Sunday, 7 May 2017
"Ketika Ujian itu Datang"
Saat manusia diciptakan, sejak saat itulah ujian akan selalu datang kepadanya.
Nabi Adam diuji dengan dilarang oleh Allah untuk mendekati buah khaldi, namun karena bujuk rayu iblis yang mengatakan bahwa orang yang memakannya akan membuat dia abadi di Syurga. Maka ketika Nabi Adam memakannya, nabi Adam malah terusir dari syurga.
Nabi Ibrahim diuji oleh Allah untuk meninggalkan istrinya, Siti Hajar dan putranya, Ismail di daerah gurun yang tandus tanpa ada setetes pun air. Namun karena Nabi Ibrahim dan Siti Hajar mengikuti perintah Allah, maka dianugrahilah air zam-zam yang sampai saat ini masih terus mengalir bahkan bisa dibawa pulang oleh para jemaah haji dari seluruh pelosok dunia.
Bani Israel diuji oleh Allah dengan dilarang menangkap ikan pada hari Sabtu yang ikannya tiba2 berlimpah ruah. Namun karena mereka mengingkari-Nya maka mereka pun berubah menjadi kera.
Para sahabat diuji oleh Allah untuk berhijrah ke kota Madinah, walaupun diantara mereka ada yang harus meninggalkan hartanya yang berlimpah di Mekah. Namun karena mereka taat pada Allah dan Rasul-Nya, maka pada selang waktu kemudian kemenangan demi kemenangan bersama mereka bahkan hampir kekuasaan di seluruh dunia berada digenggaman tangan mereka.
Sungguh, selama kita masih bernafas maka ujian itu akan selalu datang pada kita. Saat kita berlimpah harta, maka kita akan diuji apakah kita akan bersyukur dengan menzakatkan harta yang ada, atau malah kita kufur dengan menumpuk harta yang ada tanpa sedikit pun diberikan pada orang2 miskin yang memang memiliki hak harta itu?
Saat kita disempitkan harta, maka kita akan diuji apakah kita tetap bersabar dengan tetap menjaga diri dari harta yang haram atau kita berputus asa dengan mencoba meraih harta yang bukan haknya?
Saat kita diberikan kesehatan, kita akan diuji apakah kita bersyukur dengan memperbanyak ibadah kepada-Nya, atau malah kita kufur dengan memperbanyak kemaksiatan kepada-Nya?
Begitu juga saat kita dalam kondisi sakit, kita akan diuji apakah kita akan tetap sabar dengan memperbanyak dzikir dan istighfar, atau kita malah kufur dengan menggerutu, marah2 dan memaki2 nasib?
Sungguh, apapun kondisi kita pada dasarnya kita sedang diuji. Apakah kita menghadapinya dengan cara yang Allah perintahkan atau sebaliknya.
Sungguh, selamat dan beruntunglah orang yang taat para perintah-Nya dan menjauhi semua larangan-Nya. Serta celaka dan binasalah orang yang melanggar semua aturan-Nya. Karena pada dasarnya semua hukum-Nya adalah sebuah kenikmatan yang sempurna untuk kebaikan kita sebagai makhluk-Nya.
"Kamu benar-benar akan diuji pada hartamu dan dirimu" (Qs. Âli ‘Imrân/3: 186)
Rasulullah saw bersabda: "Sesungguhnya besarnya pahala tergantung dengan besarnya ujian. Sesungguhnya, apabila Allâh mencintai suatu kaum, maka Dia akan mengujinya. Siapa yang ridha dengan ujian itu, maka ia akan mendapat keridhaan-Nya. Siapa yang membencinya maka ia akan mendapatkan kemurkaan-Nya." (HR. at-Tirmidzi no. 2396 dan Ibnu Mâjah no. 4031)
“Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu Jadi agama bagimu.” (Al-Maaidah: 3)
(Gantira, 7 Mei 2017, Bogor)
Tuesday, 25 April 2017
"Metamorfosa pada Usia 40 Tahun"
= Sebelum usia 40 tahun =
Definisi kebahagiaan adalah menjadi juara kelas, mendapatkan sekolah terbaik di dalam dan luar negeri, punya jabatan, punya uang banyak, jalan2 naik pesawat ke berbagai daerah, nginep di hotel2 mewah dan banyak lagi kesenangan yang mulai terbayang di khayalanku.
Sehingga orang2 yang diidolakan adalah Einstein, Newton, Bill Gate, Steve Jobs, Soekarno, serta para tokoh lainnya yang dianggap hebat oleh manusia saat ini. Sehingga semua biografi mereka aku lahap habis, sampai2 aku merasa bahwa aku adalah dia dan dia adalah aku.
Salah satu kata2 yang tertanam sangat mendalam dalam benakku adalah Kata2 Einstein dengan ungkapannya:
"Ilmu tanpa agama adalah lumpuh, agama tanpa ilmu adalah buta"
Aku dulu menganggap yang namanya ilmu adalah hanya seputar sains, teknologi dan cara memimpin suatu bangsa atau perusahaan besar sehingga hampir semua buku yang kutemui, saya beli dan saya baca sampai tuntas. Hingga koleksi buku2 yang kumiliki hampir 3 lemari penuh.
Akhirnya apa yang kuidam2kan dapat ku gapai juga, saat sma aku dapat peringkat terbaik, lalu masuk perguruan tinggi terbaik, lalu dapat pekerjaan di instansi yang kuidam2kan, lalu dapat sekolah lagi ke negeri lain, lalu dapat lagi jabatan, lalu mulai terbang ke berbagai daerah dengan pesawat maskapai terbaik di negeri ini, lalu mulai menginap di hotel2 yang kuanggap mewah, lalu dapat uang yang banyak sesuai yang kuimpikan dan banyak lagi lalu lalu lainnya..
Namun sayang, aku tidak menemukan kebahagiaan di situ, yang kudapatkan adalah kesibukan tanpa henti, keresahan yang tidak berkesudahan, kepeningan yang tidak tahu kapan ujung nya.
=Menjelang usia 40 tahun=
Bacaanku mulai bermetamorfosa pada al-quran dan tafsirnya, hadist dan penjelasannya serta buku2 karangan para ulama terdahulu. Hingga koleksi bacaan baruku ini pun hampir menyeimbangkan koleksi buku2 sebelumnya.
Dari hasil bacaan pada buku2
ku yang baru tersebut, baru kusadari bahwa ternyata pernyataan Einstein itu salah total.
Justru yang namanya ilmu itu adalah ilmu agama, sedangkan pengetahuan lainnya hanyalah sebagai salah satu sarana saja untuk membuat kita lebih paham akan ilmu agama. Sehingga aku pun memiliki kata2 mutiara sendiri, yaitu "Hidup tanpa ilmu agama akan menjadi buta dan lumpuh"
Salah satu ayat al-qur'an yang tertanam mendalam dalam jiwaku menggantikan kata2 Einstein adalah:
“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya. Dan memberi-nya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (Ath-Thalaq: 2-3).
Ternyata hanya dengan bermodal taqwa, aku bisa keluar dari setiap permasalahan yang ada serta mendapatkan semua rizqi yang ada baik itu rizqi kebahagiaan ataupun rizqi lainnya.
Akhirnya akupun ingin mengamalkan kata taqwa ini dalam seluruh hidupku secara kaffah, dengan kata lain harus membuang jauh2 teori lama yang sudah tidak akurat dan tidak sesuai lagi dengan apa yang sebenarnya kuinginkan.
Namun untuk menempuh semua itu, banyak sekali tantangan yang harus kuhadapi, baik itu dari tempat kerjaku maupun keluarga besarku. Karena salah satu keputusan terbesar yang harus diambil adalah resign, meninggalkan semua hal yang sebagian besar orang menganggapnya menyenangkan.
Akhirnya dengan dukungan kuat dari belahan jiwaku, aku putuskan untuk resign dan memulai dengan kehidupan baru, yaitu kehidupan tanpa harta subhat, tanpa riba, tanpa aktifitas basa basi, serta tanpa tanpa lainnya yang menyerempet dengan aturan-Nya.
=Setelah 40 tahun berjalan=
Setelah hampir 3 tahun berjalan dari resign, sesuai dugaanku semula yaitu pemasukan tidak lagi seperti dulu, tidak ada lagi nginep di hotel, tidak ada lagi makan2 di restoran, tidak ada lagi terbang ke sana ke mari, dan banyak lagi tidak ada lagi tidak ada lagi lainnya.
Namun walaupun demikian, ada sesuatu yang bertambah dalam hidupku, yaitu ketenangan, ketentraman, kebahagiaan, keantusiasan, semangat hidup dan kebersamaan dalam keluarga.
Dulu, yang namanya hari itu adalah hari yang memusingkan. Sedangkan hari bahagia itu hanya pada hari Sabtu, minggu atau hari libur, dan itupun seringkali terganggu pada saat ada telepon mendadak dari atasan untuk segera terbang ke kota lain.
Sekarang, yang namanya hari bahagia adalah tiap hari, tidak ada lagi hari yang memusingkan. Kalau pun ada hari yang memusingkan, tindakannya cukuplah memohon kepada-Nya dan solusi tiba2 muncul dari tempat tak terduga.
Hari2 kebahagianku seringkali diisi dengan selalu mengajak anak2 untuk shalat fardhu berjamaah di mesjid, mengajarkan mereka untuk mempraktekkan bagaimana puasa sunat, shalat tahajud, shalat dhuha serta mendengarkan ceramah2 yang dengan mudah dapat di download dari Youtube.
Ternyata, kebahagiaan itu bukanlah didapat dengan cara berusaha memiliki semua fasilitas yang ada di dunia ini untuk kita gunakan, tapi kebahagiaan itu didapat dengan cara berusaha menanamkan ketakwaan dalam hati kita untuk kita amalkan.
Aku pun teringat akan salah satu firman-Nya:
“Sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa:
“Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.” (QS. Al-Ahqaf: 15)
Aamiin..aamiin..aamiin ya robbal alamiin..
(Gantira, 26 April 2017, Bogor)
Definisi kebahagiaan adalah menjadi juara kelas, mendapatkan sekolah terbaik di dalam dan luar negeri, punya jabatan, punya uang banyak, jalan2 naik pesawat ke berbagai daerah, nginep di hotel2 mewah dan banyak lagi kesenangan yang mulai terbayang di khayalanku.
Sehingga orang2 yang diidolakan adalah Einstein, Newton, Bill Gate, Steve Jobs, Soekarno, serta para tokoh lainnya yang dianggap hebat oleh manusia saat ini. Sehingga semua biografi mereka aku lahap habis, sampai2 aku merasa bahwa aku adalah dia dan dia adalah aku.
Salah satu kata2 yang tertanam sangat mendalam dalam benakku adalah Kata2 Einstein dengan ungkapannya:
"Ilmu tanpa agama adalah lumpuh, agama tanpa ilmu adalah buta"
Aku dulu menganggap yang namanya ilmu adalah hanya seputar sains, teknologi dan cara memimpin suatu bangsa atau perusahaan besar sehingga hampir semua buku yang kutemui, saya beli dan saya baca sampai tuntas. Hingga koleksi buku2 yang kumiliki hampir 3 lemari penuh.
Akhirnya apa yang kuidam2kan dapat ku gapai juga, saat sma aku dapat peringkat terbaik, lalu masuk perguruan tinggi terbaik, lalu dapat pekerjaan di instansi yang kuidam2kan, lalu dapat sekolah lagi ke negeri lain, lalu dapat lagi jabatan, lalu mulai terbang ke berbagai daerah dengan pesawat maskapai terbaik di negeri ini, lalu mulai menginap di hotel2 yang kuanggap mewah, lalu dapat uang yang banyak sesuai yang kuimpikan dan banyak lagi lalu lalu lainnya..
Namun sayang, aku tidak menemukan kebahagiaan di situ, yang kudapatkan adalah kesibukan tanpa henti, keresahan yang tidak berkesudahan, kepeningan yang tidak tahu kapan ujung nya.
=Menjelang usia 40 tahun=
Bacaanku mulai bermetamorfosa pada al-quran dan tafsirnya, hadist dan penjelasannya serta buku2 karangan para ulama terdahulu. Hingga koleksi bacaan baruku ini pun hampir menyeimbangkan koleksi buku2 sebelumnya.
Dari hasil bacaan pada buku2
ku yang baru tersebut, baru kusadari bahwa ternyata pernyataan Einstein itu salah total.
Justru yang namanya ilmu itu adalah ilmu agama, sedangkan pengetahuan lainnya hanyalah sebagai salah satu sarana saja untuk membuat kita lebih paham akan ilmu agama. Sehingga aku pun memiliki kata2 mutiara sendiri, yaitu "Hidup tanpa ilmu agama akan menjadi buta dan lumpuh"
Salah satu ayat al-qur'an yang tertanam mendalam dalam jiwaku menggantikan kata2 Einstein adalah:
“Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan jalan keluar baginya. Dan memberi-nya rizki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (Ath-Thalaq: 2-3).
Ternyata hanya dengan bermodal taqwa, aku bisa keluar dari setiap permasalahan yang ada serta mendapatkan semua rizqi yang ada baik itu rizqi kebahagiaan ataupun rizqi lainnya.
Akhirnya akupun ingin mengamalkan kata taqwa ini dalam seluruh hidupku secara kaffah, dengan kata lain harus membuang jauh2 teori lama yang sudah tidak akurat dan tidak sesuai lagi dengan apa yang sebenarnya kuinginkan.
Namun untuk menempuh semua itu, banyak sekali tantangan yang harus kuhadapi, baik itu dari tempat kerjaku maupun keluarga besarku. Karena salah satu keputusan terbesar yang harus diambil adalah resign, meninggalkan semua hal yang sebagian besar orang menganggapnya menyenangkan.
Akhirnya dengan dukungan kuat dari belahan jiwaku, aku putuskan untuk resign dan memulai dengan kehidupan baru, yaitu kehidupan tanpa harta subhat, tanpa riba, tanpa aktifitas basa basi, serta tanpa tanpa lainnya yang menyerempet dengan aturan-Nya.
=Setelah 40 tahun berjalan=
Setelah hampir 3 tahun berjalan dari resign, sesuai dugaanku semula yaitu pemasukan tidak lagi seperti dulu, tidak ada lagi nginep di hotel, tidak ada lagi makan2 di restoran, tidak ada lagi terbang ke sana ke mari, dan banyak lagi tidak ada lagi tidak ada lagi lainnya.
Namun walaupun demikian, ada sesuatu yang bertambah dalam hidupku, yaitu ketenangan, ketentraman, kebahagiaan, keantusiasan, semangat hidup dan kebersamaan dalam keluarga.
Dulu, yang namanya hari itu adalah hari yang memusingkan. Sedangkan hari bahagia itu hanya pada hari Sabtu, minggu atau hari libur, dan itupun seringkali terganggu pada saat ada telepon mendadak dari atasan untuk segera terbang ke kota lain.
Sekarang, yang namanya hari bahagia adalah tiap hari, tidak ada lagi hari yang memusingkan. Kalau pun ada hari yang memusingkan, tindakannya cukuplah memohon kepada-Nya dan solusi tiba2 muncul dari tempat tak terduga.
Hari2 kebahagianku seringkali diisi dengan selalu mengajak anak2 untuk shalat fardhu berjamaah di mesjid, mengajarkan mereka untuk mempraktekkan bagaimana puasa sunat, shalat tahajud, shalat dhuha serta mendengarkan ceramah2 yang dengan mudah dapat di download dari Youtube.
Ternyata, kebahagiaan itu bukanlah didapat dengan cara berusaha memiliki semua fasilitas yang ada di dunia ini untuk kita gunakan, tapi kebahagiaan itu didapat dengan cara berusaha menanamkan ketakwaan dalam hati kita untuk kita amalkan.
Aku pun teringat akan salah satu firman-Nya:
“Sehingga apabila dia telah dewasa dan umurnya sampai empat puluh tahun ia berdoa:
“Ya Tuhanku, tunjukilah aku untuk mensyukuri nikmat Engkau yang telah Engkau berikan kepadaku dan kepada ibu bapakku dan supaya aku dapat berbuat amal yang saleh yang Engkau ridai; berilah kebaikan kepadaku dengan (memberi kebaikan) kepada anak cucuku. Sesungguhnya aku bertobat kepada Engkau dan sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri”.” (QS. Al-Ahqaf: 15)
Aamiin..aamiin..aamiin ya robbal alamiin..
(Gantira, 26 April 2017, Bogor)
Thursday, 16 March 2017
"Become Someone"
Banyak sekali orang yang memiliki cita2 besar untuk menjadi 'Someone' yang memiliki jabatan pada suatu instansi atau pemerintahan, baik itu menjadi Direktur, Menteri, bahkan Presiden.
Atau bercita2 menjadi 'Someone' lain yang menurutnya indah dan menyenangkan, baik itu menjadi orang kaya, memiliki wajah cantik/tampan, ilmuwan, olahragawan, selebritis atau menjadi 'Someone2' lainnya yang menurutnya akan membuat dia bahagia dan dipandang hebat orang lain.
Padahal menjadi 'Someone' itu bukanlah sesuatu yang perlu dibanggakan, tetapi menjadi 'Someone' itu adalah tanggung jawab yang harus dia emban dengan sebaik mungkin sesuai dengan amanah yang dipegangnya.
Sesungguhnya setiap orang akan diminta pertanggungjawaban sesuai apa yang telah diamanatkan padanya. Bila dia sebagai pemimpin sebuah negara maka dia akan diminta pertanggung jawaban terhadap apa yang dipimpinnya. Bila dia sebagai orang kaya, maka dia akan diminta pertanggungjawaban atas kekayaannya. Bahkan seorang suami akan diminta pertanggung jawaban atas keluarga yang dipimpinnya.
Sesungguhnya segala sesuatu itu diciptakan sesuai amanat dan tujuan dari diciptakannya sesuatu itu.
Dan tahukah kita apakah tujuan diciptakannya manusia?
Sesungguhnya Allah swt berfirman:
ﻭَﻣَﺎ ﺧَﻠَﻘْﺖُ ﺍﻟْﺠِﻦَّ ﻭَﺍﻟْﺈِﻧْﺲَ ﺇِﻟَّﺎ ﻟِﻴَﻌْﺒُﺪُﻭﻥِ
“ Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan untuk beribadah kepada-Ku (saja) ”. ( Qs. Adz-Dzaariyaat :56)
Jadi, diciptakannya kita di dunia ini semata2 untuk beribadah kepada-Nya, apapun kondisi yang terjadi pada kita saat ini atau yang akan datang. Sesungguhnya yang namanya ibadah adalah segala aktifitas kita yang dikerjakan sesuai dengan yang Dia inginkan. Namun bila aktifitas kita berlawanan dari apa yang diinginkan-Nya, maka pada dasarnya kita telah melenceng dari tujuan awal diciptakannya kita.
Bila seseorang saat ini menjadi seorang pemimpin negara, maka di akhirat kelak dia akan diminta pertanggungjawaban di hadapan-Nya. Apakah dia telah mengatur negerinya sesuai yang Dia kehendaki atau tidak.
Jika seseorang saat ini dalam kondisi kaya raya, maka dia akan diminta pertanggungjawaban oleh-Nya. Apakah kekayaannya disalurkan sesuai yang Dia kehendaki atau tidak.
Bahkan bila seseorang saat ini menjadi seorang suami, istri, orang tua, anak, atau sebagai seorang tetangga dari sebuah komunitas. Maka dia akan diminta pertanggungjawaban terhadap posisinya saat ini.
Untuk itu, yang namanya menjadi 'Someone' adalah menjadi seorang hamba yang patuh dan melakukan segala aktifitas sesuai aturan-Nya, sebagai apapun dan dalam kondisi apapun kita saat ini.
Bila saat ini kita mendapatkan kondisi memperoleh kenikmatan, maka untuk menjadi 'Someone' adalah dengan cara banyak bersyukur. Sebaliknya bila kondisi kita saat ini memperoleh cobaan yang tidak sesuai dengan yang kita harapkan maka untuk menjadi 'Someone' adalah dengan cara banyak bersabar.
Ingatlah Sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam:
ﻋَﺠَﺒًﺎ ِﻷَﻣْﺮِ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻦِ ﺇِﻥَّ ﺃَﻣْﺮَﻩُ ﻛُﻠَّﻪُ ﺧَﻴْﺮٌ، ﻭَﻟَﻴْﺲَ ﺫَﺍﻙَ ﻷَِﺣَﺪٍ ﺇِﻻَّ ﻟِﻠْﻤُﺆْﻣِﻦِ : ﺇِﻥْ ﺃَﺻَﺎﺑَﺘْﻪُ ﺳَﺮَّﺍﺀُ ﺷَﻜَﺮَ ﻓَﻜَﺎﻥَ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻟَﻪُ، ﻭَﺇِﻥْ ﺃَﺻَﺎﺑَﺘْﻪُ ﺿَﺮَّﺍﺀُ ﺻَﺒَﺮَ ﻓَﻜَﺎﻥَ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻟَﻪُ .
“Sungguh menakjubkan urusan seorang Mukmin. Sungguh semua urusannya adalah baik, dan yang demikian itu tidak dimiliki oleh siapa pun kecuali oleh orang Mukmin, yaitu jika ia mendapatkan kegembiraan ia bersyukur dan itu suatu kebaikan baginya. Dan jika ia mendapat musibah, ia bersabar dan itu pun suatu kebaikan baginya” (HR. Muslim (no. 2999 (64)))
Oleh karena itu, marilah kita pelajari Al-quran dan Hadist serta berusaha mengamalkannya, agar kita semua menjadi 'Someone' yang dikehendaki oleh-Nya, apapun kondisi kita saat ini.
(Gantira, 16 Maret 2017, Bogor)
Thursday, 9 March 2017
"Hati yang Tergoda Karena Someone"
Banyak sekali kejadian, dimana seseorang sudah bertunangan bahkan akan mengadakan akad nikah, tapi tiba2 salah satu calon memutuskan secara sepihak, hanya karena dia menemukan "Someone" lain yang tiba2 memasuki hatinya.
Banyak juga peristiwa sepasang suami istri yang bertengkar hebat bahkan sampai terjadi perceraian, disebabkan oleh salah satu pihak yang terpikat oleh "Someone" yang dikenalnya di perjalanan atau bertemu kembali dengan orang yang dulu pernah disukainya.
Dan banyak lagi kejadian2 lainnya yang menyebabkan situasi yang sebelumnya damai menjadi berantakan hanya karena "Someone" ini.
Lalu adakah solusi yang bisa dilakukan agar jeratan "Someone" ini bisa terhindar dari hati kita?
Sesungguhnya salah satu penyebab hati kita terpikat oleh "Someone" adalah karena kita tidak bisa menjaga pandangan kita. Ingatlah bahwa salah satu panah syetan berada pada mata kita. Dan jika kita membiarkan mata kita bebas diumbar maka yang akan terjadi panah2 syetan akan terus menusuk hati kita hingga dia terluka dan terpaut pada "Someone" tersebut.
Jadi salah satu cara untuk menghindari jeratan "Someone" ini adalah dengan menjaga pandangan kita, menjaga mata kita dan menjaga hati kita.
Sebagaimana firman-Nya:
ﻗُﻞْ ﻟِﻠْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﻳَﻐُﻀُّﻮﺍ ﻣِﻦْ ﺃَﺑْﺼَﺎﺭِﻫِﻢْ ﻭَﻳَﺤْﻔَﻈُﻮﺍ ﻓُﺮُﻭﺟَﻬُﻢْ ﺫَﻟِﻚَ ﺃَﺯْﻛَﻰ ﻟَﻬُﻢْ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺧَﺒِﻴﺮٌ ﺑِﻤَﺎ ﻳَﺼْﻨَﻌُﻮﻥَ
” Katakanlah kepada laki-laki yang beriman,’Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’” (QS. An-Nur [24] : 30).
Dan juga dalam sabda Rasulullah saw:
ﺍﻟﻨَّﻈْﺮَﺓُ ﺳَﻬْﻢٌ ﻣِﻦْ ﺳِﻬَﺎﻡِ ﺇِﺑْﻠِﻴﺲَ ﻣَﺴْﻤُﻮﻣَﺔٌ ﻓَﻤَﻦْ ﺗَﺮَﻛَﻬَﺎ ﻣِﻦْ ﺧَﻮْﻑِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺃَﺛَﺎﺑَﻪُ ﺟَﻞَّ ﻭَﻋَﺰَّ ﺇِﻳﻤَﺎﻧًﺎ ﻳَﺠِﺪُ ﺣَﻠَﺎﻭَﺗَﻪُ ﻓِﻲ ﻗَﻠْﺒِﻪِ
” Memandang wanita adalah panah beracun dari berbagai macam panah iblis. Barangsiapa yang meninggalkannya karena takut kepada Allah, maka Allah akan memberi balasan iman kepadanya yang terasa manis baginya” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak no. 7875).
Lalu bagaimanakah agar kita bisa selamat, jika "Someone" sudah terlanjur melukai dan memasuki hati kita?
Seandainya hati kita sudah terluka karena jeratan panah tersebut sehingga kita sulit melupakan "Someone", maka solusi yang bisa dilakukan adalah berdoa kepada-Nya agar Dia membolak-balikkan hati kita agar hati kita sembuh dari luka yang ada hingga akhirnya kita bisa melupakannya.
Dalam salah satu firman-Nya,
ﺍﺩْﻋُﻮﻧِﻲ ﺃَﺳْﺘَﺠِﺐْ ﻟَﻜُﻢْ
“Berdoalah (mintalah) kepadaku, niscaya aku kabulkan untukmu”. (QS. Al-Mukmin : 60)
Salah satu doa yang bisa kita panjatkan agar kita terlepas dari kesesatan dan jeratan "Someone" adalah dengan membaca doa:
ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻟَﺎ ﺗُﺰِﻍْ ﻗُﻠُﻮﺑَﻨَﺎ ﺑَﻌْﺪَ ﺇِﺫْ ﻫَﺪَﻳْﺘَﻨَﺎ ﻭَﻫَﺐْ ﻟَﻨَﺎ ﻣِﻦْ ﻟَﺪُﻧْﻚَ ﺭَﺣْﻤَﺔً ﺇِﻧَّﻚَ ﺃَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻮَﻫَّﺎﺏُ
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (QS. Ali Imran: 7)
Semoga kita bisa menjaga mata kita dari memandang hal-hal yang tidak diridhai-Nya..Aamiin..aamiin..aamiin ya robbal alamiin
(Gantira, 9 Maret 2017, Bogor)
Banyak juga peristiwa sepasang suami istri yang bertengkar hebat bahkan sampai terjadi perceraian, disebabkan oleh salah satu pihak yang terpikat oleh "Someone" yang dikenalnya di perjalanan atau bertemu kembali dengan orang yang dulu pernah disukainya.
Dan banyak lagi kejadian2 lainnya yang menyebabkan situasi yang sebelumnya damai menjadi berantakan hanya karena "Someone" ini.
Lalu adakah solusi yang bisa dilakukan agar jeratan "Someone" ini bisa terhindar dari hati kita?
Sesungguhnya salah satu penyebab hati kita terpikat oleh "Someone" adalah karena kita tidak bisa menjaga pandangan kita. Ingatlah bahwa salah satu panah syetan berada pada mata kita. Dan jika kita membiarkan mata kita bebas diumbar maka yang akan terjadi panah2 syetan akan terus menusuk hati kita hingga dia terluka dan terpaut pada "Someone" tersebut.
Jadi salah satu cara untuk menghindari jeratan "Someone" ini adalah dengan menjaga pandangan kita, menjaga mata kita dan menjaga hati kita.
Sebagaimana firman-Nya:
ﻗُﻞْ ﻟِﻠْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﻳَﻐُﻀُّﻮﺍ ﻣِﻦْ ﺃَﺑْﺼَﺎﺭِﻫِﻢْ ﻭَﻳَﺤْﻔَﻈُﻮﺍ ﻓُﺮُﻭﺟَﻬُﻢْ ﺫَﻟِﻚَ ﺃَﺯْﻛَﻰ ﻟَﻬُﻢْ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺧَﺒِﻴﺮٌ ﺑِﻤَﺎ ﻳَﺼْﻨَﻌُﻮﻥَ
” Katakanlah kepada laki-laki yang beriman,’Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’” (QS. An-Nur [24] : 30).
Dan juga dalam sabda Rasulullah saw:
ﺍﻟﻨَّﻈْﺮَﺓُ ﺳَﻬْﻢٌ ﻣِﻦْ ﺳِﻬَﺎﻡِ ﺇِﺑْﻠِﻴﺲَ ﻣَﺴْﻤُﻮﻣَﺔٌ ﻓَﻤَﻦْ ﺗَﺮَﻛَﻬَﺎ ﻣِﻦْ ﺧَﻮْﻑِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺃَﺛَﺎﺑَﻪُ ﺟَﻞَّ ﻭَﻋَﺰَّ ﺇِﻳﻤَﺎﻧًﺎ ﻳَﺠِﺪُ ﺣَﻠَﺎﻭَﺗَﻪُ ﻓِﻲ ﻗَﻠْﺒِﻪِ
” Memandang wanita adalah panah beracun dari berbagai macam panah iblis. Barangsiapa yang meninggalkannya karena takut kepada Allah, maka Allah akan memberi balasan iman kepadanya yang terasa manis baginya” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak no. 7875).
Lalu bagaimanakah agar kita bisa selamat, jika "Someone" sudah terlanjur melukai dan memasuki hati kita?
Seandainya hati kita sudah terluka karena jeratan panah tersebut sehingga kita sulit melupakan "Someone", maka solusi yang bisa dilakukan adalah berdoa kepada-Nya agar Dia membolak-balikkan hati kita agar hati kita sembuh dari luka yang ada hingga akhirnya kita bisa melupakannya.
Dalam salah satu firman-Nya,
ﺍﺩْﻋُﻮﻧِﻲ ﺃَﺳْﺘَﺠِﺐْ ﻟَﻜُﻢْ
“Berdoalah (mintalah) kepadaku, niscaya aku kabulkan untukmu”. (QS. Al-Mukmin : 60)
Salah satu doa yang bisa kita panjatkan agar kita terlepas dari kesesatan dan jeratan "Someone" adalah dengan membaca doa:
ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻟَﺎ ﺗُﺰِﻍْ ﻗُﻠُﻮﺑَﻨَﺎ ﺑَﻌْﺪَ ﺇِﺫْ ﻫَﺪَﻳْﺘَﻨَﺎ ﻭَﻫَﺐْ ﻟَﻨَﺎ ﻣِﻦْ ﻟَﺪُﻧْﻚَ ﺭَﺣْﻤَﺔً ﺇِﻧَّﻚَ ﺃَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻮَﻫَّﺎﺏُ
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (QS. Ali Imran: 7)
Semoga kita bisa menjaga mata kita dari memandang hal-hal yang tidak diridhai-Nya..Aamiin..aamiin..aamiin ya robbal alamiin
(Gantira, 9 Maret 2017, Bogor)
Thursday, 23 February 2017
"Someone yang Disukai sekaligus Dibenci"
Tema tentang apakah yang paling hangat dan paling disukai oleh obrolan para bapak2? Jawabannya adalah tema tentang "Someone".
Tema tentang apa juga yang paling dingin dan dibenci oleh para ibu2? Jawabannya juga sama yaitu tentang "Someone".
Para bapak2 begitu semangat sekali kalau membahas tentang "Someone". Mereka umumnya tiba2 merasa menjadi sangat menyunah bila membahas tentang ini. Satu dengan yang lain saling menyemangati untuk bisa melakukan sunnah yang satu ini.
Pada saat ada salah satu teman obrolannya telah melakukan sunnah ini, yaitu telah memiliki "Someone", maka sebagian besar teman yang lain pada memujinya bahkan banyak diantara mereka yang bertanya bagaimana tip2 nya agar tidak ketahuan oleh orang yang di rumah.
Sebaliknya, para ibu2 sangat malas kalau membahas tentang "Someone" ini. Satu dengan yang lain seringkali saling mematahkan semangat kalau nampak ada indikasi para suaminya akan memiliki "Someone" ini.
Pada saat ada salah satu teman obrolan ibu2 ini memiliki 'Someone', satu dengan yang lain saling menyatakan bela sungkawa dan diantara mereka saling mendoakan agar tidak mengalami apa yang dialami oleh teman yang telah memiliki 'Someone', seakan2 dia telah mendapatkan musibah yang sangat besar.
Pertanyaannya, kenapa tema yang sama tapi mendapatkan respon yang berbeda bahkan bertolak belakang diantara pasangan hidup ini?
Jawabannya karena keduanya memposisikan pada pandangan yang berbeda.
Para bapak2 umumnya memandang "Someone" ini dari sudut pandang kesenangan bukan tanggung jawab. Sehingga pada pandangannya, bila memiliki "Someone" hidupnya akan semakin menyenangkan.
Sedangkan para ibu2 memandang "Someone" dari sudut pandang rival atau saingan bukan kerjasama. Sehingga pada pandangannya bila memiliki "Someone" hidupnya akan semakin sengsara.
Dan pada kenyataan kehidupan saat ini, memang itulah yang terjadi sehingga kehidupan keluarga yang pertama dibentuk menjadi berantakan bukan semakin rukun.
Dimana banyak dari para bapak2 yang memiliki "Someone" lagi hanya memikirkan kesenangan tanpa bisa berbuat adil pada istri yang di rumah serta pada 'Someone'. Sehingga sebagian besar harta dan kehadiran dirinya lebih dia limpahkan pada "Someone" daripada pada istri pertamanya. Sehingga membuat para istri yang pertama menjadi terdholimi dan banyak lebih memilih untuk berpisah daripada terus bersaing dengan 'Someone'.
Namun bila saja para bapak2 dan ibu2 merubah sudut pandan masing2 maka kemungkinan besar yang terjadi akan berbeda.
Dimana para bapak2 memandang bahwa memiliki "Someone" adalah memiliki beban tanggung jawab yang semakin besar. Sehingga dirinya harus meningkatkan kemampuan yang dimilikinya baik dari segi materi maupun dari segi energi.
Sehingga para bapak2 harus meningkatkan penghasilannya minimal dua kali lipat dari sebelumnya sehingga harta yang diberikan pada istri pertamanya tidak berkurang.
Disamping itu juga para bapak2 harus meningkatkan tenaganya minimal dua kali lipat sehingga pergaulannya pada istri pertamanya juga tidak berkurang.
Begitu juga bila para ibu2 memandang "Someone" ini sebagai bentuk kerjasama dalam menyenangkan suaminya. Sehingga beban yang ditanggungnya akan semakin ringan karena bagaimanapun juga sesuatu yang dilakukan dengan bersama2 akan lebih mudah dibandingkan bila dilakukan dengan seorang diri.
Bila pandangan bapak2 dan ibu2 sudah berubah sebagaimana pandangan di atas, maka kemungkinan besar para ibu2 akan mendorong dan menyemangati agar para bapak2 memiliki "Someone". Sebaliknya para bapak2 akan berat serta ketakutan bila memilikinya karena beban yang ditanggungnya akan semakin berat.
Ingatlah salah satu hadis:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam , bersabda,
ﻣَﻦْ ﻛَﺎﻥَ ﻟَﻪُ ﺍﻣْﺮَﺃَﺗَﺎﻥِ ﻓَﻤَﺎﻝَ ﺇِﻟَﻰ ﺇِﺣْﺪَﺍﻫُﻤَﺎ ﺟَﺎﺀَ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﻭَﺷِﻘُّﻪُ ﻣَﺎﺋِﻞٌ
“Siapa saja orangnya yang memiliki dua istri lalu lebih cenderung kepada salah satunya, pada hari kiamat kelak ia akan datang dalam keadaan sebagian tubuhnya miring.”
(Hr Abu Dawud (no. 2133), an-Nasa’i (2/157), Tirmidzi (1/213))
Kapankah pandangan seperti itu akan terjadi pada para bapak2 dan ibu2 saat ini? Wallahualam....
Semoga kita semua dapat menjalani kehidupan ini sesuai aturan-Nya sehingga kita akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat, Aamiin..aamiin..aamiin ya robbal alamin..
(Gantira, 24 Februari 2017, Bogor)
Saturday, 28 January 2017
"Yang Sangat Kita Butuhkan adalah Petunjuk-Nya"
Banyak orang yang berpendapat bahwa dalam menghadapi persoalan kehidupan ini memerlukan pengalaman yang luas. Namun ada satu hal yang harus kita sadari bahwa situasi dan kondisi terus berubah. Sehingga orang yang berpengalaman pun belum tentu bisa menghadapi situasi yang sama sekali berbeda dengan pengalaman yang pernah dialaminya.
Menyadari bahwa situasi dan kondisi yang akan terus berubah, dimana kondisi masa yang akan datang belum tentu sama dengan kondisi masa lalu maka yang sanat kita butuhkan agar hidup kita berjalan sesuai aturan adalah petunjuk-Nya.
Ingatlah kisah Ali bin Abi Thalib, beliau adalah salah seorang sahabat yang terkenal akan kecerdasannya, kepintarannya dan juga keberaniannya.
Ali bin Abi Thalib selalu menjadi penasehat pada masa khalifah sebelumnya, baik pada masa Abu Bakar Shidiq, Umar bin Khatab maupun Usman bin Affan. Jadi kalau soal kecerdasan dan pengalaman, Ali bin Abi Thalib sudah menguasainya.
Namun pertanyaannya, kenapa pada masa kepemimpinan beliau malah terjadi kekacauan yang luar biasa, sehingga pernah terjadi perang saudara?
Jawabannya adalah karena situasi sudah jauh berubah. Pada saat kepemimpinan Ali, telah terjadi banyak fitnah. Sehingga siapapun yang memimpinnya, walaupun dia setingkat Abu Bakar atau Umar bin Khatab akan sulit menghadapi situasi yang ada.
Sehingga pada saat ada salah satu rakyatnya bertanya sekaligus menyindir Ali dengan pertanyaan kenapa pada Saat pemerintah Umar bin Khatab, pemerintahan aman dan tentram, sedangkan pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib situasi sangat kacau. Dengan cerdasnya Ali menjawab bahwa pada masa pemerintahan Umar bin Khatab, kualitas rakyatnya seperti kualitas Ali, sehingga kekhalifahan dalam keadaan aman dan tentram. Sedangkan pada masa pemerintahan Ali, kualitas rakyatnya seperti kualitas orang yang bertanya, sehingga wajar saja situasi kacau balau.
Begitu juga dengan situasi pemerintahan di negeri kita saat ini. Mungkin ada yang berpendapat bahwa pemerintahannya enak seperti pemerintahan Soeharto dulu. Namun ada satu hal yang kurang disadari dengan pernyataan tersebut. Sekarang situasinya jauh berbeda dengan pemerintahan orde baru dulu. Dimana situasi dan kondisi aturan, kualitas rakyat dan wakilnya di DPR serta kebebasan yang ada saat ini jauh berbeda dengan situasi Orde Baru. Seandainya Soeharto menjadi memimpin kembali dengan situasi yang yang terjadi saat ini, belum tentu dia pun bisa mengatasinya.
Jadi kesimpulannya adalah bahwa dalam menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi di masa yang akan datang, kita tidak bisa mengandalkan hanya pengalaman saja. Karena bisa jadi situasi yang akan datang akan jauh daripada situasi saat ini dan masa lalu. Sehingga agar kita bisa menghadapinya nanti dengan lancar, minimal kita selamat di kehidupan akhirat nanti maka kita harus senantiasa meminta petunjuk-Nya.
Oleh karena itu, dalam surat al-fatihah yang senantiasa kita bacakan setiap shalat, ada satu ayat yang menunjukkan permohonan untuk meminta petunjuk-Nya, yaitu
ﺍﻫﺪِﻧَــــﺎ ﺍﻟﺼِّﺮَﺍﻁَ ﺍﻟﻤُﺴﺘَﻘِﻴﻢَ
“ (Ya Allah). Tunjukilah kami jalan yang lurus (shiratal mustaqim)"
Begitu juga dalam doa pagi dan sore, ada salah satu doa yang dianjurkan untuk kita baca:
ﻳَﺎ ﺣَﻲُّ ﻳَﺎ ﻗَﻴُّﻮﻡُ، ﺑِﺮَﺣْﻤَﺘِﻚَ ﺃَﺳْﺘَﻐِﻴﺚُ، ﺃَﺻْﻠِﺢْ ﻟِﻲ ﺷَﺄْﻧِﻲ ﻛُﻠَّﻪُ، ﻭَﻟَﺎ ﺗَﻜِﻠْﻨِﻲ ﺇِﻟَﻰ ﻧَﻔْﺴِﻲ ﻃَﺮْﻓَﺔَ ﻋَﻴْﻦٍ ﺃَﺑَﺪًﺍ .
“Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb yang berdiri sendiri (tidak butuh segala sesuatu), dengan rahmat-Mu aku meminta pertolongan. Perbaikilah segala urusanku dan jangan serahkan kepadaku sekalipun sekejap mata selamanya (tanpa mendapat pertolongan dari-Mu) ”
Begitu pun saat kita mau berpergian, dianjurkan untuk membaca:
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺗَﻮَﻛَﻠْﺖُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻻَﺣَﻮْﻝَ ﻭَﻻَﻗُﻮَّﺓَﺇِﻻَّﺏِ ﻟﻠَّﻪِ
"Dengan nama Allah, aku berserah diri kepada Allah, tiada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah."
Doa-doa di atas dianjurkan untuk selalu kita baca, karena kita memerlukan petunjuk dan pertolongan-Nya dalam menghadapi masa yang akan datang yang belum tentu dapat kita atasi.
Semoga kita senantiasa mendapatkan petunjuk-Nya sehingga kita selamat dunia dan akhirat, Aamiin..aamiin..aamiin ya robbal alamiin.
(Gantira, 28 Januari 2017, Bogor)
Menyadari bahwa situasi dan kondisi yang akan terus berubah, dimana kondisi masa yang akan datang belum tentu sama dengan kondisi masa lalu maka yang sanat kita butuhkan agar hidup kita berjalan sesuai aturan adalah petunjuk-Nya.
Ingatlah kisah Ali bin Abi Thalib, beliau adalah salah seorang sahabat yang terkenal akan kecerdasannya, kepintarannya dan juga keberaniannya.
Ali bin Abi Thalib selalu menjadi penasehat pada masa khalifah sebelumnya, baik pada masa Abu Bakar Shidiq, Umar bin Khatab maupun Usman bin Affan. Jadi kalau soal kecerdasan dan pengalaman, Ali bin Abi Thalib sudah menguasainya.
Namun pertanyaannya, kenapa pada masa kepemimpinan beliau malah terjadi kekacauan yang luar biasa, sehingga pernah terjadi perang saudara?
Jawabannya adalah karena situasi sudah jauh berubah. Pada saat kepemimpinan Ali, telah terjadi banyak fitnah. Sehingga siapapun yang memimpinnya, walaupun dia setingkat Abu Bakar atau Umar bin Khatab akan sulit menghadapi situasi yang ada.
Sehingga pada saat ada salah satu rakyatnya bertanya sekaligus menyindir Ali dengan pertanyaan kenapa pada Saat pemerintah Umar bin Khatab, pemerintahan aman dan tentram, sedangkan pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib situasi sangat kacau. Dengan cerdasnya Ali menjawab bahwa pada masa pemerintahan Umar bin Khatab, kualitas rakyatnya seperti kualitas Ali, sehingga kekhalifahan dalam keadaan aman dan tentram. Sedangkan pada masa pemerintahan Ali, kualitas rakyatnya seperti kualitas orang yang bertanya, sehingga wajar saja situasi kacau balau.
Begitu juga dengan situasi pemerintahan di negeri kita saat ini. Mungkin ada yang berpendapat bahwa pemerintahannya enak seperti pemerintahan Soeharto dulu. Namun ada satu hal yang kurang disadari dengan pernyataan tersebut. Sekarang situasinya jauh berbeda dengan pemerintahan orde baru dulu. Dimana situasi dan kondisi aturan, kualitas rakyat dan wakilnya di DPR serta kebebasan yang ada saat ini jauh berbeda dengan situasi Orde Baru. Seandainya Soeharto menjadi memimpin kembali dengan situasi yang yang terjadi saat ini, belum tentu dia pun bisa mengatasinya.
Jadi kesimpulannya adalah bahwa dalam menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi di masa yang akan datang, kita tidak bisa mengandalkan hanya pengalaman saja. Karena bisa jadi situasi yang akan datang akan jauh daripada situasi saat ini dan masa lalu. Sehingga agar kita bisa menghadapinya nanti dengan lancar, minimal kita selamat di kehidupan akhirat nanti maka kita harus senantiasa meminta petunjuk-Nya.
Oleh karena itu, dalam surat al-fatihah yang senantiasa kita bacakan setiap shalat, ada satu ayat yang menunjukkan permohonan untuk meminta petunjuk-Nya, yaitu
ﺍﻫﺪِﻧَــــﺎ ﺍﻟﺼِّﺮَﺍﻁَ ﺍﻟﻤُﺴﺘَﻘِﻴﻢَ
“ (Ya Allah). Tunjukilah kami jalan yang lurus (shiratal mustaqim)"
Begitu juga dalam doa pagi dan sore, ada salah satu doa yang dianjurkan untuk kita baca:
ﻳَﺎ ﺣَﻲُّ ﻳَﺎ ﻗَﻴُّﻮﻡُ، ﺑِﺮَﺣْﻤَﺘِﻚَ ﺃَﺳْﺘَﻐِﻴﺚُ، ﺃَﺻْﻠِﺢْ ﻟِﻲ ﺷَﺄْﻧِﻲ ﻛُﻠَّﻪُ، ﻭَﻟَﺎ ﺗَﻜِﻠْﻨِﻲ ﺇِﻟَﻰ ﻧَﻔْﺴِﻲ ﻃَﺮْﻓَﺔَ ﻋَﻴْﻦٍ ﺃَﺑَﺪًﺍ .
“Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb yang berdiri sendiri (tidak butuh segala sesuatu), dengan rahmat-Mu aku meminta pertolongan. Perbaikilah segala urusanku dan jangan serahkan kepadaku sekalipun sekejap mata selamanya (tanpa mendapat pertolongan dari-Mu) ”
Begitu pun saat kita mau berpergian, dianjurkan untuk membaca:
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺗَﻮَﻛَﻠْﺖُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻻَﺣَﻮْﻝَ ﻭَﻻَﻗُﻮَّﺓَﺇِﻻَّﺏِ ﻟﻠَّﻪِ
"Dengan nama Allah, aku berserah diri kepada Allah, tiada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah."
Doa-doa di atas dianjurkan untuk selalu kita baca, karena kita memerlukan petunjuk dan pertolongan-Nya dalam menghadapi masa yang akan datang yang belum tentu dapat kita atasi.
Semoga kita senantiasa mendapatkan petunjuk-Nya sehingga kita selamat dunia dan akhirat, Aamiin..aamiin..aamiin ya robbal alamiin.
(Gantira, 28 Januari 2017, Bogor)
Monday, 23 January 2017
"Dengan Pertolongan-Nya"
Kalau sudah mendapatkan pertolongan-Nya...
Api tidak bisa membakar Nabi Ibrahim...
Laut tidak bisa menenggelamkan Nabi Musa...
Pisau tidak bisa menyembelih Nabi Ismail...
Ikan Paus tidak bisa menghancurkan Nabi Yunus...
Bulan dapat dibelah dua oleh Nabi Muhammad saw...
Orang yang mati bisa dihidupkan kembali oleh Nabi Isa...
Angin bisa menjadi kendaraan Nabi Ibrahim...
240 ribu Pasukan Romawi dapat dikalahkan oleh 40 ribu pasukan Khalid bin Walid...
Dan banyak lagi hal lainnya yang tidak mungkin menjadi mungkin dan yang sulit menjadi sangat mudah saat kita telah mendapatkan pertolongan Allah `azza wa jalla...
(Gantira, 24 Januari 2017, Bogor)
Subscribe to:
Posts (Atom)
