Yang terbaik buat kita bukanlah yang termahal, bukanlah yanga terbagus, bukanlah yang terkaya, bukanlah yang terpintar, bukanlah yang terlama, bukanlah yang tercantik, dan bukanlah yang ter .. ter .. lainnya.
Sebagaimana yang terbaik buat kepala bukanlah sepatu walaupun harganya sangat mahal dan sangat bagus. Begitu pula yang terbaik buat kaki bukanlah topi, walaupun terbuat dari bahan yang sangat langka dan unik.
Yang terbaik buat kita adalah yang adil, yaitu yang cocok, yang pas, yang nyaman di pakai, yang enak di lidah, yang menyehatkan, yang seimbang, yang sekufu, dan yang jelas adalah yang bermanfaat dan sesuai dengan fungsinya.
Sesungguhnya, Allah adalah Tuhan Yang Maha Adil. Dia tahu dengan pasti apa yang terbaik buat hamba2-Nya. Dia tahu dengan mutlak apa yang bermanfaat buat hamba2-Nya. Dia tahu dengan tepat apa yang akan mendatangkan kebahagiaan buat hamba2-Nya.
Jadi mohonlah segala sesuatu kepada-Nya untuk yang terbaik buat kita. Jadi ridholah terhadap segala sesuatu yang telah diperintahkan dan dilarang oleh-Nya. Jadi ridholah terhadap segala sesuatu yang diberikan oleh-Nya. Karena apapun yang dikabulkan, diperintahkan, di larang dan diberikan oleh- Nya adalah yang terbaik buat kita.
"Ya rab, Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. aamiin..3x"
Tuesday, 1 September 2015
Sunday, 30 August 2015
Kenikmatan yang Penuh Keberkahan
Kenikmatan yang dirasakan itu, tidaklah hanya sekedar apa yang kita pergunakan/pakai/makan. Tapi kenikmatan akan lebih terasa nikmat jika apa yang kita gunakan/pakai/makan memang sudah secara halal milik kita, berasal dari sumber dan cara yang halal serta sudah dikeluarkan kewajiban harta/ benda atasnya.
Apalah artinya sebuah benda/makanan yang kita pergunakan/pakai/makan jika semua itu bukan hak kita, sehingga kita mempergunakannya dengan cara sembunyi2 dengan penuh ketakutan.
Apalah artinya sebuah benda/makanan yang kita pergunakan/pakai/makan jika semua itu di dapat dengan cara atau berasal dari yang haram sehingga hanya akan mejadi sumber malapetaka kesengsaraan di dunia dan di akhirat.
Apalah artinya sebuah benda/makanan yang kita pergunakan/pakai/makan jika semua itu belum kita keluarkan zakatnya, sehingga kita akan dihisab terhadap semua yang telah kita nikmati. Bila hasil akhir hisabnya lebih berat pada timbangan yang tidak disyukuri, ujungnya hanyalah siksaan api neraka yang tidak diketahui kapan berakhirnya.
Sungguh, kenikmatan akan benar2 terasa sebuah kenikmatan yang besar jika benar2 sudah menjadi hak kita, yang berasal dari dan dengan cara yang halal serta sudah dikeluarkan zakat atasnya. Sehingga kita bisa menikmatinya di dunia dan ditambah kenikmatan lagi di hari keabadian kelak. Itulah nikmat yang halal serta penuh keberkahan.
"Ya Rabb, limpahkanlah kepada kami kenikmatan yang halal, baik serta penuh keberkahan di dunia dan akhirat, aamiin.3x"
Apalah artinya sebuah benda/makanan yang kita pergunakan/pakai/makan jika semua itu bukan hak kita, sehingga kita mempergunakannya dengan cara sembunyi2 dengan penuh ketakutan.
Apalah artinya sebuah benda/makanan yang kita pergunakan/pakai/makan jika semua itu di dapat dengan cara atau berasal dari yang haram sehingga hanya akan mejadi sumber malapetaka kesengsaraan di dunia dan di akhirat.
Apalah artinya sebuah benda/makanan yang kita pergunakan/pakai/makan jika semua itu belum kita keluarkan zakatnya, sehingga kita akan dihisab terhadap semua yang telah kita nikmati. Bila hasil akhir hisabnya lebih berat pada timbangan yang tidak disyukuri, ujungnya hanyalah siksaan api neraka yang tidak diketahui kapan berakhirnya.
Sungguh, kenikmatan akan benar2 terasa sebuah kenikmatan yang besar jika benar2 sudah menjadi hak kita, yang berasal dari dan dengan cara yang halal serta sudah dikeluarkan zakat atasnya. Sehingga kita bisa menikmatinya di dunia dan ditambah kenikmatan lagi di hari keabadian kelak. Itulah nikmat yang halal serta penuh keberkahan.
"Ya Rabb, limpahkanlah kepada kami kenikmatan yang halal, baik serta penuh keberkahan di dunia dan akhirat, aamiin.3x"
Thursday, 20 August 2015
Rizqi dan Azab yang Tak Terduga
Sesungguhnya rizqi itu datang dari tempat yang tak disangka-sangka dan dalam bentuk yang berbeda-beda pula.
Di saat pendapatan berkurang, di sisi lain Allah memberikan rizqi kesehatan sehingga pengeluaran pun jauh berkurang.
Di saat kesehatan berkurang, di sisi lain Allah memberikan rizqi kedamaian jiwa dan kerukunan rumah tangga sehingga hati pun tetap damai di dalam kesakitan.
Di saat kegelisahan timbul, di sisi lain Allah memberikan pemahaman dan kesabaran sehingga kegelisahan menjadi nampak kecil untuk memperoleh pemahaman yang lebih dalam.
Serta banyak lagi rizqi2 lainnya yang tak dapat kita duga. Bahkan Umar bin Khatab berkata, " Aku memikirkan tentang segala bentuk rizki, tetapi tidak aku temukan rezeki yang lebih baik daripada sabar."
Begitu pula azab datang dari tempat yang tak disangka-sangk dalam bentuk yang berbeda-beda pula.
Begitu banyak orang yang hartanya berlimpah, tapi di sisi lain Allah berikan kesakitan sehingga pengeluarannya jauh lebih besar daripada pendapatannya.
Begitu banyak orang yang diberikan harta berlimpah dan kesehatan, tapi di sisi lain Allah memberikan kegelisahan akibat ketidakharmonisan keluarga yang tak terkira hingga dia tidak bisa menahan beban di hatinya.
Begitu banyak juga orang yang diberikan harta yang berlimpah, kesehatan dan kesenangan hidup. Tapi di sisi lain saat langkah terakhirnya tiba, dia tersadar dengan penuh penyesalan bahwa semuanya adalah sia-sia yang hanya membawanya pada kebinasaan abadi.
Sungguh, rizqi Allah itu datang dari yang tak di duga-duga bagi orang yang mentadaburinya. Begitu juga azab Allah akan datang dari yang tak terkira bagi orang yang melupakan dirinya.
Di saat pendapatan berkurang, di sisi lain Allah memberikan rizqi kesehatan sehingga pengeluaran pun jauh berkurang.
Di saat kesehatan berkurang, di sisi lain Allah memberikan rizqi kedamaian jiwa dan kerukunan rumah tangga sehingga hati pun tetap damai di dalam kesakitan.
Di saat kegelisahan timbul, di sisi lain Allah memberikan pemahaman dan kesabaran sehingga kegelisahan menjadi nampak kecil untuk memperoleh pemahaman yang lebih dalam.
Serta banyak lagi rizqi2 lainnya yang tak dapat kita duga. Bahkan Umar bin Khatab berkata, " Aku memikirkan tentang segala bentuk rizki, tetapi tidak aku temukan rezeki yang lebih baik daripada sabar."
Begitu pula azab datang dari tempat yang tak disangka-sangk dalam bentuk yang berbeda-beda pula.
Begitu banyak orang yang hartanya berlimpah, tapi di sisi lain Allah berikan kesakitan sehingga pengeluarannya jauh lebih besar daripada pendapatannya.
Begitu banyak orang yang diberikan harta berlimpah dan kesehatan, tapi di sisi lain Allah memberikan kegelisahan akibat ketidakharmonisan keluarga yang tak terkira hingga dia tidak bisa menahan beban di hatinya.
Begitu banyak juga orang yang diberikan harta yang berlimpah, kesehatan dan kesenangan hidup. Tapi di sisi lain saat langkah terakhirnya tiba, dia tersadar dengan penuh penyesalan bahwa semuanya adalah sia-sia yang hanya membawanya pada kebinasaan abadi.
Sungguh, rizqi Allah itu datang dari yang tak di duga-duga bagi orang yang mentadaburinya. Begitu juga azab Allah akan datang dari yang tak terkira bagi orang yang melupakan dirinya.
Sunday, 2 August 2015
Harapan dan Putus Asa
Aku termenung akan respon anak-anakku tentang masa yang akan datang.
Pada jumat kemarin, saat mau berangkat sekolah, putriku sangat ceria, nampak dari refleksi ucapannya: "Aku sangat senang banget sekolah di hari jum'at".
Isteriku bertanya, "Lho kok senang banget, emangnya ada apa?"
Putriku menjawab, " Karena besok hari sabtu, aku bisa bebas bermain".
Dan semalam, saat akan pergi ke mesjid bersama putraku, dia berucap, "Ah, besok hari minggu. Aku gak suka hari minggu".
Aku heran, lalu bertanya, "Kenapa gak suka?"
Putraku menjawab, " Karena, sebentar lagi senin dan aku gak bebas lagi bermain"
(Nb. Saya membuat peraturan buat anak-anaku bahwa hari senin sampai hari jumat tak ada main games dan tak ada dvd. Sedangkan hari sabtu dan minggu bebas main games dan nonton dvd.)
Melihat respon kedua anakku tentang masa depan, aku jadi memahami sesuatu, yaitu:
Orang yang terbaik adalah orang yang memenuhi hatinya dengan penuh harapan di masa datang. Sehingga dia bisa menikmati hari ini, yang sebenarnya situasinya tidak nyaman, hanya karena berharap akan datangnya kebahagiaan masa yang akan datang.
Sedangkan orang yang terburuk adalah orang yang berputus asa di masa depan. Sehingga dia gelisah akan hari ini, yang sebenarnya membahagiakan , hanya karena takut akan datangnya keburukan masa datang.
Jadi, sebaik- baik makhluk adalah orang mukmin, karena mereka berharap akan kehidupan akhirat. Sehingga hati mereka akan tenang saat mengingat kematian sebagai pintu gerbang menuju surga.
Sebaliknya, seburuk-butuk makhluk adalah orang kafir, karena mereka putus asa akan kehidupan akhirat. Sehingga hati mereka akan gelisah saat mengingat kematian sebagai pintu gerbang menuju neraka.
"Ya Rabb, jadikanlah keluarga kami sebagai keluarga yang selalu taat pada-Mu, serta selalu berhusnuzhan dan penuh harap pada rahmat-Mu. Aamiin..3x"
(Gantira, 2 Agustus 2015, Bogor)
Friday, 31 July 2015
3. Beristighfar
A. Arti dan makna istighfar
Istighfar dalam pengertian bahasa adalah memohon ampunan atas segala dosa yang dilakukan oleh seorang hamba dengan upaya untuk tidak mengulangi perbuatan tersebut. Hal ini dapat dilakukan baik dengan perkataan maupun perbuatan.
Manusia adalah makhluk yang lemah, adakalanya sering berbuat khilaf dan dosa tanpa disadarinya.
Namun sebaik-baiknya orang yang berbuat dosa adalah yang selalu memohon ampunan atas segala dosa yang telah ia lakukan. Istighfar merupakan salah satu jalan untuk memohon ampun kepada Allah.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
“Setiap anak Adam melakukan kesalahan. Dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang bertaubat.”
Seseorang itu berpotensi melakukan kesalahan. Namun apabila dosa-dosa itu menyebabkannya menjadi orang yang berputus asa dari rahmat Allah, maka dia akan menjadi orang yang celaka dan binasa. Jika saja orang yang banyak melakukan dosa bertaubat, maka Allah akan terima taubatnya, dan akan Allah balas dengan kebaikan. Allah Ta’ala berfirman,
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَالتَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لا ذَنْبَ لَهُ
“Orang-orang yang bertaubat dari dosa-dosa, bagaikan orang yang tidak memiliki dosa.”
Oleh karena itu, janganlah seseorang merasa putus asa dari rahmat Allah dan ampunan-Nya. Yang harus dilakukan seseorang adalah bersegera bertaubat kepada-Nya.
Ibnul Qayyim menukil ucapan Syaikhul Islam Abu Isma’il Al Harawi yang mengatakan bahwa konon para salaf mengatakan:
“Seseorang mungkin melakukan suatu dosa, yang karenanya ia masuk Jannah; dan ia mungkin melakukan ketaatan, yang karenanya ia masuk Neraka”.
Bagaimana kok begitu? Bila Allah menghendaki kebaikan atas seseorang, Allah akan menjadikannya terjerumus dalam suatu dosa (padahal sebelumnya ia seorang yang shalih dan gemar beramal shalih).
Dosa tersebut akan selalu terbayang di depan matanya, mengusik jiwanya, mengganggu tidurnya dan membuatnya selalu gelisah. Ia takut bahwa semua keshalihannya tadi akan sia-sia karena dosa tersebut, hingga dengan demikian ia menjadi takluk di hadapan Allah, takut kepada-Nya, mengharap rahmat dan maghfirah-Nya, serta bertaubat kepada-Nya. Nah, akibat dosa yang satu tadi, ia terhindar dari penyakit ‘ujub (kagum) terhadap keshalihannya selama ini, yang boleh jadi akan membinasakan dirinya, dan tersebab itulah ia akan masuk Jannah.
Namun sebaliknya orang yang melakukan suatu amalan besar, ia bisa jadi akan celaka akibat amalnya tersebut. Yakni bila ia merasa kagum dengan dirinya yang bisa beramal ‘shalih’ seperti itu. Nah, kekaguman ini akan membatalkan amalnya dan menjadikannya ‘lupa diri’.
Maka bila Allah tidak mengujinya dengan suatu dosa yang mendorongnya untuk taubat, niscaya orang ini akan celaka dan masuk Neraka.
B. Syarat-syarat tobat
Barangsiapa yang bertaubat kepada Allah, sebanyak apapun dosa dan kesalahannya, Allah akan menghapus semua dosa dan kesalahan tersebut. Dia akan menghapus semua kejelekan yang telah hamba tersebut lakukan. Membersihkannya dari noda dosa jika taubatnya benar-benar jujur, bukan hanya di mulut saja.
Oleh karena itu, taubat pun memiliki syarat agar diterima:
1. Meninggalkan perbuatan dosa.
Apabila seseorang beristighfar kepada Allah, memohon ampunan kepada-Nya, tapi ia tidak berpaling dari perbuatan dosa tersebut, maka taubatnya hanya sebatas ucapan saja. Dia tidak disebut orang yang bertaubat kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Orang yang demikian malah dikatakan orang yang bermain-main saja dengan taubatnya. Meninggalkan perbuatan dosa adalah syarat pertama diterimanya taubat.
2. Bertekad agar tidak kembali melakukan dosa tersebut selama hidupnya.
Apabila saat bertaubat masih ada keinginan kembali melakukan dosa tersebut, taubat yang demikian tidaklah diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Harus ada ketetapan di hatinya saat bertaubat, bahwa ia tidak akan mengulangi perbuatan dosa serupa. Apabila di hatinya masih tersimpan hasrat melakukan dosa semisal, maka dosa yang sama yang ia lakukan tidak terhapus.
3. Menyesali perbuatan tersebut.
Menyesali apa terhadap apa yang telah dilakukannya sehingga mengucapkan istigfar dengan sungguh2 dan sepenuh hati.
4. Mengembalikan hak orang yang kita zholimi
Apabila dosa tersebut terkait dengan kezaliman sesama manusia dalam hak atau harta mereka, maka disyaratkan harus mengembalikan harta atau meminta maaf kepada mereka. Jadi taubat itu bukan hanya di lisan saja.
5. Ketika nyawa belum sampai tenggorokan
Seseorang yang menunda taubat hingga nyawanya berada di tenggorokan, yang saat itu ia tahu akan berpisah dengan kehidupan, maka tidak diterima taubatnya. Taubat adalah di saat sehat dan di saat hidup. Adapun taubat saat seseorang sudah merasa hidupnya akan berakhir, maka tidak diterima taubatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya Allah menerima taubat hamba selama nyawa belum sampai di tenggorokan.”
C. Keutamaan istigfar
Ada beberapa keutamaan istighfar yang diberikan bagi mereka yang suka membiasakan membaca istighfar, diantaranya :
1. Istighfar bisa menghapus dosa
Para ulama membatasi bahwa dosa yang bisa dihapus dengan membaca istighfar adalah dosa-dosa kecil, sedangkan dosa-dosa besar bisa dihapus jika dibarengi dengan taubat nashuha.
"Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (An-Nisa 110)
2. Istighfar akan mengangkat azab tertentu yang menimpa manusia
"Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun ". (Al-Anfal:33)
3. Allah akan memberikan kehidupan yang lebih baik bagi mereka yang selalu beristighfar, mendapatkan rasa aman, damai dan ketenangan jiwa.
"Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya". (Huud : 3)
4. Istighfar sebagai penyebab turunnya hujan
"Maka aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, - sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat" . (Nuh: 10-11)
5. Menyebabkan masuk surga
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang didalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal didalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (QS.Ali’Imran: 135-136)
6. Menghilangkan kesusahan dan memudahkan rezeki
"Barang siapa yang selalu beristighfar, maka Allah akan menjadikan keluh kesah kegembiaran, kesempitan menjadi keleluasaan. (HR.Ahmad dan Abu Daud)
7. Memperoleh anak- anak shaleh
Surat Nuh ayat 10-12
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا
يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا
وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا
Maka aku (Nuh) berkata kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia Maha Pengampun-,
Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat,
Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai."
D. Waktu, bilangan dan Jenis- jenis bacaan istighfar
Untuk masalah waktu, memang ada hadits yang menunjukkan membaca istighfar pada waktu tertentu, dan pada waktu-waktu ini sebaiknya kita tidak boleh meninggalkan membaca istighfar. Namun ada hadits lain juga tidak membatasi waktu dan tempat dalam membaca istighfar. Yang jelas, biasakanlah tiap hari kita membaca istghfar, tiada hari tanpa istighfar.
Untuk masalah bilangan atau berapa kali kita membaca istighfar, memang ada hadits yang membatasi sekian kali untuk bacaan istighfar tertentu. Namun, karena kekhilapan kita tak bisa kita hitung, maka bacalah istighfar sebanyak mungkin sekemampuan kita.
Namun demikian, ada waktu-waktu yang hendaknya dipakai untuk memperbanyak istighfar adalah :
1. Sesudah shalat
2. Waktu sahur
3. Pagi/setelah shalat subuh
4. Malam/setelah shalat maghrib
Ada beberapa macam bacaan istighfar berdasarkan ayat-ayat Al Quran dan hadits.
Silahkan pilih bacaan istighfar yang kita mau.
1.
رَبَّنَآ إِنَّنَآ ءَامَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Rabbanaa innanaa aamannaa faghfir lanaa dzunuubanaa waqinaa 'adzaaban naar.
Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka.
(Ali Imran Ayat : 16)
2.
للَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ
وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ
عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ
"Allahumma anta robbii laa ilaaha illaa anta, kholaqtanii wa ana ‘abduka wa ana ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu. A’udzu bika min syarri maa shona’tu, abuu-u laka bini’matika ‘alayya, wa abuu-u bi dzanbii, faghfirlii fainnahuua laa yaghfirudz dzunuuba illa anta"
”Ya Allah Engkau adalah Tuhanku, Tidak ada sesembahan yang haq kecuali Engkau,Engkau yang menciptakanku, sedang aku adalah hamba-Mu dan aku diatas ikatan janji -Mu dan akan menjalankannya dengan semampuku, aku berlindung kepadamu dari segala kejahatan yang telah aku perbuat, aku mengakui-Mu atas nikmat-Mu terhadap diriku dan aku mengakui dosaku pada-Mu, maka ampunilah aku, sesungguhnya tiada yang mengampuni segala dosa kecuali Engkau”
(HR. Bukhari no. 6306)
3.
اَسْتَغْفِرُاللهَ
Astaghfirullaah
Aku memohon ampunan kepada Allah.
(HR Muslim)
4.
رَبِّ اغْفِرْلِيْ وَتُبْ عَلَيَّ اِنَّكَ اَنْتَ
التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
"Rabbighfirlii watub 'alayya innaka antat tawwaabur rahiim"
“Wahai Rabbku, ampunilah aku dan terimalah taubatku. Sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”
(Sunan Abu Daud, Turmudzi, Ibnu Majah)
5.
اَسْتَغْفِرُاللهَ الّذِيْ لاَ اِلَهَ اِلَّا هُوَ الحَيُّ القَيُّوّمُ وَاَتُوْبُ اِلَيْهِ
Astaghfirullahal ladzii laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyuumu wa atuubu ilaihi
Aku meminta pengampunan kepada Allah yang tidak ada tuhan selain Dia Yang Maha Hidup dan Berdiri Sendiri dan aku bertaubat kepadanya.
(Sunan Abu Daud, Turmudzi)
6
. الَّلهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Allahumma on nama 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu'annii
Doa istighfar yang paling baik diucapkan pada malam lailatul qadar sebagaimana hadist:
وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : قُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَيْ لَيْلَةَ الْقَدَرِ مَا أَقُوْلُ فِيْهَا ؟ قَالَ : ” قُوْلِي : الَّلهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Dari Aisyah ra : Wahai RasuluLLAAH, menurut pendapatmu jika aku tahu bhw malam terjadinya Laylatul Qadar, maka doa apa yg paling baik kuucapkan? Sabda Nabi SAW : “Ucapkanlah olehmu, Ya ALLAH sesungguhnya ENGKAU adalah Maha Pemaaf, mencintai orang yg suka memaafkan, maka maafkanlah aku.” (HR Ahmad, Ibnu Majah & Tirmidzi, di-shahih-kan oleh Albani dlm Al-Misykah,
Penutup
Sesungguhnya salah satu nikmat terbesar di dunia ini yang dapat membawa kita menuju kesuksesan dunia dan akhirat adalah diampuni semua dosa2 kita. Dimana saat dosa2 kita telah diampuninya maka hidup akan berlimpahkan rizki, kemudahan dan kelapangan, berlimpahnya hujan yang penuh berkah serta segala kesusahan hidup di dunia akan diberi solusinya. Sedangkan saat di akhirat kelak akan dimasukkan dalam surga-Nya.
Bahkan doa terbaik bila kita menemui lailatul qadar adalah memohon agar diampuni atas segala dosa-dosa kita.
Semoga dosa-dosa yang telah kita lakukan diampuni oleh-Nya sehingga masa depan kita jauh lebih baik daripada masa sebelumnya. Aamiin..3x
Istighfar dalam pengertian bahasa adalah memohon ampunan atas segala dosa yang dilakukan oleh seorang hamba dengan upaya untuk tidak mengulangi perbuatan tersebut. Hal ini dapat dilakukan baik dengan perkataan maupun perbuatan.
Manusia adalah makhluk yang lemah, adakalanya sering berbuat khilaf dan dosa tanpa disadarinya.
Namun sebaik-baiknya orang yang berbuat dosa adalah yang selalu memohon ampunan atas segala dosa yang telah ia lakukan. Istighfar merupakan salah satu jalan untuk memohon ampun kepada Allah.
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
“Setiap anak Adam melakukan kesalahan. Dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan adalah mereka yang bertaubat.”
Seseorang itu berpotensi melakukan kesalahan. Namun apabila dosa-dosa itu menyebabkannya menjadi orang yang berputus asa dari rahmat Allah, maka dia akan menjadi orang yang celaka dan binasa. Jika saja orang yang banyak melakukan dosa bertaubat, maka Allah akan terima taubatnya, dan akan Allah balas dengan kebaikan. Allah Ta’ala berfirman,
“Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa.” (QS. Ali Imran: 133).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَالتَّائِبُ مِنَ الذَّنْبِ كَمَنْ لا ذَنْبَ لَهُ
“Orang-orang yang bertaubat dari dosa-dosa, bagaikan orang yang tidak memiliki dosa.”
Oleh karena itu, janganlah seseorang merasa putus asa dari rahmat Allah dan ampunan-Nya. Yang harus dilakukan seseorang adalah bersegera bertaubat kepada-Nya.
Ibnul Qayyim menukil ucapan Syaikhul Islam Abu Isma’il Al Harawi yang mengatakan bahwa konon para salaf mengatakan:
“Seseorang mungkin melakukan suatu dosa, yang karenanya ia masuk Jannah; dan ia mungkin melakukan ketaatan, yang karenanya ia masuk Neraka”.
Bagaimana kok begitu? Bila Allah menghendaki kebaikan atas seseorang, Allah akan menjadikannya terjerumus dalam suatu dosa (padahal sebelumnya ia seorang yang shalih dan gemar beramal shalih).
Dosa tersebut akan selalu terbayang di depan matanya, mengusik jiwanya, mengganggu tidurnya dan membuatnya selalu gelisah. Ia takut bahwa semua keshalihannya tadi akan sia-sia karena dosa tersebut, hingga dengan demikian ia menjadi takluk di hadapan Allah, takut kepada-Nya, mengharap rahmat dan maghfirah-Nya, serta bertaubat kepada-Nya. Nah, akibat dosa yang satu tadi, ia terhindar dari penyakit ‘ujub (kagum) terhadap keshalihannya selama ini, yang boleh jadi akan membinasakan dirinya, dan tersebab itulah ia akan masuk Jannah.
Namun sebaliknya orang yang melakukan suatu amalan besar, ia bisa jadi akan celaka akibat amalnya tersebut. Yakni bila ia merasa kagum dengan dirinya yang bisa beramal ‘shalih’ seperti itu. Nah, kekaguman ini akan membatalkan amalnya dan menjadikannya ‘lupa diri’.
Maka bila Allah tidak mengujinya dengan suatu dosa yang mendorongnya untuk taubat, niscaya orang ini akan celaka dan masuk Neraka.
B. Syarat-syarat tobat
Barangsiapa yang bertaubat kepada Allah, sebanyak apapun dosa dan kesalahannya, Allah akan menghapus semua dosa dan kesalahan tersebut. Dia akan menghapus semua kejelekan yang telah hamba tersebut lakukan. Membersihkannya dari noda dosa jika taubatnya benar-benar jujur, bukan hanya di mulut saja.
Oleh karena itu, taubat pun memiliki syarat agar diterima:
1. Meninggalkan perbuatan dosa.
Apabila seseorang beristighfar kepada Allah, memohon ampunan kepada-Nya, tapi ia tidak berpaling dari perbuatan dosa tersebut, maka taubatnya hanya sebatas ucapan saja. Dia tidak disebut orang yang bertaubat kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Orang yang demikian malah dikatakan orang yang bermain-main saja dengan taubatnya. Meninggalkan perbuatan dosa adalah syarat pertama diterimanya taubat.
2. Bertekad agar tidak kembali melakukan dosa tersebut selama hidupnya.
Apabila saat bertaubat masih ada keinginan kembali melakukan dosa tersebut, taubat yang demikian tidaklah diterima di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala. Harus ada ketetapan di hatinya saat bertaubat, bahwa ia tidak akan mengulangi perbuatan dosa serupa. Apabila di hatinya masih tersimpan hasrat melakukan dosa semisal, maka dosa yang sama yang ia lakukan tidak terhapus.
3. Menyesali perbuatan tersebut.
Menyesali apa terhadap apa yang telah dilakukannya sehingga mengucapkan istigfar dengan sungguh2 dan sepenuh hati.
4. Mengembalikan hak orang yang kita zholimi
Apabila dosa tersebut terkait dengan kezaliman sesama manusia dalam hak atau harta mereka, maka disyaratkan harus mengembalikan harta atau meminta maaf kepada mereka. Jadi taubat itu bukan hanya di lisan saja.
5. Ketika nyawa belum sampai tenggorokan
Seseorang yang menunda taubat hingga nyawanya berada di tenggorokan, yang saat itu ia tahu akan berpisah dengan kehidupan, maka tidak diterima taubatnya. Taubat adalah di saat sehat dan di saat hidup. Adapun taubat saat seseorang sudah merasa hidupnya akan berakhir, maka tidak diterima taubatnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya Allah menerima taubat hamba selama nyawa belum sampai di tenggorokan.”
C. Keutamaan istigfar
Ada beberapa keutamaan istighfar yang diberikan bagi mereka yang suka membiasakan membaca istighfar, diantaranya :
1. Istighfar bisa menghapus dosa
Para ulama membatasi bahwa dosa yang bisa dihapus dengan membaca istighfar adalah dosa-dosa kecil, sedangkan dosa-dosa besar bisa dihapus jika dibarengi dengan taubat nashuha.
"Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang" (An-Nisa 110)
2. Istighfar akan mengangkat azab tertentu yang menimpa manusia
"Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada di antara mereka. Dan tidaklah (pula) Allah akan mengazab mereka, sedang mereka meminta ampun ". (Al-Anfal:33)
3. Allah akan memberikan kehidupan yang lebih baik bagi mereka yang selalu beristighfar, mendapatkan rasa aman, damai dan ketenangan jiwa.
"Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya". (Huud : 3)
4. Istighfar sebagai penyebab turunnya hujan
"Maka aku katakan kepada mereka: 'Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, - sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat" . (Nuh: 10-11)
5. Menyebabkan masuk surga
“Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga yang didalamnya mengalir sungai-sungai, sedang mereka kekal didalamnya; dan itulah sebaik-baik pahala orang-orang yang beramal.” (QS.Ali’Imran: 135-136)
6. Menghilangkan kesusahan dan memudahkan rezeki
"Barang siapa yang selalu beristighfar, maka Allah akan menjadikan keluh kesah kegembiaran, kesempitan menjadi keleluasaan. (HR.Ahmad dan Abu Daud)
7. Memperoleh anak- anak shaleh
Surat Nuh ayat 10-12
فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا
يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا
وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا
Maka aku (Nuh) berkata kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia Maha Pengampun-,
Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat,
Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai."
D. Waktu, bilangan dan Jenis- jenis bacaan istighfar
Untuk masalah waktu, memang ada hadits yang menunjukkan membaca istighfar pada waktu tertentu, dan pada waktu-waktu ini sebaiknya kita tidak boleh meninggalkan membaca istighfar. Namun ada hadits lain juga tidak membatasi waktu dan tempat dalam membaca istighfar. Yang jelas, biasakanlah tiap hari kita membaca istghfar, tiada hari tanpa istighfar.
Untuk masalah bilangan atau berapa kali kita membaca istighfar, memang ada hadits yang membatasi sekian kali untuk bacaan istighfar tertentu. Namun, karena kekhilapan kita tak bisa kita hitung, maka bacalah istighfar sebanyak mungkin sekemampuan kita.
Namun demikian, ada waktu-waktu yang hendaknya dipakai untuk memperbanyak istighfar adalah :
1. Sesudah shalat
2. Waktu sahur
3. Pagi/setelah shalat subuh
4. Malam/setelah shalat maghrib
Ada beberapa macam bacaan istighfar berdasarkan ayat-ayat Al Quran dan hadits.
Silahkan pilih bacaan istighfar yang kita mau.
1.
رَبَّنَآ إِنَّنَآ ءَامَنَّا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
Rabbanaa innanaa aamannaa faghfir lanaa dzunuubanaa waqinaa 'adzaaban naar.
Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah segala dosa kami dan peliharalah kami dari siksa neraka.
(Ali Imran Ayat : 16)
2.
للَّهُمَّ أَنْتَ رَبِّيْ لاَ إِلَـهَ إِلاَّ أَنْتَ، خَلَقْتَنِيْ وَأَنَا عَبْدُكَ، وَأَنَا عَلَى عَهْدِكَ
وَوَعْدِكَ مَا اسْتَطَعْتُ، أَعُوْذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا صَنَعْتُ، أَبُوْءُ لَكَ بِنِعْمَتِكَ
عَلَيَّ، وَأَبُوْءُ بِذَنْبِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَإِنَّهُ لاَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ إِلاَّ أَنْتَ
"Allahumma anta robbii laa ilaaha illaa anta, kholaqtanii wa ana ‘abduka wa ana ‘ala ‘ahdika wa wa’dika mastatho’tu. A’udzu bika min syarri maa shona’tu, abuu-u laka bini’matika ‘alayya, wa abuu-u bi dzanbii, faghfirlii fainnahuua laa yaghfirudz dzunuuba illa anta"
”Ya Allah Engkau adalah Tuhanku, Tidak ada sesembahan yang haq kecuali Engkau,Engkau yang menciptakanku, sedang aku adalah hamba-Mu dan aku diatas ikatan janji -Mu dan akan menjalankannya dengan semampuku, aku berlindung kepadamu dari segala kejahatan yang telah aku perbuat, aku mengakui-Mu atas nikmat-Mu terhadap diriku dan aku mengakui dosaku pada-Mu, maka ampunilah aku, sesungguhnya tiada yang mengampuni segala dosa kecuali Engkau”
(HR. Bukhari no. 6306)
3.
اَسْتَغْفِرُاللهَ
Astaghfirullaah
Aku memohon ampunan kepada Allah.
(HR Muslim)
4.
رَبِّ اغْفِرْلِيْ وَتُبْ عَلَيَّ اِنَّكَ اَنْتَ
التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ
"Rabbighfirlii watub 'alayya innaka antat tawwaabur rahiim"
“Wahai Rabbku, ampunilah aku dan terimalah taubatku. Sesungguhnya Engkau Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”
(Sunan Abu Daud, Turmudzi, Ibnu Majah)
5.
اَسْتَغْفِرُاللهَ الّذِيْ لاَ اِلَهَ اِلَّا هُوَ الحَيُّ القَيُّوّمُ وَاَتُوْبُ اِلَيْهِ
Astaghfirullahal ladzii laa ilaaha illaa huwal hayyul qayyuumu wa atuubu ilaihi
Aku meminta pengampunan kepada Allah yang tidak ada tuhan selain Dia Yang Maha Hidup dan Berdiri Sendiri dan aku bertaubat kepadanya.
(Sunan Abu Daud, Turmudzi)
6
. الَّلهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Allahumma on nama 'afuwwun tuhibbul 'afwa fa'fu'annii
Doa istighfar yang paling baik diucapkan pada malam lailatul qadar sebagaimana hadist:
وَعَنْ عَائِشَةَ رَضِي اللهُ عَنْهَا قَالَتْ : قُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ أَرَأَيْتَ إِنْ عَلِمْتُ أَيْ لَيْلَةَ الْقَدَرِ مَا أَقُوْلُ فِيْهَا ؟ قَالَ : ” قُوْلِي : الَّلهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي
Dari Aisyah ra : Wahai RasuluLLAAH, menurut pendapatmu jika aku tahu bhw malam terjadinya Laylatul Qadar, maka doa apa yg paling baik kuucapkan? Sabda Nabi SAW : “Ucapkanlah olehmu, Ya ALLAH sesungguhnya ENGKAU adalah Maha Pemaaf, mencintai orang yg suka memaafkan, maka maafkanlah aku.” (HR Ahmad, Ibnu Majah & Tirmidzi, di-shahih-kan oleh Albani dlm Al-Misykah,
Penutup
Sesungguhnya salah satu nikmat terbesar di dunia ini yang dapat membawa kita menuju kesuksesan dunia dan akhirat adalah diampuni semua dosa2 kita. Dimana saat dosa2 kita telah diampuninya maka hidup akan berlimpahkan rizki, kemudahan dan kelapangan, berlimpahnya hujan yang penuh berkah serta segala kesusahan hidup di dunia akan diberi solusinya. Sedangkan saat di akhirat kelak akan dimasukkan dalam surga-Nya.
Bahkan doa terbaik bila kita menemui lailatul qadar adalah memohon agar diampuni atas segala dosa-dosa kita.
Semoga dosa-dosa yang telah kita lakukan diampuni oleh-Nya sehingga masa depan kita jauh lebih baik daripada masa sebelumnya. Aamiin..3x
2. Bersabar
"Bersabar"
A. Pengertian dan makna bersabar
Secara terminologis sabar berarti menahan diri dari segala sesuatu yang tidak di sukai karena mengharap ridha Allah.Yang tidak di sukai itu tidak selamanya terdiri dari hal-hal yang tidak di senangi seperti musibah kematian, sakit, kelaparan dan sebagainya, tapi juga bisa berupa hal-hal yang di senangi. Sabar dalam hal ini berarti menahan dan mengekang diri dari memperturutkan hawa nafsu.
Dengan kata lain sabar ialah tetap tegaknya dorongan agama berhadapan dengan dorongan hawa nafsu. Dorongan agama ialah hidayah Allah kepada manusia untuk mengenal Allah, Rasul serta mengamalkan ajaran-Nya. Sedangkan dorongan hawa nafsu ialah tuntutanf syahwat dan keinginan-keinginan rendah yang minta di laksanakan.
Menurut M. Jamaluddin barang siapa yang tegak bertahan sehingga dapat menundukkan dorongan hawa nafsu secara terus menerus maka orang tersebut termasuk golongan orang yang sabar.
Kesabaran merupakan salah satu sifat sekaligus ciri orang mukmin, sebagaimana hadis yang diriwayatkan Imam Muslim yang artinya: “Sungguh menakjubkan perkara orang yang beriman, kerana segala perkaranya adalah baik. Jika ia mendapatkan kenikmatan, ia bersyukur kerana (ia mengetahui) bahawa hal tersebut adalah memang baik baginya. Dan jika ia tertimpa musibah atau kesulitan, ia bersabar kerana (ia mengetahui) bahwa hal tersebut adalah baik baginya.”
Boleh jadi Allah mengujinya dengan berbagai ujian, dan kewajiban hamba saat itu ialah bersabar.
Perlu kita pahami bahwa Allah menguji hamba-Nya bukan karena Dia ingin membinasakan si hamba, namun untuk mengetes sejauh mana penghambaan kita terhadap-Nya.
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji´uun”.” (QS. Al-Baqarah: 155-156).
“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya: 35).
Fitnah yang dimaksud dalam ayat di atas adalah ujian. Allah uji manusia dengan kebaikan dan keburukan. Orang yang diuji dengan kejelekan ia bersabar dan ketika diuji dengan kenikmatan ia bersyukur, inilah orang-orang yang mendapatkan kebahagiaan.
Adapun orang-orang yang jika diberi nikmat dia kufur. Jika ditimpa musibah, dia murka kepada takdir Allah. Inilah orang-orang yang celaka dan binasa. Orang yang demikian tidak akan mencapai derajat yang utama dan tidak pula apa yang mereka dapatkan bermanfaat dari apa yang mereka lakukan. Apa yang mereka lakukan hanya akan mengantarkan kepada kehancuran.
Ketahuilah, sabar didunia itu sangat bermanfaat, karena Allah mencintai orang yang sabar serta selalu menyertainya, sesuai dengan firman-Nya:
"Allāh mencintai orang-orang yang sabar." (Āli 'Imrān 146)
“Allāh bersama orang-orang yang sabar” (Al-Baqarah 153)
B. Pembagian sabar
Berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ad-Dunia, serta penjelasan para ulama, bahwa kesabaran dapat dibagi menjadi tiga yaitu:
1. Sabar dalam ketaatan kepada Allah
Dalam merealisasikan ketaatan kepada Allah memang memerlukan kesabaran, kerana pada umumnya jiwa manusia berat untuk beribadah dan berbuat ketaatan.
2. Sabar dalam meninggalkan kemaksiatan
Meninggalkan kemaksiatan juga memerlukan kesabaran yang besar, terutamanya pada kemaksiatan yang sangat mudah untuk dilakukan, seperti berkata dusta, mengingkari janji, memandang sesuatu yang dilarang dan lain-lain.
3. Sabar dalam menghadapi musibah atau malapetaka
Menghadapi musibah atau malapetaka memerlukan kesabaran, dan sabar itu perlu dimulai seawal detakan yang pertama, bukanlah di tengah-tengah ataupun di akhir musibah.
C. Pendapat para sahabat dan orang2 shaleh terdahulu tentang keutamaan sabar
Dalam kitab "Uddatush Shaabirin wa Dzakhiratusy Shaabirin ( Miskin bersabar ataukah kaya bersyukur?)" Karangan Al-Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah. Hal. 159 dituliskan beberapa ungkapan para sahabat dan orang2 shaleh terdahulu tentang keutamaan sabar, yaitu:
1. Umar bin Khatab ra berkata, "Kami mendapati kehidupan kami yang terbaik dengan kesabaran"
2. Ali bin Abi thalib ra berkata, "Ketahuilah, sesungguhnya kedudukan sabar dalam iman laksana kepala bagai jasad. Apabila kepala dipotong maka jasmani pasti binasa." Beliau berkata pula, " Kesabaran itu karunia yang tidak ada habisnya".
3. Al - Hasan ra berkata," Kesabaran itu perbendaharaan kebajikan yang Allah tidak akan memberikannya kecuali kepada seorang hamba yang mulia di sisi-Nya."
4. Umar bin Abdul Aziz ra berkata, " Tidaklah Allah memberikan suatu nikmat kepada seorang hamba lalu dicabut-Nya. Lalu Dia menggantikan nikmat itu dengan kesabaran, melainkan apa yang Allah gantikan akan lebih baik dibandingkan apa yang Dia cabut."
5. Wahab berkata, " Buah kebodohan adalah kelelahan, buah murah hati adalah ketentraman, dan buah sabar adalah kemenangan."
6. Yunus bin Zaidi berkata: Saya bertanya kepada Rabi'ah bin Abi Abdirrahman: "Apakah puncak kesabaran?" Beliau menjawab:" Hari ketika dia tertimpa musibah sama saja dengan sebelum ditimpa musibah"
Penutup
Sabar berarti menahan diri dari segala sesuatu yang tidak di sukai karena mengharap ridha Allah, baik dalam menemukan sesuatu yang tidak di ingini ataupun dalam bentuk kehilangan sesuatu yang disenangi.
Semoga dianugrahi untuk dapat menjadi orang yang memiliki kesabaran dalam menjalani kehidupan ini sampai akhir nafas kita sabar, aamiin..3x
A. Pengertian dan makna bersabar
Secara terminologis sabar berarti menahan diri dari segala sesuatu yang tidak di sukai karena mengharap ridha Allah.Yang tidak di sukai itu tidak selamanya terdiri dari hal-hal yang tidak di senangi seperti musibah kematian, sakit, kelaparan dan sebagainya, tapi juga bisa berupa hal-hal yang di senangi. Sabar dalam hal ini berarti menahan dan mengekang diri dari memperturutkan hawa nafsu.
Dengan kata lain sabar ialah tetap tegaknya dorongan agama berhadapan dengan dorongan hawa nafsu. Dorongan agama ialah hidayah Allah kepada manusia untuk mengenal Allah, Rasul serta mengamalkan ajaran-Nya. Sedangkan dorongan hawa nafsu ialah tuntutanf syahwat dan keinginan-keinginan rendah yang minta di laksanakan.
Menurut M. Jamaluddin barang siapa yang tegak bertahan sehingga dapat menundukkan dorongan hawa nafsu secara terus menerus maka orang tersebut termasuk golongan orang yang sabar.
Kesabaran merupakan salah satu sifat sekaligus ciri orang mukmin, sebagaimana hadis yang diriwayatkan Imam Muslim yang artinya: “Sungguh menakjubkan perkara orang yang beriman, kerana segala perkaranya adalah baik. Jika ia mendapatkan kenikmatan, ia bersyukur kerana (ia mengetahui) bahawa hal tersebut adalah memang baik baginya. Dan jika ia tertimpa musibah atau kesulitan, ia bersabar kerana (ia mengetahui) bahwa hal tersebut adalah baik baginya.”
Boleh jadi Allah mengujinya dengan berbagai ujian, dan kewajiban hamba saat itu ialah bersabar.
Perlu kita pahami bahwa Allah menguji hamba-Nya bukan karena Dia ingin membinasakan si hamba, namun untuk mengetes sejauh mana penghambaan kita terhadap-Nya.
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar. (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji´uun”.” (QS. Al-Baqarah: 155-156).
“Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.” (QS. Al-Anbiya: 35).
Fitnah yang dimaksud dalam ayat di atas adalah ujian. Allah uji manusia dengan kebaikan dan keburukan. Orang yang diuji dengan kejelekan ia bersabar dan ketika diuji dengan kenikmatan ia bersyukur, inilah orang-orang yang mendapatkan kebahagiaan.
Adapun orang-orang yang jika diberi nikmat dia kufur. Jika ditimpa musibah, dia murka kepada takdir Allah. Inilah orang-orang yang celaka dan binasa. Orang yang demikian tidak akan mencapai derajat yang utama dan tidak pula apa yang mereka dapatkan bermanfaat dari apa yang mereka lakukan. Apa yang mereka lakukan hanya akan mengantarkan kepada kehancuran.
Ketahuilah, sabar didunia itu sangat bermanfaat, karena Allah mencintai orang yang sabar serta selalu menyertainya, sesuai dengan firman-Nya:
"Allāh mencintai orang-orang yang sabar." (Āli 'Imrān 146)
“Allāh bersama orang-orang yang sabar” (Al-Baqarah 153)
B. Pembagian sabar
Berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Ad-Dunia, serta penjelasan para ulama, bahwa kesabaran dapat dibagi menjadi tiga yaitu:
1. Sabar dalam ketaatan kepada Allah
Dalam merealisasikan ketaatan kepada Allah memang memerlukan kesabaran, kerana pada umumnya jiwa manusia berat untuk beribadah dan berbuat ketaatan.
2. Sabar dalam meninggalkan kemaksiatan
Meninggalkan kemaksiatan juga memerlukan kesabaran yang besar, terutamanya pada kemaksiatan yang sangat mudah untuk dilakukan, seperti berkata dusta, mengingkari janji, memandang sesuatu yang dilarang dan lain-lain.
3. Sabar dalam menghadapi musibah atau malapetaka
Menghadapi musibah atau malapetaka memerlukan kesabaran, dan sabar itu perlu dimulai seawal detakan yang pertama, bukanlah di tengah-tengah ataupun di akhir musibah.
C. Pendapat para sahabat dan orang2 shaleh terdahulu tentang keutamaan sabar
Dalam kitab "Uddatush Shaabirin wa Dzakhiratusy Shaabirin ( Miskin bersabar ataukah kaya bersyukur?)" Karangan Al-Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah. Hal. 159 dituliskan beberapa ungkapan para sahabat dan orang2 shaleh terdahulu tentang keutamaan sabar, yaitu:
1. Umar bin Khatab ra berkata, "Kami mendapati kehidupan kami yang terbaik dengan kesabaran"
2. Ali bin Abi thalib ra berkata, "Ketahuilah, sesungguhnya kedudukan sabar dalam iman laksana kepala bagai jasad. Apabila kepala dipotong maka jasmani pasti binasa." Beliau berkata pula, " Kesabaran itu karunia yang tidak ada habisnya".
3. Al - Hasan ra berkata," Kesabaran itu perbendaharaan kebajikan yang Allah tidak akan memberikannya kecuali kepada seorang hamba yang mulia di sisi-Nya."
4. Umar bin Abdul Aziz ra berkata, " Tidaklah Allah memberikan suatu nikmat kepada seorang hamba lalu dicabut-Nya. Lalu Dia menggantikan nikmat itu dengan kesabaran, melainkan apa yang Allah gantikan akan lebih baik dibandingkan apa yang Dia cabut."
5. Wahab berkata, " Buah kebodohan adalah kelelahan, buah murah hati adalah ketentraman, dan buah sabar adalah kemenangan."
6. Yunus bin Zaidi berkata: Saya bertanya kepada Rabi'ah bin Abi Abdirrahman: "Apakah puncak kesabaran?" Beliau menjawab:" Hari ketika dia tertimpa musibah sama saja dengan sebelum ditimpa musibah"
Penutup
Sabar berarti menahan diri dari segala sesuatu yang tidak di sukai karena mengharap ridha Allah, baik dalam menemukan sesuatu yang tidak di ingini ataupun dalam bentuk kehilangan sesuatu yang disenangi.
Semoga dianugrahi untuk dapat menjadi orang yang memiliki kesabaran dalam menjalani kehidupan ini sampai akhir nafas kita sabar, aamiin..3x
1. Bersyukur
"Bersyukur"
A. Pengertian dan makna bersyukur
Hakikat syukur ialah mengungkapkan pujian kepada Sang Pemberi Kebahagiaan, yaitu Allah.
Sebab, segala anugerah datang dari-Nya.
Manusia mendapat curahan nikmat yang tak terhingga dari Allah, dan inilah mengharuskannya untuk bersyukur.
Kalau kita sedari banyak sekali nikmat yang telah Allah SWT berikan kepada kita dan bahkan kalau mahu dihitung sungguh tidak ada siapa sanggup menghitungnya. Maka sungguh beruntung orang yang mampu bersyukur.
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahapengampun lagi Mahapenyayang.” (QS an-Nahl [16]: 18).
Apabila seseorang, Allah berikan suatu nikmat kepadanya, maka ia akan bersyukur kepada Allah atas kenikmatan tersebut. Dan sesungguhnya syukur itu diciptakan oleh Allah untuk kebaikan hamba-hambaNya jua sebagaimana firmanNya:
"Barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri, dan barang siapa yang tidak bersyukur maka sesungguhnya Allah Maha Kaya Lagi Maha Terpuji." (Lukman: ayat 12)
B. Cara untuk bersyukur
Para ulama mengemukakan 3 cara untuk bersyukur:
a. Bersyukur dengan hati nurani.
Hati nurani manusia selalu benar dan jujur. Maka orang yang bersyukur dengan hati nuraninya sebenarnya tidak akan pernah mengingkari banyaknya nikmat Allah.
Pada hati yang paling dalam, kita sebenarnya mampu menyedari seluruh nikmat yang kita peroleh tidak lain melainkan semuanya berasal dari Allah.
Ini bisa dilakukan setiap hari menjelang malam, salah satunya. Pejamkan mata dan renungkan apa saja kenikmatan di hari itu yang telah Anda terima. Berterima kasihlah kepada Allah. Dengan begitu, kita akan menyadari bahwa nikmat Allah sangat besar.
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi Ulil Albab. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka". (Ali Imran: 190-191)
b. Bersyukur dengan ucapan.
Ungkapan yang paling baik untuk menyatakan syukur kita kepada Allah adalah melafazkan hamdalah.
Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda, ”Barangsiapa mengucapkan SubhanAllah, maka baginya 10 kebaikan. Barangsiapa membaca La ilaaha illAllah, maka baginya 20 kebaikan. Dan barangsiapa membaca Alhamdulillah, maka baginya 30 kebaikan.”
c. Bersyukur dengan perbuatan, yang biasanya dilakukan anggota tubuh.
Tubuh yang diberikan Allah kepada manusia sebaiknya dipergunakan untuk hal-hal yang positif mengikut fungsinya.
Dalam surat An-Nahl ayat 78 yang bererti: “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.”
Dan, syukur harus menjadi sarana taat kepada Allah. Ketika banyak rezeki, jangan hanya dibicarakan, berbuatlah sesuatu yang bermanfaat. Bantulah sesama yang membutuhkan. Tunaikan zakat dan berinfaklah. Karena, kesemuanya itu adalah bukti nyata rasa syukur.
Syukur itu bukan hanya di lisan saja. Akan tetapi syukur itu hadir di lisan dengan ucapan, di hati dengan pengakuan, dan pada anggota badan dengan amalan ketaatan.
C. Keutamaan bersyukur
Beberapa keutamaan bersyukur, diantaranya:
1. Allah akan mempermudah jalan bagi kita untuk meraih impian dan kesuksesan.
"Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina. Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur." (As-Sajdah: ayat 7-9)
2. Akan selalu diperhatikan dan diingat oleh Allah
“karena itu ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat ( pula ) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku”. (QS.Albaqarah : 152)
3. Akan mengikat dan menambah nikmat yang ada serta terhindar dari azab Allah.
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmatKu) maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS: Ibrahim : 7)
4. Allah SWT menjanjikan balasan yang baik bagi sesiapa pun yang pandai bersyukur.
"Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan izin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanaman yang tidak subur, tanaman-tanaman hanya tumbuh merana. Demikianlah kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur." (Al-A’raaf: ayat 58)
Penutup
Bersyukur merupakan salah satu sikap yang penting dalam kehidupan seorang muslim. Syukur ini berkaitan dengan hati, lisan, dan anggota badan. Hati untuk Mahabbah / merasakan, lisan untuk memuji, anggota badan untuk menggunakan nikmat yang diterima.
Marilah kita sama-sama berharap akan pertolongan-Nya, semoga Allah Yang Maha Pemurah, agar sentiasa menggolongkan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang mampu bersyukur.
“Ya Tuhanku, anugerahilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yng telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua-dua orang tuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau redhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang soleh." (An-Naml: ayat 19)
A. Pengertian dan makna bersyukur
Hakikat syukur ialah mengungkapkan pujian kepada Sang Pemberi Kebahagiaan, yaitu Allah.
Sebab, segala anugerah datang dari-Nya.
Manusia mendapat curahan nikmat yang tak terhingga dari Allah, dan inilah mengharuskannya untuk bersyukur.
Kalau kita sedari banyak sekali nikmat yang telah Allah SWT berikan kepada kita dan bahkan kalau mahu dihitung sungguh tidak ada siapa sanggup menghitungnya. Maka sungguh beruntung orang yang mampu bersyukur.
“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahapengampun lagi Mahapenyayang.” (QS an-Nahl [16]: 18).
Apabila seseorang, Allah berikan suatu nikmat kepadanya, maka ia akan bersyukur kepada Allah atas kenikmatan tersebut. Dan sesungguhnya syukur itu diciptakan oleh Allah untuk kebaikan hamba-hambaNya jua sebagaimana firmanNya:
"Barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka sesungguhnya ia bersyukur untuk dirinya sendiri, dan barang siapa yang tidak bersyukur maka sesungguhnya Allah Maha Kaya Lagi Maha Terpuji." (Lukman: ayat 12)
B. Cara untuk bersyukur
Para ulama mengemukakan 3 cara untuk bersyukur:
a. Bersyukur dengan hati nurani.
Hati nurani manusia selalu benar dan jujur. Maka orang yang bersyukur dengan hati nuraninya sebenarnya tidak akan pernah mengingkari banyaknya nikmat Allah.
Pada hati yang paling dalam, kita sebenarnya mampu menyedari seluruh nikmat yang kita peroleh tidak lain melainkan semuanya berasal dari Allah.
Ini bisa dilakukan setiap hari menjelang malam, salah satunya. Pejamkan mata dan renungkan apa saja kenikmatan di hari itu yang telah Anda terima. Berterima kasihlah kepada Allah. Dengan begitu, kita akan menyadari bahwa nikmat Allah sangat besar.
Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi Ulil Albab. (Yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): "Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka". (Ali Imran: 190-191)
b. Bersyukur dengan ucapan.
Ungkapan yang paling baik untuk menyatakan syukur kita kepada Allah adalah melafazkan hamdalah.
Dalam sebuah hadis, Rasulullah SAW bersabda, ”Barangsiapa mengucapkan SubhanAllah, maka baginya 10 kebaikan. Barangsiapa membaca La ilaaha illAllah, maka baginya 20 kebaikan. Dan barangsiapa membaca Alhamdulillah, maka baginya 30 kebaikan.”
c. Bersyukur dengan perbuatan, yang biasanya dilakukan anggota tubuh.
Tubuh yang diberikan Allah kepada manusia sebaiknya dipergunakan untuk hal-hal yang positif mengikut fungsinya.
Dalam surat An-Nahl ayat 78 yang bererti: “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatupun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan dan hati, agar kamu bersyukur.”
Dan, syukur harus menjadi sarana taat kepada Allah. Ketika banyak rezeki, jangan hanya dibicarakan, berbuatlah sesuatu yang bermanfaat. Bantulah sesama yang membutuhkan. Tunaikan zakat dan berinfaklah. Karena, kesemuanya itu adalah bukti nyata rasa syukur.
Syukur itu bukan hanya di lisan saja. Akan tetapi syukur itu hadir di lisan dengan ucapan, di hati dengan pengakuan, dan pada anggota badan dengan amalan ketaatan.
C. Keutamaan bersyukur
Beberapa keutamaan bersyukur, diantaranya:
1. Allah akan mempermudah jalan bagi kita untuk meraih impian dan kesuksesan.
"Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina. Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalamnya roh (ciptaan)Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur." (As-Sajdah: ayat 7-9)
2. Akan selalu diperhatikan dan diingat oleh Allah
“karena itu ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat ( pula ) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku”. (QS.Albaqarah : 152)
3. Akan mengikat dan menambah nikmat yang ada serta terhindar dari azab Allah.
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmatKu) maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih” (QS: Ibrahim : 7)
4. Allah SWT menjanjikan balasan yang baik bagi sesiapa pun yang pandai bersyukur.
"Dan tanah yang baik, tanaman-tanamannya tumbuh subur dengan izin Allah; dan tanah yang tidak subur, tanaman-tanaman yang tidak subur, tanaman-tanaman hanya tumbuh merana. Demikianlah kami mengulangi tanda-tanda kebesaran (Kami) bagi orang-orang yang bersyukur." (Al-A’raaf: ayat 58)
Penutup
Bersyukur merupakan salah satu sikap yang penting dalam kehidupan seorang muslim. Syukur ini berkaitan dengan hati, lisan, dan anggota badan. Hati untuk Mahabbah / merasakan, lisan untuk memuji, anggota badan untuk menggunakan nikmat yang diterima.
Marilah kita sama-sama berharap akan pertolongan-Nya, semoga Allah Yang Maha Pemurah, agar sentiasa menggolongkan kita sebagai hamba-hamba-Nya yang mampu bersyukur.
“Ya Tuhanku, anugerahilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yng telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua-dua orang tuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau redhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang soleh." (An-Naml: ayat 19)
Subscribe to:
Posts (Atom)
