Wednesday, 30 August 2017

"Mendidik Anak dengan Ilmu bukan dengan Hawa Nafsu"

Anak adalah salah satu anugerah sekaligus ujian bagi orang tuanya.

Karena posisi anak ini  berada pada dua sisi yang berbeda, dimana dia bisa membuat kita dalam situasi  tertekan (ujian) dan di sisi lain bisa juga membuat kita dalam situasi bahagia (anugrah), untuk itu sering timbul pertanyaan dari para orang tua, "Bagaimana cara mendidik anak?"

Ada istilah umum yang diketahui dan dipercayai sebagai sistem pendidikan yang menurut  kebanyakan dinilai bagus, yaitu "Didiklah anak-anak dengan cinta, bukan dengan Hawa nafsu".

Padahal kata cinta ini pun mengandung makna ganda tergantung dari sumber dan sudut pandang yang diambil.

Bisa jadi membiarkan atau melarang anak melakukan sesuatu yang menurut kita sebagai cinta, namun kalau diamati dari segi ilmu sebenarnya termasuk hawa nafsu yang artinya tidak mendidik. Atau sebaliknya bisa jadi tindakan di atas dianggap sebagai pelampiasan hawa nafsu, padahal kalau berdasarkan ilmu, hal itu termasuk tindakan yang benar.

Jadi istilah yang lebih tepat adalah "Didiklah anak-anak dengan ilmu, bukan dengan hawa nafsu".

Pertanyaan selanjutnya, ilmu apakah yang benar? Maka jawabannya adalah ilmu yang referensinya dengan mencontoh manusia terbaik dimuka bumi ini, yaitu Rasulullah yang tidak lepas dari firman-Nya; selanjutnya adalah mencontoh umat terbaik, yaitu generasi para sahabat,  generasi Tabiin serta generasi Tabiit tabiin.

Beberapa pondasi ilmu yang terkait dengan pendidikan anak ini beberapa diantaranya:

“Harta dan anak-anak adalah perhiasan kehidupan dunia.” (Qs. Al-Kahfi: 46)

Dalil di atas menyebutkan bahwa posisi anak itu bagaikan harta, yaitu sebagai perhiasan dunia.

Apa yang akan kita lakukan pada harta kita yang sangat berharga? Maka begitu juga yang harus kita lakukan pada anak-anak kita.

Kita akan berusaha menjaga harta berharga yang kita miliki agar jangan sampai dicuri  atau dirusak orang lain; begitu juga dengan anak kita, kita mesti menjaganya jangan sampai salah pergaulan sehingga merusak akhlak mereka.

Kita akan menshadaqahkan harta kita agar mendapat tabungan di akhirat kelak; begitu juga dengan anak-anak kita, seharusnya kita mengarahkan mereka agar mereka bisa menjadi ladang amal kita di akhirat kelak.


Rasulullah saw bersabda,“Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian bertanggung jawab atas orang yang dipimpinnya. Seorang ‘Amir (penguasa) adalah pemimpin, seorang suami pun pemimpin atas keluarganya, dan istri juga pemimpin bagi rumah suaminya dan anak-anaknya. Setiap kalian adalah pemimpin dan kamu sekalian akan diminta pertanggung jawaban atas apa yang dipimpinnya.”
(Hr. Muslim)

Dari hadist di atas dijelaskan bahwa orang tua adalah pemimpin bagi anak2nya.

Banyak sekali tindakan yang harus dilakukan oleh seorang pemimpin terhadap anggotanya agar kelompoknya selamat dan sejahtera, maka begitu juga yang harus dilakukan orang tua pada anak-anaknya agar terbentuk keluarga yang bahagia sesuai aturan yang telah ditetapkan-Nya.

Jadi sudah tidak pada tempatnya jika seorang anak mengatur orang tua, karena hal ini bagaikan anggota yang mengatur pemimpinnya. Bila hal ini yang terjadi maka kelompok yang ada akan menjadi kacau dan tidak beraturan. Yang masih diperkenankan itu adalah seorang anggota memberikan masukan pada pemimpinnya, namun keputusan akhir tetap berada di tangan seorang pemimpin.

Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya sebaik-baik yang dimakan oleh seseorang adalah makanan yang dihasilkan dari usahanya sendiri. Dan sesungguhnya anak itu termasuk dari usahanya.”
(Hadits shahih, diriwayatkan oleh Abu Dawud & An-Nasa’i)

Dari hadist di atas dijelaskan bahwa anak adalah salah satu hasil usaha orang tuanya, sehinga orang tua harus mendidik anak dengan sebaik-baiknya sehingga hasilnya dapat kita petik buat bekal di akhirat kelak.

Pertanyaan selanjutnya adalah "Bagaimana cara mendidik Rasulullah, para sahabat, para Tabiin serta para Tabiit Tabiin terhadap anak?"

Ada dua point utama yang dilakukan oleh mereka dalam mendidik anak, yaitu:

1. Memberikan pondasi aqidah yang kuat

Satu hal yang pertama kali dilakukan oleh mereka terhadap anak adalah memberikan pondasi yang kuat, yaitu berupa kekuatan aqidah yang kokoh.


Sebagaimana nasihat Rasulullah saw   kepada  ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiyallahu’anh.

Rasulullah saw bersabda,
"Wahai anakku, sesungguhnya aku akan mengajarkan kepadamu beberapa kalimat. Jagalah (hak-hak) Allah, niscaya Allah akan menjagamu, jagalah (hak-hak) Allah, niscaya engkau mendapati-Nya di hadapanmu. Apabila engkau meminta, maka mintalah kepada Allah, dan apabila engkau memohon pertolongan maka mohonlah kepada Allah. Dan ketahuilah, sekiranya ummat ini bersatu untuk memberimu manfaat maka manfaat tersebut tidak akan sampai kepadamu kecuali apa yang telah ditetapkan Allah atasmu. Dan apabila ummat ini bersatu untuk mencelakakanmu maka sedikit pun mereka tidak akan mampu melakukannya kecuali apa yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena (takdir) telah terangkat dan lembaran (takdir) telah mengering.

Dan ketahuilah, sesungguhnya bersabar atas apa-apa yang tidak engkau sukai itu memiliki kebaikan yang amat banyak. Dan sesungguhnya pertolongan itu (ada) bersama kesabaran. Dan sesungguhnya kelapangan itu (datang) bersama kesulitan, dan sesungguhnya kesulitan itu bersama kemudahan.”

Begitulah salah satu didikan Rasulullah dalam menanamkan aqidah yang kokoh kepada Abdullah bin Abbas, yang saat itu masih kecil.

Penanaman aqidah sangat penting diberikan  pada anak2, karena dengan modal aqidah yang kokoh dan benar, maka akan membuat hidup seseorang bahagia dunia dan akhirat.

Dengan pendidikan Rasulullah kepada Abdullah bin Abbas ini, akhirnya sejarah mencatat Abdullah bin Abbas sebagai salah seorang sahabat yang dikenal akan ketakwaan dan keilmuannya sehingga beliau  dijadikan salah satu sumber  rujukan utama dalam menimba ilmu oleh generasi setelahnya.

2. Mendidik mereka agar memiliki akhlak yang mulia

Rasulullah saw bersabda, “Tidak ada sesuatupun yang paling berat dalam timbangan seorang Mukmin pada hari Kiamat nanti daripada akhlak mulia.” (Hr. Tirmidzi)

Jadi tugas utama orang tua dalam mendidik anak-anaknya selain menamakan kekuatan aqidah, juga membentuk mereka agar memiliki akhlak yang mulia.

Akhlak yang mulia ini dapat dibagi dalam beberapa hal, yaitu akhlak kepada Allah, ahlak kepada Rasulullah, akhlak kepada diri sendiri dan orang lain serta akhlak kepada makhluk  hidup lainnya.

Mengajarkan pada anak bagaimana akhlak kepada Allah itu adalah berupa ibadah atau penghambaan  kepada-Nya tanpa disertai perbuatan syirik, mentaati semua perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya, serta ridha terhadap takdir-Nya yang telah ditetapkan terhadap mereka.

Akhlak yang baik kepada Rasulullah itu adalah berupa meyakini bahwa Rasulullah merupakan Nabi dan Rasul terakhir bagi seluruh manusia, mencintai beliau serta  mentaati apa yang beliau perintahkan dengan mengikuti sunnahnya dan menjauhi apa yang dilarangnya.

Akhlak terhadap diri sendiri dan sesama manusia, adalah seperti bagaimana adab makan dan minum, adab berpakaian, adab bepergian, adab menerima tamu, ada bergaul dengan masyarakat serta adab-adab lainnya yang dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya.

Akhlak terhadap makhluk lainnya adalah memperlakukan mereka sesuai dengan syari'at yang telah dicontohkan oleh Rasulullah, para sahabat serta generasi terbaik selanjutnya. Contohnya adalah tidak menyakiti dan menyiksa hewan, memperlakukan tumbuhan sesuai dengan kebutuhan kita agar terjadi keberlanjutan untuk kesejahteraan makhluk hidup serta tidak ikut campur atau bergaul dengan kehidupan dunia jin yang memang berbeda alam dengan kita.

Jadi cara mendidik anak yang baik itu adalah mendidik anak dengan ilmu yang pedomannya berdasarkan apa yang dicontohkan Rasulullah serta orang2 bertakwa yang mengikuti beliau, bukan berdasarkan hawa nafsu atau keinginan kita belaka tanpa dasar ilmu.

Semoga kita dianugrahi anak-anak yang bertakwa yang memiliki aqidah yang kuat serta akhlak yang mulia, aamiin..aamiin..aamiin ya robbal alamin..

(Gantira, 31 Agustus 2017, Bogor)

Saturday, 19 August 2017

"Apakah Makna Kemerdekaan dalam Kehidupan Kita?"

Secara umum arti merdeka adalah bebas, yaitu bebas dari ketakutan, bebas dari tekanan, bebas dari kekhawatiran, bebas dari masalah, bebas dari kekurangan, bebas dari hutang, bebas dari kegelisahan akan masa depan yang tidak jelas, bebas dari penindasan, bebas dari kehinaan, bebas dari kebingungan serta bebas2 lainnya yang bisa membuat hati kita sesak baik dari segi ekonomi, kesehatan,  maupun hal lainnya.

Oleh karena itu, para pejuang kemerdekaan negeri kita memiliki salah satu semboyan "merdeka atau mati?" Karena pada dasarnya sangat menderita dan menyesakkan dada jika kita belum merdeka.

Orang yang tidak beriman atau orang yang berputus asa dari rahmat Allah lebih memilih bunuh diri untuk membebaskan diri dari penderitaan, penindasan, kegelisahan dan ketakutan yang dialaminya hanya untuk memperoleh impian kemerdekaan jiwanya. Akan tetapi, dia akan benar2 terkejut jika setelah mati ternyata penderitaan yang dihadapinya  jauh lebih hebat daripada yang dialami saat di dunia dan hilanglah harapan kemerdekaan yang diidam2kannya itu.

Jadi bagaimana cara agar  kita bisa memperoleh kemerdekaan yang hakiki ini?

Satu2nya cara untuk mendapatkan kemerdekaan adalah dengan cara berusaha untuk mendapatkan predikat taqwa.

Karena dengan taqwa kita akan bebas dari ketakutan yang disebabkan oleh makhluk, kita akan bebas dari rasa kegelisahan masa yang akan datang, kita akan mendapatkan rizki yang tak terduga2, kita bisa mendapatkan jalan keluar dari setiap kesulitan yang ada, kita akan merasa tercukupi atas setiap kebutuhan kita, serta yang paling penting dengan takwa setelah meninggalkan dunia ini kita  bisa memperoleh kebahagiaan yang  abadi.

Beberapa dalil terkait cara memperoleh kemerdekaan dengan takwa ini adalah

1. Surat At-Taubah [9] ayat 4

“Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaqwa”

Dengan bertaqwa kita akan memperoleh cinta-Nya. Barangsiapa yang memperoleh cinta-Nya maka setiap kebutuhannya akan dipenuhi, bahkan Allah akan memberikan segala apapun yang bermanfaat di dunia ini dan di akhirat kelak buat hamba yang dicintai-Nya, tanpa terbayangkan sebelumnya oleh hamba tersebut. Sehingga orang bertakwa akan merdeka dari segala kebutuhan hidupnya.

2. Surat An-Nahl [16]: ayat 128

"Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa dan berbuat kebaikan”

Dengan bertakwa kita akan selalu bersama-Nya, sehingga tidak ada lagi rasa takut dari semua makhluk2-Nya. Karena pada dasarnya, semua makhluk-Nya adalah lemah bila tanpa ada izin dari-Nya. Sehingga wajar saja orang yang bertakwa akan mendapatkan kemerdekaan dari rasa takut.

3. Surat Al-Baqarah [2]: ayat 2

 “Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa”

Orang bertaqwa akan memperoleh petunjuk dari Al-quran yang dibacanya. Dia akan memahami dan merasakan manfaat yang besar dari semua firman-Nya. Sehingga Al-quran dijadikannya sebagai salah satu obat mujarab untuk mengatasi dan mencari jalan keluar dari setiap permasalahan hidupnya.

4. Surat Al-A’raf [7] ayat 201

“Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya”

Orang bertakwa akan memperoleh kemerdekaan dari rasa was-was, karena dia memiliki solusinya yaitu mengingat Allah.

5. Surat Al-A’raf [7] ayat 35

 “Barangsiapa yang bertaqwa dan mengadakan perbaikan, tidaklah ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati”

Orang yang bertakwa akan merdeka dari kekhawatiran dan kesedihan.

6. Surat  Al-Maidah [5] ayat 27

“Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertaqwa”

Setiap amal perbuatan orang yang bertaqwa tidak akan sia2, karena semuanya akan diterima oleh-Nya dan akan mendapatkan hasilnya di dunia dan akhirat kelak.

7. Surat Ath-Thalaq [65]: ayat 2 dan  Surat Ath-Thalaq [65]: ayat 4

“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar” .

“Dan barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya”

Orang yang bertakwa akan memperoleh kemudahan setelah kesulitan, kelapangan setelah kesempitan

8. Surat Al-Anfal [8] ayat  29

 “Hai orang-orang beriman, jika kamu bertaqwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan kepadamu furqaan dan menghapuskan segala kesalahan-kesalahan dan mengampuni (dosa-dosa)mu”

Orang bertaqwa akan merdeka dari kebingungan, karena dia memiliki firasat, hikmah dan cahaya hati.


9. Surat Ali Imran [3] ayat 133 dan Surat Maryam [19] ayat 72


 “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertqwa”

 “Kami akan menyelamatkan orang-orang yang bertqwa dan membiarkan orang-orang yan zalim di dalam neraka dalam keadaan berlutut”

Orang yang bertakwa akan merdeka dari siksaan api neraka, karena dia dijamin akan  masuk surga Allah.

10.  Surat Al-Baqarah [2] ayat 212

. “Kehidupan dunia dijadikan indah dalam pandangan orang-orang kafir, dan mereka memandang hina orang-orang yang beriman. Padahal orang-orang yang bertaqwa itu lebih mulia daripada mereka di hari kiamat”.

Orang bertakwa akan merdeka dari kehinaan, karena kedudukannya tinggi di sisi Allah Ta’ala di dunia dan di hari kiamat nanti.

Semoga kita semua dapat memperoleh predikat taqwa sehingga kita bisa mendapatkan kemerdekaan yang hakiki.. aamiin..aamiin..aamiin ya robbal alamiiin..

(Gantira, 19 Agustus 2017, Bogor)

Wednesday, 2 August 2017

"Menjadi Keluarga Muslim yang Kaffah"

Pada tulisan sebelumnya, saya sudah menjelaskan bahwa sebagai apapun diri kita, pada dasarnya kita bisa menjadi seorang muslim yang Kaffah.

Untuk tulisan saat ini, saya akan lebih menyoroti bagaimana membentuk keluarga muslim yang Kaffah?

Umumnya di dalam keluarga, terdiri dari seorang ayah, ibu dan anak2. Dan dalam keluarga seperti ini kita harus berusaha membentuk keluarga muslim yang kaffah.

Bagaimana seorang suami atau seorang ayah menjadi seorang muslim yang kaffah?

Maka jawabannya adalah dengan mencontoh kehidupan Rasulullah, mengikuti nasihat rasulullah kepada para sahabatnya dalam memperlakukan istri dan anak2 mereka, serta mencontoh kehidupan para sahabat dan para ulama terdahulu dalam membina keluarga.

Sebagai seorang suami atau seorang ayah, untuk menjadi seorang muslim yang kaffah dengan cara  memperlakukan istri dan anak-anaknya dengan kasih sayang, sabar dan menjauhkan diri dari sikap kasar serta menjaga mereka dari ancaman api neraka.

Sebagaimana yang terdapat dalam beberapa firman-Nya:

“Dan bergaullah dengan mereka (para istri) secara patut, kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak." (Qs. An-Nisa' ayat 19)

"Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa ang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan." (QS. At Tahrim 66:6)


Dalam salah satu hadist disebutkan bahwa Rasulullah saw bersabda,
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah orang yang paling baik perlakuannya kepada keluargaku.” (Hr. Ibnu Majah).

Sebagai suami dalam mencapai muslim yang kaffah pun bisa mencontoh apa yang telah dilakukan oleh Umar bin Khatab, dimana beliau pernah didatangi oleh orang Badui yang akan mengadukan sikap cerewet istrinya. Di saat bersamaan, Umar pun baru saja mendapat omelan dari istri dengan suara yang cukup keras.

Umar memberi nasihat kepada si Badui, “ Wahai saudaraku semuslim, aku berusaha menahan diri dari sikap (istriku) itu, karena dia memiliki hak-hak atas istriku. Aku berusaha untuk menahan diri meski sebenarnya aku bisa saja menyakitinya (bersikap keras) dan memarahinya.

Akan tetapi, aku sadar bahwa tidak ada orang yang memuliakan mereka (kaum wanita), selain orang yang mulia dan tidak ada yang merendahkan mereka selain orang yang suka menyakiti. Aku sangat ingin menjadi orang yang mulia meski aku kalah (dari istriku), dan aku tidak ingin menjadi orang yang suka menyakiti meski aku termasuk orang yang menang.”

Umar meneruskan nasihatnya, “ Wahai Saudaraku orang Arab, aku berusaha menahan diri, karena dia (istriku) memiliki hak-hak atas diriku. Dialah yang memasak makanan untukku, membuatkan roti untukku, membuatkan roti untukku, menyusui anak-anakku, dan mencucui baju-bajuku. Sebesar apapun kesabaranku terhadap sikapnya, maka sebanyak itulah pahala yang aku terima.”

Itulah salah satu sikap seorang suami atau ayah yang ingin menjadi musim yang kaffah, bahkan banyak lagi kisah2 lainnya yang dapat diambil dari kehidupan para tabiin serta para ulama shaleh lainnya.

Pada sisi lain, bagaimana seorang istri atau seorang ibu bisa menjadi seorang muslim yang kaffah?

Jawabannya adalah  ikutilah nasihat Rasulullah kepada para wanita yang sudah bersuami, serta ikutilah akhlak para istri Rasulullah, istri para sahabat, serta istri orang2 shaleh sebelumnya dalam memperlakukan suami dan anak2 mereka.

Beberapa akhlak seorang istri atau seorang ibu agar bisa menjadi seorang muslim yang kaffah adalah dengan berbakti pada suaminya, mendorong dan mendukung suaminya dalam taat kepada Allah serta berusaha membentuk anak2 yang shaleh.

Jadilah seorang istri yang bisa menjadi perhiasan yang paling berharga di dunia ini bagi suaminya. Sebagaimana sabda Rasulullah,
"Harta yang paling berharga di dunia adalah wanita yang solehah." (HRMuslim)

Dahulu kala, para wanita kaum salaf memberi wejangan kepada suaminya, “Berhatilah-hatilah engkau dari memperoleh harta yang tidak halal. Kami akan sanggup menahan rasa lapar namun kami tak akan pernah sanggup merasakan siksa api neraka.”

Mereka para wanita sholehah yang ingin menjadi muslim yang kaffah berusaha untuk qanaah atau merasa cukup dengan apa yang mereka terima dan tidak memberatkan apa yang tak sanggup dilakukan oleh suaminya.

Sekarang bagaimana cara seorang anak bisa mencapai seorang muslim yang kaffah?

Jawabannya adalah dengan berbakti kepada orang tua, memperlakukan mereka dengan penuh hormat, sopan santun, penuh sayang, serta berusaha agar orang tua  ridha padanya.

Hal ini sebagaimana diabadikan dalam beberapa firman-Nya.

“Dan Rabb-mu telah memerintahkan agar kamu jangan beribadah melainkan hanya kepada-Nya dan hendaklah berbuat baik kepada ibu-bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik. Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, ‘Ya Rabb-ku, sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.’” [Qs. Al-Israa’ : 23-24]

“Dan Kami wajibkan kepada manusia agar (berbuat) kebaikan kepada kedua orang tuanya. Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau patuhi keduanya. Hanya kepada-Ku tempat kembalimu, dan akan Aku beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” [Qs. Al-‘Ankabuut (29): 8]

Selain firman-Nya, sebagai seorang anak untuk menjadi seorang muslim yang kaffah dapat juga memperhatikan beberapa sabda Rasulullah:

‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallaahu ‘anhu berkata.
“Aku bertanya kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam, ‘Amal apakah yang paling utama?’ Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam menjawab, ‘Shalat pada waktunya (dalam riwayat lain disebutkan shalat di awal waktunya).’ Aku bertanya lagi, ‘Kemudian apa?’ Nabi menjawab: ‘Berbakti kepada kedua orang tua.’ Aku bertanya lagi: ‘Kemudian apa?’ Nabi menjawab, ‘Jihad di jalan Allah’ (Hr. Bukhari)

“Darii ‘Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash radhiyallaahu ‘anhuma, bahwa Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ridha Allah bergantung kepada keridhaan orang tua dan murka Allah bergantung kepada kemurkaan orang tua” (Hr. Bukhari)

Disamping itu, sebagai seorang anak dalam mencapai muslim yang kaffah, kita juga bisa mencontoh para ulama shaleh terdahulu dalam memperlakukan orang tua mereka masing2.

Jadi kita dalam keluarga pun bisa menjadi seorang muslim yang kaffah sesuai peran kita masing2, baik kita sebagai seorang suami, ayah, istri, ibu atau anak2.

Semoga kita semua dianugerahi oleh-Nya akhlak yang mulia dan memiliki keluarga muslim yang Kaffah sehingga dalam rumah kita terbentuk "Baiti Jannati, rumahku adalah surgaku". .aamiin..aamiin..aamiin..yra..

(Gantira, 2 Agustus 2017, Bogor)

Wednesday, 19 July 2017

"Membentuk Kepribadian Muslim yang Kaffah"

Seperti apakah muslim yang kaffah itu?

Mungkin banyak orang yang menganggap bahwa arti kaffah itu sempurna, sebagaimana kehidupan Rasulullah. Baik dari segi shalatnya, puasanya, shadaqahnya, murah hatinya, perjuangannya, dakwahnya, memimpinnya, serta berbagai kehidupan lainnya.

Dengan anggapan dasar seperti itu, maka banyak orang yang sudah putus asa duluan sebelum memulai. Dan akhirnya tidak mau memperbaiki diri untuk menjadi lebih baik lagi.

Padahal arti kaffah itu sendiri adalah menjalankan islam secara sempurna sesuai keadaan diri kita.

Dan dalam kehidupan Rasulullah, beliau pernah mengalami berbagai kehidupan macam kehidupan yang dialami oleh setiap manusia. Sehingga kita bisa mencontoh Rasulullah sesuai kehidupan yang sedang kita alami.

Bila saat ini kita sedang kaya maka Rasulullah pun pernah kaya contohlah bagaimana perilaku beliau saat kaya, begitu juga saat kita sedang miskin maka Rasulullah pun pernah miskin dan kita pun dapat mencontoh beliau bagaimana mensikapi kemiskinan yang dialaminya.

Begitu juga pada kondisi lainnya, di saat kita pernah sakit, sehat, menjadi pemimpin, memiliki anak, memiliki cucu, memiliki istri, bertetangga, jadi pedagang, jadi penggembala dan menjadi apapun itu  maka Rasulullah pernah mengalami itu semua.

Kalau pun Rasulullah belum mengalami apa yang sedang kita alami, maka banyak contoh dari kehidupan para sahabat, para tabi'in serta para Tabi'it Tabi'in yang mana Rasulullah menyatakan bahwa mereka adalah umat terbaik pertama, umat terbaik kedua dan umat terbaik ketiga yang dapat dijadikan contoh bagi umat muslim setelahnya.

Berbagai dalil terkait hal ini, diantaranya adalah

“Sesungguhnya pada diri Rasulullah ada teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak berdzikir kepada Allah.” (Al-Ahzab: 21)

Rasul telah beriman kepada al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Rabbnya, demikian pula orang-orang yang beriman.” [Al-Baqarah : 285]

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha terhadap mereka dan mereka ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka Surga-Surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemeangan yang besar.” [At-Taubah: 100]

“Sebaik-baik manusia adalah pada masaku ini (yaitu masa para Shahabat), kemudian yang sesudahnya, kemudian yang sesudahnya. Setelah itu akan datang suatu kaum yang persaksian salah seorang dari mereka men-dahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului persaksiannya.” ( Syarhus Sunnah, oleh Imam al-Baghawy, tahqiq: Syu’aib al-Arnauth dan Muhammad Zuhair asy-Syawaisy, cet. Al-Maktab al-Islamy, th. 1403 H).

Kata Shahabat Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu:

إِنَّ اللهَ نَظَرَ إلَى قُلُوْبِ الْعِبَادِ، فَوَجَدَ قَلْبَ مُحَمَّدٍ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرَ قُلُوْبِ الْعِبَادِ فَاصْطَفَاهُ لِنَفْسِهِ، فاَبْتَعَثَهُ بِرِسَالَتِهِ، ثُمَّ نَظَرَ فِي قُلُوْبِ الْعِبَادِ، بَعْدَ قَلْبِ مُحَمَّدٍ، فَوَجَدَ قُلُوْبَ أَصْحَابِهِ خَيْرَ قُلُوْبِ الْعِبَادِ فَجَعَلَهُمْ وُزَرَاءَ نَبِيِّهِ، يُقَاتِلُوْنَ عَلَى دِيْنِهِ، فَمَا رَأَى الْمُسْلِمُوْنَ حَسَناً فَهُوَ عِنْدَ اللهِ حَسَنٌ، وَمَا رَأَوْا سَيِّئاً فَهُوَ عِنْدَ اللهِ سَيِّئٌ.

“Sesungguhnya Allah melihat hati hamba-hamba-Nya dan Allah mendapati hati Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah sebaik-baik hati manusia, maka Allah pilih Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai utusan-Nya. Allah memberikan risalah kepada-nya, kemudian Allah melihat dari seluruh hati hambah-hamba-Nya setelah Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam, maka didapati bahwa hati para Shahabat merupakan hati yang paling baik sesudahnya, maka Allah jadikan mereka sebagai pendamping Nabi-Nya Shallallahu ‘alaihi wa sallam yang mereka berperang atas agama-Nya. Apa yang dipandang kaum Muslimin (para Shahabat Rasul) itu baik, maka itu baik pula di sisi Allah dan apa yang mereka (para Shahabat Rasul) pandang jelek, maka di sisi Allah itu jelek.” (Hr.an-Nasaa-i)



“Berkata al-‘Irbadh bin Sariyah radhiyallahu ‘anhu: ‘Suatu hari Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah shalat bersama kami, kemudian beliau menghadap kepada kami dan memberikan nasehat kepada kami dengan nasehat yang menjadikan air mata berlinang dan membuat hati bergetar, maka seseorang berkata: ‘Wahai Rasulullah, nasehat ini seakan-akan nasehat dari orang yang akan berpisah, maka berikanlah kami wasiat.’ Maka Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Aku wasiatkan kepada kalian supaya tetap bertaqwa kepada Allah, tetaplah mendengar dan taat, walaupun yang memerintah kamu adalah seorang budak Habasiyyah. Sungguh, orang yang masih hidup di antara kalian setelahku maka ia akan melihat perselisihan yang banyak, maka wajib atas kalian berpegang teguh kepada Sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Gigitlah dia dengan gigi gerahammu. Dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru, karena sesungguhnya setiap perkara yang baru itu adalah bid’ah. Dan setiap bid’ah adalah sesat.’ ( Shahih Muslim.)

“Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan batas kemampuannya. Baginya ganjaran untuk apa yang diusahakannya, dan ia akan mendapat siksaan untuk apa yang diusahakannya. Dan mereka berkata, Ya Tuhan kami, janganlah Engkau menghukum kami jika kami lupa atau kami berbuat salah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau membebani kami tanggung jawab seperti Engkau telah bebankan atas orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami janganlah Engkau membebani kami apa yang kami tidak kuat menanggungnya; dan ma’afkanlah kami dan ampunilah kami serta kasihanilah kami kerana Engkaulah Pelindung kami, maka tolonglah kami terhadap kaum kafir.” (Al Baqarah : 287)

Dari Abu Hurairah radhiallahu’anhu ia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Apa yang aku larang hendaklah kalian menjauhinya, dan apa yang aku perintahkan maka lakukanlah semampu kalian. Sesungguhnya binasanya orang-orang sebelum kalian adalah karena mereka banyak bertanya dan karena penentangan mereka terhadap para nabi mereka” (HR. Bukhari dan Muslim)

Jadi dalam keadaan apapun kita saat ini, baik kita laki-laki atau perempuan, orang yang baru baligh ataupun sudah berumur, sebagai seorang anak atau orang tua, sebagai pemimpin ataupun rakyat biasa, sebagai suami ataupun istri, sebagai orang kaya atau miskin, sebagai orang yang sehat ataupun sakit, sebagai orang yang cerdas ataupun biasa2, serta sebagai apapun diri kita saat ini, pada dasarnya kita bisa meraih menjadi seorang muslim yang kaffah sesuai kondisi kita saat ini.

Untuk mencapai islam yang kaffah sesuai yang kita mampu dan kondisi kita maka kita harus berusaha mempelajari, dan memahami al-quran, hadist, sejarah hidup Rasulullah, sejarah hidup para sahabat serta sejarah hidup para tabi'in serta para tabi'i tabi'in. Lalu contohlah kehidupan mereka yang sesuai dengan kondisi kita saat ini.

Semoga Allah memberikan petunjuk pada kita semua sehingga kita bisa menjadi seorang muslim yang kaffah sesuai kondisi yang kita alami dan semoga kita dianugerahi oleh-Nya sebagai salah seorang ahli surga yang bisa berkumpul bersama Rasulullah, para sahabat dan orang2 shaleh sebelum kita yang telah meninggalkan dunia ini dengan husnul khatimah, Aamiin..aamiin..aamiin..yra

(Gantira, 19 Juli 2017, Bogor)

Monday, 17 July 2017

Tiga Hal Penting yang Jarang Dimanfaatkan oleh Ikhwan Muslim Saat ini

Pada masa-masa saat ini, ada 3 hal penting yang jarang dimanfaatkan oleh para ikhwan, yaitu:

1. Shalat sunat isyraq

yaitu shalat sunat dua rakaat yang dilaksanakan sekitar 1,5 jam kurang setelah shalat subuh (saya pernah menghitung2 untuk daerah bogor tepatnya sekitar setelah 1 jam 20 menit setelah waktu adzan subuh)

Dimana setelah shalat subuh di mesjid kita tetap di tempat duduk sambil berzikir atau berdoa atau baca al-quran. Lalu saat tiba waktu suruq baru shalat dua rakaat.

Pahala yang didapat dengan hanya shalat dua rakaat ini adalah bagaikan pahala haji dan umrah.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu dia berkata, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« ﻣَﻦْ ﺻَﻠَّﻰ ﺍﻟْﻐَﺪَﺍﺓَ ﻓِﻰ ﺟَﻤَﺎﻋَﺔٍ ﺛُﻢَّ ﻗَﻌَﺪَ ﻳَﺬْﻛُﺮُ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺣَﺘَّﻰ ﺗَﻄْﻠُﻊَ ﺍﻟﺸَّﻤْﺲُ ﺛُﻢَّ ﺻَﻠَّﻰ ﺭَﻛْﻌَﺘَﻴْﻦِ ﻛَﺎﻧَﺖْ ﻟَﻪُ ﻛَﺄَﺟْﺮِ ﺣَﺠَّﺔٍ ﻭَﻋُﻤْﺮَﺓٍ ﺗَﺎﻣَّﺔٍ ﺗَﺎﻣَّﺔٍ ﺗَﺎﻣَّﺔٍ »

“ Barangsiapa yang shalat subuh berjamaah, kemudian dia duduk – dalam riwayat lain: dia menetap di mesjid [1] – untuk berzikir kepada Allah sampai matahari terbit, kemudian dia shalat dua rakaat, maka dia akan mendapatkan (pahala) seperti pahala haji dan umrah, sempurna sempurna sempurna“ (HR at-Tirmidzi (no. 586), dinyatakan hasan oleh at-Tirmidzi dan syaikh al-Albani dalam “Silsilatul ahaditsish shahihah” (no. 3403).

Coba bayangkan, pahala haji dan umrah yang begitu makan biaya bisa kita ditandingi dengan hanya shalat sunat isyraq 2 rakaat.
Bila tiap hari dilakukan berarti bisa tiap hari dapat pahala haji dan umrah.

Mungkin salah satu alasan utama para ikhwan atau bapak2  jarang memanfaatkan kesempatan emas ini adalah karena bertepatan dengan waktu kerja. Kalau memang seperti itu, kenapa tidak memaksakan diri saat waktu libur, yaitu hari sabtu atau minggu. Jadi minimal seminggu sekali bisa dapat pahala haji dan umrah.

2. Berdiam diri dan berzikir  setelah shalat maghrib sambil menunggu waktunya isya.

 Kalau kita tetap diam di mesjid sambil berzikir menunggu shalat isya, maka diamnya kita dianggap sebagai dalam kondisi shalat.

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَحَدُكُمْ مَا قَعَدَ يَنْتَظِرُ الصَّلاَةَ فِيْ صَلاَةٍ مَا لَمْ يُحْدِثْ تَدْعُوْ لَهُ الْمَلاَئِكَةُ :اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ اَللَّهُمَّ ارْحَمْهُ.”

“Tidaklah seseorang di antara kalian duduk menunggu shalat, selama ia berada dalam keadaan suci, melainkan para Malaikat akan mendo’akannya: ‘Ya Allah, ampunilah ia. Ya Allah, sayangilah ia.’”  (Shahiih Muslim, kitab al-Masaajid wa Mawaadhi’ush Shalaah bab Fadhlu Shalaatil Jamaa’ah wa Intizhaarish Shalaah (I/460 no. 469 (276)).

Imam Ibnu Khuzaimah juga meriwayatkan hadits ini dalam kitab Shahiihnya dan memberinya judul: “Bab Keutamaan Duduk di Masjid dalam Rangka Menunggu Shalat, Shalawat Malaikat dan Do’a Malaikat kepadanya, Selama Ia Tidak Mengganggu Orang Lain dan Selama Wudhu’nya Tidak Batal.”  (Shahiih Ibni Khuzaimah, kitab al-Imaamah fish Shalaah (II/ 376).)

Sungguh sebuah amal yang sangat mudah dilakukan, tetapi pahalanya sangatlah besar. Seseorang duduk dalam keadaan berwudhu’ untuk menunggu datangnya waktu shalat, maka seakan-akan ia berada dalam shalat dan para Malaikat mendo’akannya agar ia mendapatkan ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala dan kasih sayang -Nya.

Daripada kita pulang setelah shalat maghrib, setelah sampai rumah sudah tiba adzan isya lagi. Atau kalaupun di rumah baca al-quran hanya bisa beberapa ayat mending bacanya di mesjid. Insya Allah bisa menamatkan 1 juz baca al-quran. Selain itu kalau pulang ke rumah biasanya sih bawaannya pingin berleha2... sungguh kesempatan yang sering diabaikan.

3. Berdiam diri di mesjid pada hari jumat setelah shalat ashar.

 Karena pada waktu tersebut ada waktu  yang doanya pasti di istazab.

Dalam sebuah hadist disebutkan:
"Di hari Jumat terdapat suatu waktu yang tidaklah seorang hamba muslim yang ia berdiri melaksanakan shalat lantas dia memanjatkan suatu doa pada Allah bertepatan dengan waktu tersebut melainkan Allah akan memberi apa yang dia minta.” (HR. Bukhari 935, Muslim 2006, Ahmad 10574 dan yang lainnya).

Ada beberapa pendapat ulama tentang waktu mustajab tersebut, yaitu antara duduknya imam sampaii selesainya shalat jumat dan pendapat satu lagi adalah setelah asar.

Tapi dalil yang paling mendekati kebenaran adalah setelah ashar.

Hadis dari Abdullah bin Sallam Radhiyallahu ‘anhu, beliau pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

“Kami menjumpai adalam kitabullah, bahwa di hari jumat ada satu waktu, apabila ada seorang hamba beriman melakukan shalat bertepatan dengan waktu tersebut, kemudian memohon kepada Allah, maka Allah akan penuhi permohonannya.”

Kemudian Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam berisyarat kepadaku, ‘Itu hanya sebentar?’

‘Anda benar, hanya sebentar.’ Jawab Abdullah bin Sallam.

Lalu Abdullah bertanya, ‘Kapan waktu itu’

Jawab beliau,

هِيَ آخِرُ سَاعَاتِ النَّهَارِ

“Itu adalah waktu di penhujung hari.”

‘Bukankah itu waktu larangan shalat?’

Jawab Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam,

بَلَى ، إِنَّ الْعَبْدَ الْمُؤْمِنَ إِذَا صَلَّى ثُمَّ جَلَسَ لَا يَحْبِسُهُ إِلَّا الصَّلَاةُ ، فَهُوَ فِي الصَّلَاةِ

“Benar, namun ketika seorang hamba melakukan shalat (di awal asar), lalu dia duduk menunggu shalat berikutnya, dia terhitung sedang melakukan shalat.” (HR. Ibn Majah 1139)


Bagaimana dengan ibu2?

Kalau menurut saya, untuk ibu2 cukup melaksanakan ibadah wajib lalu taat pada suami maka bisa masuk pintu surga mana saja.

Dan kalau suaminya mendapatkan surga yang sangat tinggi maka istrinya tinggal ikut saja. Nah, jadi tugas utamanya adalah mendorong dan menyemangati suaminya agar lebih rajin ibadah lagi sehingga nanti di akhirat kelak istrinya pun bisa ikut menikmati surga yang diraih oleh suaminya...

(Gantira, 17 Juli 2017, Bogor)

Thursday, 29 June 2017

"Siapakah Orang yang Paling Beruntung dan Paling Mulia?"


Siapakah orang yang paling beruntung?

Jawabannya  adalah orang yang paling beriman. Semakin beriman dia, maka semakin beruntung dia.

Saat dia kaya, itu baik baginya karena kekayaannya menjadi harta yang terbaik yang dimiliki manusia dimana hartanya sebagai sarana untuk menuju akhirat.

Saat ditimpa kesulitan pun,  itu juga baik baginya. Karena kesabarannya akan menjadi sarana untuk dekat dengan-Nya untuk menggapai kebahagiaan yang tak ada kesulitan lagi.

Bagi orang beriman setiap aktifitasnya menjadi sesuatu yang bermanfaat. Bahkan saat menanam tumbuhan  lalu tumbuhan itu dimakan ulat, ayam atau binatang lainnya maka itu dinilai sebagai shadaqah.

Ini nampak sangat sepele tapi ternyata dengan keimanan, hasilnya akan jauh berbeda dengan orang yang tidak beriman.

Orang yang tidak beriman, shadaqah sebanyak seisi bumi pun tetap tidak ada nilainya sama sekali. Sebaliknya bagi seorang yang beriman, menyingkirkan kerikil dijalanan bernilai ibadah apalagi mensadaqahkan harta yang berlimpah di jalan-Nya.

Dalam sebuah hadist Muslim diceritakan:

Pada hari kiamat nanti Allah akan mendatangkan salah satu dari calon penghuni neraka, yang mana orang tersebut ketika hidup di dunia adalah orang yang paling nikmat hidupnya. Segala apa yang dia inginkan bisa dia dapatkan, karena kekayaan yang dia miliki, karena jabatan yang dia punyai, pendek kata orang tersebut adalah orang yang paling enak hidupnya di dunia.

Kemudian oleh Allah orang tersebut dicelupkan ke neraka satu celupan, ditempelkan ke neraka satu tempelan. Kemudian setelah itu orang itu ditarik oleh Allah kembali dari neraka. Setelah merasakan siksaan sekejap di neraka, lalu Allah menanyakan “هل رأيت نعيما قط؟” : “Wahai Fulan, apakah engkau masih ingat kenikmatan yang dulu engkau rasakan di dunia? Wanita yang engkau zinai ketika di dunia? Harta melimpah yang engkau nikmati di dunia? masakan yang paling enak yang engkau makan di dunia? Apakah engkau masih merasakan semua itu saat ini? Kemudian orang tersebut menjawab, “لا و الله ما رأيت نعيما قط” : “Tidak, demi Allah, semuanya telah terlupakan.”

Kemudian Allah mendatangkan orang yang kedua.

Jika yang pertama tadi calon penghuni neraka, sekarang Allah mendatangkan calon penghuni surga. Calon penghuni surga tersebut adalah orang yang dulunya ketika di dunia hidupnya sangat susah. Mungkin karena miskinnya dia, mungkin karena tubuhnya sakit-sakitan, pendek kata dia adalah orang yang paling sengsara hidupnya ketika di dunia.

Hanya saja dia adalah orang yang rajin beribadah. Kemudian oleh Allah orang tersebut dicelupkan ke surga sekejab, yang mungkin hanya beberapa detik. Lalu Allah mengangkatnya dari surga dan bertanya “هل رأيت بؤسا قط؟” : “Apakah engkau merasakan kesengsaraan yang dulu pernah engkau rasakan ketika di dunia? Kemudian orang tersebut menjawab,”لا والله يا رب ما رأيت بؤسا قط” : “Tidak, demi Allah semuanya telah terlupakan yaa Robb.” (HR. Muslim)

Sekarang bayangkan diri kita, saya yakin kita bukanlah termasuk orang yang paling menderita di dunia ini. Jadi masih banyak Nikmat yang Allah berikan pada kita. Jadi kalau ada sedikit masalah, anggap saja sebagai bentuk penghapusan dosa kita dan penambah amal kebaikan buat kita.


Pertanyaan satu lagi, Siapakah orang yang paling mulia?

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah ditanya, mulia mana orang kaya yang bersyukur dengan orang miskin yang bersabar?

Maka jawaban Ibnu Taimiyah adalah bahwa orang yang paling mulia diantara mereka adalah orang yang paling bertakwa di antara mereka.

Jika orang kaya yang bersyukur lebih bertakwa dari orang miskin yang bersabar, maka orang kaya yang bersyukur itu lebih mulia dari orang miskin yang bersabar.

Sebaliknya jika orang miskin yang bersabar lebih takwa daripada orang kaya yang bersyukur, maka orang miskin yang bersabar ini lebih mulia daripada orang kaya yang bersyukur.

Sesungguhnya seorang manusia yang paling kaya dimuka bumi ini adalah salah seorang Nabi, yaitu Nabi Sulaiman. Begitu juga seorang manusia yang paling miskin di dunia ini adalah seorang nabi juga, yaitu Nabi Isa. Kedua2anya adalah orang yang mulia, padahal yang satu orang terkaya di dunia dan yang satu lagi orang termiskin di jagat raya.

Rasulullah sebagai manusia yang paling mulia, sehingga menjadi seorang nabi yang diberi keistimewaan untuk pertama kali masuk surga, beliau pernah mengalami menjadi yang sangat kaya raya dan juga pernah mengalami menjadi yang sangat miskin sehingga saat lapar, beliau mengganjal perutnya dengan batu. Namun kemuliaan beliau tetap terjaga, karena kemuliaan beliau bukan terletak pada kekayaan atau kemiskinannya tapi terletak pada ketakwaannya.

Dalam salah satu ayat, difirmankan:

“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat: 13)

Semoga kita termasuk salah seorang  yang beruntung, bahagia, serta mulia di dunia dan juga bahagia di akhirat.

Dimana saat ada kesulitan kita bisa bersabar hingga ada jalan keluarnya, serta pada saat ada kenikmatan kita bersyukur sehingga ditambah kenikmatan yang ada..

.Aamiin..aamiin..aamiin..yra.

(Gantira, 29 Juni 2017, Bogor)

Thursday, 25 May 2017

"Seperti Apakah Keberhasilan itu?"


Ada satu hal yang harus kita sadari bahwa kita semua bukan superman, kita semua bukan para superhero yang bisa segalanya. Kita semua adalah hamba Allah yang berusaha melakukan apa yang mampu kita lakukan, sedangkan kekurangan yang ada pada kita ditutupi oleh kelebihan yang dimiliki oleh saudara kita yang lain.

Bila kita melakukannya karena Allah, insya Allah  kita tidak akan merasa tersinggung atas celaan orang lain pada diri kita dan kita bisa saling memaafkan pada sesama saudara kita.

Kita sebagai umat muslim  bagai satu tubuh yang bantu membantu semampu yang kita lakukan.

Tangan mampunyai kemampuan hanya sekitar menulis, mengangkat, memindahkan, mendorong dan hal lainnya yang bisa dilakukan oleh tangan. Jangan paksakan tangan untuk bisa melihat atau mendengar, karena itu sudah di luar kemampuan si tangan.

Mata mempunyai kemampuan hanya sekitar melihat, membaca dan menunjukkan arah. Jangan menuntut mata untuk bisa membakar benda2, melelehkan besi seperti kemampuan superman, atau memindahkan barang2 berat sebagaimana yang mampu dilakukan sebagian superhero karena kita bukan mereka dan mereka pun hanya ada dalam dunia khayal bukan dalam dunia nyata.

Kaki mempunyai kemampuan untuk melangkah, berlari, dan menopang tubuh kita. Jangan paksakan kaki untuk menulis, mengambil sesuatu, bersalaman, karena bila itu dipaksakan maka hasilnya akan tampak aneh dan jadi tidak sebaik yang dilakukan oleh tangan.

Begitu juga dengan kita semua, yang kita mampu lakukan belum tentu orang lain mampu lakukan. Jadi jangan sama kan kita dengan orang lain. Jadi lakukanlah semua karena Allah, biarlah Allah yang menilai semua yang telah kita lakukan. Tugas kita hanya berusaha berbuat baik, berusaha beramal, berusaha ber akhlak mulia dan semua itu akan kembali pada diri kita sendiri bukan pada orang lain.

Kesuksesan sesungguhnya bukanlah kesuksesan yang nampak hebat di pandang manusia, namun kesuksesan sejati adalah kesuksesan saat kita menyerahkan semuanya kepada Allah, kita hanya bisa berusaha lalu bertawakal kepada-Nya.

Ingatlah kisah Rasulullah, Allah menilai Rasulullah telah sukses dan memberikan penghargaan yang sangat besar kepada beliau bukan di saat memperoleh kemenangan di perang badar atau pada perang2 besar lainnya yang dimenangkan beliau, bahkan Allah memerintahkan Rasulullah beristigfar di saat  sebagian besar jazirah Arab berbondong2 memeluk Islam.

Tapi Rasulullah dinilai sukses oleh Allah ketika Rasulullah nampak terpuruk dengan kematian istrinya, meninggalnya paman yang sangat melindunginya dan di saat berdakwah ke negeri Thaif, lalu beliau di usir dan dilempari batu oleh masyarakat Thaif.

Di saat Rasulullah berteduh di kebun kurma setelah terusir oleh orang2 Thaif, Di sana Rasulullah SAW berdo’a:

“Wahai Rabb-Ku, kepada Engkaulah aku adukan kelemahan tenagaku dan kekurangan daya upayaku pada pandangan manusia. Wahai Rabb-ku yang Maha Rahim.

Engkaulah Robbnya orang-orang yang lemah dan Engkaulah Robb-ku.

Kepada siapa Engkau menyerahkan diriku? Kepada musuh yang akan menerkamku, atau kepada keluarga yang Engkau berikan kepadanya urusanku, tidak ada keberatan bagiku asal Engkau tidak marah kepadaku. Sedangkan afiat-Mu lebih luas bagiku.

Aku berlindung dengan cahaya muka-Mu yang mulia yang menyinari langit dan menerangi segala yang gelap. Dan atas-Nyalah teratur segala urusan dunia dan akhirat. Dari Engkau menimpakan atas diriku kemarahanMu atau dari Engkau turun atasku adzab-Mu. Kepada Engkaulah aku adukan halku sehingga Engkau ridha. Tidak ada daya dan upaya melainkan dengan Engkau.”

Demikian sedihnya do’a yang dipanjatkan nabi Muhammad ini, sehingga Allah SWT mengutus Jibril A.S untuk menemuinya.

Setibanya di hadapan Rasulullah SAW, Jibril A.S memberi salam seraya berkata:

“Allah mengetahui apa yang telah terjadi padamu dan orang-orang ini. Allah telah memerintahkan malaikat di gunung-gunung untuk menaati perintahmu”.

Sambil berkata demikian jibril A.S memperlihatkan para malaikat tersebut kepada Rasulullah SAW.

Kata para malaikat tersebut: “Wahai Rasulullah, kami siap untuk menjalankan perintah tuan. Jika tuan mau, kami sanggup menjadikan gunung di sekitar kota itu berbenturan, sehingga penduduk yang ada di kedua belah gunung itu akan mati tertindih. Atau apa saja hukuman yang engkau inginkan, kami siap melaksanakannya.”

Mendengar tawaran itu, Rasulullah SAW bersabda: “Walaupun mereka menolak ajaran Islam, saya berharap dengan kehendak Allah, keturunan mereka pada suatu saat nanti akan menyembah Allah dan beribadah kepada-Nya.”

Sungguh, setelah Rasulullah berharap hanya kepada Allah maka saat itulah Allah  menilai bahwa Rasulullah telah sukses. Di saat itulah, lalu Allah memberikan banyak penghargaan kepada beliau, yaitu dengan diberinya hadiah Isra Mi'raj, setelah itu diperintahkan untuk berhijrah ke.kota madinah, kemudian hadiah kemenangan demi kemenangan datang silih berganti kepada beliau. Sehingga akhirnya Rasulullah memiliki umat yang paling banyak masuk surga dibandingkan umat nabi lainnya.


Sungguh kesuksesan kita akan benar2 dikatakan sukses di saat kita dengan sepenuh hati mengamalkan ayat:
"hasbunallah wa ni’mal wakiil [cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung]“. ” (QS. Ali ‘Imron: 173)


Ingatlah akan salah satu firman-Nya:

 Allah Ta’ala berfirman,

وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ

“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Tholaq: 3).

Namun kalau kita bersandar kepada selain-Nya, maka kita akan diserahkan pada sesuatu yang lemah dan tak berdaya hingga kita bisa hancur tak berdaya.

:Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

مَنْ تَعَلَّقَ شَيْئًا وُكِلَ إِلَيْهِ

“Barangsiapa menyandarkan diri pada sesuatu, maka hatinya akan dipasrahkan padanya” (HR. Tirmidzi no. 2072, hadits ini hasan kata Syaikh Al Albani).

Semoga kita senantiasa menjadi orang yang selalu berhasil, yaitu orang yang senantiasa bersandar hanya kepada-Nya, Aamiin..aamiin..aamiin..yra..

(Gantira, 26 Mei 2017, Bogor)