Wednesday, 28 October 2015

3. Kelalaian dari Umur atau Waktu



A. Keberhagaan Waktu

وَالْعَصْرِ (1) إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (2) إِلَّا الَّذِينَ آَمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (QS. Al ‘Ashr: 1-3).

Allah bersumpah dengan al ‘ashr, yang dimaksud adalah waktu atau umur.

Karena waktu atau umur inilah nikmat besar yang diberikan kepada manusia. Waktu atau Umur ini akan menjadi nikmat yang sangat besar jika digunakan untuk beribadah kepada Allah. Karena sebab waktu atau umur, manusia menjadi mulia dan jika Allah menetapkan, ia akan masuk surga.

Sebaliknya, jika waktu atau umur ini tidak digunakan dengan baik maka manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kerugian mutlak yaitu orang yang merugi di dunia dan akhirat. Ia luput dari nikmat dan mendapat siksa di neraka jahim.

Allah mengglobalkan kerugian pada setiap manusia kecuali yang punya empat sifat: (1) iman, (2) beramal sholeh, (3) saling menasehati dalam kebenaran, (4) saling menasehati dalam kesabaran.

Imam Syafi’i rahimahullah pernah berkata: “Seandainya Allah menjadikan surat ini sebagai hujjah pada hamba-Nya, maka itu sudah mencukupi mereka.”


B. Kewajiban Seorang Muslim Terhadap Waktu

Waktu adalah kehidupan itu sendiri. Semua harta benda di dunia ini, baik itu uang, emas, rumah, kendaraan atau bahkan makanan tidak lagi bermanfaat jika waktu hidup kita sudah habis tinggal di dunia ini. Oleh karena itu seorang muslim harus memanfaatkan waktu ini dengan sebaik mungkin.

Beberapa kewajiban seorang muslim dalam menggunakan waktu ini adalah:

1. Menjaga untuk selalu mengambil manfaat dari waktu

Apabila manusia sangat perhatian terhadap hartanya, sangat menjaga dan memanfaatkannya, dan dia mengetahui bahwa harta selalu datang dan pergi maka dia harus lebih lagi memperhatikan waktu dan memanfaatkan seluruhnya pada apa yang akan bermanfaat buat dunia dan akhirat. Karena waktu akan akan segera berlalu tanpa akan kembali.

2. Pengaturan waktu

Salah satu kewajiban seorang muslim adalah mengatur dan menyusun kewajiban2 dengan amalan2 lainnya, baik itu secara agama ataupun yang lainnya. Sehingga sebagian tidak mengalahkan sebagian lainnya dan tidak pula perkara yang tidak penting mengalahkan perkara penting.

Salah seorang ulama berkata bahwa waktu seorang hamba ada empat, yaitu taat, nikmat, cobaan dan maksiat.

Bila seorang hamba berada dalam ketaatan maka perlakukanlah bahwa hal itu merupakan karunia Allah yang telah memberinya hidayah dan kemudahan dalam beribadah.

Bila seorang hamba berada dalam kenikmatan maka jalannya adalah dengan cara bersyukur.

Bila seseorang berada dalam cobaan maka jalannya adalah dengan cara keridhaan dan kesabaran.

Dan barangsiapa yang waktunya berada dalam kemaksiatan maka jalannya adalah dengan bertobat dan meminta ampun.

3. Memanfaatkan waktu luangnya

Waktu luang adalah kenikmatan yang sering dilalaikan oleh banyak orang, sehingga banyak orang yang tidak menunaikan rasa syukur dan tidak pula menghargai dengan sebenarnya.

Ibnu Abbas radhiyallohu anhu berkata: Nabi shalallahualaihi wasallam bersabda :

« نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ »

“Ada dua kenikmatan yang membuat banyak manusia tertipu dengannya, yakni kesehatan dan waktu luang.”

Apabila terkumpul pada diri seseorang itu nikmat kesehatan dan nikmat waktu luang, lalu ia tidak mampu mempergunakan dua nikmat itu untuk mengerjakan sesuatu yang mendatangkan manfaat di dunia maupun di akhirat, berarti ia telah tertipu dan merugi dalam melaksanakan berbagai aktivitasnya.


C. Aktifitas yang dapat Dilakukan dalam Memanfaatkan Waktu

Sesungguhnya kesempatan untuk memanfaatkan waktu sangatlah banyak, bagi seorang muslim hendaklah dia memilih darinya apa yang sesuai dan lebih pantas untuknya, beberapa diantaranya adalah:

1.  Menghafal kitab Allah dan mempelajarinya

Ini adalah kesibukan terbaik yang dapat dilakukan oleh seorang muslim dalam memanfaatkan waktunya.

Bukhari meriwayatkan dalam kitab sahihnya dari Utsman r.a. bahwa Nabi Muhammad Saw bersabda:
"Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al Quran dan mengajarkannya".

Dari Abu Umamah ra. dia berkata: Aku mendengar Rasulullah saw bersabda, "Bacalah Al Qur'an sesungguhnya ia akan datang di hari Kiamat menjadi syafaat (penolong) bagi pembacanya."
(Riwayat Muslim)

2. Menuntut ilmu

Pada jaman dahulu, para salafus shaleh memanfaatkan waktunya dengan menuntut ilmu dan mempelajarinya; karena mereka mengetahui bahwa mereka membutuhkannya melebihi kebutuhan mereka terhadap makanan dan minuman.

Menuntut ilmu ini bisa dengan cara menghadiri ceramah2 penting, mendengarkan audio2 bermanfaat, membaca buku yang ada faedahnya.

3. Berzikir kepada Allah

Dari Abu Sa’id al-Khudry, Rasulullah saw pernah ditanya : “Hamba yang bagaimana yang paling tinggi derajatnya di sisi Allah kelak di hari Kiamat?” Rasulullah saw menjawab : “Mereka yang banyak berdzikir kepada Allah”. Aku bertanya : “Wahai Rasulullah, bagaimana dengan yang berperang di jalan Allah?” Rasulullah saw menjawab : “Sekalipun ia membunuh orang kafir dan orang musyrik sehingga berlimpah darah, tetap orang yang berdzikir lebih mulia derajatnya” (HR. Turmudzi).

4. Memperbanyak amalan sunnah

Dalam hadits dari Abi Umamah riwayat At-Thabrani di dalam Al-Kabir,  disebutkan: “….Hamba-Ku yang terus-menerus mendekatkan dirinya kepada-Ku dengan melaksanakan ibadah sunah, maka pasti Aku akan mencintainya.."

5. Berdakwah, amar ma'ruf nahi munkar

Rasulullah pernah bersabda: “Barangsiapa yang melihat kemungkaran, maka cegahlah dengan tanganmu, apabila belum bisa, maka cegahlah dengan mulutmu, apabila belum bisa, cegahlah dengan hatimu, dan mencegah kemungkaran dengan hati adalah pertanda selemah-lemah iman”

6. Silaturrahmi

"Siapa yang suka dilapangkan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaklah ia menyambung hubungan silaturahim. "
(HR. Bukhari Muslim dari Anas radhiyallohu'anhu)

7. Mempelajari segala sesuatu yang bermanfaat

Mempelajari segala sesuatu yang bermanfaat buat dirinya, keluarganya dan juga masyarakat seperti mempelajari komputer, pertanian, perdagangan, listrik, mekanik, bahasa serta ilmu lainnya yang dapat menunjang dalam rangka mencari nafkah dan kemakmuran umat manusia di dunia.

C. Kisah beberapa para

Sahabat dan Salafus Shaleh dalam memanfaatkan waktunya

Generasi terbaik umat ini sangat perhatian dengan berlalunya kedipan mata, menit, detik, siang dan malam. Mereka koreksi amal mereka di sepanjang waktu dengan disertai bertaubat dan memperbanyak amal kebajikan yang bisa menghilangkan keburukan dan memutihkan lembar catatan amal.

Beberapa kisah mereka terkait waktu ini adalah:

1. Ibnu Mas’ud mengatakan, “Aku tidak pernah menyesali sesuatu sebagaimana penyesalannya disebabkan matahari sudah tenggelam yang berarti jatah hidupku berkurang namun amal kebaikanku tidak bertambah”.

2. Jika malam tiba, Mufadhdhal bin Yunus mengatakan, “Sudah genap sehari umurku berlalu.” Demikian pula jika pagi tiba, beliau menyambutnya dengan berkata, “Genap sudah semalam umurku berkurang”. Saat menjelang meninggal beliau menangis seraya berkata, “Aku sadar dengan beriringnya malam dan siang aku memiliki hari yang sangat menyusahkan, menyedihkan dan menyesakkan. Tiada sesembahan yang berhak disembah melainkan zat yang menetapkan kematian atas makhluknya dan menjadikannya sebagai sebuah keadilan di antara hamba-hambaNya”. Setelah itu beliau membaca firman Allah,

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلاً وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ

“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (QS. al Mulk[67]: 2). Beliau kemudian menarik napas panjang lantas tak lama kemudian meninggal.


3. Mufadhdhal bin Yunus bercerita, “Suatu hari aku berjumpa dengan saudara Bani al Harits yang bernama Muhammad bin an Nadhr dalam kondisi murung dan sedih. “Bagaimanakah keadaanmu? Ada apa dengan dirimu”, sapaku. “Satu malam dari umurku sudah berlalu sedangkan aku belum berbuat apa-apa untuk diriku. Satu hari juga sudah berlalu dan aku belum melihat diriku berbuat sesuatu yang berarti. ‘Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un’, jawabnya dengan lugas.

Serta banyak lagi kisah-kisah lainnya.

Dari tiga contoh kisah di atas, apakah mereka benar-benar belum berbuat apa-apa? Tentu kita yakin, kata tidak adalah jawaban dari pertanyaan tersebut karena adalah orang yang gemar mengerjakan shalat, berpuasa dan berzikir. Tetapi mereka menilai bahwa mereka belum melakukan apa yang seharusnya mereka kerjakan. Mereka selalu menilai diri mereka belum berbuat yang terbaik padahal mereka telah melakukan yang terbaik dan mereka telah bersusah-payah untuk itu.

Penutup

Banyak orang yang berniat untuk bertaubat, berbuat baik, meninggalkan kemaksiatan dan sebagainya, tetapi semuanya terhenti pada niat, keinginan, harapan dan angan-angan, serta cukup puas dengan hanya mengeluarkan kata "akan",  "mudah-mudahan", "semoga"….. tanpa ada tekad kuat untuk merealisasikannya.

Seorang penyair berkata, tak akan kutunda pekerjaan hari ini hingga hari esok karena malas, sungguh esok adalah hari bagi para pemalas.

Keputusan ini ada di tangan kita, meniti jalan Allah dengan melakukan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya sekarang, atau kita tetap tenggelam dalam kemaksiatan.

Ya Rahman, Bimbinglah kami ke Jalan kebenaran...aamiin...3x


Sumber:
1. "Nasihat untuk Orang2 Lalai"  karya   Khalid A. Mu'thi Khalid.
2. Berbagai sumber dari internet

(Gantira, 28 Oktober 2015, Bogor)

2. Kelalaian Dari Hal-hal yang Menyelamatkan



Beberapa hal yang dapat menyelamatkan adalah terkait dengan memperbanyak bekal diri dengan melakukan tindakan-tindakan yang dapat mendatangkan keuntungan bagi kita berupa ketaatan, ketakwaan, maupun amal-amal kebajikan lainnya.

Yang dimaksud dengan ketaatan dalam agama Islam adalah setiap hal yang diperintahkan oleh Zat Yang Maha Bijaksana kepada hamba-Nya disertai dengan janji mendapatkan pahala bagi orang yang melaksanakannya.

Allah swt menetapkan beragam bentuk ibadah untuk hamba-Nya sebagai media untuk mendapatkan ampunan dan keridhaan-Nya. Pada dasarnya, Allah swt tidak membutuhkan hamba-hamba-Nya. Meskipun demikian, Dia tetap menyeru kepada mereka.

Namun, sungguh sangat mengherankan karena hamba-hamba yang lemah tersebut selalu melupakan seruan dan ajakan Allah swt, Yang Mahakuat, Mahakaya dan Mahamulia, bahkan mereka lebih mengutamakan ajakan dan bujuk rayu setan yang hina. Sebagaimana firman-Nya dalam surat Al-An'aam ayat 71:

'Katakanlah: "Apakah kita akan menyeru selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat mendatangkan kemanfaatan kepada kita dan tidak (pula) mendatangkan kemudharatan kepada kita dan (apakah) kita akan kembali ke belakang, sesudah Allah memberi petunjuk kepada kita, seperti orang yang telah disesatkan oleh syaitan di pesawangan yang menakutkan; dalam keadaan bingung, dia mempunyai kawan-kawan yang memanggilnya kepada jalan yang lurus (dengan mengatakan): "Marilah ikuti kami". Katakanlah: "Sesungguhnya petunjuk Allah itulah (yang sebenarnya) petunjuk; dan kita disuruh agar menyerahkan diri kepada Tuhan semesta alam.  (6: 71)

A. Petunjuk-Petunjuk Al-quran

Beberapa petunjuk al-quran untuk orang-orang yang sedang melakukan perjalanan memburu "emas dan perak" yang tersimpan:

1. Berlomba-lomba dalam melakukan kebajikan.

Dalam surat al-Maidah ayat 48 menerangkan tentang masalah ini:

"...Untuk tiap-tiap umat diantara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. .."

2. Bersengketa dalam ketaatan

Sebagaimana terdapat dalam surat Al-Mu'minun ayat 61:

(61). أُولَٰئِكَ يُسَارِعُونَ فِي الْخَيْرَاتِ وَهُمْ لَهَا سَابِقُونَ

"mereka itu bersegera untuk mendapat kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang segera memperolehnya."

3. Kejujuran dan keteguhan hati

Di antara ayat yang menganjurkan untuk jujur dan berketetapan hati adalah surat Al-Ahzab ayat 23:

مِنَ الْمُؤْمِنِينَ رِجَالٌ صَدَقُوا مَا عَاهَدُوا اللَّهَ عَلَيْهِ فَمِنْهُمْ مَنْ قَضَى نَحْبَهُ وَمِنْهُمْ مَنْ يَنْتَظِرُ وَمَا بَدَّلُوا تَبْدِيلًا


"Diantara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka diantara mereka ada yang gugur . Dan diantara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka sedikitpun tidak merubah (janjinya )". (QS. Al Ahzab: 23)

B. Petunjuk- Petunjuk dari As-sunnah

Beberapa petunjuk As-sunnah untuk orang-orang yang sedang melakukan perjalanan memburu "emas dan perak" yang tersimpan:

1. Meningkatkan Semangat dan Menghilangkan Malas

Sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam,
 
"...Bersemangatlah atas hal-hal yang bermanfaat bagimu. Minta tolonglah pada Allah, jangan engkau lemah. Jika engkau tertimpa suatu musibah, maka janganlah engkau katakan: ‘Seandainya aku lakukan demikian dan demikian.’ Akan tetapi hendaklah kau katakan: ‘Ini sudah jadi takdir Allah. Setiap apa yang telah Dia kehendaki pasti terjadi.’ Karena perkataan law (seandainya) dapat membuka pintu syaithon.” (HR. Muslim)

2. Istighfar ((Memohon Ampunan)

Dalam sebuah hadist qudsi, rasulullah saw bersabda:

"Seorang hamba melakukan dosa lalu berkata, 'Ya Allah, ampunilah dosaku.' Allah Tabaraka wa Ta`ala berfirman, 'Hamba-Ku melakukan dosa dan tahu kalau ia mempunyai Tuhan yang mengampuni dosa dan menyiksa karena dosa.' Kemudian hamba tersebut kembali melakukan dosa dan berkata, 'Ya Tuhanku, ampunilah dosaku.' Allah Tabaraka wa Ta`ala berfirman, 'Hamba-Ku melakukan dosa dan tahu kalau ia mempunyai Tuhan yang mengampuni dosa dan menyiksa karena dosa.' Kemudian hamba tersebut kembali melakukan dosa dan berkata, 'Ya Tuhanku, ampunilah dosaku.' Allah Tabaraka wa Ta`ala berfirman, 'Hamba-Ku melakukan dosa dan tahu kalau ia mempunyai Tuhan yang mengampuni dosa dan menyiksa karena dosa. Aku telah mengampuni hamba-Ku (selama ia bertobat), silakan dia berbuat sesuka hatinya.'"(HR. Bukhari Muslim)

Hadist ini menjelaskan bahwa selagi orang yang melakukan dosa mau meminta ampun kepada-Nya, Allah swt akan mengampuninya. Permohonan ampunan disini adalah permohonan yang diikuti oleh keinginan kuat untuk meninggalkan perbuatan dosanya tersebut sehingga perbuatan dosanya tidak menjadi kebiasaan.

Sumber:
1. "Nasihat untuk Orang2 Lalai"  karya   Khalid A. Mu'thi Khalid.
2. Berbagai sumber dari internet

(Gantira, 28 Oktober 2015, Bogor)

1. Kelalaian dari Hal-hal yang Membinasakan


Jika seorang manusia jatuh dalam sebuah sumur dan hampir binasa, logika akal mengharuskan kita untuk menyelamatkannya terlebih dahulu sebelum melakukan hal lainnya. Kemudian kita mulai dari fase kosong.

Seperti diketahui, kedudukan orang secara umum itu ada tiga kemungkinan negatif - kosong - positif. Orang yang sedang berada dalam kebinasaan adalah orang yang sedang berada dalam fase negatif. Jadi, ia harus diselamatkan terlebih dahulu sebelum mulai bergerak dengan sehat.

Rasulullah saw, bersabda:

"Jauhilah hal-hal yang diharamkan, niscaya engkau menjadi orang yang paling banyak ibadahnya" (hr. Ahmad dan Tirmidzi)

Jadi salah satu hal kelalaian yang dapat membinasakan adalah hal-hal yang diharamkan oleh Allah. Maka berusahalah sekuat tenaga kita menjauhi hal2 yang haram ini bila kita tidak ingin binasa.

Para ulama salaf berkata, "Kami meninggalkan banyak pintu kebaikan karena takut jatuh dalam kejahatan."

Rasulullah saw bersabda,"Seorang hamba tidak mencapai derajat muttaqin hingga ia meninggalkan sesuatu yang tidak haram karena hati-hati agar tidak jatuh kepada yang haram" (hr Tirmidzi dan ibnu Majah).

Keterjagaan dan cepat kembali dari ketergelinciran, wujudnya adalah ketika seseorang sedang tergelincir ke dalam kejahatan, ia segera bertobat dan kembali kepada Rabb-nya. Sesuai dengan firman Allah swt:
dalam surat al-A'raf ayat 201:


{إِنَّ الَّذِينَ اتَّقَوْا إِذَا مَسَّهُمْ طَائِفٌ مِنَ الشَّيْطَانِ تَذَكَّرُوا فَإِذَا هُمْ مُبْصِرُونَ (201)

"Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa bila mereka ditimpa was-was dari setan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya."

Setan mempunyai banyak cara untuk menggoda manusia. Bila ia tidak mampu menjerumuskan manusia ke dunia kesesatan, ia akan mendorongnya melakukan tindakan-tindakan yang bisa menyebabkan amal-amal yang sudah dilakukan menjadi musnah. Ia tumbuhkan rasa riya di hati manusia. Bila cara ini tidak berhasil , ia akan memasukkan rasa bangga terhadap diri sendiri dan keinginan untuk dipuji dalam hati mereka. Bila cara ini tidak berhasil, ia akan mendorong mereka membicarakan keberhasilan-keberhasilan mereka dan di hati mereka ditumbuhkan rasa dan keinginan untuk dipuji. Begitulah seterusnya, bila satu cara tidak berhasil, setan akan mencoba dengan cara yang lain hingga tipu dayanya berhasil. Singkatnya, setan tidak pernah capai apalagi putus asa.

Bahkan lebih dari itu, iblis juga berusaha untuk menumbuhkan rasa penyesalan di hati manusia atas ketaatan dan amal-amal kebajikan yang selama ini mereka lakukan, hingga pahala-pahala amalnya sedikit demi sedikit semakin berkurang. Akhirnya, bisa jadi ada seorang hamba Allah yang di dunia ini banyak melakukan ketaatan dan sama sekali tidak pernah melakukan kemaksiatan, tetapi di akhirat nanti ia tidak mendapatkan pahala sama sekali.

Penutup

Jika kita telah berhasil menjauhi hal2 yang bisa menyebabkan binasa dan selalu waspada dari godaan dan bujuk rayu syetan, maka kita telah berhasil membersihkan diri dari penyakit2 yang membahayakan, utamanya penyakit lalai, ceroboh, dan kurang waspada.

Sampai tingkatan ini maka kita berada pada titik nol. Artinya, kita tidak menyimpan hal-hal yang membahayakan dan juga tidak mempunyai modal dan bekal untuk meraup keuntungan.

Oleh karena itu, pada langkah2 selanjutnya, kita harus memperbanyak bekal diri dengan melakukan tindakan2 yang dapat mendatangkan keuntungan bagi kita, baik berupa ketaatan, ketakwaan, maupun amal2 kebajikan lainnya. Tentunya, semua ini harus dilakukan atas dasar mencari ridha Allah swt.

Sumber:
1. "Nasihat untuk Orang2 Lalai"  karya   Khalid A. Mu'thi Khalid.
2. Berbagai sumber dari internet

(Gantira, 28 Oktober 2015, Bogor)

"Nasihat untuk Orang-Orang Lalai"



Lalai adalah salah satu penyakit yang paling berbahaya yang menimpa individu dan umat. Ia adalah penyakit yang amat membinasakan, yang membunuh kebaikan dan penghancur semangat.

Dalam surat al-A’raf ayat 179, difirmankan:

وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِنَ الْجِنِّ وَالْإِنْسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ ءَاذَانٌ لَا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ

 “Dan sesungguhnya telah kami sediakan untuk mereka jahannam banyak dari jin dan manusia; mereka mempunyai hati (tetapi) tidak mereka gunakan memahami, dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak mereka gunakan untuk melihat dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak mereka gunakan untuk mendengar, mereka itu seperti binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi, mereka itulah orang-orang yang lalai”.

Ada 5 kelalaian pokok utama yang sering terjadi pada manusia, yaitu:

1) Kelalaian dari apa yang membahayakan hamba dan membuat turunnya kemurkaan Allah, yaitu kelalaian dari hal-hal yang membinasakan.

Beberapa hal yang termasuk kelalaian yang membinasakan adalah melakukan perbuatan yang berkaitan dengan hal-hal yang diharamkan dan penyakit-penyakit hati yang bisa menghilangkan pahala amal serta memperbanyak dosa, seperti penyakit riya, bangga terhadap diri sendiri, iri dan dengki, pengecut serta banyak lagi penyakit lainnya.


2) Kelalaian dari apa yang menyelamatkannya dari azab Allah, yaitu kelalaian dari hal-hal yang menyelamatkan.

Beberapa hal yang dapat menyelamatkan adalah terkait dengan memperbanyak bekal diri dengan melakukan tindakan-tindakan yang dapat mendatangkan keuntungan bagi kita berupa ketaatan, ketakwaan, maupun amal-amal kebajikan lainnya.

Yang dimaksud dengan ketaatan dalam agama Islam adalah setiap hal yang diperintahkan oleh Zat Yang Maha Bijaksana kepada hamba-Nya disertai dengan janji mendapatkan pahala bagi orang yang melaksanakannya.

Allah swt menetapkan beragam bentuk ibadah untuk hamba-Nya sebagai media untuk mendapatkan ampunan dan keridhaan-Nya.

3) Kelalaian dari modal hamba dan bekalnya di jalan, yaitu kelalaian dari umur atau waktu.

Waktu atau umur adalah nikmat besar yang diberikan kepada manusia. Waktu atau Umur ini akan menjadi nikmat yang sangat besar jika digunakan untuk beribadah kepada Allah. Karena sebab waktu atau umur, manusia menjadi mulia dan jika Allah menetapkan, ia akan masuk surga.

Sebaliknya, jika waktu atau umur ini tidak digunakan dengan baik maka manusia benar-benar berada dalam kerugian. Kerugian mutlak yaitu orang yang merugi di dunia dan akhirat. Ia luput dari nikmat dan mendapat siksa di neraka jahim.

4) Kelalaian dari tujuan diciptakannya manusia, yaitu kelalaian dari misi-misi  agung.

Segala sesuatu yang Allah ciptakan, baik di langit maupun di bumi pasti ada tujuan dan hikmahnya.

Ada 3 tujuan diciptakannya manusia, yaitu:

a. Mengilmui Tentang Allah

Sebagaimana yang disebutkan dalam firman-Nya:

اللَّهُ الَّذِي خَلَقَ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَمِنَ الأرْضِ مِثْلَهُنَّ يَتَنَزَّلُ الأمْرُ بَيْنَهُنَّ لِتَعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ وَأَنَّ اللَّهَ قَدْ أَحَاطَ بِكُلِّ شَيْءٍ عِلْمًا

“Allah lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi. Perintah Allah berlaku padanya, agar kamu mengetahui bahwasanya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu, dan sesungguhnya Ilmu Allah benar-benar meliputi segala sesuatu.” (QS. Ath Thalaq: 12).

b. Beribadah

Seperti yang dinyatakan dalam:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia, melainkan supaya mereka menyembah-Ku”. (QS. Adz Dzariyat: 56).

c. Khalifah

Dalam surat Al-baqarah ayat  30 disebutkan:

”Sesungguhnya Aku hendak menjadikan dimuka bumi ini seorang khalifah (pemakmur/penanggungjawab yang akan mengolah, memanfaatkan, memakmurkan bumi dengan segala aktifitasnya)”. (Qs. Al Baqarah: 30)

5) Kelalaian dari kondisi Islam dan dakwah kepada Islam.

Kewajiban dakwah (amar ma'ruf nahi mungkar) secara umum ditujukan kepada setiap umat Muhammad saw. Sebagaimana Rasulullah saw. bersabda, 'Sesungguhnya manusia apabila melihat kemungkaran, lalu mereka tidak berusaha mengubahnya, maka hampir saja Allah menurunkan adzab secara menyeluruh ke atas mereka.'"

Apabila seseorang telah menyempurnakan tugas ini, maka ia tidak akan menanggung celaan dan dosa-dosa dari mereka yang tidak menerima ajakannya, sebab ia telah menunaikan kewajibannya. Dan bukan menjadi tanggung jawabnya jika orang lain tidak menerimanya. Wallaahu A'lam.

Untuk penjelasan lebih mendetail pada 5 pokok di atas, dapat dilihat pada postingan berikutnya.

Sumber:
1. "Nasihat untuk Orang2 Lalai"  karya   Khalid A. Mu'thi Khalid.
2. Berbagai sumber dari internet

(Gantira, 28 Oktober 2015, Bogor)

Monday, 26 October 2015

"Mendapatkan Kembali Kejayaan Umat Islam"

"Mendapatkan Kembali Kejayaan Umat Islam"

Salah satu sebab ketertinggalan umat Islam saat ini dibandingkan dengan Eropa karena sudah gagal paham dalam  menyikapi ilmu.

Umat islam pada generasi saat ini, terlalu membebek secara totalitas terhadap apa yang dilakukan oleh orang Eropa, yang akhirnya malah jauh tertinggal dari yang dicontohnya.

Berbeda dengan umat islam generasi awal, yang dimulai dari  orang arab dusun yang tak dikenal secara politik, namun tiba2 bisa menghancurkan dua kekuasaan besar saat itu, yaitu Persia dan Romawi. Sehingga akhirnya peradaban orang romawi  menjadi jauh tertinggal dari peradaban umat islam generasi saat itu.

Namun generasi saat ini malah jauh tertinggal dari Eropa.

Kegelapan umat Islam diawali dari tidak mau taatnya mayoritas umat Islam pada aturan agama, mereka berusaha untuk berimprovisasi terhadap agama sebagaimana mereka berimprovisasi terhadap perkara dunia.

Kegelapan selanjutnya adalah untuk teknologi duniawi mereka mengagung2kan barat dan terus mengekor tanpa mau berimprovisasi atau membebaskan diri dari ketergantungan kepada mereka. Sedangkan terhadap ajaran Islam yang sudah baku malah berimprovisasi dan ingin berlepas diri dari al-quran dan hadist dan berusaha menyelisihinya.

Padahal di dalam islam yang terkait ibadah harus berprinsip "sami na wa atho na" (kami dengar dan kami taat) terhadap semua hukum yang sudah jelas ada aturannya dalam al-qur'an dan hadist. Tapi terkait hal duniawi, maka kita diberikan kebebasan berimprovisasi sebebas bebasnya selama tidak melanggar aturan tersebut.

Jadi bila kita ingin kembali terdepan dalam peradaban maka satu-satunya cara adalah kembali kepada Islam secara kaffah, yaitu totalitas taat dan patuh pada semua aturan Islam yang sudah baku (al-quran dan hadis), dan lakukanlah sebebas-bebasnya (berimprovisasi dengan maksimal) terhadap perkara duniawi atau teknologi selama tidak melanggar aturan Islam yang sudah baku  (al-quran dan hadist).

Untuk mendapatkan kembali kejayaan umat islam  itu dalam dunia nyata, maka mulailah dari diri kita dan lakukan dengan sabar karena hal itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Dan mudah2an kejayaan itu kembali terwujud pada generasi anak2 dan cucu2 kita, yang inisiatifnya dimulai dari generasi kita.

( Gantira, 26 Oktober 2015, Bogor)

Saturday, 24 October 2015

Kriteria Utama dalam Memilih Pasangan Hidup

Ada sebuah istilah bahwa mencari pasangan itu carilah bibit, bebet dan bobot. Apakah arti semua itu?

BIBIT artinya, berasal dari keluarga seperti apa calon pasangan kita. Apakah dari keluarga baik-baik atau penjahat? Nah, kalo berasal dari keluarga bajingan, dipastikan orang tua  tidak akan menyetujui hubungan dengannya walau sudah cinta mati. Orang tua ingin menantunya berasal dari keluarga baik-baik dan terhormat.

BEBET artinya, kesiapan seseorang dalam memberi nafkah keluarga. Bebet dititkberatkan pada aspek ekonomi alias harta. Atau, dititikberatkan pula pada kepribadiannya. Maksudnya mobil pribadi, rumah pribadi, atau serba pribadi lainnya...

BOBOT artinya, kualitas seseorang dalam arti yang luas. Biasanya meliputi aspek pendidikan, akhlak dan agama. Tapi biasanya orang tua sekarang lebih melihat strata pendidikannya, apa cuma lulusan SD doang, SMP, SMU, S1, S2 atau S3.

Bagaimana pandangan Islam terhadap BIBIT, BEBET, BOBOT ini dalam memilih pasangan? Hampir mirip dengan hal itu, sesungguhnya Islam telah memberi panduan dengan lebih jelas, gamblang dan tidak sekedar BIBIT BEBET BOBOT yang bisa didefinisikan sesuai dengan kepentingan. Apalagi zaman sekarang pandangan orang kian matre dalam mendefinisikan bibit bebet bobot tersebut. Islam menjelaskan dalam sebuah hadist berikut ini.

Abu Hurairah Radiyallahu ‘anhu mengkhabarkan dari Rasulullah Shallallaahu ‘alaihi wasallam beliau bersabda:

“Wanita itu dinikahi karena 4 perkara. Karena hartanya, keturunannya, kecantikannya, dan karena agamanya. Pilihlah wanita karena agamany, niscaya engkau akan bahagia.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Nah dalam Islam sudah ada panduan bahwa kalau agamanya bagus, maka dia akan mengeliminir kekurangan dari pengaruh yang lain ( hartanya, keturunannya, kecantikannya). Namun kalau agamanya tidak bagus maka kekurangan dari pengaruh hartanya, keturunannya, kecantikannya akan ikut berkontribusi besar pada karakternya.

Ingatlah Abu Bakar terkenal
sebagai seorang yang lembut, namun setelah mengenal Islam maka beliau menjadi lebih tegas daripada Umat bin Khatab sehingga berani menyatakan perang pada kaum yang tidak mau bayar zakat, padahal Umar awal nya menyatakan jangan dengan alasan sudah mengucapkan syahadat.

Begitu juga Amirul mukminin Umar bin Khattab radhiallahu ‘anhu yang terkenal tegas dan tegar menjadi seorang yang lembut setelah mengenal Islam dimana saat beliau memimpin kaum muslimin tiba-tiba menangis, dan kelihatan sangat terpukul ketika mendengar Informasi dari salah seorang ajudannya tentang peristiwa yang terjadi di tanah Iraq yang telah membuatnya sedih dan gelisah. Seekor keledai tergelincir kakinya dan jatuh ke jurang akibat jalan yang dilewati rusak dan berlobang. Melihat kesedihan khlalifahnya, sang ajudan pun berkata: “Wahai Amirul Mukminin, bukankah yang mati hanya seekor keledai?” dengan nada serius dan wajah menahan marah Umar bin Khattab bekata: “Apakah engkau sanggup menjawab di hadapan Allah ketika ditanya tentang apa yang telah engkau lakukan ketika memimpin rakyatmu?”

Jadi pilihlah orang yang akhlaknya (agamanya) bagus, niscaya dia akan mengeliminir kekurangan akibat pengaruh yang lainnya.

(Gantira, 25 Oktober 2015, Bogor)

Sebab-sebab Dikabul dan Tidaknya Sebuah Doa

Semua doa pasti dikabulkan, sesuai janji Allah, Dalam Alquran surat Almumin :60,Alloh berfirman:

“Ud’uni astajib lakum ”
Artinya:

“Berdoalah padaku,maka niscaya akan kukabulkan”.

Bentuk terkabulkannya doa itu, berdasarkan hadist:

Dari Abu Said Al-Khudry RA bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Tidaklah seorang muslim berdoa yang tidak terkandung didalamnya suatu dosa dan memutuskan persaudaraan kecuali Allah SWT akan memberikan salah satu dari 3 (tiga) : Menyegerakan dikabulkannya doa atau menyimpannya di akherat (masa mendatang) atau menghindarkan keburukan”, dikatakan : Kalau demikian, kita memperbanyak doa ?, beliau jawab : Allah SWT (akan membalas) lebih banyak lagi. (HR. Ahmad dan Hakim)

Dari hadits di atas dapat disimpulkan bahwa bentuk dikabulkannya doa ada 3 (tiga) macam :

1. Dikabulkan Segera (Cash and carry).
Alhamdulillah. Dengan dikabulkannya doa, maka bisa dinikmati dan dimanfaatkan untuk menambah kebaikan dan meningkatkan ibadah agar lebih berdaya guna di dunia sampai akherat.

2. Dikabulkan di masa mendatang bahkan bisa di akherat (Tempo).
Alhamdulillah. Allah SWT telah memilihkan bentuk, waktu dan cara yang terbaik untuk kebaikan, kebahagiaan dan keselamatan kita di dunia sampai akherat.

3. Dikabulkan dengan menghindarkan keburukan (Cara lain).
Alhamdulillah. Allah SWT telah menyelamatkan kita dari sesuatu yang negatif dan memberikan sesuatu yang positif di dunia sampai akherat.

Dan perlu diketahui juga ada 4 faktor utama doa tidak dikabulkan, yaitu:
1) Doa yang mengandung dosa
2) Doa yang berisi untuk memutuskan persaudaraan.
3) Doa yang tergesa2.
4) Makanan dan pakaian kita berasal dari barang yang haram.
5) Tidak mau beramar ma'ruf nahi munkar


@) Dalil faktor 1 sampai 3 yang menyebabkan tidak terkabulkannya doa ini adalah:

"Doa seseorang senantiasa akan dikabulkan selama ia tak berdoa untuk perbuatan dosa ataupun untuk memutuskan tali silaturahim & tak tergesa-gesa. Seorang sahabat bertanya; 'Ya Rasulullah, apakah yg dimaksud dgn tergesa-gesa?
' Rasulullah menjawab: 'Yang dimaksud dgn tergesa-gesa adl apabila orang yg berdoa itu mengatakan; 'Aku telah berdoa & terus berdoa tetapi belum juga dikabulkan'. Setelah itu, ia merasa putus asa & tak pernah berdoa lagi.' [HR. Muslim No.4918].

@) Dalil untuk faktor 4  adalah

Ucapan dari sahabat Nabi yaitu Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu “Dimana Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutkan orang yang lama bepergian, rambutnya kusut, berdebu, dan menengadahkan kedua tangannya ke langit, 'Wahai Rabb-ku, wahai Rabb-ku,' padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan diberi makan dengan yang haram, bagaimana doanya dikabulkan?”

Dengan hadits di atas, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam ingin menunjukkan etika berdoa, sebab-sebab yang menjadikan doa dikabulkan, dan sebab-sebab yang menjadikan doa seseorang itu tidak dikabulkan. Dalam hadits di atas, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutkan empat hal yang membuat doa dikabulkan, yaitu:

1. Lama bepergian.

Bepergian itu sendiri menyebabkan doa dikabulkan seperti terlihat pada hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ يُسْتَجَابُ لَهُنَّ لاَ شَكَّ فِيْهِنَّ : دَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ لِوَلَدِهِ.
"Tiga doa yang dikabulkan dan tidak ada keraguan di dalamnya: (a) doa orang yang terzhalimi, (b) doa musafir (orang yang sedang bepergian jauh), dan (c) doa seorang ayah untuk anaknya." [Hasan. HR Abu Dawud, no. 1536]

Jika seseorang telah lama bepergian, doanya sangat mungkin dikabulkan karena dugaan kuat orang tersebut sedih karena lama terasing dari negerinya dan mendapatkan kesulitan. Sedih adalah sebab terbesar yang membuat doa dikabulkan.

2. Terjadinya keusangan pada pakaian dan penampilan dalam bentuk rambut kusut dan berdebu.

Hal ini juga membuat doa terkabul seperti terlihat pada hadits yang masyhur, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang bersabda:
رُبَّ أَشْعَثَ ذِيْ طِمْرَيْنِ، مَدْفُوْعٌ بِاْلأَبْوَابِ، لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللهِ َلأَبَرَّهُ.
"Bisa jadi orang yang rambutnya kusut, berdebu, mempunyai dua pakaian lusuh, dan pintu-pintu tertutup baginya, namun jika ia berdoa kepada Allah, Dia pasti mengabulkannya" [Shahîh. HR Muslim, no. 2622, 2854]

Ketika Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam keluar rumah untuk mengerjakan shalat Istisqa’(shalat untuk minta hujan), beliau keluar dengan pakaian lusuh, tawadhu`, dan merendahkan diri.[Hasan. HR Ahmad, I/230]

Keponakan Mutharrif bin ‘Abdullah dipenjara, kemudian Mutharrif bin ‘Abdullah rahimahullah mengenakan pakaian usang miliknya dan mengambil tongkat dengan tangannya. Dikatakan kepadanya, “Kenapa engkau berbuat seperti itu?” Mutharrif bin ‘Abdullah menjawab, “Aku merendahkan diri kepada Rabb-ku, mudah-mudahan Dia memberi syafa’at (keselamatan) kepadaku untuk keponakanku”.[Lihat Jâmi’ul ‘Ulûm wal-Hikam, I/270.]

3. Menengadahkan kedua tangan ke langit.

Ini termasuk adab berdoa, dan dengan cara seperti itu, diharapkan doa tersebut dikabulkan. Disebutkan dalam sebuah hadits dari Salmân Radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إنَّ اللهَ حَيِيٌّ كَرِيْمٌ يَسْتَحْيِي إِذَا رَفَعَ الرَّجُلُ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا خَائِبَتَيْنِ.
"Sesungguhnya Allah Maha Pemalu dan Maha Mulia. Dia malu bila seseorang menengadahkan kedua tangan kepada-Nya, namun Dia mengembalikan keduanya dalam keadaan kosong tidak mendapatkan apa-apa." [Shahîh. HR Ahmad, V/438]

4. Terus-menerus berdoa kepada Allah Ta’ala dengan mengulang-ulang kerububiyyahan-Nya (Sifat Allah seperti yang menciptakan, yang memiliki, yang memelihara dan yang mengurus sekalian alam)

Cara seperti ini termasuk aspek penting yang membuat doa terkabul.

Yazid ar-Raqqâsyi rahimahullah berkata, dari Anas bin Mâlik, “Tidaklah seorang hamba berkata ‘Rabbî (wahai Rabb-ku), Rabbî (wahai Rabb-ku),’ melainkan Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman kepadanya, ‘Aku penuhi panggilanmu, Aku penuhi panggilanmu’.”
Diriwayatkan dari Abu ad-Darda` dan Ibnu ‘Abbas bahwa keduanya berkata: “Nama Allah terbesar ialah Rabbî (wahai Rabb-ku), Rabbî (wahai Rabb-ku)”.
Disebutkan dari ‘Athaa` rahimahullah, ia berkata: “Tidaklah seorang hamba berkata ‘Rabbî, Rabbî’ hingga tiga kali melainkan Allah melihatnya”.[HR Ibnu Abi Syaibah, X/272].


Sedang PENYEBAB DOA TIDAK DIKABULKAN, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mengisyaratkan di antaranya ialah karena mengkonsumsi barang haram, baik dalam makanan, minuman, pakaian, dan memberi makanan kepada orang lain. Tentang hal ini, telah disebutkan hadits Ibnu 'Abbaas, dan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada Sa’ad bin Abi Waqqaash: “Wahai Sa’ad, hendaklah makananmu baik, niscaya engkau menjadi orang yang doanya dikabulkan”. Dari sisi ini, bisa disimpulkan bahwa makan sesuatu yang halal, meminumnya, mengenakannya, dan memberikannya kepada orang lain merupakan penyebab doa seseorang dikabulkan.
'Ikrimah bin ‘Ammaar rahimahullah meriwayatkan bahwa al-Ashfar berkata kepadaku bahwa dikatakan kepada Sa’ad bin Abi Waqqâsh: “Engkau orang yang doanya dikabulkan di antara sahabat-sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam”.
Sa’ad bin Abi Waqqaash berkata: “Aku tidak mengangkat sesuap makanan ke mulutku, melainkan aku tahu asal usulnya dan ke mana makanan tersebut hendak keluar”.

Diriwayatkan dari Wahb bin Munabbih rahimahullah, ia berkata: “Barang siapa ingin doanya dikabulkan Allah, hendaklah ia makan makanan yang baik (halal)”.

Diriwayatkan dari Sahl bin ‘Abdillah rahimahullah, dia berkata: “Barangsiapa makan makanan halal selama empat puluh pagi (hari), doanya dikabulkan”.
Diriwayatkan dari Yusuf bin Asbath rahimahullah, dia berkata: “Diberitahukan kepada kami bahwa doa seorang hamba ditahan dari langit, karena makanannya haram”.[Hasan. HR Ahmad (VI/159)]

@) Sedangkan dalil pada faktor 5 adalah

Dari 'Aisyah bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Wahai manusia, sesungguhnya Allah berfirman kepada kalian, ‘Perintahkan yang baik dan laranglah yang munkar sebelum kalian berdoa kepada-Ku kemudian doa kalian tidak Aku kabulkan, kalian meminta kepada-Ku kemudian tidak Aku berikan, dan kalian meminta pertolongan kepada-Ku kemudian Aku tidak menolong kalian’.”[HR. Imam al-Bazzâr (no. 3304)]

(Gantira, 24 Oktober 2015, Bogor)