Untuk tulisan "Kenalilah Rizqi Kita (Bagian 3)" Bisa dibaca di
http://sudutpandang2.blogspot.co.id/2016/08/kenalilah-rizqi-kita-bagian-3.html?m=1
Apakah makna sebenarnya dari Doa dan syarat apa saja agar doa kita terkabul?
Makna dasar dari Doa adalah berkomunikasi langsung atau istilah gaulnya adalah curhat. Jadi makna berdoa kepada Allah adalah bahwa kita sedang berkomunikasi langsung dengan Allah.
Bila kita memahami makna komunikasi ini, maka kita akan menyadari bahwa doa ini adalah suatu kejadian yang sangat besar, yaitu kita sedang berkomunikasi dengan Tuhannya manusia, jin, malaikat serta Tuhannya semua makhluk di alam semesta ini.
Sebagai contoh sederhana, bagaimana bila kita berkomunikasi dengan seorang Bupati, Gubernur atau Presiden, mungkin kita akan berapi2 dan benar2 mempersiapkan diri degan sebaik2nya. Apalagi bila kita berkomunikasi dengan Rajanya para raja di alam semesta ini, semestinya kita semakin meresapinya.
Ada sebuah kisah yang luar biasa tentang aplikasi pemahaman akan komunikasi dengan Allah ini, yaitu kisah seorang ulama Tabi'in yang bernama Sa'id bin Al–Musayyib.
Suatu hari, setelah shalat, dia berzikir di depan kabah, tidak berapa lama datang mendekat kepadanya seorang khalifah sambil mengucapkan salam lalu Sa'id bin Al–Musayyib menjawab salam itu tanpa berbalik menghadap khalifah. Khalifah mengulang kembali ucapan salam kepadanya dan Sa'id pun menjawab salam itu tanpa berbalik sedikit pun. Kemudian yang ketiga kalinya, Khalifah mengucapkan salam lagi, dan Sa'id bin Al–Musayyib menjawab salam itu lalu setelah menyelesaikan dzikirnya dengan tenang berbalik menghadap Khalifah sambil bertanya "Ada apa wahai Amirul Mukmin?"
Khalifahpun berkata dan menanyakan kepadanya apakah ada kebutuhan dunia yang bisa dia penuhi, apakah ada hutang yang bisa dia bantu membayarkannya atau permintaan lainnya untuk memenuhi kebutuhan keluarganya.
Lalu Sa'id bin Al–Musayyib berkata, "Sebelum saya menyampaikan hajat saya, bolehkah saya menjelaskan kenapa saya tidak berbalik saat khalifah mengucapkan salam padanya?" Khalifah pun mengiyakan, dia pun sebelumnya terbersit mempertanyakan hal itu dalam batinnya.
Lalu Sa'id bin Al–Musayyib menjelaskan bahwa saat itu dia sedang berkomunikasi dengan Raja semua makhluk di alam semesta ini, jadi rasanya malu kalau memutuskan komunikasi dengan-Nya hanya karena dipotong oleh rajanya sebagian manusia.
Mendengar jawaban itu, khalifah terdiam malu. Lalu Sa'id bin Al–Musayyib berkata, "Mengenai tawaran Amirul Mukminin, ketahuilah bahwa saya sekarang berada di rumah Raja pemilik dunia dan langit serta seisinya, dan selama berada di sini dia tidak sedikitpun meminta dunia kepada-Nya, bagaimana mungkin dirinya meminta dunia pada orang yang tidak memiliki dunia".
Mendengar jawaban itu, Khalifah pamit mundur dengan malu dan berkata pada pengawalnya bahwa Sa'id bin Al–Musayyib adalah orang akhirat.
Itulah pemahaman yang luar biasa dipahami oleh Sa'id bin Al–Musayyib , sehingga saat berkomunikasi dengan-Nya dia sangat khusu dan merasa sedang berhadapan dengan Dzat Yang Maha Agung.
Dalam kisah lain, Hasan ra, cucunya Rasulullah, bila subuh tiba mukanya merah penuh ketakutan. Beliau ditanya kenapa bisa seperti itu, lalu dia menjawab bahwa dirinya sebentar lagi akan memasuki rumah Tuhan Alam Semesta.
Jadi kalau kita memahami dengan baik akan makna doa ini, maka kita berdoa tidak seperti rutinitas saja yang hanya komat kamit bagai berkumur tanpa memahami makna doa yang kita baca.
Dalam surat al-Mu'min ayat 60 disebutkan:
“Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku [berdoa kepada-Ku] akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.” (QS al-Mu’min/40: 60)
Dari ayat di atas para ulama terdahulu sangat memahami bahwa barangsiapa yang menggantungkan hajatnya hanya kepada Allah, maka Allah akan mencukupkan segala kebutuhannya dan barangsiapa yang menggantungkan diri kepada selain-Nya maka urusannya akan bercerai berai.
Bahkan sebagian ulama saat sandal jepitnya terputus pun mereka meminta gantinya kepada Allah. Ini memang tampak sepele, tapi ini menunjukkan katauhidan yang benar2 tergantung kepada Allah.
Dan Allah pasti akan menjawab doa semua hamba-Nya. Namun seringkali jawaban itu berupa sinyal2 yang mengharuskan seorang hamba ikut berikhtiar. Sebagai contoh, seorang hamba memohon rizqi, maka Allah memberikan sinyal yang bisa saja berupa kedatangan seseorang yang menawarkan kerja sama bisnis atau hal lainnya yang bisa menjadi perantara datang nya rizqi kepadanya, sehingga kita tinggal memilih jalan mana yang ingin kita lalui.
Ada beberapa syarat agar doa kita dikabulkan oleh Allah Swt, yaitu:
1. Dengan penuh keikhlasan
Yaitu kita tulus berdoa hanya hanya kepada Allah, bukan kepada selain-Nya atau mengharapkan pujian manusia.
Sebagaimana yang terdapat dalam firman Allah SWT pada surat Al-A'raf ayat 29:
"Katakanlah, 'Tuhanku menyuruhku berlaku adil. Hadapkanlah wajahmu (kepada Allah) pada setiap shalat, dan sembahlah Dia dengan mengikhlaskan ibadah semata2 hanya kepada-Nya..."
Pertanyaannya adalah bagaimana supaya bisa ikhlas?
Ada dua cara untuk kita agar kita bisa menguatkan keikhlasan kita, diantaranya adalah:
a. Meyakini bahwa bila kita tidak ikhlas berarti riya
Ini artinya bahwa pasti doa kita tidak akan diterima bahkan berdosa. Sehingga waktu beberapa menit yang kita luangkan untuk berdoa terbuang sia2.
b. Rajin rajinlah menyembunyikan amal ibadah kita
Dalam sebuah hadist disebutkan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Sesungguhnya Allah mencintai hamba yang bertakwa, hamba yang hatinya selalu merasa cukup dan yang suka mengasingkan diri.” (Hr Muslim)
Mengasingkan diri berarti amalannya pun sering tidak ditampakkan pada orang lain.
Ibnul Mubarok mengatakan, “Jadilah orang yang suka mengasingkan diri (sehingga amalan mudah tersembunyi, pen), dan janganlah suka dengan popularitas.”
Az Zubair bin Al ‘Awwam mengatakan, “Barangsiapa yang mampu menyembunyikan amalan sholihnya, maka lakukanlah.”
Imam Asy Syafi’i mengatakan, “Sudah sepatutnya bagi seorang alim memiliki amalan rahasia yang tersembunyi, hanya Allah dan dirinya saja yang mengetahuinya. Karena segala sesuatu yang ditampakkan di hadapan manusia akan sedikit sekali manfaatnya di akhirat kelak.”
Sebagaimana kisah Daud bin Abi Hindi berpuasa selama 40 tahun dan tidak ada satupun orang, termasuk keluarganya yang mengetahuinya. Ia adalah seorang penjual sutera di pasar.
Di pagi hari, ia keluar ke pasar sambil membawa sarapan pagi. Dan di tengah jalan menuju pasar, ia pun menyedekahkannya. Kemudian ia pun kembali ke rumahnya pada sore hari, sekaligus berbuka dan makan malam bersama keluarganya.
Jadi orang-orang di pasar mengira bahwa ia telah sarapan di rumahnya. Sedangkan orang-orang yang berada di rumah mengira bahwa ia menunaikan sarapan di pasar.
Atau sebagaimana kisah Ali bin Al Husain bin ‘Ali. Beliau biasa memikul karung berisi roti setiap malam hari. Beliau pun membagi roti-roti tersebut ke rumah-rumah secara sembunyi-sembunyi. Beliau mengatakan,
“ Sesungguhnya sedekah secara sembunyi-sembunyi akan meredam kemarahan Rabb ‘azza wa jalla. ”
Penduduk Madinah tidak mengetahui siapa yang biasa memberi mereka makan. Tatkala ‘Ali bin Al Husain meninggal dunia, mereka sudah tidak lagi mendapatkan kiriman makanan setiap malamnya. Di punggung Ali bin Al Husain terlihat bekas hitam karena seringnya memikul karung yang dibagikan kepada orang miskin Madinah di malam hari.
2. Berdoa dengan khauf (rasa takut dan harap)
Sebagaimana dalam firman-Nya surat Al-'raf ayat 56:
"Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik."
Yaitu kita berdoa dengan rasa takut akan tidak terkabul Nya doa doa kita karena banyaknya dosa2 yang telah kita lakukan, serta sekaligus kita sangat berharap agar semua doa yang kita panjatkan dikabulkan-Nya.
3. Menggunakan dengan nama2 (sifat2) Allah
Sebagaimana yang difirmankan Allah dalam surat al-'araf ayat 180:
"Hanya milik Allah asmaa-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan." [QS. Al A'raaf : 180].
4. Tidak meminta yang haram
Berdoa tidak untuk dosa ataupun memohon sesuatu yang dilarang, sebagaimana hadis berikut:
“Senantiasa dikabulkannya doa seorang hamba selama ia berdoa tidak untuk dosa atau memutuskan kekeluargaan,” (HR. Muslim dan Tarmidzi).
5. Tidak tergesa2.
Hendaknya janganlah mengucapkan, 'Aku sudah berdoa dan berdoa berkali-kali, tetapi belum dikabulkan juga oleh Allah.' Sebagaimana sabda Rasulullah SAW,
“Dikabulkan doa salah seorang di antara kalian, selama tidak terburu-buru. Dia berkata: aku sudah berdoa, tetapi belum juga dikabulkan,” (HR. Muslim).
6. Jauhi makanan dan pakaian haram
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam besabda:
“Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima kecuali yang baik. Sesungguhnya Allah Ta’ala memerintahkan kepada kaum mukminin seperti yang Dia perintahkan kepada para rasul. Maka, Allah Ta’ala berfirman, ’Wahai para rasul! Makanlah dari (makanan) yang baik-baik, dan kerjakanlah kebajikan’ (al-Mu’minĂ»n/23 ayat 51) dan Allah Ta’ala berfirman,’Wahai orang-orang yang beriman, makanlah dari rizki yang baik yang Kami berikan kepada kamu’ (al-Baqarah/2 ayat 172)
kemudian Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan orang yang lama bepergian; rambutnya kusut, berdebu, dan menengadahkan kedua tangannya ke langit, ‘Wahai Rabb-ku, wahai Rabb-ku,’ sedangkan makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan diberi kecukupan dengan yang haram, bagaimana doanya akan dikabulkan?”
Bagaimanakah tanda terkabulkannya doa kita?
Dalam sebuah hadist riwayat imam Ahmad dari Abu Said al-Khudri Rasulullah shalallahu 'alaihi wassalam bersabda:
“Tidaklah seorang muslim memanjatkan do’a pada Allah selama tidak mengandung dosa dan memutuskan silaturahmi (antar kerabat, pen) melainkan Allah akan beri padanya tiga hal: (1) Allah akan segera mengabulkan do’anya, (2) Allah akan menyimpannya baginya di akhirat kelak, dan (3) Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.” Para sahabat lantas mengatakan, “Kalau begitu kami akan memperbanyak berdo’a.” Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Allah nanti yang memperbanyak mengabulkan do'a-do'a kalian.” (HR. Ahmad 3/18).
Jadi ada 3 bentuk terkabulkannya sebuah doa, yaitu:
1. Allah berkata "ya' dan Dia mengabulkan apa yang kita inginkan (Diperkenankan Langsung)
Apabila seseorang berdo'a, dan apa yang dimintanya itu memang ada manfaatnya, maka sudah jelas Allah Swt akan mengabulkannya.
Allah Subhanahuwata'ala berfirman:
"Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdo`a apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran."
(QS.Al- Baqarah :186)
2. Allah berkata "tunggu" dan Dia akan memberikan yang terbaik untuk kita asalkan kita mau bersabar dan tawakal (Ditunda)
Adakalanya Allah Swt tidak segera mengabulkan do'a kita. Artinya bahwa Allah swt menundanya dan mengabulkannya pada suatu waktu yang dikehendakiNya.
Tertundanya pengabulan do'a ini janganlah kiranya menyebabkan keputus-asaan. Waktu kabulnya do'a ini dapat terjadi kapan saja karena kehendakNya.
a. Ditunda dan dikabulkan di Dunia
Allah Swt menjamin mengabulkan do'a kita, tetapi Allah maha mengetahui apa yang lebih bermanfaat dan kita perlukan saat ini. Allah senantiasa akan mengabulkan do'a kita pada waktu yang pas (tepat) menurutNya. Karena Allah yang mengetahui; apakah permintaan kita saat ini mendatangkan manfaat atau mudarat bagi kita.
b. Ditunda dan diabulkan di Akhirat
Adakalanya Allah swt menunda do'a kita dan disimpan untuk dikabulkan di Akhirat. Karena Allah lebih mengetahui bahwa hal itu lebih baik diberikan di akhirat daripada di dunia.
Diriwayatkan bahwa di akhirat nanti ada seseorang yang terkejut menerima sejumlah karunia yang tidak dikira-kira banyaknya dan tidak sesuai sekali dengan amal ibadahnya dikala dia hidup di dunia.
Diapun bertanya kepada Allah: "Wahai Tuhan, darimana ini semua?". Allah menjawab, "Bukankah Aku telah memerintahkan engkau agar meminta kepadaKu apa saja di dunia ?", dan orang itu berkata, "Betul ya Tuhanku." Maka Allah menerangkannya "Apa yang engkau mohonkan di dunia itu adalah baru sedikit, Kuberikan kini sisanya. Kuserahkan di akhirat," akhirnya orang itu berkata, "Alangkah baiknya jika sekiranya Tuhan memberikan segala yang kuminta itu di akhirat saja, tidak usah di dunia."
3. Allah berkata "tidak" dan Dia akan memberikan kita sesuatu yang lebih baik dari do'a kita (Diganti Dengan yang Lain)
Selain diperkenankan langsung dan ditunda, maka Allah juga bisa mengganti kabulnya do'a kita dengan yang lain.
Penggantian tersebut agaknya ada 2 macam, yaitu:
a. Dipalingkan dari kesusahan/keburukan
Seperti yg dijelaskan dalam HR.Ahmad: ".... Allah akan menghindarkan darinya kejelekan yang semisal.”
b. Dihapuskan dari dosa
“Tidak seorangpun yang berdoa, kecuali akan dikabulkan. Pengabulannya itu bisa segera didunia ini, dan bisa juga ditangguhkan di akhirat kelak, atau bisa juga digantikan dengan pengampunan dosa sesuai dengan kadar doanya itu, dengan syarat ia tidak berdoa untuk sebuah perbuatan dosa, atau memutus tali silaturahim, atau isti’jal (menuntut segera terkabul)”. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, apa yang dimaksud dengan isti’jal itu?” Beliau menjawab, “Seseorang yang berkata, “Aku telah berdoa kepada Robku, namun belum juga dikabulkan” (HR. Ath-Thirmidzi)
Sekali lagi kita coba merenungkan firman Allah:
"..... Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui. (QS.Al-Baqarah:216)
Waktu, keadaan dan dimana sajakah saat2 yang mustajab dalam terkabulnya doa? Untuk jawaban pertanyaan ini ada pada tulisan selanjutnya dengan judul "Kenalilah Rizqi Kita (Bagian 5)"
Disarikan dari Ceramah2 Dr Khalid Baslamah dan sumber lainnya.
(Gantira, 7 Agustus 2016, Bogor)
Saturday, 6 August 2016
Tuesday, 2 August 2016
"Kenalilah Rizqi Kita (Bagian 3)"
Untuk tulisan "Kenalilah Rizqi Kita (Bagian 2)" bisa dibaca di
http://sudutpandang2.blogspot.co.id/2016/07/kenalilah-rizqi-kita-bagian-2.html?m=1
Kiat - kiat apa sajakah yang dapat menambah rizqi kita?
Beberapa kiat untuk menambah limpahan rizqi pada kita, diantaranya adalah:
1. Syukur
Ucapkanlah selalu kata alhamdulillah sebagai bentuk syukur atas segala rizqi yang kita dapatkan.
Sebagaimana dalam salah satu ayat--Nya, Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim [14]: 7)
Ucapan syukur ini harus diucapkan dalam berbagai kegiatan yang sedang kita lakukan. Sehingga para ulama salaf senantiasa mengucapkan dzikir alhamdulillah dalam setiap langkah dan nafasnya. Karena mereka paham bahwa dengan banyak bersyukur akan mempertahankan nikmat yang ada dan menambahnya.
Qs. Al-Ankabut (29) ayat 17
"Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezeki kepadamu; maka mintalah rezeki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan."
2. Berinfaq
Banyak orang yang beranggapan bahwa kekayaan itu bisa didapat dengan memperbanyak tabungan. Padahal dalam islam, kekayaan itu akan bertambah banyak jika kita sering berinfak.
Sehingga pangkal kaya itu bukanlah menabung tapi berinfak.
Dalam sebuah hadist, Rasulullah bersabda:
“Allah Ta’ala berfirman padaku, ‘Berinfaklah kamu, niscaya Aku akan berinfak (memberikan ganti) kepadamu.’ Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Pemberian Allah selalu cukup, dan tidak pernah berkurang walaupun mengalir siang dan malam. Adakah terpikir olehmu, sudah berapa banyakkah yang diberikan Allah sejak terciptanya langit dan bumi? Sesungguhnya apa yang ada di Tangan Allah, tidak pernah berkurang karenanya.” (HR. Bukhari no. 4684 dan Muslim no. 993)
Sebagaimana kisah yang disabdakan oleh Rasulullah:
“Ketika ada seorang sedang berjalan di sebuah padang yang luas tak berair dan sunyi, tiba-tiba dia mendengar suara dari awan, ‘Siramilah kebun si fulan!’ maka awan itu menepi (menjauh) lalu menumpahkankan airnya di tanah dengan bebatuan hitam. Ternyata ada saluran air yang telah dipenuhi dengan air. Maka ia menelusuri (mengikuti) jalannya air tersebut. Ternyata ada seorang laki-laki yang sedang berada di kebunnya, dia sedang mengalirkan air dengan menggunakan cangkulnya. Kemudian dia bertanya, ‘Wahai hamba Alloh, siapakah nama anda?’ dia menjawab, ‘Fulan.’ Sebuah nama yang didengar dari suara di awan tadi. Kemudian orang itu balik bertanya, ‘Mengapa anda menanyakan namaku?’ dia menjawab, ‘Saya mendengar suara dari awan yang ini adalah airnya, mengatakan ‘Siramilah kebun si fulan!’ yaitu nama anda. Maka apakah yang telah anda kerjakan?.’ Dia menjawab, ‘Karena anda telah mengatakan hal ini maka akan saya ceritakan bahwa saya memperhitungkan (membagi) apa yang dihasilkan oleh kebun ini; sepertiganya saya sedekahkan; sepertiganya lagi saya makan bersama keluarga dan sepertiganya lagi saya kembalikan lagi ke kebun (untuk ditanam kembali).” (Hr. Muslim)
3. Halal dan Toyib
Arti halal adalah segala sesuatu yang dibenarkan atau dibolehkan dalam ajaran Islam, sedangkan arti toyib itu adalah bermutu dan tidak membahayakan kesehatan.
Jadi mengkonsumsi makanan yang bergizi dan memiliki kendaraan yang mahal dan berkualitas itu diijinkan dalam islam, yang dilarang itu adalah berlebih-lebihan.
4. Memperbanyak istigfar
Rasulullah istighfar 100 kali setiap zikirnya.
Imam Al-Qurthubi menyebutkan dari Ibnu Shabih, bahwasanya ia berkata "Ada seorang laki-laki mengadu kepada Al-Hasan Al-Bashri tentang kegersangan (bumi) maka beliau berkata kepadanya 'Ber-istighfar-lah kepada Allah!" ,
Yang lain mengadu kepadanya tentang kemiskinan maka beliau berkata kepadanya 'Ber-istighfar-lah kepada Allah!" ,
Yang lain lagi berkata kepadanya, 'Do'akanlah (aku) kepada Allah, agar Ia memberiku anak!, maka beliau mengatakan kepadanya 'Ber-istighfar-lah kepada Allah!" ,
Dan yang lain lagi mengadu kepadanya tentang kekeringan kebunnya maka beliau mengatakan (pula) kepadanya. 'Ber-istighfar-lah kepada Allah!".
"Maka Ar-Rabi' bin Shabih berkata kepadanya, 'Banyak orang yang mengadukan macam-macam (perkara) dan Anda memerintahkan mereka semua untuk ber-istighfar.
Maka Al-Hasan Al-Bashri menjawab, 'Aku tidak mengatakan hal itu dari diriku sendiri. Tetapi sungguh Allah telah berfirman dalam surat Nuh.
"Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai- sungai". (Nuh /71: 10-12)
5. Bertaqwa
Bertakwa artinya patuh pada semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya.
Dalam surat Ath-Thalaq Ayat 2 dan 3, disebutkan:
"... Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya... "
Pada ayat di atas dijelaskan bahwa Allah akan melimpahkan rizqi bagi orang yang taat pada-Nya.
Bahwa Rasulullah SAW. bersabda,"Wahai manusia, jadikan taqwa kepada Allah sebagai dagangan kalian! Niscaya rezeki akan mendatangi kalian dengan tanpa barang dagangan dan perdagangan." Kemudian beliau SAW. membaca QS Ath Thalaq 2-3 (HR Thabrani, Ibnu Mardawaih, Abu Na'im dan Daelami)
Ibnu Abbas berkata,"Artinya Allah akan menyelamatkannya dari setiap kesusahan di dunia dan akhirat.". Rubai' bin Haitsam berkata,"Allah akan menjadikan jalan keluar untuknya dari segala sesuatu yang membuatnya merasa sempit."
Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya mengatakan,"Yaitu barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, maka Allah akan memberikan jalan keluar dalam setiap urusannya, dan Dia akan memberikan rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka, yakni dari jalan yang tidak pernah terlintas sama sekali sebelumnya."
Ibnu Mas'ud berkata, "Maksudnya memberi rezeki dari arah yang tidak diketahuinya dan tidak terbesit dalam pikiran sebelumnya". Qatadah berkata,"Memberinya rezeki sekiranya ia tidak mengharap dan mengangankannya."
6. Bertawakal
Bertawakal artinya adalah menyerahkan masalah kepada Allah setelah berikhtiar semaksimal mungkin. Tawakal berbeda dengan tawakul atau menyerahkan semuanya pada Allah tanpa berikhtiar sedikitpun.
Terkait tawakal ini sebagaimana ada dalam surat Ath-Thalaq Ayat 3, disebutkan:
"...Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya."
'Atha berkata,"Artinya Allah akan memudahkan untuknya problematika kehidupan di dunia dan di akhirat."
7. Silaturahmi
Silaturahmi itu artinya adalah berbuat baik kepada kerabat yang memiliki hubungan nasab dengan cara bersikap lembut, menyayangi dan memperhatikan kondisi mereka.
Dalam sebuah hadist disebutkan, "Dari Abu Hurairoh r.a: Rosul bersabda barang siapa yang ingin diluaskan rizkinya, dan di panjangkan umurnya, hendaklah dia menyambungkan silaturahmi" (H.R. Bukhori)
Dalam hadist lain disebutkan, Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda,
‘Pelajarilah silsilah nasab kalian agar kalian mengenali tali darah kalian, sebab menyambung tali darah dapat menambah kasih sayang dalam keluarga, menambah harta dan dapat menambah usia’.
8. Hijrah
Bila kita berada di satu tempat yang menyulitkan kita untuk beribadah maka berhijrahlah karena sesungguhnya Allah memiliki rizqi yang banyak, sebagaimana yang difirmankan dalam surat Anisa ayat 100:
"Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian
menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
9. Haji dan Umroh
Rosululloh Sholallohu ‘alaihi was salam bersabda :
“Lanjutkanlah haji dengan umroh atau sebaliknya. Karena sesungguhnya keduanya dapat menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana api dapat mengilangkan kotoran besi.” (HR. An Nasa’i)
Syaikh Abul Hasan As Sindi menjelaskan haji dengan umroh atau sebaliknya berkata,”Jadikanlah salah satunya mengikuti yang lain, dimana ia dilakukan sesudahnya. Artinya, jika kalian menunaikan haji maka tunaikanlah umroh. Dan jika kalian menunaikan umroh maka tunaikanlah haji, sebab keduanya saling mengikuti.”
(Hasyiyatul Imam As Sindi ‘ala Sunan An Nasa’i, 5 / 115)
Sedangkan Imam Ath Thoyyibi dalam menjelaskan sabda Nabi SAW.:
“…Sesungguhnya keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa…”
“Kemampuan keduanya untuk menghilangkan kemiskinan seperti kemampuan amalan bersedekah dalam menambah harta.” (Faidhul Qodir, 3 / 225)
10. Doa
Dalam sebuah hadits Rasulullah Shalallahu ’Alaihi Wa sallam menjelaskan bahwa taqdir yang Allah Ta’aala telah tentukan boleh berubah. Dan faktor yang dapat mengubah taqdir ialah doa seseorang.
Bersabda Rasulullah Shalallahu ’Alaihi Wa sallam:
“Tidak ada yang dapat menolak taqdir (ketentuan) Allah Ta’ala selain do’a. Dan Tidak ada yang dapat menambah (memperpanjang) umur seseorang selain (perbuatan) baik.” (HR Tirmidzi 2065)
Betapa luar biasa kedudukan do’a dalam ajaran Islam. Dengan do’a seseorang boleh berharap bahwa taqdir yang Allah Ta’ala tentukan atas dirinya berubah. Hal ini merupakan sebuah berita gembira bagi siapa pun yang selama ini merasa hidupnya hanya diwarnai penderitaan dari waktu ke waktu. Ia akan menjadi orang yang optimis.
Sebab keadaan hidupnya yang selama ini dirasakan hanya berisi kesengsaraan dapat berakhir dan berubah. Asal ia tidak berputus asa dari rahmat Allah Ta'ala dan ia mau bersungguh-sungguh meminta dengan do’a yang tulus kepada Allah Ta'ala Yang Maha Berkuasa.
Allah SWT berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina,” (QS. Al-Mu’min: 60).
Apakah syarat- syarat agar semua doa kita dikabulkan oleh-Nya?
Untuk jawaban pertanyaan ini ada pada tulisan selanjutnya dengan judul "Kenalilah Rizqi Kita (Bagian 4)"
Sumber: Intisari dari Ceramah2 Ust. Dr Khalid Baslamah serta sumber lainnya.
(Gantira, 3 Agustus 2016, Bogor)
http://sudutpandang2.blogspot.co.id/2016/07/kenalilah-rizqi-kita-bagian-2.html?m=1
Kiat - kiat apa sajakah yang dapat menambah rizqi kita?
Beberapa kiat untuk menambah limpahan rizqi pada kita, diantaranya adalah:
1. Syukur
Ucapkanlah selalu kata alhamdulillah sebagai bentuk syukur atas segala rizqi yang kita dapatkan.
Sebagaimana dalam salah satu ayat--Nya, Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih.” (QS. Ibrahim [14]: 7)
Ucapan syukur ini harus diucapkan dalam berbagai kegiatan yang sedang kita lakukan. Sehingga para ulama salaf senantiasa mengucapkan dzikir alhamdulillah dalam setiap langkah dan nafasnya. Karena mereka paham bahwa dengan banyak bersyukur akan mempertahankan nikmat yang ada dan menambahnya.
Qs. Al-Ankabut (29) ayat 17
"Sesungguhnya apa yang kamu sembah selain Allah itu adalah berhala, dan kamu membuat dusta. Sesungguhnya yang kamu sembah selain Allah itu tidak mampu memberikan rezeki kepadamu; maka mintalah rezeki itu di sisi Allah, dan sembahlah Dia dan bersyukurlah kepada-Nya. Hanya kepada-Nya-lah kamu akan dikembalikan."
2. Berinfaq
Banyak orang yang beranggapan bahwa kekayaan itu bisa didapat dengan memperbanyak tabungan. Padahal dalam islam, kekayaan itu akan bertambah banyak jika kita sering berinfak.
Sehingga pangkal kaya itu bukanlah menabung tapi berinfak.
Dalam sebuah hadist, Rasulullah bersabda:
“Allah Ta’ala berfirman padaku, ‘Berinfaklah kamu, niscaya Aku akan berinfak (memberikan ganti) kepadamu.’ Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Pemberian Allah selalu cukup, dan tidak pernah berkurang walaupun mengalir siang dan malam. Adakah terpikir olehmu, sudah berapa banyakkah yang diberikan Allah sejak terciptanya langit dan bumi? Sesungguhnya apa yang ada di Tangan Allah, tidak pernah berkurang karenanya.” (HR. Bukhari no. 4684 dan Muslim no. 993)
Sebagaimana kisah yang disabdakan oleh Rasulullah:
“Ketika ada seorang sedang berjalan di sebuah padang yang luas tak berair dan sunyi, tiba-tiba dia mendengar suara dari awan, ‘Siramilah kebun si fulan!’ maka awan itu menepi (menjauh) lalu menumpahkankan airnya di tanah dengan bebatuan hitam. Ternyata ada saluran air yang telah dipenuhi dengan air. Maka ia menelusuri (mengikuti) jalannya air tersebut. Ternyata ada seorang laki-laki yang sedang berada di kebunnya, dia sedang mengalirkan air dengan menggunakan cangkulnya. Kemudian dia bertanya, ‘Wahai hamba Alloh, siapakah nama anda?’ dia menjawab, ‘Fulan.’ Sebuah nama yang didengar dari suara di awan tadi. Kemudian orang itu balik bertanya, ‘Mengapa anda menanyakan namaku?’ dia menjawab, ‘Saya mendengar suara dari awan yang ini adalah airnya, mengatakan ‘Siramilah kebun si fulan!’ yaitu nama anda. Maka apakah yang telah anda kerjakan?.’ Dia menjawab, ‘Karena anda telah mengatakan hal ini maka akan saya ceritakan bahwa saya memperhitungkan (membagi) apa yang dihasilkan oleh kebun ini; sepertiganya saya sedekahkan; sepertiganya lagi saya makan bersama keluarga dan sepertiganya lagi saya kembalikan lagi ke kebun (untuk ditanam kembali).” (Hr. Muslim)
3. Halal dan Toyib
Arti halal adalah segala sesuatu yang dibenarkan atau dibolehkan dalam ajaran Islam, sedangkan arti toyib itu adalah bermutu dan tidak membahayakan kesehatan.
Jadi mengkonsumsi makanan yang bergizi dan memiliki kendaraan yang mahal dan berkualitas itu diijinkan dalam islam, yang dilarang itu adalah berlebih-lebihan.
4. Memperbanyak istigfar
Rasulullah istighfar 100 kali setiap zikirnya.
Imam Al-Qurthubi menyebutkan dari Ibnu Shabih, bahwasanya ia berkata "Ada seorang laki-laki mengadu kepada Al-Hasan Al-Bashri tentang kegersangan (bumi) maka beliau berkata kepadanya 'Ber-istighfar-lah kepada Allah!" ,
Yang lain mengadu kepadanya tentang kemiskinan maka beliau berkata kepadanya 'Ber-istighfar-lah kepada Allah!" ,
Yang lain lagi berkata kepadanya, 'Do'akanlah (aku) kepada Allah, agar Ia memberiku anak!, maka beliau mengatakan kepadanya 'Ber-istighfar-lah kepada Allah!" ,
Dan yang lain lagi mengadu kepadanya tentang kekeringan kebunnya maka beliau mengatakan (pula) kepadanya. 'Ber-istighfar-lah kepada Allah!".
"Maka Ar-Rabi' bin Shabih berkata kepadanya, 'Banyak orang yang mengadukan macam-macam (perkara) dan Anda memerintahkan mereka semua untuk ber-istighfar.
Maka Al-Hasan Al-Bashri menjawab, 'Aku tidak mengatakan hal itu dari diriku sendiri. Tetapi sungguh Allah telah berfirman dalam surat Nuh.
"Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan membanyakkan harta dan anak-anakmu dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai- sungai". (Nuh /71: 10-12)
5. Bertaqwa
Bertakwa artinya patuh pada semua perintah Allah dan menjauhi semua larangan-Nya.
Dalam surat Ath-Thalaq Ayat 2 dan 3, disebutkan:
"... Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya... "
Pada ayat di atas dijelaskan bahwa Allah akan melimpahkan rizqi bagi orang yang taat pada-Nya.
Bahwa Rasulullah SAW. bersabda,"Wahai manusia, jadikan taqwa kepada Allah sebagai dagangan kalian! Niscaya rezeki akan mendatangi kalian dengan tanpa barang dagangan dan perdagangan." Kemudian beliau SAW. membaca QS Ath Thalaq 2-3 (HR Thabrani, Ibnu Mardawaih, Abu Na'im dan Daelami)
Ibnu Abbas berkata,"Artinya Allah akan menyelamatkannya dari setiap kesusahan di dunia dan akhirat.". Rubai' bin Haitsam berkata,"Allah akan menjadikan jalan keluar untuknya dari segala sesuatu yang membuatnya merasa sempit."
Imam Ibnu Katsir dalam kitab tafsirnya mengatakan,"Yaitu barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah, menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, maka Allah akan memberikan jalan keluar dalam setiap urusannya, dan Dia akan memberikan rezeki dari arah yang tiada disangka-sangka, yakni dari jalan yang tidak pernah terlintas sama sekali sebelumnya."
Ibnu Mas'ud berkata, "Maksudnya memberi rezeki dari arah yang tidak diketahuinya dan tidak terbesit dalam pikiran sebelumnya". Qatadah berkata,"Memberinya rezeki sekiranya ia tidak mengharap dan mengangankannya."
6. Bertawakal
Bertawakal artinya adalah menyerahkan masalah kepada Allah setelah berikhtiar semaksimal mungkin. Tawakal berbeda dengan tawakul atau menyerahkan semuanya pada Allah tanpa berikhtiar sedikitpun.
Terkait tawakal ini sebagaimana ada dalam surat Ath-Thalaq Ayat 3, disebutkan:
"...Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan keperluannya."
'Atha berkata,"Artinya Allah akan memudahkan untuknya problematika kehidupan di dunia dan di akhirat."
7. Silaturahmi
Silaturahmi itu artinya adalah berbuat baik kepada kerabat yang memiliki hubungan nasab dengan cara bersikap lembut, menyayangi dan memperhatikan kondisi mereka.
Dalam sebuah hadist disebutkan, "Dari Abu Hurairoh r.a: Rosul bersabda barang siapa yang ingin diluaskan rizkinya, dan di panjangkan umurnya, hendaklah dia menyambungkan silaturahmi" (H.R. Bukhori)
Dalam hadist lain disebutkan, Diriwayatkan dari Abu Hurairah, Rasulullah saw bersabda,
‘Pelajarilah silsilah nasab kalian agar kalian mengenali tali darah kalian, sebab menyambung tali darah dapat menambah kasih sayang dalam keluarga, menambah harta dan dapat menambah usia’.
8. Hijrah
Bila kita berada di satu tempat yang menyulitkan kita untuk beribadah maka berhijrahlah karena sesungguhnya Allah memiliki rizqi yang banyak, sebagaimana yang difirmankan dalam surat Anisa ayat 100:
"Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi ini tempat hijrah yang luas dan rezeki yang banyak. Barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian kematian
menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), maka sungguh telah tetap pahalanya di sisi Allah. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
9. Haji dan Umroh
Rosululloh Sholallohu ‘alaihi was salam bersabda :
“Lanjutkanlah haji dengan umroh atau sebaliknya. Karena sesungguhnya keduanya dapat menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa sebagaimana api dapat mengilangkan kotoran besi.” (HR. An Nasa’i)
Syaikh Abul Hasan As Sindi menjelaskan haji dengan umroh atau sebaliknya berkata,”Jadikanlah salah satunya mengikuti yang lain, dimana ia dilakukan sesudahnya. Artinya, jika kalian menunaikan haji maka tunaikanlah umroh. Dan jika kalian menunaikan umroh maka tunaikanlah haji, sebab keduanya saling mengikuti.”
(Hasyiyatul Imam As Sindi ‘ala Sunan An Nasa’i, 5 / 115)
Sedangkan Imam Ath Thoyyibi dalam menjelaskan sabda Nabi SAW.:
“…Sesungguhnya keduanya menghilangkan kemiskinan dan dosa-dosa…”
“Kemampuan keduanya untuk menghilangkan kemiskinan seperti kemampuan amalan bersedekah dalam menambah harta.” (Faidhul Qodir, 3 / 225)
10. Doa
Dalam sebuah hadits Rasulullah Shalallahu ’Alaihi Wa sallam menjelaskan bahwa taqdir yang Allah Ta’aala telah tentukan boleh berubah. Dan faktor yang dapat mengubah taqdir ialah doa seseorang.
Bersabda Rasulullah Shalallahu ’Alaihi Wa sallam:
“Tidak ada yang dapat menolak taqdir (ketentuan) Allah Ta’ala selain do’a. Dan Tidak ada yang dapat menambah (memperpanjang) umur seseorang selain (perbuatan) baik.” (HR Tirmidzi 2065)
Betapa luar biasa kedudukan do’a dalam ajaran Islam. Dengan do’a seseorang boleh berharap bahwa taqdir yang Allah Ta’ala tentukan atas dirinya berubah. Hal ini merupakan sebuah berita gembira bagi siapa pun yang selama ini merasa hidupnya hanya diwarnai penderitaan dari waktu ke waktu. Ia akan menjadi orang yang optimis.
Sebab keadaan hidupnya yang selama ini dirasakan hanya berisi kesengsaraan dapat berakhir dan berubah. Asal ia tidak berputus asa dari rahmat Allah Ta'ala dan ia mau bersungguh-sungguh meminta dengan do’a yang tulus kepada Allah Ta'ala Yang Maha Berkuasa.
Allah SWT berfirman, “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina,” (QS. Al-Mu’min: 60).
Apakah syarat- syarat agar semua doa kita dikabulkan oleh-Nya?
Untuk jawaban pertanyaan ini ada pada tulisan selanjutnya dengan judul "Kenalilah Rizqi Kita (Bagian 4)"
Sumber: Intisari dari Ceramah2 Ust. Dr Khalid Baslamah serta sumber lainnya.
(Gantira, 3 Agustus 2016, Bogor)
Friday, 29 July 2016
"Kenalilah Rizqi Kita (Bagian 2)"
Untuk tulisan "Kenalilah Rizqi Kita (Bagian 1)" bisa dibaca di http://sudutpandang2.blogspot.co.id/2016/07/kenalilah-rizqi-kita-bagian-1.html?m=1
Beberapa dalil yang menyatakan bahwa Allah Maha Pemberi rizqi dan tidak ada gunanya bergantung kepada selain-Nya,
1. Surat Saba' ayat 24
“ Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?” Katakanlah: “Allah .” (QS. Saba’: 24)
Ada sebuah kisah seorang ulama besar di jaman Tabi'in. Dia adalah seorang ulama sekaligus seorang pengusaha yang sangat kaya raya. Suatu hari dengan hikmah Allah usahanya bangkrut dan dia terlilit hutang, sampai2 dia berhenti mengajar. Dan selama 2 tahun, dia hidup berpindah2 dari satu tempat ke tempat yang lain sambil meminta tolong pada orang lain untuk diberikan makan, sudah tidak punya waktu untuk mengajar karena hidup begitu susahnya, terlilit hutang dan dikejar2 orang.
Setelah dua tahun dia melalang buana ke berbagai tempat, suatu hari Allah memberikan pelajaran pada dia. Dia masuk ke Kota Baghdad, ibukota Irak, di situ ada sebuah mesjid Jami besar. Pada saat masuk, ada beberapa orang miskin yang berdiri di belakang mesjid yang sedang memegang berbagai bingkisan. Maka dia pun bertanya kepada mereka terkait asal pemberiannya itu, dan dia pun mau.
Tiba2 salah seorang miskin di antara mereka berkata bahwa di depan shaf pertama ada seseorang yang sedang duduk, maka mintalah padanya, karena dia akan memberikannya kepada siapa saja yang meminta kepadanya.
Maka orang alim ini pun datang ke dalam mesjid dengan pelan2 layaknya orang miskin yang meminta2 lalu mendekati orang yang dimaksud yang saat itu sedang berdoa. Saat dirinya sudah dekat, terdengar orang tersebut memanjatkan doa "Ya Allah, Dzat Yang Maha Kaya, Dzat Yang tidak pernah habis persediaannya, Dzat Yang Selalu mengurus makhluk-Nya. Berikan dan berkahilah apa yang telah Engkau berikan padaku.".
Lalu orang alim ini berkata, "Subhanallah, yang selama dua tahun ini dia telah tertipu oleh syaitan. Meminta2 pada manusia yang sebenarnya mereka seperti saya. Orang kaya ini pun meminta dan merengek hanya kepada Allah."
Semenjak saat itu, orang alim ini berhenti meminta-minta dan dia mulai bekerja berusaha berikhtiar sambil berdoa dan beristighfar kepada Allah. Tidak lebih dari satu bulan kemudian kembali menjadi orang yang kaya raya. Allah kembalikan keadaannya karena dia kembali kepada Allah.
Betapa banyak orang yang bangkrut, malah semakin jauh dari Allah dan tergoda oleh bisikan syetan yang dihembuskan kepadanya. Maka dia semakin jauh dari target yang diharapkannya.
Jadi mintalah segalanya hanya kepada Allah. Bahkan kita boleh tamak dalam meminta rahmat kepada Allah. Meminta sehat pada saat sehat jauh lebih baik daripada meminta sehat setelah kita jatuh sakit. Begitu juga meminta kekayaan pada saat kita kaya lebih baik daripada kita meminta kaya disaat kita telah bangkrut.
Dalam salah satu hadist disebutkan:
“Ingatlah Allah ketika senang, maka Allah akan mengingat engkau ketika sulit.” (HR. Hakim).
2. Surat Ar - Rum ayat 37
"Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Sesungguhnya Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan (rezeki itu). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang beriman." (Qs. Ar-Ruum:37)
Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa Dia-lah Rabb Yang mengatur lagi melakukan semua itu (mengatur rizqi) dengan kebijaksanaan dan keadilan-Nya. Dia memberikan keluasan kepada suatu kaum dan memberikan kesempitan kepada kaum yang lain.
Dan dalam Tafsir Ath-Thabari dijelaskan bahwa maksudnya adalah, orang2 yang senang mendapat kesenangan dan kemewahan hidup dan berputus asa jika ditimpa kesusahan, apakah mereka tidak melihat dengan mata hati mereka agar mereka tahu bahwa kesulitan dan kesenangan ada di tangan Allah? Sesungguhnya Allah melapangkan dan menyempitkan rezeki siapa saja yang Dia kehendaki.
Dan dijelaskan pula dalam Tafsir Ath-Thabari tersebut bahwa sesungguhnya dalam kelapangan dan kesempitan rezeki, serta kaya dan miskin, menjadi bukti nyata bagi orang2 yang percaya dan mengakui bukti2 kekuasaan Allah yang ia lihat dan saksikan.
3. Surat Ghafir ayat 64
"Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kamu tempat menetap dan langit sebagai atap, dan membentuk kamu lalu membaguskan rupamu serta memberi kamu rezki dengan sebahagian yang baik-baik. Yang demikian itu adalah Allah Tuhanmu, Maha Agung Allah, Tuhan semesta alam." (Qs. Ghafir (40): 64)
Dalam Tafsir Ath-Thabari dijelaskan bahwa Allah lah yang menjadikan semua itu (bumi bagi kamu tempat menetap dan langit sebagai atap, dan membentuk kamu lalu membaguskan rupamu serta memberi kamu rezki dengan sebahagian yang baik-baik); yang telah memberikan semua nikmat dan karunia ini kepadamu, wahai manusia, Dia lah Allah, ketuhanan hanya layak untuk-Nya. Dia-lah Tuhanmu yang pemeliharaan tidak layak untuk selain-Nya. Pemeliharaan itu bukan milik sesuatu yang tidak dapat memudharatan atau mendatangkan manfaat, tidak kuasa menciptakan dan tidak pula mampu memberikan rezeki. Maha Agung Allah Pemilik semua makhluk; jin dan manusia, serta seluruh jenis makhluk selain mereka.
4. Surat Qaf ayat 9-11
"Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfa`atnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun, untuk menjadi rezki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). Seperti itulah terjadinya kebangkitan." (Qs. Qaf: 9-11)
Dalam Tafsir Ath-Thabari dijelaskan bahwa Allah telah menumbuhkan dengan air yang diturunkan dari langit, kebun kebun, biji bijian, dan kurma sebagai rezeki bagi hamba2-Nya. Sebagiannya menjadi makanan dan sebagian lain menjadi buah2an serta barang2.
Dijelaskan pula bawa Allah telah menghidupkan dengan air yang diturunkan dari langit, tanah yang mati, gersang, dan tandus, yang tidak ada tanaman serta tumbuh2an padanya. Sebagaimana Allah telah menumbuhkan dengan air ini tanah yang mati, hingga menghidupkannya, lalu mengeluarkan tumbuhan dan tanamannya, maka begitu juga Allah akan mengeluarkan manusia pada Hari Kiamat dalam keadaan hidup dari kubur setelah manusia hancur di dalamnya, dengan sebab air yang Allah turunkan atasnya.
Jadi secara umum yang namanya rizqi itu ada dua, yaitu
1. Rizqi yang sudah ditakdirkan
Hal ini seperti sebuah pohon yang buahnya berjatuhan, tanpa kita minta atau tanpa berusaha, rizqi akan datang pada kita.
Sebagaimana ada dalam hadist:
“Sesungguhnya rizki akan mengejar seorang hamba seperti ajal mengejarnya” (HR Ibnu Hibban (1087-Mawarid))
Beberapa contoh rizqi ini adalah harta warisan yang bukan hasil usaha kita, makanan yang tiba2 datang dari pemberian tetangga tanpa kita memintanya serta banyak lagi contoh lainnya yang datang secara tak terduga.
2. Rizqi yang dihasilkan lewat ikhtiar.
Rizqi ini bagaikan buah yang masih bergelantungan, sehingga kita bisa menggapainya dengan menggunakan tangga. Dalam hal ini tangga tersebut adalah ilmu dan keterampilan, jadi kita mesti memiliki ilmunya dalam menggapai rizqi ikhtiar ini.
Orang muslim ataupun bukan, Allah berikan rizkinya, baik rizqi yang berjatuhan maupun yang masih bergelantungan. Namun yang membedakan orang mukmin dan bukan adalah orang mukmin ada rambu2 nya, dimana dalam mengambil buah2an yang berjatuhan dan bergelantungan tersebut, bagi orang mukmin hanya boleh yang bagus2 saja sedangkan yang busuk harus ditinggalkan. Berbeda denga orang yang tidak beriman, semua buah mereka ambil tanpa batas.
Lalu kiat - kiat apa sajakah untuk menambah rizqi?
Jawaban untuk pertanyaan ini ada pada tulisan selanjutnya "Kenalilah Rizqi Kita (Bagian 3)"
Sumber: Intisari dari Ceramah2 Ust. Dr Khalid Baslamah serta sumber lainnya.
(Gantira, 30 Juli 2016, Bogor)
Beberapa dalil yang menyatakan bahwa Allah Maha Pemberi rizqi dan tidak ada gunanya bergantung kepada selain-Nya,
1. Surat Saba' ayat 24
“ Katakanlah: “Siapakah yang memberi rezeki kepadamu dari langit dan dari bumi?” Katakanlah: “Allah .” (QS. Saba’: 24)
Ada sebuah kisah seorang ulama besar di jaman Tabi'in. Dia adalah seorang ulama sekaligus seorang pengusaha yang sangat kaya raya. Suatu hari dengan hikmah Allah usahanya bangkrut dan dia terlilit hutang, sampai2 dia berhenti mengajar. Dan selama 2 tahun, dia hidup berpindah2 dari satu tempat ke tempat yang lain sambil meminta tolong pada orang lain untuk diberikan makan, sudah tidak punya waktu untuk mengajar karena hidup begitu susahnya, terlilit hutang dan dikejar2 orang.
Setelah dua tahun dia melalang buana ke berbagai tempat, suatu hari Allah memberikan pelajaran pada dia. Dia masuk ke Kota Baghdad, ibukota Irak, di situ ada sebuah mesjid Jami besar. Pada saat masuk, ada beberapa orang miskin yang berdiri di belakang mesjid yang sedang memegang berbagai bingkisan. Maka dia pun bertanya kepada mereka terkait asal pemberiannya itu, dan dia pun mau.
Tiba2 salah seorang miskin di antara mereka berkata bahwa di depan shaf pertama ada seseorang yang sedang duduk, maka mintalah padanya, karena dia akan memberikannya kepada siapa saja yang meminta kepadanya.
Maka orang alim ini pun datang ke dalam mesjid dengan pelan2 layaknya orang miskin yang meminta2 lalu mendekati orang yang dimaksud yang saat itu sedang berdoa. Saat dirinya sudah dekat, terdengar orang tersebut memanjatkan doa "Ya Allah, Dzat Yang Maha Kaya, Dzat Yang tidak pernah habis persediaannya, Dzat Yang Selalu mengurus makhluk-Nya. Berikan dan berkahilah apa yang telah Engkau berikan padaku.".
Lalu orang alim ini berkata, "Subhanallah, yang selama dua tahun ini dia telah tertipu oleh syaitan. Meminta2 pada manusia yang sebenarnya mereka seperti saya. Orang kaya ini pun meminta dan merengek hanya kepada Allah."
Semenjak saat itu, orang alim ini berhenti meminta-minta dan dia mulai bekerja berusaha berikhtiar sambil berdoa dan beristighfar kepada Allah. Tidak lebih dari satu bulan kemudian kembali menjadi orang yang kaya raya. Allah kembalikan keadaannya karena dia kembali kepada Allah.
Betapa banyak orang yang bangkrut, malah semakin jauh dari Allah dan tergoda oleh bisikan syetan yang dihembuskan kepadanya. Maka dia semakin jauh dari target yang diharapkannya.
Jadi mintalah segalanya hanya kepada Allah. Bahkan kita boleh tamak dalam meminta rahmat kepada Allah. Meminta sehat pada saat sehat jauh lebih baik daripada meminta sehat setelah kita jatuh sakit. Begitu juga meminta kekayaan pada saat kita kaya lebih baik daripada kita meminta kaya disaat kita telah bangkrut.
Dalam salah satu hadist disebutkan:
“Ingatlah Allah ketika senang, maka Allah akan mengingat engkau ketika sulit.” (HR. Hakim).
2. Surat Ar - Rum ayat 37
"Dan apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Sesungguhnya Allah melapangkan rezeki bagi siapa yang dikehendaki-Nya dan Dia (pula) yang menyempitkan (rezeki itu). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang beriman." (Qs. Ar-Ruum:37)
Dalam Tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa Dia-lah Rabb Yang mengatur lagi melakukan semua itu (mengatur rizqi) dengan kebijaksanaan dan keadilan-Nya. Dia memberikan keluasan kepada suatu kaum dan memberikan kesempitan kepada kaum yang lain.
Dan dalam Tafsir Ath-Thabari dijelaskan bahwa maksudnya adalah, orang2 yang senang mendapat kesenangan dan kemewahan hidup dan berputus asa jika ditimpa kesusahan, apakah mereka tidak melihat dengan mata hati mereka agar mereka tahu bahwa kesulitan dan kesenangan ada di tangan Allah? Sesungguhnya Allah melapangkan dan menyempitkan rezeki siapa saja yang Dia kehendaki.
Dan dijelaskan pula dalam Tafsir Ath-Thabari tersebut bahwa sesungguhnya dalam kelapangan dan kesempitan rezeki, serta kaya dan miskin, menjadi bukti nyata bagi orang2 yang percaya dan mengakui bukti2 kekuasaan Allah yang ia lihat dan saksikan.
3. Surat Ghafir ayat 64
"Allah-lah yang menjadikan bumi bagi kamu tempat menetap dan langit sebagai atap, dan membentuk kamu lalu membaguskan rupamu serta memberi kamu rezki dengan sebahagian yang baik-baik. Yang demikian itu adalah Allah Tuhanmu, Maha Agung Allah, Tuhan semesta alam." (Qs. Ghafir (40): 64)
Dalam Tafsir Ath-Thabari dijelaskan bahwa Allah lah yang menjadikan semua itu (bumi bagi kamu tempat menetap dan langit sebagai atap, dan membentuk kamu lalu membaguskan rupamu serta memberi kamu rezki dengan sebahagian yang baik-baik); yang telah memberikan semua nikmat dan karunia ini kepadamu, wahai manusia, Dia lah Allah, ketuhanan hanya layak untuk-Nya. Dia-lah Tuhanmu yang pemeliharaan tidak layak untuk selain-Nya. Pemeliharaan itu bukan milik sesuatu yang tidak dapat memudharatan atau mendatangkan manfaat, tidak kuasa menciptakan dan tidak pula mampu memberikan rezeki. Maha Agung Allah Pemilik semua makhluk; jin dan manusia, serta seluruh jenis makhluk selain mereka.
4. Surat Qaf ayat 9-11
"Dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfa`atnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun, untuk menjadi rezki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). Seperti itulah terjadinya kebangkitan." (Qs. Qaf: 9-11)
Dalam Tafsir Ath-Thabari dijelaskan bahwa Allah telah menumbuhkan dengan air yang diturunkan dari langit, kebun kebun, biji bijian, dan kurma sebagai rezeki bagi hamba2-Nya. Sebagiannya menjadi makanan dan sebagian lain menjadi buah2an serta barang2.
Dijelaskan pula bawa Allah telah menghidupkan dengan air yang diturunkan dari langit, tanah yang mati, gersang, dan tandus, yang tidak ada tanaman serta tumbuh2an padanya. Sebagaimana Allah telah menumbuhkan dengan air ini tanah yang mati, hingga menghidupkannya, lalu mengeluarkan tumbuhan dan tanamannya, maka begitu juga Allah akan mengeluarkan manusia pada Hari Kiamat dalam keadaan hidup dari kubur setelah manusia hancur di dalamnya, dengan sebab air yang Allah turunkan atasnya.
Jadi secara umum yang namanya rizqi itu ada dua, yaitu
1. Rizqi yang sudah ditakdirkan
Hal ini seperti sebuah pohon yang buahnya berjatuhan, tanpa kita minta atau tanpa berusaha, rizqi akan datang pada kita.
Sebagaimana ada dalam hadist:
“Sesungguhnya rizki akan mengejar seorang hamba seperti ajal mengejarnya” (HR Ibnu Hibban (1087-Mawarid))
Beberapa contoh rizqi ini adalah harta warisan yang bukan hasil usaha kita, makanan yang tiba2 datang dari pemberian tetangga tanpa kita memintanya serta banyak lagi contoh lainnya yang datang secara tak terduga.
2. Rizqi yang dihasilkan lewat ikhtiar.
Rizqi ini bagaikan buah yang masih bergelantungan, sehingga kita bisa menggapainya dengan menggunakan tangga. Dalam hal ini tangga tersebut adalah ilmu dan keterampilan, jadi kita mesti memiliki ilmunya dalam menggapai rizqi ikhtiar ini.
Orang muslim ataupun bukan, Allah berikan rizkinya, baik rizqi yang berjatuhan maupun yang masih bergelantungan. Namun yang membedakan orang mukmin dan bukan adalah orang mukmin ada rambu2 nya, dimana dalam mengambil buah2an yang berjatuhan dan bergelantungan tersebut, bagi orang mukmin hanya boleh yang bagus2 saja sedangkan yang busuk harus ditinggalkan. Berbeda denga orang yang tidak beriman, semua buah mereka ambil tanpa batas.
Lalu kiat - kiat apa sajakah untuk menambah rizqi?
Jawaban untuk pertanyaan ini ada pada tulisan selanjutnya "Kenalilah Rizqi Kita (Bagian 3)"
Sumber: Intisari dari Ceramah2 Ust. Dr Khalid Baslamah serta sumber lainnya.
(Gantira, 30 Juli 2016, Bogor)
Monday, 25 July 2016
"Kenalilah Rizqi kita (Bagian 1)"
Apakah yang dimaksud dengan rizqi?
Umumnya orang mengatakan bahwa rizqi hanyalah seputar makanan, minuman, tempat tinggal, kendaraan, dan uang.
Padahal yang namanya rizqi itu sangat luas, salah satu contohnya adalah cahaya. Dengan adanya cahaya kita bisa melihat, bisa beraktifitas, bahkan dengan adanya cahaya matahari, dia bisa menghasilkan berbagai energi yang bermanfaat buat manusia.
Selain cahaya, banyak lagi rizqi lainnya berupa hujan, api, angin, udara, tanah, pepohonan, binatang dan banyak lagi yang namanya rizqi yang ada di luar tubuh kita.
Sedangkan dalam tubuh kita sendiri yang termasuk rizqi adalah memiliki tangan, mata, kaki, telinganya serta anggota tubuh lainnya yang sehat dan sempurna dalam mendukung segala aktifitas kehidupan kita sehari-hari.
Ulama salaf mendefinisikan bahwa rizqi adalah semua yang dibutuhkan oleh makhluk untuk menopang roda kehidupan manusia.
--
Dalam sebuah kisah, ada seorang lelaki menemui imam mesjid dan mengeluhkan tentang kemiskinannya.
Namun Syaikh, imam mesjid itu menyatakan situasi sebaliknya bahwa lelaki itu sangat kaya. Lelaki itu tidak percaya dan minta bukti. Lalu Syaikh itu bertanya maukah bila sebelah matanya, sebelah tangannya, dan sebelah ginjalnya dijual ke rumah sakit yang masing2 harga 1 milyar. Lelaki itu keberatan, bahkan kalau lebih dari itu pun dia tidak bersedia menjualnua, karena tidak terbayangkan bagaimana menderitanya bila apa yang ada pada dirinya tersebut diambil dari dirinya.
Lalu Syaikh itu berkata bahwa bukankah dirinya itu sangat
kaya. Jika sebelah matanya harganya lebih dari 1 milyar, satu tangannya
lebih dari 1 milyar, sebelah ginjalnya harganya lebih dari 1 milyar, jika jantungnya, paru-parunya, kakinya, hidungnya, lidahnya, telinganya dan
semuanya dinilai dengan uang, betapa kaya dirinya.
Kekayaannya lebih dari ratusan milyar. Dan Allah memberikan semua itu gratis. Andaikan Allah menyuruh kita membayar oksigennya, menyuruh kita
menyewa penglihatan dan pendengaran, kita takkan
sanggup membayar itu, berapapun uang yang kita miliki.
Sampai di sini, tak terasa mata laki-laki itu telah basah. Ia baru menyadari betapa kaya dirinya. Dia berterimakasih kepada Syaikh, kini dia menyadari
nikmat-nikmat Allah, dan dia merasa betapa kaya dirinya.
Lalu Syaikh itu berkata bahwa untuk selanjutnya, dengan landasan
mensyukur semua itu, maka tingkatkanlah ibadah dan ikhtiar. Perbanyaklah shalat tahajud, mintalah pada Allah di
sepertiga malam terakhir. Adukan semua masalah pada-Nya. Jika surga saja diberikan oleh Allah, tentu sangat mudah bagiNya memberikan apapun di
dunia ini. Rutinkan shalat dhuha dan bersedekahlah.
Tentu yang namanya rezeki berupa uang tidak akan datang seperti hujan yang turun dari langit. Berusahalah, bisa dimulai dari yang kecil asal engkau lakukan dengan sungguh-sungguh, yang penting halal. Jangan malu jika mulai dari berdagang kecil-kecilan. Hasilnya, manfaatkan sebagian untuk makan, sebagian untuk tambahan modal dan sebagian untuk sedekah.
Jika sebelumnya lelaki tersebut masuk masjid dengan langkah gontai, kini ia keluar dari masjid dengan langkah tegap. Hatinya dipenuhi dengan syukur,
harapan baru, dan semangat baru. Sebab ia sadar, ia adalah orang kaya. Kaya dengan karunia dariNya.
---
Dalam surat Adz -Dzariyat ayat 56 - 58 disebutkan:
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh."
Dalam ayat di atas dijelaskan bahwa tujuan diciptakan manusia itu adalah untuk menyembah Allah. Arti kata menyembah Allah itu adalah kita cinta, tunduk, patuh dan takut hanya kepada Allah.
Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa Allah Tabaaraka wa Ta'ala telah menciptakan hamba2-Nya dengan tujuan agar mereka beribadah kepada-Nya semata, Rabb yang tiada sekutu bagi-Nya. Barangsiapa mentaati-Nya, maka ia akan diberikan balasan yang sempurna. Dan barangsiapa yang durhaka kepada-Nya, maka ia akan mendapatkan adzab yang sangat pedih. Dan Allah Ta'ala juga memberitahukan bahwa Dia sama sekali tidak membutuhkan mereka, tetapi justru merekalah yang sangat membutuhkan-Nya dalam segala keadaan. Dengan demikian, Dia adalah Pencipta dan Pemberi rizqi mereka.
Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, "Allah Ta'ala berfirman:'Wahai anak Adam, luangkanlah waktu untuk beribadah kepada-Ku, Aku akan memenuhi hatimu dengan kekayaan dan Aku akan menutupi kefakiranmu. Dan jika kamu tidak melakukannya, maka Aku akan mengisi hatimu dengan kesengsaraan dan Aku tidak akan menutupi kefakiranmu.'"
__
Salah seorang dosen di Ulumul Quro bercerita dalam salah satu ceramahnya bahwa dia pernah berpergian dan satu kendaraan dengan seorang pengusaha di Jeddah. Lalu pengusaha itu bertanya kepadanya, "Syeh, doa apakah yang harus aku amalkan agar kenikmatan yang ada tetap dapat dipertahankan, bahkan lebih meningkat lagi?".
Saat itu, syeh hanya teringat ayat pada surat Adz-Dzariyat ayat 56 - 58. Lalu syeh menjawab, amalkanlah ayat Adz-Dzariyat 56-58 tersebut dan beribadahlah secara totalitas kepada Allah dan lakukanlah semuanya karena Allah.
Lalu setiap mau berdoa, bacalah ayat tersebut dan kemudian panjatkan doa "
"Ya Razak, wahai Dzat yang Maha Pemberi rizqi dan tidak pernah habis stoknya
Zulquatil matiin, sebaik baik tempat bersandar
Urzukni, karuniakan saya rizqi
Barikli, berkahi buat saya"
Satu setengah bulan kemudian pengusaha itu menelponnya dan mengatakan, selama 1,5 bulan ini dia mengamalkan nasihat syeh tersebut. Dia terus membaca surat dan doa yang telah di sarankan pada waktu2 mustajab, hingga dalam 1,5 bulan itu dia memperoleh keuntungan sekitar 1 juta real atau 3,5 milyar. Dan dia berterima kasih akan ilmu yang didapatkannya.
Bersambung... pada tema "Kenalilah Rizqi Kita (Bagian2)"
Sumber: Intisari dari Ceramah2 Ust. Dr Khalid Baslamah serta sumber lainnya.
(Gantira, 25 Juli 2016, Bogor)
Umumnya orang mengatakan bahwa rizqi hanyalah seputar makanan, minuman, tempat tinggal, kendaraan, dan uang.
Padahal yang namanya rizqi itu sangat luas, salah satu contohnya adalah cahaya. Dengan adanya cahaya kita bisa melihat, bisa beraktifitas, bahkan dengan adanya cahaya matahari, dia bisa menghasilkan berbagai energi yang bermanfaat buat manusia.
Selain cahaya, banyak lagi rizqi lainnya berupa hujan, api, angin, udara, tanah, pepohonan, binatang dan banyak lagi yang namanya rizqi yang ada di luar tubuh kita.
Sedangkan dalam tubuh kita sendiri yang termasuk rizqi adalah memiliki tangan, mata, kaki, telinganya serta anggota tubuh lainnya yang sehat dan sempurna dalam mendukung segala aktifitas kehidupan kita sehari-hari.
Ulama salaf mendefinisikan bahwa rizqi adalah semua yang dibutuhkan oleh makhluk untuk menopang roda kehidupan manusia.
--
Dalam sebuah kisah, ada seorang lelaki menemui imam mesjid dan mengeluhkan tentang kemiskinannya.
Namun Syaikh, imam mesjid itu menyatakan situasi sebaliknya bahwa lelaki itu sangat kaya. Lelaki itu tidak percaya dan minta bukti. Lalu Syaikh itu bertanya maukah bila sebelah matanya, sebelah tangannya, dan sebelah ginjalnya dijual ke rumah sakit yang masing2 harga 1 milyar. Lelaki itu keberatan, bahkan kalau lebih dari itu pun dia tidak bersedia menjualnua, karena tidak terbayangkan bagaimana menderitanya bila apa yang ada pada dirinya tersebut diambil dari dirinya.
Lalu Syaikh itu berkata bahwa bukankah dirinya itu sangat
kaya. Jika sebelah matanya harganya lebih dari 1 milyar, satu tangannya
lebih dari 1 milyar, sebelah ginjalnya harganya lebih dari 1 milyar, jika jantungnya, paru-parunya, kakinya, hidungnya, lidahnya, telinganya dan
semuanya dinilai dengan uang, betapa kaya dirinya.
Kekayaannya lebih dari ratusan milyar. Dan Allah memberikan semua itu gratis. Andaikan Allah menyuruh kita membayar oksigennya, menyuruh kita
menyewa penglihatan dan pendengaran, kita takkan
sanggup membayar itu, berapapun uang yang kita miliki.
Sampai di sini, tak terasa mata laki-laki itu telah basah. Ia baru menyadari betapa kaya dirinya. Dia berterimakasih kepada Syaikh, kini dia menyadari
nikmat-nikmat Allah, dan dia merasa betapa kaya dirinya.
Lalu Syaikh itu berkata bahwa untuk selanjutnya, dengan landasan
mensyukur semua itu, maka tingkatkanlah ibadah dan ikhtiar. Perbanyaklah shalat tahajud, mintalah pada Allah di
sepertiga malam terakhir. Adukan semua masalah pada-Nya. Jika surga saja diberikan oleh Allah, tentu sangat mudah bagiNya memberikan apapun di
dunia ini. Rutinkan shalat dhuha dan bersedekahlah.
Tentu yang namanya rezeki berupa uang tidak akan datang seperti hujan yang turun dari langit. Berusahalah, bisa dimulai dari yang kecil asal engkau lakukan dengan sungguh-sungguh, yang penting halal. Jangan malu jika mulai dari berdagang kecil-kecilan. Hasilnya, manfaatkan sebagian untuk makan, sebagian untuk tambahan modal dan sebagian untuk sedekah.
Jika sebelumnya lelaki tersebut masuk masjid dengan langkah gontai, kini ia keluar dari masjid dengan langkah tegap. Hatinya dipenuhi dengan syukur,
harapan baru, dan semangat baru. Sebab ia sadar, ia adalah orang kaya. Kaya dengan karunia dariNya.
---
Dalam surat Adz -Dzariyat ayat 56 - 58 disebutkan:
"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. Aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan Aku tidak menghendaki supaya mereka memberi Aku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha Pemberi rezki Yang Mempunyai Kekuatan lagi Sangat Kokoh."
Dalam ayat di atas dijelaskan bahwa tujuan diciptakan manusia itu adalah untuk menyembah Allah. Arti kata menyembah Allah itu adalah kita cinta, tunduk, patuh dan takut hanya kepada Allah.
Dalam tafsir Ibnu Katsir dijelaskan bahwa Allah Tabaaraka wa Ta'ala telah menciptakan hamba2-Nya dengan tujuan agar mereka beribadah kepada-Nya semata, Rabb yang tiada sekutu bagi-Nya. Barangsiapa mentaati-Nya, maka ia akan diberikan balasan yang sempurna. Dan barangsiapa yang durhaka kepada-Nya, maka ia akan mendapatkan adzab yang sangat pedih. Dan Allah Ta'ala juga memberitahukan bahwa Dia sama sekali tidak membutuhkan mereka, tetapi justru merekalah yang sangat membutuhkan-Nya dalam segala keadaan. Dengan demikian, Dia adalah Pencipta dan Pemberi rizqi mereka.
Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah ra, ia berkata bahwa Rasulullah saw bersabda, "Allah Ta'ala berfirman:'Wahai anak Adam, luangkanlah waktu untuk beribadah kepada-Ku, Aku akan memenuhi hatimu dengan kekayaan dan Aku akan menutupi kefakiranmu. Dan jika kamu tidak melakukannya, maka Aku akan mengisi hatimu dengan kesengsaraan dan Aku tidak akan menutupi kefakiranmu.'"
__
Salah seorang dosen di Ulumul Quro bercerita dalam salah satu ceramahnya bahwa dia pernah berpergian dan satu kendaraan dengan seorang pengusaha di Jeddah. Lalu pengusaha itu bertanya kepadanya, "Syeh, doa apakah yang harus aku amalkan agar kenikmatan yang ada tetap dapat dipertahankan, bahkan lebih meningkat lagi?".
Saat itu, syeh hanya teringat ayat pada surat Adz-Dzariyat ayat 56 - 58. Lalu syeh menjawab, amalkanlah ayat Adz-Dzariyat 56-58 tersebut dan beribadahlah secara totalitas kepada Allah dan lakukanlah semuanya karena Allah.
Lalu setiap mau berdoa, bacalah ayat tersebut dan kemudian panjatkan doa "
"Ya Razak, wahai Dzat yang Maha Pemberi rizqi dan tidak pernah habis stoknya
Zulquatil matiin, sebaik baik tempat bersandar
Urzukni, karuniakan saya rizqi
Barikli, berkahi buat saya"
Satu setengah bulan kemudian pengusaha itu menelponnya dan mengatakan, selama 1,5 bulan ini dia mengamalkan nasihat syeh tersebut. Dia terus membaca surat dan doa yang telah di sarankan pada waktu2 mustajab, hingga dalam 1,5 bulan itu dia memperoleh keuntungan sekitar 1 juta real atau 3,5 milyar. Dan dia berterima kasih akan ilmu yang didapatkannya.
Bersambung... pada tema "Kenalilah Rizqi Kita (Bagian2)"
Sumber: Intisari dari Ceramah2 Ust. Dr Khalid Baslamah serta sumber lainnya.
(Gantira, 25 Juli 2016, Bogor)
Saturday, 9 July 2016
"Kunci Kebahagian"
Apa itu bahagia?
Secara umum definisi bahagia adalah segala sesuatu yang akan membuat hati kita senang dan tenang.
Dalam memperoleh kebahagiaan ini, ada beberapa orang yang menganggap kebahagiaan bisa diperoleh dengan:
1. Harta dan anak
Orang yang memahami bahwa kebahagiaan bisa didapat dengan harta dan anak, maka mereka akan berusaha keras mengejar dan mendapatkannya dengan segala cara. Sehingga setiap pertemuan, yang ditanyakan kepada orang lain adalah punya kendaraan apa, berapa banyak rumah dan luasnya serta berapa anak yang sudah mereka punyai. Padahal apalah manfaat banyaknya harta jika sebagian besar hartanya tidak dia manfaatkan dan tidak ditunaikan zakat hartanya, serta apalah artinya banyak anak jika mereka bukan anak2 yang shaleh.
Namun mereka yang menganggap bahwa kebahagiaan itu hanya bisa didapat dengan harta, mereka akan mendapatkan atau mempertahankan suami/istri yang menghasilkan harta yang banyak walaupun dirinya menderita disiksa oleh pasangannya itu. Atau mereka akan berusaha menipu banyak orang walaupun dirinya diliputi ketakutan dikejar oleh orang2 yang telah ditipunya.
Padahal dalam Surah At-Takasur ayat 1-3 disebutkan:
"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.
Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu)".
Pada surat yang sama dan ayat ke 6 disebutkan:
"niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahanam,"
dan ayat 8: "kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu, tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)."
2. Jabatan
Ada juga orang yang menganggap bahwa kebahagiaan itu didapat dengan jabatan. Sehingga banyak orang yang menghabiskan hartanya sampai ratusan juta bahkan milyaran untuk mendapatkan sebuah jabatan. Bahkan ada juga yang mengorbankan keluarga, sahabat dan teman2nya hanya untuk menggapai tujuannya tersebut dengan harapan banyak orang yang menyanjung dan memujinya, padahal pujian itu hanyalah berada di ujung lidah saja.
Disamping itu, yang namanya jabatan tetap ada konsekuensinya, yaitu dengan seabreg tugas dan tanggung jawab yang harus dilakukannya. Bahkan di akhirat kelak, seorang yang menjabat akan diminta pertanggung jawabannya.
Rasulullah saw bersabda, "
“Wahai Abu Dzar, engkau seorang yang lemah sementara kepemimpinan itu adalah amanat. Dan nanti pada hari kiamat, ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan kecuali orang yang mengambil dengan haknya dan menunaikan apa yang seharusnya ia tunaikan dalam kepemimpinan tersebut.” (Sahih, HR. Muslim no. 1825
3. Kemaksiatan
Ada orang yang sengaja berbuat maksiat semata2 karena ingin bahagia. Sehingga ada orang yang pergi ke diskotek, berjinah, mencuri, mabuk2an dengan harapan memperoleh kebahagiaan.
Memang harus diakui ada sebuah kenikmatan dalam melakukan sebuah kemaksiatan, sebagaimana ada kenikmatan juga dalam melakukan amal shaleh.
Namun kenikmatan yang diperoleh dalam bermaksiat tidak akan bertemu dengan kenikmatan dalam beramal shaleh. Dimana bagi orang yang senantiasa beramal shaleh itu merasa bahwa melakukan kemaksiatan itu hanyalah sebuah penderitaan belaka sebagaimana yang dirasakan oleh orang yang senantiasa bermaksiat merasa berat dalam berbuat amal shaleh.
Disamping itu kenikmatan dalam beramal shaleh berbeda dengan kenikmatan dalam bermaksiat. Dimana orang yang sudah bermaksiat, umumnya merasakan penyesalan di hatinya, bahkan orang2 kafir pun ada rasa penyesalan di hatinya setelah mereka selesai berzina. Tapi mereka tidak tahu jalan keluar untuk menghilangkan sesuatu yang mengganggu hatinya itu.
Dalam sebuah hadis disebutkan, “ Jika seorang hamba melakukan satu dosa, niscaya akan ditorehkan di hatinya satu noda hitam. Seandainya dia meninggalkan dosa itu, beristighfar dan bertaubat; niscaya noda itu akan dihapus. Tapi jika dia kembali berbuat dosa; niscaya noda-noda itu akan semakin bertambah hingga menghitamkan semua hatinya. Itulah penutup yang difirmankan Allah, “Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka lakukan itu telah menutup hati mereka” (QS. Al-Muthaffifin: 4). (HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu . Hadits ini dinilai hasan sahih oleh Tirmidzi).
4. Tidak ada
Namun bagi seseorang yang sudah menggapai semua hal yang dianggap bisa membuat mereka bahagia itu didapat, banyak diantara mereka yang akhirnya berkesimpulan bahwa tidak ada kebahagiaan di dunia ini. Mereka akhirnya putus asa, dan seberapa diantaranya memilih jalan untuk bunuh diri.
Pertanyaannya adalah Apakah ada yang namanya kebahagiaan di dunia ini?
Ada, sebagaimana perkataan para ulama terdahulu.
Imam Ibnul Qoyyim bercerita bahwa, “Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: ‘Sesungguhnya dalam dunia ini ada surga. Barang siapa belum pernah memasukinya maka dia tidak akan memasuki surga diakhirat kelak.’”
Ibrahim bin Adham mengatakan, “Seandainya para raja dan para pangeran mengetahui bagaimana kebahagiaan dan kenikmatan tentu mereka akan berusaha merebutnya dari kami dengan memukuli kami dengan pedang.” Ada ulama salaf yang lain mengatakan, “Pada suatu waktu pernah terlintas dalam hatiku, sesungguhnya jika penghuni surga semisal yang kurasakan saat ini tentu mereka dalam kehidupan yang menyenangkan.”
Jadi apa saja kunci2 yang harus dimiliki sehingga dapat memperoleh kebahagian sebagaimana yang dirasakan oleh para ulama tersebut?
Beberapa kunci agar memperoleh kebahagiaan di dunia ini, diantaranya adalah:
1. Meyakini adanya Allah swt dan mentauhidkannya.
Orang yang yakin akan adanya Allah serta tidak menyukutukan-Nya, maka hidupnya akan tenang. Dia yakin bahwa Allah Maha Melihat pada semua yang dilakukan makhluk2-Nya. Dia akan membalas semua perbuatan manusia, baik itu perbuatan zhalim maupun perbuatan amal shaleh.
Dia tidak akan berani melakukan zhalim pada orang lain, karena yakin Allah melihatnya. Dan dia pun tidak akan sedih yang berlarut2 bila didholimi oleh orang yang jauh lebih kuat darinya, karena yakin Allah akan membalasnya.
Hatinya akan tenang saat mengingat Allah, sebagaimana yang dinyatakan dalam firman-Nya:
"Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram ” (Qs. ar-Ra’du: 28)
2. Menjiplak dan mengikuti Rasulullah.
Umat saat ini benar2 dimanjakan oleh Allah, dimana kita telah diberi model kehidupan yang sempurna, yaitu dengan diutusnya Rasulullah. Kita tinggal menjiplak dan mengikuti apa yang dilakukan Rasulullah dalam menghadapi segala kehidupan di dunia ini.
Kehidupan yang dijalani Rasulullah sangat lengkap. Dia adalah seorang rasul yang pernah kaya dan juga pernah miskin, beliau pernah menjalani sebagai seorang pedagang, penggembala, pemimpin perang dan kepala pemerintahan. Rasulullah juga seorang suami yang memiliki istri, memiliki anak dan juga memiliki cucu. Kita bisa mengikuti bagaimana solusi yang dilakukan Rasulullah dalam menghadapi segala permasalahan hidup di dunia ini.
Orang yang mengikuti Rasulullah pasti akan mendapatkan solusi dari permasalahan kehidupan di dunia ini dan memperoleh kebahagiaan di akhirat.
Sebagaimana yang diabadikan dalam surat Al-Ahzab ayat 21:
“ Sesungguhnya pada diri Rasulullah ada teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak berdzikir kepada Allah .” (Al-Ahzab: 21)
Oleh karena itu kenalilah Rasulullah dengan mempelajari sirah nabi atau kehidupan Rasulullah. Lalu realisasikan dalam kehidupan kita sesuai dengan yang sedang kita alami.
3. Selalu menggantungkan hati kita pada akhirat
RasĂ»lullĂ¢h Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
"Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka AllĂ¢h akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, AllĂ¢h akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina. ” ( Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya (V/ 183); Ibnu MĂ¢jah (no. 4105); Imam Ibnu HibbĂ¢n (no. 72–MawĂ¢riduzh Zham’Ă¢n); al-Baihaqi (VII/288) dari Sahabat Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhu.)
Apabila seorang hamba menjadikan dunia sebagai tujuan hidupnya dan mengesampingkan urusan akhiratnya, maka AllĂ¢h Azza wa Jalla akan menjadikan urusan dunianya tercerai-berai, berantakan, serba sulit, serta menjadikan hidupnya selalu diliputi kegelisahan. AllĂ¢h Azza wa Jalla juga menjadikan kefakiran di depan matanya, selalu takut miskin, atau hatinya selalu tidak merasa cukup dengan rizki yang AllĂ¢h Azza wa Jalla karuniakan kepadanya. Dunia yang didapat hanya seukuran ketentuan yang telah ditetapkan baginya, tidak lebih, meskipun ia bekerja keras dari pagi hingga malam, bahkan hingga pagi lagi dengan mengorbankan kewajibannya beribadah kepada AllĂ¢h, mengorbankan hak-hak isteri, anak-anak, keluarga, orang tua, dan lainnya.
Orang yang hatinya sehat, dia akan lebih mengutamakan akhirat daripada kehidupan dunia yang fana, tujuan hidupnya adalah akhirat. Dia menjadikan dunia ini sebagai tempat berlalu dan mencari bekal untuk akhirat yang kekal. Orang yang hatinya sehat akan selalu mempersiapkan diri dengan melakukan ketaatan dan mengerjakan amal-amal shalih dengan ikhlas karena AllĂ¢h Azza wa Jalla dan menjauhkan larangan-larangan-Nya, karena dia yakin pasti mati dan pasti menjadi penghuni kubur dan pasti kembali ke akhirat. Karena itu, dia selalu berusaha untuk menjadi penghuni surga dengan berbekal iman, takwa, dan amal-amal yang shalih.
Bagi orang yang tujuannya adalah akhirat, maka akan menganggap segala sesuatu yang ada di dunia ini tampak kecil jika dibandingkan dengan akhirat. Bagaimana bisa kehidupan keindahan dunia dibandingkan dengan keindahan surga, dimana salah satu luas tanah istana yang dimiliki penduduk surga baru bisa terlewati selama 40 tahun perjalanan, batu batanya dari emas serta kekayaan paling rendah penduduk surga itu sama dengan 10 kali lipat orang yang paling kaya dan berkuasa yang pernah hidup di dunia ini.
4. Menyibukkan diri dengan amal shaleh
Dalam salah satu ayat disebutkan “Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)
Ayat diatas menyebutkan bahwa orang yang senantiasa beramal shaleh akan mendapatkan kehidupan yang baik. Oleh karena itu, kita sebagai seorang hamba yang ingin mendapatkan kebahagian, awalnya harus memaksakan diri dan memprogramkan untuk senantiasa berbuat amal shaleh. Bila kita sudah terbiasa melakukannya, maka pada akhirnya kita akan merasakan kenikmatan sebagai buah dari amal shaleh kita.
5. Lingkungan yang baik
Sesungguhnya lingkungan sangat berperan besar dalam mempengaruhi kehidupan kita, oleh karena itu berusahalah untuk mencari pasangan yang shaleh serta mendidik anak2 agar menjadi orang2 yang shaleh dan selalu menggalakkan amar ma'ruf nahi munkar bagi lingkungan kita sehingga terbentuk lingkungan yang shaleh.
Sebagaimana salah satu kisah orang yang ingin bertobat dari perbuatannya yang telah membunuh 100 orang. Tobatnya baru diterima pada saat dia berhijrah dari lingkungannya yang buruk menuju lingkungan yang baik yang ditempati oleh orang2 shaleh. Walaupun dirinya tidak sempat sampai tujuan tapi niat dan tindakannya dalam berhijrah tersebut sudah mencukupi untuk memasukkannya ke dalam surga.
----------
Disarikan dari Ceramah Dr Khalid Baslamah (https://youtu.be/M7OBdaLpWmc) serta sumber lainnya.
(Gantira, 9 Juli 2016, Bogor)
Secara umum definisi bahagia adalah segala sesuatu yang akan membuat hati kita senang dan tenang.
Dalam memperoleh kebahagiaan ini, ada beberapa orang yang menganggap kebahagiaan bisa diperoleh dengan:
1. Harta dan anak
Orang yang memahami bahwa kebahagiaan bisa didapat dengan harta dan anak, maka mereka akan berusaha keras mengejar dan mendapatkannya dengan segala cara. Sehingga setiap pertemuan, yang ditanyakan kepada orang lain adalah punya kendaraan apa, berapa banyak rumah dan luasnya serta berapa anak yang sudah mereka punyai. Padahal apalah manfaat banyaknya harta jika sebagian besar hartanya tidak dia manfaatkan dan tidak ditunaikan zakat hartanya, serta apalah artinya banyak anak jika mereka bukan anak2 yang shaleh.
Namun mereka yang menganggap bahwa kebahagiaan itu hanya bisa didapat dengan harta, mereka akan mendapatkan atau mempertahankan suami/istri yang menghasilkan harta yang banyak walaupun dirinya menderita disiksa oleh pasangannya itu. Atau mereka akan berusaha menipu banyak orang walaupun dirinya diliputi ketakutan dikejar oleh orang2 yang telah ditipunya.
Padahal dalam Surah At-Takasur ayat 1-3 disebutkan:
"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.
Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu)".
Pada surat yang sama dan ayat ke 6 disebutkan:
"niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahanam,"
dan ayat 8: "kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu, tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)."
2. Jabatan
Ada juga orang yang menganggap bahwa kebahagiaan itu didapat dengan jabatan. Sehingga banyak orang yang menghabiskan hartanya sampai ratusan juta bahkan milyaran untuk mendapatkan sebuah jabatan. Bahkan ada juga yang mengorbankan keluarga, sahabat dan teman2nya hanya untuk menggapai tujuannya tersebut dengan harapan banyak orang yang menyanjung dan memujinya, padahal pujian itu hanyalah berada di ujung lidah saja.
Disamping itu, yang namanya jabatan tetap ada konsekuensinya, yaitu dengan seabreg tugas dan tanggung jawab yang harus dilakukannya. Bahkan di akhirat kelak, seorang yang menjabat akan diminta pertanggung jawabannya.
Rasulullah saw bersabda, "
“Wahai Abu Dzar, engkau seorang yang lemah sementara kepemimpinan itu adalah amanat. Dan nanti pada hari kiamat, ia akan menjadi kehinaan dan penyesalan kecuali orang yang mengambil dengan haknya dan menunaikan apa yang seharusnya ia tunaikan dalam kepemimpinan tersebut.” (Sahih, HR. Muslim no. 1825
3. Kemaksiatan
Ada orang yang sengaja berbuat maksiat semata2 karena ingin bahagia. Sehingga ada orang yang pergi ke diskotek, berjinah, mencuri, mabuk2an dengan harapan memperoleh kebahagiaan.
Memang harus diakui ada sebuah kenikmatan dalam melakukan sebuah kemaksiatan, sebagaimana ada kenikmatan juga dalam melakukan amal shaleh.
Namun kenikmatan yang diperoleh dalam bermaksiat tidak akan bertemu dengan kenikmatan dalam beramal shaleh. Dimana bagi orang yang senantiasa beramal shaleh itu merasa bahwa melakukan kemaksiatan itu hanyalah sebuah penderitaan belaka sebagaimana yang dirasakan oleh orang yang senantiasa bermaksiat merasa berat dalam berbuat amal shaleh.
Disamping itu kenikmatan dalam beramal shaleh berbeda dengan kenikmatan dalam bermaksiat. Dimana orang yang sudah bermaksiat, umumnya merasakan penyesalan di hatinya, bahkan orang2 kafir pun ada rasa penyesalan di hatinya setelah mereka selesai berzina. Tapi mereka tidak tahu jalan keluar untuk menghilangkan sesuatu yang mengganggu hatinya itu.
Dalam sebuah hadis disebutkan, “ Jika seorang hamba melakukan satu dosa, niscaya akan ditorehkan di hatinya satu noda hitam. Seandainya dia meninggalkan dosa itu, beristighfar dan bertaubat; niscaya noda itu akan dihapus. Tapi jika dia kembali berbuat dosa; niscaya noda-noda itu akan semakin bertambah hingga menghitamkan semua hatinya. Itulah penutup yang difirmankan Allah, “Sekali-kali tidak demikian, sebenarnya apa yang selalu mereka lakukan itu telah menutup hati mereka” (QS. Al-Muthaffifin: 4). (HR. Tirmidzi dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu . Hadits ini dinilai hasan sahih oleh Tirmidzi).
4. Tidak ada
Namun bagi seseorang yang sudah menggapai semua hal yang dianggap bisa membuat mereka bahagia itu didapat, banyak diantara mereka yang akhirnya berkesimpulan bahwa tidak ada kebahagiaan di dunia ini. Mereka akhirnya putus asa, dan seberapa diantaranya memilih jalan untuk bunuh diri.
Pertanyaannya adalah Apakah ada yang namanya kebahagiaan di dunia ini?
Ada, sebagaimana perkataan para ulama terdahulu.
Imam Ibnul Qoyyim bercerita bahwa, “Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mengatakan: ‘Sesungguhnya dalam dunia ini ada surga. Barang siapa belum pernah memasukinya maka dia tidak akan memasuki surga diakhirat kelak.’”
Ibrahim bin Adham mengatakan, “Seandainya para raja dan para pangeran mengetahui bagaimana kebahagiaan dan kenikmatan tentu mereka akan berusaha merebutnya dari kami dengan memukuli kami dengan pedang.” Ada ulama salaf yang lain mengatakan, “Pada suatu waktu pernah terlintas dalam hatiku, sesungguhnya jika penghuni surga semisal yang kurasakan saat ini tentu mereka dalam kehidupan yang menyenangkan.”
Jadi apa saja kunci2 yang harus dimiliki sehingga dapat memperoleh kebahagian sebagaimana yang dirasakan oleh para ulama tersebut?
Beberapa kunci agar memperoleh kebahagiaan di dunia ini, diantaranya adalah:
1. Meyakini adanya Allah swt dan mentauhidkannya.
Orang yang yakin akan adanya Allah serta tidak menyukutukan-Nya, maka hidupnya akan tenang. Dia yakin bahwa Allah Maha Melihat pada semua yang dilakukan makhluk2-Nya. Dia akan membalas semua perbuatan manusia, baik itu perbuatan zhalim maupun perbuatan amal shaleh.
Dia tidak akan berani melakukan zhalim pada orang lain, karena yakin Allah melihatnya. Dan dia pun tidak akan sedih yang berlarut2 bila didholimi oleh orang yang jauh lebih kuat darinya, karena yakin Allah akan membalasnya.
Hatinya akan tenang saat mengingat Allah, sebagaimana yang dinyatakan dalam firman-Nya:
"Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan berzikir (mengingat) Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram ” (Qs. ar-Ra’du: 28)
2. Menjiplak dan mengikuti Rasulullah.
Umat saat ini benar2 dimanjakan oleh Allah, dimana kita telah diberi model kehidupan yang sempurna, yaitu dengan diutusnya Rasulullah. Kita tinggal menjiplak dan mengikuti apa yang dilakukan Rasulullah dalam menghadapi segala kehidupan di dunia ini.
Kehidupan yang dijalani Rasulullah sangat lengkap. Dia adalah seorang rasul yang pernah kaya dan juga pernah miskin, beliau pernah menjalani sebagai seorang pedagang, penggembala, pemimpin perang dan kepala pemerintahan. Rasulullah juga seorang suami yang memiliki istri, memiliki anak dan juga memiliki cucu. Kita bisa mengikuti bagaimana solusi yang dilakukan Rasulullah dalam menghadapi segala permasalahan hidup di dunia ini.
Orang yang mengikuti Rasulullah pasti akan mendapatkan solusi dari permasalahan kehidupan di dunia ini dan memperoleh kebahagiaan di akhirat.
Sebagaimana yang diabadikan dalam surat Al-Ahzab ayat 21:
“ Sesungguhnya pada diri Rasulullah ada teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap Allah dan hari akhir serta banyak berdzikir kepada Allah .” (Al-Ahzab: 21)
Oleh karena itu kenalilah Rasulullah dengan mempelajari sirah nabi atau kehidupan Rasulullah. Lalu realisasikan dalam kehidupan kita sesuai dengan yang sedang kita alami.
3. Selalu menggantungkan hati kita pada akhirat
RasĂ»lullĂ¢h Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :
"Barangsiapa tujuan hidupnya adalah dunia, maka AllĂ¢h akan mencerai-beraikan urusannya, menjadikan kefakiran di kedua pelupuk matanya, dan ia tidak mendapatkan dunia kecuali menurut ketentuan yang telah ditetapkan baginya. Barangsiapa yang niat (tujuan) hidupnya adalah negeri akhirat, AllĂ¢h akan mengumpulkan urusannya, menjadikan kekayaan di hatinya, dan dunia akan mendatanginya dalam keadaan hina. ” ( Hadits ini shahih, diriwayatkan oleh Imam Ahmad dalam Musnadnya (V/ 183); Ibnu MĂ¢jah (no. 4105); Imam Ibnu HibbĂ¢n (no. 72–MawĂ¢riduzh Zham’Ă¢n); al-Baihaqi (VII/288) dari Sahabat Zaid bin Tsabit Radhiyallahu anhu.)
Apabila seorang hamba menjadikan dunia sebagai tujuan hidupnya dan mengesampingkan urusan akhiratnya, maka AllĂ¢h Azza wa Jalla akan menjadikan urusan dunianya tercerai-berai, berantakan, serba sulit, serta menjadikan hidupnya selalu diliputi kegelisahan. AllĂ¢h Azza wa Jalla juga menjadikan kefakiran di depan matanya, selalu takut miskin, atau hatinya selalu tidak merasa cukup dengan rizki yang AllĂ¢h Azza wa Jalla karuniakan kepadanya. Dunia yang didapat hanya seukuran ketentuan yang telah ditetapkan baginya, tidak lebih, meskipun ia bekerja keras dari pagi hingga malam, bahkan hingga pagi lagi dengan mengorbankan kewajibannya beribadah kepada AllĂ¢h, mengorbankan hak-hak isteri, anak-anak, keluarga, orang tua, dan lainnya.
Orang yang hatinya sehat, dia akan lebih mengutamakan akhirat daripada kehidupan dunia yang fana, tujuan hidupnya adalah akhirat. Dia menjadikan dunia ini sebagai tempat berlalu dan mencari bekal untuk akhirat yang kekal. Orang yang hatinya sehat akan selalu mempersiapkan diri dengan melakukan ketaatan dan mengerjakan amal-amal shalih dengan ikhlas karena AllĂ¢h Azza wa Jalla dan menjauhkan larangan-larangan-Nya, karena dia yakin pasti mati dan pasti menjadi penghuni kubur dan pasti kembali ke akhirat. Karena itu, dia selalu berusaha untuk menjadi penghuni surga dengan berbekal iman, takwa, dan amal-amal yang shalih.
Bagi orang yang tujuannya adalah akhirat, maka akan menganggap segala sesuatu yang ada di dunia ini tampak kecil jika dibandingkan dengan akhirat. Bagaimana bisa kehidupan keindahan dunia dibandingkan dengan keindahan surga, dimana salah satu luas tanah istana yang dimiliki penduduk surga baru bisa terlewati selama 40 tahun perjalanan, batu batanya dari emas serta kekayaan paling rendah penduduk surga itu sama dengan 10 kali lipat orang yang paling kaya dan berkuasa yang pernah hidup di dunia ini.
4. Menyibukkan diri dengan amal shaleh
Dalam salah satu ayat disebutkan “Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. An-Nahl: 97)
Ayat diatas menyebutkan bahwa orang yang senantiasa beramal shaleh akan mendapatkan kehidupan yang baik. Oleh karena itu, kita sebagai seorang hamba yang ingin mendapatkan kebahagian, awalnya harus memaksakan diri dan memprogramkan untuk senantiasa berbuat amal shaleh. Bila kita sudah terbiasa melakukannya, maka pada akhirnya kita akan merasakan kenikmatan sebagai buah dari amal shaleh kita.
5. Lingkungan yang baik
Sesungguhnya lingkungan sangat berperan besar dalam mempengaruhi kehidupan kita, oleh karena itu berusahalah untuk mencari pasangan yang shaleh serta mendidik anak2 agar menjadi orang2 yang shaleh dan selalu menggalakkan amar ma'ruf nahi munkar bagi lingkungan kita sehingga terbentuk lingkungan yang shaleh.
Sebagaimana salah satu kisah orang yang ingin bertobat dari perbuatannya yang telah membunuh 100 orang. Tobatnya baru diterima pada saat dia berhijrah dari lingkungannya yang buruk menuju lingkungan yang baik yang ditempati oleh orang2 shaleh. Walaupun dirinya tidak sempat sampai tujuan tapi niat dan tindakannya dalam berhijrah tersebut sudah mencukupi untuk memasukkannya ke dalam surga.
----------
Disarikan dari Ceramah Dr Khalid Baslamah (https://youtu.be/M7OBdaLpWmc) serta sumber lainnya.
(Gantira, 9 Juli 2016, Bogor)
Sunday, 3 July 2016
"Berbagai Macam Jenis Dunia yang Ada Saat Ini"
Pada saat ini, kehidupan dunia yang bisa dimasuki oleh manusia terbagi menjadi 5 macam, yaitu dunia nyata, dunia mimpi, dunia jin, dunia khayal dan dunia maya.
1. Dunia Nyata
Dunia Nyata adalah dunia yang aktifitasnya menggunakan jasmani dan rohani untuk memenuhi kepentingan dan kebutuhan kita sebagai manusia sebagaimana yang umumnya dilakukan oleh sebagian besar manusia sejak jaman nabi Adam sampai saat ini. Dalam dunia nyata ini, ada berbagai aktifitas yang bisa dilakukan, yaitu shalat, zakat, puasa, haji, menuntut ilmu, bertani, berdagang, bekerja dalam memenuhi tugas dari instansi tempatnya bekerja serta berbagai macam aktifitas lainnya yang dilakukan oleh jasmani kita.
Dalam dunia nyata ini akan berlaku hukum berupa balasan pahala, dosa, atau perbuatan yang sia sia yang tidak ada nilainya sama sekali.
Orang berakal umumnya akan memanfaatkan dunia nyata ini untuk beramal sebanyak2nya buat memenuhi kebutuhan dunianya dan buat bekal di akhirat kelak.
2. Dunia mimpi
Dunia mimpi terjadi pada saat kita tidur. Dalam dunia mimpi ada yang menyenangkan dan ada juga yang tidak menyenangkan, tergantung dari jenis mimpi yang terjadi dalam tidurnya.
Dalam dunia mimpi tidak berlaku hukum pahala dan dosa, sehingga waktu yang kita sisihkan dalam dunia mimpi ini hanya secukupnya saja. Dunia mimpi atau waktu untuk tidur diperlukan semata2 untuk mengistirahatkan tubuh kita yang telah megalami kelelahan melakukan berbagai aktifitas pada dunia nyata. Sehingga diharapkan bila telah bangun dari dunia mimpi, maka tubuh kita segar kembali sehingga kita bisa melakukan aktifitas yang lebih banyak lagi dengan kekuatan yang telah prima.
Orang yang menghabiskan waktunya untuk tidur secara berlebihan, maka waktu yang ada akan terbuang percuma. Sehingga jatah waktu yang diberikan pada kita akan tersita habis pada dunia mimpi ini.
3. Dunia Jin
Di alam ini, selain ada dunia nyata ada juga dunia jin atau dunia ghaib. Kita sebagai seorang mukmin dilarang untuk ikut campur atau ikut2an dalam dunia jin ini. Yang kita lakukan cukup mengimaninya saja, tidak lebih dari itu.
Namun sayangnya masih ada sebagian orang yang menghabiskan sebagian waktunya untuk memasuki dunia jin. Sehingga kalau dari segi fisiknya dia nampak diam, padahal jiwanya mengembara ke dalam dunia jin. Dia merasa sibuk dan melakukan berbagai macam aktifitas dalam dunia jin ini. Sehingga ada sebagian orang yang merasa jadi pahlawan dalam dunia jin itu atau bisa juga melakukan banyak ibadah dengan berhaji berkali2 dengan sekejab dari tempat diamnya menuju mekah. Padahal kalau secara fisik dia hanya terdiam atau nampak tidur saja.
Orang mencoba melakukan berbagai aktifitas dalam dunia jin, tidaklah bernilai ibadah sama sekali, walaupun dia merasa diri telah melakukan banyak shalat dan haji. Karena yang namanya ibadah itu harus sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah yaitu perpaduan antara aktifitas jiwa dan aktifitas jasmani. Bahkan bisa jadi berdosa karena dia berusaha memasuki dunia jin yang dilarang Allah untuk melakukannya.
Kalau dalam film yang ada saat ini, contoh orang yang memasuki dunia jin ini bagai kehidupan yang ada pada film Hary Potter atau film Narnia. Dimana mereka nampak bagai seorang pahlawan yang membela kebenaran, padahal dalam dunia nyata mereka tidak melakukan aktifitas apapun.
4. Dunia Khayal
Dunia khayal ini terjadi dalam dunia nyata, namun sayang walaupun jasmani dan rohaninya berada dalam dunia nyata tapi pikirannya mengembara ke mana2. Sehingga jasmaninya hanya diam tanpa melakukan banyak aktifitas yang bermanfaat, sedangkan pikirannya sibuk dalam berbagai macam aktifitas. Kegiatan yang bisa dimasukan dalam dunia khayal ini, diantaranya adalah melamun atau menonton siaran tc atau film2 yang berisi cerita khayalan belaka.
Dunia khayal ini tidak berdosa jika yang dikhayalkan tidak mengandung dosa. Namun jika berlebihan menggunakan waktu untuk menghayal maka waktu yang ada akan terbuang sia2. Sehingga, langkah yang lebih baik adalah mengurangi atau membatasinya memasuki dunia khayal ini.
5. Dunia Maya
Pada zaman modern saat ini, ternyata sudah ada tambahan dunia lain selain ke empat dunia di atas, yaitu dunia maya.
Pada awalnya dunia maya ini banyak manfaatnya, dimana kita bisa menggunakan jaringan internet untuk mendapatkan berbagai ilmu dengan cepat dan murah serta kita juga bisa berkomunikasi dengan semua orang dari berbagai pelosok di dunia ini, apalagi dengan adanya fasilitas WA, facebook, integram, bbm serta fasilitas jaringan sosial lainnya.
Namun sayangnya, makin lama orang makin kecanduan sehingga waktu yang digunakan untuk menjelajahi dunia maya ini lebih banyak dari waktu yang digunakan dalam dunia nyata. Sehingga dirinya merasa nampak hebat bisa berkelana ke berbagai dunia, bisa berkomunikasi dengan banyak macam orang serta kita merasa menjadi diri orang lain yang nampak hebat dari apa2 yang telah kita baca. Namun sayangnya pada saat dia kembali dalam dunia nyata, dia bukanlah siapa2 karena sangat sedikit aktifitas yang dilakukannya untuk dunia nyatanya.
Jadi dalam mensikapi dunia maya ini, cukuplah dilakukan seperlunya yang bisa berefek pada perubahan dunia nyata kita dan orang lain. Sedang kurangi bahkan batasi menjelajahi dunia maya ini bila tidak berefek sama sekali dalam dunia nyata kita walaupun dunia itu nampak hebat dan mengagumkan. Karena bagaimana pun juga yang akan dinilai oleh-Nya pada kita adalah apa refleksi dunia nyata kita.
Kesimpulan dari uraian ke 5 macam dunia di atas adalah gunakanlah sebagian besar waktu hidup yang kita miliki untuk melakukan aktifitas di dunia nyata, sedangkan dunia lainnya baru bisa dilakukan jika ada manfaatnya untuk dunia nyata kita serta tidak melanggar aturan-Nya.
(Gantira, 3 Juli 2016, Bogor)
1. Dunia Nyata
Dunia Nyata adalah dunia yang aktifitasnya menggunakan jasmani dan rohani untuk memenuhi kepentingan dan kebutuhan kita sebagai manusia sebagaimana yang umumnya dilakukan oleh sebagian besar manusia sejak jaman nabi Adam sampai saat ini. Dalam dunia nyata ini, ada berbagai aktifitas yang bisa dilakukan, yaitu shalat, zakat, puasa, haji, menuntut ilmu, bertani, berdagang, bekerja dalam memenuhi tugas dari instansi tempatnya bekerja serta berbagai macam aktifitas lainnya yang dilakukan oleh jasmani kita.
Dalam dunia nyata ini akan berlaku hukum berupa balasan pahala, dosa, atau perbuatan yang sia sia yang tidak ada nilainya sama sekali.
Orang berakal umumnya akan memanfaatkan dunia nyata ini untuk beramal sebanyak2nya buat memenuhi kebutuhan dunianya dan buat bekal di akhirat kelak.
2. Dunia mimpi
Dunia mimpi terjadi pada saat kita tidur. Dalam dunia mimpi ada yang menyenangkan dan ada juga yang tidak menyenangkan, tergantung dari jenis mimpi yang terjadi dalam tidurnya.
Dalam dunia mimpi tidak berlaku hukum pahala dan dosa, sehingga waktu yang kita sisihkan dalam dunia mimpi ini hanya secukupnya saja. Dunia mimpi atau waktu untuk tidur diperlukan semata2 untuk mengistirahatkan tubuh kita yang telah megalami kelelahan melakukan berbagai aktifitas pada dunia nyata. Sehingga diharapkan bila telah bangun dari dunia mimpi, maka tubuh kita segar kembali sehingga kita bisa melakukan aktifitas yang lebih banyak lagi dengan kekuatan yang telah prima.
Orang yang menghabiskan waktunya untuk tidur secara berlebihan, maka waktu yang ada akan terbuang percuma. Sehingga jatah waktu yang diberikan pada kita akan tersita habis pada dunia mimpi ini.
3. Dunia Jin
Di alam ini, selain ada dunia nyata ada juga dunia jin atau dunia ghaib. Kita sebagai seorang mukmin dilarang untuk ikut campur atau ikut2an dalam dunia jin ini. Yang kita lakukan cukup mengimaninya saja, tidak lebih dari itu.
Namun sayangnya masih ada sebagian orang yang menghabiskan sebagian waktunya untuk memasuki dunia jin. Sehingga kalau dari segi fisiknya dia nampak diam, padahal jiwanya mengembara ke dalam dunia jin. Dia merasa sibuk dan melakukan berbagai macam aktifitas dalam dunia jin ini. Sehingga ada sebagian orang yang merasa jadi pahlawan dalam dunia jin itu atau bisa juga melakukan banyak ibadah dengan berhaji berkali2 dengan sekejab dari tempat diamnya menuju mekah. Padahal kalau secara fisik dia hanya terdiam atau nampak tidur saja.
Orang mencoba melakukan berbagai aktifitas dalam dunia jin, tidaklah bernilai ibadah sama sekali, walaupun dia merasa diri telah melakukan banyak shalat dan haji. Karena yang namanya ibadah itu harus sesuai dengan yang dicontohkan oleh Rasulullah yaitu perpaduan antara aktifitas jiwa dan aktifitas jasmani. Bahkan bisa jadi berdosa karena dia berusaha memasuki dunia jin yang dilarang Allah untuk melakukannya.
Kalau dalam film yang ada saat ini, contoh orang yang memasuki dunia jin ini bagai kehidupan yang ada pada film Hary Potter atau film Narnia. Dimana mereka nampak bagai seorang pahlawan yang membela kebenaran, padahal dalam dunia nyata mereka tidak melakukan aktifitas apapun.
4. Dunia Khayal
Dunia khayal ini terjadi dalam dunia nyata, namun sayang walaupun jasmani dan rohaninya berada dalam dunia nyata tapi pikirannya mengembara ke mana2. Sehingga jasmaninya hanya diam tanpa melakukan banyak aktifitas yang bermanfaat, sedangkan pikirannya sibuk dalam berbagai macam aktifitas. Kegiatan yang bisa dimasukan dalam dunia khayal ini, diantaranya adalah melamun atau menonton siaran tc atau film2 yang berisi cerita khayalan belaka.
Dunia khayal ini tidak berdosa jika yang dikhayalkan tidak mengandung dosa. Namun jika berlebihan menggunakan waktu untuk menghayal maka waktu yang ada akan terbuang sia2. Sehingga, langkah yang lebih baik adalah mengurangi atau membatasinya memasuki dunia khayal ini.
5. Dunia Maya
Pada zaman modern saat ini, ternyata sudah ada tambahan dunia lain selain ke empat dunia di atas, yaitu dunia maya.
Pada awalnya dunia maya ini banyak manfaatnya, dimana kita bisa menggunakan jaringan internet untuk mendapatkan berbagai ilmu dengan cepat dan murah serta kita juga bisa berkomunikasi dengan semua orang dari berbagai pelosok di dunia ini, apalagi dengan adanya fasilitas WA, facebook, integram, bbm serta fasilitas jaringan sosial lainnya.
Namun sayangnya, makin lama orang makin kecanduan sehingga waktu yang digunakan untuk menjelajahi dunia maya ini lebih banyak dari waktu yang digunakan dalam dunia nyata. Sehingga dirinya merasa nampak hebat bisa berkelana ke berbagai dunia, bisa berkomunikasi dengan banyak macam orang serta kita merasa menjadi diri orang lain yang nampak hebat dari apa2 yang telah kita baca. Namun sayangnya pada saat dia kembali dalam dunia nyata, dia bukanlah siapa2 karena sangat sedikit aktifitas yang dilakukannya untuk dunia nyatanya.
Jadi dalam mensikapi dunia maya ini, cukuplah dilakukan seperlunya yang bisa berefek pada perubahan dunia nyata kita dan orang lain. Sedang kurangi bahkan batasi menjelajahi dunia maya ini bila tidak berefek sama sekali dalam dunia nyata kita walaupun dunia itu nampak hebat dan mengagumkan. Karena bagaimana pun juga yang akan dinilai oleh-Nya pada kita adalah apa refleksi dunia nyata kita.
Kesimpulan dari uraian ke 5 macam dunia di atas adalah gunakanlah sebagian besar waktu hidup yang kita miliki untuk melakukan aktifitas di dunia nyata, sedangkan dunia lainnya baru bisa dilakukan jika ada manfaatnya untuk dunia nyata kita serta tidak melanggar aturan-Nya.
(Gantira, 3 Juli 2016, Bogor)
Sunday, 29 May 2016
"Tanggung Jawab Kita"
Selama kita masih bernapas, maka tanggung jawab tetap ada di pundak kita. Baik itu tanggung jawab orang tua terhadap anak atau sebaliknya, pemimpin terhadap anak buahnya atau sebaliknya, suami terhadap istri atau sebaliknya, saudara terhadap saudara kandungnya, rumah tangga terhadap tetangganya, dan banyak lagi tanggung jawab2 lainnya terutama tanggung jawab kita sebagai seorang hamba untuk beribadah kepada-Nya. Yang jelas kita sebagai manusia tidak bisa berperilaku dengan sebebas2nya.
Kita boleh melakukan kesenangan apapun dengan sebebas2nya selama hal itu tidak melanggar tiga patokan utama, yaitu:
1) Tidak melanggar syariat-Nya
2) Tidak mengganggu orang lain
3) Tidak merugikan diri kita sendiri.
Jadi selama tiga patokan di atas tidak dilanggar, kita boleh melakukannya dan jangan hiraukan celaan orang lain yang suka mencela.
Namun tidak bisa kita melakukan apa saja sekehendak kita hanya karena alasan kebebasan. Karena bagaimana pun juga setiap apapun perbuatan kita akan berefek pada orang lain. Bahkan bila kita sendiri sakit akibat ulah diri kita sendiri maka hal ini bisa membuat repot keluarga kita. Dimana mau tidak mau mereka akan merasa khawatir dan kehidupannya menjadi terganggu akibat ulah kita yang ingin bebas tanpa batas.
Jadi ingatlah akan tanggung jawab kita sebagai pribadi, keluarga, masyarakat dan juga tanggung jawab kita sebagai seorang hamba. Dan selalulah ingat akan 3 patokan dasar dalam bertindak, yaitu tidak melanggar aturan-Nya, tidak merugikan orang lain dan diri sendiri.
(Gantira, 29 Mei 2016, Bogor)
Kita boleh melakukan kesenangan apapun dengan sebebas2nya selama hal itu tidak melanggar tiga patokan utama, yaitu:
1) Tidak melanggar syariat-Nya
2) Tidak mengganggu orang lain
3) Tidak merugikan diri kita sendiri.
Jadi selama tiga patokan di atas tidak dilanggar, kita boleh melakukannya dan jangan hiraukan celaan orang lain yang suka mencela.
Namun tidak bisa kita melakukan apa saja sekehendak kita hanya karena alasan kebebasan. Karena bagaimana pun juga setiap apapun perbuatan kita akan berefek pada orang lain. Bahkan bila kita sendiri sakit akibat ulah diri kita sendiri maka hal ini bisa membuat repot keluarga kita. Dimana mau tidak mau mereka akan merasa khawatir dan kehidupannya menjadi terganggu akibat ulah kita yang ingin bebas tanpa batas.
Jadi ingatlah akan tanggung jawab kita sebagai pribadi, keluarga, masyarakat dan juga tanggung jawab kita sebagai seorang hamba. Dan selalulah ingat akan 3 patokan dasar dalam bertindak, yaitu tidak melanggar aturan-Nya, tidak merugikan orang lain dan diri sendiri.
(Gantira, 29 Mei 2016, Bogor)
Subscribe to:
Posts (Atom)
