Saturday, 24 October 2015

Sebab-sebab Dikabul dan Tidaknya Sebuah Doa

Semua doa pasti dikabulkan, sesuai janji Allah, Dalam Alquran surat Almumin :60,Alloh berfirman:

“Ud’uni astajib lakum ”
Artinya:

“Berdoalah padaku,maka niscaya akan kukabulkan”.

Bentuk terkabulkannya doa itu, berdasarkan hadist:

Dari Abu Said Al-Khudry RA bahwa Rasulullah SAW bersabda : “Tidaklah seorang muslim berdoa yang tidak terkandung didalamnya suatu dosa dan memutuskan persaudaraan kecuali Allah SWT akan memberikan salah satu dari 3 (tiga) : Menyegerakan dikabulkannya doa atau menyimpannya di akherat (masa mendatang) atau menghindarkan keburukan”, dikatakan : Kalau demikian, kita memperbanyak doa ?, beliau jawab : Allah SWT (akan membalas) lebih banyak lagi. (HR. Ahmad dan Hakim)

Dari hadits di atas dapat disimpulkan bahwa bentuk dikabulkannya doa ada 3 (tiga) macam :

1. Dikabulkan Segera (Cash and carry).
Alhamdulillah. Dengan dikabulkannya doa, maka bisa dinikmati dan dimanfaatkan untuk menambah kebaikan dan meningkatkan ibadah agar lebih berdaya guna di dunia sampai akherat.

2. Dikabulkan di masa mendatang bahkan bisa di akherat (Tempo).
Alhamdulillah. Allah SWT telah memilihkan bentuk, waktu dan cara yang terbaik untuk kebaikan, kebahagiaan dan keselamatan kita di dunia sampai akherat.

3. Dikabulkan dengan menghindarkan keburukan (Cara lain).
Alhamdulillah. Allah SWT telah menyelamatkan kita dari sesuatu yang negatif dan memberikan sesuatu yang positif di dunia sampai akherat.

Dan perlu diketahui juga ada 4 faktor utama doa tidak dikabulkan, yaitu:
1) Doa yang mengandung dosa
2) Doa yang berisi untuk memutuskan persaudaraan.
3) Doa yang tergesa2.
4) Makanan dan pakaian kita berasal dari barang yang haram.
5) Tidak mau beramar ma'ruf nahi munkar


@) Dalil faktor 1 sampai 3 yang menyebabkan tidak terkabulkannya doa ini adalah:

"Doa seseorang senantiasa akan dikabulkan selama ia tak berdoa untuk perbuatan dosa ataupun untuk memutuskan tali silaturahim & tak tergesa-gesa. Seorang sahabat bertanya; 'Ya Rasulullah, apakah yg dimaksud dgn tergesa-gesa?
' Rasulullah menjawab: 'Yang dimaksud dgn tergesa-gesa adl apabila orang yg berdoa itu mengatakan; 'Aku telah berdoa & terus berdoa tetapi belum juga dikabulkan'. Setelah itu, ia merasa putus asa & tak pernah berdoa lagi.' [HR. Muslim No.4918].

@) Dalil untuk faktor 4  adalah

Ucapan dari sahabat Nabi yaitu Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu “Dimana Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutkan orang yang lama bepergian, rambutnya kusut, berdebu, dan menengadahkan kedua tangannya ke langit, 'Wahai Rabb-ku, wahai Rabb-ku,' padahal makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan diberi makan dengan yang haram, bagaimana doanya dikabulkan?”

Dengan hadits di atas, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam ingin menunjukkan etika berdoa, sebab-sebab yang menjadikan doa dikabulkan, dan sebab-sebab yang menjadikan doa seseorang itu tidak dikabulkan. Dalam hadits di atas, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutkan empat hal yang membuat doa dikabulkan, yaitu:

1. Lama bepergian.

Bepergian itu sendiri menyebabkan doa dikabulkan seperti terlihat pada hadits dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ يُسْتَجَابُ لَهُنَّ لاَ شَكَّ فِيْهِنَّ : دَعْوَةُ الْمَظْلُوْمِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْوَالِدِ لِوَلَدِهِ.
"Tiga doa yang dikabulkan dan tidak ada keraguan di dalamnya: (a) doa orang yang terzhalimi, (b) doa musafir (orang yang sedang bepergian jauh), dan (c) doa seorang ayah untuk anaknya." [Hasan. HR Abu Dawud, no. 1536]

Jika seseorang telah lama bepergian, doanya sangat mungkin dikabulkan karena dugaan kuat orang tersebut sedih karena lama terasing dari negerinya dan mendapatkan kesulitan. Sedih adalah sebab terbesar yang membuat doa dikabulkan.

2. Terjadinya keusangan pada pakaian dan penampilan dalam bentuk rambut kusut dan berdebu.

Hal ini juga membuat doa terkabul seperti terlihat pada hadits yang masyhur, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam yang bersabda:
رُبَّ أَشْعَثَ ذِيْ طِمْرَيْنِ، مَدْفُوْعٌ بِاْلأَبْوَابِ، لَوْ أَقْسَمَ عَلَى اللهِ َلأَبَرَّهُ.
"Bisa jadi orang yang rambutnya kusut, berdebu, mempunyai dua pakaian lusuh, dan pintu-pintu tertutup baginya, namun jika ia berdoa kepada Allah, Dia pasti mengabulkannya" [Shahîh. HR Muslim, no. 2622, 2854]

Ketika Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam keluar rumah untuk mengerjakan shalat Istisqa’(shalat untuk minta hujan), beliau keluar dengan pakaian lusuh, tawadhu`, dan merendahkan diri.[Hasan. HR Ahmad, I/230]

Keponakan Mutharrif bin ‘Abdullah dipenjara, kemudian Mutharrif bin ‘Abdullah rahimahullah mengenakan pakaian usang miliknya dan mengambil tongkat dengan tangannya. Dikatakan kepadanya, “Kenapa engkau berbuat seperti itu?” Mutharrif bin ‘Abdullah menjawab, “Aku merendahkan diri kepada Rabb-ku, mudah-mudahan Dia memberi syafa’at (keselamatan) kepadaku untuk keponakanku”.[Lihat Jâmi’ul ‘Ulûm wal-Hikam, I/270.]

3. Menengadahkan kedua tangan ke langit.

Ini termasuk adab berdoa, dan dengan cara seperti itu, diharapkan doa tersebut dikabulkan. Disebutkan dalam sebuah hadits dari Salmân Radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
إنَّ اللهَ حَيِيٌّ كَرِيْمٌ يَسْتَحْيِي إِذَا رَفَعَ الرَّجُلُ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا خَائِبَتَيْنِ.
"Sesungguhnya Allah Maha Pemalu dan Maha Mulia. Dia malu bila seseorang menengadahkan kedua tangan kepada-Nya, namun Dia mengembalikan keduanya dalam keadaan kosong tidak mendapatkan apa-apa." [Shahîh. HR Ahmad, V/438]

4. Terus-menerus berdoa kepada Allah Ta’ala dengan mengulang-ulang kerububiyyahan-Nya (Sifat Allah seperti yang menciptakan, yang memiliki, yang memelihara dan yang mengurus sekalian alam)

Cara seperti ini termasuk aspek penting yang membuat doa terkabul.

Yazid ar-Raqqâsyi rahimahullah berkata, dari Anas bin Mâlik, “Tidaklah seorang hamba berkata ‘Rabbî (wahai Rabb-ku), Rabbî (wahai Rabb-ku),’ melainkan Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman kepadanya, ‘Aku penuhi panggilanmu, Aku penuhi panggilanmu’.”
Diriwayatkan dari Abu ad-Darda` dan Ibnu ‘Abbas bahwa keduanya berkata: “Nama Allah terbesar ialah Rabbî (wahai Rabb-ku), Rabbî (wahai Rabb-ku)”.
Disebutkan dari ‘Athaa` rahimahullah, ia berkata: “Tidaklah seorang hamba berkata ‘Rabbî, Rabbî’ hingga tiga kali melainkan Allah melihatnya”.[HR Ibnu Abi Syaibah, X/272].


Sedang PENYEBAB DOA TIDAK DIKABULKAN, Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam mengisyaratkan di antaranya ialah karena mengkonsumsi barang haram, baik dalam makanan, minuman, pakaian, dan memberi makanan kepada orang lain. Tentang hal ini, telah disebutkan hadits Ibnu 'Abbaas, dan bahwa Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepada Sa’ad bin Abi Waqqaash: “Wahai Sa’ad, hendaklah makananmu baik, niscaya engkau menjadi orang yang doanya dikabulkan”. Dari sisi ini, bisa disimpulkan bahwa makan sesuatu yang halal, meminumnya, mengenakannya, dan memberikannya kepada orang lain merupakan penyebab doa seseorang dikabulkan.
'Ikrimah bin ‘Ammaar rahimahullah meriwayatkan bahwa al-Ashfar berkata kepadaku bahwa dikatakan kepada Sa’ad bin Abi Waqqâsh: “Engkau orang yang doanya dikabulkan di antara sahabat-sahabat Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam”.
Sa’ad bin Abi Waqqaash berkata: “Aku tidak mengangkat sesuap makanan ke mulutku, melainkan aku tahu asal usulnya dan ke mana makanan tersebut hendak keluar”.

Diriwayatkan dari Wahb bin Munabbih rahimahullah, ia berkata: “Barang siapa ingin doanya dikabulkan Allah, hendaklah ia makan makanan yang baik (halal)”.

Diriwayatkan dari Sahl bin ‘Abdillah rahimahullah, dia berkata: “Barangsiapa makan makanan halal selama empat puluh pagi (hari), doanya dikabulkan”.
Diriwayatkan dari Yusuf bin Asbath rahimahullah, dia berkata: “Diberitahukan kepada kami bahwa doa seorang hamba ditahan dari langit, karena makanannya haram”.[Hasan. HR Ahmad (VI/159)]

@) Sedangkan dalil pada faktor 5 adalah

Dari 'Aisyah bahwa Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda, “Wahai manusia, sesungguhnya Allah berfirman kepada kalian, ‘Perintahkan yang baik dan laranglah yang munkar sebelum kalian berdoa kepada-Ku kemudian doa kalian tidak Aku kabulkan, kalian meminta kepada-Ku kemudian tidak Aku berikan, dan kalian meminta pertolongan kepada-Ku kemudian Aku tidak menolong kalian’.”[HR. Imam al-Bazzâr (no. 3304)]

(Gantira, 24 Oktober 2015, Bogor)

Thursday, 22 October 2015

Harapan Tiap Generasi



Pada masa perjuangan dulu, banyak para orang tua yang mengharapkan agar anak2nya menjadi generasi pejuang yang dapat membebaskan bangsa ini dari cengkeraman penjajah. Sehingga idola mereka adalah Soekarno, Hatta,  Muhammad Natsir dan banyak lagi para pejuang lainnya.

Pada masa kemerdekaan, banyak para orang tua yang lebih mengharapkan agar anak2nya menjadi generasi yang mengisi kemerdekaan dengan menjadi seorang ilmuwan dan pejabat. Karena generasi yang dialaminya sudah merdeka dan tidak membutuhkan lagi para pejuang kemerdekaan sehingga kedudukan itu tidak lagi nampak istimewa. Sehingga idola mereka adalah Habibie dan banyak lagi para ilmuwan dan pejabat lainnya yang sesuai dengan yang mereka kenal saat itu.

Pada masa saat ini, banyak orang tua yang lebih mengharapkan agar anak2nya menjadi seorang yang jujur, shaleh dan memiliki akhlak yang mulia. Karena pada jaman ini sudah banyak para ilmuwan dan pejabat, yang ternyata tidak sehebat yang dibayangkan sebelumnya dimana banyak para oknum ilmuwan dan pejabat yang tidak amanah bahkan membuat keadaan semakin keruh. Sehingga yang diidolakan mereka saat ini adalah orang2 yang bisa dipercaya dan membuat situasi lebih baik bukan lebih buruk.

( Gantira, 23 Oktober 2015, Bogor)

Thursday, 15 October 2015

"Puisi Terakhir Kakakku"

Puisi Terakhir yang pernah kakaku ketik pada saat masih aktif bekerja:

"Teringat kata2 kasar & keras yg menyakitkan hati mereka,
Maafkan aku ayah & ibu, mengapa tak kusadari betapa besar kasih sayangmu."

"Beri juga ya Allah aku berkumpul dgn keluargaku,
Menyenangkan saudara2ku..
Untuk sungguh2 beramal shaleh."

"Aku ingin bersujud dihadapan-Mu  lebih lama lagi..
Begitu menyesal diri ini.
Kesenangan yang pernah diraih dulu,
Tak ada artinya sama sekali..."

"Mengapa kusia2kan waktu hidup yang hanya sekali itu..?
Andai aku bisa putar ulang waktu itu..."

"Aku dimakamkan hari ini,
Dan ketika semua menjadi tak termaafkan,
Dan ketika semua menjadi terlambat,
Dan ketika aku harus sendiri...
Untuk waktu yg tak terbayangkan sampai yaumul hisab & dikumpulkan di Padang Ma syar.."



Menjelang napas terakhir saat berbaring dengan lemas di RSK Ginjal Ny Ra Habibie, sekitar pukul 10.00 pagi tanggal 15 Oktober 2015, setelah menjalani cuci darah dengan sabar selama lebih dari 25 tahun. Kaka2ku berucap:

"Kepada Kakak dan adik2ku, harus berusaha masuk surga..."

"Kepada kakak dan adik2ku, harus berusaha berkurban pada hari idul adha walaupun harus menjual motor.."

"Kepada Kakak dan adik2ku,  harus berusaha puasa Senin Kamis, kecuali bila sakit..."

"Kepada Kakak dan adik2ku, jangan bangga saat dipuji karena pujian itu hanya milik Allah..."

"Laa ilaa ha illallah..."

Lalu kaka2ku pun mengakhirinya dengan senyuman penuh kebahagiaan. Terasa lepas dari penjara dunia.

Akupun teringat akan sebuah hadist:

Rasulullah saw bersabda, "seorang hamba mukmin (pada saat meninggal dunia), dia beristirahat dari beratnya kehidupan dunia. Sedangkan seorang yang jahat (saat dia meninggal dunia), maka semua makhluk termasuk manusia, negerinya, tumbuh2an, hewan beristirahat (bebas) dari kejahatannya." (Hr Muslim)

(Gantira, 16 Oktober 2015, Bandung)

Wednesday, 7 October 2015

"Keyakinan VS Angan-angan"


Antara keyakinan dan angan-angan  itu seperti sama, namun sebenarnya jauh berbeda.

Seperti sama karena sama-sama mengharapkan apa yang belum terjadi. Namun berbeda karena  dasar yang dipakainya berbeda.

Keyakinan  dilandasi oleh ilmu, sedangkan angan-angan dilandasi oleh kebodohan.

Keyakinan disertai dengan sikap optimis, sedangkan angan-angan disertai oleh sikap putus asa.

Keyakinan diawali oleh kerja keras, sedangkan angan-angan di awali oleh kemalasan.

Keyakinan diakhiri dengan syukur dan sabar, sedangkan angan-angan diakhiri dengan sombong dan keluhan.

Keyakinan ditemani oleh Husnuzhan, sedangkan angan-angan ditemani oleh suuzhan.

Keyakinan melalui proses tawakal, sedangkan angan-angan melalui proses takabur.

Keyakinan tumbuh berkembang seiring dengan cita2, sedangkan angan2 tumbuh berkembang seiring dengan mimpi di siang bolong.

Keyakinan sesuai dengan apa yang benar2 kita butuhkan yang jelas awal dan ujungnya, sedangkan angan2 lebih cenderung pada keinginan yang tiada ujung dan pangkalnya.

Keyakinan datang dari pengalaman kita, dari apa yang kita baca, apa yang kita dengar, dan apa yang kita rasakan.  Sedangkan angan2 datang dari lamunan kita, dari apa yang kita khayalkan, yang kita impikan dan apa yang kita halusinasikan.

Keyakinan hidup di dalam batin kita, menentukan sikap dan tindakan kita. Sedangkan angan2 hidup di dalam bayangan kita, mengombang-ambing  sikap dan tindakan kita.

Pada akhirnya, kesuksesan itu selalu menyertai orang yang yakin, sedangkan kegagalan itu selalu menyertai orang yang berangan-angan.

(Gantira, 7 Oktober 2015, Bogor)

Menyadari Akan Levelnya Masing-Masing

Kita harus menyadari bahwa setiap orang itu memiliki level yang berbeda2.

Ada orang yang baru balita, tingkat  Tk, SD, SMP, SMA, S1, S2, S3 bahkan ada juga yang tidak melalui tingkatan itu tapi kapasitasnya bagai seorang professor.

Umumnya orang akan lebih memahami pemaparan dari orang yang levelnya setingkat di atas dirinya, serta sangat sulit memahami penjelasan dari orang yang levelnya beberapa tingkat jauh dari dirinya.

Sebagaimana seorang anak balita akan lebih mudah bercanda secara natural  dengan anak tk daripada anak S3.  Begitu juga anak S3 lebih nyambung berdiskusi dengan anak S2 daripada dengan balita.

Namun bila setiap orang menyadari levelnya masing2 serta memiliki visi yang sama, maka orang yang level S3 akan menurunkan ilmunya pada anak S2 sesuai yang dipahami S2. Setelah itu anak S2 akan menurunkan ilmunya pada anak S1 sesuai yang bisa dipahami anak S1, serta terus berlanjut sampai tingkatan paling bawah yaitu anak tk mengajari anak balita yang bisa dipahami oleh anak balita.

Tidaklah bijak seorang anak S3 mendidik anak SD disamakan dengan anak S2. Begitu juga tidaklah tepat anak SD mengata-mengatai anak S3 dengan perkataan bodoh dan sesat hanya karena belum memahami apa yang disampaikan anak S3.

Begitu juga dalam memahami agama dan menyebarkannya, kita harus menyadari bahwa setiap orang itu memiliki tingkatan pemahaman yang berbeda-beda pula. Kita harus menyadari akan level kita berada dimana. Sehingga kita tidak langsung mencap sesat pada orang yang levelnya jauh di atas kita sebelum ada kesepakatan bersama dari mayoritas orang yang selevel dengannya. Sebaliknya juga kita jangan menghakimi dengan keras dan mudahnya pada orang yang levelnya jauh di bawah kita, karena untuk memahami kebenaran pun ada tahapan2 yang mesti dilaluinya.

Jadi perlakukanlah dengan penuh pengertian dan kasih sayang pada orang yang levelnya jauh di bawah kita. Serta hormatlah dan berhusnuzhanlah pada orang yang kita tahu levelnya jauh di atas kita.

(Gantira, 8 Oktober 2015, Bogor)

Tuesday, 6 October 2015

Menyikapi Takdir


Segala sesuatu yang sudah, sedang dan akan terjadi itu adalah sebuah takdir yang harus kita sikapi dengan bijak.

Saat kita berusaha, lalu muncul orang2 yang mencela dan menghina kita. Yakinilah bahwa itu adalah salah satu takdir, sehingga sikap kita  bukanlah putus asa tapi dengan cara memperbanyak istigfar dan terus istiqomah dalam menggapai apa yang kita harapkan.

Ketika kita memilih, lalu terangkat pemimpin yang tidak kita harapkan. Yakinilah bahwa itu adalah salah satu takdir, sehingga sikap kita bukanlah mencela dan menghina tapi dengan cara memperbaiki diri lalu berbuat semaksimal yang mampu kita lakukan dengan disertai memohon pertolongan-Nya.

Sewaktu kita berencana, lalu bermunculan gempuran yang memporak porandakannya. Yakinilah bahwa itu adalah salah satu takdir, sehingga sikap kita bukanlah memusuhinya tapi memperbaiki rencana yang ada agar lebih baik dengan disertai doa dan tawakal kepada-Nya.

Dan banyak lagi hal lainnya, dimana apa yang kita usahakan, kita pilih dan kita rencanakan tidak selalu sesuai dengan yang kita harapkan karena disana ada peran takdir.

Namun adanya takdir bukanlah untuk membuat kita putus asa, mencela, menghina dan memusuhinya. Adanya takdir untuk menyadarkan kita bahwa ada kekuatan-Nya yang tak bisa kita tentang. Yang bisa kita lakukan hanyalah mengubah sikap kita sehingga adanya takdir membuat kita semakin kuat, optimis dan bertawakal kepada-Nya.

Sesungguhnya di akhirat kelak kita tidak akan ditanya tentang semua takdir yang terjadi di dunia ini. Kita tidak akan ditanya apakah  akhirnya usaha kita berhasil atau tidak?  Apakah pilihan kita sesuai yang diinginkan atau tidak? Apakah rencana kita terealisasi atau tidak?  Apakah kita kaya atau tidak?  Apakah kita pejabat atau tidak?

Namun yang akan ditanyakan pada kita di akhirat nanti hanyalah 5 perkara, yaitu tentang umurnya untuk apa ia habiskan?  tentang masa mudanya untuk apa ia gunakan? tentang hartanya dari mana ia dapatkan?
dalam hal apa (hartanya tersebut) ia belanjakan?
apa saja yang telah ia amalkan dari ilmu yang dimilikinya?

Semoga kita semua dapat menyikapi semua takdir yang sudah, sedang dan akan  terjadi dengan sikap ikhlas, ridho, berdoa, berusaha dan bertawakal kepada-Nya hingga akhir hidup kita berada dalam husnul khatimah dan pada saat di akhirat nanti  kita bisa menjawab lima pertanyaan saat itu dengan jawaban yang diridhoi-Nya. Aamiin..3x

(Gantira, 7 Oktober 2015, Bogor)

Nampak Sama Tapi Berbeda

Antara kabut di pagi hari dengan asap pembakaran hutan nampak sama tapi berbeda.

Kabut di pagi hari bisa membersihkan paru2 sehingga dapat menyegarkan napas kita, sedangkan asap pembakaran bisa mengotori paru2 sehingga dapat menyesakkan napas kita.

Antara keuntungan hasil perdagangan dengan keuntungan hasil riba nampak sama tapi berbeda.

Keuntungan hasil perdagangan adalah halal dan dapat membawa keberkahan harta  bagi keduanya selama pembeli dan penjual ridho, sedangkan keuntungan hasil riba dapat membawa kebinasaan harta keduanya.

Daging segar dari  sapi yang disembelih atas nama Allah dengan yang disembelih atas nama selain-Nya, nampak sama tapi berbeda.

Daging segar dari sapi yang disebut nama Allah adalah halal dimakan dan mendapatkan ridho-Nya, sedangkan yang disebut nama selain Allah adalah haram dimakan dan mendapatkan murka-Nya.

Menyiramkan air pada beberapa anggota badan  antara niat berwudhu dengan niat sekedar membersihkan badan, nampak sama tapi berbeda.

Menyiramkan air pada beberapa anggota badan dengan niat berwudhu selain dapat membersihkan anggota badan dapat juga membersihkan dosa dari apa yang dilakukannya, sedangkan dengan niat hanya membersihkan badan yang didapat hanya bersih nya badan saja.

Pendapatan dari hasil mata pencarian yang halal dengan yang haram nampak sama tapi berbeda.

Pendapatan dari hasil mata pencarian yang halal dapat membuat keberkahan pada anggota keluarga sehingga hidupnya penuh kedamaian dunia dan akhirat, sedangkan pencarian yang haram dapat membawa kecelakaan buat keluarganya  di dunia dan akhirat.

Dan banyak lagi hal2 lainnya di dunia ini yang nampak sama tapi pada hakikatnya berbeda.

(Gantira, 6 Oktober 2015, Bogor)