Thursday, 29 June 2017
"Siapakah Orang yang Paling Beruntung dan Paling Mulia?"
Siapakah orang yang paling beruntung?
Jawabannya adalah orang yang paling beriman. Semakin beriman dia, maka semakin beruntung dia.
Saat dia kaya, itu baik baginya karena kekayaannya menjadi harta yang terbaik yang dimiliki manusia dimana hartanya sebagai sarana untuk menuju akhirat.
Saat ditimpa kesulitan pun, itu juga baik baginya. Karena kesabarannya akan menjadi sarana untuk dekat dengan-Nya untuk menggapai kebahagiaan yang tak ada kesulitan lagi.
Bagi orang beriman setiap aktifitasnya menjadi sesuatu yang bermanfaat. Bahkan saat menanam tumbuhan lalu tumbuhan itu dimakan ulat, ayam atau binatang lainnya maka itu dinilai sebagai shadaqah.
Ini nampak sangat sepele tapi ternyata dengan keimanan, hasilnya akan jauh berbeda dengan orang yang tidak beriman.
Orang yang tidak beriman, shadaqah sebanyak seisi bumi pun tetap tidak ada nilainya sama sekali. Sebaliknya bagi seorang yang beriman, menyingkirkan kerikil dijalanan bernilai ibadah apalagi mensadaqahkan harta yang berlimpah di jalan-Nya.
Dalam sebuah hadist Muslim diceritakan:
Pada hari kiamat nanti Allah akan mendatangkan salah satu dari calon penghuni neraka, yang mana orang tersebut ketika hidup di dunia adalah orang yang paling nikmat hidupnya. Segala apa yang dia inginkan bisa dia dapatkan, karena kekayaan yang dia miliki, karena jabatan yang dia punyai, pendek kata orang tersebut adalah orang yang paling enak hidupnya di dunia.
Kemudian oleh Allah orang tersebut dicelupkan ke neraka satu celupan, ditempelkan ke neraka satu tempelan. Kemudian setelah itu orang itu ditarik oleh Allah kembali dari neraka. Setelah merasakan siksaan sekejap di neraka, lalu Allah menanyakan “هل رأيت نعيما قط؟” : “Wahai Fulan, apakah engkau masih ingat kenikmatan yang dulu engkau rasakan di dunia? Wanita yang engkau zinai ketika di dunia? Harta melimpah yang engkau nikmati di dunia? masakan yang paling enak yang engkau makan di dunia? Apakah engkau masih merasakan semua itu saat ini? Kemudian orang tersebut menjawab, “لا و الله ما رأيت نعيما قط” : “Tidak, demi Allah, semuanya telah terlupakan.”
Kemudian Allah mendatangkan orang yang kedua.
Jika yang pertama tadi calon penghuni neraka, sekarang Allah mendatangkan calon penghuni surga. Calon penghuni surga tersebut adalah orang yang dulunya ketika di dunia hidupnya sangat susah. Mungkin karena miskinnya dia, mungkin karena tubuhnya sakit-sakitan, pendek kata dia adalah orang yang paling sengsara hidupnya ketika di dunia.
Hanya saja dia adalah orang yang rajin beribadah. Kemudian oleh Allah orang tersebut dicelupkan ke surga sekejab, yang mungkin hanya beberapa detik. Lalu Allah mengangkatnya dari surga dan bertanya “هل رأيت بؤسا قط؟” : “Apakah engkau merasakan kesengsaraan yang dulu pernah engkau rasakan ketika di dunia? Kemudian orang tersebut menjawab,”لا والله يا رب ما رأيت بؤسا قط” : “Tidak, demi Allah semuanya telah terlupakan yaa Robb.” (HR. Muslim)
Sekarang bayangkan diri kita, saya yakin kita bukanlah termasuk orang yang paling menderita di dunia ini. Jadi masih banyak Nikmat yang Allah berikan pada kita. Jadi kalau ada sedikit masalah, anggap saja sebagai bentuk penghapusan dosa kita dan penambah amal kebaikan buat kita.
Pertanyaan satu lagi, Siapakah orang yang paling mulia?
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah pernah ditanya, mulia mana orang kaya yang bersyukur dengan orang miskin yang bersabar?
Maka jawaban Ibnu Taimiyah adalah bahwa orang yang paling mulia diantara mereka adalah orang yang paling bertakwa di antara mereka.
Jika orang kaya yang bersyukur lebih bertakwa dari orang miskin yang bersabar, maka orang kaya yang bersyukur itu lebih mulia dari orang miskin yang bersabar.
Sebaliknya jika orang miskin yang bersabar lebih takwa daripada orang kaya yang bersyukur, maka orang miskin yang bersabar ini lebih mulia daripada orang kaya yang bersyukur.
Sesungguhnya seorang manusia yang paling kaya dimuka bumi ini adalah salah seorang Nabi, yaitu Nabi Sulaiman. Begitu juga seorang manusia yang paling miskin di dunia ini adalah seorang nabi juga, yaitu Nabi Isa. Kedua2anya adalah orang yang mulia, padahal yang satu orang terkaya di dunia dan yang satu lagi orang termiskin di jagat raya.
Rasulullah sebagai manusia yang paling mulia, sehingga menjadi seorang nabi yang diberi keistimewaan untuk pertama kali masuk surga, beliau pernah mengalami menjadi yang sangat kaya raya dan juga pernah mengalami menjadi yang sangat miskin sehingga saat lapar, beliau mengganjal perutnya dengan batu. Namun kemuliaan beliau tetap terjaga, karena kemuliaan beliau bukan terletak pada kekayaan atau kemiskinannya tapi terletak pada ketakwaannya.
Dalam salah satu ayat, difirmankan:
“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat: 13)
Semoga kita termasuk salah seorang yang beruntung, bahagia, serta mulia di dunia dan juga bahagia di akhirat.
Dimana saat ada kesulitan kita bisa bersabar hingga ada jalan keluarnya, serta pada saat ada kenikmatan kita bersyukur sehingga ditambah kenikmatan yang ada..
.Aamiin..aamiin..aamiin..yra.
(Gantira, 29 Juni 2017, Bogor)
Thursday, 25 May 2017
"Seperti Apakah Keberhasilan itu?"
Ada satu hal yang harus kita sadari bahwa kita semua bukan superman, kita semua bukan para superhero yang bisa segalanya. Kita semua adalah hamba Allah yang berusaha melakukan apa yang mampu kita lakukan, sedangkan kekurangan yang ada pada kita ditutupi oleh kelebihan yang dimiliki oleh saudara kita yang lain.
Bila kita melakukannya karena Allah, insya Allah kita tidak akan merasa tersinggung atas celaan orang lain pada diri kita dan kita bisa saling memaafkan pada sesama saudara kita.
Kita sebagai umat muslim bagai satu tubuh yang bantu membantu semampu yang kita lakukan.
Tangan mampunyai kemampuan hanya sekitar menulis, mengangkat, memindahkan, mendorong dan hal lainnya yang bisa dilakukan oleh tangan. Jangan paksakan tangan untuk bisa melihat atau mendengar, karena itu sudah di luar kemampuan si tangan.
Mata mempunyai kemampuan hanya sekitar melihat, membaca dan menunjukkan arah. Jangan menuntut mata untuk bisa membakar benda2, melelehkan besi seperti kemampuan superman, atau memindahkan barang2 berat sebagaimana yang mampu dilakukan sebagian superhero karena kita bukan mereka dan mereka pun hanya ada dalam dunia khayal bukan dalam dunia nyata.
Kaki mempunyai kemampuan untuk melangkah, berlari, dan menopang tubuh kita. Jangan paksakan kaki untuk menulis, mengambil sesuatu, bersalaman, karena bila itu dipaksakan maka hasilnya akan tampak aneh dan jadi tidak sebaik yang dilakukan oleh tangan.
Begitu juga dengan kita semua, yang kita mampu lakukan belum tentu orang lain mampu lakukan. Jadi jangan sama kan kita dengan orang lain. Jadi lakukanlah semua karena Allah, biarlah Allah yang menilai semua yang telah kita lakukan. Tugas kita hanya berusaha berbuat baik, berusaha beramal, berusaha ber akhlak mulia dan semua itu akan kembali pada diri kita sendiri bukan pada orang lain.
Kesuksesan sesungguhnya bukanlah kesuksesan yang nampak hebat di pandang manusia, namun kesuksesan sejati adalah kesuksesan saat kita menyerahkan semuanya kepada Allah, kita hanya bisa berusaha lalu bertawakal kepada-Nya.
Ingatlah kisah Rasulullah, Allah menilai Rasulullah telah sukses dan memberikan penghargaan yang sangat besar kepada beliau bukan di saat memperoleh kemenangan di perang badar atau pada perang2 besar lainnya yang dimenangkan beliau, bahkan Allah memerintahkan Rasulullah beristigfar di saat sebagian besar jazirah Arab berbondong2 memeluk Islam.
Tapi Rasulullah dinilai sukses oleh Allah ketika Rasulullah nampak terpuruk dengan kematian istrinya, meninggalnya paman yang sangat melindunginya dan di saat berdakwah ke negeri Thaif, lalu beliau di usir dan dilempari batu oleh masyarakat Thaif.
Di saat Rasulullah berteduh di kebun kurma setelah terusir oleh orang2 Thaif, Di sana Rasulullah SAW berdo’a:
“Wahai Rabb-Ku, kepada Engkaulah aku adukan kelemahan tenagaku dan kekurangan daya upayaku pada pandangan manusia. Wahai Rabb-ku yang Maha Rahim.
Engkaulah Robbnya orang-orang yang lemah dan Engkaulah Robb-ku.
Kepada siapa Engkau menyerahkan diriku? Kepada musuh yang akan menerkamku, atau kepada keluarga yang Engkau berikan kepadanya urusanku, tidak ada keberatan bagiku asal Engkau tidak marah kepadaku. Sedangkan afiat-Mu lebih luas bagiku.
Aku berlindung dengan cahaya muka-Mu yang mulia yang menyinari langit dan menerangi segala yang gelap. Dan atas-Nyalah teratur segala urusan dunia dan akhirat. Dari Engkau menimpakan atas diriku kemarahanMu atau dari Engkau turun atasku adzab-Mu. Kepada Engkaulah aku adukan halku sehingga Engkau ridha. Tidak ada daya dan upaya melainkan dengan Engkau.”
Demikian sedihnya do’a yang dipanjatkan nabi Muhammad ini, sehingga Allah SWT mengutus Jibril A.S untuk menemuinya.
Setibanya di hadapan Rasulullah SAW, Jibril A.S memberi salam seraya berkata:
“Allah mengetahui apa yang telah terjadi padamu dan orang-orang ini. Allah telah memerintahkan malaikat di gunung-gunung untuk menaati perintahmu”.
Sambil berkata demikian jibril A.S memperlihatkan para malaikat tersebut kepada Rasulullah SAW.
Kata para malaikat tersebut: “Wahai Rasulullah, kami siap untuk menjalankan perintah tuan. Jika tuan mau, kami sanggup menjadikan gunung di sekitar kota itu berbenturan, sehingga penduduk yang ada di kedua belah gunung itu akan mati tertindih. Atau apa saja hukuman yang engkau inginkan, kami siap melaksanakannya.”
Mendengar tawaran itu, Rasulullah SAW bersabda: “Walaupun mereka menolak ajaran Islam, saya berharap dengan kehendak Allah, keturunan mereka pada suatu saat nanti akan menyembah Allah dan beribadah kepada-Nya.”
Sungguh, setelah Rasulullah berharap hanya kepada Allah maka saat itulah Allah menilai bahwa Rasulullah telah sukses. Di saat itulah, lalu Allah memberikan banyak penghargaan kepada beliau, yaitu dengan diberinya hadiah Isra Mi'raj, setelah itu diperintahkan untuk berhijrah ke.kota madinah, kemudian hadiah kemenangan demi kemenangan datang silih berganti kepada beliau. Sehingga akhirnya Rasulullah memiliki umat yang paling banyak masuk surga dibandingkan umat nabi lainnya.
Sungguh kesuksesan kita akan benar2 dikatakan sukses di saat kita dengan sepenuh hati mengamalkan ayat:
"hasbunallah wa ni’mal wakiil [cukuplah Allah menjadi Penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung]“. ” (QS. Ali ‘Imron: 173)
Ingatlah akan salah satu firman-Nya:
Allah Ta’ala berfirman,
وَمَنْ يَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ فَهُوَ حَسْبُهُ
“Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath Tholaq: 3).
Namun kalau kita bersandar kepada selain-Nya, maka kita akan diserahkan pada sesuatu yang lemah dan tak berdaya hingga kita bisa hancur tak berdaya.
:Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
مَنْ تَعَلَّقَ شَيْئًا وُكِلَ إِلَيْهِ
“Barangsiapa menyandarkan diri pada sesuatu, maka hatinya akan dipasrahkan padanya” (HR. Tirmidzi no. 2072, hadits ini hasan kata Syaikh Al Albani).
Semoga kita senantiasa menjadi orang yang selalu berhasil, yaitu orang yang senantiasa bersandar hanya kepada-Nya, Aamiin..aamiin..aamiin..yra..
(Gantira, 26 Mei 2017, Bogor)
Sunday, 7 May 2017
"Ketika Ujian itu Datang"
Saat manusia diciptakan, sejak saat itulah ujian akan selalu datang kepadanya.
Nabi Adam diuji dengan dilarang oleh Allah untuk mendekati buah khaldi, namun karena bujuk rayu iblis yang mengatakan bahwa orang yang memakannya akan membuat dia abadi di Syurga. Maka ketika Nabi Adam memakannya, nabi Adam malah terusir dari syurga.
Nabi Ibrahim diuji oleh Allah untuk meninggalkan istrinya, Siti Hajar dan putranya, Ismail di daerah gurun yang tandus tanpa ada setetes pun air. Namun karena Nabi Ibrahim dan Siti Hajar mengikuti perintah Allah, maka dianugrahilah air zam-zam yang sampai saat ini masih terus mengalir bahkan bisa dibawa pulang oleh para jemaah haji dari seluruh pelosok dunia.
Bani Israel diuji oleh Allah dengan dilarang menangkap ikan pada hari Sabtu yang ikannya tiba2 berlimpah ruah. Namun karena mereka mengingkari-Nya maka mereka pun berubah menjadi kera.
Para sahabat diuji oleh Allah untuk berhijrah ke kota Madinah, walaupun diantara mereka ada yang harus meninggalkan hartanya yang berlimpah di Mekah. Namun karena mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya, maka pada selang waktu kemudian kemenangan demi kemenangan bersama mereka bahkan hampir kekuasaan di seluruh dunia berada digenggaman tangan mereka.
Sungguh, selama kita masih bernafas maka ujian itu akan selalu datang pada kita. Saat kita berlimpah harta, maka kita akan diuji apakah kita akan bersyukur dengan menzakatkan harta yang ada, atau malah kita kufur dengan menumpuk harta yang ada tanpa sedikit pun diberikan pada orang2 miskin yang memang memiliki hak harta itu?
Saat kita disempitkan harta, maka kita akan diuji apakah kita tetap bersabar dengan tetap menjaga diri dari harta yang haram atau kita berputus asa dengan mencoba meraih harta yang bukan haknya?
Saat kita diberikan kesehatan, kita akan diuji apakah kita bersyukur dengan memperbanyak ibadah kepada-Nya, atau malah kita kufur dengan memperbanyak kemaksiatan kepada-Nya?
Begitu juga saat kita dalam kondisi sakit, kita akan diuji apakah kita akan tetap sabar dengan memperbanyak dzikir dan istighfar, atau kita malah kufur dengan menggerutu, marah2 dan memaki2 nasib?
Sungguh, apapun kondisi kita pada dasarnya kita sedang diuji. Apakah kita menghadapinya dengan cara yang Allah perintahkan atau sebaliknya.
Sungguh, selamat dan beruntunglah orang yang taat para perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Serta celaka dan binasalah orang yang melanggar semua aturan-Nya. Karena pada dasarnya semua hukum-Nya adalah sebuah kenikmatan yang sempurna untuk kebaikan kita sebagai makhluk-Nya.
"Kamu benar-benar akan diuji pada hartamu dan dirimu" (Qs. Âli ‘Imrân/3: 186)
Rasulullah saw bersabda: "Sesungguhnya besarnya pahala tergantung dengan besarnya ujian. Sesungguhnya, apabila Allâh mencintai suatu kaum, maka Dia akan mengujinya. Siapa yang ridha dengan ujian itu, maka ia akan mendapat keridhaan-Nya. Siapa yang membencinya maka ia akan mendapatkan kemurkaan-Nya." (HR. at-Tirmidzi no. 2396 dan Ibnu Mâjah no. 4031)
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu.” (Al-Maaidah: 3)
(Gantira, 7 Mei 2017, Bogor)
Tuesday, 25 April 2017
"Metamorfosa pada Usia 40 Tahun"
= Sebelum usia 40 tahun =
Definisi kebahagiaan adalah menjadi juara kelas, mendapatkan sekolah terbaik di dalam dan luar negeri, punya jabatan, punya uang banyak, jalan2 naik pesawat ke berbagai daerah, nginep di hotel2 mewah dan banyak lagi kesenangan yang mulai terbayang di khayalanku.
Sehingga orang2 yang diidolakan adalah Einstein, Newton, Bill Gate, Steve Jobs, Soekarno, serta para tokoh lainnya yang dianggap hebat oleh manusia saat ini. Sehingga semua biografi mereka aku lahap habis, sampai2 aku merasa bahwa aku adalah dia dan dia adalah aku.
Salah satu kata2 yang tertanam sangat mendalam dalam benakku adalah Kata2 Einstein dengan ungkapannya:
"Ilmu tanpa agama adalah lumpuh, agama tanpa ilmu adalah buta"
Aku dulu menganggap yang namanya ilmu adalah hanya seputar sains, teknologi dan cara memimpin suatu bangsa atau perusahaan besar sehingga hampir semua buku yang kutemui, saya beli dan saya baca sampai tuntas. Hingga koleksi buku2 yang kumiliki hampir 3 lemari penuh.
Akhirnya apa yang kuidam2kan dapat ku gapai juga, saat sma aku dapat peringkat terbaik, lalu masuk perguruan tinggi terbaik, lalu dapat pekerjaan di instansi yang kuidam2kan, lalu dapat sekolah lagi ke negeri lain, lalu dapat lagi jabatan, lalu mulai terbang ke berbagai daerah dengan pesawat maskapai terbaik di negeri ini, lalu mulai menginap di hotel2 yang kuanggap mewah, lalu dapat uang yang banyak sesuai yang kuimpikan dan banyak lagi lalu lalu lainnya..
Namun sayang, aku tidak menemukan kebahagiaan di situ, yang kudapatkan adalah kesibukan tanpa henti, keresahan yang tidak berkesudahan, kepeningan yang tidak tahu kapan ujung nya.
=Menjelang usia 40 tahun=
Bacaanku mulai bermetamorfosa pada al-quran dan tafsirnya, hadist dan penjelasannya serta buku2 karangan para ulama terdahulu. Hingga koleksi bacaan baruku ini pun hampir menyeimbangkan koleksi buku2 sebelumnya.
Dari hasil bacaan pada buku2
ku yang baru tersebut, baru kusadari bahwa ternyata pernyataan Einstein itu salah total.
Justru yang namanya ilmu itu adalah ilmu agama, sedangkan pengetahuan lainnya hanyalah sebagai salah satu sarana saja untuk membuat kita lebih paham akan ilmu agama. Sehingga aku pun memiliki kata2 mutiara sendiri, yaitu "Hidup tanpa ilmu agama akan menjadi buta dan lumpuh"
Salah satu ayat al-qur'an yang tertanam mendalam dalam jiwaku menggantikan kata2 Einstein adalah:
“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya. Dan memberi-nya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (Ath-Thalaq: 2-3).
Ternyata hanya dengan bermodal taqwa, aku bisa keluar dari setiap permasalahan yang ada serta mendapatkan semua rizqi yang ada baik itu rizqi kebahagiaan ataupun rizqi lainnya.
Akhirnya akupun ingin mengamalkan kata taqwa ini dalam seluruh hidupku secara kaffah, dengan kata lain harus membuang jauh2 teori lama yang sudah tidak akurat dan tidak sesuai lagi dengan apa yang sebenarnya kuinginkan.
Namun untuk menempuh semua itu, banyak sekali tantangan yang harus kuhadapi, baik itu dari tempat kerjaku maupun keluarga besarku. Karena salah satu keputusan terbesar yang harus diambil adalah resign, meninggalkan semua hal yang sebagian besar orang menganggapnya menyenangkan.
Akhirnya dengan dukungan kuat dari belahan jiwaku, aku putuskan untuk resign dan memulai dengan kehidupan baru, yaitu kehidupan tanpa harta subhat, tanpa riba, tanpa aktifitas basa basi, serta tanpa tanpa lainnya yang menyerempet dengan aturan-Nya.
=Setelah 40 tahun berjalan=
Setelah hampir 3 tahun berjalan dari resign, sesuai dugaanku semula yaitu pemasukan tidak lagi seperti dulu, tidak ada lagi nginep di hotel, tidak ada lagi makan2 di restoran, tidak ada lagi terbang ke sana ke mari, dan banyak lagi tidak ada lagi tidak ada lagi lainnya.
Namun walaupun demikian, ada sesuatu yang bertambah dalam hidupku, yaitu ketenangan, ketentraman, kebahagiaan, keantusiasan, semangat hidup dan kebersamaan dalam keluarga.
Dulu, yang namanya hari itu adalah hari yang memusingkan. Sedangkan hari bahagia itu hanya pada hari Sabtu, minggu atau hari libur, dan itupun seringkali terganggu pada saat ada telepon mendadak dari atasan untuk segera terbang ke kota lain.
Sekarang, yang namanya hari bahagia adalah tiap hari, tidak ada lagi hari yang memusingkan. Kalau pun ada hari yang memusingkan, tindakannya cukuplah memohon kepada-Nya dan solusi tiba2 muncul dari tempat tak terduga.
Hari2 kebahagianku seringkali diisi dengan selalu mengajak anak2 untuk shalat fardhu berjamaah di mesjid, mengajarkan mereka untuk mempraktekkan bagaimana puasa sunat, shalat tahajud, shalat dhuha serta mendengarkan ceramah2 yang dengan mudah dapat di download dari Youtube.
Ternyata, kebahagiaan itu bukanlah didapat dengan cara berusaha memiliki semua fasilitas yang ada di dunia ini untuk kita gunakan, tapi kebahagiaan itu didapat dengan cara berusaha menanamkan ketakwaan dalam hati kita untuk kita amalkan.
Aku pun teringat akan salah satu firman-Nya:
“Sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa:
“Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.” (QS. Al-Ahqaf: 15)
Aamiin..aamiin..aamiin ya robbal alamiin..
(Gantira, 26 April 2017, Bogor)
Definisi kebahagiaan adalah menjadi juara kelas, mendapatkan sekolah terbaik di dalam dan luar negeri, punya jabatan, punya uang banyak, jalan2 naik pesawat ke berbagai daerah, nginep di hotel2 mewah dan banyak lagi kesenangan yang mulai terbayang di khayalanku.
Sehingga orang2 yang diidolakan adalah Einstein, Newton, Bill Gate, Steve Jobs, Soekarno, serta para tokoh lainnya yang dianggap hebat oleh manusia saat ini. Sehingga semua biografi mereka aku lahap habis, sampai2 aku merasa bahwa aku adalah dia dan dia adalah aku.
Salah satu kata2 yang tertanam sangat mendalam dalam benakku adalah Kata2 Einstein dengan ungkapannya:
"Ilmu tanpa agama adalah lumpuh, agama tanpa ilmu adalah buta"
Aku dulu menganggap yang namanya ilmu adalah hanya seputar sains, teknologi dan cara memimpin suatu bangsa atau perusahaan besar sehingga hampir semua buku yang kutemui, saya beli dan saya baca sampai tuntas. Hingga koleksi buku2 yang kumiliki hampir 3 lemari penuh.
Akhirnya apa yang kuidam2kan dapat ku gapai juga, saat sma aku dapat peringkat terbaik, lalu masuk perguruan tinggi terbaik, lalu dapat pekerjaan di instansi yang kuidam2kan, lalu dapat sekolah lagi ke negeri lain, lalu dapat lagi jabatan, lalu mulai terbang ke berbagai daerah dengan pesawat maskapai terbaik di negeri ini, lalu mulai menginap di hotel2 yang kuanggap mewah, lalu dapat uang yang banyak sesuai yang kuimpikan dan banyak lagi lalu lalu lainnya..
Namun sayang, aku tidak menemukan kebahagiaan di situ, yang kudapatkan adalah kesibukan tanpa henti, keresahan yang tidak berkesudahan, kepeningan yang tidak tahu kapan ujung nya.
=Menjelang usia 40 tahun=
Bacaanku mulai bermetamorfosa pada al-quran dan tafsirnya, hadist dan penjelasannya serta buku2 karangan para ulama terdahulu. Hingga koleksi bacaan baruku ini pun hampir menyeimbangkan koleksi buku2 sebelumnya.
Dari hasil bacaan pada buku2
ku yang baru tersebut, baru kusadari bahwa ternyata pernyataan Einstein itu salah total.
Justru yang namanya ilmu itu adalah ilmu agama, sedangkan pengetahuan lainnya hanyalah sebagai salah satu sarana saja untuk membuat kita lebih paham akan ilmu agama. Sehingga aku pun memiliki kata2 mutiara sendiri, yaitu "Hidup tanpa ilmu agama akan menjadi buta dan lumpuh"
Salah satu ayat al-qur'an yang tertanam mendalam dalam jiwaku menggantikan kata2 Einstein adalah:
“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya. Dan memberi-nya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (Ath-Thalaq: 2-3).
Ternyata hanya dengan bermodal taqwa, aku bisa keluar dari setiap permasalahan yang ada serta mendapatkan semua rizqi yang ada baik itu rizqi kebahagiaan ataupun rizqi lainnya.
Akhirnya akupun ingin mengamalkan kata taqwa ini dalam seluruh hidupku secara kaffah, dengan kata lain harus membuang jauh2 teori lama yang sudah tidak akurat dan tidak sesuai lagi dengan apa yang sebenarnya kuinginkan.
Namun untuk menempuh semua itu, banyak sekali tantangan yang harus kuhadapi, baik itu dari tempat kerjaku maupun keluarga besarku. Karena salah satu keputusan terbesar yang harus diambil adalah resign, meninggalkan semua hal yang sebagian besar orang menganggapnya menyenangkan.
Akhirnya dengan dukungan kuat dari belahan jiwaku, aku putuskan untuk resign dan memulai dengan kehidupan baru, yaitu kehidupan tanpa harta subhat, tanpa riba, tanpa aktifitas basa basi, serta tanpa tanpa lainnya yang menyerempet dengan aturan-Nya.
=Setelah 40 tahun berjalan=
Setelah hampir 3 tahun berjalan dari resign, sesuai dugaanku semula yaitu pemasukan tidak lagi seperti dulu, tidak ada lagi nginep di hotel, tidak ada lagi makan2 di restoran, tidak ada lagi terbang ke sana ke mari, dan banyak lagi tidak ada lagi tidak ada lagi lainnya.
Namun walaupun demikian, ada sesuatu yang bertambah dalam hidupku, yaitu ketenangan, ketentraman, kebahagiaan, keantusiasan, semangat hidup dan kebersamaan dalam keluarga.
Dulu, yang namanya hari itu adalah hari yang memusingkan. Sedangkan hari bahagia itu hanya pada hari Sabtu, minggu atau hari libur, dan itupun seringkali terganggu pada saat ada telepon mendadak dari atasan untuk segera terbang ke kota lain.
Sekarang, yang namanya hari bahagia adalah tiap hari, tidak ada lagi hari yang memusingkan. Kalau pun ada hari yang memusingkan, tindakannya cukuplah memohon kepada-Nya dan solusi tiba2 muncul dari tempat tak terduga.
Hari2 kebahagianku seringkali diisi dengan selalu mengajak anak2 untuk shalat fardhu berjamaah di mesjid, mengajarkan mereka untuk mempraktekkan bagaimana puasa sunat, shalat tahajud, shalat dhuha serta mendengarkan ceramah2 yang dengan mudah dapat di download dari Youtube.
Ternyata, kebahagiaan itu bukanlah didapat dengan cara berusaha memiliki semua fasilitas yang ada di dunia ini untuk kita gunakan, tapi kebahagiaan itu didapat dengan cara berusaha menanamkan ketakwaan dalam hati kita untuk kita amalkan.
Aku pun teringat akan salah satu firman-Nya:
“Sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa:
“Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.” (QS. Al-Ahqaf: 15)
Aamiin..aamiin..aamiin ya robbal alamiin..
(Gantira, 26 April 2017, Bogor)
Thursday, 16 March 2017
"Become Someone"
Banyak sekali orang yang memiliki cita2 besar untuk menjadi 'Someone' yang memiliki jabatan pada suatu instansi atau pemerintahan, baik itu menjadi Direktur, Menteri, bahkan Presiden.
Atau bercita2 menjadi 'Someone' lain yang menurutnya indah dan menyenangkan, baik itu menjadi orang kaya, memiliki wajah cantik/tampan, ilmuwan, olahragawan, selebritis atau menjadi 'Someone2' lainnya yang menurutnya akan membuat dia bahagia dan dipandang hebat orang lain.
Padahal menjadi 'Someone' itu bukanlah sesuatu yang perlu dibanggakan, tetapi menjadi 'Someone' itu adalah tanggung jawab yang harus dia emban dengan sebaik mungkin sesuai dengan amanah yang dipegangnya.
Sesungguhnya setiap orang akan diminta pertanggungjawaban sesuai apa yang telah diamanatkan padanya. Bila dia sebagai pemimpin sebuah negara maka dia akan diminta pertanggung jawaban terhadap apa yang dipimpinnya. Bila dia sebagai orang kaya, maka dia akan diminta pertanggungjawaban atas kekayaannya. Bahkan seorang suami akan diminta pertanggung jawaban atas keluarga yang dipimpinnya.
Sesungguhnya segala sesuatu itu diciptakan sesuai amanat dan tujuan dari diciptakannya sesuatu itu.
Dan tahukah kita apakah tujuan diciptakannya manusia?
Sesungguhnya Allah swt berfirman:
ﻭَﻣَﺎ ﺧَﻠَﻘْﺖُ ﺍﻟْﺠِﻦَّ ﻭَﺍﻟْﺈِﻧْﺲَ ﺇِﻟَّﺎ ﻟِﻴَﻌْﺒُﺪُﻭﻥِ
“ Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku (saja) ”. ( Qs. Adz-Dzaariyaat :56)
Jadi, diciptakannya kita di dunia ini semata2 untuk beribadah kepada-Nya, apapun kondisi yang terjadi pada kita saat ini atau yang akan datang. Sesungguhnya yang namanya ibadah adalah segala aktifitas kita yang dikerjakan sesuai dengan yang Dia inginkan. Namun bila aktifitas kita berlawanan dari apa yang diinginkan-Nya, maka pada dasarnya kita telah melenceng dari tujuan awal diciptakannya kita.
Bila seseorang saat ini menjadi seorang pemimpin negara, maka di akhirat kelak dia akan diminta pertanggungjawaban di hadapan-Nya. Apakah dia telah mengatur negerinya sesuai yang Dia kehendaki atau tidak.
Jika seseorang saat ini dalam kondisi kaya raya, maka dia akan diminta pertanggungjawaban oleh-Nya. Apakah kekayaannya disalurkan sesuai yang Dia kehendaki atau tidak.
Bahkan bila seseorang saat ini menjadi seorang suami, istri, orang tua, anak, atau sebagai seorang tetangga dari sebuah komunitas. Maka dia akan diminta pertanggungjawaban terhadap posisinya saat ini.
Untuk itu, yang namanya menjadi 'Someone' adalah menjadi seorang hamba yang patuh dan melakukan segala aktifitas sesuai aturan-Nya, sebagai apapun dan dalam kondisi apapun kita saat ini.
Bila saat ini kita mendapatkan kondisi memperoleh kenikmatan, maka untuk menjadi 'Someone' adalah dengan cara banyak bersyukur. Sebaliknya bila kondisi kita saat ini memperoleh cobaan yang tidak sesuai dengan yang kita harapkan maka untuk menjadi 'Someone' adalah dengan cara banyak bersabar.
Ingatlah Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
ﻋَﺠَﺒًﺎ ِﻷَﻣْﺮِ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻦِ ﺇِﻥَّ ﺃَﻣْﺮَﻩُ ﻛُﻠَّﻪُ ﺧَﻴْﺮٌ، ﻭَﻟَﻴْﺲَ ﺫَﺍﻙَ ﻷَِﺣَﺪٍ ﺇِﻻَّ ﻟِﻠْﻤُﺆْﻣِﻦِ : ﺇِﻥْ ﺃَﺻَﺎﺑَﺘْﻪُ ﺳَﺮَّﺍﺀُ ﺷَﻜَﺮَ ﻓَﻜَﺎﻥَ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻟَﻪُ، ﻭَﺇِﻥْ ﺃَﺻَﺎﺑَﺘْﻪُ ﺿَﺮَّﺍﺀُ ﺻَﺒَﺮَ ﻓَﻜَﺎﻥَ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻟَﻪُ .
“Sungguh menakjubkan urusan seorang Mukmin. Sungguh semua urusannya adalah baik, dan yang demikian itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh orang Mukmin, yaitu jika ia mendapatkan kegembiraan ia bersyukur dan itu suatu kebaikan baginya. Dan jika ia mendapat musibah, ia bersabar dan itu pun suatu kebaikan baginya” (HR. Muslim (no. 2999 (64)))
Oleh karena itu, marilah kita pelajari Al-quran dan Hadist serta berusaha mengamalkannya, agar kita semua menjadi 'Someone' yang dikehendaki oleh-Nya, apapun kondisi kita saat ini.
(Gantira, 16 Maret 2017, Bogor)
Thursday, 9 March 2017
"Hati yang Tergoda Karena Someone"
Banyak sekali kejadian, dimana seseorang sudah bertunangan bahkan akan mengadakan akad nikah, tapi tiba2 salah satu calon memutuskan secara sepihak, hanya karena dia menemukan "Someone" lain yang tiba2 memasuki hatinya.
Banyak juga peristiwa sepasang suami istri yang bertengkar hebat bahkan sampai terjadi perceraian, disebabkan oleh salah satu pihak yang terpikat oleh "Someone" yang dikenalnya di perjalanan atau bertemu kembali dengan orang yang dulu pernah disukainya.
Dan banyak lagi kejadian2 lainnya yang menyebabkan situasi yang sebelumnya damai menjadi berantakan hanya karena "Someone" ini.
Lalu adakah solusi yang bisa dilakukan agar jeratan "Someone" ini bisa terhindar dari hati kita?
Sesungguhnya salah satu penyebab hati kita terpikat oleh "Someone" adalah karena kita tidak bisa menjaga pandangan kita. Ingatlah bahwa salah satu panah syetan berada pada mata kita. Dan jika kita membiarkan mata kita bebas diumbar maka yang akan terjadi panah2 syetan akan terus menusuk hati kita hingga dia terluka dan terpaut pada "Someone" tersebut.
Jadi salah satu cara untuk menghindari jeratan "Someone" ini adalah dengan menjaga pandangan kita, menjaga mata kita dan menjaga hati kita.
Sebagaimana firman-Nya:
ﻗُﻞْ ﻟِﻠْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﻳَﻐُﻀُّﻮﺍ ﻣِﻦْ ﺃَﺑْﺼَﺎﺭِﻫِﻢْ ﻭَﻳَﺤْﻔَﻈُﻮﺍ ﻓُﺮُﻭﺟَﻬُﻢْ ﺫَﻟِﻚَ ﺃَﺯْﻛَﻰ ﻟَﻬُﻢْ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺧَﺒِﻴﺮٌ ﺑِﻤَﺎ ﻳَﺼْﻨَﻌُﻮﻥَ
” Katakanlah kepada laki-laki yang beriman,’Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’” (QS. An-Nur [24] : 30).
Dan juga dalam sabda Rasulullah saw:
ﺍﻟﻨَّﻈْﺮَﺓُ ﺳَﻬْﻢٌ ﻣِﻦْ ﺳِﻬَﺎﻡِ ﺇِﺑْﻠِﻴﺲَ ﻣَﺴْﻤُﻮﻣَﺔٌ ﻓَﻤَﻦْ ﺗَﺮَﻛَﻬَﺎ ﻣِﻦْ ﺧَﻮْﻑِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺃَﺛَﺎﺑَﻪُ ﺟَﻞَّ ﻭَﻋَﺰَّ ﺇِﻳﻤَﺎﻧًﺎ ﻳَﺠِﺪُ ﺣَﻠَﺎﻭَﺗَﻪُ ﻓِﻲ ﻗَﻠْﺒِﻪِ
” Memandang wanita adalah panah beracun dari berbagai macam panah iblis. Barangsiapa yang meninggalkannya karena takut kepada Allah, maka Allah akan memberi balasan iman kepadanya yang terasa manis baginya” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak no. 7875).
Lalu bagaimanakah agar kita bisa selamat, jika "Someone" sudah terlanjur melukai dan memasuki hati kita?
Seandainya hati kita sudah terluka karena jeratan panah tersebut sehingga kita sulit melupakan "Someone", maka solusi yang bisa dilakukan adalah berdoa kepada-Nya agar Dia membolak-balikkan hati kita agar hati kita sembuh dari luka yang ada hingga akhirnya kita bisa melupakannya.
Dalam salah satu firman-Nya,
ﺍﺩْﻋُﻮﻧِﻲ ﺃَﺳْﺘَﺠِﺐْ ﻟَﻜُﻢْ
“Berdoalah (mintalah) kepadaku, niscaya aku kabulkan untukmu”. (QS. Al-Mukmin : 60)
Salah satu doa yang bisa kita panjatkan agar kita terlepas dari kesesatan dan jeratan "Someone" adalah dengan membaca doa:
ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻟَﺎ ﺗُﺰِﻍْ ﻗُﻠُﻮﺑَﻨَﺎ ﺑَﻌْﺪَ ﺇِﺫْ ﻫَﺪَﻳْﺘَﻨَﺎ ﻭَﻫَﺐْ ﻟَﻨَﺎ ﻣِﻦْ ﻟَﺪُﻧْﻚَ ﺭَﺣْﻤَﺔً ﺇِﻧَّﻚَ ﺃَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻮَﻫَّﺎﺏُ
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (QS. Ali Imran: 7)
Semoga kita bisa menjaga mata kita dari memandang hal-hal yang tidak diridhai-Nya..Aamiin..aamiin..aamiin ya robbal alamiin
(Gantira, 9 Maret 2017, Bogor)
Banyak juga peristiwa sepasang suami istri yang bertengkar hebat bahkan sampai terjadi perceraian, disebabkan oleh salah satu pihak yang terpikat oleh "Someone" yang dikenalnya di perjalanan atau bertemu kembali dengan orang yang dulu pernah disukainya.
Dan banyak lagi kejadian2 lainnya yang menyebabkan situasi yang sebelumnya damai menjadi berantakan hanya karena "Someone" ini.
Lalu adakah solusi yang bisa dilakukan agar jeratan "Someone" ini bisa terhindar dari hati kita?
Sesungguhnya salah satu penyebab hati kita terpikat oleh "Someone" adalah karena kita tidak bisa menjaga pandangan kita. Ingatlah bahwa salah satu panah syetan berada pada mata kita. Dan jika kita membiarkan mata kita bebas diumbar maka yang akan terjadi panah2 syetan akan terus menusuk hati kita hingga dia terluka dan terpaut pada "Someone" tersebut.
Jadi salah satu cara untuk menghindari jeratan "Someone" ini adalah dengan menjaga pandangan kita, menjaga mata kita dan menjaga hati kita.
Sebagaimana firman-Nya:
ﻗُﻞْ ﻟِﻠْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﻳَﻐُﻀُّﻮﺍ ﻣِﻦْ ﺃَﺑْﺼَﺎﺭِﻫِﻢْ ﻭَﻳَﺤْﻔَﻈُﻮﺍ ﻓُﺮُﻭﺟَﻬُﻢْ ﺫَﻟِﻚَ ﺃَﺯْﻛَﻰ ﻟَﻬُﻢْ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺧَﺒِﻴﺮٌ ﺑِﻤَﺎ ﻳَﺼْﻨَﻌُﻮﻥَ
” Katakanlah kepada laki-laki yang beriman,’Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’” (QS. An-Nur [24] : 30).
Dan juga dalam sabda Rasulullah saw:
ﺍﻟﻨَّﻈْﺮَﺓُ ﺳَﻬْﻢٌ ﻣِﻦْ ﺳِﻬَﺎﻡِ ﺇِﺑْﻠِﻴﺲَ ﻣَﺴْﻤُﻮﻣَﺔٌ ﻓَﻤَﻦْ ﺗَﺮَﻛَﻬَﺎ ﻣِﻦْ ﺧَﻮْﻑِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺃَﺛَﺎﺑَﻪُ ﺟَﻞَّ ﻭَﻋَﺰَّ ﺇِﻳﻤَﺎﻧًﺎ ﻳَﺠِﺪُ ﺣَﻠَﺎﻭَﺗَﻪُ ﻓِﻲ ﻗَﻠْﺒِﻪِ
” Memandang wanita adalah panah beracun dari berbagai macam panah iblis. Barangsiapa yang meninggalkannya karena takut kepada Allah, maka Allah akan memberi balasan iman kepadanya yang terasa manis baginya” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak no. 7875).
Lalu bagaimanakah agar kita bisa selamat, jika "Someone" sudah terlanjur melukai dan memasuki hati kita?
Seandainya hati kita sudah terluka karena jeratan panah tersebut sehingga kita sulit melupakan "Someone", maka solusi yang bisa dilakukan adalah berdoa kepada-Nya agar Dia membolak-balikkan hati kita agar hati kita sembuh dari luka yang ada hingga akhirnya kita bisa melupakannya.
Dalam salah satu firman-Nya,
ﺍﺩْﻋُﻮﻧِﻲ ﺃَﺳْﺘَﺠِﺐْ ﻟَﻜُﻢْ
“Berdoalah (mintalah) kepadaku, niscaya aku kabulkan untukmu”. (QS. Al-Mukmin : 60)
Salah satu doa yang bisa kita panjatkan agar kita terlepas dari kesesatan dan jeratan "Someone" adalah dengan membaca doa:
ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻟَﺎ ﺗُﺰِﻍْ ﻗُﻠُﻮﺑَﻨَﺎ ﺑَﻌْﺪَ ﺇِﺫْ ﻫَﺪَﻳْﺘَﻨَﺎ ﻭَﻫَﺐْ ﻟَﻨَﺎ ﻣِﻦْ ﻟَﺪُﻧْﻚَ ﺭَﺣْﻤَﺔً ﺇِﻧَّﻚَ ﺃَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻮَﻫَّﺎﺏُ
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (QS. Ali Imran: 7)
Semoga kita bisa menjaga mata kita dari memandang hal-hal yang tidak diridhai-Nya..Aamiin..aamiin..aamiin ya robbal alamiin
(Gantira, 9 Maret 2017, Bogor)
Thursday, 23 February 2017
"Someone yang Disukai sekaligus Dibenci"
Tema tentang apakah yang paling hangat dan paling disukai oleh obrolan para bapak2? Jawabannya adalah tema tentang "Someone".
Tema tentang apa juga yang paling dingin dan dibenci oleh para ibu2? Jawabannya juga sama yaitu tentang "Someone".
Para bapak2 begitu semangat sekali kalau membahas tentang "Someone". Mereka umumnya tiba2 merasa menjadi sangat menyunah bila membahas tentang ini. Satu dengan yang lain saling menyemangati untuk bisa melakukan sunnah yang satu ini.
Pada saat ada salah satu teman obrolannya telah melakukan sunnah ini, yaitu telah memiliki "Someone", maka sebagian besar teman yang lain pada memujinya bahkan banyak diantara mereka yang bertanya bagaimana tip2 nya agar tidak ketahuan oleh orang yang di rumah.
Sebaliknya, para ibu2 sangat malas kalau membahas tentang "Someone" ini. Satu dengan yang lain seringkali saling mematahkan semangat kalau nampak ada indikasi para suaminya akan memiliki "Someone" ini.
Pada saat ada salah satu teman obrolan ibu2 ini memiliki 'Someone', satu dengan yang lain saling menyatakan bela sungkawa dan diantara mereka saling mendoakan agar tidak mengalami apa yang dialami oleh teman yang telah memiliki 'Someone', seakan2 dia telah mendapatkan musibah yang sangat besar.
Pertanyaannya, kenapa tema yang sama tapi mendapatkan respon yang berbeda bahkan bertolak belakang diantara pasangan hidup ini?
Jawabannya karena keduanya memposisikan pada pandangan yang berbeda.
Para bapak2 umumnya memandang "Someone" ini dari sudut pandang kesenangan bukan tanggung jawab. Sehingga pada pandangannya, bila memiliki "Someone" hidupnya akan semakin menyenangkan.
Sedangkan para ibu2 memandang "Someone" dari sudut pandang rival atau saingan bukan kerjasama. Sehingga pada pandangannya bila memiliki "Someone" hidupnya akan semakin sengsara.
Dan pada kenyataan kehidupan saat ini, memang itulah yang terjadi sehingga kehidupan keluarga yang pertama dibentuk menjadi berantakan bukan semakin rukun.
Dimana banyak dari para bapak2 yang memiliki "Someone" lagi hanya memikirkan kesenangan tanpa bisa berbuat adil pada istri yang di rumah serta pada 'Someone'. Sehingga sebagian besar harta dan kehadiran dirinya lebih dia limpahkan pada "Someone" daripada pada istri pertamanya. Sehingga membuat para istri yang pertama menjadi terdholimi dan banyak lebih memilih untuk berpisah daripada terus bersaing dengan 'Someone'.
Namun bila saja para bapak2 dan ibu2 merubah sudut pandan masing2 maka kemungkinan besar yang terjadi akan berbeda.
Dimana para bapak2 memandang bahwa memiliki "Someone" adalah memiliki beban tanggung jawab yang semakin besar. Sehingga dirinya harus meningkatkan kemampuan yang dimilikinya baik dari segi materi maupun dari segi energi.
Sehingga para bapak2 harus meningkatkan penghasilannya minimal dua kali lipat dari sebelumnya sehingga harta yang diberikan pada istri pertamanya tidak berkurang.
Disamping itu juga para bapak2 harus meningkatkan tenaganya minimal dua kali lipat sehingga pergaulannya pada istri pertamanya juga tidak berkurang.
Begitu juga bila para ibu2 memandang "Someone" ini sebagai bentuk kerjasama dalam menyenangkan suaminya. Sehingga beban yang ditanggungnya akan semakin ringan karena bagaimanapun juga sesuatu yang dilakukan dengan bersama2 akan lebih mudah dibandingkan bila dilakukan dengan seorang diri.
Bila pandangan bapak2 dan ibu2 sudah berubah sebagaimana pandangan di atas, maka kemungkinan besar para ibu2 akan mendorong dan menyemangati agar para bapak2 memiliki "Someone". Sebaliknya para bapak2 akan berat serta ketakutan bila memilikinya karena beban yang ditanggungnya akan semakin berat.
Ingatlah salah satu hadis:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam , bersabda,
ﻣَﻦْ ﻛَﺎﻥَ ﻟَﻪُ ﺍﻣْﺮَﺃَﺗَﺎﻥِ ﻓَﻤَﺎﻝَ ﺇِﻟَﻰ ﺇِﺣْﺪَﺍﻫُﻤَﺎ ﺟَﺎﺀَ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﻭَﺷِﻘُّﻪُ ﻣَﺎﺋِﻞٌ
“Siapa saja orangnya yang memiliki dua istri lalu lebih cenderung kepada salah satunya, pada hari kiamat kelak ia akan datang dalam keadaan sebagian tubuhnya miring.”
(Hr Abu Dawud (no. 2133), an-Nasa’i (2/157), Tirmidzi (1/213))
Kapankah pandangan seperti itu akan terjadi pada para bapak2 dan ibu2 saat ini? Wallahualam....
Semoga kita semua dapat menjalani kehidupan ini sesuai aturan-Nya sehingga kita akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat, Aamiin..aamiin..aamiin ya robbal alamin..
(Gantira, 24 Februari 2017, Bogor)
Subscribe to:
Posts (Atom)
