Banyak sekali kejadian, dimana seseorang sudah bertunangan bahkan akan mengadakan akad nikah, tapi tiba2 salah satu calon memutuskan secara sepihak, hanya karena dia menemukan "Someone" lain yang tiba2 memasuki hatinya.
Banyak juga peristiwa sepasang suami istri yang bertengkar hebat bahkan sampai terjadi perceraian, disebabkan oleh salah satu pihak yang terpikat oleh "Someone" yang dikenalnya di perjalanan atau bertemu kembali dengan orang yang dulu pernah disukainya.
Dan banyak lagi kejadian2 lainnya yang menyebabkan situasi yang sebelumnya damai menjadi berantakan hanya karena "Someone" ini.
Lalu adakah solusi yang bisa dilakukan agar jeratan "Someone" ini bisa terhindar dari hati kita?
Sesungguhnya salah satu penyebab hati kita terpikat oleh "Someone" adalah karena kita tidak bisa menjaga pandangan kita. Ingatlah bahwa salah satu panah syetan berada pada mata kita. Dan jika kita membiarkan mata kita bebas diumbar maka yang akan terjadi panah2 syetan akan terus menusuk hati kita hingga dia terluka dan terpaut pada "Someone" tersebut.
Jadi salah satu cara untuk menghindari jeratan "Someone" ini adalah dengan menjaga pandangan kita, menjaga mata kita dan menjaga hati kita.
Sebagaimana firman-Nya:
ﻗُﻞْ ﻟِﻠْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﻳَﻐُﻀُّﻮﺍ ﻣِﻦْ ﺃَﺑْﺼَﺎﺭِﻫِﻢْ ﻭَﻳَﺤْﻔَﻈُﻮﺍ ﻓُﺮُﻭﺟَﻬُﻢْ ﺫَﻟِﻚَ ﺃَﺯْﻛَﻰ ﻟَﻬُﻢْ ﺇِﻥَّ ﺍﻟﻠَّﻪَ ﺧَﺒِﻴﺮٌ ﺑِﻤَﺎ ﻳَﺼْﻨَﻌُﻮﻥَ
” Katakanlah kepada laki-laki yang beriman,’Hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya. Yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.’” (QS. An-Nur [24] : 30).
Dan juga dalam sabda Rasulullah saw:
ﺍﻟﻨَّﻈْﺮَﺓُ ﺳَﻬْﻢٌ ﻣِﻦْ ﺳِﻬَﺎﻡِ ﺇِﺑْﻠِﻴﺲَ ﻣَﺴْﻤُﻮﻣَﺔٌ ﻓَﻤَﻦْ ﺗَﺮَﻛَﻬَﺎ ﻣِﻦْ ﺧَﻮْﻑِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺃَﺛَﺎﺑَﻪُ ﺟَﻞَّ ﻭَﻋَﺰَّ ﺇِﻳﻤَﺎﻧًﺎ ﻳَﺠِﺪُ ﺣَﻠَﺎﻭَﺗَﻪُ ﻓِﻲ ﻗَﻠْﺒِﻪِ
” Memandang wanita adalah panah beracun dari berbagai macam panah iblis. Barangsiapa yang meninggalkannya karena takut kepada Allah, maka Allah akan memberi balasan iman kepadanya yang terasa manis baginya” (HR. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak no. 7875).
Lalu bagaimanakah agar kita bisa selamat, jika "Someone" sudah terlanjur melukai dan memasuki hati kita?
Seandainya hati kita sudah terluka karena jeratan panah tersebut sehingga kita sulit melupakan "Someone", maka solusi yang bisa dilakukan adalah berdoa kepada-Nya agar Dia membolak-balikkan hati kita agar hati kita sembuh dari luka yang ada hingga akhirnya kita bisa melupakannya.
Dalam salah satu firman-Nya,
ﺍﺩْﻋُﻮﻧِﻲ ﺃَﺳْﺘَﺠِﺐْ ﻟَﻜُﻢْ
“Berdoalah (mintalah) kepadaku, niscaya aku kabulkan untukmu”. (QS. Al-Mukmin : 60)
Salah satu doa yang bisa kita panjatkan agar kita terlepas dari kesesatan dan jeratan "Someone" adalah dengan membaca doa:
ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻟَﺎ ﺗُﺰِﻍْ ﻗُﻠُﻮﺑَﻨَﺎ ﺑَﻌْﺪَ ﺇِﺫْ ﻫَﺪَﻳْﺘَﻨَﺎ ﻭَﻫَﺐْ ﻟَﻨَﺎ ﻣِﻦْ ﻟَﺪُﻧْﻚَ ﺭَﺣْﻤَﺔً ﺇِﻧَّﻚَ ﺃَﻧْﺖَ ﺍﻟْﻮَﻫَّﺎﺏُ
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkau-lah Maha Pemberi (karunia).” (QS. Ali Imran: 7)
Semoga kita bisa menjaga mata kita dari memandang hal-hal yang tidak diridhai-Nya..Aamiin..aamiin..aamiin ya robbal alamiin
(Gantira, 9 Maret 2017, Bogor)
Thursday, 9 March 2017
Thursday, 23 February 2017
"Someone yang Disukai sekaligus Dibenci"
Tema tentang apakah yang paling hangat dan paling disukai oleh obrolan para bapak2? Jawabannya adalah tema tentang "Someone".
Tema tentang apa juga yang paling dingin dan dibenci oleh para ibu2? Jawabannya juga sama yaitu tentang "Someone".
Para bapak2 begitu semangat sekali kalau membahas tentang "Someone". Mereka umumnya tiba2 merasa menjadi sangat menyunah bila membahas tentang ini. Satu dengan yang lain saling menyemangati untuk bisa melakukan sunnah yang satu ini.
Pada saat ada salah satu teman obrolannya telah melakukan sunnah ini, yaitu telah memiliki "Someone", maka sebagian besar teman yang lain pada memujinya bahkan banyak diantara mereka yang bertanya bagaimana tip2 nya agar tidak ketahuan oleh orang yang di rumah.
Sebaliknya, para ibu2 sangat malas kalau membahas tentang "Someone" ini. Satu dengan yang lain seringkali saling mematahkan semangat kalau nampak ada indikasi para suaminya akan memiliki "Someone" ini.
Pada saat ada salah satu teman obrolan ibu2 ini memiliki 'Someone', satu dengan yang lain saling menyatakan bela sungkawa dan diantara mereka saling mendoakan agar tidak mengalami apa yang dialami oleh teman yang telah memiliki 'Someone', seakan2 dia telah mendapatkan musibah yang sangat besar.
Pertanyaannya, kenapa tema yang sama tapi mendapatkan respon yang berbeda bahkan bertolak belakang diantara pasangan hidup ini?
Jawabannya karena keduanya memposisikan pada pandangan yang berbeda.
Para bapak2 umumnya memandang "Someone" ini dari sudut pandang kesenangan bukan tanggung jawab. Sehingga pada pandangannya, bila memiliki "Someone" hidupnya akan semakin menyenangkan.
Sedangkan para ibu2 memandang "Someone" dari sudut pandang rival atau saingan bukan kerjasama. Sehingga pada pandangannya bila memiliki "Someone" hidupnya akan semakin sengsara.
Dan pada kenyataan kehidupan saat ini, memang itulah yang terjadi sehingga kehidupan keluarga yang pertama dibentuk menjadi berantakan bukan semakin rukun.
Dimana banyak dari para bapak2 yang memiliki "Someone" lagi hanya memikirkan kesenangan tanpa bisa berbuat adil pada istri yang di rumah serta pada 'Someone'. Sehingga sebagian besar harta dan kehadiran dirinya lebih dia limpahkan pada "Someone" daripada pada istri pertamanya. Sehingga membuat para istri yang pertama menjadi terdholimi dan banyak lebih memilih untuk berpisah daripada terus bersaing dengan 'Someone'.
Namun bila saja para bapak2 dan ibu2 merubah sudut pandan masing2 maka kemungkinan besar yang terjadi akan berbeda.
Dimana para bapak2 memandang bahwa memiliki "Someone" adalah memiliki beban tanggung jawab yang semakin besar. Sehingga dirinya harus meningkatkan kemampuan yang dimilikinya baik dari segi materi maupun dari segi energi.
Sehingga para bapak2 harus meningkatkan penghasilannya minimal dua kali lipat dari sebelumnya sehingga harta yang diberikan pada istri pertamanya tidak berkurang.
Disamping itu juga para bapak2 harus meningkatkan tenaganya minimal dua kali lipat sehingga pergaulannya pada istri pertamanya juga tidak berkurang.
Begitu juga bila para ibu2 memandang "Someone" ini sebagai bentuk kerjasama dalam menyenangkan suaminya. Sehingga beban yang ditanggungnya akan semakin ringan karena bagaimanapun juga sesuatu yang dilakukan dengan bersama2 akan lebih mudah dibandingkan bila dilakukan dengan seorang diri.
Bila pandangan bapak2 dan ibu2 sudah berubah sebagaimana pandangan di atas, maka kemungkinan besar para ibu2 akan mendorong dan menyemangati agar para bapak2 memiliki "Someone". Sebaliknya para bapak2 akan berat serta ketakutan bila memilikinya karena beban yang ditanggungnya akan semakin berat.
Ingatlah salah satu hadis:
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam , bersabda,
ﻣَﻦْ ﻛَﺎﻥَ ﻟَﻪُ ﺍﻣْﺮَﺃَﺗَﺎﻥِ ﻓَﻤَﺎﻝَ ﺇِﻟَﻰ ﺇِﺣْﺪَﺍﻫُﻤَﺎ ﺟَﺎﺀَ ﻳَﻮْﻡَ ﺍﻟﻘِﻴَﺎﻣَﺔِ ﻭَﺷِﻘُّﻪُ ﻣَﺎﺋِﻞٌ
“Siapa saja orangnya yang memiliki dua istri lalu lebih cenderung kepada salah satunya, pada hari kiamat kelak ia akan datang dalam keadaan sebagian tubuhnya miring.”
(Hr Abu Dawud (no. 2133), an-Nasa’i (2/157), Tirmidzi (1/213))
Kapankah pandangan seperti itu akan terjadi pada para bapak2 dan ibu2 saat ini? Wallahualam....
Semoga kita semua dapat menjalani kehidupan ini sesuai aturan-Nya sehingga kita akan memperoleh kebahagiaan di dunia dan di akhirat, Aamiin..aamiin..aamiin ya robbal alamin..
(Gantira, 24 Februari 2017, Bogor)
Saturday, 28 January 2017
"Yang Sangat Kita Butuhkan adalah Petunjuk-Nya"
Banyak orang yang berpendapat bahwa dalam menghadapi persoalan kehidupan ini memerlukan pengalaman yang luas. Namun ada satu hal yang harus kita sadari bahwa situasi dan kondisi terus berubah. Sehingga orang yang berpengalaman pun belum tentu bisa menghadapi situasi yang sama sekali berbeda dengan pengalaman yang pernah dialaminya.
Menyadari bahwa situasi dan kondisi yang akan terus berubah, dimana kondisi masa yang akan datang belum tentu sama dengan kondisi masa lalu maka yang sanat kita butuhkan agar hidup kita berjalan sesuai aturan adalah petunjuk-Nya.
Ingatlah kisah Ali bin Abi Thalib, beliau adalah salah seorang sahabat yang terkenal akan kecerdasannya, kepintarannya dan juga keberaniannya.
Ali bin Abi Thalib selalu menjadi penasehat pada masa khalifah sebelumnya, baik pada masa Abu Bakar Shidiq, Umar bin Khatab maupun Usman bin Affan. Jadi kalau soal kecerdasan dan pengalaman, Ali bin Abi Thalib sudah menguasainya.
Namun pertanyaannya, kenapa pada masa kepemimpinan beliau malah terjadi kekacauan yang luar biasa, sehingga pernah terjadi perang saudara?
Jawabannya adalah karena situasi sudah jauh berubah. Pada saat kepemimpinan Ali, telah terjadi banyak fitnah. Sehingga siapapun yang memimpinnya, walaupun dia setingkat Abu Bakar atau Umar bin Khatab akan sulit menghadapi situasi yang ada.
Sehingga pada saat ada salah satu rakyatnya bertanya sekaligus menyindir Ali dengan pertanyaan kenapa pada Saat pemerintah Umar bin Khatab, pemerintahan aman dan tentram, sedangkan pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib situasi sangat kacau. Dengan cerdasnya Ali menjawab bahwa pada masa pemerintahan Umar bin Khatab, kualitas rakyatnya seperti kualitas Ali, sehingga kekhalifahan dalam keadaan aman dan tentram. Sedangkan pada masa pemerintahan Ali, kualitas rakyatnya seperti kualitas orang yang bertanya, sehingga wajar saja situasi kacau balau.
Begitu juga dengan situasi pemerintahan di negeri kita saat ini. Mungkin ada yang berpendapat bahwa pemerintahannya enak seperti pemerintahan Soeharto dulu. Namun ada satu hal yang kurang disadari dengan pernyataan tersebut. Sekarang situasinya jauh berbeda dengan pemerintahan orde baru dulu. Dimana situasi dan kondisi aturan, kualitas rakyat dan wakilnya di DPR serta kebebasan yang ada saat ini jauh berbeda dengan situasi Orde Baru. Seandainya Soeharto menjadi memimpin kembali dengan situasi yang yang terjadi saat ini, belum tentu dia pun bisa mengatasinya.
Jadi kesimpulannya adalah bahwa dalam menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi di masa yang akan datang, kita tidak bisa mengandalkan hanya pengalaman saja. Karena bisa jadi situasi yang akan datang akan jauh daripada situasi saat ini dan masa lalu. Sehingga agar kita bisa menghadapinya nanti dengan lancar, minimal kita selamat di kehidupan akhirat nanti maka kita harus senantiasa meminta petunjuk-Nya.
Oleh karena itu, dalam surat al-fatihah yang senantiasa kita bacakan setiap shalat, ada satu ayat yang menunjukkan permohonan untuk meminta petunjuk-Nya, yaitu
ﺍﻫﺪِﻧَــــﺎ ﺍﻟﺼِّﺮَﺍﻁَ ﺍﻟﻤُﺴﺘَﻘِﻴﻢَ
“ (Ya Allah). Tunjukilah kami jalan yang lurus (shiratal mustaqim)"
Begitu juga dalam doa pagi dan sore, ada salah satu doa yang dianjurkan untuk kita baca:
ﻳَﺎ ﺣَﻲُّ ﻳَﺎ ﻗَﻴُّﻮﻡُ، ﺑِﺮَﺣْﻤَﺘِﻚَ ﺃَﺳْﺘَﻐِﻴﺚُ، ﺃَﺻْﻠِﺢْ ﻟِﻲ ﺷَﺄْﻧِﻲ ﻛُﻠَّﻪُ، ﻭَﻟَﺎ ﺗَﻜِﻠْﻨِﻲ ﺇِﻟَﻰ ﻧَﻔْﺴِﻲ ﻃَﺮْﻓَﺔَ ﻋَﻴْﻦٍ ﺃَﺑَﺪًﺍ .
“Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb yang berdiri sendiri (tidak butuh segala sesuatu), dengan rahmat-Mu aku meminta pertolongan. Perbaikilah segala urusanku dan jangan serahkan kepadaku sekalipun sekejap mata selamanya (tanpa mendapat pertolongan dari-Mu) ”
Begitu pun saat kita mau berpergian, dianjurkan untuk membaca:
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺗَﻮَﻛَﻠْﺖُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻻَﺣَﻮْﻝَ ﻭَﻻَﻗُﻮَّﺓَﺇِﻻَّﺏِ ﻟﻠَّﻪِ
"Dengan nama Allah, aku berserah diri kepada Allah, tiada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah."
Doa-doa di atas dianjurkan untuk selalu kita baca, karena kita memerlukan petunjuk dan pertolongan-Nya dalam menghadapi masa yang akan datang yang belum tentu dapat kita atasi.
Semoga kita senantiasa mendapatkan petunjuk-Nya sehingga kita selamat dunia dan akhirat, Aamiin..aamiin..aamiin ya robbal alamiin.
(Gantira, 28 Januari 2017, Bogor)
Menyadari bahwa situasi dan kondisi yang akan terus berubah, dimana kondisi masa yang akan datang belum tentu sama dengan kondisi masa lalu maka yang sanat kita butuhkan agar hidup kita berjalan sesuai aturan adalah petunjuk-Nya.
Ingatlah kisah Ali bin Abi Thalib, beliau adalah salah seorang sahabat yang terkenal akan kecerdasannya, kepintarannya dan juga keberaniannya.
Ali bin Abi Thalib selalu menjadi penasehat pada masa khalifah sebelumnya, baik pada masa Abu Bakar Shidiq, Umar bin Khatab maupun Usman bin Affan. Jadi kalau soal kecerdasan dan pengalaman, Ali bin Abi Thalib sudah menguasainya.
Namun pertanyaannya, kenapa pada masa kepemimpinan beliau malah terjadi kekacauan yang luar biasa, sehingga pernah terjadi perang saudara?
Jawabannya adalah karena situasi sudah jauh berubah. Pada saat kepemimpinan Ali, telah terjadi banyak fitnah. Sehingga siapapun yang memimpinnya, walaupun dia setingkat Abu Bakar atau Umar bin Khatab akan sulit menghadapi situasi yang ada.
Sehingga pada saat ada salah satu rakyatnya bertanya sekaligus menyindir Ali dengan pertanyaan kenapa pada Saat pemerintah Umar bin Khatab, pemerintahan aman dan tentram, sedangkan pada masa pemerintahan Ali bin Abi Thalib situasi sangat kacau. Dengan cerdasnya Ali menjawab bahwa pada masa pemerintahan Umar bin Khatab, kualitas rakyatnya seperti kualitas Ali, sehingga kekhalifahan dalam keadaan aman dan tentram. Sedangkan pada masa pemerintahan Ali, kualitas rakyatnya seperti kualitas orang yang bertanya, sehingga wajar saja situasi kacau balau.
Begitu juga dengan situasi pemerintahan di negeri kita saat ini. Mungkin ada yang berpendapat bahwa pemerintahannya enak seperti pemerintahan Soeharto dulu. Namun ada satu hal yang kurang disadari dengan pernyataan tersebut. Sekarang situasinya jauh berbeda dengan pemerintahan orde baru dulu. Dimana situasi dan kondisi aturan, kualitas rakyat dan wakilnya di DPR serta kebebasan yang ada saat ini jauh berbeda dengan situasi Orde Baru. Seandainya Soeharto menjadi memimpin kembali dengan situasi yang yang terjadi saat ini, belum tentu dia pun bisa mengatasinya.
Jadi kesimpulannya adalah bahwa dalam menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi di masa yang akan datang, kita tidak bisa mengandalkan hanya pengalaman saja. Karena bisa jadi situasi yang akan datang akan jauh daripada situasi saat ini dan masa lalu. Sehingga agar kita bisa menghadapinya nanti dengan lancar, minimal kita selamat di kehidupan akhirat nanti maka kita harus senantiasa meminta petunjuk-Nya.
Oleh karena itu, dalam surat al-fatihah yang senantiasa kita bacakan setiap shalat, ada satu ayat yang menunjukkan permohonan untuk meminta petunjuk-Nya, yaitu
ﺍﻫﺪِﻧَــــﺎ ﺍﻟﺼِّﺮَﺍﻁَ ﺍﻟﻤُﺴﺘَﻘِﻴﻢَ
“ (Ya Allah). Tunjukilah kami jalan yang lurus (shiratal mustaqim)"
Begitu juga dalam doa pagi dan sore, ada salah satu doa yang dianjurkan untuk kita baca:
ﻳَﺎ ﺣَﻲُّ ﻳَﺎ ﻗَﻴُّﻮﻡُ، ﺑِﺮَﺣْﻤَﺘِﻚَ ﺃَﺳْﺘَﻐِﻴﺚُ، ﺃَﺻْﻠِﺢْ ﻟِﻲ ﺷَﺄْﻧِﻲ ﻛُﻠَّﻪُ، ﻭَﻟَﺎ ﺗَﻜِﻠْﻨِﻲ ﺇِﻟَﻰ ﻧَﻔْﺴِﻲ ﻃَﺮْﻓَﺔَ ﻋَﻴْﻦٍ ﺃَﺑَﺪًﺍ .
“Wahai Rabb Yang Maha Hidup, wahai Rabb yang berdiri sendiri (tidak butuh segala sesuatu), dengan rahmat-Mu aku meminta pertolongan. Perbaikilah segala urusanku dan jangan serahkan kepadaku sekalipun sekejap mata selamanya (tanpa mendapat pertolongan dari-Mu) ”
Begitu pun saat kita mau berpergian, dianjurkan untuk membaca:
ﺑِﺴْﻢِ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﺗَﻮَﻛَﻠْﺖُ ﻋَﻠَﻰ ﺍﻟﻠَّﻪِ ﻻَﺣَﻮْﻝَ ﻭَﻻَﻗُﻮَّﺓَﺇِﻻَّﺏِ ﻟﻠَّﻪِ
"Dengan nama Allah, aku berserah diri kepada Allah, tiada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah."
Doa-doa di atas dianjurkan untuk selalu kita baca, karena kita memerlukan petunjuk dan pertolongan-Nya dalam menghadapi masa yang akan datang yang belum tentu dapat kita atasi.
Semoga kita senantiasa mendapatkan petunjuk-Nya sehingga kita selamat dunia dan akhirat, Aamiin..aamiin..aamiin ya robbal alamiin.
(Gantira, 28 Januari 2017, Bogor)
Monday, 23 January 2017
"Dengan Pertolongan-Nya"
Kalau sudah mendapatkan pertolongan-Nya...
Api tidak bisa membakar Nabi Ibrahim...
Laut tidak bisa menenggelamkan Nabi Musa...
Pisau tidak bisa menyembelih Nabi Ismail...
Ikan Paus tidak bisa menghancurkan Nabi Yunus...
Bulan dapat dibelah dua oleh Nabi Muhammad saw...
Orang yang mati bisa dihidupkan kembali oleh Nabi Isa...
Angin bisa menjadi kendaraan Nabi Ibrahim...
240 ribu Pasukan Romawi dapat dikalahkan oleh 40 ribu pasukan Khalid bin Walid...
Dan banyak lagi hal lainnya yang tidak mungkin menjadi mungkin dan yang sulit menjadi sangat mudah saat kita telah mendapatkan pertolongan Allah `azza wa jalla...
(Gantira, 24 Januari 2017, Bogor)
Sunday, 22 January 2017
"Salah Satu Cara Menilai Pandangan Seseorang"
Salah satu cara untuk menilai pandangan seseorang, cukuplah kita melihat siapa yang mendukungnya dan siapa pula yang menyelisihinya.
*
Jika pandangan seseorang banyak didukung oleh orang2 yang tidak berakhlak, namun diselisihi oleh orang2 yang kita tahu memiliki akhlak yang baik, maka dapat kita simpulkan bahwa pandangan orang itu menyesatkan, walaupun dikemas dengan kalimat yang sangat indah.
*
Sebaliknya jika pandangan seseorang banyak diselisihi oleh orang2 yang kita tahu akhlaknya buruk, namun didukung hanya segelintir orang yang kita tahu akhlaknya mulia, maka dapat kita perkirakan bahwa pandangan orang tersebut benar.
*
Ketahuilah bahwa sebuah jiwa itu akan berkumpul dengan jiwa yang sama, walaupun fisiknya nampak berbeda.
*
---------------
Ingatlah kisah tentang Ka’b bin Malik, beliau adalah salah seorang sahabat yang tidak ikut perang Tabuk. Setelah Rasulullah kembali ke Madinah, Ka’b bin Malik mengakui dengan jujur kepada Rasulullah bahwa dirinya tidak punya uzur sama sekali. Dia tidak pernah merasa lebih kuat dan lebih mudah saat itu. Dia mengakui semua kesalahannya.
*
Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, bahwa Ka’b bin Malik, sudah berbuat jujur dan menunda pengampunannya sampai Allah Subhanahuwata’ala memberi keputusan tentangnya.
*
Setelah dia pulang, banyak sekali orang yang mencela serta menasehatinya agar dia menghadap kembali.kepada.Rasulullah serta memberi uzur atau alasan dan memohon agar Rasulullah meminta ampunan kepada Allah atas uzurnya itu sebagaimana yang dilakukan osebagian besar orang2 yang tidak ikut perang Tabuk.
*
Banyaknya nasihatnya membuat Ka'b menjadi bingung dan ingin kembali menghadap Rasulullah untuk menarik ucapannya dan memberikan uzur atas ketidak ikut sertanya. Namun sebelum itu dilakukan, Ka'b bertanya kepada mereka siapa saja orang yang bertindak seperti dirinya. Ternyata jawabannya hanya ada 2 orang, yaitu “Murarah bin Ar-Rabi’ Al-‘Amri dan Hilal bin Umayyah Al-Waqifi.” Mereka adalah dua orang saleh yang pernah ikut perang Badr. Mereka berdua adalah teladan Ka'b. Maka Ka'b pun tetap melanjutkan sikapnya setelah mereka menyebut dua orang saleh ini. Walaupun sebagian besar orang selain mereka mengungkapkan uzur pada Rasulullah.
*
Ternyata di akhir kisah, yang mendapat ampunan Allah itu adalah 3 orang tersebut, termasuk Ka'b.
*
Lihatlah sikap Ka'b bin Malik yang lebih yakin dengan pandangan hidup sahabat yang shaleh walaupun hanya sedikit, dibandingkan mengikuti pandangan hidup banyak orang yang Ka'b kenal sebagian besar dari mereka adalah orang2 munafik.
---------------
*
Jadi jangan takut mengikuti pandangan hidup orang2 yang kita kenal akhlak dan agamanya sangat baik walaupun jumlah mereka sedikit, dan hindarilah atau Jauhilah pandangan hidup orang2 yang kita tahu akhlaknya buruk walaupun jumlah mereka sangat banyak.
*
Begitu pula dalam menilai tulisan seseorang di media sosial, baik itu fb, twitter atau lainnya. Lihat siapa saja yang mendukung dia dan siapa pula yang menyelisihinya. Sesungguhnya dapat diperkirakan bahwa pandangan seseorang itu sama dengan orang2 yang mendukungnya.
*
(Gantira, 22 Januari 2017, Bogor)
*
Jika pandangan seseorang banyak didukung oleh orang2 yang tidak berakhlak, namun diselisihi oleh orang2 yang kita tahu memiliki akhlak yang baik, maka dapat kita simpulkan bahwa pandangan orang itu menyesatkan, walaupun dikemas dengan kalimat yang sangat indah.
*
Sebaliknya jika pandangan seseorang banyak diselisihi oleh orang2 yang kita tahu akhlaknya buruk, namun didukung hanya segelintir orang yang kita tahu akhlaknya mulia, maka dapat kita perkirakan bahwa pandangan orang tersebut benar.
*
Ketahuilah bahwa sebuah jiwa itu akan berkumpul dengan jiwa yang sama, walaupun fisiknya nampak berbeda.
*
---------------
Ingatlah kisah tentang Ka’b bin Malik, beliau adalah salah seorang sahabat yang tidak ikut perang Tabuk. Setelah Rasulullah kembali ke Madinah, Ka’b bin Malik mengakui dengan jujur kepada Rasulullah bahwa dirinya tidak punya uzur sama sekali. Dia tidak pernah merasa lebih kuat dan lebih mudah saat itu. Dia mengakui semua kesalahannya.
*
Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, bahwa Ka’b bin Malik, sudah berbuat jujur dan menunda pengampunannya sampai Allah Subhanahuwata’ala memberi keputusan tentangnya.
*
Setelah dia pulang, banyak sekali orang yang mencela serta menasehatinya agar dia menghadap kembali.kepada.Rasulullah serta memberi uzur atau alasan dan memohon agar Rasulullah meminta ampunan kepada Allah atas uzurnya itu sebagaimana yang dilakukan osebagian besar orang2 yang tidak ikut perang Tabuk.
*
Banyaknya nasihatnya membuat Ka'b menjadi bingung dan ingin kembali menghadap Rasulullah untuk menarik ucapannya dan memberikan uzur atas ketidak ikut sertanya. Namun sebelum itu dilakukan, Ka'b bertanya kepada mereka siapa saja orang yang bertindak seperti dirinya. Ternyata jawabannya hanya ada 2 orang, yaitu “Murarah bin Ar-Rabi’ Al-‘Amri dan Hilal bin Umayyah Al-Waqifi.” Mereka adalah dua orang saleh yang pernah ikut perang Badr. Mereka berdua adalah teladan Ka'b. Maka Ka'b pun tetap melanjutkan sikapnya setelah mereka menyebut dua orang saleh ini. Walaupun sebagian besar orang selain mereka mengungkapkan uzur pada Rasulullah.
*
Ternyata di akhir kisah, yang mendapat ampunan Allah itu adalah 3 orang tersebut, termasuk Ka'b.
*
Lihatlah sikap Ka'b bin Malik yang lebih yakin dengan pandangan hidup sahabat yang shaleh walaupun hanya sedikit, dibandingkan mengikuti pandangan hidup banyak orang yang Ka'b kenal sebagian besar dari mereka adalah orang2 munafik.
---------------
*
Jadi jangan takut mengikuti pandangan hidup orang2 yang kita kenal akhlak dan agamanya sangat baik walaupun jumlah mereka sedikit, dan hindarilah atau Jauhilah pandangan hidup orang2 yang kita tahu akhlaknya buruk walaupun jumlah mereka sangat banyak.
*
Begitu pula dalam menilai tulisan seseorang di media sosial, baik itu fb, twitter atau lainnya. Lihat siapa saja yang mendukung dia dan siapa pula yang menyelisihinya. Sesungguhnya dapat diperkirakan bahwa pandangan seseorang itu sama dengan orang2 yang mendukungnya.
*
(Gantira, 22 Januari 2017, Bogor)
Saturday, 21 January 2017
"Bahaya Terlena Terhadap Apa yang Kita Raih"
Yakinlah bahwa apa yang kita inginkan dan kita harapkan,, pada akhirnya akan terwujud juga bila kita bersabar dan istiqomah dalam menggapainya.
Ingatlah janji Allah bahwa semua doa akan Allah dikabulkan. Dalam sebuah hadis lain disebutkan bahwa Allah akan mengabulkan doa seorang hamba selama dia tidak tergesa2 atau dengan kata lain dia yakin akan terkabul Nya doa dan terus tekun berdoa.
"Berdoalah (mintalah) kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan untukmu”. (QS. Al-Mukmin : 60
Bisa jadi apa2 yang kita dapatkan hari ini merupakan buah dari doa kita beberapa tahun yang lalu atau bisa juga jawaban dari doa orang tua kita puluhan tahun yang lalu bahkan bisa juga sebagai hasil doa nenek moyang kita ratusan tahun yang lalu.
Jangan sampai kita terlena dengan segala sesuatu yang kita dapatkan itu dan merasa bahwa semuanya berkat kekuatan dan kepintaran kita. Kalau hal ini terjadi, maka siap2lah bencana kehancuran akan segera datang pada kita.
Ingatlah Fir'aun yang terlena pada kekuasaan yang dimilikinya, hingga dia mengaku sebagai tuhan yang akhirnya Allah timpakan bencana padanya dengan ditenggelamkan dalam gelombang laut.
Dan Fir‘aun berkata. “Wahai para pembesar kaumku! Aku tidak mengetahui ada Tuhan bagimu selain aku”
(Al-Qashas 38)
“Sehingga ketika Fir‘aun hampir tenggelam dia berkata, “Aku percaya bahwa tidak ada tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang Muslim (berserah diri).” Mengapa baru sekarang (kamu beriman), padahal sesungguhnya engkau telah durhaka sejak dahulu, dan engkau termasuk orang yang berbuat kerusakan.”
(Yunus 90-91)
Ingat pula Qorun yang terlena dengan kekayaan yang diraihnya, hingga dia mengaku bahwa semua yang didapatkannya sebagai hasil dari kepintaran dan jerih payahnya belaka, yang akhirnya Allah hancurkan semuanya kekayaan beserta dirinya dengan dibenamkan dalam bumi.
Karun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka." (Q.S. Al-Qashash, 78).
"Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya)." (Q.S. Al-Qashash, 81).
Jadi, janganlah takut dan ragu untuk berdoa dan berharap terhadap apapun yang kita impikan, semuanya akan terwujud bila kita yakin dan sabar dalam menjalaninya. Namun takutlah bila semua yang kita harapkan terwujud, lalu kita terlena dan menganggap semuanya hanya sebagai buah hasil kerja keras kita. Maka periode selanjutnya yang akan menimpa kita adalah kebinasaan secara sekejap terhadap apa yang telah kita raih.
(Gantira, 22 Januari 2017, Bogor)
Ingatlah janji Allah bahwa semua doa akan Allah dikabulkan. Dalam sebuah hadis lain disebutkan bahwa Allah akan mengabulkan doa seorang hamba selama dia tidak tergesa2 atau dengan kata lain dia yakin akan terkabul Nya doa dan terus tekun berdoa.
"Berdoalah (mintalah) kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan untukmu”. (QS. Al-Mukmin : 60
Bisa jadi apa2 yang kita dapatkan hari ini merupakan buah dari doa kita beberapa tahun yang lalu atau bisa juga jawaban dari doa orang tua kita puluhan tahun yang lalu bahkan bisa juga sebagai hasil doa nenek moyang kita ratusan tahun yang lalu.
Jangan sampai kita terlena dengan segala sesuatu yang kita dapatkan itu dan merasa bahwa semuanya berkat kekuatan dan kepintaran kita. Kalau hal ini terjadi, maka siap2lah bencana kehancuran akan segera datang pada kita.
Ingatlah Fir'aun yang terlena pada kekuasaan yang dimilikinya, hingga dia mengaku sebagai tuhan yang akhirnya Allah timpakan bencana padanya dengan ditenggelamkan dalam gelombang laut.
Dan Fir‘aun berkata. “Wahai para pembesar kaumku! Aku tidak mengetahui ada Tuhan bagimu selain aku”
(Al-Qashas 38)
“Sehingga ketika Fir‘aun hampir tenggelam dia berkata, “Aku percaya bahwa tidak ada tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang Muslim (berserah diri).” Mengapa baru sekarang (kamu beriman), padahal sesungguhnya engkau telah durhaka sejak dahulu, dan engkau termasuk orang yang berbuat kerusakan.”
(Yunus 90-91)
Ingat pula Qorun yang terlena dengan kekayaan yang diraihnya, hingga dia mengaku bahwa semua yang didapatkannya sebagai hasil dari kepintaran dan jerih payahnya belaka, yang akhirnya Allah hancurkan semuanya kekayaan beserta dirinya dengan dibenamkan dalam bumi.
Karun berkata: “Sesungguhnya aku hanya diberi harta itu, karena ilmu yang ada padaku”. Dan apakah ia tidak mengetahui, bahwasanya Allah sungguh telah membinasakan umat-umat sebelumnya yang lebih kuat daripadanya, dan lebih banyak mengumpulkan harta? Dan tidaklah perlu ditanya kepada orang-orang yang berdosa itu, tentang dosa-dosa mereka." (Q.S. Al-Qashash, 78).
"Maka Kami benamkanlah Karun beserta rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya suatu golonganpun yang menolongnya terhadap azab Allah. Dan tiadalah ia termasuk orang-orang (yang dapat) membela (dirinya)." (Q.S. Al-Qashash, 81).
Jadi, janganlah takut dan ragu untuk berdoa dan berharap terhadap apapun yang kita impikan, semuanya akan terwujud bila kita yakin dan sabar dalam menjalaninya. Namun takutlah bila semua yang kita harapkan terwujud, lalu kita terlena dan menganggap semuanya hanya sebagai buah hasil kerja keras kita. Maka periode selanjutnya yang akan menimpa kita adalah kebinasaan secara sekejap terhadap apa yang telah kita raih.
(Gantira, 22 Januari 2017, Bogor)
Friday, 20 January 2017
"Kebodohan dan Kecerdasan adalah Pilihan Kita"
Pada dasarnya, setelah kita terlahir di dunia ini, kita diberi pilihan dengan bebas antara memilih kebodohan dan kecerdasan.
Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah akan selalu menguji setiap manusia untuk memilih antara kebodohan atau kecerdasan.
Orang yang melanggar perintah Allah adalah orang yang lebih memilih untuk bodoh, sedangkan orang yang taat pada perintah Allah adalah orang yang memilih untuk cerdas.
Tidaklah Allah melarang sesuatu kecuali Allah memberikan alternatif lainnya yang diperbolehkan, bahkan yang diperbolehkan itu jauh lebih banyak dan lebih nikmat daripada yang dilarang-Nya.
Allah mengharamkan mengkonsumsi makanan haram yang jumlahnya relatif sedikit seperti babi dan bangkai; namun Allah menghalalkan banyak makanan lainnya yang halal dan jauh lebih bermanfaat seperti ikan, daging sapi, domba, ayam, bebek, sayur mayur, burung dan banyak lagi yang jumlahnya tak terhingga.
Allah mengharamkan mendekati jina; namun Allah menghalalkan apa saja terhadap pasangan hidup yang telah diikat dengan akad resmi bahkan setiap kenikmatan yang dilakukan terhadap pasangan hidupnya semuanya bernilai pahala, baik saat berpegangan tangan bahkan lebih dari itu.
Allah mengharamkan mencari rizqi dengan cara menipu, korupsi, merampok atau dengan cara riba; namun Allah menghalalkan mencari rizqi dengan cara berniaga, bercocok tanam, berternak, atau aktifitas apapun yang dilakukan dengan cara yang baik dan tidak merugikan orang lain. Bahkan Allah telah menjamin rizqi setiap makhluk-Nya agar dia dapat tenang dengan mencari rizqi dengan cara yang halal.
Orang yang melanggar perintah Allah maka hidupnya selama di dunia akan mengalami kegelisahan, sehingga dadanya sesak bagai naik ke atas bukit. Dan di akhirat dia akan diancam dengan siksaan yang keras.
Sedangkan orang yang mengikuti perintah Allah, dia akan memperoleh ketenangan jiwa dan kebahagiaan dunia, serta di akhirat kelak akan memperoleh anugerah kebahagiaan abadi.
Jadi sesungguhnya semua yang kita jalani adalah sebuah pilihan hidup kita. Sehingga sangat pantas orang yang melanggar perintah-Nya di juluki sebagai orang bodoh karena dia lebih memilih kebodohan, sedangkan orang yang mentaati perintah-Nya disebut sebagai orang cerdas karena lebih memilih kecerdasan.
"Setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati , dan Kami menguji kalian dengan kejelekan dan kebaikan sebagai satu fitnah ( ujian ), dan hanya kepada Kami lah kalian akan dikembalikan. ” ( Al - Anbiya ` : 35 )
"Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya." (QS. At - Talaq :4 )
"Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangk a -sangka." ( QS. At - Thalaq : 2 - 3 )
“Maka disebabkan mereka melanggar perjanjian itu, dan karena kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah dan mereka membunuh nabi-nabi tanpa (alasan) yang benar dan mengatakan: “Hati kami tertutup.” Bahkan, sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya.. .” (QS an-Nisa: 155)
“Allah Telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup . dan bagi mereka siksaan yang besar.” (QS al-Baqarah: 7)
“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatan niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit….” (Qs al-An’am: 125)
Ibnu Umar radhiyallaahu ‘anhuma berkata, “Suatu hari aku duduk bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam , tiba-tiba datang seorang lelaki dari kalangan Anshar, kemudian ia mengucapkan salam kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang mukmin yang paling utama?’ Rasulullah menjawab, ‘Yang paling baik akhlaqnya’. Kemudian ia bertanya lagi, ‘Siapakah orang mukmin yang paling pintar?’. Beliau menjawab, ‘ Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas .’ (HR. Ibnu Majah, Thabrani, dan Al Haitsamiy)
”Orang yang cerdas adalah orang yang mampu menundukkan hawa nafsunya serta biasa beramal untuk bekal kehidupan setelah mati. Sebaliknya, orang yang lemah adalah orang yang memperturutkan hawa nafsunya, sementara dia berangan-angan kepada Allah”. (HR. Ibnu Majah).
(Gantira, 21 Januari 2017, Bogor)
Ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah akan selalu menguji setiap manusia untuk memilih antara kebodohan atau kecerdasan.
Orang yang melanggar perintah Allah adalah orang yang lebih memilih untuk bodoh, sedangkan orang yang taat pada perintah Allah adalah orang yang memilih untuk cerdas.
Tidaklah Allah melarang sesuatu kecuali Allah memberikan alternatif lainnya yang diperbolehkan, bahkan yang diperbolehkan itu jauh lebih banyak dan lebih nikmat daripada yang dilarang-Nya.
Allah mengharamkan mengkonsumsi makanan haram yang jumlahnya relatif sedikit seperti babi dan bangkai; namun Allah menghalalkan banyak makanan lainnya yang halal dan jauh lebih bermanfaat seperti ikan, daging sapi, domba, ayam, bebek, sayur mayur, burung dan banyak lagi yang jumlahnya tak terhingga.
Allah mengharamkan mendekati jina; namun Allah menghalalkan apa saja terhadap pasangan hidup yang telah diikat dengan akad resmi bahkan setiap kenikmatan yang dilakukan terhadap pasangan hidupnya semuanya bernilai pahala, baik saat berpegangan tangan bahkan lebih dari itu.
Allah mengharamkan mencari rizqi dengan cara menipu, korupsi, merampok atau dengan cara riba; namun Allah menghalalkan mencari rizqi dengan cara berniaga, bercocok tanam, berternak, atau aktifitas apapun yang dilakukan dengan cara yang baik dan tidak merugikan orang lain. Bahkan Allah telah menjamin rizqi setiap makhluk-Nya agar dia dapat tenang dengan mencari rizqi dengan cara yang halal.
Orang yang melanggar perintah Allah maka hidupnya selama di dunia akan mengalami kegelisahan, sehingga dadanya sesak bagai naik ke atas bukit. Dan di akhirat dia akan diancam dengan siksaan yang keras.
Sedangkan orang yang mengikuti perintah Allah, dia akan memperoleh ketenangan jiwa dan kebahagiaan dunia, serta di akhirat kelak akan memperoleh anugerah kebahagiaan abadi.
Jadi sesungguhnya semua yang kita jalani adalah sebuah pilihan hidup kita. Sehingga sangat pantas orang yang melanggar perintah-Nya di juluki sebagai orang bodoh karena dia lebih memilih kebodohan, sedangkan orang yang mentaati perintah-Nya disebut sebagai orang cerdas karena lebih memilih kecerdasan.
"Setiap yang berjiwa pasti akan merasakan mati , dan Kami menguji kalian dengan kejelekan dan kebaikan sebagai satu fitnah ( ujian ), dan hanya kepada Kami lah kalian akan dikembalikan. ” ( Al - Anbiya ` : 35 )
"Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya." (QS. At - Talaq :4 )
"Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rizki dari arah yang tidak disangk a -sangka." ( QS. At - Thalaq : 2 - 3 )
“Maka disebabkan mereka melanggar perjanjian itu, dan karena kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah dan mereka membunuh nabi-nabi tanpa (alasan) yang benar dan mengatakan: “Hati kami tertutup.” Bahkan, sebenarnya Allah telah mengunci mati hati mereka karena kekafirannya.. .” (QS an-Nisa: 155)
“Allah Telah mengunci mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup . dan bagi mereka siksaan yang besar.” (QS al-Baqarah: 7)
“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, niscaya dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. dan barangsiapa yang dikehendaki Allah kesesatan niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit….” (Qs al-An’am: 125)
Ibnu Umar radhiyallaahu ‘anhuma berkata, “Suatu hari aku duduk bersama Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam , tiba-tiba datang seorang lelaki dari kalangan Anshar, kemudian ia mengucapkan salam kepada Nabi shallallaahu ‘alaihi wa sallam dan bertanya, ‘Wahai Rasulullah, siapakah orang mukmin yang paling utama?’ Rasulullah menjawab, ‘Yang paling baik akhlaqnya’. Kemudian ia bertanya lagi, ‘Siapakah orang mukmin yang paling pintar?’. Beliau menjawab, ‘ Yang paling banyak mengingat mati, kemudian yang paling baik dalam mempersiapkan kematian tersebut, itulah orang yang paling cerdas .’ (HR. Ibnu Majah, Thabrani, dan Al Haitsamiy)
”Orang yang cerdas adalah orang yang mampu menundukkan hawa nafsunya serta biasa beramal untuk bekal kehidupan setelah mati. Sebaliknya, orang yang lemah adalah orang yang memperturutkan hawa nafsunya, sementara dia berangan-angan kepada Allah”. (HR. Ibnu Majah).
(Gantira, 21 Januari 2017, Bogor)
Subscribe to:
Posts (Atom)
