Sunday, 6 September 2015

2. IKHLAS

A. Arti dan makna ikhlas

Yang dimaksud dengan pengertian ikhlas adalah memurnikan ibadah atau amal shalih hanya untuk Allah dengan mengharap pahala atau balasan dari Nya semata, tidak dari manusia atau makhluk-makhluk yang lain.

Ikhlas merupakan buah dan intisari dari iman. Bahkan ikhlas sebagai salah satu hal yang bisa menyebabkan suatu amalan ibadah kita diterima Allah Ta'ala. Seorang tidak dianggap beragama dengan benar jika tidak ikhlas.

Keikhlasan itu dilakukan tidak hanya dalam perkara-perkara ibadah semata seperti sholat, puasa, zakat, membaca al qur’an , haji dan amal-amal ibadah lainnya. Namun, harus pula dalam amalan-amalan yang berhubungan dengan muamalah, seperti tersenyum, mengunjungi saudara, meminjamkan barang serta amalan muamalah lainnya.

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan (ikhlas) kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.” (QS. Al-Bayinah: 5).


“Allah tidak menerima amal kecuali apabila dilaksanakan dengan ikhlas untuk mencari ridha Allah semata.” (HR Abu Daud dan Nasa’i).


Sungguh merupakan suatu keberuntungan yang amat sangat besar seandainya kita dapat menghadirkan keikhlasan dalam seluruh gerak-gerik kita.

B. Beberapa hal perusak ikhlas

Ada beberapa hal yang merusak keikhlasan seseorang yaitu :

1) Riya’

Pengertian riya adalah seseorang menampakan amalnya dengan tujuan orang lain melihatnya dan memujinya. Dan hal inilah yang termasuk pembatal ikhlas dalam islam.

Dan ini termasuk dalam perbuatan syirik dan dikategorikan syirik kecil. Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda : "Sesungguhnya hal yang paling aku takutkan atas kalian adalah syirik kecil, maka para sahabat bertanya : ‘Apakah syirik kecil itu wahai Rasulullah?’. Beliaupun bersabda: ‘Syirik kecil itu adalah riya’. Pada hari kiamat ketika manusia dibalas dengan amal perbuatannya Allah akan berkata kepada orang-orang yang berbuat riya’, ‘Pergilah kalian kepada apa-apa yang membuat kalian berbuat riya’, maka lihatlah apakah kalian mandapat balasan dari mereka’"(HR. Ahmad ).

2) Ujub

Yang dimaksud dengan pengertian ujub adalah adalah seseorang berbangga diri dengan amal-amalnya. Para ulama menerangkan bahwa ujub merupakan sebab terhapusnya pahala seseorang, karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan bahwa ujub sebagai hal-hal yang membinasakan.

Beliau bersabda yang artinya: "Hal-hal yang membinasakan ada tiga yaitu: berbangganya seseorang dengan dirinya, kikir yang dituruti, dan hawa nafsu yang diikuti"(HR. Al-Bazzar ).

3) Sum’ah

Pengertian sumah adalah adalah seseorang beramal dengan tujuan agar orang lain mendengar amalnya tersebut lalu memujinya.

Maka bahaya sum’ah sama dengan bahaya riya’ dan pelakunya terancam tidak akan mendapatkan balasan dari Allah, bahkan Allah akan membuka semua keburukannya di hadapan manusia.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda yang artinya : "Barangsiapa yang memperdengarkan amalannya maka Allah akan memperdengarkan kejelekan niatnya dan barang siapa yang beramal karena riya’ maka Allah akan membuka niatnya di hadapan manusia"(HR. Bukhari dan Muslim).

C. Ciri - ciri orang ikhlas

Orang-orang yang ikhlas memiliki ciri yang bisa dilihat, diantaranya:

1) Senantiasa beramal dan bersungguh-sungguh dalam beramal, baik dalam keadaan sendiri atau bersama orang banyak, baik ada pujian ataupun celaan.

Ali bin Abi Thalib r.a. berkata, “Orang yang riya memiliki beberapa ciri; malas jika sendirian dan rajin jika di hadapan banyak orang. Semakin bergairah dalam beramal jika dipuji dan semakin berkurang jika dicela.”

Perjalanan waktulah yang akan menentukan seorang itu ikhlas atau tidak dalam beramal. Dengan melalui berbagai macam ujian dan cobaan, baik yang suka maupun duka, seorang akan terlihat kualitas keikhlasannya dalam beribadah, berdakwah, dan berjihad.

2) Terjaga dari segala yang diharamkan Allah, baik dalam keadaan bersama manusia atau jauh dari mereka.

Disebutkan dalam hadits, “Aku beritahukan bahwa ada suatu kaum dari umatku datang di hari kiamat dengan kebaikan seperti Gunung Tihamah yang putih, tetapi Allah menjadikannya seperti debu-debu yang beterbangan. Mereka adalah saudara-saudara kamu, dan kulitnya sama dengan kamu, melakukan ibadah malam seperti kamu. Tetapi mereka adalah kaum yang jika sendiri melanggar yang diharamkan Allah.” (HR Ibnu Majah)

Tujuan yang hendak dicapai orang yang ikhlas adalah ridha Allah, bukan ridha manusia. Sehingga, mereka senantiasa memperbaiki diri dan terus beramal, baik dalam kondisi sendiri atau ramai, dilihat orang atau tidak, mendapat pujian atau celaan. Karena mereka yakin Allah Maha melihat setiap amal baik dan buruk sekecil apapun.

3) Dalam dakwah, akan terlihat bahwa seorang dai yang ikhlas akan merasa senang jika kebaikan terealisasi di tangan saudaranya sesama dai, sebagaimana dia juga merasa senang jika terlaksana oleh tangannya.


D.  Beberapa faktor yang dapat mendukung ikhlas

Ada beberapa faktor yang dapat mendukung seorang muslim, sehingga mampu melakukan ibadah dengan ikhlas karena Allah, kendati pun ikhlas itu sangat sulit. Beberapa faktor tersebut ialah:

1) Belajar menuntut ilmu yang bermanfaat

yaitu mempelajari Al Qur`an dan As Sunnah menurut pemahaman Salafush Shalih, karena mereka berada di atas kebenaran.

2) Berteman dengan orang-orang shalih

Ini termasuk faktor yang dapat mendorong keikhlasan. Berteman dengan orang-orang yang shalih dapat memotivasi diri untuk mengikuti jejak dan tingkah laku mereka yang baik, mengambil pelajaran dan mencontoh akhlak mereka yang baik.

Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam memberikan perumpamaan tentang sahabat yang baik dan yang tidak baik dengan sabda Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam, yang artinya: Sesungguhnya perumpamaan teman yang baik dan teman yang buruk, ialah seperti pembawa minyak wangi dan peniup tungku api (pandai besi). Pembawa minyak wangi boleh jadi akan memberimu, bisa jadi kamu akan membeli darinya. Dan kalau tidak, kamu akan mendapat bau harum darinya. Sedangkan peniup tungku api (pandai besi), boleh jadi akan membakar pakaianmu, dan bisa jadi engkau mendapatkan bau yang tidak sedap darinya. [Muttafaqun ‘alaihi, dari Abu Musa Al Asy’ari]

3) Membaca sirah (perjalanan hidup) orang-orang yang ikhlas.

Di antara karunia Allah, banyak kisah yang Allah sebutkan di dalam Al Qur`an dan dikisahkan oleh Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallm tentang orang-orang yang mukhlis. Semua itu agar menjadi ibrah dan contoh bagi orang-orang sesudahnya.

4) Bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu.

Seseorang tidak akan dapat mencapai keikhlasan kalau tidak bersungguh-sungguh melawan hawa nafsu, kecintaan kepada kedudukan dan ketenaran, gila harta, sanjungan, dengki, dendam, dan lain-lainnya.

5) Berdo’a dan memohon pertolongan kepada Allah.

Ini termasuk salah satu jalan yang bisa menguatkan dan menopang agar seseorang bersungguh-sungguh untuk ikhlas dalam ibadah. Doa adalah senjata orang mukmin. Untuk dapat mewujudkan permintaan dan memenuhi kebutuhannya, manusia disyariatkan Allah agar berdoa.

E. Pendapat para sahabat dan ulama terdahulu tentang ikhlas

Pendapat beberapa sahabat dan ulama shaleh terdahulu, diantaranya:

1) Diriwayatkan bahwa ‘Ali bin Abi Thalib radhiyallahu’anhu pernah berkata, “Amal yang salih adalah amalan yang kamu tidak menginginkan pujian dari siapapun atasnya kecuali dari Allah.” (lihat al-Ikhlas wa an-Niyyah, hal. 35)

2) Ibnu Mas’ud Radhiyallahu anhu berkata, “Perkataan dan perbuatan seorang hamba tidak akan bermanfaat kecuali dengan niat (ikhlas), dan tidaklah akan bermanfaat pula perkataan, perbuatan dan niat seorang hamba kecuali yang sesuai dengan sunnah (mengikuti Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam)”

3) Sahl bin Abdullah at-Tustari rahimahullah mengatakan, “Orang-orang yang cerdas memandang tentang hakikat ikhlas ternyata mereka tidak menemukan kesimpulan kecuali hal ini; yaitu hendaklah gerakan dan diam yang dilakukan, yang tersembunyi maupun yang tampak, semuanya dipersembahkan untuk Allah ta’ala semata. Tidak dicampuri apa pun; apakah itu ambisi pribadi, hawa nafsu, maupun perkara dunia.” (lihat Adab al-‘Alim wa al-Muta’allim, hal. 7-8)

4) Fudhail bin Iyadh berkata, “Beramal karena manusia adalah syirik, meninggalkan amal karena manusia adalah riya.”

5) Imam Syafi’i pernah memberi nasihat kepada seorang temannya, “Wahai Abu Musa, jika engkau berijtihad dengan sebenar-benar kesungguhan untuk membuat seluruh manusia ridha (suka), maka itu tidak akan terjadi. Jika demikian, maka ikhlaskan amalmu dan niatmu karena Allah Azza wa Jalla.”

6) Ibnul Qoyyim memberi perumpamaan seperti ini, “Amal tanpa keikhlasan seperti musafir yang mengisi kantong dengan kerikil pasir. Memberatkannya tapi tidak bermanfaat.” Dalam kesempatan lain beliau berkata, “Jika ilmu bermanfaat tanpa amal, maka tidak mungkin Allah mencela para pendeta ahli Kitab. Jika ilmu bermanfaat tanpa keikhlasan, makja tidak mungkin Allah mencela orang-orang munafik.”

7) Imam Nawawi rahimahullah berkata, “Ketahuilah, bahwasanya keikhlasan seringkali terserang oleh penyakit ujub/merasa bangga dan hebat. Barangsiapa yang ujub dengan amalnya maka amalnya terhapus. Begitu pula orang yang menyombongkan diri dengan amalnya maka amalnya pun menjadi terhapus.” (lihat Ta’thir al-Anfas, hal. 584)



F. Keutamaan ikhlas

Di antara keutamaan ikhlas adalah:

1) Seseorang yang mengucapkan kalimat La ilaha illallah dengan ikhlas, ia akan dibukakan pintu-pintu langit, dihapus dosa-dosanya, dan diharamkan Allah Azza wa Jalla masuk neraka.

2) Orang yang berwudhu dengan ikhlas akan dihapuskan dosa-dosanya. [HR Muslim].

3) Orang yang bersujud dengan ikhlas, ia akan diangkat derajatnya oleh Allah dan dihapuskan satu kesalahan. [HR Ahmad, Tirmidzi dan Nasa-i].

4) Orang yang berpuasa dengan ikhlas, ia akan dihapuskan dosa-dosanya yang lalu. [HR Bukhari].

5) Orang yang pergi shalat berjama’ah di masjid dengan ikhlas, maka setiap langkahnya menuju masjid akan menghapuskan dosa dan mengangkat derajatnya sampai masuk masjid. Dan bila ia masuk masjid, maka malaikat bershalawat atasnya dan mendo’akannya:

“Ya Allah, berilah rahmat kepadanya. Ya Allah, ampunilah dosa-dosanya. Ya Allah, terimalah taubatnya”.

Selama di tempat shalat itu ia tidak mengganggu orang lain dan selama belum hadats (belum batal). [HR Bukhari dan Muslim. Secara lengkap lihat Riyadhush Shalihin, no. 11].

6) Orang yang ikhlas dalam bershadaqah, ia termasuk tujuh golongan yang akan mendapat perlindungan dari Allah pada hari kiamat kelak. [HR Bukhari dan Muslim].

7) Orang yang ikhlas membangun masjid, maka ia akan dibangunkan rumah di surga. [HR Ahmad, Bukhari, Muslim dan lainnya]

8) Orang yang tawadhu` dengan ikhlas karena Allah, ia akan diangkat derajatnya oleh Allah. [HSR Muslim]

9) Ada tiga perkara yang menjadikan hati seorang mukmin tidak menjadi seorang pengkhianat, yaitu : ikhlas beramal karena Allah, memberikan nasihat yang baik kepada pemimpin kaum muslimin, dan senantiasa komitmen kepada jama’ah kaum Muslimin. [HR Bazzar, dari sahabat Abu Said Al Khudri dengan sanad hasan. Lihat Shahih Targhib Wat Tarhib 1/104-105, no. 4].

10) Ummat ini akan ditolong oleh Allah dengan orang-orang yang lemah, karena keikhlasan mereka. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda :
"Sesungguhnya Allah menolong ummat ini dengan orang-orang yang lemah dengan do’a, shalat dan keikhlasan mereka. "[HSR Nasa-i, 6/45].

11) Orang yang ikhlas akan ditolong oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dari penyesatan iblis. [Shad : 82-83].

12) Orang yang ikhlas akan ditambah petunjuk Allah Subhanahu wa Ta'ala. [Al Kahfi : 13].

13) Orang yang berdzikir dengan ikhlas dan sesuai dengan Sunnah, maka ia akan diberi ketenangan hati [Ar Ra’d : 28].


Penutup

Ikhlas merupakan salah satu tempat persinggahan dalam menggapai pertolongan-Nya. Dengan ikhlas, setiap aktifitas hidup kita akan menjadi bermanfaat dan akan mendapat buahnya, baik di dunia dan maupun di akhirat kelak.

Semoga kita dapat memperoleh salah satu anugrah sifat ikhlas pada setiap melakukan amal kebaikan, aamiin..3x

Saturday, 5 September 2015

1. ZUHUD

A. Arti dan makna zuhud

Zuhud menurut bahasa berarti berpaling dari sesuatu karena hinanya sesuatu tersebut dan karena tidak memerlukannya.

Hakekat zuhud itu berada di dalam hati, yaitu dengan keluarnya rasa cinta dan ketamakan terhadap dunia dari hati seorang hamba. Ia jadikan dunia (hanya) di tangannya, sementara hatinya dipenuhi rasa cinta kepada Allah dan akhirat.

Zuhud bukan berarti meninggalkan dunia secara total dan menjauhinya. Lihatlah Nabi Dawud dan Nabi Sulaiman, sebagai seorang penguasa mempunyai kekuasaan yang luas sebagaimana yang disebutkan oleh Allah dalam Al-Qur’an. Para Shahabat, juga mempunyai istri-istri dan harta kekayaan, yang di antara mereka ada yang kaya raya.

Semuanya ini tidaklah mengeluarkan mereka dari hakekat zuhud yang sebenarnya.

Mengenai zuhud disebutkan dalam sebuah hadits,

Dari Sahl bin Sa’ad As Sa’idi, ia berkata ada seseorang yang mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lantas berkata, “Wahai Rasulullah, tunjukkanlah padaku suatu amalan yang apabila aku melakukannya, maka Allah akan mencintaiku dan begitu pula manusia.” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Zuhudlah pada dunia, Allah akan mencintaimu. Zuhudlah pada apa yang ada di sisi manusia, manusia pun akan mencintaimu.” (HR. Ibnu Majah dan selainnya. An Nawawi mengatakan bahwa dikeluarkan dengan sanad yang hasan)

Dalam hadits di atas terdapat dua nasehat, yaitu
 untuk zuhud pada dunia, ini akan membuahkan kecintaan Allah, dan zuhud pada apa yang ada di sisi manusia, ini akan mendatangkan kecintaan manusia.

1) Zuhud pada dunia

Adapun mengenai zuhud terhadap dunia para ulama menyampaikan beberapa pengertian, diantara definisi yang paling bagus, ‘zuhud terhadap dunia’ adalah seseorang meninggalkan sesuatu yang dapat melalaikannya dari mengingat Allah.

2) Zuhud terhadap apa yang ada di sisi manusia

Manusia dikenal begitu tamak terhadap harta dan berbagai kesenangan di kehidupan dunia.

Kebanyakan manusia sangat kikir untuk mengeluarkan hartanya dan enggan untuk berderma.

Padahal Allah Ta’ala berfirman,

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta ta’atlah dan nafkahkanlah nafkah yang baik untuk dirimu . Dan barangsiapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS. At Taghaabun: 16)

Seharusnya seseorang tidak terkagum-kagum dengan orang yang sangat tamak terhadap dunia dan menampakkan padanya.

Jika seseorang merasa cukup dengan apa yang ada pada manusia, dia akan memperoleh kecintaan mereka dan manusia pun akan mencintainya. Jika sudah demikian, maka dia akan selamat dari keburukan mereka.

B. Kriteria zuhud

Beberapa kriteria zuhud:

1) Tidak hubud dunia (tidak mencintai dunia) dan lebih mengutamakan akhirat daripada dunia

Orang yang zuhud tidak selalu harus miskin. Orang yang zuhud bisa saja miskin dan bisa saja kaya. Yang penting, zuhud ialah tidak mencintai dunia dan memandang dunia ini sebagai sesuatu yang hina.

“Orang yang beriman itu berkata: “Hai kaumku, ikutilah aku, aku akan menunjukkan kepadamu jalan yang benar. Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.” (QS. Ghafir: 38-39)

Dalam ayat lainnya, Allah Ta’ala berfirman,

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا (16) وَالْآَخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى (17)
“Tetapi kamu (orang-orang kafir) memilih kehidupan duniawi. Sedang kehidupan akhirat adalah lebih baik dan lebih kekal.” (QS. Al A’laa: 16-17)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
وَ
“Demi Allah, tidaklah dunia dibanding akhirat melainkan seperti jari salah seorang dari kalian yang dicelup di lautan, maka perhatikanlah apa yang dibawa.” (HR. Muslim no. 2858)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
“Seandainya harga dunia itu di sisi Allah sebanding dengan sayap nyamuk tentu Allah tidak mau memberi orang orang kafir walaupun hanya seteguk air.” (HR. Tirmidzi no. 2320. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih)

2)  Yakin bahwa apa yang ada di sisi Allah itu lebih diharap-harap dari apa yang ada di sisinya

Sahabat Abu Dzar.
Abu Dzar mengatakan,

“Zuhud terhadap dunia bukan berarti mengharamkan yang halal dan bukan juga menyia-nyiakan harta. Akan tetapi zuhud terhadap dunia adalah engkau begitu yakin terhadap apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di tanganmu.

Zuhud juga berarti ketika engkau tertimpa musibah, engkau lebih mengharap pahala dari musibah tersebut daripada kembalinya dunia itu lagi padamu.”

3) jika seorang hamba ditimpa musibah dalam hal dunia berupa hilangnya harta, anak atau selainnya, maka ia lebih mengharap pahala dari musibah tersebut daripada dunia tadi tetap ada

"Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan bersedih terhadap apa yang tidak kamu dapatkan, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS. Al-Hadid: 23)

Ali bin Abi Tholib pernah mengatakan, “Siapa yang zuhud terhadap dunia, maka ia akan semakin ringan menghadapi musibah.”

4) keadaan seseorang ketika dipuji atau pun dicela dalam kebenaran itu sama saja.

Orang yang kondisinya sama ketika dipuji dan dicela dalam kebenaran, ini menunjukkan bahwa hatinya tidak mengistimewakan satu pun makhluk. Yang ia cinta adalah kebenaran dan yang ia cari adalah ridho Ar Rahman.

5) Mendahulukan ridho Allah SWT dari pada ridho manusia

Akan merasa tenang jiwanya ketika hanya bersama Allah SWT. Dan merasa bahagia dengan mengerjakan syari'atNYA

C. Cara agar bisa zuhud

1) Yakin bahwa kita selalu diawasi oleh Allah yang telah menjamin rizki kita dan yakin kematian selalu menanti hingga harus mempersiapkan amal kebaikan

Hasan al-Bashri – ulama senior masa tabii’in – pernah ditanya,

“Apa rahasia zuhud anda terhadap dunia?”

Jawab beliau,
 "Aku yakin bahwa rizkikku tidak akan diambil orang lain, sehingga hatiku tenang dalam mencarinya. Saya yakin bahwa amalku tidak akan diwakilkan kepada orang lain, sehingga aku sendiri yang sibuk menjalankannya. Aku yakin bahwa Allah selalu mengawasi diriku, hingga aku malu merespon pengawasannya dengan melakukan maksiat. Aku yakin bahwa kematian menantiku. Sehingga aku siapkan bekal untuk ketemu Allah…"

2) Keimanan yang kuat

Selalu ingat bagaimana kita berdiri di hadapan Allah pada hari kiamat guna mempertanggung-jawabkan segala amalnya, yang besar maupun yang kecil, yang tampak ataupun yang tersembunyi

Ingat! betapa dahsyatnya peristiwa datangnya hari kiamat kelak. Hal itu akan membuat kecintaannya terhadap dunia dan kelezatannya menjadi hilang dalam hatinya, kemudian meninggalkannya dan merasa cukup dengan hidup sederhana.

3) Merasakan bahwa dunia itu membuat hati terganggu dalam berhubungan dengan Allah, dan membuat seseorang merasa jauh dari kedudukan yang tinggi di akhirat kelak, dimana dia akan ditanya tentang kenikmatan dunia yang telah ia peroleh, sebagaimana firman Allah,

“Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).” (QS. At-Takaatsur: 6)

4) Merenungkan ayat-ayat Al-Qur’an yang banyak menyebutkan tentang kehinaan dan kerendahan dunia serta kenikmatannya yang menipu (manusia)

"Dunia hanyalah tipu daya, permainaan dan kesia-siaan belaka. Allah mencela orang-orang yang mengutamakan kehidupan dunia yang fana ini daripada kehidupan akhirat, sebagaimana dalam firman-Nya,

“Adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya).” (QS. An-Naaziat: 37-39)

D. Pendapat  beberapa ulama shaleh terdahulu tentang zuhud

1) Wahib bin Al Warod mengatakan, “Zuhud terhadap dunia adalah seseorang tidak berputus asa terhadap sesuatu yang luput darinya dan tidak begitu berbangga dengan nikmat yang ia peroleh.”

2) Abu Sulaiman Ad Daroni, mengatakan “Zuhud adalah meninggalkan berbagai hal yang dapat melalaikan dari mengingat Allah.”[8]

3) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Zuhud adalah meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat untuk kehidupan akhirat.”

4) Ibnu Rajab Al Hambali : Zuhud adalah berpaling darinya dengan sedikit dalam memilikinya, menghinakan diri darinya, serta membebaskan diri darinya"

E. Keutamaan zuhud

1) Akan memperoleh rezki yang telah Allah tetapkan baginya di dunia tanpa bersusah payah

Berbeda dengan orang yang terlalu berambisi mengejar dunia, dia akan memperolehnya dengan susah payah lahir dan batin.

"Barangsiapa yang (menjadikan) dunia tujuan utamanya maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan/tidak pernah merasa cukup (selalu ada) di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan (harta benda) duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan baginya. Dan barangsiapa yang (menjadikan) akhirat niat (tujuan utama)nya maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan/selalu merasa cukup (ada) dalam hatinya, dan (harta benda) duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah (tidak bernilai di hadapannya)“ (HR Ibnu Majah (no. 4105), jAhmad (5/183), ad-Daarimi (no. 229), Ibnu Hibban (no. 680) dan lain-lain dengan sanad yang shahih)

2) Akan terhindar dari ketakutan, kepayahan dan penyesalan tiada akhir

Imam Ibnu Qayyim al-Jauziyyah berkata[5], “Orang yang mencintai dunia (secara berlebihan) tidak akan lepas dari tiga (macam penderitaan): Kekalutan (pikiran) yang selalu menyertainya, kepayahan yang tiada henti, dan penyesalan yang tiada berakhir.

3) Memiliki kekayaan hakiki yaitu kekayaan jiwa/hati

Rasululah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Bukanlah kekayaan itu dengan banyaknya hvarta benda, tetapi kekayaan (yang hakiki) adalah kekayaan (dalam) jiwa“ l(Hr. Bukhari dan Muslim)

Penutup

"Sesungguhnya janji Allah adalah benar, maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kalian, dan jangan ( pula) penipu (syetan) memperdayakan kalian dalam (mentaati) Allah." (Qs. Luqman: 33)

Rasulullah bersabda, " Di antara yang aku takuti atas kalian sepeninggalku ialah apa yang dibukakan bagi kalian, berupa keindahan dunia dan perhiasannya." (Muttafaq Alaihi)

Mudah2an kehidupan dunia tidak menyebabkan kita lupa pada kehidupan akhirat kelak. Dan semoga di akhir ramadhan nanti kita memiliki sifat zuhud, aamiin..3x

10 Tempat - Tempat Persinggahan Dalam Menggapai Pertolongan Allah



Setiap orang mukmin pasti sangat mengharapkan pertolongan Allah dalam menjalani kehidupannya  untuk menggapai kebahagiaan dunia dan akhirat.

Dalam kitab "Madarijus Salihin (Pendakian Menuju Allah)" karya Ibnu Qayyim Al- Jauziyah, disebutkan beberapa tempat persinggahan untuk mendapatkan pertolongan Allah. Sepuluh tempat persinggahan diantaranya adalah dengan melalui:

1. Zuhud

Zuhud adalah amalan hati, dimana bisa dilakukan oleh orang yang  berlimpah harta dan bisa juga  dilakukan oleh orang yang hidup sangat sederhana.

Orang  zuhud adalah orang yang meninggalkan segala sesuatu yang dapat melalaikan dalam mengingat Allah atau meninggalkan segala sesuatu yang tidak bermanfaat buat kehidupan akhirat.

2. Ikhlas

Ikhlas merupakan buah dan intisari dari iman.

Ikhlas adalah memurnikan amal shaleh hanya untuk Allah dengan mengharapkan pahala atau balasan dari-Nya semata, tidak dari manusia atau makhluk2 yang lain.

3. Istiqomah

Istiqomah adalah berpegang teguh dalam melaksanakan semua perintah-Nya dan meninggalkan semua larangan-Nya serta memurnikan katauhidan kepada-Nya dengan ikhlas.

4. Tawakal

Tawakal adalah rasa pasrah hamba kepada Allah swt yang disertai dengan segala daya dan upaya mematuhi, setia dan menunaikan segala perintah-Nya.

Orang yang bertawakal akan senantiasa bersyukur jika mendapatkan suatu keberhasilan dari usahanya dan bila mengalami kegagalan akan menerima dengan ikhlas  tanpa merasa putus asa atau larut dalam kesedihan.

5. Ridha

Ridha adalah menerima dengan senang hati atas segala yang diberikan Allah swt, baik berupa hukum maupun ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan-Nya.

Sikap ridha terutama ditunjukkan tatkala ditimpa takdir yang tidak sesuai dengan kehendak kita.

Musibah itu tidak lepas dari dua perkara, yaitu:

a. Sebagai hukuman atas dosanya, namun hal ini diibaratkan obat dari suatu penyakit agar tidak terjerumus ke dalam kebinasaan.

b. Sebagai  sebab untuk mendapatkan suatu nikmat, yang tidak bisa didapatkan kecuali lewat sesuatu yang dibenci itu.

6. Tawadhu

Tawadhu adalah lawan kata dari takabur (sombong).

Secara bahasa tawadhu bermakna merendahkan hati, yaitu kerelaan hati untuk menerima kebenaran apapun bentuk dari kebenaran itu tanpa memandang darimana kebenaran itu berasal.

7. Ilmu

Ilmu adalah
Sesuatu yang paling utama yang diperoleh jiwa, yang dihasilkan oleh hati dan dengannya seorang hamba mencapai ketinggian derajat di dunia dan akhirat.

Ilmu adalah yang menjadi landasan bukti petunjuk. Dan yang paling bermanfaat dari ilmu adalah apa yang dibawa oleh Rasulullah saw.

Ilmu merupakan penentu yang membedakan antara keraguan dan yakin, penyimpangan dan kelurusan, petunjuk dan kesesatan. Dengan ilmu bisa diketahui berbagai macam syariat dan hukum, bisa dibedakan antara yang halal dan haram.

Wilayah ilmu mencakup dunia dan akhirat.

8. Akhlak

Rasulullah adalah suri tauladan terbaik dalam berakhlak bagi umat manusia.

Allah telah menghimpun akhlak-akhlak yang mulia pada diri beliau sebagaimana yang tersurat dalam Qs. A'raf ayat 199:

"Jadilah pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh.".

Akhlak yang baik didasarkan pada empat sendi, yaitu sabar, kehormatan diri, keberanian, dan adil.

9. Dzikir

Dzikir adalah segala aktifitas yang mengingat Allah, baik dengan hati, lisan ataupun amal perbuatan.

Dzikir merupakan pembersih dan pengasah hati serta obat jika hati itu sakit.

Dzikir juga merupakan ruh amal, dimana jika amal terlepas dari dzikir maka amal itu seperti badan yang tidak memiliki ruh.

10. Ihsan

Ihsan secara bahasa artinya adalah berbuat baik. Sedangkan menurut istilah yaitu perbuatan baik yang dilakukan oleh seseorang dengan niat hati beribadah kepada Allah swt.

Sedangkan dalam hadist dijelaskan, "Ihsan adalah bahwa engkau menyembah Allah seolah-olah kamu melihat-Nya, jika kamu tidak dapat melihatnya, maka sesungguhnya dia sedang melihat kamu." (Hr. Abu Hurairah)

Secara fundamental, ihsan meliputi tiga aspek, yaitu ihsan dalam ibadah, dalam muamalah dan dalam akhlah.

Untuk penjelasan detail  point - point pada "Tempat-tempat persinggahan dalam menggapai pertolongan Allah" di atas, bisa dilihat pada postingan berikutnya.

Thursday, 3 September 2015

"Diam itu Berat, Namun Indah Hasilnya"

Diam adalah aktifitas netral, yang dapat menyelamatkan pelakunya.

Dengan diam, dia akan sulit dikenali sebagai pemurah atau pemarah.

Dengan diam, dia akan sulit diduga sebagai seorang yang jujur atau  pendusta.

Dengan diam, dia akan sulit dideteksi sebagai seorang yang berilmu atau bodoh.

Dengan diam, dia akan sulit dilihat sebagai seorang pemberani atau pengecut.

Dengan diam, dia akan sulit didengar sebagai seorang pahlawan atau penghianat.

Sungguh diam lebih baik daripada berbicara dan bertindak yang akan membawa   pada kerusakan.

Sungguh, diam itu berat awalnya. Namun ketika semua berlalu, akan terasa indah hasilnya.

Walaupun diam tidak membawanya pada puncak kejayaan, namun dengan diam pun tidak terseret pada kebinasaan.


Jadi berbicara dan bertindaklah jika kita yakin apa yang akan kita lakukan itu benar dan bermanfaat, tapi lebih baik diam jika kita hanya ingin menonjolkan diri bahwa kita berani dan hebat tanpa tahu manfaat dan mudharatnya.


Skala Prioritas Kehidupan

"Skala Prioritas Kehidupan"

Ketahuilah bahwa kita tidak akan akan tahu dengan pasti apa yang akan terjadi di masa yang akan datang. Oleh karena itu segeralah mengerjakan skala prioritas terpenting yang kita tahu akan bermanfaat di masa kini dan masa yang akan datang dan tinggalkan apa yang tidak bermanfaat buat keduanya.

Skala prioritas aktifitas terpenting yang harus segera kita kerjakan dalam hidup ini adalah segala aktifitas yang bermanfaat untuk kehidupan dunia dan akhirat, kemudian yang bermanfaat buat akhirat dan terakhir adalah  segala aktifitas yang bermanfaat hanya untuk kehidupan dunia tanpa merugikan akhirat.

Sebaliknya skala prioritas aktifitas yang harus segera kita tinggalkan dan kita jauhi adalah segala aktifitas yang akan mendatangkan kesengsaraan dunia dan  akhirat, kemudian segala aktifitas yang akan mendatangkan kesengsaraan akhirat dan  terakhir adalah segala aktifitas yang tidak bermanfaat buat dunia maupun akhirat.

Sesungguhnya sesuatu yang mubah atau tidak ada manfaatnya ataupun tidak ada kerugiannya seperti bercanda tanpa arah, berkhayal/melamun tanpa tujuan bila berlebihan pada akhirnya dapat mendatangkan kerugian buat dunia dan akhirat.

Sesungguhnya bertafakur atau berzikir dalam mengisi kekosongan sangat bermanfaat buat dunia dan akhirat. Jadi isilah aktifitas di dunia ini minimal dengan berzikir dalam hati, untuk menggapai kebahagiaan masa depan  dunia dan akhirat.

Tuesday, 1 September 2015

Yang Terbaik Buat Kita

Yang terbaik buat kita bukanlah yang termahal, bukanlah yanga terbagus, bukanlah yang terkaya, bukanlah yang terpintar, bukanlah yang terlama, bukanlah yang tercantik, dan bukanlah yang ter .. ter .. lainnya.

Sebagaimana yang terbaik buat kepala bukanlah sepatu walaupun harganya sangat mahal dan sangat bagus. Begitu pula yang terbaik buat kaki bukanlah topi, walaupun terbuat dari bahan yang sangat langka dan unik.

Yang terbaik buat kita adalah yang adil, yaitu yang cocok, yang pas, yang nyaman di pakai, yang enak di lidah, yang menyehatkan, yang seimbang, yang sekufu, dan yang jelas adalah yang bermanfaat dan sesuai dengan fungsinya.

Sesungguhnya, Allah adalah Tuhan Yang Maha Adil. Dia tahu dengan pasti apa yang terbaik buat hamba2-Nya. Dia tahu dengan mutlak apa yang bermanfaat buat hamba2-Nya. Dia tahu dengan tepat apa yang akan mendatangkan kebahagiaan buat hamba2-Nya.

Jadi mohonlah segala sesuatu kepada-Nya untuk yang terbaik buat kita. Jadi ridholah terhadap segala sesuatu yang telah diperintahkan dan dilarang oleh-Nya. Jadi ridholah terhadap segala sesuatu yang diberikan oleh-Nya. Karena apapun yang dikabulkan, diperintahkan, di larang dan diberikan oleh- Nya adalah yang terbaik buat kita.

"Ya rab, Tunjukilah kami jalan yang lurus, (yaitu) Jalan orang-orang yang telah Engkau beri ni’mat kepada mereka; bukan (jalan) mereka yang dimurkai dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat. aamiin..3x"

Sunday, 30 August 2015

Kenikmatan yang Penuh Keberkahan

Kenikmatan yang dirasakan itu, tidaklah hanya sekedar apa yang kita pergunakan/pakai/makan. Tapi kenikmatan akan lebih terasa nikmat jika apa yang kita gunakan/pakai/makan memang sudah secara halal milik kita, berasal dari sumber dan cara yang halal serta sudah dikeluarkan kewajiban harta/ benda atasnya.

Apalah artinya sebuah benda/makanan yang kita pergunakan/pakai/makan jika semua itu bukan hak kita, sehingga kita mempergunakannya dengan cara sembunyi2 dengan penuh ketakutan.

Apalah artinya sebuah benda/makanan yang kita pergunakan/pakai/makan jika semua itu di dapat dengan cara atau berasal dari yang haram sehingga hanya akan mejadi sumber malapetaka kesengsaraan di dunia dan di akhirat.

Apalah artinya sebuah benda/makanan yang kita pergunakan/pakai/makan jika semua itu belum kita keluarkan zakatnya, sehingga kita akan dihisab terhadap semua yang telah kita nikmati. Bila hasil akhir hisabnya lebih berat pada timbangan yang tidak disyukuri, ujungnya hanyalah siksaan api neraka yang tidak diketahui kapan berakhirnya.

Sungguh, kenikmatan akan benar2 terasa sebuah kenikmatan yang besar jika benar2 sudah menjadi hak kita, yang berasal dari dan dengan cara yang halal serta sudah dikeluarkan zakat atasnya. Sehingga kita bisa menikmatinya di dunia dan ditambah kenikmatan lagi di hari keabadian kelak. Itulah nikmat yang halal serta penuh keberkahan.

"Ya Rabb, limpahkanlah kepada kami kenikmatan yang halal, baik serta penuh keberkahan di dunia dan akhirat, aamiin.3x"