Saturday, 11 April 2009

Memperoleh Kebahagiaan Dunia



Apa yang paling membahagiakan dalam menjalani hidup ini?
Sebagian besar akan mengatakan bahwa yang paling membahagiakan hidup di dunia ini adalah memiliki keluarga yang sehat; hati yang tenang, senang, damai, lapang dan tidak resah; jauh dari musuh yang ditakuti; memiliki penghasilan yang cukup berlimpah bahkan mencapai passive income; jabatan yang tinggi; teman hidup yang setia dan menyenangkan; mempunyai kemampuan untuk melakukan segala sesuatu dengan tepat; serta banyak lagi harapan lainnya. Ringkasnya adalah bahwa hidup di dunia akan bahagia bila semua keinginan tercapai.

Bagaimana cara agar semua keinginan itu tercapai?
Banyak upaya dan usaha yang telah dilakukan oleh manusia untuk mendapatkan apa yang diinginkannya. Ada yang yang bekerja keras siang malam sehingga tak ada lagi waktu yang tersisa untuk keluarga ataupun untuk ibadah; ada yang pergi ke tempat-tempat hiburan baik yang menenangkan ataupun hiburan malam yang hingar bingar; ada yang berusaha mendekati orang yang berpengaruh dengan harapan mendapatkan salah satu jabatan yang diinginkannya atau agar terhindar dari musuh yang ditakutinya; adapula yang pergi ke dukun atau orang-orang pintar dengan harapan dapat memperoleh segala keinginan dengan cepat; serta banyak lagi usaha lainnya. Dengan berbagai usaha tersebut, kadang yang terjadi adalah permasalahan yang satu selesai namun timbul permasalahan lainnya yang sama bahkan lebih berat dari permasalahan yang ada.

“Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku maka sungguh, dia akan menjalani kehidupan yang sempit, dan Kami akan mengumpulkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.” (QS Thaha:124)

Apa solusi yang tepat untuk mencapai segala keinginan di dunia ini?
Cara yang terbaik agar semua keinginan di dunia ini tercapai adalah dengan cara berusaha mendekatkan diri kita pada Pemilik Alam Semesta ini, sehingga apapun yang kita harapkan dengan mudahnya dapat terwujud. Hal tersebut dapat kita lakukan dengan mengacu pada salah satu hadist qudsi, yaitu:
“Allah berfirman,’barangsiapa memusuhi wali-Ku, maka Aku telah menyatakan perang kepadanya. Tidak ada orang dapat mendekatkan hamba-Ku kepada-Ku dengan sesuatu yang Aku cintai dariapa yang telah Aku wajibkan kepadanya. Dan hamba-Ku masih mendekati-Ku dengan perbuatan-perbuatan sunnah hingga Aku mencintainya. Maka, apabila Aku mencintainya, Aku akan menjadi telinganya yang mendengarkan, matanya yang melihat, tangannya yang memegang, dan kakinya yang berjalan. Apabila ia memohon kepada-Ku, niscaya Aku akan mengabulkan permohonannya. Apabila ia meminta perlindungan niscaya Aku melindunginya. Aku tidak pernah ragu akan sesuatu yang Aku lakukan. Sesuatu yang membuat-Ku ragu akan diri orang mukmin adalah dia benci akan mati. Dan Aku benci kejelekannya. (HR Bukhari)

Dari hadist Qudsi di atas, dinyatakan bahwa bila Allah sudah mencintai seseorang maka beberapa kebahagiaan yang akan diperoleh oleh hamba-Nya adalah:
1. Allah akan menjadi pembela bila ada yang memusuhi hamba-Nya;
2. Allah akan menjadi pembimbing hamba-Nya terhadap apa yang didengarnya, dilihatnya, dilakukannya serta apa yang dijalankannya;
3. Allah akan mengabulkan segala permohonan hamba-Nya;
4. Allah akan menjadi pelindung hamba-Nya terhadap segala sesuatu yang menakutkan orang tersebut.

Sungguh bahagia hidup orang yang memperoleh cinta-Nya. Sehingga apapun yang diinginkan olehnya di dunia ini, akan dengan mudahnya dapat terpenuhi oleh Sang Pemilik Alam Semesta ini. Karena semua yang ada di langit dan di bumi adalah milik-Nya, tidak ada daya dan upaya yang dapat dilakukan oleh makhluk-Nya tanpa ada ijin dari-Nya. Untuk memperoreh cinta-Nya, maka berdasarkan hadist qudsi di atas, ada beberapa hal yang mesti kita upayakan dalam mendekati-Nya, yaitu:
1. Mengamalkan apa yang telah diwajibkan oleh-Nya
Allah sangat mencintai seorang hamba yang berusaha mendekati-Nya dengan jalan mengamalkan apa yang diwajibkan oleh-Nya serta menjauhi apa yang dilarang-Nya, yaitu dengan jalan melaksanakan rukun Islam (sahadat, shalat, zakat, puasa dan haji bagi yang mampu), mengimani rukun iman (iman kepada Allah, malaikat-Nya, kitab-Nya, rasul-Nya, hari kiamat serta takdir yang baik dan buruk), serta beribadah kepada-Nya dengan ihsan (Ibadah bagaikan kita melihat-Nya atau berkeyakinan bahwa Dia selalu mengawasi kita)

2. Melaksanakan dengan apa yang telah di sunnahkan-Nya
Allah akan semakin cintai pada hamba-Nya bila dia semakin mendekatkan diri pada Allah dengan melakukan yang apa disunnahkan-Nya, seperti salat-salat sunnah, puasa-puasa sunnah serta ibadah-iadah sunnah lainnya yang telah dicontohkan oleh Rasulullah saw.

Jadi bila ingin mendapatkan kebahagiaan dunia, maka solusi terbaik adalah dengan semakin mendekatkan diri pada-Nya dengan melaksanakan apa yang telah diwajibkan oleh-Nya serta ditambah dengan melakukan apa yang telah disunnahkan-Nya. Disamping kebahagiaan di dunia ini, dijanjikan pula dengan tambahan kebahagiaan yang jauh lebih menyenangkan dan lebih kekal yaitu kebahagiaan mendapatkan surga-Nya di kehidupan abadi nanti.

“....Maka barangsiapa yang mengikuti petunjuk-Ku, niscaya tidak ada kekhawatiran atas mereka, dan tidak (pula) mereka bersedih hati.” (QS Al-Baqarah:38)

“Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS An-Nahl:97)

(Gantira, 11 April 2009)

Tuesday, 31 March 2009

“Janji-janji Para Penghuni Neraka”

Ketika para penghuni neraka sudah menempati tempatnya, mereka mengalami penyesalan yang luar biasa. Mereka memohon kepada Allah untuk dikembalikan ke dunia dengan janji-janji akan melakukan segala sesuatu yang di perintahkan-Nya, janji-janji mereka diantaranya:

1. Akan Melakukan Amal Saleh

Mereka berjanji akan melakukan amal saleh bila diberi kesempatan untuk hidup kembali, sebagaimana yang diungkapkan dalam QS As-Sajdah ayat 12:

Dan (alangkah ngerinya), jika sekiranya kamu melihat ketika orang-orang yang berdosa itu menundukkan kepalanya dihadapan Tuhannya, (mereka berkata): “Ya Tuhan kami, kami telah melihat dan mendengar, maka kembalikanlah kami (ke dunia), kami akan mengerjakan amal saleh, sesungguhnya kami adalah orang-orang yang yakin”

Permohonan tersebut dijawab oleh Allah dalam QS As-Sajdah ayat 13-14:

‘Dan kalau Kami menghendaki niscaya Kami akan berikan kepada tiap-tiap jiwa petunjuk (bagi)nya, akan tetapi telah tetaplah perkataan (ketetapan dari-Ku): ”Sesungguhnya akan Aku penuhi neraka Jahannam itu dengan jin dan manusia bersama-sama. Maka rasakanlah olehmu (siksa ini) disebabkan kamu melupakan akan pertemuan dengan harimu ini (hari Kiamat); sesungguhnya Kami telah melupakan kamu (pula) dan rasakanlah siksa yang kekal, disebabkan apa yang selalu kamu kerjakan”’

2. Akan Mengamalkan Kitabbullah dan Sunah Rasul

Setelah merasakan dasyatnya siksa neraka mereka berjanji akan mengamalkan apa yang diperintah dalam kitabullah dan mengikuti anjuran rasul-Nya, sebagaimana yang tercantum dalam QS Ibrahim ayat 44:

‘Dan berikanlah peringatan kepada manusia terhadap hari (yang pada hari itu) datang azab kepada mereka, maka berkatalah orang-orang yang zalim: “Ya Tuhan kami, beri tangguhlah kami (kembalikanlah kami ke dunia) walaupun dalam waktu yang sedikit, niscaya kami akan mematuhi seruan Engkau dan akan mengikuti rasul-rasul…”

Dijawab oleh Allah dalam QS Ibarahim ayat 44-45:

‘(Kepada mereka dikatakan):”Bukankah kamu telah bersumpah dahulu (di dunia) bahwa sekali-kali kamu tidak akan binasa?, dan kamu telah berdiam di tempat-tempat kediaman orang-orang yang menganiaya diri mereka sendiri, dan telah nyata bagimu bagaimana Kami telah berbuat terhadap mereka dan telah Kami berikan kepadamu beberapa perumpamaan”’

3. Akan Berbuat Kebaikan

Mereka berteriak saat merasakan siksaan neraka dan berjanji akan melakukan perbuatan baik, sebagaimana yang ditulis dalam QS Faathir ayat 37:

Dan mereka berteriak di dalam neraka itu: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami niscaya kami akan berbuat kebaikan berlainan dengan yang telah kami perbuat”.

Yang dijawab oleh Allah dalam ayat yang sama:

‘Dan apakah Kami tidak memanjangkan umurmu dalam masa yang cukup untuk berfikir bagi orang-orang yang mau berfikir, dan (apakah tidak) datang kepada kamu pemberi peringatan? Maka rasakanlah (azab Kami) dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.’

4. Akan Meninggalkan Perbuatan Jahat

Janji mereka bila dikembalikan ke dunia adalah akan meninggalkan kejahatan yang telah dilakukannya selama di dunia, seperti yang ada dalam QS Al-Mu’minuun ayat 106-107

Mereka berkata: “Ya Tuhan kami, kami telah dikuasai oleh kejahatan kami, dan adalah kami orang-orang yang sesat. Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami daripadanya (dan kembalikanlah kami ke dunia), maka jika kami kembali (juga kepada kekafiran), sesungguhnya kami adalah orang-orang zalim”

Kemudian dijawab oleh Allah dalam QS Al-Mu’minuun ayat 108-110:

‘Allah berfirman: Tinggallah dengan hina di dalamnya, dan janganlah kamu berbicara dengan Aku. Sesungguhnya, ada golongan dari hamba-hamba-Ku berdo’a ( di dunia): “Ya Tuhan kami, kami telah beriman, maka ampunilah kami dan berilah kami rahmat dan Engkau adalah Pemberi rahmat yang paling Baik. Lalu kamu menjadikan mereka buah ejekan, sehingga (kesibukan) kamu mengejek mereka, menjadikan kamu lupa mengingat Aku, dan adalah kamu selalu menertawakan mereka.”’

Setelah permohonan terakhir mereka. Janji, permohonan dan jeritan para penghuni neraka tidak didengar lagi oleh Allah, dan mereka berada di dalamnya dengan penuh keputus asaan yang tidak ada manfaatnya lagi.

Apakah kita akan berjanji seperti di atas, setelah kita menjadi salah seorang diantara mereka dan menyaksikan dasyatnya api neraka dengan ainul yakin?

Ya Allah lindungilah kami dari api neraka-Mu dan jauhkanlah kami di dunia ini dari sifat dan perbuatan penduduk ahli neraka, Amin. (Gantira)

Sunday, 29 March 2009

Menggapai Kesuksesan Abadi


Setiap orang mempunyai definisi sukses yang berbeda-beda tergantung dari apa yang yang ingin dicapainya. Bagi sebagian orang sukses itu adalah mendapatkan kedudukan yang lebih tinggi dari yang dia capai saat itu. Disebut sukses bila seorang staff menjadi kepala sub bidang, seorang kepala sub bidang menjadi kepala bidang, seorang kepala bidang menjadi direktur, dan seterusnya sampai orang yang mencapai puncak tertinggi di suatu instansi pun merasa bahwa dirinya masih belum sukses bila belum mendapatkan posisi yang lebih tinggi lagi menurut pandangannya masing-masing.

Adapula orang yang mendefinisikan bahwa sukses itu adalah orang yang memiliki harta yang berlimpah. Dengan definisi ini, dia akan terus menerus menumpuk kekayaannya. Walaupun dia sudah mencapai kekayaan yang tak akan habis sampai tujuh turunan tapi pada saat dia melihat masih ada orang yang lebih kaya dari dirinya maka dia akan terus merasa kurang dan merasa dirinya belum mencapai sukses sesuai dengan yang diimpikannya.

Dengan melihat kecenderungan definisi sukses yang berbeda-beda dan tak pernah ada akhirnya tersebut, maka yang terbaik adalah mengembalikan definisi sukses pada Yang Menciptakan kita, hal ini dapat kita renungi berdasarkan firman-Nya:

Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu Aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkan kamu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagi kamu jika kamu mengetahuinya, niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam surga ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar (the great success).”( QS Ash Shaff 10-12)

Berdasarkan ayat di atas, yang namanya sukses adalah orang yang sudah mendapatkan surga-Nya. Sehingga selama kita masih bernafas maka peluangnya masih 50%, bisa menjadi orang yang sukses atau bisa pula jadi orang yang gagal, tergantung dari bagaimana kita mengakhiri udara yang kita hirup.

Untuk menggapai kesuksesan abadi di atas, maka ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu:

1. Niat (Motifasi)

Rasulullah saw bersabda:

Sungguh semua perbuatan tergantung pada niat (motifasi) dan, bagi setiap orang adalah nilai motifasi: orang yang berhijrah (ke Madinah) karena Allah dan Rasulullah maka hijrahnya kepada Allah dan Rasulullah. Dan orang yang berhijrah karena nilai duniawi atau kerena (mengikuti) seorang perempuan yang hendak dikawini, maka hijrahnya kepada motifasi orang yang mendasari.” (HR Bukhor-Muslim)

Bila seseorang beramal semata-mata karena mengharapkan pujian atau keuntungan dunia semata maka amalan yang kita lakukan tidak akan bernilai sama sekali dihadapan-Nya. Jadi agar kita menjadi orang beruntung maka kuatkanlah niat dalam beramal semata-mata untuk mencari ridho-Nya

2. Ilmu

Dari Abu Umamah Al-Bahili berkata “Rasulullah menceritakan ada dua orang, yang satu seorang yang berilmu tinggi, dan yang satunya seorang ahli ibadah. Kemudian Rasulullah berkata, “Keutamaan seseorang yang berilmu dibanding dengan seorang ahli ibadah sama seperti keutamaan saya dibanding orang paling rendah derajatnya diantara kamu sekalian,” Kemudian Rasulullah berkata lagi, ‘Sesungguhnya Allah dan para malaikat serta penghuni langit hingga semut di dalam tanah, dan ikan yang ada di dasar lautan, senantiasa membacakan shalawat (memohonkan rahmat) kepada orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain” (HR Tirmidzi dan Thabrani)

Orang yang beribadah berdasarkan ilmu derajatnya jauh lebih tinggi daripada orang yang beribadah tanpa dasar ilmu. Bahkan dalam hadist yang lain disebutkan bahwa ibadah seseorang tidak akan diterima bila tidak ada contoh dari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam.

3. Beramal

Rasulullah saw bersabda:

“Pada hari kiamat nanti, akan dibawa sesorang lelaki untuk dilemparkan ke dalam api neraka. Maka terburailah ususnya dalam api neraka, lalu ia berputar-putar seperti seekor keledai berputar-putar mengelilingi batu penggilingan, maka penduduk neraka berkumpul mendekati dan berkata: “Hai Fulan, mengapa kamu seperti in?” Bukankah dahulu kamu menyuruh kami kepada perkara ma’ruf dan melarang kami dari perkara munkar?” Maka lelaki itu berkata: :Dahulu aku menyuruh kamu kepada perkara ma’ruf namun aku sendiri tidak melakukannya dan melarang kamu dari perkara munkar namun aku sendiri melakukannya.” (HR Bukhori & Muslim)

Seseorang yang berilmu namun tidak mengamalkan ilmunya, maka dia termasuk orang yang sangat merugi. Imunya tidak membawa manfaat padanya bahkan mencelakakannya. Oleh karena itu sangat beruntunglah orang yang memperbanyak amalnya di dunia sehingga hasilnya akan dapat dipetik di kehidupan abadi nanti.

4. Mengajak Kepada Kebaikan

Rasulullah saw bersabda:

“Barangsiapa yang mengajak pada kebaikan maka ia akan mendapatkan pahala seperti orang yang mengerjakan kebaikan tersebut tanpa dikurangi kebaikan sedikit pun. Dan barangsiapa yang mengajak pada keburukan atau kesesatan maka ia akan mendapatkan dosa sebagaimana orang tersebut melakukan kesesatan tanpa dikurangkan dari dosanya sedikit pun(HR Muslim, Abu Daud, Ahmad, dan Ibnu Majah)

Sangat beruntunglah bila kita melakukan kebaikan serta mengajak orang lain, maka kita akan mendapatkan pahala sebanyak orang yang mengikutinya. Namun kita juga harus hati-hati pada saat melakukan suatu keburukan, karena bila ada orang lain yang mengikuti maka tanpa disadari kita akan menumpuk dosa sebanyak orang yang mengikutinya.

Jadi bila kita ingin memperoleh kesuksesan abadi maka yang harus kita lakukan adalah mengawali segala sesuatu dengan niat untuk mencari keridoan-Nya, mencari ilmu sebanyak-banyaknya, mengamalkan ilmu yang telah didapat serta mengajak orang lain untuk bersama-sama mendapatkan kebahagiaan abadi.

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”. (QS Al Ashr 1-3)

(Gantira)

Monday, 13 October 2008

Sudah Cukupkah Pengakuan Keislaman Kita?


” Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam” (QS Al-Anbiyaa : 21:107)

Umumnya kita sudah pernah membaca ayat suci di atas, namun pertanyaannya adalah apakah kita sebagai seorang yang mengaku muslim sudah menjadi rahmat bagi sekeliling kita?

Bila kita melihat sejarah awal perkembangan Islam di Kota Mekah dan Madinah. Rasulullah telah melakukan suatu perubahan peradaban di tempat tersebut menjadi jauh lebih baik. Suatu peradaban yang sebelumnya tanpa aturan yang membuat kesengsaraan di sebagian pihak. Dimana seorang perempuan yang sebelumnya tidak dihargai sama sekali sehingga setiap anak perempuan sudah umum di kubur hidup hudup bahkan seorang ibu dijadikan warisan untuk dinikahi oleh anak tirinya, Seorang yang berkuasa menindas orang yang lemah serta banyak lagi penindasan lainnya di tanah arab tersebut.

Namun setelah Rasulullah menyampaikan kebenaran Islam, maka Hak azasi manusia mulai ditegakkan, seorang perempuan menjadi lebih mulia dari sebelumnya, seorang penguasa menjadi pelindung bagi yang lemah, terbentuknya persaudaraan yang saling tolong menolong serta saling percaya diantara mereka sehingga tidak ada lagi kekhawatiran dari kejahatan tetangganya. Mereka semua meresapi rasa takut bila mendolimi yang lain karena mereka yakin akan pembalasan yang akan diterima di kehidupan abadi nanti. Mereka berbuat semata-mata hanya untuk mencari keridoan Sang Maha Pencipta. Disamping itu perkembangan ilmu pengetahuan maju dengan pesat di atas peradaban saat itu.

Begitu pula pada awal perkembangan Islam di Indonesia, khususnya di pulau jawa. Sunan Gresik (Maulana Malik Ibrahim) sebagai salah seorang wali songo yang pertama kali datang ke daerah tanah nusantara telah membawa perubahan yang cukup signifikan. Beliau yang pertama kali memperkenalkan sistem pengairan sehingga daerah di sekitarnya menjadi subur. Beliau pula telah melakukan pengobatan bagi orang yang sakit, memerangi para perampok yang ada di daerah tersebut serta memperkenalkan sistem pendidikan melalui pesantrennya. Sunan Gresik telah membawa suatu peradaban yang berada di atas peradaban saat itu. Sehingga dengan perjuangan beliau dan murid-muridnya masyarakat yang sebelumnya tertindas menjadi masyarakat yang makmur.

Hal ini tiada lain karena orang yang menyebarkan Islam saat itu sesuai dengan ajaran Islam sebagai pembawa rahmat bagi masyarakat sekitarnya. Namun bila seseorang yang mengaku islam malah membuat keresahan tetangganya? membuat kerusakan di sekitarnya? membawa suatu perilaku dan pengetahuan yang berada dibawah peradaban saat ini? dapatkah dia disebut sebagai islam yang telah kaffah (sempurna)?

Untuk itu kita perlu intropeksi diri atas pengakuan keislaman kita. Karena seorang muslim yang sejati adalah seorang yang membuat tentram tetangganya, seorang yang membuat sejahtera sekitarnya serta seorang yang menyampaikan pengetahuan yang berada di atas peradaban saat ini.

”Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal, baik lelaki maupun perempuan" (QS. Ali Imron: 195)

Tapi carilah dengan apa yang telah dianugrahkan Allah kepadamu kehidupan akhirat, dan janganlah lupa bagianmu di dunia; dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu; dan janganlah engkau mencari (kesempatan untuk) berbuat kerusakan di muka bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan (QS Al-Qashash:77)--- (Gantira)

Friday, 10 October 2008

Sebuah Cita-cita Agung yang Cocok bagi Semua Profesi


Sebagian besar manusia mempunyai cita-cita yang tinggi dalam mengarungi kehidupan di dunia ini. Ada yang bercita-cita menjadi seorang PNS, dokter, menteri, pengusaha bahkan Presiden. Mereka berusaha mengejar dan memperjuangkannya agar semua keinginannya terwujud.

Bila seseorang yang bercita-cita menjadi PNS, maka cita-cita selanjutnya mendapatkan jabatan eselon 4, eselon 3, eselon 2 bahkan eselon 1. Semua keinginan itu, merupakan hal yang wajar dimiliki oleh orang yang berpropesi sebagai PNS.

Begitu pula bila berada dalam bidang politik, mereka bercita-cita jadi anggota DPR, menteri bahkan Presiden dengan tekad dalam hatinya untuk memakmurkan bangsa dan negara. Merasa yakin bahwa hanya dialah yang bisa membuat bangsanya sejahtera dan makmur.

Namun semua cita-cita di atas tidaklah abadi dan bahkan akan menjadi bumerang bagi mereka sendiri, bila tidak dilandasi dengan cita-cita yang agung, cita cita tertinggi yang seharusnya dikejar oleh setiap manusia. Cita-cita yang dasyat itu adalah berada dalam kebahagiaan yang tak akan pernah pudar yaitu menjadi salah seorang penghuni surga di kehidupan abadi nanti.

Bila seseorang berjuang dan berusaha untuk mendapatkan apa yang diinginkannya tanpa dilandasi cita-cita agung di atas, maka untuk mendapatkannya mereka umumnya cenderung dengan menghalalkan berbagai macam cara, baik itu melalui suap, menginjak bawahan, menjilat atasan, mensikut teman sejawat serta banyak lagi tindakan-tindakan lain yang pada dasarnya akan merugikan mereka sendiri.

Dan bila mereka sudah mencapai kedudukannya, mereka akan cenderung menghina profesi yang hina dimatanya. Seorang pengusaha yang sukses akan menghina seorang pedagang asongan, seorang pejabat akan menghina seorang pemulung, dan banyak lagi tindakan lain yang semakin membuat sombong dengan apa yang mereka miliki.

Begitu juga sebaliknya seorang yang masih belum mencapai cita-citanya tanpa dilandasi dengan cita-cita masuk surga-Nya, maka mereka yang masih berada di bawah akan cenderung silau dengan kedudukan orang yang berada di atasnya. Seorang pegawai rendahan akan begitu mengagungkan kedudukan seorang presiden, seorang pesuruh akan begitu gentar melihat kedudukan seorang anggota DPR dan seorang staf akan terkagum-kagum terhadap jabatan tertinggi di tempat kerjanya. Hal ini diakibatkan karena hanya mengejar t cita-cita yang ada di dunia yang fana ini..

Bila seseorang tidak memiliki cita-cita mendapatkan kebahagiaan abadi nanti, maka pada saat jabatannya hilang. Orang tersebut akan cenderung merasakan hidupnya telah berakhir dan muncul kekecewaan dihatinya. Banyak diantara mereka yang akhirnya stroke dan stress berat akan kondisi itu. Bahkan adapula orang yang menderita akibat cita-cita tertingginya di dunia ini. Sebagaimana yang pernah tercatat dalam sejarah mengenai penderitaan para penguasa sebuah negeri besar, seperti Hitler, Firaun, Korun, Marcos dan banyak lagi para pemimpin sebuah negara lainnya yang dihujat dan tercatat sebagai orang yang dibenci oleh rakyatnya sebagai akibat dari cita-cita yang dimilikinya tersebut.

Namun bila kita melihat cita-cita yang jauh lebih tinggi, yaitu bercita-cita mendapatkan surga-Nya. maka dia akan nyaman dengan berbagai macam profesi yang dijalani yang sesuai dengan kemampuan dan keunikan yang dimilikinya. Baik itu sebagai pemulung, pengusaha, staf, anggota DPR bahkan presiden. Dan diantara mereka tidak akan ada saling menghina dan saling mengagungkan. Karena cita-cita mereka yang sebenarnya adalah kehidupan setelah kematian.

Seorang pemulung tidak harus menjadi presiden untuk mendapatkan cita-cita termulianya. Begitu pula seorang presiden tidak mesti jadi seorang pemulung untuk mencapai surga-Nya. Seseorang dapat mencapai cita-cita tertinggi tersebut dengan berbagai profesi yang sesuai dengan anugrah kemampuan yang mereka miliki. Mereka yang berbeda profesi akan saling menghormati, menyayangi serta saling menasehati untuk mencapai kebaikan bersama. Mereka akan melihat bahwa hidup di dunia ini sebagai tempat untuk bercocok tanam yang akan didapatkan hasilnya di kehidupan abadi nanti.

Mereka akan melakukan pekerjaannya dengan selalu waspada jangan sampai setiap yang dilakukannya malah menjauhkan mereka dari cita-cita tertingginya. Mereka akan berusaha melakukan yang terbaik yang sesuai dengan petunjuk-Nya. Sesuatu yang tidak bertentangan dengan rambu-rambu yang telah diturunkan oleh Sang Maha Pemilik Kebahagiaan Abadi, yaitu melalui aturan yang ada dalam Kitab Suci-Nya dan apa yang telah dicontohkan oleh perilaku para Nabi-Nya.

Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam syurga dan keni’matan, mereka bersuka ria dengan apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka; dan Tuhan mereka memelihara mereka dari azab neraka. (Dikatakan kepada mereka): ”Makanlah dan minumlah dengan enak sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan”, mereka bertelekan di atas dipan-dipan berderetan dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli’ (QS. Ath Thuur 52:17-20)

Mereka berada di atas dipan yang bertahtakan emas dan permata, seraya bertelekan di atasnya berhadap-hadapan. Mereka dikelilingi oleh anak-anak muda yang tetap muda, dengan membawa gelas (piala), cerek dan minuman yang diambil dari air yang mengalir” (QS. Al-Waqi’ah 56:15-18)

Mereka itulah (orang-orang yang) bagi merekasyurga ’Adn, mengalir sungai-sungai di bawahnya; dalam syurga itu mereka dihiasi dengan gelang mas dan mereka memakai pakaian hijau dari sutera halus dan sutera tebal, sedang mereka duduk sambil bersandar di atas dipan-dipan yang indah. Itulah pahala yang sebaik-baiknya, dan tempat istirahat yang indah, (QS. Al kahfi 18: 30-31)

Di surga akan ada seseorang penyeru yang berkata. ”Sesungguhnya sekarang tibalah saatnya kalian sehat wal afiat dan tidak menderita sakit selama-lamanya. Sekarang tibalah saatnya kalian hidup dan tidak mati selama-lamanya. Sekarang tibalah saat bagi kalian tetap muda dan tidak tua selama0lamanya. Sekarang tibalah saatnya bagi kalian bersenang-senang dan tidak sengsara selama-lamanya. (HR. Muslim)

”Penghuni surga akan masuk surga dan penghuni neraka akan masuk neraka, kemudian penyeru berdiri di antara mereka dan berkata, Wahai penghuni surga, sekarang tidak ada lagi kematian. Wahai penghuni neraka, sekarang tidak ada lagi kematian. Semuanya kekal abadi di tempat masing-masing.” (HR Al-bukhori-Muslim).----

 (Gantira, 10 Oktober 2008, Jakarta)

Sunday, 28 September 2008

"Kesempatan yang Terabaikan"


Pada suatu negeri, terdapatlah seorang raja yang sangat kaya dan mempunyai kekuasaan yang tak terbatas. Daerah kekuasaannya mengandung berbagai macam kekayaan yang berlimpah ruah yang tak habis-habisnya.

Lautnya berlimpahkan berbagai macam jenis kekayaan yang sangat mengagumkan, terkandung berbagai macam jenis ikan yang berkembang dengan cepatnya, ada minyak dan gas yang takkan pernah habis sampai kapanpun, ada banyak terumbu karang yang sangat indah dan mengagumkan.

Daratannya memendam berbagai macam kemewahan yang tak pernah habis digunakan. Tanahnya mengandung zat hara yang sangat tinggi sehingga tanaman apapun akan tumbuh dengan suburnya, air tanah didalamnya berlimpah ruah tanpa batas. Intan, emas, permata, berlian, minyak bumi, gas, dan berbagai jenis bahan tambang yang sangat berharga tertanam di dalam daratan tersebut.

Saat dia mengunjungi daerah A yang masih berada di bawah kekuasaannya. Terlihat rakyatnya dalam kehidupan yang sangat menyenangkan. Mereka makan dengan makanan yang diinginkannya, minum dengan minuman yang mereka senangi. Mereka mendapatkan semua itu karena telah memanfaatkan ilmu yang dimilikinya untuk mengeksploitasi kekayaan yang terkandung di daerah yang tempatinya. Setelah melihat itu, raja tersebut tersenyum bahagia karena kagum atas kecerdasan rakyatnya yang telah memanfaatkan otak yang mereka miliki.

Saat raja mengunjungi daerah B yang juga berada di bawah kekuasaannya. Terlihat penduduk ditempat itu dalam kehidupan yang sangat menyengsarakan. Pada saat lapar, mereka memenuhi kebutuhannya dengan mencari cacing dan belatung yang ditemui di permukaan tanah sehingga membuat perutnya semakin lapar dan mual. Pada saat haus mereka mendatangi air laut dan meminumnya sehingga membuat kerongkongan mereka semakin haus. Melihat itu, raja sangat marah akan kebodohan rakyatnya di daerah B yang tak memanfaatkan otak yang mereka miliki untuk menggali kekayaan yang terpendam.

Saat dia mengunjungi daerah C yang juga berada di daerah kekuasaannya. Disana terdapat anak muda yang tidak tahu apa-apa. Lalu penguasa itu mengajak anak muda tersebut melihat daerah A dan daerah B namun hanya melihat tidak diperkenankan untuk merasakan situasi keduanya. Dan dikatakan kepada anak muda di daerah C itu, bahwa dulu mereka diberi kesempatan dikirim ke daerah yang kaya akan berbagai macam ilmu pengetahuan.

Penduduk A telah memanfaatkan kesempatannya untuk belajar berbagai macam ilmu pengetahuan yang ada hubungannya dengan tehnik mengolah segala macam jenis kekayaan yang terkandung di daerah yang mereka tempati. Akhirnya seperti yang terlihat, mereka hidup dalam kemewahan yang luar biasa. Begitu pula penduduk B, merekapun diberi kesempatan yang sama untuk menimba berbagai jenis ilmu pengetahuan. Namun sayangnya penduduk B malah menyia-nyiakan kesempatan yang telah diberikan, sehingga saat pulang dari negeri yang kaya ilmu itu. Penduduk B tetap bodoh seperti yang terlihat saat itu.

Setelah mengunjungi Daerah A dan B, pemuda tersebut mengerti dan paham akan situasi yang ada. Kemudian pemuda itu dikirim ke daerah yang kaya akan ilmu yang dibutuhkan untuk mengolah tanah yang ditempatinya. Pada saat dia berangkat dia bertekad akan memanfaatkan kesempatan dengan sebaik mungkin, agar bisa hidup mewah seperti yang dia lihat di daerah A.
Setelah sampai ditempat tujuannya, pada awalnya pemuda itu tetap pada tujuan semula yaitu menuntut ilmu yang ada hubungannya dengan kekayaan yang terkandung di dalam tanah yang dimilikinya. Namun lambat laun dia mulai tergoda untuk mengikuti kesenangan lain yang terdapat di daerah yang kaya akan berbagai macam ilmu pengetahuan itu.

Pemuda itu mulai merasakan nikmatnya minum-minuman keras, nikmatnya pergaulan bebas serta nikmatnya keglamoran hidup lainnya. Disamping itu, diapun mulai mempelajari ilmu berjudi, ilmu sihir dan berbagai ilmu lainnya yang tidak ada hubungannya dengan ilmu tentang mengolah kekayaan alam yang akan ditempatinya.

Padahal ditempat tersebut, banyak sekali ilmu pengetahuan mengenai pertanian, pertambangan, perikanan, perhutanan, dan berbagai jenis ilmu lainnya yang sangat berlimpah tersedia disana. Tapi sayang si pemuda itu lupa akan tujuan awal dia di kirim ke tempat dunia ilmu tersebut.

Detik, menit, jam, hari, bulan dan tahunpun berlalu. Pada saat diumumkan bahwa besok pemuda itu akan dilantik serta diwajibkan untuk kembali ke daerahnya masing-masing. Baru dia tersadar akan kebodohannya, dia minta diperpanjang waktunya untuk menimba ilmu yang dibutuhkannya namun sayang semua sudah terlambat.Terbayang di matanya kehidupan yang akan dia alami seperti kehidupan yang dialami oleh penduduk B. Saat itu, dia hanya bisa menangis dan meraung-raung akan penyesalan yang tak mungkin bisa diperbaiki.

----------
Membaca kisah fiksi di atas, akankah kita menyia-nyiakan kesempatan di dunia yang sangat singkat ini? Padahal tujuan akhir hidup kita adalah di kehidupan abadi nanti....

Q.S. Al Anbiya (21) ayat 35:Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan.'

Q.S. An Naml (37) Ayat 89-90:'Barangsiapa yang membawa kebaikan, maka ia memperoleh (balasan) yang lebih baik daripadanya, sedang mereka itu adalah orang-orang yang aman tenteram dari pada kejutan yang dahsyat pada hari itu'. 'Dan barangsiapa yang membawa kejahatan, maka disungkurkanlah muka mereka ke dalam neraka. Tiadalah kamu dibalasi, melainkan (setimpal) dengan apa yang dahulu kamu kerjakan'

Q.S. Thaaha (20) ayat 124:''Dan barangsiapa berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta.'' (Gantira)

Tuesday, 23 September 2008

Berkenankah Allah dengan Keiklasan kita?


Salah satu makna ikhlas adalah melakukan atau menerima segala sesuatu semata-mata hanya karena mengharapkan ridho-Nya. Kegiatan tersebut bisa dilakukan dengan terang-terangan dapat pula dengan cara sembunyi-sembunyi. Semuanya dilakukan tanpa mengharapan pujian dan balasan dari makhluk-Nya.

Seorang manusia bila beramal tanpa ikhlas maka amalnya tidak akan diterima disisi-Nya. Sebagaimana yang ditegaskan oleh Imam Al-Ghozali bahwa ”Setiap manusia akan binasa kecuali berilmu, manusia yang berilmu akan binasa kecuali ia beramal dengan ilmunya. Manusia yang beramal akan binasa kecuali dia ikhlas dalam amalnya”
Oleh karena itu ikhlas merupakan puncak tertinggi dari seorang manusia yang mengharapkan kasih sayang-Nya. Iblispun tidak dapat berdaya pada orang yang ikhlas, sebagaimana yang difirmankan dalam QS. Shaad ayat 82-83: ’Iblis menjawab: "Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka”.

Namun kadang kita sering melihat aplikasi ikhlas yang tidak sesuai. Ada orang merasa ikhlas saat melihat agamanya dilecehkan, ikhlas istrinya diganggu orang lain, dan banyak lagi ikhlas-ikhlas lainnya yang tidak sesuai dengan kaidah Islam, bahkan ada pula orang membuat ajaran baru yang tidak dicontohkan oleh Nabi Muhamad SAW. Mereka merasa bahwa apa yang dilakukannya semata-mata karena-Nya.

Bila kita melakukan suatu amal yang tidak sesuai dengan petunjuk-Nya maka tindakan tersebut akan ditolak, sebagaimana Sabda Nabi Muhamad SAW ”Barangsiapa mengerjakan suatu amal yang tidak ada dasar dari kami, maka ia tertolak” (HR Imam Bukhori & Muslim).

Jadi semua amal manusia akan diterima bila dilakukan dengan ikhlas dan berkenan dihadapan-Nya. Suatu amal diperkenankan oleh-Nya bila sesuai dengan Firman-Nya dan perilaku Nabi Muhamad SAW. Oleh karena itu diwajibkan pada kita untuk mempelajari Al-qur’an dan Sunnah Nabi agar semua amal yang kita lakukan bermanfaat di dunia dan di akhirat kelak. Jangan sampai kita merasa ikhlas dengan sesuatu yang kita sangka sebuah ibadah tapi tanpa disadari itu malah menimbulkan murka-Nya.

" Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata : 'Telah bersabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam ; Aku tinggalkan dua perkara yang apabila kalian berpegang teguh pada keduanya maka tidak akan sesat selama-lamanya yaitu Kitabullah dan Sunnahku”. (Hadits Shahih Riwayat Al-Hakim dan Al-Baihaqy)

(Gantira, 23 September 2008, Jakarta)