Wednesday, 9 September 2015

Doa, Usaha dan Ridha

Tidak semua yang kita butuhkan dan kita inginkan itu dapat kita lakukan, maka disinilah kita butuh doa.

Tidak semua penderitaan dan kesulitan dapat kita atasi, maka disinilah kita butuh doa.

Di sisi lain, kita diberi rizqi berupa ilmu dan pemahaman, maka disinilah kita harus berusaha dengan cara taat pada semua perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Di sisi lain, kita diberi rizqi berupa kekuatan dan kesehatan, maka disinilah kita harus berusaha dengan segenap kemampuan kita untuk menggapai apa yang kita inginkan dan kita harapkan.

Namun, tidak semua yang kita inginkan dan kita harapkan sesuai dengan kenyataan, maka disinilah kita perlu ridho pada semua takdir-Nya.

Namun tidak semua yang  kita dapatkan dan kita hasilkan  sesuai dengan perencanaan dan kerja keras kita, maka disinilah kita perlu berbaik sangka pada semua keputusan-Nya.

Sesungguhnya yang terbaik menurut kita belum tentu baik menurut-Nya dan yang terburuk menurut kita belum tentu buruk menurut-Nya.

Sesungguhnya, semua takdir dan keputusan-Nya pasti yang terbaik buat hamba2-Nya yang berusaha taat pada-Nya.


“Ya Allah, kami mohon kepada-Mu tanamkan rasa ridho dalam hati kami sesudah keputusan-Mu, kenikmatan memandang wajah-Mu dan kerinduan berjumpa dengan-Mu... aamiin..3x

(Gantira, 10 September 2015, Bogor)

Monday, 7 September 2015

Kesabaran Tingkat Tinggi

Kita akan senang, bila seseorang yang kita bantu keadaannya menjadi lebih baik dari sebelumnya.

Kita pun akan senang, bila seseorang yang kita tolong mengikuti semua saran kita untuk memperbaiki kesulitannya.

Namun kita akan kesal, kalau dia mengabaikan semua saran kita untuk memperbaiki dirinya.

Dan kita akan jauh lebih kesal lagi bila kita memperbaiki semua kerusakan yang disebabkan olehnya serta berusaha membantunya untuk memperbaiki keadaan dia agar situasi di masa depannya lebih baik; tapi dia malah membuat kerusakan lagi demi kesenangannya  serta mengharapkan kita memperbaiki semua kerusakannya tanpa mau dirinya memperbaiki diri.

Sungguh luar biasa kesabaran yang dimiliki para
nabi dan rasul serta para ulama yang mewarisinya. Mereka membantu memperbaiki kerusakan serta mengajak dan menolong umatnya untuk memperoleh surga dan terhindar dari ancaman api neraka. Tapi orang-orang yang ditolong malah membalasnya dengan mencela dan mendholimi para penyerunya.

Sungguh, perjuangan para nabi dan rasul serta para ulama yang mewarisinya membutuhkan kesabaran tingkat tinggi.


"Dealing with Negative People? Just Don't!"



PERNAH berjumpa atau harus berhubungan dengan orang negatif?

          Saya jamin siapa pun dan dimana pun Anda pasti pernah harus menghadapi masa-masa yang jauh dari menyenangkan ini. Saya pun tidak terkecuali. Belum lama ini, saya memutuskan untuk keluar dari sebuah grup WA yang beranggotakan para warga tempat saya tinggal. Niat awal bergabung untuk bisa menjalin silaturahmi dan berkomunikasi jadi sulit terlaksana karena ulah segelintir orang yang membuat apa pun jadi rumit, tegang, dan ... negatif. Dan, sebagaimana umumnya terjadi pada berbagai situasi lain, saat orang - orang negatif sudah menguasai panggung, tidak akan mudah bagi yang lain untuk angkat bicara dan melibatkan diri. Jika kita perhatikan dengan seksama, situasi ini terjadi di keluarga, lingkup pertemanan, organisasi, bahkan negara. Sunyinya suara banyak orang saat segelintir orang negatif merajalela bukan karena takut, melainkan rasa enggan untuk berdebat dan terlibat.

          Apa sebenarnya orang negatif? Penjelasannya bisa panjang lebar. Namun, bagi saya, mereka adalah orang-orang yang lebih mudah melihat kesalahan atau keburukan dari sebuah situasi, orang lain, atau bahkan diri mereka sendiri. Mereka teramat sulit mempercayai orang lain dan senantiasa mengkhawatirkan hal-hal terburuk yang bakal menimpa mereka. Mereka secara konsisten mengomentari segala situasi dari sudut pandang pesimis dan selalu mengasumsikan hal terburuk. Cara paling mudah untuk mengenali orang negatif adalah saat kita merasakan kelelahan luar biasa setiap kali usai berinteraksi dengan mereka. Dalam konteks ini, orang-orang negatif sering kali dijuluki vampir energi.

          The core of negativity: Blame & shame. Pada intinya, orang-orang negatif punya 2 senjata ampuh yang hampir selalu mereka gunakan dalam berbagai kesempatan: mempersalahkan dan mempermalukan. Kenapa problem ini terjadi? Ini sepenuhnya salah dia yang tidak memenuhi janji ini dan itu. Bagaimana menuntaskan masalah ini? Seharusnya masalah ini tidak terjadi jika dia melakukan tugasnya. Sungguh mengecewakan punya (silahkan lingkari yang paling sesuai: teman/anak buah/bos/istri/suami/rekan kerja) seperti kamu!

          Life sucks - for all negative people. Orang-orang negatif hampir selalu tidak merasakan kalau mereka negatif. Kenapa mereka menjadi orang negatif hampir selalu karena rangkaian peristiwa dalam kehidupan mereka. Pahami kalau kehidupan mereka jauh dari menyenangkan, cenderung kesepian, dan sangat mendambakan orang lain untuk turut merasakan apa yang mereka rasakan. Kenegatifan mereka bukan karena mereka negatif "dari sononya", melainkan mereka tidak (lagi) berhasil menarik energi positif dari sekitar mereka. Kabar buruknya, negativity ini bisa menular dengan cepat. Bagaimana tidak? Setelah lelah berhubungan dengan mereka, kita hampir pasti membicarakan mereka dengan segala kenegatifan mereka pada orang lain. Nah lho?!

          You always have many reasons to smile. Sebaliknya, orang positif adalah mereka yang mampu menyelaraskan kehidupan mereka dengan sumber energi dari dalam diri. Mereka menyebarkan rasa hangat, rasa aman, dan rasa bahagia ke sekeliling mereka. Berada di sekitar orang-orang macam ini selalu menyenangkan dan menggugah untuk berbuat sesuatu. Bisa jadi esensi menjadi orang positif adalah syukur dan sabar. Sesuatu yang sangat relevan dengan ajaran agama manapun.

          Stay positive. Spend time with happy people. Choose your battles. Apa yang bisa dilakukan jika harus berhadapan dengan orang negatif? Well, menghadapi mereka adalah pilihan. Tidak setiap diskusi harus diladeni. Tidak semua undangan harus dipenuhi. Dan, tidak semua WA grup harus dipertahankan ;) Mudahnya begini: terus sopan, terus tersenyum, dan jalan terus.

          Dalam kehidupan akan selalu ada orang-orang negatif. Kutipan dari Blake Mycoskie, pendiri TOM's ini paling tidak bisa memberikan ide tentang bagaimana harus berhadapan dengan mereka: "I Choose my friends very carefully. I never hang around with anybody I do not want to be with. - And that's a blessing. Always spend time people who are happy, who are growing, who love to learn and who don't mind to say sorry and thank you - and knows how to have a good time." ( Penulis: Rene Suhardono; Sumber: Kompas, sabtu, 5 September 2015 hal. 35; Ditulis ulang oleh: Uung Gantira)

Skala Prioritas

"Skala Prioritas"

Saat pertama kali serius memperdalam ajaran Islam. Semangat muncul dengan meluap-luap.

Tanpa ada yang bertanya, mulut ingin langsung mengatakan A sesat, B bid'ah, dan C menyimpang.

Tanpa ada peristiwa besar, jiwa inginnya bergelora meneriakkan perang, hancurkan kebatilan, dan enyahkan kemunafikan.

Setelah terus mencoba bersabar mendalami ajaran Islam. Pemahaman mulai sedikit demi sedikit meresap dalam dada.

Ternyata segala sesuatu itu ada skala prioritas, ada yang harus segera dilakukan dan ada juga yang perlu bersabar untuk menahan diri dari ketergesa-gesaan.

Bila ada dua pilihan antara melakukan suatu kebaikan tapi efek buruknya lebih besar dari manfaatnya atau menghindarinya maka pilihan bersabar untuk tidak melakukannya adalah lebih prioritas.

Bila ada pilihan melakukan sesuatu yang akan menimbulkan kerugian kecil atau mendiamkannya yang akan menimbulkan kerusakan besar maka pilihan  untuk tetap istiqomah melakukannya adalah lebih prioritas.

Sungguh, kita harus semakin memahami dan merealisasikan makna skala prioritas dalam mengamalkan sebuah ilmu di kehidupan yang makin komplek ini.

Sunday, 6 September 2015

10. IHSAN

Menurut bahasa, Ihsan  artinya berbuat baik/ kebaikan. Sedangkan menurut istilah yaitu perbuatan baik yang dilakukan oleh seseorang dengan niat hati beribadah kepada Allah SWT.

Sedangkan dalam sebuah hadist, dijelaskan tentang ihsan, yaitu:

"Ihsan adalah bahwa engkau menyembah Allah seolah-olah kamu melihat-Nya, jika kamu tidak dapat melihatnya, maka sesungguhnya dia sedang melihat kamu."
(HR. Abu Hurairah)

Ihsan menurut pengertian yang disebutkan dalam hadis di atas ialah kita menyembah Allah s.w.t. seolah-olah kita melihat-Nya. Jika kita tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah s.w.t. -melihat kita.

Menyembah Allah berarti mengabdikan diri kepada-Nya dengan beribadat menurut cara yang paling baik pada zahirnya dan batinnya.

Ihsan merupakan inti iman, ruh dan kesempurnaan. Semua yang sudah kita bahas dari materi pertama sampai materi terakhir ini termasuk bagian ihsan.

Dalam surat ar-rahman ayat 60 difirmankan :

. هَلْ جَزَاءُ الْإِحْسَانِ إِلَّا الْإِحْسَانُ
Tidak ada balasan ihsan (kebaikan) kecuali ihsan (kebaikan) (pula).

Dalam tafsir ibnu katsir dijelaskan bahwa tidak ada balasan bagi orang yang berbuat kebaikan di dunia kecuali kebaikan di akhirat kelak (surga).

Jadi segala amal yang dilakukan secara ihsan, yaitu dilakukan semata2 karena Allah maka hal itu adalah kebaikan yang balasannya adalah surga.

Ihsan meliputi tiga aspek yang fundamental. Ketiga hal tersebut adalah

1. Ibadah

Kita berkewajiban ihsan dalam beribadah, yaitu dengan menunaikan semua jenis ibadah, seperti shalat, puasa, haji, dan sebagainya dengan cara yang benar, yaitu menyempurnakan syarat, rukun, sunnah, dan adab-adabnya.

Hal ini tidak akan mungkin dapat ditunaikan oleh seorang hamba, kecuali jika saat pelaksanaan ibadah-ibadah tersebut ia dipenuhi dengan cita rasa yang sangat kuat (menikmatinya), juga    dengan kesadaran penuh bahwa Allah senantiasa memantaunya hingga ia merasa bahwa ia sedang dilihat dan diperhatikan oleh-Nya. Minimal seorang hamba merasakan bahwa Allah senantiasa memantaunya, karena dengan ini lah ia dapat menunaikan ibadah-ibadah tersebut dengan baik dan sempurna, sehingga hasil dari ibadah tersebut akan seperti yang diharapkan.


2.  muamalah

Dalam bab muamalah, ihsan dijelaskan Allah SWT pada surah an Nisaa’ ayat 36, yang berbunyi sebagai berikut : “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu bapak, karib kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat maupun yang jauh, teman sejawat, ibnu sabil dan hamba sahayamu…”

Dalam ayat di atas, disebutkan beberapa orang yang berhak mendapatkan ihsan, yaitu:

a. Orang tua

Dalam sebuah hadist riwayat Turmuzdi, dari Ibnu Amru bin Ash, Rasulullah saw. Bersabda :

رِضَى اللهُ فِى رِضَى اْلوَالِدَيْنِ وَ سُخْطُ اللهِ فِى سُخْطِ اْلوَاِلدَيْنِ

“Keridhaan Allah berada pada keridhaan orang tua, dan kemurkaan Allah berada pada kemurkaan orang tua.”

Dalil di atas menjelaskan bahwa ibadah kita kepada Allah tidak akan diterima, jika tidak disertai dengan berbuat baik kepada kedua orang tua. Apabila kita tidak memiliki kebaikan ini, maka bersamaan dengannya akan hilang ketakwaan, keimanan, dan keislaman.

Dan Akhlak kepada sesama manusia yang paling utama kepada kedua orang tua, berakhlak kepada mereka adalah dengan berbakti kepada keduanya.

b. Ihsan kepada kerabat karib

Ihsan kepada kerabat adalah dengan jalan membangun hubungan yang baik dengan mereka, bahkan Allah SWT menyamakan seseorang yang memutuskan hubungan silatuhrahmi dengan perusak dimuka bumi. Allah berfirman :

”Maka apakah kiranya jika kamu berkuasa kamu akan membuat kerusakan dimuka bumi dan memutuskan hubungan kekeluargaan.?” (Muhammad: 22)
Silaturahmi adalah kunci untuk mendapatkan keridhaan Allah. Hal ini dikarenakan sebab paling utama terputusnya hubungan seorang hamba dengan Tuhannya adalah karena terputusnya hubungan silaturahmi.

C. Ihsan kepada anak yatim dan fakir miskin

Diriwayatkan oleh Bukhari, Abu Dawud, dan Turmuzdi, bahwa Rasulullah saw bersabda, “Aku dan orang yang memelihara anak yatim di surga kelak akan seperti ini…(seraya menunjukkan jari telunjuk jari tengahnya).”

Diriwayatkan oleh Turmuzdi, Nabi saw. Bersabda :

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَبَضَ يَتِيمًا مِنْ بَيْنِ الْمُسْلِمِينَ إِلَى طَعَامِهِ وَشَرَابِهِ أَدْخَلَهُ اللَّهُ الْجَنَّةَ إِلَّا أَنْ يَعْمَلَ ذَنْبًا لَا يُغْفَرُ لَهُ

Dari Ibnu Abbas bahwasanya Nabi SAW bersabda : “Barangsiapa—dari Kaum Muslimin—yang memelihara anak yatim dengan memberi makan dan minumnya, maka Allah akan memasukkannya ke dalam surga selamanya, selama ia tidak melakukan dosa yang tidak terampuni.”

d. Ihsan kepada tetangga

Ihsan terhadap tetangga ini sebagaimana yang disabdakan Rasulullah saw.:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَا يُسْلِمُ عَبْدٌ حَتَّى يَسْلَمَ قَلْبُهُ وَلِسَانُهُ وَلَا يُؤْمِنُ حَتَّى يَأْمَنَ جَارُهُ بَوَائِقَهُ

Dari Abdullah bin Mas’ud RA berkata, bersabda Rasulullah SAW : Demi Yang jiwaku berada di tangan-NYA tidaklah selamat seorang hamba sampai hati dan lisannya selamat (tidak berbuat dosa) dan tidaklah beriman (sempurna keimanannya) seorang hamba sehingga tetangganya merasa aman dari gangguannya. (HR.Ahmad)

Pada hadits yang lain, Rasulullah bersabda :

لاَ يُؤْمِنُ بِي مَنْ باَتَ شَبْعَانًا وَ جَارُهُ جَا ئِعٌ وَهُوَ يَعْرِفُهُ

“Tidak beriman kepadaku barangsiapa yang kenyang pada suatu malam, sedangkan tetangganya kelaparan, padahal ia megetahuinya.”(HR. ath-Thabrani)

e. Ihsan kepada ibnu sabil dan hamba sahaya

Rasulullah saw. bersabda mengenai hal ini :

َمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan Hari Akhir, hendaklah memuliakan tamunya.” (HR. Jama’ah, kecuali Nasa’i)

Selain itu, ihsan terhadap ibnu sabil adalah dengan cara memenuhi kebutuhannya, menjaga hartanya, memelihara kehormatannya, menunjukinya jalan jika ia meminta, dan memberinya pelayanan.

جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَمْ أَعْفُو عَنْ الْخَادِمِ فَصَمَتَ عَنْهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَمْ أَعْفُو عَنْ الْخَادِمِ فَقَالَ كُلَّ يَوْمٍ سَبْعِينَ مَرَّةً


Pada riwayat yang lain, dikatakan bahwa seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw. dan berkata, “Ya, Rasulullah, berapa kali saya harus memaafkan hamba sahayaku?” Rasulullah diam tidak menjawab. Orang itu berkata lagi, “Berapa kali ya, Rasulullah?” Rasul menjawab, “Maafkanlah ia tujuh puluh kali dalam sehari.” (HR. Abu Daud dan at-Turmuzdi)

إِذَا صَنَعَ لِأَحَدِكُمْ خَادِمُهُ طَعَامَهُ ثُمَّ جَاءَهُ بِهِ وَقَدْ وَلِيَ حَرَّهُ وَدُخَانَهُ فَلْيُقْعِدْهُ مَعَهُ فَلْيَأْكُلْ فَإِنْ كَانَ الطَّعَامُ مَشْفُوهًا قَلِيلًا فَلْيَضَعْ فِي يَدِهِ مِنْهُ أُكْلَةً أَوْ أُكْلَتَيْنِ


Dalam riwayat yang lain, Rasulullah saw bersabda, “Jika seorang hamba sahaya membuat makanan untuk salah seorang diantara kamu, kemudian ia datang membawa makanan itu dan telah merasakan panas dan asapnya, maka hendaklah kamu mempersilahkannya duduk dan makan bersamamu. Jika ia hanya makan sedikit, maka hendaklah kamu mememberinya satu atau dua suapan.” (HR. Bukhari, Turmuzdi, dan Abi Daud)


3. akhlak.

Ihsan dalam akhlak sesungguhnya merupakan buah dari ibadah dan muamalah. Seseorang akan mencapai tingkat ihsan dalam akhlaknya apabila ia telah melakukan ibadah seperti yang menjadi harapan Rasulullah dalam hadits yang telah dikemukakan di awal tulisan ini, yaitu menyembah Allah seakan-akan melihat-Nya, dan jika kita tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah senantiasa melihat kita. Jika hal ini telah dicapai oleh seorang hamba, maka sesungguhnya itulah puncak ihsan dalam ibadah. Pada akhirnya, ia akan berbuah menjadi akhlak atau perilaku, sehingga mereka yang sampai pada tahap ihsan dalam ibadahnya akan terlihat jelas dalam perilaku dan karakternya.

Berdasarkan ini semua, maka Rasulullah saw. mengatakan dalam sebuah hadits   :

اِنَّمَا بُعِثْتُ لِأُتَمِّمَ مَكَارِمَ اْلأَ خْلَاقِ

“Aku diutus hanyalah demi menyempurnakan akhlak yang mulia.”

9. DZIKIR

A. Pengertian dan makna dzikir

Dzikir adalah segala aktifitas dengan mengingat Allah dengan hati dan menyebut-Nya dengan lisan.

Perintah dzikir seperti yang disebutkan dalam firman Allah dalam surat Al-Ahzab ayat 41-43:

يَـٰٓأَيُّہَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ ٱذۡكُرُواْ ٱللَّهَ ذِكۡرً۬ا كَثِيرً۬ا (٤١)  وَسَبِّحُوهُ بُكۡرَةً۬ وَأَصِيلاً (٤٢) هُوَ ٱلَّذِى يُصَلِّى عَلَيۡكُمۡ وَمَلَـٰٓٮِٕكَتُهُ ۥ لِيُخۡرِجَكُم مِّنَ ٱلظُّلُمَـٰتِ إِلَى ٱلنُّورِۚ وَڪَانَ بِٱلۡمُؤۡمِنِينَ رَحِيمً۬ا (٤٣)

"Hai orang-orang yang beriman, berzikirlah [dengan menyebut nama] Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya [memohonkan ampunan untukmu], supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya. Dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman."

Dzikir adalah pembersih dan pengasah hati serta obatnya jika hati itu sakit.

Al Hasan Al-Bashri berkata, "Carilah kemanisan dalam tiga perkara: Dalam shalat, dalam dzikir dan membaca Al-quran. Jika kalian tidak mendapatkannya, maka ketahuilah pintunya dalam keadaan tertutup."

Dengan dzikir, hamba bisa mengalahkan setan, sebagaimana setan yang dapat mengalahkan orang2 yang lalai dan lupa diri.

Dzikir merupakan ruh amal2. Jika amal terlepas dari dzikir, maka amal itu seperti badan yang tidak memiliKi ruh.


B. Macam - Macam Dzikir :

Terdapat 3 macam bentuk dalam berdzikir, yaitu:

1) Dzikir dengan hati, seperti

- mengingat-ngingat nikmatNya
- memikirkan penciptaanNya yang sempurna,
- menyadari akan kehadiranNya yang menyaksikan segala perbuatan kita,
- menyadari akan ilmuNya Yang Maha Mengetahui apa isi hati kita,
- menyadari akan PenglihatanNya yang Maha Melihat apa yang kita perbuat,
- menyadari akan PendengaranNya yang Maha Mendengar ucapan lisan kita,
- bertawakkal kepadaNya, dst. ini semua dzikir hati.

2) Dzikir dengan hati dan lisan, seperti

 - Menyebut nama-nama dan sifat-sifat Allah dan menggunakkannya untuk memuji dan menyanjungNya.
Seperti dengan ucapan “Subhanallah”, “Alhamdulilaah”, “Laa ilaaha illalllah” atau dzikir-dzikir yang semisal.

- Menyebut perbuatan Allah yang berkaitan dengan nama dan sifatNya.
Misalnya dengan mngatakan: “Sesungguhnya Allah Maha Mendengar seluruh suara makhlukNya dan Maha Melihat gerak-gerik mereka”

- Menyebut perintah dan laranganNya (berdakwah)
Misalnya dengan mengatakan: “Sesungguhnya Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan begini” atau mengatakan “Sesungguhnya Allah melarang begini”

- Menyebut karunia dan kebaikanNya
misalnya dengan mengatakan: “Segala puji bagi Allah, yang telah memberikanku nikmat hidup, nikmat sehat, nikmat Islam, nikmat Iman dan nikmat berada diatas sunnah nabiNya yang mulia

3) Dzikir dengan hati,Lisan dan Anggota Badan, Seperti: shalat dan ibadah haji.

C. Keutamaan dan Manfaat Dzikir

Ibnu Qayyim Al Jauziyah dalam kitabnya Al Wabilush Shoyyib, telah menyarikan bahwa ada 51 keutamaan dan manfaat dzikir, yaitu:

1) mengusir setan.

2) mendatangkan ridho Ar Rahman.

3) menghilangkan gelisah dan hati yang gundah gulana.

4) hati menjadi gembira dan lapang.

5) menguatkan hati dan badan.

6) menerangi hati dan wajah menjadi bersinar.

7) mendatangkan rizki.

8) orang yang berdzikir akan merasakan manisnya iman dan keceriaan.

9) mendatangkan cinta Ar Rahman yang merupakan ruh Islam.

10) mendekatkan diri pada Allah sehingga memasukkannya pada golongan orang yang berbuat ihsan yaitu beribadah kepada Allah seakan-akan melihatnya.

11) mendatangkan inabah, yaitu kembali pada Allah ‘azza wa jalla. Semakin seseorang kembali pada Allah dengan banyak berdzikir pada-Nya, maka hatinya pun akan kembali pada Allah dalam setiap keadaan.

12) seseorang akan semakin dekat  pada Allah sesuai dengan kadar dzikirnya pada Alalh ‘azza wa jalla. Semakin ia lalai dari dzikir, ia pun akan semakin jauh dari-Nya.

13) semakin bertambah ma’rifah (mengenal Allah). Semakin banyak dzikir, semakin bertambah ma’rifah seseorang pada Allah.

14) mendatangkan rasa takut pada Rabb ‘azza wa jalla dan semakin menundukkan diri pada-Nya. Sedangkan orang yang lalai dari dzikir, akan semakin terhalangi dari rasa takut pada Allah.

15) meraih apa yang Allah sebut dalam ayat,

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ

“Maka ingatlah pada-Ku, maka Aku akan mengingat kalian.” (QS. Al Baqarah: 152). Seandainya tidak ada keutamaan dzikir selain yang disebutkan dalam ayat ini, maka sudahlah cukup keutamaan yang disebut.

16) hati akan semakin hidup. Ibnul Qayyim pernah mendengar gurunya, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata,

الذكر للقلب مثل الماء للسمك فكيف يكون حال السمك إذا فارق الماء ؟

“Dzikir pada hati semisal air yang dibutuhkan ikan. Lihatlah apa yang terjadi jika ikan tersebut lepas dari air?”

17) hati dan ruh semakin kuat. Jika seseorang melupakan dzikir maka kondisinya sebagaimana badan yang hilang kekuatan. Ibnul Qayyim rahimahullah menceritakan bahwa Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah sesekali pernah shalat Shubuh dan beliau duduk berdzikir pada Allah Ta’ala sampai beranjak siang. Setelah itu beliau berpaling padaku dan berkata, ‘Ini adalah kebiasaanku di pagi hari. Jika aku tidak berdzikir seperti ini, hilanglah kekuatanku’ –atau perkataan beliau yang semisal ini-.

18) dzikir menjadikan hati semakin kilap yang sebelumnya berkarat. Karatnya hati adalah disebabkan karena lalai dari dzikir pada Allah. Sedangkan kilapnya hati adalah dzikir, taubat dan istighfar.

19) menghapus dosa karena dzikir adalah kebaikan terbesar dan kebaikan akan menghapus kejelekan.

20) menghilangkan kerisauan. Kerisauan ini dapat dihilangkan dengan dzikir pada Allah.

21) ketika seorang hamba rajin mengingat Allah, maka Allah akan mengingat dirinya di saat ia butuh.

22) jika seseorang mengenal Allah dalam  keadaan lapang, Allah akan mengenalnya dalam keadaan sempit.

23) menyelematkan seseorang dari adzab neraka.

24) dzikir menyebabkan turunnya sakinah (ketenangan), naungan rahmat, dan dikelilingi oleh malaikat.

25) dzikir menyebabkan lisan semakin sibuk sehingga terhindar dari ghibah (menggunjing), namimah (adu domba), dusta, perbuatan keji dan batil.

26) majelis dzikir adalah majelis para malaikat dan majelis orang yang lalai dari dzikir adalah majelis setan.

27) orang yang berzikir begitu bahagia, begitu pula ia akan membahagiakan orang-orang di sekitarnya.

28) akan memberikan rasa aman bagi seorang hamba dari kerugian di hari kiamat.

29) karena tangisan orang yang berdzikir, maka Allah akan memberikan naungan ‘Arsy padanya di hari kiamat yang amat panas.

30) sibuknya seseorang pada dzikir adalah sebab Allah memberi untuknya lebih dari yang diberikan pada peminta-minta.

31) dzikir adalah ibadah yang paling ringan, namun ibadah tersebut amat mulia.

32) dzikir adalah tanaman surga.

33) pemberian dan keutamaan yang diberikan pada orang yang berdzikir, tidak diberikan pada amalan lainnya.

34) senantiasa berdzikir pada Allah menyebabkan seseorang tidak mungkin melupakan-Nya. Orang yang melupakan Allah adalah sebab sengsara dirinya dalam kehidupannya dan di hari ia dikembalikan. Seseorang yang melupakan Allah menyebabkan ia melupakan dirinya dan maslahat untuk dirinya. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ نَسُوا اللَّهَ فَأَنْسَاهُمْ أَنْفُسَهُمْ أُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. Mereka Itulah orang-orang yang fasik.” (QS. Al Hasyr: 19)

35) dzikir adalah cahaya bagi pemiliknya di dunia, kubur, dan hari berbangkit.

36) dzikir adalah ro’sul umuur (inti segala perkara). Siapa yang dibukakan baginya kemudahan dzikir, maka ia akan memperoleh berbagai kebaikan. Siapa yang luput dari pintu ini, maka luputlah ia dari berbagai kebaikan.

37) dzikir akan memperingatkan hati yang tertidur lelap. Hati bisa jadi sadar dengan dzikir.

38) orang yang berdzikir akan semakin dekat dengan Allah dan bersama dengan-Nya. Kebersamaan di sini adalah dengan kebersamaan yang khusus, bukan hanya sekedar Allah itu bersama dalam arti mengetahui atau meliputi. Namun kebersamaan ini menjadikan lebih dekat, mendapatkan perwalian, cinta, pertolongan dan taufik Allah. Sebagaimana AllahTa’ala berfirman,

إِنَّ اللَّهَ مَعَ الَّذِينَ اتَّقَوْا وَالَّذِينَ هُمْ مُحْسِنُونَ

“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. An Nahl: 128)

وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ

“Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS. Al Baqarah: 249)

وَإِنَّ اللَّهَ لَمَعَ الْمُحْسِنِينَ

“Dan Sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al ‘Ankabut: 69)

لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا

“Janganlah kamu berduka cita, Sesungguhnya Allah beserta kita.” (QS. At Taubah: 40)

39) dzikir itu dapat menyamai seseorang yang memerdekakan budak, menafkahkan harta, dan menunggang kuda di jalan Allah, serta juga dapat menyamai seseorang yang berperang dengan pedang di jalan Allah.

Sebagaimana terdapat dalam hadits,

مَنْ قَالَ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللَّهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ ، لَهُ الْمُلْكُ ، وَلَهُ الْحَمْدُ ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَىْءٍ قَدِيرٌ . فِى يَوْمٍ مِائَةَ مَرَّةٍ ، كَانَتْ لَهُ عَدْلَ عَشْرِ رِقَابٍ

“Barangsiapa yang mengucapkan ‘Laa ilaha illallah wahdahu laa syarika lah, lahul mulku, wa lahul hamdu, wa huwa ‘ala kulli syain qodiir dalam sehari sebanyak 100 kali, maka itu seperti memerdekakan 10 budak.“[1]

40) dzikir adalah inti dari bersyukur. Tidaklah bersyukur pada Allah Ta’ala orang yang enggan berdzikir. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda pada Mu’adz,

« يَا مُعَاذُ وَاللَّهِ إِنِّى لأُحِبُّكَ وَاللَّهِ إِنِّى لأُحِبُّكَ ». فَقَالَ « أُوصِيكَ يَا مُعَاذُ لاَ تَدَعَنَّ فِى دُبُرِ كُلِّ صَلاَةٍ تَقُولُ اللَّهُمَّ أَعِنِّى عَلَى ذِكْرِكَ وَشُكْرِكَ وَحُسْنِ عِبَادَتِكَ »

“Wahai Mu’adz, demi Allah, sungguh aku mencintaimu. Demi Allah, aku mencintaimu.” Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku menasehatkan kepadamu –wahai Mu’adz-, janganlah engkau tinggalkan di setiap akhir shalat bacaan ‘Allahumma a’inni ‘ala dzikrika wa syukrika wa husni ‘ibadatik’ (Ya Allah tolonglah aku untuk berdzikir dan bersyukur serta beribadah yang baik pada-Mu).“[2] Dalam hadits ini digabungkan antara dzikir dan syukur. Begitu pula Allah Ta’alamenggabungkan antara keduanya dalam firman Allah Ta’ala,

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُونِ

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku.” (QS. Al Baqarah: 152). Hal ini menunjukkan bahwa penggabungan dzikir dan syukur merupakan jalan untuk meraih bahagia dan keberuntungan.

41) makhluk yang paling mulia adalah yang bertakwa yang lisannya selalu basah dengan dzikir pada Allah. Orang seperti inilah yang menjalankan perintah dan menjauhi larangan Allah. Ia pun menjadikan dzikir sebagai syi’arnya.

42) hati itu ada yang keras dan meleburnya dengan berdzikir pada Allah. Oleh karena itu, siapa yang ingin hatinya yang keras itu sembuh, maka berdzikirlah pada Allah.

Ada yang berkata kepada Al Hasan, “Wahai Abu Sa’id, aku mengadukan padamu akan kerasnya hatiku.” Al Hasan berkata, “Lembutkanlah dengan dzikir pada Allah.”

Karena hati  ketika semakin lalai, maka semakin keras hati tersebut. Jika seseorang berdzikir pada Allah, lelehlah kekerasan hati tersebut sebagaimana timah itu meleleh dengan api. Maka kerasnya hati akan meleleh semisal itu, yaitu dengan dzikir pada Allah ‘azza wa jalla.

43) dzikir adalah obat hati sedangkan lalai dari dzikir adalah penyakit hati. Obat hati yang sakit adalah dengan berdzikir pada Allah.

Mak-huul, seorang tabi’in, berkata, “Dzikir kepada Allah adalah obat (bagi hati). Sedangkan sibuk membicarakan (‘aib) manusia, itu adalah penyakit.”

44) tidak ada sesuatu yang membuat seseorang mudah meraih nikmat Allah dan selamat dari murka-Nya selain dzikir pada Allah. Jadi dzikir adalah sebab datangnya dan tertolaknya murka Allah. Allah Ta’ala berfirman,

وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu.” (QS. Ibrahim: 7). Dzikir adalah inti syukur sebagaimana telah disinggung sebelumnya. Sedangkan syukur akan mendatangkan nikmat dan semakin bersyukur akan membuat nikmat semakin bertambah.

45) dzikir menyebabkan datangnya shalawat Allah dan malaikatnya bagi orang yang berdzikir. Dan siapa saja yang mendapat shalawat (pujian) Allah dan malaikat, sungguh ia telah mendapatkan keuntungan yang besar. Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا (41) وَسَبِّحُوهُ بُكْرَةً وَأَصِيلًا (42) هُوَ الَّذِي يُصَلِّي عَلَيْكُمْ وَمَلَائِكَتُهُ لِيُخْرِجَكُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَكَانَ بِالْمُؤْمِنِينَ رَحِيمًا (43)

“Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya diwaktu pagi dan petang. Dialah yang memberi rahmat kepadamu dan malaikat-Nya (memohonkan ampunan untukmu), supaya Dia mengeluarkan kamu dari kegelapan kepada cahaya (yang terang). dan adalah Dia Maha Penyayang kepada orang-orang yang beriman.” (QS. Al Ahzab: 41-43)

46) dzikir kepada Allah adalah pertolongan besar agar seseorang mudah melakukan ketaatan. Karena Allah-lah yang menjadikan hamba mencintai amalan taat tersebut, Dia-lah yang memudahkannya dan menjadikan terasa nikmat melakukannya. Begitu pula Allah yang menjadikan amalan tersebut sebagai penyejuk mata, terasa nikmat dan ada rasa gembira. Orang yang rajin berdzikir tidak akan mendapati kesulitan dan rasa berat ketika melakukan amalan taat tersebut, berbeda halnya dengan orang yang lalai dari dzikir. Demikianlah banyak bukti yang menjadi saksi akan hal ini.

47) dzikir pada Allah akan menjadikan kesulitan itu menjadi mudah, suatu yang terasa jadi beban berat akan menjadi ringan, kesulitan pun akan mendapatkan jalan keluar. Dzikir pada Allah benar-benar mendatangkan kelapangan setelah sebelumnya tertimpa kesulitan.

48) dzikir pada Allah akan menghilangkan rasa takut yang ada pada jiwa dan ketenangan akan selalu diraih. Sedangkan orang yang lalai dari dzikir akan selalu merasa takut dan tidak pernah merasakan rasa aman.

49) dzikir akan memberikan seseorang kekuatan sampai-sampai ia bisa melakukan hal yang menakjubkan. Itulah karena disertai dengan dzikir. Contohnya adalah Ibnu Taimiyah yang sangat menakjubkan dalam perkataan, tulisannya, dan kekuatannya. Tulisan Ibnu Taimiyah yang ia susun sehari sama halnya dengan seseorang yang menulis dengan menyalin tulisan selama seminggu atau lebih. Begitu pula di medan peperangan, beliau terkenal sangat kuat. Inilah suatu hal yang menakjubkan dari orang yang rajin berdzikir.

50) orang yang senantiasa berdzikir ketika berada di jalan, di rumah, di lahan yang hijau, ketika safar, atau di berbagai tempat, itu akan membuatnya mendapatkan banyak saksi di hari kiamat. Karena tempat-tempat tadi, gunung dan tanah, akan menjadi saksi bagi seseorang di hari kiamat. Kita dapat melihat hal ini pada firman Allah Ta’ala,

إِذَا زُلْزِلَتِ الْأَرْضُ زِلْزَالَهَا (1) وَأَخْرَجَتِ الْأَرْضُ أَثْقَالَهَا (2) وَقَالَ الْإِنْسَانُ مَا لَهَا (3) يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ أَخْبَارَهَا (4) بِأَنَّ رَبَّكَ أَوْحَى لَهَا (5)

“Apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat), dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (menjadi begini)?”, pada hari itu bumi menceritakan beritanya, karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya.” (QS. Az Zalzalah: 1-5)

51) jika seseorang menyibukkan diri dengan dzikir, maka ia akan terlalaikan dari perkataan yang batil seperti ghibah (menggunjing), namimah (mengadu domba), perkataan sia-sia, memuji-muji manusia, dan mencela manusia. Karena lisan sama sekali tidak bisa diam. Lisan boleh jadi adalah lisan yang rajin berdzikir dan boleh jadi adalah lisan yang lalai. Kondisi lisan adalah salah satu di antara dua kondisi tadi. Ingatlah bahwa jiwa jika tidak tersibukkan dengan kebenaran, maka pasti akan tersibukkan dengan hal yang sia-sia.

Penutup

Dalam penutup materi ini, saya akan menyampaikan 2 buah hadist.

Di dalam Al-Musnad disebutkan secara marfu', dari hadits Abud-
Darda' Radhiyallahu Anhu,

"Ketahuilah, akan kuberitahukan kepada kalian tentang amal-amal
kalian yang paling baik, paling suci di sisi Raja kalian, paling tinggi
dalam derajat kalian, lebih baik bagi kalian daripada penganugerahan
emas dan perak, lebih baik jika kalian berhadapan dengan musuh, lalu
kalian memenggal leher mereka atau mereka yang memenggal leher
kalian". Mereka bertanya, "Apa itu wahai Rasulullah?" Beliau menjawab,
"Dzikir kepada Allah Azza wa jalla."

Rasulullah bersabda:

“Tidaklah segolongan orang mengingat Allah, melainkan malaikat menghormati mereka, rahmat menyelubungi mereka, ketenangan turun kepada mereka dan Allah mengingat mereka bersama orang-orang yang ada di sisi-Nya.” (Diriwayatkan Muslim dan At-Tirmidzy)

Semoga kita diberi anugrah oleh-Nya dimasukkan dalam golongan orang2 yang senantiasa berdzikir kepada-Nya, aamiin..3x

8. AKHLAK

Allah berfirman kepada Nabi-Nya, Dalam surat al-qalam ayat 4:



وَإِنَّكَ لَعَلَىٰ خُلُقٍ عَظِيمٍ

"Dan sesungguhnya kamu benar-benar berakhlak yang agung"

Dari ayat di atas dijelaskan bahwa suri tauladan terbaik dalam berakhlak bagi umat manusia itu adalah Rasulullah.

Seperti apakah akhlak Rasulullah?

Di dalam Ash-Shahihain, bahwa Hisyam bin Hakim pernah  bertanya kepada Aisyah tentang akhlak Rasulullah saw. Maka Aisyah menjawab, "Akhlak beliau adalah Al-qur'an".

Bagaimanakah akhlak mulia Rasulullah yang berdasarkan al-qur'an?

Allah telah menghimpun akhlak2 yang mulia pada diri beliau seperti yang difirmankan-Nya dalam surat al-A'raf ayat 199:


خُذِ الْعَفْوَ وَأْمُرْ بِالْعُرْفِ وَأَعْرِضْ عَنِ الْجَاهِلِينَ

"Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh."

Berdasarkan tafsir Ath-Thabari bahwa salah satu penjelasan dari tafsir

1)  "Jadilah engkau pemaaf" adalah jadilah engkau sebagai seorang pemaaf terhadap perbuatan manusia, tanpa perlu merasakannya atau mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah engkau bersikap keras terhadap mereka.

2) "Suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf" adalah Allah memerintahkan Nabi Muhammad saw agar memerintahkan hamba2-Nya melaksanakan yang ma'ruf (perbuatan baik) secara keseluruhan, bukan sebagian2 yaitu berupa memaafkan orang yang berbuat zhalim kepadamu, memberikan sesuatu kepada orang yang tidak memberi kepadamu, dan menyambungkan tali silaturahim kepada orang2 yang memutuskannya darimu.

3) "Berpaling daripada orang2 bodoh" adalah ini merupakan pelajaran bagi umat manusia agar menahan diri terhadap orang2 yang berbuat zhalim kepada mereka dan orang2 yang melampaui batas. Akan tetapi, tidak boleh membiarkan orang2 yang wajib melaksanakan hak Allah, juga tidak boleh memaafkan orang yang kafir kepada Allah dan tidak mengetahui keesaan-Nya.

Dalam buku "Madarijus Salikin (Pendakian Menuju Allah)" karangan Ibnu Qayyim Al Jauziyah, menyatakan bahwa akhlak yang baik di dasar kan kepada empat sendi, yaitu:

1) Sabar, yang mendorongnya menguasai diri, menahan amarah, tidak mengganggu orang lain, lemah lembut, tidak gegabah dan tidak tergesa2.

2) Kehormatan diri, yang membuatnya menjauhi hal2 yang hina dan buruk, baik berupa perkataan maupun perbuatan, membuatnya memiliki rasa malu, yang merupakan pangkal segala kebaikan, mencegahnya dari kekejian, bakhil, dusta, ghibah dan mengadu domba.

3) Keberanian, yang mendorongnya pada kebesaran jiwa, sifat2 yang tinggi, rela berkorban dan memberikan sesuatu yang paling dicintai.

4) Adil, yang membuatnya berada di jalan tengah, tidak meremehkan dan tidak berlebih2an.

Sedangkan empat sumber akhlak yang rendah ialah:

1) Kebodohan, yang menampakkan kebaikan dalam rupa keburukan, menampakkan keburukan dalam rupa kebaikan, menampakkan kekurangan dalam rupa kesempurnaan dan menampakkan kesempurnaan dalam rupa kekurangan.

2) Kezhaliman, yang membuatnya meletakkan sesuatu bukan pada tempatnya, memarahi perkara yang mestinya diridhai, meridhoi sesuatu yang mestinya dimarahi dan lain sebagainya dari tindakan2 yang tidak proporsional.

3) Syahwat, yang mendorongnya menghendaki sesuatu, kikir, baliho, tidak menjaga kehormatan, rakus dan hina.

4) Marah, yang mendorongnya bersikap takabur, dengki dan iri, mengadakan permusuhan dan menganggap orang lain bodoh.

Setiap akhlak yang terpuji melahirkan sebagian sifatnya yang lain, sebagaimana akhlak yang tercela melahirkan sebagian yang lain.

Akhlak yang baik ada di antara dua akhlak yang tercela, seperti keperawanan yang ada di antara bangil dan boros; tawadhu yang ada di antara kehinaan dan takabur. Selagi jiwa menyimpang dari pertengahan ini, tentu ia akan cenderung kepada salah satu satu di antara dua sisinya yang tercela.

Penutup

Akhlak yang baik sangat bermanfaat bagi orang yang mengadakan perjalanan dan dapat mengantarkan ke tujuan dengan segera.

Semoga kita semua dianugerahi akhlak yang mulia sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah saw, aamiin..3x