pandangan yang sesat.


Dari penjelasan2 di atas, dapat diringkas bahwa Raja (Al-Malik) adalah yang mampu memerintah dan melarang, memuliakan dan menghinakan, memberi rizqi dan menahannya, mengangkat dan merendahkan. Kita sebagai makhluk-Nya sudah sepatutnya kita taat pada semua aturan-Nya.

Penutup

Kata penutup pada   materi ini, saya melampirkan  sebuah doa yang dibaca oleh Nabi Ibrahim ketika selesai membangun Kabah bersama anaknya Ismail:



رَبَّنَا تََقبَّلْ مِنَّا ِإنَّكَ َأنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ رَبَّنَا وَاجْعَْلنَا مُسْلِمَيْ ِ ن َلكَ وَمِن ُذرِّيَّتِنَا أُمًَّة مُّسْلِمًَة لَّكَ
وََأ ِ رنَا مَنَاسِ َ كنَا وَتُبْ عََليْنَآ ِإنَّكَ َأنتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

Robbanaa taqqobal minnaa innaka antas sami’ul ‘aliim. Robbannaa waj’alna muslimaini laka wa min dzuriyyatinaa umatan muslimatan laka wa arinaa manasikanaa wa tub ‘alainaa innaka antat tawwabur rohiim

“Ya Allah, terimalah bakti kami. Sungguh Engkau Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. Ya Allah, jadikan kami berdua orang yang taat pada‐Mu, dan jadikanlah keturunan kami umat yang patuh pada‐Mu. Tunjukkan tata cara dan tempat ibadah haji kami, serta terimalah taubat kami. Sungguh Kau Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (QS. Al‐Baqarah: 127‐128).

Aamiin, Aamiin, Aamiin ya
Alloh ya Rabbal’alamin …

Sumber:
1. Asma-ul Husna, hasil buah karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah
2. Fikih Asma-ul Husna, yang ditulis oleh Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Abbad Al-Badr
3. Berbagai sumber dari internet

(Gantira, 21 November 2015, Bandung)

Wednesday, 18 November 2015

"Sebuah Pilihan"



Hidup ini penuh pilihan, begitu juga dalam menyikapi peristiwa yang belum terjadi. Kita bisa memilih dengan cara sikap penuh khawatir tanpa bertindak atau dengan sikap berdoa dan melakukan apa yang terbaik yang bisa kita lakukan saat ini?

Yang harus kita sadari bahwa semua peristiwa sejak jaman nabi adam sampai kiamat tiba sudah tertulis di lauhful mahfuz.

Sehingga segala sesuatu yang akan terjadi tetap akan terjadi. Seberapa besar usaha apapun yang kita lakukan untuk menghindarinya.

Begitu juga segala sesuatu yang tidak akan terjadi tetap tidak akan terjadi seberapa besar pun usaha kita untuk merealisasikannya.

Jadi kalau kita boleh memilih maka pilihan  yang terbaik bagi kita adalah lakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan dengan niat karena Allah agar segalanya bernilai ibadah, dan berdoalah kepada Allah terhadap sesuatu yang belum terjadi karena apapun hasilnya tetap doa kita dinilai ibadah yang pasti hasilnya jauh lebih baik daripada kita memilih mengkhawatirkan segala sesuatu yang tak jelas hasilnya dan sekaligus tidak bernilai ibadah.

Atau dengan kata lain....

Bahwa hidup ini sudah ditakdirkan, jadi untuk sesuatu yang sudah digariskan pun kita bisa memilih antara pilihan khawatir atau dengan pilihan berdoa dan berusaha.

Kalau kita memilih sikap khawatir maka apa yang kita khawatirkan tetap terjadi atau tidak terjadi, namun proses pilihan ini tidak bernilai ibadah dan waktu terbuang dengan kegelisahan.

Bila pilihan kita berdoa dan berusaha, walaupun hasilnya tetap terjadi atau tidak terjadi tapi hasilnya bernilai ibadah dan dan dalam prosesnya akan kita lalui dengan ketenangan.

Jadi orang yang memahami takdir akan memilih berdoa dan berusaha, sedangkan orang yang tidak memahami takdir akan lebih memilih khawatir.

(Gantira, 18 November 2015, Bogor)

Monday, 16 November 2015

Rizqi yang Cukup


Rizqi yang bisa dinikmati itu adalah rizqi yang cukup. Rizqi yang datang sesuai dengan kebutuhan kita. Sedangkan rizqi yang berlebih, malah akan menjadi beban hidup kita jika kita menyikapinya dengan salah.

Contoh:
Seseorang yang akan melakukan perjalanan Jakarta - Bandung, maka yang nyaman baginya adalah jika dibekali makanan maksimal untuk dua kali makan dan diberi uang cash sesuai kemungkinan dibutuhkan selama perjalanan sekitar 3- 5 jam perjalanan.

Akan terasa menjadi beban jika dibekali makanan untuk 1 bulan perjalanan dan diberi yang cash sebesar satu koper  penuh uang lembaran ratusan ribuan hanya karena khawatir  akan terjadi suatu kebutuhan yang tak terduga. Yang terjadi adalah dia akan berat membawa beban makanan yang berlebihan serta penuh khawatir karena takut dirampok oleh orang yang mengetahui keberadaan uang tersebut.

Kecuali jika dalam perjalanan, dia dengan sukarela membagi2kan makanan dan uang yang ada. Sedangkan yang disisakan untuk dirinya secukupnya sesuai yang dia butuhkan. Maka yang terjadi mungkin akan bertambahnya teman.

Begitu juga dalam kehidupan di dunia ini, maka yang paling nyaman itu adalah memiliki sesuatu yang memang kita butuhkan. Sedangkan sesuatu yang datang lebih awal melebihi kebutuhan kita itu akan menjadi beban hidup kita jika kita tidak pandai menyikapinya.

Ada dua kerugian yang akan dialami oleh orang yang berlebihan harta yang disikapi dengan salah, yaitu:
1. Dia akan rugi dunia, dimana hidupnya penuh kekhawatiran terhadap bayangan adanya banyak orang yang akan meminta harta yang dimilikinya, atau takut akan ada orang yang merampok hartanya yang berlimpah. Sehingga hidupnya penuh kecemasan dikarenakan kekikirannya.
2. Dia akan rugi akhirat,  dimana dia akan dihisab terhadap semua harta yang dimilikinya walaupun dia tidak sempat menikmati semua harta yang ada.

Jadi sikap yang tepat dalam hidup ini adalah dengan mensyukuri apa yang ada serta berusaha mencari apa yang dibutuhkan dan mensadaqahkan kelebihan harta yang kita miliki.

(Gantira, 17 November 2015, Bogor)

Sunday, 15 November 2015

Berhusnuzhan Kepada-Nya



Berhusnuzhan Kepada-Nya

Bila kita sudah berusaha semaksimal kemampuan kita untuk taat pada-Nya, maka langkah selanjutnya adalah berhusnuzhan kepada Allah terhadap apapun yang akan terjadi.

Ingatlah, bahwa Allah memiliki sifat Ar-Rahim, yaitu sifat Yang Maha Penyayang kepada hamba yang bertakwa kepada-Nya. Dia akan menyayangi dan memuliakan hamba yang taat pada-Nya di dunia dan akhirat.

Bila kita sudah merencanakan sesuatu dengan sematang dan seakurat mungkin, namun tiba2 situasi berubah yang menyebabkan berantakannya rencana kita. Maka berhusnuzhanlah kepada Allah, karena bisa jadi itu yang terbaik buat kita.

Sesungguhnya kita tidak tahu apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang dan kita hanya bisa membuat rencana, sedangkan Dia Maha Tahu apa yang akan terjadi di masa kemudian dan Dia pula yang mentakdirkan mana yang akan terjadi dan mana yang tidak sesuai kehendak-Nya.

Selama kita selalu berada dalam koridor-Nya maka yakinlah bahwa apapun yang akan terjadi adalah anugrah dari-Nya untuk kita. Dan kita akan benar2 menyadarinya saat semua itu sudah berlalu.

Sungguh, yang bisa kita lakukan hanyalah berdoa, berencana dan berusaha semaksimal kemampuan kita.

Bila situasi berubah dari rencana kita, maka lakukanlah yang terbaik yang bisa kita lakukan sesuai situasi yang terjadi bukan lagi berdasarkan rencana kita yang sudah usang, lalu buat rencana ke depan lagi yang disesuaikan dengan situasi di yang sudah berubah.

Sungguh beruntung golongan orang yang selalu mendapat petunjuk-Nya sehingga  setiap langkahnya selalu berada dijalan-Nya. Semoga kita dianugerahi masuk dalam golongan ini.

"Ya Allah, Engkaulah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, tolonglah kami agar kami mengerti, menerima, percaya, memaafkan & dimaafkan. Memberi & menerima, mencintai & dicintai serta berani menatap jauh ke depan untuk kehidupan yg lebih baik, lebih indah & membahagiakan. Aamiin..3x"

(Gantira, 15 November 2015, Bogor)

Friday, 13 November 2015

1. Ar-Rahman dan Ar-Rahim

A. Pendahuluan

Ar-Rahman dan Ar-Rahim, adalah dua nama yang menunjukkan bahwa Allah  memiliki kasih sayang yang luas dan agung. Kedua nama ini meliputi segala sesuatu dan meliputi segala makhluk. Allah  telah menetapkan kasih sayang yang sempurna bagi orang-orang bertakwa yang mengikuti para nabi dan rasul-Nya. Oleh karena itu, mereka mendapatkan kasih sayang sempurna yang bersambung dengan kebahagiaan yang abadi.

Adapun orang-orang yang selain mereka terhalang dari kasih sayang yang sempurna ini, karena mereka sendiri yang menolaknya dengan cara tidak memercayai berita (Ilahi) dan berpaling dari perintah. Oleh karena itu, janganlah mereka mencela siapapun kecuali diri mereka sendiri.

Mereka (yang bertakwa) mengimani bahwa Allah Maharahman dan Maharahim, memiliki rahmat yang agung, dan rahmat-Nya terkait dengan makhluk-Nya yang dirahmati, sehingga nikmat seluruhnya adalah buah dari rahmat-Nya.

A. Ar-Rahman

...Ar–Rahman : Yang Maha Pengasih...

Dialah Allah yang mengasihi semua mahluk ciptaan-Nya tanpa kecuali.

Semua mahluk yang melata, yang besar maupun kecil di darat, laut dan udara dan semua manusia baik yang beriman maupun tidak, yang baik maupun jahat semuanya dikasihi secara adil dan merata.

Karena kasih sayang Allahlah kita dan semua mahluk yang ada dibumi ini dapat hidup terus menerus sampai datang ajal yang telah ditetapkan.

Dengan kasih sayang-Nya ia mencukupkan semua kebutuhan hidup semua mahluk di alam semesta.

Dengan kasih sayangnya Ia menjadikan bumi ini sebagai suatu tempat yang nyaman dan aman untuk dihuni oleh berbagai mahluk hidup. Hanya saja limpahan kasih sayang ini hanya diberikan Allah pada semua mahluk selama hidup di dunia saja, di akhirat kelak kasih sayang ini hanya diberikan kepada orang beriman yang menjadi penghuni surga. Penghuni Neraka tidak lagi merasakan kasih sayang yang mereka dapatkan selama hidup didunia, karena mereka selama hidup didunia kafir dan ingkar pada-Nya.

Kasih sayang Allah menyelimuti segala sesuatu. Allah memberi bukan karena kepentingan-Nya, tapi karena perhatian Allah kepada makhluk-makhluk-Nya, baik Muslim atau kafir, shalih ataupun tidak. Allah memberi tak pandang bulu, dicurahkan kepada semua makhluk-Nya. Pemberian Allah bukan untuk kepuasan Allah karena Maha suci Allah dari membutuhkan apa pun, tapi justru untuk kebaikan kita.

Bentuk Kasih sayang Allah yang diberikan pada semua makhluk-Nya selama di dunia ini, dapat berupa keindahan alam, kesehatan, makanan dan minuman, kecerdasan otak, jabatan dan segala hal yang dapat membuat jiwa dan raga senang.


B. Ar-Rahim

...Ar-Rahim : Yang Maha Penyayang...

نَبِّئْ عِبَادِي أَنِّي أَنَا الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Kabarkanlah kepada hamba-hamba-Ku, bahwa sesungguhnya Aku-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang, (QS. al Hijr: 49)

Satu dari sifat-Nya yang mulia, lahir dari nama-Nya. Ar Rahim, Maha Penyayang. Dalam al Qur’an, Allah mengulangi kata ar Rahim sebanyak 228, jauh lebih banyak dari asma Allah, ar Rahman yang “hanya” 171.

Beberapa mufassir, menerjemahkan bahwa kata ar Rahim ini hanya berlaku pada situasi khusus dan untuk kaum tertentu semata. Artinya, dengan rahim-Nya, Allah teramat mencintai umat dan kaum yang mulia, yaitu manusia-manusia mukmin. Dilimpahkan kasih sayang yang banyak kepada mereka baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Bentuk kasih sayang Allah yang diberikan kepada orang-orang mukmin selama di dunia, yaitu berupa rasa manis dalam bermunajah kepada-Nya, banyaknya taufik yang datang kepada mereka, diberikan keteguhan dalam iman, diberikan petunjuk jalan yang lurus, serta banyak lagi bentuk kasih sayang-Nya yang diberikan kepada kaum mukmin selama mereka di dunia hingga mereka terhindar dari azab kubur.

Sedangkan saat di Akhirat kelak, bentuk kasih sayang-Nya yang diberikan pada orang-orang mukmin berupa naungan-Nya di padang masyar nanti, ampunan dan penghapusan dosa,  dimudahkan dalam melewati shirath (jembatan yang terbentang di atas neraka jahanam), dimasukkan dalam surga-Nya serta mendapatkan berbagai keridhaan-Nya hingga  diberi tambahan kenikmatan tertinggi dengan diizinkan untuk melihat wajah-Nya.

C. Perbedaan Makna Ar-Rahmaan Ar-rahim

Adakah perbedaan antara nama Allah Ar-Rahman dan Ar-Rahim? Tentu ada sisi perbedaannya, karena setiap nama punya makna yang khusus. Berikut ini penjelasan sebagian ulama tentang perbedaan diantara keduanya.

Al-Arzami  mengatakan: “Ar-Rahman artinya Yang Maha Pengasih terhadap seluruh makhluk, sedangkan Ar-Rahim artinya Yang Maha Pengasih terhadap kaum mukminin.” (Tafsir Ibnu Jarir Ath-Thabari, Tafsir Basmalah)

Dengan demikian, dikatakan bahwa yang dimaksud dengan Ar-Rahman adalah yang rahmat-Nya meliputi segala sesuatu di dunia, karena bentuk kata/wazan fa’lan itu menunjukkan penuh dan banyak.

Sedangkan Ar-Rahim, yang rahmat-Nya khusus terhadap kaum mukimin di dunia dan akhirat.

Ibnul Qayyim memandang bahwa Ar-Rahman menunjukkan sifat kasih sayang pada Dzat Allah (yakni Allah  memiliki sifat kasih sayang), sedangkan Ar-Rahim menunjukkan bahwa sifat kasih sayang-Nya terkait dengan makhluk yang dikasihi-Nya.

Sehingga seakan-akan nama Ar-Rahman adalah sifat bagi-Nya, sedangkan nama Ar-Rahim mengandung perbuatan-Nya, yakni menunjukkan bahwa Dia memberi kasih sayang kepada makhluk-Nya dengan rahmat-Nya, jadi ini sifat perbuatan bagi-Nya. Apabila Anda hendak memahami hal ini, perhatikanlah firman Allah :

“Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (Al-Ahzab: 43)

“Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada mereka.” (At-Taubah: 117)

Allah tidak menyebutkan dengan nama Ar-Rahman sama sekali. Dengan itu, Anda tahu bahwa makna Ar-Rahman adalah Yang memiliki sifat kasih sayang dan makna Ar-Rahim adalah Yang mengasihi dengan kasih sayang-Nya. (Syarah Nuniyyah, Ahmad Isa) Al-Harras mengatakan, ini adalah pendapat yang terbaik dalam membedakan kedua nama tersebut.

C. Buah mengimani nama Allah  tersebut

Mengimani nama Allah tersebut akan menambah rasa syukur kita kepada Allah , karena berbagai nikmat yang dikaruniakan Allah kepada kita, baik yang ada dalam organ tubuh, kebutuhan keseharian, alam sekitar kita, maupun alam semesta ini semuanya, adalah semata-mata buah dari kasih sayang-Nya, yang mengharuskan kita untuk tunduk dan bersyukur kepada-Nya, serta membalasnya dengan ketaatan, bukan dengan kemaksiatan dan kerusakan.

D. Beberapa perintah-Nya kepada manusia

Beberapa perintah-Nya kepada manusia yang berkaitan dengan memberi dan menyayangi, diantaranya:

1. Beberapa dalil terkait keutamaan memberi

"Takutlah engkau kepada neraka, sekalipun dengan jalan bersedekah dengan potongan kurma, maka barangsiapa tidak dapat menemukan itu maka hendaklah besedekah dengan mengucapkan perkataan yang baik.”HR. Muttafaq ‘alaih)


"Senyum kalian bagi saudaranya adalah sedekah, beramar ma’ruf dan nahi munkar yang kalian lakukan untuk saudaranya juga sedekah, dan kalian menunjukkan jalan bagi seseorang yang tersesat juga sedekah.”(HR. Tirmizi dan Abu Dzar).


Diriwayatkan dari Abi Hurairah r.a, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda, “Allah Subhanahuwa ta’ala berfirman, berinfaklah wahai anak adam, (jika kamu berbuat demikian) Aku memberi infak kepada kalian”. (Diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan begitu juga oleh Imam Muslim)



عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ الله ُعَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : اْليَدُّ اْلعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ اْليَدِّ السُّفْلى . فَالْيَدُّ اْلعُلْيَا هِيَ اْلمُنْفِقَةُ وَ اْليَدُّ السُّفْلى هِيَ السَّائِلَةُ ( متفق عليه )
Dari ibnu Umar Ra. sesungguhnya Rasulullah SAW telah bersabda : “ Tangan di atas itu lebih baik dari pada tangan di bawah. Tangan yang di atas itu ialah yang member dan tangan yang di bawah itu ialah yang meminta.” (H.R Mutafaq ‘Alaih).

"Jagalah hartamu dengan zakat dan obatilah sakitmu dengan sedekah dan hadapilah segala cobaan dan bahaya dengan doa serta rendah hati.”(HR. Abu Hurairah)

"Sesungguhnya sedekah dapat memadamkan panasnya kubur bagi orang yang memberikan sedekah, dan sesungguhnya orang mukmin akan bernaung pada hari kiamat nanti di bawah naungan sedekahnya.” (HR. Tabbrani).

2. Beberapa dalil terkait menyayangi


عَنْ أَبِي حَمْزَةَ أَنَس بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، خَادِمِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

[رواه البخاري ومسلم]



Dari Abu Hamzah, Anas bin Malik radhiyallahu anhu, pelayan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, beliau bersabda: “Tidak beriman salah seorang di antara kamu hingga dia mencintai untuk saudaranya apa yang dia cintai untuk dirinya sendiri”.

[HR. Bukhari dan Muslim]

Dari Abi Hurairah r.a, beliau berkata, telah bersabda Rasulullah saw, sesungguhnya Allah tabaaraka wa ta’aala berfirman di hari kiamat, “Dimanakah orang – orang yang saling mencintai karena-Ku, dihari ini (kiamat) aku menaungi mereka dalam naunganku, dihari dimana tidak ada naungan kecuali naunganku” (Hadits riwayat Bukhari, dan begitu juga diriwayatkan oleh Imam Malik.)



مَنْ لاَ يَرْحَمْ وَلاَ يُرْحَمْ (رواه البخارى)
Barangsiapa tidak menyayangi maka tidak disayangi (HR. Al Bukhari)


Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda, “Barangsiapa yang diberi cobaan sesuatu karena anak-anak perempuan seperti itu, lalu ia berbuat baik kepada mereka maka anak-anak perempuan tersebut akan menjadi penghalang untuknya dari siksa neraka.” (HR. Bukhari no. 5995 dan Muslim no. 2629)

E. Penutup

Dalam kata penutup ini, sebelum kita beraktifitas setidaknya kita harus membiasakan diri untuk membaca “Bismillahirrahman Nirrahiim”, supaya kita mendapat nikmat tiada tara dan rezeki yang halal serta nikmat sehat setelah  menyebut Nama-Nya.

Sumber:

1. Asma-ul Husna, hasil buah karya Ibnu Qayyim Al-Jauziyah
2. Fikih Asma-ul Husna, yang ditulis oleh Syaikh Abdurrazzaq bin Abdul Muhsin Al-Abbad Al-Badr
3. Berbagai sumber dari internet

(Gantira, 13 November 2015, Bogor)